Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS

ENERGI BRUTO

III

TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Analisis Energi Bruto
Energi adalah suatu kemampuan untuk melakukan pekerjaan dan berbagai bentuk
kegiatan (kimia, elektrik, radiasi dan termal) dan dapat diubah-ubah. Energi radiasi
dari matahari yang digunakan tanaman untuk membentuk zat-zat makanan majemuk
dapat digunakan ternak untuk menghasilkan kerja mekanik atau menghasilkan panas
yang diperlukan bagi hewan homeoterm. Unit panas adalah gram kalori (cal.) yang
dapat didefinisikan sebagai jumlah panas yang dapat perlukan untuk menaikkan
temperatur dari satu gram air setinggi satu derajat (10) Celcius (C) dari 14,50C ke
15,50C. Unit ini terlalu kecil untuk percobaan kalorimeter pada ternak sehingga
kilogram adalah unit dasar dari Kkal sama dengan 1000 kal. Mkal adalah sama
dengan 1.000.000 kal atau sama dengan 1.000 Kkal. Beberapa Sarjana lebih suka

memakai joule, yang merupakan unit internasional dari suatu pekerjaan (kerja) atau
energi. Satu Kkal = 4.185 kilojoule (Kj) (Tillman, 1998).
Energi Bruto (Gross energy) adalah sejumlah panas yang dilepaskan oleh satu
unit bobot bahan kering pakan bila dioksidasi sempurna. Kandungan GE biasanya
dinyatakan dalam satuan Mkal GE/ kg BK. Gross Energi didefinisikan sebagai energi
yang dinyatakan dalam panas bila suatu zat dioksidasikan secara sempurna menjadi
CO2 dan air. Tentu saja CO2 dan air ini masih mengandung energi, akan tetapi
dianggap mempunyai tingkat nol karena hewan sudah tidak bisa memecah zat-zat
melebihi CO2 dan air. Gross Energi diukur dengan alat bomb kalorimeter. Besarnya
energi bruto bahan pakan tidak sama tergantung dari macam nutrien dan bahan pakan
(Sutardi, 2004).
Suatu nutrient organik dibakar sempurna sehingga menghasilkan oksida (CO2 dan
air), maka panas yang dihasilkan disebut energi bruto. Guna menentukan besarnya
energi bruto bahan pakan dapat digunakan suatu alat bom kalorimeter. Besarnya nilai
energi bahan pakan tidak sama tergantung dari macam nutrient dan bahan pakan
(Soejono, 2004).
Energi total makanan adalah jumlah energi kimia yang ada dalam makanan,
dengan mengubah energi kimia menjadi energi panas dan diukur jumlah panas yang
dihasilkan. Panas ini diketahui sebagai sumber energi total atau panas pembakaran
dari makanan, bomb kalorimeter digunakan untuk menentukan energi total dan
sampel makanan dipijarkan dengan aliran listrik. Metode ini dipakai untuk energi
total makanan dan produk ekskretori (Tillman, 1993).

Energi pakan yang dikonsumsi ternak dapat digunakan dalam 3 cara: (1)
menyediakan energi untuk aktivitas; (2) dapat dikonversi menjadi panas; dan (3)
dapat disimpan sebagai jaringan tubuh. Kelebihan energi pakan yang dikonsumsi
setelah terpenuhi untuk kebutuhan pertumbuhan normal dan metabolisme biasanya
disimpan sebagai lemak. Kelebuhan tersebut tidak dapat dibuang (diekskresikan) oleh
tubuh ternak (Manalu, 1999).
Selama metabolisme zat makanan terjadi kehilangan energi yang disebut Heat
Increament. Sisa energi dari pakan yang tersedia bagi ternak untuk digunakan
keperluan hidup pokok (maintenance) dan produksi disebut Energi Neto (EN)
(Sutardi,1980).
Analisis Energi Bruto
Prinsip dari energi bruto adalah sampel dimasukkan bejana bomb dan dibakar
sempurna. Panas yang timbul akan memanaskan air dalam bejana air. Selisih suhu
awal dan akhir dikonversi ke nilai kalori (Sutardi, 2004).
Nilai energi dari bahan makanan dapat dinyatakan dengan cara yang berbedabeda. Pernyataan mengenai nilai energi bisa didapatkan secara langsung dengan
penelitian atau dihitung dengan menggunakan faktor-faktor yang dimilikinya. Energi
bruto bahan pakan ditentukan dengan membakar sejumlah bahan sehingga diperoleh
hasil oksidasi berupa CO2 , air, dan gas lainnya. Energi bruto adalah banyaknya
panas (diukur dalam sel) yang dilepas apabila suatu zat dioksidasi secara sempurna
dalam bomb kalorimeter (25-30 atm O2). Bomb kalorimeter terbuat dari logam tebal
yang kuat dan tahan asam berfungsi untuk menentukan energi total dan sampel
makanan (Rahardjo, 2001).

Analisis kadar energi adalah usaha untuk mengetahui kadar energi bahan baku
pakan, dalam analisis biasanya ditentukan energi bruto lebih dahulu dengan cara
membakar sejumlah bahan baku pakan sehingga diperoleh hasil-hasil oksidasi yang
berupa karbondioksida air dan gas lainnya. Untuk mengukur panas yang ditimbulkan
oleh pembakaran digunakan suatu alat bom kalorimeter. Penentuan energi bruto
menentukan jumlah energi kalori dalam bahan baku pakan yang dianalisis (Murtidjo,
1990).
Sebuah bomb calorimeter digunakan untuk menentukan energi total dan sampel
makanan. Alat tersebut terdiri dari ruangan logam yang kuat dimana di dalamnya diisi
dengan sampel-sampel makanan yang sudah ditimbang terlebih dahulu. Kemudian
oksigen dimasukkan dengan tekanan dan bomb dimasukkan ke dalam ruangan
tertutup yang mengandung sejumlah air yang diketahui beratnya. Temperatur air
tersebut dicatat dan sampel makanan dipijarkan dengan aliran listrik. Panas yang
dihasilkan diabsorbsi oleh bomb dan air, dan setelah terjadi keseimbangan,
temperatur air dicatat lagi. Jumlah panas yang dihasilkan dihitung dengan memakai
kenaikan temperatur air dan berat serta panas spesifik dari alat bomb dan air. Metode
ini dipakai untuk menenrukan energi total makanan dan produk ekskretori (Tillman,
1998). Besarnya nilai energi bahan pakan tidak sama tergantung dari macam nutrien
dan bahan pakan (Sudarmadji, 2004).
Nilai energi dapat dicerna dari suatu makanan/pakan diperoleh dengan percobaan
pemberian pakan (feeding trial). EDD dihitung dari EB yang dikonsumsi dikurangi
energi yang diekskresikan melalui feses (energi feses). Pada ternak unggas, EDD
susah diukur karena feses+urin diekskresikan melalui saluran yang sama (bersatu),

yaitu melalui kloaka (Parrakasi, 1999).

Nilai energi metabolis dari suatu

makanan/pakan adalah EDD dikurangi energi yang hilang dalam urin dan gas
methan. Energi urin berada dalam bentuk zat yang mengandung nitrogen seperti urea,
asam hippuric, creatinine dan allantoin, dan juga senyawa non-nitrogen seperti
glucuronate dan asam sitrat. Jika produksi methan tidak dapat diukur secara langsung,
dapat diduga dengan angka 8% dari EB yang dikonsumsi. Pada unggas, energi
metabolis lebih mudah diukur dibandingkan dengan energi dapat dicerna (EDD),
karena feses dan urin dikeluarkan bersama-sama (Anggorodi, 1998).
3.2 Kadar Energi Bruto Pada Onggok
Kadar
ALAT
Seperangkat alat bomb kalori meter
1

Bejana bomb digunakan untuk menentukan energi total dan sampel makanan
(Tillman, 1998), yang terdiri dari :
b

Wadah, tempat akan dilakukannya pengujian

Tutup yang dilengkapi ,


1

Elektroda dan kabel elektroda, media untuk menghantarkan elektroda

Katup inlet, sebagai saluran masuknya oksigen

Katup outlet, sebagai saluran keluar oksigen

Cawan/mangkuk pembakaran, tempat untuk meletakan sampel

Sumbu pembakar, media pembakar sampel

Drat pengunci, untuk menutup secara sempurna

2. Bejana air, wadah pengisi air

3. Jacket, yang terdiri dari


a

Wadah, tempat akan dilakukannya pengujian

Tutup yang dilengkapi


1 Batang pengaduk air, untuk mengaduk air
2 Electromotor, mengalirkan electrode
3 Thermometer skala kecil yang dilengkapi teropong pembacaan, untuk
melihat perubahan shu yang terjadi

4 Tabung gas oksigen yang dilengkapi regulator dan selang


inlet, memberikan tekanan oksigen sekaligus membantu
proses penge-bomb-an
5 Statif /standar untuk tutup jaket dan atau tutup bejana bomb, menutup bejana
bomb
6 Catu daya 23 volt, sumber penghantar electroda

BAHAN
1 Oksigen, untuk membantu proses penge-bomb-an
2 Kawat sumbu pembakar, sebagai media pembakar sampel

PROSEDUR KERJA
1. Menghubungkan ujung elektroda dengan kawat sumbu
pembakar

2. Menimbang 1 gram sampel dan memasukkan kedalam mangkuk pembakaran


kemudian disimpan tepat di bawah sumbu pembakar. (Pekerjaan ini
dilakukan pada statif/standar)
3. Memasukan tutup bomb ke wadahnya, lalu dikencangkan dengan drat
pengunci.
4. Mengisi bejana bomb dengan oksigen sebesar 30 atmosfir melalui katup
selang inlet ke katup inlet.
5. Mengisi bejana air dengan aquades sebanyak 2 kg.
6. Memasukan bejana bomb ke bejana air yang telah diisi aquades.
7. Memasukan bejana air berisi bejana bom kedalam wadah jaket, Lalu
menuutupnya dengan penutup jaketnya.
8. Menyambungkan kabel elektroda ke catu daya 23 volt
9. Menghidupkan/menjalankan motor listrik yang akan menjalankan pengaduk
air yang terhubung ke bejana air.
Pengadukan dilakukan selama 5 menit. Pada menit ke 6 , catat suhunya
sebagai T1.
10. Menekan tombol catu daya, sebagai pemicu pembakaran di dalam bomb.
11. Mengamati perubahan suhu sampai suhu tidak menaik lagi (konstan) dan catat
sebagai data T2.
12. Mencabut kabel elektroda ke catu daya.
13. Kemudian mengangkat tutup jaket.
14. Mengeluarkan bejana air dan bejana bomb
15. Mengeluarkan gas pembakaran melalui katup outlet

16. Membuka drat pengunci dan buka tutup bom

PERHITUNGAN
T2(oC)-T1(oC)
Energi Bruto (cal/g) = ------------------- X 2417
Sampel (g)

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Bahan sampel: Jerami
Berat sampel: 0,460 g
T1= 28,83 0C
T2= 29,41 0C

29,41 (oC) 28,83 (oC)


Energi Bruto (cal/g) = ----------------------------- X 2417
0,460 (g)

= 1,26 X 2417
= 3045,42 cal/g

PEMBAHASAN

Hasil dari praktikum dalam menentukan energi bruto dengan oksigen bom
kalori pada jerami yang telah dilakukan, memiliki kandungan energi bruto sebesar
3045,42 cal/g.
Menurut pendapat Soedarno (1997) menyatakan bahwa pada setiap bahan
pakan yang diberikan pada ternak terdapat energi, hal ini menunjukan bahwasannya
terjadi kesesuaian dengan hasil praktikum. Penetapan energi terjadi pengubahan
energi kimia dalam suatu sampel menjadi energi panas dan diukur jumlah panas yang
dihasilkan (Soudjya,1998). Berdasarkan hasil perhitungan didapat bahwa jerami
mempunyai kandungan energi bruto yang cukup besar dikarenakan kandungan energi
seratnya. Untuk standar energi bahan baku pakan unggas, digunakan energi metabolis
(EM) dan diperhitungkan sekitar 60% dari energi bruto (Agus,1987).
Pada praktikum analisis energi bruto dengan sampel jerami sebesar 0,460
gram. Diletakan pada wadah sampel dan besentuhan dengan kawat energi dengan
panjang 12 cm dirangkai sedemikian rupa dalam bomb kalorimeter. Selama
pembakaran pencataan suhu awal dilakukan setelah 5 menit pertama dan suhu akhir
dicatat pada saat suhu sudah konstan, dengan hasil suhu awal 28,83C dan suhu akhir

29,41C. Dilakukan pembakaran dan titrasi air cucian dari bomb calorimeter sebagai
langkah akhir, maka diperoleh kadar energi untuk jerami sebesar 3045,42 cal/g.
Nilai energi bruto dari suatu bahan pakan tergantung dari proporsi
karbohidrat, lemak dan protein yang dikandung bahan pakan tersebut. Air dan mineral
tidak menyumbang energi pakan tersebut. Nilai energi bruto tidak menunjukan energi
tersebut tersedia untuk ternak atau tidak tersedia, tergantung dari kecernaan bahan
pakan tersebut. Penambahan DLMethionin mampu menurunkan jumlah energi bruto
yang dibuang melalui sekreta sehingga energi bruto yang diserap atau dicerna
meningkat. Proses pengeluaran nitrogen melalui ekskreta membutuhkan energi
sehingga dapat menyebabkan penurunan energi metabolis (Sibbald, 1985).
DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia, Jakarta.


Murtidjo, B.A., 1990. Beternak Sapi Potong, Kanisius, Yogyakarta.
Sibbald, I. R. dan M. S. Wolynetz. 1985. Estimates of Retained Nitrogen used to
Correct Estimates of Bioavailable Energi. Poultry Sci., 64 : 1506-1513.
Sutardi, T., 1980, Landasan Ilmu Nutrisi Jilid I, Departemen Ilmu Makanan Ternak.
Fakultas Pertanian IPB, Bogor.
Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S.
Lepdosoekojo, 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.