Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayatNya penulisan dan penyusunan makalah yang berjudul Polisitemia dapat terselesaikan.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata ajar perkuliahan bidang mata pelajaran
Sistem Respirasi I di STIKes PERTAMEDIKA.
Tak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada:
1. Ibu Yanti Riyantini, SKp. selaku dosen mata ajar Sistem Respirasi I yang telah
memberikan tugas dan petunjuk dalam menyelesaikan makalah ini.
2. Kedua orang tua penulis yang telah memberikan dukungan baik dalam bentuk
materi dan non materi.
3. Teman-teman yang sudah bersedia membantu.
4. Dan semua pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah
banyak membantu dalam pembuatan makalah ini.
Makalah ini penulis harapkan dapat menambah pengetahuan tentang bagaimana penyakit
Polisitemia bagi pembacanya.
Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan di banyak
bagian, untuk itu penulis sangat berterimakasih bila ada pihak-pihak yang mengkoreksi
makalah ini dan memberikan kritik dan saran supaya penulis dapat memperbaikinya.

Jakarta, 10 Oktober 2013


Tim Penulis

DAFTAR ISI

IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

KATA PENGANTAR..................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................1
C. Tujuan..............................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN TEORI......................................................................................................3
A. Definisi............................................................................................................................3
B. Etiologi............................................................................................................................3
C. Klasifikasi.......................................................................................................................4
D. Patofisiologi....................................................................................................................5
E. Manifestasi Klinik...........................................................................................................6
F.

Pemeriksaan Penunjang..................................................................................................6

G. Komplikasi......................................................................................................................6
H. Penatalaksanaan..............................................................................................................7
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN.......................................................................................9
BAB IV KESIMPULAN..........................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................16

IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sel darah merah terdiri dari sebagian besar sel-sel darah dalam sirkulasi, dan salah satu
fungsi utama mereka adalah untuk membawa oksigen dari paru ke semua sel, jaringan,
dan organ dalam tubuh.Oksigen dilakukan di dalam sel darah merah dikombinasikan ke
besi yang mengandung protein yang disebut hemoglobin.sel darah merah tidak memiliki
inti dan berbentuk seperti cakram cekung ganda atau donat berbentuk, dan mampu
meringkuk dan pemerasan melalui pembuluh darah terkecil.
Jumlah sel darah merah normal dalam darah bervariasi, dan lebih tinggi pada laki-laki
daripada perempuan.bayi baru lahir memiliki jumlah sel merah yang lebih tinggi
daripada orang dewasa.

Jika ada jumlah yang lebih tinggi dari sel darah merah dalam sirkulasi dari biasanya
maka seseorang dikatakan telah erythrocytosis atau polisitemia. Situasi sebaliknya dapat
terjadi, dimana ada tingkat yang lebih rendah dari sel darah merah daripada biasanya,
dan kondisi ini disebut sebagai "anemia".jumlah sel darah merah Dibesarkan dapat
ditemukan kebetulan pada orang tanpa gejala, pada tahap awal polisitemia.
B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apa pengertian dari Polisitemia ?


Apa penyebab dari polisitemia ?
Apa klasifikasi dari polisitemia ?
Bagaimana patofisiologi dari polisitemia ?
Apa saja gejala dan tanda pada polisitemia ?
Bagaimana pemeriksaan penunjang pada polisitemia ?
Apa saja komplikasi dari polisitemia ?
Bagaimana penatalaksanaan dan asuhan keperawatan pada polisitemia ?

IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa mengetahui konsep teori tentang polisitemia dan asuhan
keperawatannya serta untuk memenuhi tugas Imun Hematologi II padasemester III.
2. Tujuan Khusus
1) Mahasiswa dapat mengetahui definisi penyakit polisitemia.
2) Mahasiswa dapat mengetahui etiologi penyakit polisitemia.
3) Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi penyakit polisitemia.
4) Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi penyakit polisitemia.
5) Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinik penyakit polisitemia.
6) Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang penyakit polisitemia.
7) Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi penyakit polisitemia.
8) Mahasiswa dapat mengetahui Penatalaksanaan dan asuhan keperawatan penyakit
polisitemia.

IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

BAB II
TINJAUAN TEORI

A Definisi
Polisitemia berasal dari bahasa Yunani: poly (banyak), cyt (sel), dan hemia (darah). Jadi,
polisitemia berarti peningkatan jumlah sel darah (eritrosit, leukosit, trombosit) di dalam
darah.
Polisitemia adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah sel darah merah
akibat pembentukan sel darah merah yang berlebihan oleh sumsum tulang.
Polisitemia adalah suatu kondisi yang jarang terjadi di mana tubuh terlalu banyak
memproduksi sel darah merah. Orang dengan polisitemia memiliki peningkatan
hematokrit, hemoglobin, atau jumlah sel darah merah di atas batas normal melebihi 6
juta/ mm atau hemoglobinnya melebihi 18 g/dl.

B Etiologi
Sel darah tubuh diproduksi di sumsum tulang ditemukan di beberapa tulang, seperti
tulang paha. Biasanya produksi sel darah diatur oleh tubuh sehingga jumlah sel darah
yang baru dibuat untuk menggantikan sel-sel darah yang lama karena mereka mati.
Dalam polisitemia, proses ini tidak normal karena berbagai penyebab dan menghasilkan
terlalu banyak sel darah merah dan kadang-kadang sel-sel darah lainnya. Hal ini
menyebabkan penebalan darah.
Berikut ini adalah daftar penyebab atau kondisi yang mendasarinya (lihat juga
mendiagnosis penyebab yang mendasari polisitemia) yang mungkin dapat menyebabkan
polisitemia meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Dehidrasi
Merokok
Syok
Diare
Muntahan
Penyakit paru kronis
1) Penyakit syndroma cushing

IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

2)
3)
4)
5)

Tumor ginjal
Bawaan polisitemia
Stress
Polisetemia vera

C Klasifikasi
Menurut (Wiwik Handayani, 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Hematologi.) Ada
dua jenis utama polisitemia:
1. Polisitemia Primer
Disebabkan oleh proliferasi berlebihan pada sel benih hematopoietik tanpa perlu
rangsangan dari eritropoietin atau hanya dengan kadar eritropoietin rendah. Dalam
keadaan normal, proses proliferasi terjadi karena rangsangan eritropoietin yang kuat.
Polisitemia Primer terjadi di sekitar 2 pada setiap 100.000 orang. Penyebabnya tidak
diketahui. Namun, polisitemia ini hadir saat lahir, biasanya disebabkan oleh kelainan
genetik warisan yang abnormal menyebabkan tingkat tinggi prekursor sel darah
merah. polisitemia keluarga dan bawaan Primer (PFCP) dan polisitemia vera (PV).
2. Polisitemia sekunder
Polisitemia sekunder umumnya terjadi sebagai respon terhadap faktor-faktor lain atau
kondisi yang mendasarinya atau gangguan, seperti tumor hati, tumor ginjal atau
sindroma Cushing. Polisitemia sekunder juga dapat disebabkan oleh peningkatan
eritropoietin (EPO) produksi baik dalam respon terhadap hipoksia kronis (kadar
oksigen rendah) atau dari tumor mensekresi eritropoietin, perilaku, gaya hidup,
seperti merokok, tinggal di tempat yang tinggi, penyakit paru-paru parah, dan
penyakit jantung.Bila ada kekurangan oksigen, tubuh merespon dengan memproduksi
lebih banyak sel darah merah yang membawa oksigen ke sel-sel tubuh.

D Patofisiologi
Menurut (Wiwik Handayani, 2008, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Hematologi, hal.76).
Mekanisme yang diduga untuk menyebabkan peningkatan poliferesi sel induk
hematopoietik adalah sebagai berikut:
1. Tidak terkontrolnya poliferesi sel induk hematopoietik yang bersifat neoplastik
IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

2. Adanya faktor mieloproliferatif abnormal yang memepengaruhi poliferasi sel induk


hematopoietik normal.
3. Peningkatan sensivitas sel induk hematopoietik terhadap eritropoitin, interlaukin,1,3
GMCSF dan sistem cell faktor.
Adapun perjalanan klinis polisitemia yaitu :
1. Fase eritrositik atau fase polisitemia.
Fase ini merupakan fase permulaan. Pada fase ini didapatkan peningkatan jumlah
eritrosit yang dapat bertanggung jawab 5-25 tahun. Pada fase ini dibutuhkan
flebotomi secara teratur untuk menggendalikan viskositas darah dalam batasan
normal.
2. Fase brun out (terbakar habis) atau spent out (terpakai habis ).
Dalam fase ini kebutuhan flebotomi menurun sangat jauh atau pasien memasuki
priode panjang yang tampaknya seperti remisi, kadang-kadang timbul anemia tetapi
trombositosis dan leokositosis biasanya menetap.
3. Fase mielofibrotik
Jika terjadi sitopenia dan splenomegali progresif, manifestasi klinis dan perjalanan
klinis menjadi serupa dengan mielofibrosis dan metaplasia mieliod. Kadang- kadang
terjadi metaplasia mieloid pada limpa, hati, kelenjar getah bening dan ginjal.
4. Fase terminal
Pada kenyataannya kematian pasien dengan polisitemia vera diakibatkan oleh
komplikasi trombosis atau perdarahan. Kematian karena mielofibrosis terjadi pada
kurang dari 15%. Kelangsungan hidup rerata (median survival) pasien yang diobati
berkisar anatara 8 dan 15 tahun, sedangkan pada pasien yang tidak mendapatkan
pengobatan hanya 18 bulan. Dibandingkan dengan pengobatan flibotomi saja, resiko
terjadinya leukemia akut meningkat 5 kali jika pasien diberi pengobatan fosfor P32
dan 13 kali jika pasien mendapatkan obat sitostatik seperti klorambusil.
POLIPERASI

Polisitemia
Primer/vera
hematopoledik

polisitemia
Sekunder

faktor yg menyebabkan
1. Tidak terkontrolnya sel induk
(mempengaruhi produksi sel darah

merah).
2. adanya faktor meiloproliferatif yg
abnormal

IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

Faktor genetik
membentuk eritrosit).

faktor luar & dalam(sumsum tulang banyak


3. peningkatan sensitivitas sel induk

hematopletik
Terhadap eritropletik.
4. Adanya mutasi gen RNA/DNA.
Fase-fase :
1. eritrosik
2. burn out
3. mielofibrotik
4. terminal

Peningkatan poliperasi sel induk hematopoledik

Terjadi ke abnormal pada sel darah

Pengentalan pada sel darah merah

Komplikasi

Tanda dan Gejala

D. Manifestasi Klinik
Gambaran klinis polisemia vera adalah gambaran proliperasi sel darah merah yang
berlebihan. Pasien mungkin memperlihatkan kulit yang kemerahan atau gejala
hiperviskositas seperti nyeri kepala, gangguan penglihatan, atau serangan-serangan
trombosit. Para pasien ini lebih rentan terkena ulkus peptikum. Mereka mungkin datang
dengan gejala-gejala peningkatan histamine darah( yang disebabkan dari basofil ) berupa
gatal, terutama setelah mandi air panas. Mereka biasanya memiliki wajah bulat, dan 75%
mengalami pembesaran limfa.
Menurut (Wiwik Handayani. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Hematologi.
Hlm.78)
1. Muka kemerahan (Pletora)
IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Gangguan penglihatan
Vertigo
Siklus sel yang tinggi
Cepat lelah
Tinitus
Cepat lupa
Perasaan panas
Sakit Kepala

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Fisik, yaitu ada tidaknya pembesaran limpa dan penampilan kulit

(eritema).
2. Pemeriksaan Darah, Jumlah sel darah ditentukan oleh complete blood cell count
(CBC), sebuah tes standar untuk mengukur konsentrasi eritrosit, leukosit dan
trombosit dalam darah. PV ditandai dengan adanya peningkatan hematokrit, jumlah
sel darah putih (terutama neutrofil), dan jumlah platelet. Pemeriksaan darah lainnya,
yaitu adanya peningkatan kadar serum B12, peningkatan kadar asam urat dalam
serum, saturasi oksigen pada arteri, dan pengukuran kadar eritropoietin (EPO) dalam
darah.
3. Pemeriksaan Sumsum tulang
Meliputi pemeriksaan histopatologi dan analisis kromosom sel-sel sumsum tulang
(untuk mengetahui kelainan sifat sel tunas (stem cells) pada sumsum tulang akibat
mutasi dari gen Janus kinase-2/JAK2).

F. Komplikasi
Kelebihan sel darah merah dapat dikaitkan dengan komplikasi lain, termasuk :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Perdarahan dari lambung atau bagian lain pada saluran pencernaan.


Batu Ginjal
Asam urat
Gagal jantung
Leukemia / leukositosis
Myelofibrosis
Penyakit ulkus peptikum
Trombosis (pembekuan darah, yang dapat menyebabkan stroke atau serangan jantung)

E Penatalaksanaan
1. Flebotomi

Flebotomi adalah terapi utama pada PV.Flebotomi mungkin satu-satunya bentuk


pengobatan yang diperlukan untuk banyak pasien, kadang-kadang selama bertahunIMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

tahun dan merupakan pengobatan yang dianjurkan. Indikasi flebotomi terutama pada
semua pasien pada permulaan penyakit,dan pada pasien yang masih dalam usia
subur.Pada flebotomi, sejumlah kecil darah diambil setiap hari sampai nilai
hematokrit mulai menuru. Jika nilai hematokrit sudah mencapai normal, maka darah
diambil setiap beberapa bulan, sesuai dengan kebutuhan.Target hematokrit yang ingin
dicapai adalah <45% pada pria kulit putih dan <42% pada pria kulit hitam dan
perempuan.
2. Kemoterapi Sitostatika/ Terapi mielosupresif (agen yang dapat mengurangi sel darah
merah atau konsentrasi platelet).
Tujuan pengobatan kemoterapi sitostatik adalah sitoreduksi. Lebih baik menghindari
kemoterapi jika memungkinkan, terutama pada pasien uisa muda.Terapi mielosupresif
dapat dikombinasikan dengan flebotomi atau diberikan sebagai pengganti
flebotomi.Kemoterapi yang dianjurkan adalah Hidroksiurea (dikenal juga sebagai
hidroksikarbamid) yang merupakan salah satu sitostatik golongan obat antimetabolik
karena dianggap lebih aman, tetapi masih diperdebatkan tentang keamanan
penggunaan jangka panjang.Penggunaan golongan obat alkilasi sudah banyak
ditinggalkan atau tidak dianjurkan lagi karena efek leukemogenik dan mielosupresi
yang serius.Walaupun demikian, FDA masih membenarkan klorambusil dan Busulfan
digunakan pada PV. Pasien dengan pengobatan cara ini harus diperiksa lebih sering
(sekitar 2 sampai 3 minggu sekali). Kebanyakan klinisi menghentikan pemberian obat
jika hematokrit: pada pria < 45% dan memberikannya lagi jika > 52%, pada wanita <
42% dan memberikannya lagi jika > 49%.
3. Fosfor Radiokatif (P32)

Isotop radioaktif (terutama fosfor 32) digunakan sebagai salah satu cara untuk
menekan sumsum tulang. P32 pertama kali diberikan dengan dosis sekitar 2-3mCi/m2
secar intravena, apabila diberikan per oral maka dosis dinaikkan 25%.Selanjutnya jika
setelah 3-4 minggu pemberian pertama P32 Mendapatkan hasil, reevaluasi setelah 1012 minggu.Jika diperlukan dapat diulang akan tetapi hal ini jarang dibutuhkan.Tidak
mendapatkan hasil, selanjutnya dosis kedua dinaikkan 25% dari dosis pertama, dan
diberikan sekitar 10-12 minggu setelah dosis pertama.
4. Kemoterapi Biologi (Sitokin)
Tujuan pengobatan dengan produk biologi pada polisitemia vera terutama untuk
mengontrol trombositemia (hitung trombosit . 800.00/mm3). Produk biologi yang
digunakan adalah Interferon (Intron-A, Roveron-) digunakan terutama pada keadaan
trombositemia

yang

tidak

dapat

dikendalikan.Kebanyakan

klinisi

mengkombinasikannya dengan sitostatik Siklofosfamid (Cytoxan).


IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A.

Pengkajian

1. Riwayat adanya penyakit yang berhubungan dengan hipoksia (penyakit paru


obstruktif kronis/PPOK, penyakit jantung kronis, / hemoglobinopati)
2. Pemeriksaan fisik
Dalam pemeriksaan menunjukan gejala-gejala sebagai berikut.
1) Peningkatan warna kulit (sering kemerah-merahan) disebabkan oleh peningkatan
kadar hemoglobin.
2) Gejala-gejala kelebihan beban sirkulasi (dispnea, batuk kronis, peningkatan
tekanan darah, takikardi, sakit kepala, dan pusing) disebabkan oleh peningkatan
volume darah.
3) Gejala-gejala trombosit

(angina,

klaudikasi

intermiten,

tromboplebitis)

disebabkan oleh peningkatan piskositas darah.


4) Splenomegali dan hepatomegali.
IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

5) Gatel, khususnya setalah mandi air hangat yang diakibatkan oleh hemolisis sel
darah merah yang tidak matang.
6) Riwayat perdarahan hidung, ikimosis atau perdarahan saluran pencernaan dari
disfungsi trombosit.
3. Pemeriksaan diagnostik
1) Pada pemeriksaan darah lengkap menunjukan peningkatan sel darah merah,
hemoglobin, hematokrit, sel darah putih, dan trombosit. Pada polisitemia
sekunder sel darah putih dan trombosit tetap normal.
2) Alkalin fosfat leukosit meningkat.
3) Kadar B12 serum meningkat.
4) Kadar asam urat serum meningkat.
4. Kaji pemahaman klien tentang kondisi dan rencana tindakan.
5. Kaji klien tentang perasaannya mengalami kondisi kronis.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan volume cairan yang yang berhubungan dengan kelebihan sel darah merah
dan volume darah.
2. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan perifer yang b/d pembentukan trombosit.
3. Resiko tinggi terhadap perubahan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah yang b/d
kurangnya pengetahuan mengenai kondisi dan rencana tindakan.
C. Intervensi Keperawatan
Diagnosa

Tujuan

Dx 1 :

&Kriteria Hasil
Tujuan :

Kelebihan

Klien

volume

mampu

cairan mendemonstrasika

yang

hilangnya

berhubungan

kelebihan volume

Intervensi
1. Batasi

Rasional

masukan 1. Untuk mencegah

cairan bila gejala-

kelebihan

gejala

lanjut

kelebihan

lebih

cairan terjadi seperti 2. Normalnya nilarales,

hipertensi,

flebotomi

harus

nadi

sel darah merah KH :

peningkatan

menurunkan nila-

frekuensi

nilai

pernafasan.

flebotomi

darah.

volume

1. Berpartisi
pasi
dalam
aktivitas

2. Atur
flebotomi

IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

dan

pasca

dengan kelebihan cairan.


dan

kuat,

nilai

pra

terhadap 3. Untuk
sesuai

mengevaluasi ke
Page

tanpa

ketentuan,

mengala

konsultasikan

mi

dokter

takipnea,

hemoglobin,

takikardi,

hematokrit

dan

natrium serum tetap

mengontrol

kelelahan

tinggi setelah jumlah

polisemia.

2. Hasil

efektifan terapi.
ke 4. Farmakoterapi

bila

TTV,

diperlukan secara
dan

darah

yang

laboratori

ditentukan

telah

um darah

dikeluarkan.

lengkap

3. Sebelum
sesudah

natrium

pantau adanya tanda-

serum

tanda berikut ini :


a. TD,

batas

untuk

flebotomi,

nadi,

dan

pernafasan.

normal.

b. Hasil

3. Bunyi

pemeriksaan

nafas

eletrolit serum

bersih

c. Hasil

4. Penuruna
n

efektif

dan

dan

dalam

sepanjang hidup

berat

badan.

pemeriksaan
darah lengkap
d. Berat badan.

5. TTV
dalam
batas
normal
DX 2 :
Resiko

Tujuan :

1. Anjurkan

tinggi

melakukan

perubahan perfusi KH :
jaringan

perifer Jika

yang
pembentukan

b/d ada

klien 1. Imobilisasi
latihan

rentang gerak aktif


klien

tidak 2. Anjurkan

perdarahan

berlebihan

dan

masukan

cairan bila tidak ada


gejala-gejala

IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

mempredisposisi
kan klien pada
pembentukkan
trombosit.
2. Cairan membantu
Page

trombosit.

tanda-tanda
trombot

kelebihan
lebitis.

cairan

Hasil

yang 3. Pantau :

diharapkan

pada

klien

ini

beban

viskositas darah.
3. Untuk

a. Hasil

mendeteksi

pemeriksaan

menunjukan

laboraturiom

perfusi

jaringan

darah

perifer

tetap

adekuat.

menurunkan

lengkap,

komplikasi dini.
4. Obstruksi
pembuluh darah

khususnya

oleh

hematokrit

mempengaruhi

b. Status

vaskular

aliran

trombus
darah

perifer setiap 8

disrkitar jaringan

jam

sehingga

4. Beritahu dokter bila

terjadi

iskemia.

terjadi pembentukkan
trombosit berupa :
a. Angina pektoris
b. Klaudikasi
intermitren
c. Tromboflebitis

IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

Dx 3 :

Tujuan :

Resiko

1. Evaluasi

tinggi KH :

pemahaman

terhadap

Untuk

perubahan

dengan perubahan

berikan

penatalaksanaan

penatalaksanaan di

tentang

pemeliharaan

klien

di rumah

adalah

mengenai

klien

1. Kepatuhan

di

tingkatkan

bila

kondisi,

klien memahami

informasi

hubungan antara

a. Sifat

kondisi
kondisi,

dan

terapi

yang

rumah yang b/d sebagai berikut.

tekankan bahwa

mereka

kurangnya

polisitemia

dapatkan.

1. Mengungkap

pengetahuan

pemahaman

adalah

kondisi

mengenai kondisi

tentang kondisi

kronis

yang

dan

dan

memerlukan

memudahkan

tindakan seumur

koping.

2. Mengungkapkan

hidup.

Pengetahuan

rencana-rencana

b. Tujuan

tindakan.

rencana

rencana

tindakan.

tindakan-

menggabungkan

tindakan

rencana

ditentukan
ke

perasaan

yang

untuk

tindakan

2. Pengungkapan

adekuat

tentang
yang

yang

situasi
dialami

dapat membantu

c. Obat-obatan

mengurangi

dalam

gaya

yang

hidup

baru.

diresepkan,

Hasil

yang

termasuk nama,

segera

diharapkan klien

dosis,

diperlukan

adalah

tujuan, dan efek

untuk mencegah

mampu

samping

kerusakan

mendemostrasik

dapat

jaringan

an

dilaporkan.

permanen.

klien

keinginan

untuk memenuhi

ansietas.
3. Intervensi

jadwal,
yang

d. Tanda-tanda

4. Instruksi verbal

rencana

trombosis

dapat

tindakan.

ekstremitas.

mudah

2. Anjurkan

klien

untuk

dengan

dilupakan.
5. Untuk

mengekspresikan

meningkatkan

perasaan

keterlibatan

mengalami
IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

tentang

klien

dalam
Page

penyakit

kronis.

Berikan

jawaban

melakukan
tanggung jawab

yang benar untuk

dalam

menghilangkan

mempertahanka

adanya kesalahan

n kesehatannya

persepsi

sendiri.

3. Intruksikan klien
untuk

mencari

pertolongan medis
bila gejala-gejala
kelebihan

beban

sirkulasi

atau

terjadi
pembentukan
trombus.
4. Berikan

jaminan

pada klien dengan


membuat
perjanjian tertulis
untuk

kunjungan

evaluasi

dan

instruksikan
tertulis

aktivitas

perawatan diri.
5. Senantiasa
memberikan
informasi
mengenai

hasil

pemeriksaan
laboraturium pada
klien.

IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

BAB IV
KESIMPULAN
Polisitemia adalah suatu keadaan yang menghasilkan tingkat peningkatan sirkulasi sel
darah merah dalam aliran darah. Orang dengan polisitemia memiliki peningkatan
hematokrit, hemoglobin, atau jumlah sel darah merah di atas batas normal melebihi 6
juta/ mm atau hemoglobinnya melebihi 18 g/dl.
Ada dua jenis utama polisitemia: polisitemia vera( primer) dan polisitemia sekunder.
Polisitemia vera (yang secara harfiah diterjemahkan sebagai "polisitemia benar") juga
dikenal sebagai suatu jenis polisitemia primer. Primer berarti bahwa polisitemia tidak
disebabkan oleh gangguan lain.

Polisitemia Primer: Dalam polisitemia primer

peningkatan sel darah merah adalah karena masalah yang melekat dalam proses produksi
sel darah merah.
Polisitemia sekunder: polisitemia sekunder umumnya terjadi sebagai respon terhadap
faktor-faktor lain atau kondisi yang mendasarinya atau gangguan, seperti tumor hati,
tumor ginjal atau sindroma Cushing.
Terapi yang dilakukan tergantung dari penyebab dasar dari polisitemia tersebut.
Polisitemia sendiri diterapi dengan cara mengurangi atau mengeluarkan darah dari dalam
IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page

tubuh sampai dengan jumlah hematokrit berada di dalam batas normal. Apabila penyebab
polisitemia tidak diketahui, maka yang diperlukan adalah monitor teratur.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 3. Jakarta: EGC.
Http:// www.medicastore.com/ penyakit/ 314/polisitemia_vera.html.(diakses pada selasa,
08 oktober 2013)
Handayani, Wiwik, dan Andi Sulistyo Aribowo. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pada
Klien Dengan Gangguan Sistem Hematologi. Hal,76. Jakarta : Salemba Medika.
Graber, Mark, dkk. 2006. Buku Saku Dokter Keluarga. Jakarta : EGC
Isseibacher, dkk. 1999. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 13. Jakarta : EGC

IMUN DAN HEMATOLOGI 2 - POLISITEMIA

Page