Anda di halaman 1dari 12

ASKEP AMPUTASI

Ditulis pada April 6, 2008 oleh harnawatiaj


<!--[if !supportLists]-->A. <!--[endif]-->Pengertian
Amputasi adalah tindakan pembedahan dengan membuang bagian tubuh.
<!--[if !supportLists]-->B. <!--[endif]-->Etiologi
Indikasi utama bedah amputasi adalah karena :
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Iskemia karena penyakit reskularisasi perifer,
biasanya pada orang tua, seperti klien dengan artherosklerosis, Diabetes Mellitus.
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Trauma amputasi, bisa diakibatkan karena perang,
kecelakaan, thermal injury seperti terbakar, tumor, infeksi, gangguan metabolisme seperti
pagets disease dan kelainan kongenital.
<!--[if !supportLists]-->C. <!--[endif]-->Patofisiologi
Dilakukan sebagian kecil sampai dengan sebagian besar dari tubuh, dengan dua metode :
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Metode terbuka (guillotine amputasi).
Metode ini digunakan pada klien dengan infeksi yang mengembang. Bentuknya benar-benar terbuka
dan dipasang drainage agar luka bersih, dan luka dapat ditutup setelah tidak terinfeksi.
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Metode tertutup (flap amputasi)
Pada metode ini, kulit tepi ditarik pada atas ujung tulang dan dijahit pada daerah yang diamputasi.
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Tidak semua amputasi dioperasi dengan terencana,
klasifikasi yang lain adalah karena trauma amputasi.
<!--[if !supportLists]-->D. <!--[endif]-->Tingkatan Amputasi
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Ekstremitas atas
Amputasi pada ekstremitas atas dapat mengenai tangan kanan atau kiri. Hal ini
berkaitan dengan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, mandi, berpakaian dan
aktivitas yang lainnya yang melibatkan tangan.
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Ekstremitas bawah
Amputasi pada ekstremitas ini dapat mengenai semua atau sebagian dari jari-jari kaki yang
menimbulkan seminimal mungkin kemampuannya.

Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas ini dibagi menjadi dua letak
amputasi yaitu :
<!--[if

!supportLists]-->a.

<!--[endif]-->Amputasi

dibawah

lutut

(below

knee

amputation).
Ada 2 metode pada amputasi jenis ini yaitu amputasi pada nonischemic limb dan inschemic limb.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Amputasi diatas lutut
Amputasi ini memegang angka penyembuhan tertinggi pada pasien dengan penyakit vaskuler perifer.
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Nekrosis. Pada keadaan nekrosis biasanya
dilakukan dulu terapi konservatif, bila tidak berhasil dilakukan reamputasi dengan
level yang lebih tinggi.
<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Kontraktur. Kontraktur sendi dapat dicegah dengan
mengatur letak stump amputasi serta melakukan latihan sedini mungkin. Terjadinya
kontraktur sendi karena sendi terlalu lama diistirahatkan atau tidak di gerakkan.
<!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Neuroma. Terjadi pada ujung-ujung saraf yang dipotong
terlalu rendah sehingga melengket dengan kulit ujung stump. Hal ini dapat dicegah dengan
memotong saraf lebih proximal dari stump sehingga tertanam di dalam otot.
<!--[if !supportLists]-->6. <!--[endif]-->Phantom sensation. Hampir selalu terjadi dimana
penderita merasakan masih utuhnya ekstremitas tersebut disertai rasa nyeri. Hal ini dapat
diatasi dengan obat-obatan, stimulasi terhadap saraf dan juga dengan cara kombinasi.
<!--[if !supportLists]-->E. <!--[endif]-->Penatalaksanaan Amputasi
Amputasi dianggap selesai setelah dipasang prostesis yang baik dan berfungsi.
Ada 2 cara perawatan post amputasi yaitu :
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Rigid dressing
Yaitu dengan menggunakan plaster of paris yang dipasang waktu dikamar operasi. Pada waktu
memasang harus direncanakan apakah penderita harus immobilisasi atau tidak. Bila tidak diperlukan
pemasangan segera dengan memperhatikan jangan sampai menyebabkan konstriksi stump dan
memasang balutan pada ujung stump serta tempat-tempat tulang yang menonjol. Keuntungan cara ini
bisa mencegah oedema, mengurangi nyeri dan mempercepat posisi berdiri.
Setelah pemasangan rigid dressing bisa dilanjutkan dengan mobilisasi segera,
mobilisasi setelah 7 10 hari post operasi setelah luka sembuh, setelah 2 3
minggu, setelah stump sembuh dan mature. Namun untuk mobilisasi dengan rigid
dressing ini dipertimbangkan juga faktor usia, kekuatan, kecerdasan penderita,

tersedianya perawat yang terampil, therapist dan prosthetist serta kerelaan dan
kemauan dokter bedah untuk melakukan supervisi program perawatan. Rigid
dressing dibuka pada hari ke 7 10 post operasi untuk melihat luka operasi atau bila
ditemukan cast yang kendor atau tanda-tanda infeksi lokal atau sistemik.
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Soft dressing
Yaitu bila ujung stump dirawat secara konvensional, maka digunakan pembalut steril yang rapi dan
semua tulang yang menonjol dipasang bantalan yang cukup. Harus diperhatikan penggunaan elastik
verban jangan sampai menyebabkan konstriksi pada stump. Ujung stump dielevasi dengan
meninggikan kaki tempat tidur, melakukan elevasi dengan mengganjal bantal pada stump tidak baik
sebab akan menyebabkan fleksi kontraktur. Biasanya luka diganti balutan dan drain dicabut setelah 48
jam. Ujung stump ditekan sedikit dengan soft dressing dan pasien diizinkan secepat mungkin untuk
berdiri setelah kondisinya mengizinkan. Biasanya jahitan dibuka pada hari ke 10 - 14 post operasi.
Pada amputasi diatas lutut, penderita diperingatkan untuk tidak meletakkan bantal dibawah stump, hal
ini perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya kontraktur.
<!--[if !supportLists]-->F. <!--[endif]-->Dampak Masalah Terhadap Sistem Tubuh.
Adapun pengaruhnya meliputi :
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Kecepatan metabolisme
Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik
serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolisme basal.
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar dari anabolisme, maka
akan mengubah tekanan osmotik koloid plasma, hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler
ke luar keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema.
Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan
memberikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghambat pengeluaran ADH, sehingga
terjadi peningkatan diuresis.
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Sistem respirasi
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Penurunan kapasitas paru
Pada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang, maka kontraksi otot
intercosta relatif kecil, diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi
maksimal dan ekspirasi paksa.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Perubahan perfusi setempat

Dalam posisi tidur terlentang, pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio
ventilasi dengan perfusi setempat, jika secara mendadak maka akan terjadi
peningkatan metabolisme (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia.
<!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Mekanisme batuk tidak efektif
Akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga
sekresi mukus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu
gerakan siliaris normal.
<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Sistem Kardiovaskuler
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Peningkatan denyut nadi
Terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolik, endokrin dan
mekanisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergik sering dijumpai pada
pasien dengan immobilisasi.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Penurunan cardiac reserve
Dibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat, hal ini mengakibatkan
waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup.
<!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Orthostatik Hipotensi
Pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer, dimana anterior
dan venula tungkai berkontraksi tidak adekuat, vasodilatasi lebih panjang dari
pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah,
volume darah yang bersirkulasi menurun, jumlah darah ke ventrikel saat diastolik
tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun,
akibatnya klien merasakan pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga
merasakan pingsan.
<!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Sistem Muskuloskeletal
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Penurunan kekuatan otot
Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan
suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan, demikian pula dengan
pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan
otot.

<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Atropi otot


Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan
fungsi persarafan. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot.
<!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Kontraktur sendi
Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya
keterbatasan gerak.
<!--[if !supportLists]-->d. <!--[endif]-->Osteoporosis
Terjadi penurunan metabolisme kalsium. Hal ini menurunkan persenyawaan
organik dan anorganik sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi
keropos.
<!--[if !supportLists]-->6. <!--[endif]-->Sistem Pencernaan
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Anoreksia
Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi
kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan
kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Konstipasi
Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat pristaltik usus dan spincter
anus menjadi kontriksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon,
menjadikan faeces lebih keras dan orang sulit buang air besar.
<!--[if !supportLists]-->7. <!--[endif]-->Sistem perkemihan
Dalam kondisi tidur terlentang, renal pelvis ureter dan kandung kencing berada dalam keadaan sejajar,
sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi, pelvis renal banyak menahan urine sehingga dapat
menyebabkan :
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan
mudah membentuk batu ginjal.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan
berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan ISK.
<!--[if !supportLists]-->8. <!--[endif]-->Sistem integumen

Tirah baring yang lama, maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan bokong akan tertekan
sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan. Jika hal ini dibiarkan akan
terjadi ischemia, hyperemis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dan kulit dimasase
untuk meningkatkan suplai darah.
<!--[if !supportLists]-->G. <!--[endif]-->Diagnosa Keperawatan
Untuk klien dengan amputasi diagnosa keperawatan yang lazim terjadi adalah :
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan
kehilangan anggota tubuh.
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Gangguan konsep diri ; body image berhubungan
dengan perubahan fisik.
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan
terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan otot.
<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Gangguan pemenuhan ADL; personal hygiene kurang
berhubungan dengan kurangnya kemampuan dalam merawat diri.
<!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah
baring yang lama.
<!--[if !supportLists]-->6. <!--[endif]-->Potensial kontraktur berhubungan dengan immobilisasi.
<!--[if !supportLists]-->7. <!--[endif]-->Potensial infeksi berhubungan dengan adanya luka yang
terbuka.
<!--[if !supportLists]-->H. <!--[endif]-->Perencanaan
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan
kehilangan anggota tubuh.
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Tujuan :
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Panjang : Mobilisasi fisik terpenuhi.
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Pendek :
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Klien dapat menggerakkan anggota tubuhnya
yang lainnya yang masih ada.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Klien dapat merubah posisi dari posisi tidur ke posisi duduk.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->ROM, tonus dan kekuatan otot terpelihara.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Klien dapat melakukan ambulasi.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Intervensi :

<!--[if !supportLists]-->1.) <!--[endif]-->Kaji ketidakmampuan bergerak klien yang


diakibatkan oleh prosedur pengobatan dan catat persepsi klien terhadap immobilisasi.
Rasional : Dengan mengetahui derajat ketidakmampuan bergerak klien dan persepsi
klien terhadap immobilisasi akan dapat menemukan aktivitas mana saja
yang perlu dilakukan.
<!--[if !supportLists]-->2.) <!--[endif]-->Latih klien untuk menggerakkan anggota badan
yang masih ada.
Rasional : Pergerakan dapat meningkatkan aliran darah ke otot, memelihara
pergerakan sendi dan mencegah kontraktur, atropi.
<!--[if !supportLists]-->3.) <!--[endif]-->Tingkatkan ambulasi klien seperti mengajarkan
menggunakan tongkat dan kursi roda.
Rasional : Dengan ambulasi demikian klien dapat mengenal dan menggunakan alatalat yang perlu digunakan oleh klien dan juga untuk memenuhi aktivitas
klien.
<!--[if !supportLists]-->4.) <!--[endif]-->Ganti posisi klien setiap 3 4 jam secara periodik
Rasional : Pergantian posisi setiap 3 4 jam dapat mencegah terjadinya kontraktur.
<!--[if !supportLists]-->5.) <!--[endif]-->Bantu klien mengganti posisi dari tidur ke duduk
dan turun dari tempat tidur.
Rasional : Membantu klien untuk meningkatkan kemampuan dalam duduk dan turun
dari tempat tidur.
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Gangguan konsep diri ; body image berhubungan
dengan perubahan fisik.
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Tujuan :
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Panjang : Klien dapat menerima keadaan
fisiknya.
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Pendek :
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Klien dapat meningkatkan body image dan
harga dirinya.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Klien dapat berperan serta aktif selama rehabilitasi dan self
care.
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan
dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan otot.
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Tujuan :

<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Panjang : Nyeri berkurang atau hilang


<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Pendek :
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Ekspresi wajah klien tidak meringis kesakitan
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Klien menyatakan nyerinya berkurang
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Klien mampu beraktivitas tanpa mengeluh nyeri.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Intervensi :
<!--[if !supportLists]-->1.) <!--[endif]-->Tinggikan posisi stump
Rasional : Posisi stump lebih tinggi akan meningkatkan aliran balik vena, mengurangi
edema dan nyeri.
<!--[if !supportLists]-->2.) <!--[endif]-->Evaluasi derajat nyeri, catat lokasi, karakteristik
dan intensitasnya, catat perubahan tanda-tanda vital dan emosi.
Rasional : Merupakan intervensi monitoring yang efektif. Tingkat kegelisahan
mempengaruhi persepsi reaksi nyeri.
<!--[if !supportLists]-->3.) <!--[endif]-->Berikan teknik penanganan stress seperti
relaksasi, latihan nafas dalam atau massase dan distraksi.
Rasional : Distraksi untuk mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri karena
perhatian klien dialihkan pada hal-hal lain, teknik relaksasi akan
mengurangi ketegangan pada otot yang menurunkan rangsang nyeri
pada saraf-saraf nyeri.
<!--[if !supportLists]-->4.) <!--[endif]-->Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Analgetik dapat meningkatkan ambang nyeri pada pusat nyeri di otak atau
dapat membloking rangsang nyeri sehingga tidak sampai ke susunan
saraf pusat.
<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Gangguan pemenuhan ADL; personal hygiene
kurang berhubungan dengan kurangnya kemampuan dalam merawat diri.
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Tujuan :
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Panjang : Klien dapat melakukan perawatan
diri secara mandiri.
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Pendek :
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Tubuh, mulut dan gigi bersih serta tidak berbau.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Kuku pendek dan bersih.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Rambut bersih dan rapih

<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Pakaian, tempat tidur dan meja klien bersih dan rapih.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Klien mengatakan merasa nyaman.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Intervensi :
<!--[if !supportLists]-->1.) <!--[endif]-->Bantu klien dalam hal mandi dan gosok gigi
dengan cara mendekatkan alat-alat mandi, dan menyediakan air di pinggirnya, jika
klien mampu.
Rasional : Dengan menyediakan air dan mendekatkan alat-alat mandi maka akan
mendorong kemandirian klien dalam hal perawatan dan melakukan
aktivitas.
<!--[if !supportLists]-->2.) <!--[endif]-->Bantu klien dalam mencuci rambut dan potong
kuku.
Rasional : Dengan membantu klien dalam mencuci rambut dan memotong kuku maka
kebersihan rambut dan kuku terpenuhi.
<!--[if !supportLists]-->3.) <!--[endif]-->Anjurkan klien untuk senantiasa merapikan
rambut dan mengganti pakaiannya setiap hari.
Rasional : Dengan membersihkan dan merapihkan lingkungan akan memberikan rasa
nyaman klien.
<!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Gangguan integritas kulit berhubungan dengan
tirah baring yang lama.
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Tujuan :
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Panjang : Klien dapat sembuh tanpa
komplikasi seperti infeksi.
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Pendek :
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Kulit bersih dan kelembaban cukup.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Kulit tidak berwarna merah.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Kulit pada bokong tidak terasa ngilu.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Intervensi :
<!--[if !supportLists]-->1.) <!--[endif]-->Kerjasama dengan keluarga untuk selalu
menyediakan sabun mandi saat mandi.
Rasional : Sabun mengandung antiseptik yang dapat menghilangkan kuman dan
kotoran pada kulit sehingga kulit bersih dan tetap lembab.
<!--[if !supportLists]-->2.) <!--[endif]-->Pelihara kebersihan dan kerapihan alat tenun
setiap hari.

Rasional : Alat tenun yang bersih dan rapih mengurangi resiko kerusakan kulit dan
mencegah masuknya mikroorganisme.
<!--[if !supportLists]-->3.) <!--[endif]-->Anjurkan pada klien untuk merubah posisi
tidurnya setiap 3 4 jam sekali
Rasional : Untuk mencegah penekanan yang terlalu lama yang dapat menyebabkan
iritasi.
<!--[if !supportLists]-->6. <!--[endif]-->Resiko tinggi terhadap kontraktur berhubungan
dengan immobilisasi.
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Tujuan :
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Panjang : Kontraktur tidak terjadi.
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Pendek :
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Klien dapat melakukan latihan rentang gerak.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Setiap persendian dapat digerakkan dengan baik.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Tidak terjadi tanda-tanda kontraktur seperti kaku pada
persendian.
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Intervensi :
<!--[if !supportLists]-->1.) <!--[endif]-->Pertahankan peningkatan kontinyu dari puntung
selama 24 48 jam sesuai pesanan. Jangan menekuk lutut, tempat tidur atau
menempatkan bantal dibawah sisa tungkai, tinggikan kaku tempat tidur melalui blok
untuk meninggikan puntung.
Rasional : Peninggian menurunkan edema dan menurunkan resiko kontraktur fleksi
dari panggul.
<!--[if !supportLists]-->2.) <!--[endif]-->Tempatkan klien pada posisi telungkup selama 30
menit 3 4 kali setiap hari setelah periode yang ditentukan dari peninggian kontinyu.
Rasional : Otot normalnya berkontraksi waktu dipotong. Posisi telungkup membantu
mempertahankan tungkai sisa pada ekstensi penuh.
<!--[if !supportLists]-->3.) <!--[endif]-->Tempatkan rol trokanter disamping paha untuk
mempertahankan tungkai adduksi.
Rasional : Kontraktur adduksi dapat terjadi karena otot fleksor lebih kuat dari pada
otot ekstensor.
<!--[if !supportLists]-->4.) <!--[endif]-->Mulai latihan rentang gerak pada puntung 2 3
kali sehari mulai pada hari pertama pasca operasi. Konsul terapist fisik untuk latihan
yang tepat.

Rasional : Latihan rentang gerak membantu mempertahankan fleksibilitas dan tonus


otot.
<!--[if !supportLists]-->7. <!--[endif]-->Potensial infeksi berhubungan dengan adanya luka
yang terbuka.
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Tujuan :
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Panjang : Infeksi tidak terjadi
<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->Jangka Pendek :
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Luka bersih dan kering
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Daerah sekitar luka tidak kemerahan dan tidak bengkak.
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Tanda-tanda vital normal
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Nilai leukosit normal (5000 10.000/mm3)
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Intervensi :
<!--[if !supportLists]-->1.) <!--[endif]-->Observasi keadaan luka
Rasional : Untuk memonitor bila ada tanda-tanda infeksi sehingga akan cepat
ditanggulangi.
<!--[if !supportLists]-->2.) <!--[endif]-->Gunakan teknik aseptik dan antiseptik dalam
melakukan setiap tindakan keperawatan
Rasional : Tehnik aseptik dan antiseptik untuk mencegah pertumbuhan atau
membunuh kuman sehingga infeksi tidak terjadi.
<!--[if !supportLists]-->3.) <!--[endif]-->Ganti balutan 2 kali sehari dengan alat yang steril.
Rasional : Mengganti balutan untuk menjaga agar luka tetap bersih dan dengan
menggunakan peralatan yang steril agar luka tidak terkontaminasi oleh
kuman dari luar.
<!--[if !supportLists]-->4.) <!--[endif]-->Monitor LED
Rasional : Memonitor LED untuk mengetahui adanya leukositosis yang merupakan
tanda-tanda infeksi.
<!--[if !supportLists]-->5.) <!--[endif]-->Monitor tanda-tanda vital
Rasional : Peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi dan penurunan tekanan
darah merupakan salah satu terjadinya infeksi
Sumber:
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Asep Setiawan, SKp, et all, Asuhan Keperawatan Klien
Gangguan Sistem Muskuloskeletal.

<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Schwartz Stures dan Spencer, Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu


Bedah,