Anda di halaman 1dari 10

BAB 5

RELEVANSI NILAI INFORMASI AKUNTANSI

Pendekatan relevansi nilai memandang bahwa investor ingin membuat prediksinya


sendiri atas pengembalian sekuritas masa depan dan mampu menelan semua informasi
yang berguna. Relevansi nilai juga menyiratkan bahwa penelitian empiris dapat membantu
akuntan untuk meningkatkan lebih jauh kegunaan dengan membiarkan pasar merespon dan
membimbing mereka kepada informasi mana yang berguna dan tidak bagi investor. Informasi
mempengaruhi orang-orang secara berbeda.
Akuntan tetap berjuang untuk memperbaiki posisi kompetitif mereka di pasar
informasi dengan menyediakan informasi yang lebih berguna. Dan memang benar bahwa
pasar sekuritas akan bekerja lebih baik untuk alokasi modal yang langka jika harga sekuritas
menyediakan indikator baik atas kesempatan investasi dan kinerja masa depan perusahaan.
Namun apa yang akuntan tidak dapat lakukan adalah klaim atas kebijakan akuntansi yang
terbaik, dimana hal ini justru menghasilkan respon pasar terbesar.
Outline Of The Research Problem
Reasons For Market Response
Pertimbangkan prediksi berikut mengenai perilaku investor dalam merespon
informasi laporan keuangan:
1. Investor mempunyai keyakinan sebelumnya mengenai kinerja perusahaan di masa
yang akan datang (yaitu deviden, arus kas, dan/atau laba) yang mempengaruhi
pengembalian yang diharapkan dan resiko dari sekuritas perusahaan. Keyakinan ini
didasarkan pada semua informasi yang tersedia.
2. Atas perilisan laba bersih periode saat ini, beberapa investor akan segera memutuskan
untuk mendapatkan informasi lebih banyak dengan menganalisis jumlah laba.
3. Investor yang telah merevsi keyakinan mereka mengenai kinerja masa depan
perusahaan yang naik akan cenderung membeli saham perusahaan pada harga pasar
saat ini, dan sebaliknya terjadi apabila investor merevisi keyakinan mereka bahwa
kinerja perusahaan menurun. Evaluasi investor atas resiko saham-saham tersebut bisa
juga direvisi.
4. Kami mengaharapkan untuk mengobservasi volume saham yang diperdagangkan
meningkat ketika perusahaan melaporkan laba bersihnya. Jika, investor yang
menginterpretasikan laporan laba bersih sebagai berita baik lebih banyak dari investor

yang menginterpretasikan informasi tersebut sebagai berita buruk, maka kita berharap
akan mengamati peningkatan harga pasar dari saham perusahaan dan sebaliknya.
Beaver (1968), menemukan peningkatan dramatis pada volume selama minggu
perilisan pengumuman laba. Reaksi harga pasar menyediakan pengujian yang lebih kuat atas
keputusan yang berguna daripada reaksi volume.
Menemukan Respon Pasar
1. Teori pasar efisien berarti bahwa pasar akan bereaksi secepatnya pada informasi baru.
Akibatnya, penting untuk mengetahui kapan laba bersih dilaporkan pada tahun
tersebut yang pertama kali diketahui secara publik. Jika peneliti mencari pengaruh
volume dan harga walaupun terlambat beberapa hari saja, tidak ada pengaruh yang
dapat diobservasi walaupun pasar telah bereaksi. Peneliti telah menyelesaikan
masalah ini dengan menggunakan tanggal laporan laba bersih perusahaan yang
dilaporkan di media keuangan. Jika pasar efisien bereaksi, seharusnya terjadi dalam
narrow window di sekitar tanggal pengumuman
2. Berita baik atau buruk pada laporan laba bersih selalu dievaluasi relatif pada apa yang
investor harapkan. Jika sebuah perusahaan melaporkan leba bersih sebesar yang
investor harapkan, tidak akan ada banyak konten informasi pada laporan laba bersih.
Hal yang berbeda, jika informasi laba yang diharapkan investor lebih kecil ketimbang
laba yang dilaporkan, berita baik ini akan segera memicu revisi mengenai kinerja
masa depan perusahaan. Maka dari itu, peneliti harus memperoleh sebuah proxy
untuk apa yang diharapkan investor atas laba bersih. Proxy ini biasanya berdasarkan
pada laba bersih sebelumnya atau peramalan laba dari analis
3. Terdapat banyak peristiwa yang terjadi yang mempengaruhi volume dan harga saham
perusahaan. Hal ini berarti, respon pasar atas laba yang dilaporkan bisa jadi sulit
untuk ditentukan.
Faktor Pemisah Pasar-Luas dan Perusahaan-Spesifik
Persamaan model pasar adalah:
Rjt= j + jRMt + jt
Keterangan :
Rjt

Return pada sekuritas untuk periode t

RMt

Return pada portofolio pasar untuk periode t

jt

Selisih aktual dengan ekspektasi

Intercept

Slope

Membandingkan Pengembalian dan Pendapatan


Hasil abnormal positif menunjukkan bukti bahwa investor rata-rata bereaksi secara
baik terhadap berita bagus yang tidak terduga pada pendapatan. Untuk hasil abnormal negatif
investor bereaksi kurang baik terhadap berita buruk yang tidak diharapkan.
Jika pengembalian positif atau negatif meliputi laba yang baik atau buruk dan estimasi telah
Beberapa komplikasi muncul dalam membandingkan hasil dengan pendapatan,
antara lain:
1. Informasi spesifik perusahaan seringkali muncul disekitar waktu pengumuman laba
perusahaan.
2. Estimasi beta perusahaan, yang diperlukan untuk memisahkan hasil luas perusahaan
dan pengembalian khusus perusahaan. Jika estimasi beta berbeda dengan beta yang
sesungguhnya, hal ini akan mempengaruhi kalkulasi hasil abnormal, yang
kemungkinan akan membiasakan hasil penelitian.
Terdapat berbagai ancaman cara untuk menangani masalah komplikasi ini.
1. Sebagai contoh, tidak mustahil untuk mendapatkan opini kedua dalam beta dengan
cara mengestimasinya dari informasi laporan keuangan daripada dari data pasar.
Sebagai alternatif, beta dapat diestimasikan dari satu periode setelah pengumuman
pendapatan dan dibandingkan dengan estimasi dari suatu periode sebelum
pengumuman.
2. Dan juga terdapat cara memisahkan luas pasar dan pengembalian spesifik perusahaan
yang mengabaikan beta.
The Ball and Brown Study
Metodologi dan Temuan
Pada tahun 1968, Ball dan Brown (BB) memulai kebiasaan untuk meneliti pasar
modal secara empiris yang berlanjut hingga sekarang. Mereka adalah yang pertama yang
menyediakan bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa pengembalian saham perusahaan
merespon pada konten informasi dari laporan keuangan, yakni laporan keuangan mempunyai

relevansi nilai. Tinjauan penelitian BB cukup berguna karena merupakan penelitian dasar,
dan adaptasi serta perluasan terhadap penelitian tetap digunakan. BB menguji sampel 261
perusahaan NYSE lebih dari sembilan tahun dari 1957 sampai 1965. Mereka berkonsentrasi
pada konten komponen informasi laporan keuangan seperti kemampuan melunasi hutang dan
strultur modal.
Tugas pertama BB adalah mengukur konten informasi laba yaitu, apakah laba yang
dilaporkan lebih besar daripada apa yang pasar harapkan (GN) atau kurang dari yang
diharapkan (BN). Proxy yang mereka gunakan tahun lalu adalah laba sebenarnya. Tugas
selanjutnya adalah mengevaluasi pengembalian pasar pada saham dari perusahaan sampel
dekat dengan saat laba diumumkan. Hal ini dilakukan berdasarkan abnormal return yang
dihasilkan.
Aspek penting dan menarik dari penelitian BB adalah mereka mengulang perhitungan
pengembalian pasar sekuritas abnormal untuk sebuah wide window konsisten setiap 11 bulan
sebelum dan enam bulan setelah pengumuman laba. BB menghitung rata-rata abnormal
return setiap bulan dari 18 bulan.
Causation Vs Assosiation
Jika seorang investor dapat membeli saham dari seluruh perusahaan GN setahun
sebelum berita baik diumumkan dan menyimpan mereka sampai akhir bulan perilisan,
tedapat pengembalian ekstra lebih dari 5% lebih dan diatas pengembalian pengembalian
market-wide. Demikian pula, kerugian abnormal lebih dari 9% akan terjadi pada potofolio
perusaahaan BN bagi investor yang membeli satu tahun sebelum kabar buruk duumumkan.
Hal ini membawa pada sebuah perbedaan penting antara penelitian window yang
sempit dan luas. Jika pasar sekuritas bereaksi pada informasi akuntansi yang diamati selama
narrow window pada beberapa hari disekitar pengumuman laba, bisa dikatakan bahwa
informasi akuntansi merupakan penyebab reaksi pasar. Dengan demikian, hubungan narrow
window antara pengembalian sekuritas dan informasi akuntansi menyatakan bahwa
pengungkapan akuntansi merupakan sumber informasi baru bagi investor.
Sebaliknya apabila reaksi pasar terhadap informasi laporan keuangan diamati dalam
wider window, dapat dikatakan bahwa informasi akuntansi berhubungan secara positif
terhadap retin pasar. Alasannya adalah dalam wider window, dimungkinkan sudah banyak
informasi lain yang masuk ke pasar selain informasi tentang laba. Karena itu, studi tetntang
wider window dikategorikan sebagai association.

Outcomes of the BB Study


Salah satu hasil terpenting dari penelitian BB adalah penelitian ini membuka sejumlah
besar isu tambahan mengenai kegunaan. Tahap logis selanjutnya adalah menanyakan apakah
besarnya respon pasar sekuritas terkait pada besarnya respon pasar sekuritas (mengingat
bahwa analisis BB berdasarkan hanya pada tanda dari laba yang tak terduga). Yakni konten
informasi laba pada penelitian BB diklasfikasikan hanya dalam GN atau BN ukuran yang
cukup kasar.
Beaver, Clarke, dan Wright pada tahun 1979 dalam penelitiannya menemukan bahwa
semakin besar perubahan dalam pendapatan yang tidak terduga maka akan semakin besar
pula respon pasar sahamnya. Hasil ini sejalan dengan CAPM dan dengan pendekatan manfaat
keputusan, karena semakin besar perubahan laba yang tidak terduga maka akan semakin
besar pula kemungkinan investor untuk merevisi estimasi mereka pada earning power
perusahaan dan berdampak kepada hasil dari investasinya, hal lain sama.

Earning Response Coefficient


Mengingat bahwa pengembalian abnormal sekuritas pasar diidentifikasi oleh BB
merupakan rata-rata, yakni mereka menunjukkan bahwa pada rata-rata perusahaan

GN

menikmati pengembalian abnormal positif, dan perusahaan BN menunjukkan negatif. Tentu


saja, rata-rata dapat menyembunyikan variasi yang luas mengenai rata-rata. Demikian, hal
ini kemungkinan bahwa beberapa perusahaan dengan pengembalian abnormal akan berada
diatas rata-rata dan lainnya akan berada di bawah rata-rata.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa pasar bisa merespon lebih kuat kepada
berita baik ataupun berita buruk atas laba untuk beberapa perusahaan dari pada perusahaan
lain. Jika jawaban pertanyaan ini ditemukan, akuntan dapat memperbaiki pemhaman mereka
atas bagaimana informasi akuntansi bermanfaat bagi investor. Pada gilirannya, dapat
membawa pada persiapan laporan keuangan yang lebih bermanfaat.
Sebagai konsekuensinya, salah satu hal yang paling penting dari penelitian BB adalah
identifikasi dan penjelasan dari respon pasar yang berbeda atas informasi laba. Hal ini disebut
penelitian koefisisen respon laba (ERC).
Koefisien respon laba mengukur sejauh mana pengembalian abnormal sekuritas pasar
dalam merespon ke komponen tak terduga atas pelaporan laba yang perusahaan keluarkan
atas sekuritas.

Reasons for Differential Market Response


Beberapa alasan yang disarankan atas respon pasar berbeda pada laporan laba.
1. Beta
Jika sekuritas memiliki beta tinggi, maka akan meningkatkan resiko portofilionya.
Konsekuensinya, tidak akan membayar sebanyak jika sekuritas memiliki beta rendah.
Sebagai akibatnya, beta tinggi dapat

bertindak sebagai rem bagi permintaan terhadap

sekuritas GN. Ketika semua investor berpengalaman yang menolak resiko dan akan
memikirkan hal ini, maka permintaan atas saham perusahaan, seperti yang diterbitkan GN,
akan lebih rendah dimana nilai betanya semakin tinggi. Memang, permintaan yang lebih
rendah mengimplikasikan kenaikan yang lebih rendah dalam harga pasar dan penerimaan
dalam merespon GN, oleh karena itu ERC lebih rendah. Bukti empiris tentang ERC yang
lebih rendah untuk sekuritas dengan beta yang lebih tinggi sudah ditemukan oleh Collins dan
Kothari (1989) dan oleh Easton dan Zmijewski (1989).

2. Capital Structure
Untuk perusahaan yang menggunakan leverage tinggi, suatu kenaikan (misalnya)
dalam laba (sebelum bunga) akan menambah kekuatan dan keamanan bagi obligasi dan
kewajiban yang belum terselesaikan lainnya, sehingga kebanyakan berita bagus mengenai hal
ini lebih banyak mengarah kepada pemegang hutang dan bukannya pemegang saham.
Dengan demikian ERC akan lebih rendah untuk perusahaan dengan leverage tinggi daripada
perusahaan dengan sedikit hutang atau tidak ada hutang sama sekali, yang lain dianggap
sama. Bukti empiris dari ERC yang lebih rendah untuk perusahaan dengan leverage tinggi
sudah dilaporkan oleh penelitian Dhaliwal, Lee, dan Fargher (1991).
3. Earnings Quality
Secara intuitif, kita berharap bahwa semakin tinggi ERC dalam pendapatan dengan
kualitas yang semakin tinggi. Sebagai satu masalah praktis, pengukuran kualitas pendapatan
kurang begitu jelas, ketika kemungkinan sistem

informasi

tidak secara langsung bisa

diamati. Beberapa pendekatan dapat digunakan, aantara lain:

Pendekatan yang terdapat pada Pasal 3.3.2, adalah untuk menduga kualitas
pendapatan dengan subtansi revisi ramalan pendapatan setelah pengumuman
pendapatan.

Pendekatan yang dilakukan Bandyopadhyay (1994), yang meneliti ERC atas


perusahaan dengan usaha berhasil atau successful effort (SE) dengan bandingkan
perusahaan full cost (FC) yang bergerak di bidang minyak dan gas. Hasilnya adalah:
a. Selama tahun 1982-1985, ERC secara signifikan lebih besar untuk perusahaan
SE

selama

dua

hari

penerbitan

pengumuman

pendapatan

triwulan

dibandingkan dengan perusahaan FC.


b. Selama tahun 1986-1990, ERC tidak mengalami perbedaan dan perubahan
yang signifikan.

Pendekatan yang dilakukan oleh Lev dan Tiagrajan 91993) (L&T). Pertama, Mereka
mengidentifikasikan 12 dasar yang digunakan oleh para analis didalam
mengevaluasi kualitas pendapatan. Hasilnya adalah:
a. Kelompok dengan higher-quality-earnings cenderung memiliki ERC yang
lebih tinggi.
b. Persistence pendapatan dan kualitas pendapatan berkorelasi positif.
Kedua, mereka menguji hubungan antara kualitas laba dengan persistence perusahaan

sampel dan menemukan bahwa perusahaan dengan persistence yang tinggi dan kualitas laba
yang tinggi memiliki ERC yang rata-rata lebih besar daripada perusahaan dengan persistence
tinggi dan kualitas laba yang rendah.
4. Growth Opportunity
GN dan BN dalam penerimaan saat ini dapat mengungkapkan prospek pertumbuhan
masa mendatang bagi perusahaan, dan oleh karena itu juga mengarah pada ERC yang lebih
tinggi. Kita bisa berfikir bahwa laporan keuangan berdasar biaya historis, laporan laba bersih
tidak bisa mengungkapkan secara jelas tentang pertumbuhan perusahaan ke depan.
Diasumsikan bahwa pendapatan bersih sekarang menampakkan profitabilitas tinggi yang
tidak terduga bagi beberapa proyek investasi baru perusahaan. Hal ini bisa mengidikasikan
kepada pasar bahwa perusahaan akan menikmati pertumbuhan yang kuat di waktu
mendatang. Salah satu alasannya adalah bahwa agar profitabilitas yang tinggi tetap
berlangsung, profit di masa mendatang akan meningkatkan aset perusahaan. Selain itu,
keberhasilan didalam proyek saat ini dapat mendorong kepada pasar dimana perusahaan ini
juga mampu mengidentifikasi dan mengimplementasikan proyek tambahan yang berhasil di
waktu kedepan, sehingga dapatr dinamakan sebagai perusahaan yang tengah tumbuh.
Perusahaan tersebut dapat dengan mudah menarik modal dan hal ini merupakan sumber

tambahan bagi pertumbuhan, dengan demikian, untuk satu tingkat berita bagus saat ini dalam
pendapatan mengemukakan kesempatan tumbuh, maka ERC akan memiliki nilai tinggi.
5. The Similarity Of Investor Expectation
Investor yang berbeda akan mempunyai ekspektasi yang berbeda juga atas laba
perusahaan periode selanjutnya, bergantung pada informasi sebelumnya dan sejauh mana
kemampuan mereka untuk mengevaluasi informasi laporan keuangan. namun, perbedaan ini
akan terkurangi apabila mereka menarik kesimpulan pada sumber informasi umum, seperti
peramalan analis, ketika membentuk ekspektasi mereka. Dengan demikian, semakin mirip
ekspektasi laba semakin besar penagruh setiap dollar laba abnormal pada harga saham.
Pengaruhnya, semakin tepat peramalan analis, semakin serupa ekspektasi laba oleh investor
dan semakin besar ERC, jika hal lain sama.
6. The Informativeness of Price
Harga pasar itu sendiri secara parsial merupakan informasi tentang nilai perusahaan
di waktu mendatang. Alasannya adalah bahwa agregat harga pasar semuanya secara publik
mengetahui informasi tentang perusahaan, bukan sekedar informasi akuntansinya saja
Sebagai akibatnya, harga yang semakin informatif akan mengakibatkan semakin kecilnya
kandungan informasi atas laba akuntansi nantinya, dimana yang lainnya dianggap tetap,
sehingga ERC juga menurun.
Indikator untuk daya informasi dari suatu harga adalah ukuran perusahaan, karena
semakin besar perusahaan maka akan semakin banyak berita. Namun demikian, Easton dan
Zmijewski (1989) menemukan bahwa ukuran perusahaan bukanlah variabel penjelas yang
signifikan bagi ERC, alasannya adalah bahwa indikator ukuran perusahaan untuk
karakteristik perusahaan lain, seperti resiko dan pertumbuhan, seperti halnya indikator untuk
tingkat informasi harga saham. Ketika faktor-faktor ini dikontrol, maka beberapa pengaruh
ukuran signifikan terhadap ERC nampaknya akan menghilang. Collins dan Kothari (1989)
menyoroti ukuran dengan mengubah wide window dimana hasil sekuritas diukur lebih awal
untuk perusahaan besar. Hal ini secara substansial memperbaiki hubungan antara perubahan
didalam pendapatan dengan return sekuritas, argumen menunjukkan bahwa pasar
mengantisipasi perubahan dalam earning power lebih cepat untuk perusahaan besar. Ketika
hal ini dilakukan, ukuran kemudian tidak memiliki kekuatan penjelas bagi ERC.
Implication Of ERC Research

Mengapa akuntan harus berkepentigan pada respon pasar untuk laporna keuangan?
alasannya adalah bahwa perbaikan pemahaman respon pasar mengusulkan cara yang mereka
dapat perbaiki lebih jauh atas manfaat keputusan atas laporan keuangan.
Temuan bahwa ERC lebih rendah untuk perusahaan dengan leverage yang tinggi mendukung
argumen untuk memperluas pengungkapan atas sifat dan besarnya instrumen keuangan
termasuk yang off balance sheet.
Kemudian pengungkapan komponen dari laba bersih bermanfaat bagi investor.
Banyak detail pada laporan laba rugi, pada neraca, dan informasi tambahan membantu
investor menginterpretasikan kekutatan jumlah laba saat ini.
Measuring Investors Earning Expectation
Seperti yang telah disebutkan, peneliti harus menemukan proxy untuk laba yang
diharapkan, pasa efisien akan bereaksi hanya pada bagian pengumuman laba yang tak
terduga. Jika proxy masuk akal tidak dapat diperoleh maka peneliti akan gagal
mengidentifikasi reaksi pasar ketika ada, atau tidak benar dalam menyimpulkan reaksi pasar.
Dengan demikian memperoleh estimasi harapan laba merupakan komponen krusial pada
penelitian relevansi nilai.
Summary
Relevansi nilai atas laba bersih dapat diukur dengan sejauh mana perubahan harga
sekuritas atau, lebih khusus, dengan besarnya pengembalian abnormal sekuritas pasar
disekitar waktu pasar mempelajari laba bersih saat ini. Hal ini karena rasional, investor
terinformasi akan merevisi harapan mereka mengenai kinerja masa depan perusahaan dan
pengembalian saham pada dasar informasi laba saat ini. Keyakinan yang direvisi memicu
keputusan menjual/membeli. Jika tidak terdapat informasi, tidak akan ada keputusan
menjual/membeli dan demikian tidak ada perubahan harga saham.
Untuk jumlah atas laba bersih yang tak terduga, teori memprediksi bahwa sejauh
mana harga sekuritas berubah atas pengembalian abnormal bergantung pada faktor-faktor
seperti ukuran perusahaan, struktur modal, resiko, prospek pertumbuhan, kegigihan,
kesamaan ekspektasi investor, dan kualitas laba.
Setelah studi yang dirintis Ball dan Brown, penelitian empiris telas didemontasikan
pada respon pasar yang berbeda bergantung pada sebagian besar faktor-faktor ini. Pertama
mereka telah mengatasi masalah substansi statistik dan rancangan eksperimental. Kedua,
mereka menunjukkan bahwa pasar, pada rata-rata, sangat canggih dalam kamampuannya
untuk mengevaluasi informasi akuntansi. Hal ini mendukung teori efisiensi pasar sekuritas

dan teori keputusan yang mendasarinya. Akhirnya mereka mendukung pendekatan kegunaan
keputusan untuk infromasi keuanga. Sebagai akuntan, memperoleh pemahaman lebih baik
atas respon investor terhadap informasi laporan keuangan, kemampuan mereka untuk
menyediakan informasi bermanfaat kepada investor akan jauh meningkat.
A Caveat About The Best Accounting Policy
Pada poin ini, kita telah berpendapat bahwa akuntan dapat dipandu oelj reaksi pasar
sekuritas dalam menentukan kegunaan dari informasi laporan keuangan. Dari sini,
disimpulkan bahwa kebijakan akuntansi terbaik adalah sesuatu yang memproduksi respon
harga pasar terbesar. Namun kita harus sangat berhati-hati mengenai kesimpulan ini.
Alasannya, bahwa informasi mempunyai karakteristik sebagai barang publik. Barang
publik adalah barang yang dikonsumsi oleh satu oran dan tidak akan rusak untuk digunakan
orang lain. Konsumsi dari barang pribadi, mengeliminasi manfaatnya untuk konsumen lain.
Namun, seorang investor dapat menggunakan informasi laporan tahunan tanpa mengurangi
manfaatnya dari investor yang lain. Sebagai konsekuensinya, pemasok dari barang publik
mungkin mempunyai masalah membebankan produk ini, sebagai contoh, jika sebuah
perusahaan mencoba untuk membiayai investor atas laporan tahunan, hal ini mungkin tidak
akan menarik banyak pelanggan, karena satu laporan tahunan, sekali diproduksi, bisa diunduh
oleh banyak pengguna.
Tentu saja, laporan tahunana tidaklah gratis. Produksi laporan tahunan mahal. Biaya
termasuk kemungkinan pengungkapan atas informasi yang berharga kepada kompetitor dan
kemungkinan keputusan operasi manajer akan dipengaruhi oleh jumlah informasi mengenai
keputusan-keputusan tersebut yang harus di rilis. Sebagai contoh manajer akan mengurangi
ekspansi jika terlalu banyak informasi mengenai mereka yang harus diungkapkan. Investor
pada akhirnya mambayar biaya tersebut melalui harga produk yang lebih tinggi dan atau
harga saham yang lebih rendah. Investor mungkin memikul biaya untuk menginformasikan
dirinya sendiri, baik itu secara langsung dengan membayar untuk menerima informasi
sesegera mungkin, atau dengan secara tidak langsung dengan membayar analis atas jasa
informasi lainnya. Investor melihat informasi akuntansi bermanfaat walaupun dari sudut
masyarakat biaya informasi ini lebih bermanfaat kepada investor.