Anda di halaman 1dari 7

Organisasi Kurikulum

Salah satu aspek yang perlu dipahami dalam pengembangan kurikulum


adalah aspek yang berkaitan dengan organisasi kurikulum. Organisasi kurikulm
berkaitan dengan peraturan bahan pelajaran, yang selanjutnya memiliki dampak
terhadap masalah administrasi pelaksanaan proses pembelajaran, team teaching
misalnya (Olivia, 1992:285). Organisasi kurikulum merupakan pola atau desain
bahan/isi kurikulum yang bertujuan untuk mempermudah siswa dalam
mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa melakukan kegiatan
belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.
Ada beberapa prinsip yang harus dipertimbangkan dalam organisasi
kurikulum, diantaranya berkaitan dengan ruang lingkup (scope), urutan bahan
(sequence), kontinuitas, kesimbangan, dan keterpaduan (integrated). Setiap pola
kurikulum memiliki ruang lingkup materi pelajaran yang berbeda. Selain cakupan
materi, hal lain yang penting diperhatikan sekaitan dengan organisasi kurikulum
yaitu bagaimana urutan (sequence) materi tersebut harus disajikan dalam
kurikulum.
Kontinuitas kurikulum dalam kurikulum perlu diperhatikan, terutama
berkaitan dengan substansi bahan yang dipelajari siswa jangan sampai terjadi
pengulangan baik yang tidak perlu atau loncatan-loncatan materi yang tidak jelas
kaitannya dan gradasi tingkat kesukaanya. Pendekatan spiral merupakan salah
satu upaya dalam menerapkan faktor ini. Artinya, materi yang dipelajarisiswa
semakin lama semakin mendalam, yang dikembangkan berdasarkan keluasan
secara vertikal maupun horizontal.
Selanjutnya,

keseimbangan

bahan

pelajaran.

Keseimbangan

perlu

dipertimbangkan dalam organisasi kurikulum. Ada dua aspek yang harus selalu
diperhatikan sekaitan dengan prinsip keseimbangan dalam organisasi kurikulum :
1) Keseimbangan substansi bahan atau isi kurikulum, 2) keseimbangan yang
berkaitan dengan cara atau proses belajar. Keseimbangan substansi isi kurikulum
harus dilihat secara komprehensif untuk kepentingan siswa dengan individu,
tuntutan masyarakat maupun kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Aspek estetika, intelektual, moral, social-emosional, personal, religious,

seni-apresiasi, dan kinestik, semuanya harus terakomodasi dalam isi kurikulum.


Juga alokasi waktu yang dibutuhkan dalam kurikulum harus menjadi bahan
pertimbangan dalam organisasi kurikulum.
Sekaitan dengan pola organisasi kurikulum, terdapat sejumlah pendapat
dan

variasi

pengategorian

sistem

organisasi

kurikulum.Diambilnya

pengkategorian ini berdasarkan pertimbangan bahwa pertama, masih banyak dan


relevannya bidang studi atau pelajaran sebagai pusat perhatian isi kurikulum.
Kedua, adanya kebutuhan alternatif isi kurikulumvnondisiplin, berdasarkan pada
suatu fokus kebutuhan tertentu. Organisasi kurikulum pola terintegrasi merujuk
pada pertimbangan nondisiplin ilmu. Pada praktiknya isis dari suatu disiplin ilmu
menjadi bagian yang dipelajari.
a. Organisasi Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran (Subject Curriculum)
Organisasi kurikulum berdasarkan mata pelajarandibedakan atas empat
pola, yaitu Separated Subject Curriculum, Correlated Curriculum, Broadfields
Curriculum, dan Integreted Curriculum.
1) Mata Pelajaran Terpisah (Separated Subject Curriculum)
Bentuk kurikulum ini sudah lama digunakan, karna organisasi kurikulum
bentuk ini sederhana dan mudah dilaksanakan.Mata pelajaran yang terpisah-pisah
(separated subject curriculum) bertujuan agar generasi muda mengenal hasil-hasil
kebudayaan dan pengetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan secara
berabad-abad, agar mereka tak perlu mencari dan menemukan kembali dengan
apa yang telah diperoleh dari generasi terdahulu (Nasution, 1986 dalam buku
Kurikulum dan Pengembangan).
Secara fungsional bentuk kurikulum ini mempunyai kekurangan dan
kelebihan, kekurangan pola mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject
curriculum), yaitu:
a) Bahan pelajaran diberikan atau dipelajari secara terpisah-pisah, tidak
menggambarkan adanya hubungan antara materi satu dengan materi yang
lainnya.

b) Bahan pelajaran yang yang diberikan atau dipelajari siswa tidak bersifat
actual.
c) Proses belajar lebih mengutamakan aktivitas guru sedangkan siswa
cenderung pasif.
d) Bahan pelajaran tidak berdasarkan pada aspek permasalahan social yang
dihadapi siswa maupun kebutuhan masyarakat.
e) Bahan pelajaran merupakan informasi maupun pengetahuan dari masa lalu
yang terlepas dengan kejadian masa sekarang dan yang akan dating.
f) Proses dan bahan pelajaran sangat kurang memerhatikan bakat, minat, dan
kebutuhan siswa.
Sedangkan kelebihan pola mata pelajaran terpisah-pisah (separated subject
curriculum) adalah:
a) Bahan pelajaran disusun secara sistematis, logis, sederhana, dan mudah
dipelajari.
b) Dapat dilaksanakan untuk mewariskan nilai-nilai dan budaya terdahulu.
c) Kurikulum ini mudah diubah dan dikembangkan.
d) Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk, didesain bahkan mudah
untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu
yang ada.
2) Mata Pelajaran Terhubung (Correlated Curriculum)
Pola korelasi, yaitu pola organisasi isi kurikulum yang menghubungkan
pembahasan suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, atau satu pokok
bahsan dengan pokok bahasan lainnya. Materi kurikulum yang terlepas-lepas
diupayakan dihubungkan dengan materi kurikulum atau mata pelajaran yang
sejenis atau relevan dengan tujuan pembelajaran, sehingga dapat memperkaya
wawasan siswa.
Ada beberapa kelebihan dan kekurangan pola kurikulum jenis ini.
Kekurangan:
a) Bahan pelajaran yang diberikan kurang sistematis serta kurang begitu
mendalam.
b) Kurikulum ini kurang menggunakan bahan pelajaran yang actual yang
langsung berhubungan dengan kehidupan nyata siswa.
c) Kurikulum ini kurang memperhatikan bakat, minat dan kebutuhan siswa.
d) Apabila prinsip penggabungan belum dipahami kemungkinan bahan
pelajaran yang disampaikan terlampau abstrak

Sedangkan kelebihan pola mata pelajaran terhubung (correlated curriculum)


adalah:
a) Adanya keterhubungan antarmateri pelajaran walau sebatas beberapa mata
pelajaran.
b) Memberi wawasan yang lebih luas dalam lingkup atau bidang studi.
c) Menambah minat siswa untuk mempelajari mata pelajaran yang
terkolerasi.
3) Fusi Mata Pelajaran (Broadfields Curriculum)
Fusi mata pelajaran atau dikenal juga dengan istilah broadfields curriculum
adalah jenis kurikulum yang menghapuskan batas-batas mata pelajaran dan
menyatukan mata pelajaran yang memiliki hubungan erat dalam satu kesatuan.
Tipe organisasi ini pertama kali dikemukakan oleh Phenik, tujuannya adalah agar
para pendidik mengerti jenis-jenis arti perkembangan kebudayaan yang efektif,
manfaat yang didapat dari berbagai ragam disiplin ilmu, dan upaya mendidik anak
agar menghasilkan anak yang civilized (Idi, 1999:29)
Beberapa disiplin ilmu sejenis disatukan dalam satu mata pelajaran tertentu.
Nama paying mata pelajaran ini bisa beragam, namun dalam sistem pendidikan
formal atau persekolahan kita mengenal nama mata pelajaran:
a) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil peleburan dari Ilmu
Fisika, Ilmu Hayati, Ilmu Kimia, dan Ilmu Kesehatan.
b) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) hasil peleburan Ilmu Bumi, Sejarah,
Civic, Hukum, Ekonimi, Geografi, dan sejenisnya.
c) Bahasa, hasil peleburan pelajaran Membaca, Menulis, Mengarang,
Menyimak dan Pengetahuan Bahasa.
d) Matematika, peleburan dari Berhitung, Aljabar, Ilmu Ukur Sudut,
Bidang, Ruang dan Statistik.
e) Kesenian, hasil peleburan dari Seni Tari, Seni Suara, Sni Klasik, Seni
Pahat dan Drama.

Model organisasi ini memiliki keunggulan diantaranya adalah mata pelajaran


akan semakin dirasakan kegunaannya, sehingga memungkinkan pengadaan mata
pelajaran yang kaya akan pengertian dan mementingkan prinsip dasar
generalisasi. Adapun kelemahannya adalah hanya memberikan pengetahuan

secara sketsa, abstrak, kurang logis dari suatu mata pelajaran (Soetopo dan
Soemanto dalam Idi 1999:29-30).
4) Kurikulum Terpadu (Integreted Curriculum)
Kurikulum ini memandang bahwa dalam suatu poko bahasan harus
terpadu (integrated) secara menyeluruh. Keterpaduan ini dapat dicapai melalui
pemusatan pelajaran pada suatu masalah tertentu dengan alternatif pemecahan
melalui berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran yang diperlukan, sehingga
batas-batas antas mata pelajaran dapat ditiadakan. Kurikulum ini memberikan
kesempatan pada siswa untuk belajar secara kelompok maupun secara individu,
lebih memberdayakan masyarakat sebagai sumber belajar, memungkinkan
pembelajaran bersifat individu terpenuhi, serta dapat melibatkan siswa dalam
pengembangan program pembelajaran. Bahan pelajaran dalan kurikulum ini akan
bermanfaat secara fungsional serta dalam pembelajaran akan dapat meningkatkan
kemampuan siswa baik secara proses maupun produk.
Bahan pelajaran yang dipelajari siswa dirumuskan dalam pokok bahasan
berupa topic atau pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk menyelesaikan
permasalahan yang diajukan. Proses pembelajaran lebih fleksibel, disesuaikan
dengan kemampuan dan potensi siswa, sehingga tidak mengharapkan hasil yang
sama dari semua siswa.
Kekurangan organisasi kurikulum ini adalah:
a) Kurikulum dibuat oleh guru dan siswa sehingga memerlukan kesiapan dan
kempuan guru secara khusus dalam pengembangan kurikulum seperti ini.
b) Bahan pelajaran tidak disusun secara logis dan sistematis.
c) Bahan pelajaran tidak bersifat sederhana.
d) Dapat memungkinkan kemampuan yang dicapai siswa akan berbeda secara
mencolok.
e) Kemungkinan akan memerlukan biaya, waktu, dan tenaga yang banyak.
Adapun kelebihan dari kurikulum ini adalah:
a) Mempelajari bahan pelajaran melalui pemecahan masalah dengan cara
memadukan

beberapa

mata

pelajaran

secara

menyeluruh

dalam

menyelesaikan suatu topic atau permasalahan.


b) Memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar sesuai bakat, minat, dan
potensi yang dimiliki secara individu.
c) Memberikan kesempatan pada siswa untuk menyelesaikan permasalahan
secara komprehensif dan dapat mengembangkan belajar secara bekerja sama
(cooperative).

d) Mempraktikkan nilai-nilai demokrasi dalam pembelajaran.


e) Memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara maksimal.
f) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar berdasarkan pada
g)

pengalaman langsung.
Dapat membantu meningkatkan hubungan antara sekolah dengan

masyarakat.
h) Dapat menghilangkan batas-batas yang terdapat dalam pola kurikulum yang
lain.
Beberapa bentuk organisasi kurikulum dalam kategori ini diantaranya:
Kurikulum Inti (Core Curriculum), Social Functions dan Persistent Situations
serta Experience atau Activity Curriculum.
a) Kurikulum Inti (Core Curriculum)
Kurikulum inti merupakan bagian dari kurikulum terpadu (integrated
curriculum). Beberapa karakteristik yang dapat dikaji dalam kurikulum ini adalah:
1) kurikulum ini direncanakan secara berkelanjutan(continue), selalu berkaitan,
dan direncanakan secara terus-menerus; 2) isi kurikulum yang dikembangkan
merupakan rangkaian dari pengalaman yang saling berkaitan; 3) isi kurikulum
selalu mengambil atas dasar masalah maupun problema yang dihadapi secara
actual; 4) isi kurikulum mengambil atau mengangkat substansi yang bersifat
pribadi maupun sosial; 5) isi kurikulum ini difokuskan berlaku untuk semua
siswa, sehingga kurikulum ini sebagai kurikulum umum, tetapi substansinya
bersifat problema, pribadi, sosial, dan pengalaman yang terpadu.
Topik-topik yang dapat diangkat dalam kurikulum ini selalu berkaitan
dengan beberapa disiplin ilmu dan lingkungan, misalnya topik-topik sebagai
berikut:
(1) Penanggulangan penyebaran virus flu burung (Avian Influenza/AI).
(2) Hakikat demokrasi dalam berbangsa dan bernegara.
(3) Penanggulangan limbah bagi kehidupan manusia.
(4) Pentingnya pelestarian sumber daya alam bagi kehidupan manusia.
(5) Memahami fungsi atom untuk perdamaian dunia.

(6) Kesiapan untuk berumah tangga.


(7) Hakikat pornografi dan pornoaksi.
(8) Membentuk kemampuan berkomunikasi yang efektif.
(9) Kajian terhadap pola industry dan jasa dalam pertumbuhan ekonomi.
b) Social Functions dan Persistent Situations
Social Functions merupakan bagian dari kurikulum terpadu. Kurikulum ini
didasarkan atas analisis kegiatan-kegiatan dalam masyarakat. Kegiatan-kegiatan
yang dilakukan yang dilakukan manusia sebagai individu dan sebagai anggota
masyarakat diantaranya: 1) memelihara dan menjaga keamanan masyarakat; 2)
perlindungan dan pelestarian hidup, kekayaan dan sumber alam; 3) komunikasi
dan transportasi; 4) kegiatan reaksi; 5) produksi dan distribusi barang dan jasa; 6)
ekspresi rasa keindahan; 7) kegiatan pendidikan; 8) integrasi kepribadian; 9)
konsumsi benda dan jasa.
Sebagai modifikasi dari social functions adalah persistent life situations,
kajian substansi dalam kurikulum bentuk ini lebih mendalam dan terarah. Dalam
persisten life situations, karakteristiknya adalah situasi yang diangkat senantiasa
yang dihadapi manusia dalam hidupnya, masa lalu, saat ini, dan masa yang akan
datang. Secara umum ada tiga kelompok situasi yang akan dihadapi manusia,
yaitu:
(1) Situasi-situasi mengenai perkembangan individu manusia,diantaranya:
(a) Kesehatan. Manusia perlu memenuhi kebutuhan fisiologi, emosional,
sosial sampai pada pencegahan penyakit.
(b) Intelektual. Manusia memerlukan kemampuan mengemukakan
pendapat, memahami pikiran orang lain, berhitung, dan bekerja yang
efektif.
(c) Moral. Kebebasan individu, tanggung jawab atas diri dan orang lain.
(d) Keindahan. Mencari sumbernya bias pada diri maupun dalam
lingkungan.