Anda di halaman 1dari 11

Kolokium Jalan dan Jembatan

Evaluasi Kinerja Jangka Panjang Timbunan Oprit Jembatan dengan


Material Beton Ringan
Ahmad Numan, Rakhman Taufik dan Maulana Iqbal
ahmad.numan@pusjatan.pu.go.id, rakhman.taufik@pusjatan.pu.go.id,
maulana.iqbal@pusjatan.pu.go.id

Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan


Perencanaan timbunan oprit di atas tanah lunak tanpa disertai pemahaman
menyeluruh terhadap perilaku tanah dasar sering menyebabkan terlampauinya kondisi
batas ultimit dan kondisi batas layan yang direncanakan.Keruntuhan timbunan dan
terdorongnya abutmen jembatan merupakan contoh gagalnya suatu sistem konstruksi
memenuhi kondisi batas ultimit.Pada kasus timbunan rendah, kegagalan pemenuhan
terhadap kondisi batas layan berupa penurunan diferensial antara abutmen dan timbunan
dapat mengancam keselamatan pengguna jalan.
Penggunaan beton ringan sebagai timbunan oprit merupakan salah satu pilihan
untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.Makalah ini menyajikan evaluasi kinerja
jangka panjang dari suatu uji coba skala penuh beton ringan pada oprit jembatan Kedaton,
Cirebon, Jawa Barat, yang dimonitor sejak tahun 2009. Timbunan beton ringan terdiri dari
dua lapis dengan berat isi 6kN/m3 dan 8 kN/m3 dan kuat tekan bebas sebesar 600 kPa
dan 2000 kPa. Evaluasi terhadap kondisi-kondisi batas dilakukan dengan metode elemen
hingga dengan beberapa model konstitutif tanah.Analisis sensitifitas parameter juga
dibahas dalam makalah ini untuk mengetahui pengaruh berat isi terhadap penurunan
timbunan.Dapat disimpulkan, penggunaan beton ringan meningkatkan stabilitas timbunan
dan penurunan sisa yang dapat diabakan.
Kata kunci: timbunan oprit, tanah lunak, beton ringan
Long-Term Performance Evaluation of Bridge Approach Embankment using
Lightweight Foamed Mortar Material
Design of embankment over soft soil without a thorough understanding on the
behavior of the subsoil may lead to a condition where ultimate limit state (ULS) and
serviceability limit state (SLS) requirements is exceeded. Embankment instability and
horizontal movement of bridge abutment are examples when a construction cannot fulfill
the design ULS. In low embankment cases, failure to comply with SLS criteria will cause
considerable differential settlement between bridge and approach embankment that may
risk road user safety.
A lightweight foamed mortar material for bridge approach embankment is an option
to overcome the problems. This paper presents a long-term performance evaluation of a
fully instrumented full-scale lightweight foamed mortar embankment at Kedaton, Cirebon,
West Java, which has been monitored since 2009. The lightweight embankment consists
of two layers having unit weight of 6 kN/m3 dan 8 kN/m3 with unconfined compressive
strength (UCS) of 600 kPa and 2000 kPa respectively. Evaluation of embankment
performance with respect tothe limit states was carried out with finite element method
using various constitutive soil models. Parameter sensitivity analysis was also performed
to investigate the influence of unit weight and deformation. It was concluded the use of
lightweight foamed mortar increase embankment stability and produce anegligible amount
of settlement.
Key words: approach embankment, lightweight foamed mortar

Ahmad Numan, Rakhman Taufik, Maulana Iqbal

Kolokium Jalan dan Jembatan

1. Latar belakang
Beton ringan merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah penurunan
diferensial dan stabilitas timbunan oprit jembatan di atas tanah lunak.Beton ringan dibuat
dengan mencampurkan bahan cairan pembentuk busa(foam) untuk membentuk mortar
dengan berat isi yang rendah. Berat isi beton ringan dapat bervariasi antara 5-14 kN/m3
dengan kuat tekan bebas antara 300-3000 kPa (Handayani, 2007). Dengan karakteristik
beton ringan tersebut, tegangan vertikal yang diterima tanah lunak akan jauh lebih kecil
dibandingkan dengan timbunan biasa sehingga masalah penurunan diferensial dan
stabilitas akan teratasi.
Untuk mengetahui kinerja beton ringan, pada tahun 2009 dibangun uji coba skala
penuh beton ringan pada oprit jembatan Kedaton, Cirebon, Jawa Barat. Kinerja timbunan
beton ringan tersebut diukur dengan instrumen pengukur penurunan, tekanan air pori dan
deformasi lateral. Makalah ini menyajikan evaluasi kinerja jangka panjang dari timbunan
uji tersebut yang masih dimonitor sampai saat ini.
2. Deskripsi uji coba skala penuh timbunan beton ringan
Uji coba skala penuh beton ringan dibangun pada oprit Jembatan Kedaton arah ke
Indramayu (Gambar 1). Beton ringan terdiri dari dua lapis dengan berat isi 6kN/m3 dan 8
kN/m3 dengan kuat tekan bebas berturut-turut sebesar 600 kPa dan 2000 kPa.Dalam
laporan perencanaan (Febrijanto, 2008) tidak disebutkan latar belakang pengambilan nilai
berat isi dan kuat tekan bebas tesebut.
Setelah timbunan lama digali, beton ringan dicor secara segmental hingga mencapai
ketinggian rencana.Gambar 2 memperlihatkan skema pengecoran yang telah
dilaksankan.Instrumen yang dipasang pada timbunan uji terdiri dari pelat penurunan,
ekstensometer, vibrating wire piezometer dan inklinometer seperti terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Lokasi Uji Coba Skala Penuh Timbunan Beton Ringan

Ahmad Numan, Rakhman Taufik, Maulana Iqbal

Kolokium Jalan dan Jembatan

Gambar 2. Desain Timbunan Beton Ringan


Gambar 3 memperlihatkan hasil pengukuran surface marker arah memanjang. Titik
LS1 diposisikan dibagian jembatan sedangkan LS2 dan seterusnya diposisikan pada
bagian oprit memanjang kearah Indramayu.

Gambar 3. Hasil Pengukuran Surface Marker


3. Tanah dasar
Berdasarkan peta Geologi yang bersumber kepada Badan Geologi dan Basis Data
Balai Geoteknik Jalan, Puslitbang Jalan dan Jembatan bahwa Timbunan uji di oprit
Jembatan Kedatonterletak di atas tanah lunak yang tersusun atas Aluvium endapan
sungai yang umumnya tersusun oleh bahan-bahan berbutir halus (lempung, lanau dan
selingan pasir), dengan tanah keras berada pada kedalaman sekitar 30m.Tanah lunak
tersebut mempunyai kuat geser tak terdrainse antara 20 40 kPa dan indeks
kompresibilitas Cc antara 0.7 1, angka pori e0 antara 1.9 2.2, kadar air 365 176%.
Dari hasil uji indeks, tanah dasar merupakan Fat Clay berwarna abu-abu dan masuk
kedalam klasifikasi CH.

Ahmad Numan, Rakhman Taufik, Maulana Iqbal

Kolokium Jalan dan Jembatan

Gambar 4. Sondir dan Hasil Uji Laboratorium


4. Pemodelan numerik
Karena kompleksitas geometri, maka evaluasi kinerja timbunan uji beton
ringandilakukan dengan pemodelan elemen hingga dengan bantuan piranti lunak Plaxis
versi 9.0 (Brinkgreve R. B. J. &Broere W, 2008).Gambar 5 memperlihatkan geomodel dari
timbunan uji yang memodelkan potongan melintang timbunan ringan.Mesh yang
digunakan dalam analisis mempunyai kerapatan medium dan dengan mesh yang lebih
rapat pada cluster di elevasi galian bagian bawah, Gambar 6.Berhubung historis
penimbunan oprit tidak diketahui, pemodelan dilakukan mulai dari timbunan eksisting,
penggalian dan kemudian pengecoran beton ringan.Oleh karena itu, tegangan vertikal
efektif tanah dasar di-generate dengan metode gravity loading.

9.5m

Lempung sangat lunak


Lempung lunak

25m

Gambar 5. Geomodel Timbunan Beton Ringan

Ahmad Numan, Rakhman Taufik, Maulana Iqbal

Kolokium Jalan dan Jembatan

Gambar 6. Mesh Timbunan Beton Ringan


Model tanah yang digunakan dalam analisis adalah model soft soil dan model
hardening soil.Model Soft Soil merupakan model Cam-Clay yang digunakan untuk
memodelkan perilaku tanah lunak seperti lempung terkonsolidasi normal dan
gambut.Model Hardening Soil merupakan model hiperbolik yang bersifat elastoplastis
yang diformulasikan dalam lingkup plastisitas dari pengerasan akibat friksi (friction
hardening plasticity).Model ini telah mengikutsertakan komperesi hardening untuk
memodelkan pemampatan tanah yang tidak dapat kembali seperti semula (irreversible)
saat menerima pembebanan yang bersifat kompresif.
Parameter kompresibilitas untuk model soft soil dan hardening soil ditentukan
dengan persamaan 1, persamaan 2 dan persamaan 3 (Brinkgreve, R. B. J., 1998) :

2
= 2.3 1
; = 2.31 1
(1)
0

; = (1 )

0
2

;
=

(1+0 )

(2)
(3)

dimana:
Eoed
=Tegangan plastis kompresi primer
Eur
=Tegangan elastic unloading / reloading
Cc
= Koefisien kompresibilitas
Cs
= Koefisien kompresi sekunder
e0
= Angka pori awal
pref
= Tekanan aktual
*
= Indeks kompresi modifikasi (modified compression index)
*
= modified swelling index
Tabel 1 dan
ID

Name
8 KEDATON Soft clay
10 KEDATON Very Soft Clay

Type
UnDrained
UnDrained

g_unsat g_sat
k_x
[kN/m^3] [kN/m^3] [m/day]
15.7
16.7 0.001274
15
16 0.001274

k_y
[m/day]
0.001274
0.001274

lambda* kappa*
[-]
[-]
0.140536 0.02635
0.141747 0.027259

K0nc
c_ref
phi
[-]
[kN/m^2] [ ]
0.577382
10
0.609269
6

25
23

Tabel 2memperlihatkan parameter desain untuk tanah dasar, timbunan awal dan
beton ringan. Beton ringan dimodelkan sebagai material dengan modelMohr-Coulombnonporous. Perlu diketahui bahwa parameter kuat geser timbunan yang dipilih dinaikkan dari
parameter awalnya untuk mencegah terjadinya keruntuhan timbunan saat penggalian
yang akan menyebabkan terhentinyaperhitungan. Parameter dari timbunan dan timbunan
ringan diperlihatkan pada Tabel 3.
Untuk parameter Modulus Elastisitas, Ec, untuk timbunan ringan diestimasi dengan
menggunakan persamaan untuk beton ringan (ligthweigth concrete) dari AASHTO LRFD
Bridge Design and Spesifications, 2010 :

Ahmad Numan, Rakhman Taufik, Maulana Iqbal

Kolokium Jalan dan Jembatan

= 330001 1.5
Dimana:
K1 : faktor koreksi untuk jenis beton. Dapat diambil nilai 1 terkecuali telah ditentukan
secara uji fisik.
wc : berat isi beton (kcf)
fc : kuat tekan agregat (ksi) dalam hal ini dapat dipakai nilai UCS hasil dari uji beton
ringan

Tabel 1. Parameter desain model soft soil


ID

Name
8 KEDATON Soft clay
10 KEDATON Very Soft Clay

Type
UnDrained
UnDrained

g_unsat g_sat
k_x
[kN/m^3] [kN/m^3] [m/day]
15.7
16.7 0.001274
15
16 0.001274

k_y
[m/day]
0.001274
0.001274

lambda* kappa*
[-]
[-]
0.140536 0.02635
0.141747 0.027259

K0nc
c_ref
phi
[-]
[kN/m^2] [ ]
0.577382
10
0.609269
6

25
23

Eoedref Eurref
c_ref
phi
[kN/m^2] [kN/m^2] [kN/m^2] [ ]
578.8275
8316
10
597.5669
8038.8
6

25
23

Tabel 2. Parameter desain model hardening soil


ID

Name
8 KEDATON Soft clay
10 KEDATON Very Soft Clay

Type
UnDrained
UnDrained

g_unsat g_sat
k_x
[kN/m^3] [kN/m^3] [m/day]
15.7
16.7 0.001274
15
16 0.001274

k_y
E50ref
[m/day] [kN/m^2]
0.001274 889.4531
0.001274 881.851

Tabel 3. Parameter timbunan dan timbunan ringan


ID

Name

Type

1 Selected Fill
2 Timb. Ringan 2000kPa
3 Timb. Ringan 800kPa

Drained
Non-porous
Non-porous

g_unsat g_sat
k_x
k_y
nu
[kN/m^3] [kN/m^3] [m/day] [m/day] [ - ]
19.6
20.6
0.86
0.86
8
8
0
0
6
6
0
0

E_ref
c_ref
phi
[kN/m^2] [kN/m^2] [ ]
0.33
10000
5
0.2 1411379
60
0.2 892634.5
60

R_inter
[-]
25
45
40

1
1
1

5. Analisis
Analisis pertama adalah mendapatkan hasil perhitungan sensitifitas antara model
soft soil dan model hardening soil.Tahapan perhitungan dalam program Plaxis
diperlihatkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Tahapan perhitungan dalam program Plaxis
Identifikasi
Initial phase
Gravity Loading
Kupas Aspal
Kupas Lap pondasi
Gali Timb. 1
Gali Timb. 2
Gali Timb. 3
Gali Timb. 4
Gali Timb. 5
Gali Timb. 6
Gali Timb. 7
Gali Timb. 8
Gali Timb. 9

Perhitungan
N/A
Plastic
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation

Input Pembebanan
N/A
Staged construction
Staged Construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction

Ahmad Numan, Rakhman Taufik, Maulana Iqbal

Waktu
0 hari
1 hari
7 hari
14 hari
7 hari
7 hari
7 hari
7 hari
7 hari
7 hari
7 hari
7 hari
7 hari

Kolokium Jalan dan Jembatan

Identifikasi
Gali Timb. 10
Idle
FM. 800kPa 30cm
FM. 800kPa 30cm
FM. 800kPa 40cm
FM. 800kPa 50cm
FM. 800kPa 50cm
FM. 800kPa 60cm
FM. 800kPa 40cm
FM. 800kPa 40cm
FM. 800kPa 40cm
FM. 2000kPa 40cm
Lap. Pondasi
Lap. Aspal
Konsol Ultimate

Perhitungan
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation
Consolidation

Input Pembebanan
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Staged construction
Minimum pore pressure

Waktu
7 hari
7 hari
6 hari
6 hari
6 hari
6 hari
5 hari
4 hari
3 hari
2 hari
3 hari
7 hari
7 hari
7 hari
-

Hasil analisis sensitifitas model tanah model soft soil dan model hardening
soildiperlihatkan pada Gambar 7. Kedua model tersebut memperlihatkan adanya
pengembangan (heaving) akibat penggalian timbunan eksisting sampai sekitar hari ke
100. Heaving model soft soil sekitar 0.1 m sedangkan model hardening soil sekitar 0.12 m.
Setelah cluster timbunan ringan diaktifkan (memodelkan pengecoran secara bertahap),
kedua model menunjukkan penurunan yang hampir sama yaitu sekitar 2.5 cm yang
merupakan penurunan segera. Setelah konstruksi selesai, kedua model menunjukkan
penurunan konsolidasi yang sangat kecil. Tekanan airpori model tanah Soft Soil (SS
Model) pada hari ke tujuh sampai hari ke sepuluh mengalami anomali fluktuasi tekanan
sebesar 0.01kPa sedangkan pada model tanah Hardening Soil tekanan relatif stabil,
sehingga permodelan untuk analisis selanjutnya diputuskan menggunakan model tanah
Hardening Soil (HS model)
Deformasi Vertikal

0.14

Deformasi Vertikal (m)

0.12
0.1
0.08
0.06

HS Model

0.04

SS Model

0.02
0

-0.02
0.1

10
100
Waktu (Hari)

Ahmad Numan, Rakhman Taufik, Maulana Iqbal

1000

10000

Telanan Air Pori (kPa)

Kolokium Jalan dan Jembatan

Tekanan Air Pori Ekses

0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
-0.01
-0.02
-0.03
-0.04
-0.05
-0.06

HS Model
SS Model

0.1

10
100
Waktu (Hari)

1000

10000

Gambar 7. Analisis perhitungan sensitifitas model soft soil dan model hardening soil

Pergerakan Extenso (m)

Hasil dari kedua model tanah tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil
pengamatan instrumentasi Ekstenso Magnetik di lapangan. Hasil perbandingan antara
hasil pengamatan instrumentasi Ekstenso magnetik dibandingkan dengan hasil
perhitungan sensitifitas model soft soil dan hardening soil diperlihatkan pada Gambar 8.

Deformasi Vertikal

0.01
0.00

Measured
HS Model
SS Model

-0.01
-0.02
-0.03
100

Waktu (Hari)

1000

Gambar 8. Perbandingan perhitungan sensitifitas model Soft Soil dan Hardening Soil
dengan Pembacaan Instrumentasi Ekstensometer Magnetik.
Dari Gambar 8 terlihat bahwa terdapat perbedaan antara kedua model tanah
dengan hasil pengamatan instrumentasi. Hal ini kemungkinan disebabkan bahwa hasil
pengamatan instrumentasi Ekstensometer Magnetik tidak begitu akurat dikarenakan ujung
bawah pipa extensometer tidak berada pada lapisan tanah keras, sehingga datum
Ekstensometer Magnetik yang seharusnya tetap dapat bergerak. Posisi masing masing
instrumentasi Ekstensometer Magnetik diperlihatkan pada Gambar 9.

Ahmad Numan, Rakhman Taufik, Maulana Iqbal

Kolokium Jalan dan Jembatan

Gambar 9. Posisi Instrumentasi Ekstensometer Magnetik dan hasil pengujian Sondir


Idealnya ujung bawah pipa ekstensometer diposisikan pada lapisan tanah
keras/stabil dan datum dipatenkan pada ujung pipa tersebut.Posisi ujung pipa
ekstensometer dan datum yang berada pada lapisan tanah keras/stabil diharapkan
menjadi titik acu (benchmark) untuk instrumen-instrumen magnetis lain diatas datum yang
diposisikansetiap pergantian lapisan tanah, sehingga dapat memberikan datapenurunan
setiap perlapisan tanah terhadap datum yang akurat.
Jika bagian ujung bawah pipa dan datum ekstensometer tidak dimungkinkan
diposisikan pada bagian tanah keras/stabil, maka metoda pengukuran harus
dikombinasikan dengan metoda surveying dengan mengambil elevasi dari ujung pipa atas
yang nantinya elevasi ini menjadi titik acu terhadap posisi-posisi instrumentasi magnetis
lainnya.
6. Analisis sensitifitas
Analisis lain yang dilakukan adalah melakukan analisis sensitifitas berat isi timbunan
ringan terhadap besarnya penurunan yang terjadi. Berat isi timbunan ringan dimodifikasi
dengan rentang seperti yang diperlihatkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Kombinasi rentang nilai berat isi timbunan ringan
Kombinasi
Perhitungan

UCS 800 kPa

(kN/m3)

UCS 2000kPa

(kN/m3)

Ahmad Numan, Rakhman Taufik, Maulana Iqbal

Kolokium Jalan dan Jembatan

Kombinasi
Perhitungan
Kombinasi 1
Kombinasi 2
Kombinasi 3
Kombinasi 4
Kombinasi 5
Kombinasi 6
Kombinasi 7
Kombinasi 8
Kombinasi 9
Kombinasi 10
Kombinasi 11
Kombinasi 12
Kombinasi 13
Kombinasi 14
Kombinasi 15
Kombinasi 16

UCS 800 kPa

(kN/m3)
6
8
10
12
6
8
10
12
6
8
10
12
6
8
10
12

UCS 2000kPa

(kN/m3)
6
6
6
6
8
8
8
8
10
10
10
10
12
12
12
12

Deformasi Vertikal (m)

Deformasi Vertikal
0
-0.01
-0.02
-0.03
-0.04
-0.05
-0.06
-0.07
-0.08

g UCS 2000 kPa = 6 kN/m3


g UCS 2000kPa = 8 kN/m3
g UCS 2000kPa = 10 kN/m3
g UCS 2000kPa = 12 kN/m3

10

11

12

13

UCS 800 (kN/m3)


Gambar 10. Analisis sensitifitas berat isi timbunan ringan terhadap penurunan
Kombinasi perhitungan analisis sensitifitas berat isi timbunan ringan ternyata tidak
banyak memberikan kontribusi yang besar terhadap penurunan yang terjadi, deviasi
ekstrim yang terjadi (kombinasi 1 dan kombinasi 16) hanya sebesar 4cm. Terlihat pula
bahwa dengan meningkatkan berat isi dua kali lipat, maka penurunan yang terjadi juga
sebesar dua kali lipat. Dari hasil analisis sensitifitas berat isi beton ringan, peningkatan
berat isi sampai menjadi sebesar 12 kN/m3 menyebabkan terjadinya penurunan yang
masih lebih kecil dibandingkan heaving yang terjadi.
7. Kesimpulan
Dalam makalah ini dilakukan pemodelan uji skala penuh beton ringan yang dibangun
sebagai timbunan oprit Jembatan Kedaton di Cirebon, Jawa Barat.Uji coba skala penuh
tersebut dilakukan dengan menggali timbunan oprit eksisting dan menggantinya dengan
beton ringan. Oleh karena itu, evaluasi kinerja dilakukan dengan model metode elemen

Ahmad Numan, Rakhman Taufik, Maulana Iqbal

10

Kolokium Jalan dan Jembatan

hingga untuk dapat memodelkan konstruksi bertahap.Dalam makalah ini digunakan model
soft soil (cam clay) dan model hardening soil (hiperbolik).Dari hasil pemodelan dapat
disimpulkan bahwa:
- Kedua model tanah tersebut dapat menangkap terjadinya heaving akibat penggalian
dengan model hiperbolik memberikan nilai heaving yang lebih besar.
- Model hardening soil memberikan respon tekanan pori akibat galian (pengangkatan
beban) dan timbunan (penambahan beban) yang lebih baik dibandingkan dengan
model soft soil.
- Kedua model mengindikasikan bahwa setelah timbunan beton ringan dipasang,
penurunan yang terjadi adalah penurunan segera sedangkan penurunan konsolidasi
sangat kecil.
- Dari hasil analisis sensitifitas berat isi beton ringan, peningkatan berat isi sampai
menjadi sebesar 12 kN/m3 menyebabkan terjadinya penurunan yang masih lebih kecil
dibandingkan heaving yang terjadi. Hal ini mengindikasikan bahwa penentuan berat isi
untuk timbunan beton ringan dalam desain disarankan perlu dibedakan untuk dua
kasus, yaitu kasus timbunan oprit baru dan kasus timbunan oprit yang digali kemudian
diganti beton ringan.
Dalam makalah ini tidak bisa dibandingkan antara hasil model elemen hingga dengan
data penurunan dari instrumen ekstensometer magnetik.Hal ini diakibatkandatum
ekstensometer tidak ditempatkan di lapisan tanah keras sehinggadatum ikut
bergerak.Oleh karena itu, penulis menyarankan bahwa instrumentasi harus didesain
dengan cermat karena merupakan hal yang sangat penting dalam uji coba skala penuh.
Daftar Pustaka
AASHTO. 2010. LRFD Bridge Design and Spesification, Fifth Edition. Washington DC,
United States of America.
Brinkgreve, R.B.J.1998.Finite Element Code for Soil and Rock Analyses Version 7, AA
Balkema, Plaxis.
Brinkgreve, R.B.J.& Broere 2008.2D Version 9.0 Manual, Delft university of Technology
& PLAXIS b. v., The Netherlands.
Febrijanto, Rudy. 2008. Penyusunan DED uji Coba Skala Penuh Timbunan Badan Jalan
Dengan Material Ringan. Laporan Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan
dan Jembatan. Indonesia.
Handayani, Fasma. 2007. Timbunan Badan Jalan dengan Bahan Material Ringan.Laporan
Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan. Indonesia.

Ahmad Numan, Rakhman Taufik, Maulana Iqbal

11