Anda di halaman 1dari 18

Pelatihan Pengenalan PLAXIS

MODUL 1
FINITE ELEMENT MODELLING
1.

Sekilas Sejarah Finite Element


a. Th 1906 diajukan suatu konsep lattice analogy, dimana media
continuum dibagi menjadi pola teratur dari batang-batang elastis. Konsep
ini di pertama kali dipakai dalam analisis struktur di Jerman.
b. Th 1941 metode elemen hingga pertama kali diajukan oleh Courant
dalam kuliah matematika. Pada tahap ini MEH belum diaplikasikan dalam
masalah engineering.
c. Th 1953 para insinyur (terutama industri penerbangan) sudah dapat
menemukan persamaan kekakuan matriks dalam bentuk matriks, serta
dapat diselesaikan dengan komputer.
d. Th 1960 istilah Finite Element Method mulai diajukan oleh Clough
e. Th 1963 semakin diminati karena dianggap sanggup menyelesaikan
masalah2 tegangan.
f. Th 1965 FEM dapat menyelesaikan masalah rambatan panas dan
rembesan.
g. Th 1960-1970 diperkenalkan program-program komputer utuk FEM
untuk analisis statik, dinamik, dan perambatan panas: ANSYS, ASKS,
NASTRAN.
h. Th 1980 diperkenalkan software dan hardware untuk grafik sehingga
semakin memudahkan interaksi.

2. Langkah-langkah pada FEM


Secara garis besar ada 5 langkah dasar:
a. Discretization: pembagian suatu continuum menjadi sistem yang lebih
kecil yang disebut sebagai finite element. Pada sistem ini terdapat nodal

Modul Pelatihan. Oleh Yusep Muslih Purwana dan Raden Harya Dananjaya

Pelatihan Pengenalan PLAXIS

line, yang memisahkan elemen-elemen. Pertemuan antara nodal line


disebut nodal point (Gambar 1.1).
Struktur pondasi

node
element
nodal line

Gambar 1. 1 Contoh pembagian continuum menjadi elemen-elemen


b. Pemilihan fungsi aproximasi: Langkah ini digunakan untuk menentukan
displacement setiap element menggunakan polynomial berderajat n.
Semakin tinggi n, semakin tinggi ketelitiannya. Displacement suatu node
dituliskan sebagai
{u} = [N]{q}
Dimana: [N] adalah matriks fungsi interpolasi, {q}= {u1, u2, , v1,v2, ..)T
c. Menentukan hubungan Regangan-Perpindahan dan Tegangan-Regangan
d. Penurunan persamaan elemen: Menggunakan metode variational atau
residual (misal metode Galerkin).

Persamaan elemen dapat ditulis

sebagai
[k]{q} = {Q}
Dimana [k] adalah matriks properti elemen, dan {Q} vektor gaya node.
e. Assembling properti elemen ke persamaan global

Modul Pelatihan. Oleh Yusep Muslih Purwana dan Raden Harya Dananjaya

Pelatihan Pengenalan PLAXIS

Persamaan-persamaan elemen pada langkah c dikombinasi sehingga


menghasilkan stiffness relation untuk seluruh elemen. Langkah ini dibuat
untuk mendapatkan kompatibilitas displacement setiap node. Stiffnes
relation ditulis:
[K] {r} = {R}
Dimana [K] adalah global stiffness matriks, {r} adalah global nodal
displacement vector, dan {R} adalah global nodal force vector.
f.

Menghitung besaran-besaran primer yang tidak diketahui

g. Menghitung besaran-besaran sekunder


h. Interpretasi

3. Faktor Penentu Solusi Hasil FEM


a. Fisik: idealisasi model, boundary condition
b. Numerik: keakuratan, stabilitas, konsistensi
c. Human: formulasi, alternatif, interpretasi
d. Computer: input, waktu, software

Modul Pelatihan. Oleh Yusep Muslih Purwana dan Raden Harya Dananjaya

Pelatihan Pengenalan PLAXIS


KPK A3 JTS FT UNS 2008

MODUL 2
MODEL MATERIAL
1. Pendahuluan
Model material adalah sekumpulan persamaan matematika yang menjelaskan
hubungan antara tegangan, regangan, (dan waktu). Suatu material harus
dimodelkan secara mekanis menggunakan persamaan konstitutif (constitutive
law). Penentuan model suatu material dibuat sesuai dengan kondisi material
yang ditinjau serta derajat keakuratan yang diinginkan.

2. Prilaku Tegangan-Regangan
Gambar 2.1 memperlihatkan contoh beberapa kurva tegangan-regangan

3. Model Material
Untuk material tanah dan batuan, beberapa model material yang biasa
digunakan diantaranya sotropic 1. Elasticity (Hookes law), 2. Mohr-Coulomb
(MC) Elastic Plastic, 3. Jointed Rock (JR), 4. Hardening-Soil (HS), 5. Soft-SoilCreep (SSC), 6. Soft Soil (SS), 7. Cam Clay (Critical State), 8. Modified CamClay (MCC), 9. Nonlinear Elasticity (Hyperbolic), 10. Strain Softening, 11. Slip
Surface.
Masing-masing model di atas memiliki parameter tersendiri serta memiliki
kelebihan dan kekurangan (Tabel 2.1). Keakuratan pemodelan sehingga
mendekati keadaan sesungguhnya sangat tergantung pada:
1. Keahlian memodelkan
2. Pemahaman terhadap model serta keterbatasannya
3. Pemilihan parameter
4. Kemampuan menilai hasil komputasi yang reliable

Modul Pelatihan Edisi 2008. Oleh: Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS


KPK A3 JTS FT UNS 2008

Tabel 2.1. Contoh beberapa model material tanah


No
1

Model
Isotropic Elaticity (linear
elastic)
Moh-Coulomb,
MC
(elastic-perfectly plastic)

Parameter
E,

Jointed
Rock,
JR
(anistropic
elasticperfectly plastic)

E, , G, , c ,

Hardening-Soil (HS)

, c , , , E50, Eur, Eoed,


p, Ko, Rf, , ....

E, (elastic), , c
(plastic), dan - 30

Soft-Soil-Creep (SSC)

, c , , , , , , M, Ko,

Soft Soil (SS) Cam


Clay

, c , , , , , M, Ko

Modified
(MCC)

, , , M, e

Cam-Clay

Modul Pelatihan Edisi 2008. Oleh: Yusep Muslih Purwana

Kelebihan
Relatif cepat dan
sederhana
Perhitungan masih
relatif sederhana.
Sudah
mengakomodai
pengaruh
anisotropik material
Cocock
untuk
semua jenis tanah
Sudah
memasukkan efek
viscous dan creep

Kekurangan
Kurang akurat
Aproksimasi orde 1

Keterangan
Masih cocok untuk material masif
dan lapisan bedrock
Model paling banyak dikenal
Digunakan untuk simulasi batuan
berlapis

Belum
memasukkan
viscous
Over predict

efek

Tidak cocok untuk


analisis penggalian

Model tingkat lanjut untuk simulasi


prilaku tanah. Bisa utk soft maupun
stiff soil.
Relatif baru dan bagus untuk
analisis settlement. Pengembangan
dari HS.
Dipakai untuk soft soil spt NC Clay,
dan gambut.
Modifikasi dari Cam Clay. Tidak
dianjurkan untuk keperluan praktis

Pelatihan Pengenalan PLAXIS


KPK A3 JTS FT UNS 2008

4. Tegangan dan Regangan


Tegangan adalah sebuah tensor yang dapat dinyatakan dalam koodinat
Cartesius sebagai:

xx

ij = yx
zx

xy xz

yy yz
z y zz

Menurut teori deformasi, tensor tegangan bersifat simetris, dimana xy=yx,


,dst, sehingga tegangan dapat ditulis dalam notasi vektor sebagai

{ }T = [ xx yy zz xy yz zx ]

2=3

1 0 0
0
0
2

0 0 3

1 0 0
0 0 0

0 0 0

0 0
0 0

0 0

Gambar 2.3. Beberapa contoh kondisi tegangan beserta tensornya


Regangan adalah sebuah tensor yang dapat dinyatakan dalam koordinat
Cartesius. Dengan cara yang sama dengan diatas, diperoleh regangan:

xx

ij = yx
zx

xy
yy
zy

xz

yz
zz

{ }T = [ xx yy zz xy yz zx ]
Modul Pelatihan Edisi 2008. Oleh: Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS


KPK A3 JTS FT UNS 2008

Untuk model elastoplastic, regangan merupakan penjumlahan komponen


regangan elatic dan plastic, sehingga:
= e + p

5. Hubungan Antar Parameter


1. Young Modulus E:

xx = Exx

2. Poisson Ratio :

yy = zz = xx

3. Shear Modulus:

xy = 2Gxy = Gxy

4. Bulk Modulus K:

oct = Kvol

5. Lames Constant ,

xx = vol + 2xx,

6. Constrained Modulus M:

xx = Mxx

xy = 2xy

Hubungan antar parameter dapat dituliskan:

G==
,

K=

E
2(1 + )

E
2
=+
3(1 2 )
3

Eoed =

E
(1 + )(1 2 )

M=

E (1 )
(1 + )(1 2 )

(1 ) E
(1 2 )(1 + )

Hubungan tegangan-regangan dapat dinyatakan dalam berbagai cara, akan


tetapi yang paling bagus digunakan adalah:

0
0
0
1
0 1

0
0
0

0
0 1
0
0
0
E
[C ] =

0
0 1 2
0
0
(1 + )(1 2 ) 0
0
0
0
0
1 2
0

0
0
0
0
1 2
0

Modul Pelatihan Edisi 2008. Oleh: Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS


KPK A3 JTS FT UNS 2008

dan

dan

[C ] =

4
+ G
3

4
K+ G
3

0
0
0

0
0
0

0
0
0
0

4
K+ G 0
0
0
3
0
2G 0
0

0
0 2G 0
0
0
0 2G
0

M 2G M 2G 0
0
0
M
M 2G
M
M 2G 0
0
0

M 2G M 2G
M
0
0
0
[C ] =

0
0
2G 0
0
0
0
0
0
0 2G 0

0
0
0
0 2G
0

Untuk kondisi plane strain, xx, xz, yz adalah 0, sehingga persamaan menjadi:
{} = [C]{}
dengan

{}T = [xx yy xy]

K + 3 G

2
[C ] = K G
3

{)T = [xx yy xy]

K G 0
3

0
1

4
E

K+ G 0 =

1
0

3
(1 )(1 2 )
0
0 1 2
0
2G

dan

M
= 0
0

M 2G
M
0

0
0
2G

Hubungan ini dapat ditulis dalam bentuk invers:


{} =[D](}
Modul Pelatihan Edisi 2008. Oleh: Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS


KPK A3 JTS FT UNS 2008

Dimana:

0
0
0
1 v v
v 1 v
0
0
0

0
0
0
1 v v 1
[ D] =

0
0 1 +
0
0
E0
0
0
0
0 1 +
0

0
0
0
0 1 +
0

6. Plane Strain dan Axisymmetric


Dilihat dari geometri, modeling FEM 2 D menggunakan salah satu dari 2 kondisi
berikut yaitu: 1. Plane Strain, dan 2. Axisymmetric. (Gambar 2.4)
-

Plane strain digunakan untuk kondisi dimana struktur dianggap memiliki


panjang tak hingga tegak lurus potongan melintang. Pada kondisi ini z =
0, uz = 0. Contoh struktur dengan kondisi ini misalnya pondasi menerus,
embankment, cofferdam, dll.

Axisymmetric digunaka untuk kondisi dimana struktur berbentuk lingkaran,


beban mengitari sumbu lingkaran, dan tegangan dan deformasi identik ke
segala arah radial. Koordinat x dianggap sumbu radial, koordinat y
diangap garis aksial simetri, dengan sumbu x negative tak bisa digunakan.
Contoh struktur dengan kondisi ini adalah pondasi plat lingkaran.

a. Plane Strain

b. Axisymmetric

Gambar 2.4 Kondisi plane strain dan axisymmetrik


Modul Pelatihan Edisi 2008. Oleh: Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS 2D

MODUL 3
LATIHAN 1

Berikut adalah contoh untuk latihan. Sebuah tanah pasir timbunan memanjang
tegak lurus bidang gambar terletak pada permukaan pasir homogen tebal 10 m.
Tentukan deformasi, serta tegangan-tegangan yang terjadi pada lapisan tanah!

5m
5m

25 m
Lapisan pasir
3

= 17 kN/m , sat = 20 kN/m c = 1 KN/m , = 31 ,


2
E = 13000 kN/m , = 0.3, kx = ky = 1 m/hari

10 m

Rock layer

Gambar 3.1. Timbunan di atas tanah pasir


Langkah langkah:
1. Aktifkan Plaxis Input dengan cara double click icon PLAXIS
2. Craete/Open Project, pilih New project
3. General Setting, tulis sbb:
-

Project title: tulis Latihan 1

Comment: Penyebaran tegangan pada tanah timbunan

General: plane strain, 15 node

Acceleration: x, y = 0

Dimensions: Unit: panjang = m, gaya = kN, waktu = hari

Geometri dimensions: Berturut-turut isi 0.0, 22.5, 5.0, -10.0.

Spacing: 1 m, interval: 2

Modul Pelatihan . Oleh Raden Harya Dananjaya dan Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS 2D

4. Klik OK
5. Model Geometri: Mulai dari titik (0,5), klik mouse kiri, bawa ke (2.5,5), klik
mouse kiri, ...., bawa ke (12.5,0), (22.5,0), (22.5,-10), (0,-10), (0,5) klik mouse
kanan. Lalu klik (0,0) dan (12.5,0) klik kanan, sehingga tergambar dua
cluster, yaitu atas dan bawah.
6. Boundary Condition: Klik standard fixities.
7. Material Data Set,
Klik Material sets button, Klik New:
Pada Material set, tulis Identification: sand, Material Model: MohrCoulomb, Material type: drained.
General properties: sat = 20 kN/m3, unsat = 17 kN/m3
Permeability: kx = ky = 1 m/day
Klik <Next> atau Parameter: masukkan data-data E = 13000 kN/m2, = 0.3, c
= 1 kN/m2, = 31o, = 0.
Klok <Ok>
Lalu material diseret ke cluster atas dan bawah
8. Mesh Generation
Klik Generate Mesh, secara otomatis Plaxis akan me Generate mesh.
Sampai disini model finite element sudah sempurna. Langkah selanjutnya
adalah Klik <Update>. Update dilakukan untuk kembali ke menu input.
9. Initial Condition
Initial condition berisi: kondisi air tanah awal, geometri awal, dan kondisi
tegangan efektif awal. Pada kasus ini pasir dianggap kering, sehingga
kondisi air tanah diabaikan dan pastikan cluster atas dalam kondisi tidak
aktif. Kemudian tegangan efektif harus digenerate dengan cara klik Initial
Condition. Akan muncul default angka w = 10 kN/m3. Klok <Ok>

Klik initial stress and Geometri configuration. Klik Generate Initial Stress.
Akan muncul output berupa initial stress. Klik <Ok>

Modul Pelatihan . Oleh Raden Harya Dananjaya dan Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS 2D

Untuk kembali ke menu input klik <Update>


10. Calculation
Klik Calculate, dan save pada tempat yang diinginkan (dalam hal ini
namai Latihan 1). Input program akan tertutup, beralih ke Calculation
program. Pada General tabs, pilih plastic.
Klik <Parameters>, dari Loading input box, klik staged construction.
Klik <define>, akan muncul konfigurasi yang aktif. Double klik pada cluster
atas.
Klik

<update>. Langkah ini menunjukkan Calculation Definition telah

selesai (tapi belum dihitung).


Tentukan salah satu node (dalam hal ini node paling kiri atas), klik
<update>.
Klik <calculate> proses kalkulasi akan terlihat.
11. Output
Output dapat dilihat dengan cara klik <output>. Hasil yang dapat dilihat
berupa: tegangan dan deformasi pada hampir setiap titik untuk berbagai
kondisi (silakan dicoba satu persatu).

Modul Pelatihan . Oleh Raden Harya Dananjaya dan Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS


KPK A3 JTS FT UNS 2008

MODUL 4
LATIHAN 2

Pondasi plat setempat seperti pada LATIHAN 1 akan tetapi pondasi dimodifikasi
sehingga berprilaku fleksibel.
6

Plat feksibel EA = 5.10 kN/m, EI =


2
8500 kNm /m

Lapisan pasir
3

= 17 kN/m , sat = 20 kN/m c = 1 KN/m , = 31 ,


2
E = 13000 kN/m , = 0.3, kx = ky = 1 m/hari

4m

Rock layer

Gambar 4.1. Pondasi fleksibel lingkaran di atas tanah pasir


Langkah langkah:
1. Aktifkan Plaxis Input dengan cara double click icon PLAXIS
2. Craete/Open Project, pilih Existing project, pilih Latihan 1, klik <Ok>
3. Pilih save as pada menu File, beri nama Latihan 2, klik <save>
4. Pilih geometri line dimana prescribe displacement terjadi pada Latihan 1.
Tekan <Del>. Pilih prescribe displacement dari Select item to delete, tekan
<Delete>
5. Untuk membuat plat pondasi, pilih button Plate pada toolbar. Klik posisi (0.0;
4.0), pindah ke posisi (1.0;4.0), klik mouse. Akhiri dengan klik mouse kanan.
Terbentuk titik 3 dan 4 yang mensimulasikan flexible footing.
6. Modifikasi boundary condition

Modul Pelatihan Edisi 2008. Oleh Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS


KPK A3 JTS FT UNS 2008

Klik distribution load system A, klik point 3 dan point 4, diikuti klik mouse
kanan.
7. Material properties
Klik Material sets, pilih Plate, klik <New>, tulis Footing pada Identification
box, dan pilih tipe material Elastic. Masukkan property seperti pada soal. Klik
<Ok>. Drag Footing ke area dimana terletak pondasi. Klik <Ok>.
8. Mesh Generation
Klik Generate Mesh, secara otomatis Plaxis akan me Generate mesh.
Sampai disini model finite element sudah sempurna. Langkah selanjutnya
adalah Klik <Ok> dan <Update>.
8. Initial Condition: Lakukan seperti pada Latihan 1.
10. Calculation
Klik Calculate, dan save pada tempat yang diinginkan (dalam hal ini
namai Latihan 1). Input program akan tertutup, beralih ke Calculation
program. Pada General tabs, pilih plastic.
Klik <Parameters>, dari Loading input box, klik staged construction.
Klik <define>, akan muncul konfigurasi yang aktif. Klik Load, akan muncul
Select items. Selanjutnya aktifkan plate dan load.
Ketika memeilih load, klik <change>. Masukkan Y-value 350 kN/m2.
Angka ini menghasilkan gaya hampir sama dengan Latihan 1, yaitu: 350
kN/m2 x x (1.0 m)2 = 1100 kN.
Klik <Update>
Check stress point, tentukan (klik) satu titik di kiri atas (tengah-tengah
pondasi)
Klik <calculate> proses kalkulasi akan terlihat.
11. Output
Output dapat dilihat dengan cara klik <output>. Hasil yang dapat dilihat
berupa: tegangan dan deformasi pada hampir setiap titik untuk berbagai
kondisi (silakan dicoba satu persatu).

Modul Pelatihan Edisi 2008. Oleh Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS


KPK A3 JTS FT UNS 2008

Double klik Footing, dari sini dapat dilihat besarnya perpindahan dan
tegangan pada pondasi.
12. Kurva Beban-Perpindahan
Kurva beban-perpindahan dapat dilihat dengan cara mengaktifkan Go to
Curve program.
Pilih new chart pada Create/open project. Tentukan file yang akan dipilih
(Latihan 2), tekan <open>.
Untuk kasus ini pilih x-axis nya berupa displacement, dan y-axisnya
berupa multiplier yang terjadi pada titik A.
Klik <Ok>
Terlihat dari (kurva maupun deformed mesh) bahwa untuk beban sebesar
350 kN/m2, atau setara dengan 1100 kN displacement yang terjadi adalah
129.15 x 10-3 m, atau kira-kira sama dengan kasus pada Latihan 1.

Modul Pelatihan Edisi 2008. Oleh Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS 2D

MODUL 5
LATIHAN 3

Berikut adalah contoh untuk latihan sebagai lanjutan latihan 1. Sebuah tanah
pasir timbunan memanjang tegak lurus bidang terletak pada permukaan pasir
homogen tebal 10 m. Tentukan angka aman timbunan tersebut!

5m
5m

25 m
Lapisan pasir
3

= 17 kN/m , sat = 20 kN/m c = 1 KN/m , = 31 ,


2
E = 13000 kN/m , = 0.3, kx = ky = 1 m/hari

10 m

Rock layer

Gambar 5.1. Timbunan di atas tanah pasir


Langkah langkah:
1. Aktifkan Plaxis Input dengan cara double click icon PLAXIS
2. Craete/Open Project, pilih New project
3. General Setting, tulis sbb:
-

Project title: tulis Latihan 3

Comment: Penyebaran tegangan pada tanah timbunan

General: plane strain, 15 node

Acceleration: x, y = 0

Dimensions: Unit: panjang = m, gaya = kN, waktu = hari

Geometri dimensions: Berturut-turut isi 0.0, 22.5, 5.0, -10.0.

Spacing: 1 m, interval: 2

Modul Pelatihan . Oleh Raden Harya Dananjaya dan Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS 2D

4. Klik OK
5. Model Geometri: Mulai dari titik (0,5), klik mouse kiri, bawa ke (2.5,5), klik
mouse kiri, ...., bawa ke (12.5,0), (22.5,0), (22.5,-10), (0,-10), (0,5) klik mouse
kanan. Lalu klik (0,0) dan (12.5,0) klik kanan, sehingga tergambar dua
cluster, yaitu atas dan bawah.
6. Boundary Condition: Klik standard fixities.
7. Material Data Set,
Klik Material sets button, Klik New:
Pada Material set, tulis Identification: sand, Material Model: MohrCoulomb, Material type: drained.
General properties: sat = 20 kN/m3, unsat = 17 kN/m3
Permeability: kx = ky = 1 m/day
Klik <Next> atau Parameter: masukkan data-data E = 13000 kN/m2, = 0.3, c
= 1 kN/m2, = 31o, = 0.
Klok <Ok>
Lalu material diseret ke cluster atas dan bawah
8. Mesh Generation
Klik Generate Mesh, secara otomatis Plaxis akan me Generate mesh.
Sampai disini model finite element sudah sempurna. Langkah selanjutnya
adalah Klik <Update>. Update dilakukan untuk kembali ke menu input.
9. Initial Condition
Initial condition berisi: kondisi air tanah awal, geometri awal, dan kondisi
tegangan efektif awal. Pada kasus ini pasir dianggap kering, sehingga
kondisi air tanah diabaikan dan pastikan cluster atas dalam kondisi tidak
aktif. Kemudian tegangan efektif harus digenerate dengan cara klik Initial
Condition. Akan muncul default angka w = 10 kN/m3. Klok <Ok>

Klik initial stress and Geometri configuration. Klik Generate Initial Stress.
Akan muncul output berupa initial stress. Klik <Ok>

Modul Pelatihan . Oleh Raden Harya Dananjaya dan Yusep Muslih Purwana

Pelatihan Pengenalan PLAXIS 2D

Untuk kembali ke menu input klik <Update>


10. Calculation
Klik Calculate, dan save pada tempat yang diinginkan (dalam hal ini
namai Latihan 3). Input program akan tertutup, beralih ke Calculation
program. Pada General tabs, pilih plastic.
Klik <Parameters>, dari Loading input box, klik staged construction.
Klik <define>, akan muncul konfigurasi yang aktif. Double klik pada cluster
atas.
Klik

<update>. Langkah ini menunjukkan Calculation Definition telah

selesai (tapi belum dihitung).


Buat lagi langkah baru, pilih Phase 1 pada start from phase
Pada general tab, pilih phi-c reduction
Pada parameter tab, centang reset displacement to zero. Pada loading
input box, incremental multiplierr sudah tercentang<Define> Msf
diisi 0.1.
Tentukan salah satu node (dalam hal ini node paling kiri atas), klik
<update>.
Klik <calculate> proses kalkulasi akan terlihat.
11. Output
Output dapat dilihat dengan cara klik <output>. Hasil yang dapat dilihat
berupa: tegangan dan deformasi pada hampir setiap titik untuk berbagai
kondisi (silakan dicoba satu persatu).

Modul Pelatihan . Oleh Raden Harya Dananjaya dan Yusep Muslih Purwana