Anda di halaman 1dari 35

Trauma Musculoskeletal

Disusun oleh:
Lisa Susilo (1115127)
Albertus Gani (1115167)
Adi Pramono (1115217)
Ester Farida Manalu (1115038)
Jilly Selena Pradipta (1115199)

Pembimbing:
dr. Posma Simanjuntak, Sp.B, Sp.OT

BAGIAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
RUMAH SAKIT IMMANUEL
2016

Pendahuluan

Trauma musculoskeletal sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, trauma jenis ini paling
sering disebabkan oleh trauma tumpul. Trauma sendiri berarti seseorang mengalami cedera oleh
suatu sebab. Penyebab trauma yang sering yaitu kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, olah
raga, dan rumah tangga. Trauma merupakan penyebab kematian paling sering pada usia 16-44
tahun di seluruh dunia (WHO). Setiap tahun 60 juta penduduk Amerika mengalami trauma dan
50% memerlukan tindakan medis, 1% diantaranya mendapat kecacatan yang bersifat menetap,
30% mendapat kecacatan sementara, dan 0,5% menyebabkan kematian. Banyak dari korban
trauma mengalami cedera musculoskeletal berupa fraktur, dislokasi, dan cedera jaringan lunak.
Angka kejadian trauma musculoskeletal cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Trauma
musculoskeletal jarang sampai menyebabkan kematian pada umumnya, namun dapat
menyebabkan kecacatan fisik, stress mental, dan mengurangi kualitas hidup.

Isi

I. Primary Survey
Penatalaksanaan awal pada primary survey dilakukan pendekatan melalui ABCDE yaitu :
A: Airway, menjaga airway dengan kontrol servikal (cervical spinecontrol)
B: Breathing, menjaga pernafasan dengan ventilasi
C: Circulation dengan kontrol perdarahan (hemorrage control)
D: Disability, status neurologis
E: Exposure/environmental control, membuka baju penderita, tetapi cegah hipotermia
a. Airway
Airway manajemen merupakan hal yang terpenting dalam resusitasi dan membutuhkan
keterampilan yang khusus dalam penatalaksanaan keadaan gawat darurat, oleh karena itu hal
pertama yang harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas, yang meliputi pemeriksaan jalan
nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur manibula atau
maksila, fraktur laring atau trakea. Gangguan airway dapat timbul secara mendadak dan total,
perlahan lahan dan sebagian, dan progresif dan/atau berulang.
Menurut ATLS 2004, Kematian-kematian dini karena masalah airway seringkali masih
dapat dicegah, dan dapat disebabkan oleh :
1. Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan airway
2. Ketidakmampuan untuk membuka airway
3. Kegagalan mengetahui adanya airway yang dipasang secara keliru
4. Perubahan letak airway yang sebelumnya telah dipasang
5. Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan ventilasi
6. Aspirasi isi lambung
Bebasnya jalan nafas sangat penting bagi kecukupan ventilasi dan oksigenasi. Jika pasien
tidak mampu dalam mempertahankan jalan nafasnya, patensi jalan nafas harus dipertahankan
dengan cara buatan seperti : reposisi, chin 10 lift, jaw thrust, atau melakukan penyisipan
airway orofaringeal serta nasofaringeal (Walls, 2010). Usaha untuk membebaskan jalan nafas
harus melindungi vertebra servikal. Dalam hal ini dapat dimulai dengan melakukan chin lift
atau jaw thrust. Pada penderita yang dapat berbicara, dapat dianggap bahwa jalan nafas
bersih, walaupun demikian penilaian terhadap airway harus tetap dilakukan. Penderita
dengan gangguan kesadaran atau Glasgow Coma Scale sama atau kurang dari 8 biasanya

memerlukan pemasangan airway definitif. Adanya gerakan motorik yang tak bertujuan,
mengindikasikan perlunya airway definitif.
Penilaian bebasnya airway dan baik-tidaknya pernafasan harus dikerjakan dengan cepat
dan tepat. Bila penderita mengalami penurunan tingkat kesadaran, maka lidah mungkin jatuh
ke belakang, dan menyumbat hipofaring. Bentuk sumbatan seperti ini dapat dengan segera
diperbaiki dengan cara mengangkat dagu (chin lift maneuver), atau dengan mendorong
rahang bawah ke arah depan (jaw thrust maneuver). Airway selanjutnya dapat dipertahankan
dengan airway orofaringeal (oropharyngeal airway) atau nasofaringeal (nasopharingeal
airway). Tindakan-tindakan yang digunakan untuk membuka airway dapat menyebabkan atau
memperburuk cedera spinal. Oleh karena itu, selama melakukan prosedurprosedur ini harus
dilakukan imobilisasi segaris (in-line immobilization) (ATLS, 2004)
Teknik-teknik mempertahankan airway :
1. Head tilt
Bila tidak sadar, pasien dibaringkan dalam posisi terlentang dan horizontal, kecuali
pada pembersihan jalan napas dimana bahu dan kepala pasien harus direndahkan dengan
posisi semilateral untuk memudahkan drainase lendir, cairan muntah atau benda asing.
Kepala diekstensikan dengan cara meletakkan satu tangan di bawah leher pasien dengan
sedikit mengangkat leher ke atas. Tangan lain diletakkan pada dahi depan pasien sambil
mendorong / menekan ke belakang. Posisi ini dipertahankan sambil berusaha dengan
memberikan inflasi bertekanan positif secara intermittena (Alkatri, 2007).
2. Chin lift
Jari - jemari salah satu tangan diletakkan bawah rahang, yang kemudian secara hati
hati diangkat ke atas untuk membawa dagu ke arah depan. Ibu jari tangan yang sama,
dengan ringan menekan bibir bawah untuk membuka mulut, ibu jari dapat juga
diletakkan di belakang gigi seri (incisor) bawah dan, secara bersamaan, dagu dengan hati
hati diangkat. Maneuver chin lift tidak boleh menyebabkan hiperekstensi leher.
Manuver ini berguna pada korban trauma karena tidak membahayakan penderita dengan
kemungkinan patah ruas rulang leher atau mengubah patah tulang tanpa cedera spinal
menjadi patah tulang dengan cedera spinal

3. Jaw thrust
Penolong berada disebelah atas kepala pasien. Kedua tangan pada mandibula, jari
kelingking dan manis kanan dan kiri berada pada angulus mandibula, jari tengah dan
telunjuk kanan dan kiri berada pada ramus mandibula sedangkan ibu jari kanan dan kiri
berada pada mentum mandibula. Kemudian mandibula diangkat ke atas melewati molar
pada maxilla.

4. Oropharingeal Airway (OPA)


Indikasi : Airway orofaringeal digunakan untuk membebaskan jalan napas pada
pasien yang kehilangan refleks jalan napas bawah (Kene, davis, 2007). Teknik : Posisikan
kepala pasien lurus dengan tubuh. Kemudian pilih ukuran pipa orofaring yang sesuai
dengan pasien. Hal ini dilakukan dengan cara menyesuaikan ukuran pipa oro-faring dari
tragus (anak telinga) sampai ke sudut bibir. Masukkan pipa orofaring dengan tangan
kanan, lengkungannya menghadap ke atas (arah terbalik), lalu masukkan ke dalam
rongga mulut. Setelah ujung pipa mengenai palatum durum putar pipa ke arah 180 drajat.
Kemudian dorong pipa dengan cara melakukan jaw thrust dan kedua ibu jari tangan
menekan sambil mendorong pangkal pipa oro-faring dengan hati-hati sampai bagian yang
keras dari pipa berada diantara gigi atas dan bawah, terakhir lakukan fiksasi pipa

orofaring. Periksa dan pastikan jalan nafas bebas (Lihat, rasa, dengar). Fiksasi pipa orofaring dengan cara memplester pinggir atas dan bawah pangkal pipa, rekatkan plester
sampai ke pipi pasien (Arifin, 2012).

5. Nasopharingeal Airway
Indikasi : Pada penderita yang masih memberikan respon, airway nasofaringeal lebih
disukai dibandingkan airway orofaring karena lebih bisa diterima dan lebih kecil
kemungkinannya merangsang muntah (ATLS, 2004). Teknik : Posisikan kepala pasien
lurus dengan tubuh. Pilihlah ukuran pipa naso-faring yang sesuai dengan cara
menyesuaikan ukuran pipa nasofaring dari lubang hidung sampai tragus (anak telinga).
Pipa nasofaring diberi pelicin dengan KY jelly (gunakan kasa yang sudah diberi KY
jelly). Masukkan pipa naso-faring dengan cara memegang pangkal pipa nasofaring
dengan tangan kanan, lengkungannya menghadap ke arah mulut (ke bawah). Masukkan
ke dalam rongga hidung dengan perlahan sampai batas pangkal pipa. Patikan jalan nafas
sudah bebas (lihat, dengar, rasa) ( Arifin, 2012).

Gambar 2.4. Nasopharingeal Airway (sumber : The McGraw-Hill Companies 2006).

6. Airway definitif

Terdapat tiga jenis airway definitif yaitu : pipa orotrakeal, pipa nasotrakeal, dan
airway surgical (krikotiroidotomi atau trakeostomi). Penentuan pemasangan airway
definitif didasarkan pada penemuanpenemuan klinis antara lain (ATLS, 2004):
1. Adanya apnea
2. Ketidakmampuan mempertahankan airway yang bebas dengan cara cara yang lain
3. Kebutuhan untuk melindungi airway bagian bawah dari aspirasi darah atau vomitus
4. Ancaman segera atau bahaya potensial sumbatan airway
5. Adanya cedera kepala yang membutuhkan bantuan nafas (GCS < 8)
6.Ketidakmampuan mempertahankan oksigenasi yang adekuat dengan pemberian
oksigen tambahan lewat masker wajah
Intubasi orotrakeal dan nasotrakeal merupakan cara yang paling sering digunakan.
Adanya kemungkinan cedera servikal merupakan hal utama yang harus diperhatikan pada
pasien yang membutuhkan perbaikan airway. Faktor yang paling menentukan dalam
pemilihan intubasi orotrakeal atau nasotrakeal adalah pengalaman dokter. Kedua teknik
tersebut aman dan efektif apabila dilakukan dengan tepat. Ketidakmampuan melakukan
intubasi trakea merupakan indikasi yang jelas untuk melakukan airway surgical.
Apabila pernafasan membaik, jaga agar jalan nafas tetap terbuka dan periksa dengan cara
(Haffen, Karren, 1992) :
1. Lihat (look), melihat naik turunnya dada yang simetris dan pergerakan dinding dada
yang adekuat.
2. Dengar (listen), mendengar adanya suara pernafasan pada kedua sisi dada.
3. Rasa (feel), merasa adanya hembusan nafas.

b. Breathing
Oksigen sangat penting bagi kehidupan. Sel-sel tubuh memerlukan pasokan konstan O2
yang digunakan untuk menunjang reaksi kimiawi penghasil energi, yang menghasilkan CO2
yang harus dikeluarkan secara terus-menerus (Sherwood, 2001). Kegagalan dalam oksigenasi
akan menyebabkan hipoksia yang diikuti oleh kerusakan otak, disfungsi jantung, dan
akhirnya kematian (Hagberg, 2005). Pada keadaan normal, oksigen diperoleh dengan
bernafas dan diedarkan dalam aliran darah ke seluruh tubuh (Smith, 2007). Airway yang baik
tidak dapat menjamin pasien dapat bernafas dengan baik pula (Dolan, Holt, 2008). Menjamin
terbukanya airway merupakan langkah awal yang penting untuk pemberian oksigen.
Oksigenasi yang memadai menunjukkan pengiriman oksigen yang sesuai ke jaringan untuk
memenuhi kebutuhan metabolik, efektivitas ventilasi dapat dinilai secara klinis (Buono,
Davis, Barth, 2007).
Apabila pernafasan tidak adekuat, ventilasi dengan menggunakan teknik bag-valve-facemask merupakan cara yang efektif, teknik ini lebih efektif apabila dilakukan oleh dua orang
dimana kedua tangan dari salah satu petugas dapat digunakan untuk menjamin kerapatan
yang baik (ATLS, 2004). Cara melakukan pemasangan face-mask (Arifin, 2012):
1. Posisikan kepala lurus dengan tubuh
2. Pilihlah ukuran sungkup muka yang sesuai (ukuran yang sesuai bila sungkup muka dapat
menutupi hidung dan mulut pasien, tidak ada kebocoran)
3. Letakkan sungkup muka (bagian yang lebar dibagian mulut)
4. Jari kelingking tangan kiri penolong diposisikan pada angulus mandibula, jari manis dan
tengah memegang ramus mandibula, ibu jari dan telunjuk memegang dan memfiksasi
sungkup muka
5. Gerakan tangan kiri penolong untuk mengekstensikan sedikit kepala pasien
6. Pastikan tidak ada kebocoran dari sungkup muka yang sudah dipasangkan
7. Bila kesulitan, gunakan dengan kedua tangan bersama-sama (tangan kanan dan kiri
memegang mandibula dan sungkup muka bersama-sama)
8. Pastikan jalan nafas bebas (lihat, dengar, rasa)
9. Bila yang digunakan AMBU-BAG, maka tangan kiri memfiksasi sungkup muka, sementara
tanaga kanan digunakan untuk memegang bag (kantong) reservoir sekaligus pompa nafas
bantu (squeeze-bag)

Sedangkan apabila pernafasan tidak membaik dengan terbukanya airway, penyebab lain
harus dicari. Penilaian harus dilakukan dengan melakukan inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi pada toraks.

Gambar 2.7. Penilaian pada toraks

Penilaian awal tersebut dilakukan untuk menilai apakah terdapat keadaankeadaan


seperti tension pneumotoraks, massive haemotoraks, open pneumotoraks dimana

keadaan-keadaan tersebut harus dapat dikenali pada saat dilakukan primary survey. Bila
ditemukannya keadaan-keadaan tersebut maka resusitasi yang dilakukan adalah
( Sitohang, 2012):
a. Memberikan oksigen dengan kecepatan 10 12 L/menit
b.Tension pneumotoraks : Needle insertion (IV Cath No. 14) di ICR II linea
midclavicularis
c. Massive haemotoraks : Pemasangan Chest Tube
d. Open pneumotoraks : Luka diututp dengan kain kasa yang diplester pada tiga sisi
(flutter-type valveefect) Buka leher dan dada sambil menjaga imobilisasi leher dan
kepala.
Tentukan laju dan dalamnya pernafasan Inspeksi dan palpasi leher serta toraks, cari :
deviasi trakea, distensi vena leher, ekspansi toraks simetris atau tidak, pemakaian otototot tambahan, dan tanda-tanda cedera Perkusi toraks untuk menentukan redup atau
hipersonor Auskultas toraks bilateral
Pulse oxymeter dapat digunakan untuk memberikan informasi tentang saturasi
oksigen dan perfusi perifer penderita. Pulse oxymeter adalah metoda yang noninvansif
untuk mengukur saturasi oksigen darah aterial secara terus menerus (ATLS, 2004).
c. Circulation
Perdarahan merupakan penyebab kematian setelah trauma (Dolan, Holt, 2008). Oleh
karena itu penting melakukan penilaian dengan cepat status hemodinamik dari pasien,
yakni dengan menilai tingkat kesadaran, warna kulit dan nadi (ATLS,2004).
a. Tingkat kesadaran
Bila volume darah menurun perfusi otak juga berkurang yang menyebabkan
penurunan tingkat kesadaran.
b. Warna kulit
Wajah yang keabu-abuan dan kulit ektremitas yang pucat merupakan tanda
hipovolemia.
c. Nadi
Pemeriksaan nadi dilakukan pada nadi yang besar seperti a. femoralis dan a. karotis
(kanan kiri), untuk kekuatan nadi, kecepatan dan irama. Dalam keadaan darurat yang
tidak tersedia alat-alat, maka secara cepat kita dapat memperkirakan tekanan darah
dengan meraba pulsasi (Haffen, Karren, 1992):
1. Jika teraba pulsasi pada arteri radial, maka tekanan darah minimal 80 mmHg sistol

2. Jika teraba pulsasi pada arteri brachial, maka tekanan darah minimal 70 mmHg sistol
3. Jika teraba pulsasi pada arteri femoral, maka tekanan darah minimal 70 mmHg sistol
4. Jika teraba pulsasi pada arteri carotid, maka tekanan darah minimal 60 mmHg sistol
Perdarahan eksternal harus cepat dinilai, dan segera dihentikan bila ditemukan dengan
cara menekan pada sumber perdarahan baik secara manual maupun dengan
menggunakan perban elastis. Bila terdapat gangguan sirkulasi harus dipasang
sedikitnya dua IV line, yang berukuran besar. Kemudian lakukan pemberian larutan
Ringer laktat sebanyak 2 L sesegera mungkin (ATLS, 2004).

d. Disability
Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara
cepat. Hal yang dinilai adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil. Tanda-tanda
lateralisasi dan tingkat (level) cedera spinal (ATLS, 20 2004). Cara cepat dalam
mengevaluasi status neurologis yaitu dengan menggunakan AVPU, sedangkan GSC
(Glasgow Coma Scale) merupakan metode yang lebih rinci dalam mengevaluasi status
neurologis, dan dapat dilakukan pada saat survey sekunder (Jumaan, 2008). AVPU, yaitu:

A : Alert
V : Respon to verbal
P : Respon to pain
U : Unrespon
GSC (Glasgow Coma Scale) adalah sistem skoring yang sederhana untuk menilai tingkat
kesadaran pasien.
1. Menilai eye opening penderita (skor 4-1)
Perhatikan apakah penderita :
a. Membuka mata spontan
b. Membuka mata jika dipanggil, diperintah atau dibangunkan
c. Membuka mata jika diberi rangsangan nyeri (dengan menekan ujung kuku jari tangan)
d. Tidak memberikan respon
2. Menilai best verbal response penderita (skor 5-1)
Perhatikan apakah penderita :
a. Orientasi baik dan mampu berkomunikasi
b. Disorientasi atau bingung
c. Mengucapkan kata-kata tetapi tidak dalam bentuk kalimat
d. Mengerang (mengucapkan kata -kata yang tidak jelas artinya)
e. Tidak memberikan respon
3. Menilai best motor respon penderita (skor 6-1)
Perhatikan apakah penderita :
a. Melakukan gerakan sesuai perintah
b. Dapat melokalisasi rangsangan nyeri
c. Menghindar terhadap rangsangan nyeri
d. Fleksi abnormal (decorticated)
e. Ektensi abnormal (decerebrate)
f. Tidak memberikan respon
Range skor : 3-15 (semakin rendah skor yang diperoleh, semakin jelek kesadaran)
Penurunan tingkat kesadaran perlu diperhatikan pada empat kemungkinan penyebab (PreHospital Trauma Life Support Commitee 2002) :
1. Penurunan oksigenasi atau/dan penurunan perfusi ke otak
2. Trauma pada sentral nervus sistem
3. Pengaruh obat-obatan dan alkohol
4. Gangguan atau kelainan metabolik
e. Exposure
Merupakan bagian akhir dari primary survey, penderita harus dibuka keseluruhan
pakaiannya, kemudian nilai pada keseluruhan bagian tubuh. Periksa punggung dengan
memiringkan pasien dengan cara log roll. Selanjutnya selimuti penderita dengan selimut

kering dan hangat, ruangan yang cukup hangat dan diberikan cairan intra-vena yang
sudah dihangatkan untuk mencegah agar pasien tidak hipotermi.
II. Secondary Survey
Pemeriksaan kepala sampai kaki, termasuk re evaluasi tanda vital. Peluang untuk membuat
kesalahan dalam penilaian pasien yang tidak sadar sehingga diperlukan pemeriksaan teliti
yang menyeluruh. Pada pemeriksaan secondary survey ini dilakukan pemeriksaan
neurologi lengkap, termasuk mencatat GCS bila belum dilakukan dalam primary survey.
Pada secondary survey ini juga dikerjakan foto rontgen dan pemeiksaan laboratorium.
Evaluasi lengkap dari pasien memerlukan pemeriksaan fisis berulang-ulang.
Anamnesis
Setiap pemeriksaan yang lengkap memerlukan anamnesis mengenai riwayat perlukaan,
seringkali data seperti ini tidak bisa didapat dari pasien sendiri dan harus didapat dari
lapangan atau keluarga. Pada pasien cedera setelah kita pastikan patensi jalan nafas maka
dapat kita lakukan penggalian riwayat trauma.Bagaimana kejadian, proses, waktu, posisi
penderita asaat trauma, dll.

Mekanisme perlukaan sangat menentukan keadaan pasien. Petugas lapangan seharusnya


melaporkan mekanisme perlukaan. Jenis perlukaan dapat diramalkan dari mekanisme
kejadian perlukaan. Trauma biasanyan dibagi dalam 2 jenis : tumpul dan tajam.
Mekanisme perlukaan
Benturan frontal
Kemudi bengkok
Jejak lutut pada dashboard
Cedera bull eye pada kaca depan

Benturan samping, mobil

Kemungkinan pola perlukaan


Fraktur servikal
Flail chest anterior
Kontusio miokard
Pneumothorax
Rupture aorta
Ruptur lien/ hepar
Fraktur/ dislokasi coxae, lutut
Sprain cervikall kontralateral
Fraktur servika
Flail chest lateral

Benturan belakang, mobil


Terlempar keluar
Pejalan kaki ><

Pneumthorax
Ruputur aorta
Rupture diagfragma
Rupture hepar/lie/ginjal
Fraktur pelvis/acetabulum
Fraktur cervical
Kerusakan jaringan lunak leher
Semua jenis perlukaan
Mortalitas jelas meningkat
Trauma kapitis
Perlukaan toraks
Fraktur tungkai/pelvis

Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan fisis pada secondary survey dilakukan berurutan berurutan mulaidri kepala, maksilo
fasial, servikal dan leher, dada, abdomen, perineum/rectum/vagina, musculoskeletal sampai
pemeriksaan neurologis.
1. Kepala
Survey sekunder mulai dari evaluasi kepala. Seluruh kulit kepala dan kepala harus diperiksa
akan adanya luka, kontusio atau fraktur. Karena kemungkinan bengkaknya mata kemudian,
yang akan mempersulit pemeriksaan yang diteliti, mata harus diperiksa akan adanya :
Ketajaman visus
Ukuran pupil
Perdarahan konjungtiva dan fundus
Luka tembus pada mata
Lensa kontak
Dislokasio lentis
Jepitan bola mata
Ketajaman visus dengan membaca gambar snellen dan gerakan bola mata harus diperiksa
karena kemungkinan terjepitnya bola mata oleh fraktur orbita.
2. Maksilo fasial
Trauma maksilo-fasial dapat mengganggu airway atau perdarahan yang hebat, yang harus
ditampon pada primery survey. Trauma maksilofasial tanpa gangguan airway atau perdarahan
hebat, baru dikerjakan setelah pasien stabil sepenuhnya dan pengelolaan definitive dilakukan
dengan aman.
3. Vertebra servikalis dan leher
Pemeriksaan leher meliputi inspeksi, palpasi dan auskultasi. Nyeri daerah vertebra servikalis,
emfisema subkutan, deviasi trachea dan fraktru laring dapat ditemukan pada pada peeriksaan

yang teliti. Dilakukan palpasi dan auskultasi pada a. karotis. Adanya jejas a. karotis harus
dicatat karena kemungkinanna adanya perlukaan pada a. karotis. Penyumbatana atau diseksi
a, karotis dapat terjadi secara lambat, tanpa gejala.
Kebanyakan trauma arteri besar di leher disebabkan karena trauma tajam, namun trauma
tumpul leher atau cedera karena sabuk pengaman dapat menyebabkan kerusakan tunika
intima, diseksi dan thrombosis.
4. Toraks
Inspeksi dari depan dan belakang akan menunjukkan flail chest atau open pneumonothoraks.
Palpasi harus dilakukan pada setiap iga dan klavikula. Penekanan pada sternum dapat nyeri
bila ada fraktur sternum atau ada costochondral separation.
Evaluasi toraks dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisis termasuk auskultasi dan fpto
toraks. Bising napas diperiksa pada bagian atas toraks untuk menentukan pneumotoraks, dan
pada bagain belakang posterior untuk menentukan adanya hematotoraks.
Adanya temponade jantung atau tension pneumotoraks dapat terlihat adanya destensi pada
vena di leher, walaupun adanya hipovolemia akan meniadakan tanda in. melemahnya suara
napas dan hipersonor pada perkusi disertai syok mungkin satu-satunya tanda akan adanya
tension pneumotoraks, yang menandakan perlunya dekompresi segera.
5. Abdomen
Pemeriksaan abdomen yang normal tidak menyingkirkan diagnosis pelukaan abdomen,
karena gejala mjngkin timbul agak lambat. Diperlukan pemeriksaan berulang dan observasi
ketat, kalau bias oleh petugas yang sama. Fraktur iga-iga terbawah atau fraktur pelvis akan
mempersulit pemeriksaan karena nyeri dari daerah ini pada saat palpasi abdomen.
6. Perineum/rectum/vagina
Perineum diperiksa akan adanya kontusio, hematoma, laserasi dan perdarahan uretra. Colok
dubur harus dilakukan sebelum memasng kateter uretra. Harus diteliti adanya darah dari
lumen rectum, prostat letak tingggi adanya fraktur pelvis, utuh tidaknya dinding rectum tonus
m. spincter ani. Pada wanita diperlukan pemeriksaan vaginal touchea untuk menentukan
adanya darah dalam vagina akibat laserasi.
7. Musculoskeletal
Ekstremitas diperiksa akan adanya deformitas. Fraktur yang kurang jelas dapat ditegakkan
dengan memeriksa adanya nyeri, krepitasi atau gerakan abnormal.
Perlukaan berat pada ekstremitas dapat terjadi tanpa disertai fraktur baik pada pemeriksaan
maupun x-ray. Kerusakan ligament dapat menyebabkan sendi menjadi tidak stabil, kerusakan
tendo akan mengganggu pergerakan.

Gangguan sensasi dan atau hilang kemampuan kontraksi otot dapat disebabkan kerusakan
saraf perifer.
8. Neurologis
Pemeriksaaan neurologis meliputi pemeriksaan tingkat kesadaran, ukuran dan reraksi pupil,
pemeriksaan motorik dan sensorik. Penurunan kesadaran harus selalu dipantau karena
merupakan gambaran perkembangan cedera tekanan intra cranial. Bila terjadi penurunan
status neurologi harus teliti ulang perfusi, oksigenasi dan ventilasi.
PEMERIKSAAN LANJUTAN
1.

Hitung darah lengkap

2.

Koagulasi

3.

Elektrolit dan fungsi renal

4.

Analisa gas darah

5.

Urinalisis

6.

Radiologi

7.

CT scan

8.

Angiografi, dll

III.

Luka Ekstremitas yang Dapat Membahayakan Jiwa


Luka pada ekstremitas yang dapat membahayakan hidup yaitu bila ada perdarahan pada
arteri mayor dan crush syndrome.
a. Perdarahan arteri mayor
Luka pada ekstremitas dapat menyebabkan luka pada vaskuler mayor. Trauma tumpul
menyebabkan fraktur pada ekstremitas atau dislokasi sendi yang dekat dengan arteri
sehingga dapat menyebabkan kerusakan arteri. Luka ini dapat menyebabkan perdarahan
melalui luka terbuka maupun pada jaringan.
Saat ada luka ektremitas dan terjadi pendarahan yang dinilai meraba pulsasi, perubahan
kualitas pulsasi, Doppler tone, ankle/brachial index. Teraba dingin, pucat, tidak teraba
denyut adalah tanda bahwa adanya gangguan pada arteri yang memperdarahi daerah
tersebut. Hematom yang melebar secara cepat menandakan adanya luka vaskuler yang
signifikan.

Jika ada pedarahan arteri mayor sebaiknya secepat mungkin dikonsulkan ke spesialis
bedah. Penanganan yang dilakukan yaitu penekanan pada luka dan resusitasi cairan
secara tepat. Sebaiknya tidak dipasang klem pada pembuluh darah jika itu luka terbuka,
kecuali pembuluh darah superficial yang nampak jelas. Pada fraktur dengan luka terbuka
sebaiknya dilakukan penekanan. Bila ada dislokasi sendi sebaiknya dilakukan reposisi
jika mungkin, jika tidak memungkinkan sebaiknya segera dirujuk pada spesialis ortopedi.
Arteriography dilakukan atas indikasi sebagai tindakan resusitasi, tetapi pasien harus
memiliki hemodynamic yang normal, jika kerusakan vascular jelas, harus segera
dilakukan operasi.
b. Crush syndrome
Yaitu efek dari kerusakan/luka pada otot yang jika tidak ditangani akan menyebabkan
gagal ginjal akut, biasanya otot paha atau betis. Kerusakan otot dapat disebabkan oleh
kombinasi dari trauma langsung, iskemik, kematian sel sehingga menyebabkan pelepasan
myoglobin. Trauma pada otot seringkali menyebabkan rhabdomyolysis, yang seringkali
asimptomatik namun terdapat peningkatan kreatinin kinase sehingga dapat menyebabkan
gagal ginjal akut dan disseminated intravascular coagulation (DIC) yang dapat
membahayakan jiwa.
Jika terdapat pelepasan myoglobin yang tinggi dapat dilihat dengan warna urin yang
menjadi gelap, tes hemoglobin positif. Tes myoglobin assay dilakukan untuk
mengkonfirmasi adanya myoglobin. Rhabdomyolysis dapat menyebabkan asidosis
metabolic, hyperkalemia, hipocalsemia, dan DIC.
Penatalaksanaan yang diberikan yaitu pemberian cairan IV untuk resusitasi ginjal dan
mencegah terjadinya gagal ginjal. Sebaiknya cairan diberika untuk mempertahankan
sehingga urine output pasien 100 mL/jam hingga tidak ada lagi mioglobinuria.
IV. Trauma Yang Mengancam Muskuloskeketal
1. Patah Tulang Terbuka dan Trauma Sendi
a.Trauma

Pada patah tulang terbuka terdapat hubungan antara tulang dengan dunia luar.Kerusakan ini
disertai kontaminasi bakteri menyebabkan patah tulang terbuka mengalami masalah infeksi,
gangguan penyembuhan dan gangguan fungsi.
b.Pemeriksaan
Diagnosa didasarkan atas riwayat trauma dan pemeriksaan fisik ekstermitas yang menemukan
fraktur dengan luka terbuka, dengan atau tanpa kerusakaan luas otot
serta kontaminasi.Jika terdapat luka terbuka didekat sendi, harus dianggap luka ini berhubungan
dengan atau masuk kedalam sendi, dan konsultasi bedah harus dikerjakan. Tidak boleh
memasukkan zat warna atau cairan untuk membuktikan rongga sendi berhubungan dengan luka
atau tidak. Cara terbaik membuktikan luka terbuka padasendi adalah dengan eksplorasi bedah
dan pembersihan luka.
c.Penatalaksanaan
Setelah deskripsi atau trauma jaringan lunak, serta menentukan ada atau tidaknya gangguan
sirkulasi atau trauma saraf maka segera dilakukan imobilisasi. Penderita segera diresusitasi
secara adekuat dan hemodinamik sedapat mungkinstabil. Profilaksis tetanus segera diberikan.

2. Trauma Vaskuler, termasuk amputasi traumatik


a.Riwayat dan pemeriksaan
Trauma vaskuler harus dicurigai jika terdapat insufisensi vaskuler yang menyertai trauma
tumpul, remuk (crushing), puntiran, atau trauma tembus ekstremitas.Trauma vaskuler parsial
menyebabkan ekstremitas bagian distal dingin, pengisian kapiler lambat, pilsasi melemah dan
ankle/brachial index abnormal. Aliran yang terputus menyebabkan ekstremitas dingin, pucat dan
nadi tidak teraba.
b.Penatalaksanaan

Otot tidak mampu hidup tanpa aliran darah lebih dari 6 jam dan nekrosis akan segera terjadi.
Saraf juga akan sangat sensitif terhadap keadaan tanpa oksigen. Operasi revaskularisasi segera
diperlukan untuk mengembalikan aliran darah pada ekstermitas distal yang terganggu. Jika
gangguan vaskularisasi disertai fraktur harus dikoreksi segera dengan meluruskan dan memasang
bidai. Iskemia menimbulkan nyeri hebat dan konsisten. Amputasi traumatik merupakan bentuk
terberat dari fraktur terbuka yang menimbulkan kehilangan ekstermitas dan memerlukan
konsultasi dan intervensi bedah. Patah tulang terbuka dengan iskemia berkepanjangan, trauma
saraf dan kerusakan otot mungkin memerlukan amputasi.Penderita dengan trauma multipel yang
memerlukan resusitasi intensif dan operasi gawat darurat bukan kandidat untuk reimplantasi.
Anggota yang teramputasi dicuci dengan larutan isotonic dan dibungkus kasa steril dan dibasahi
lautan penisilin (100.000 unit dalam 50 ml RL ) dan dibungkus kantong plastik. Kantong plastik
ini dimasukkan dalam termos berisi pecahan es, lalu dikirimkan bersama penderita.

3. Cedera neurologis akibat Fraktur Dislokasi


a.Trauma
Fraktur atau/dan dislokasi, dapat menyebabkan trauma saraf yang disebabkan hubungan anatomi
atau dekatnya posisi saraf dengan persendian. Kembalinya fungsi hanya akan optimal bila
keadaan ini diketahui dan ditangani secara cepat.
b.Pemeriksaan
Pemeriksaan neurologis yang teliti selalu dilakukan pada penderita dengan trauma
musculoskeletal. Kelainan neurologis atau perubahan neurologis yang progresif harus dicatat.
Pada pemeriksaan biasanya akan didapatkan deformitas dari musculoskeletal. Pemeriksaan
fungsi saraf memerlukan kerja sama penderita. Setiap saraf perifer yang besar diperiksa fungssi
motorik dan sensorik perlu diperiksa secara sistematik.
c.Penatalaksanaan

Ekstremitas yang cedera harus segera diimobilisasi dalam posisi dislokasi dan konsultasi bedah
segera dikerjakan. Setelah reposisi, fungsi saraf di reavaluasi dan ekstremitas dipasang bidai.
4. Syndrome Kompartemen
Pengertian
Syndrome kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan interstitial
dalam sebuah ruangan terbatas yakni kompartemen osteofasial yang tertutup. Sehingga
mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan. Kompartemen
osteofasial merupakan ruangan yang berisi otot, saraf dan pembuluh darah yang dibungkus oleh
tulang dan fascia serta otot-otot individual yang dibungkus oleh epimisium. Secara anatomik,
sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak. Berdasarkan letaknya komparteman
terdiri dari beberapa macam, antara lain:
1. Anggota gerak atas

Lengan atas : Terdapat kompartemen anterior dan posterior.

Lengan bawah : Terdapat tiga kompartemen,yaitu: flexor superficial, fleksor profundus,

dan ekstensor
1.

Anggota gerak bawah

Tungkai atas: Terdapat tiga kompartemen, yaitu: anterior, medial, dan posterior.

Tungkai bawah

Terdapat empat kompartemen, yaitu: kompartemen anterior, lateral, posterior superfisial,


posterior profundus. Syndrome kompartemen yang paling sering terjadi adalah pada daerah
tungkai bawah (yaitu kompartemen anterior, lateral, posterior superficial, dan posterior
profundus) serta lengan atas (kompartemen volar dan dorsal)

Etiologi
Terdapat berbagai penyebab dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal yang kemudian memicu
timbullny sindrom kompartemen, yaitu antara lain:
1. Penurunan volume kompartemen
Kondisi ini disebabkan oleh:

Penutupan defek fascia

Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas

2. Peningkatan tekanan eksternal


Balutan yang terlalu ketat
Berbaring di atas lengan
Gips
3. Peningkatan tekanan pada struktur komparteman
Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain:
Pendarahan atau Trauma vaskuler
Peningkatan permeabilitas kapiler
Penggunaan otot yang berlebihan
Luka bakar
Operasi
Gigitan ular

Obstruksi vena
Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera, dimana 45 %
kasus terjadi akibat fraktur, dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah.
Manifestasi klinis
Gejala klinis yang terjadi pada syndrome kompartemen dikenal dengan 5 P yaitu:
1. Pain (nyeri) : nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot yang terkena, ketika
ada trauma langsung. Nyeri merupakan gejala dini yang paling penting. Terutama jika
munculnya nyeri tidak sebanding dengan keadaan klinik (pada anak-anak tampak
semakin gelisah atau memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya). Otot yang
tegang pada kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering.
2. Pallor (pucat), diakibatkan oleh menurunnya perfusi ke daereah tersebut. Kulit terasa
dingin jika di palpasi, warna kulit biasanya pucat, abu-abu atau keputihan.
3. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi ) akibat adanya gangguan perfusi
arterial.
4. Parestesia (rasa kesemutan) biasanya memberikan gejala rasa panas dan gatal pada
daerah lesi.
5. Paralysis : Merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang berlanjut
dengan hilangnya fungsi bagian yang terkena kompartemen sindrom. Biasanya diawali
dengan ketidakmampuan untuk menggerakkan sendi, merupakan tanda yang lambat
diketahui.

Sedangkan pada kompartemen syndrome akan timbul beberapa gejala khas, antara lain:
1. Nyeri yang timbul saat aktivitas, terutama saat olehraga. Biasanya setelah berlari atau
beraktivitas selama 20 menit.

2. Nyeri bersifat sementara dan akan sembuh setelah beristirahat 15-30 menit.
3. Terjadi kelemahan atau atrofi otot.

Penanganan
Tujuan dari penanganan sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit fungsi neurologis
dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal, melalui bedah dekompresi. Walaupun
fasciotomi disepakati sebagai terapi yang terbaik, namun beberapa hal, seperti timing, masih
diperdebatkan. Semua ahli bedah setuju bahwa adanya disfungsi neuromuskular adalah indikasi
mutlak untuk melakukan fasciotomi
Penanganan kompartemen secara umum meliputi:
1. Terapi Medikal/non bedah
Pemilihan terapi ini adalah jika diagnosa kompartemen masih dalam bentuk dugaan sementara.
Berbagai bentuk terapi ini meliputi:
1. Menempatkan kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan ketinggian kompartemen
yang minimal, elevasi dihindari karena dapat menurunkan aliran darah dan akan lebih
memperberat iskemia
2. Pada kasus penurunan ukuran kompartemen, gips harus di buka dan pembalut kontriksi
dilepas.
3. Pada kasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat menghambat perkembangan
sindroma kompartemen.
4. Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah.
5. Pada peningkatan isi kompartemen, diuretik dan pemakainan manitol dapat mengurangi
tekanan kompartemen.Manitol mereduksi edema seluler, dengan memproduksi kembali

energi seluler yang normal dan mereduksi sel otot yang nekrosis melalui kemampuan
dari radikal bebas
6. Terapi Bedah
Fasciotomi dilakukan jika tekanan intrakompartemen mencapai > 30 mmHg. Tujuan dilakukan
tindakan ini adalah menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot. Jika tekanannya < 30
mm Hg maka tungkai cukup diobservasi dengan cermat dan diperiksa lagi pada jam-jam
berikutnya. Kalau keadaan tungkai membaik, evaluasi terus dilakukan hingga fase berbahaya
terlewati. Akan tetapi jika memburuk maka segera lakukan fasciotomi. Keberhasilan dekompresi
untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam.Terdapat dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi
tunggal dan insisi ganda.Insisi ganda pada tungkai bawah paling sering digunakan karena lebih
aman dan lebih efektif, sedangkan insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko
kerusakan arteri dan vena peroneal.
Komplikasi
Sindrom kompartemen jika tidak mendapatkan penanganan dengan segera, akan menimbulkan
berbagai komplikasi antara lain:
1. Nekrosis pada syaraf dan otot dalam kompartemen
2. Kontraktur volkman, merupakan kerusakan otot yang disebabkan oleh terlambatnya
penanganan sindrom kompartemen sehingga timbul deformitas pada tangan, jari, dan
pergelangan tangan karena adanya trauma pada lengan bawa
3. Trauma vascular
4. Gagal ginjal akut
5. Sepsis
6. Acute respiratory distress syndrome (ARDS)
V.

Cedera ekstremitas lain

Cedera ekstremitas penting lainnya termasuk memar dan laserasi, cedera sendi, dan
fraktur.
a.

Kontusio dan laserasi

Kontusio/memar dan/atau laserasi harus diperiksa agar menyingkirkan adanya cedera


vaskular dan / atau neurologis. Secara umum, laserasi memerlukan debridement dan
penutupan. Jika laserasi meluas di bawah tingkat fasia, membutuhkan intervensi operasi
untuk debridement lebih lengkap dari luka dan menilai kerusakan struktur yang
mendasari.
Memar biasanya dikenali dengan rasa sakit pada lokasinya dan penurunan fungsi
ekstremitas. Palpasi menegaskan pembengkakan lokal dan nyeri. Pasien biasanya tidak
dapat menggunakan otot atau mengalami penurunan fungsi karena sakit di ekstremitas
yang terkena. Jika pasien terlihat awal, memar yang diperlakukan dengan membatasi
fungsi dari bagian yang cedera dan memberikan cold pack.
Luka kecil, terutama yang dihasilkan dari crush injury, mungkin signifikan. Ketika
terkena gaya yang sangat kuat pada ekstremitas, dapat terjadi devaskularisasi dan
kerusakan otot mungkin terjadi dengan hanya luka kulit kecil.
Risiko tetanus meningkat dengan luka yang berusia lebih dari 6 jam, yang memar dan /
atau terkelupas, sedalam lebih dari 1 cm, luka tembak, luka bakar, dan khususnya luka
bakar dan luka dengan denervasi atau iskemik jaringan.
b. Cedera Sendi
Injury/cedera
Cedera sendi yang tanpa dislokasi (sendi pada konfigurasi anatomis yang normal namun
terdapat cedera ligamentum) biasanya non limb-threatening. Bagaimanapun cedera
injury dapat menuruknkan fungsi dari anggota tubuh.
Pemeriksaan
Dengan cedera sendi, pasien biasanya mengatakan adanya kelainan pada sendi, seperti
cedera pada tibia anterior yang menyebabkan subluksasi lutut ke posterior, cedera pada
aspek lateral kaki yang mengakibatkan strain valgus pada lutut, atau jatuh ke lengan yang
terulur yang menyebabkan cedera hiperekstensi pada siku.

Pemeriksaan fisik menunjukkan nyeri pada ligament yang cedera. Biasanya terdapat
hemarthrosis, kecuali terdapat kerusakan dari kaspul sendi dan perdarahan difus ke
jaringan lunak. Pemeriksaan pasif pada ligament menunjukkan instabilitas.
Pemeriksaan X-ray biasanya menunjukkan cedera yang tidak signifikan. Walau
bagaimanapun, adaya fraktur avulsi kecil dari insersi atau origo ligamentu dapat tampak
pada pemeriksaan radiolgis.
Penatalaksanaan
Dilakukan immobilisasi, kemudian dilakukan pemeriksaan ulang status vaskularisasi dan
neurologis dari anggota tubuh yang terkena cedera pada bagian distalnya.
c. Fraktur
Injury/cedera
Fraktur didefinisikan sebagai terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang
rawan. Dapat berhubungan dengan gerakan abnormal, beberapa bentuk cedera jaringan
lunak, krepitus, dan nyeri. Fraktur dapat terbuka atau tertutup.
Pemeriksaan
Pemeriksaan ekstremitas menunjukkan rasa sakit, pembengkakan, deformitas, krepitasi,
dan gerak abnormal pada lokasi fraktur. Evaluasi krepitasi dan gerak abnormal pada
lokasi fraktur terkadang diperlukan untuk menegakkan diagnosis, tetapi hal ini
menyakitkan dan berpotensi dapat meningkatkan kerusakan jaringan lunak. Tes
diagnostik ini tidak harus dilakukan secara rutin atau berulang-ulang. Biasanya
pembengkakan, nyeri, dan deformitas cukup untuk mengkonfirmasi fraktur. Penting
untuk secara berkala meninjau kembali status neurovascular, terutama jika sudah
dipasang bidai.
Foto X-ray dilakukan untuk mengkonfirmasi riwayat dan pemeriksaan fisik. Tergantung
dari status hemodinamik pasien, pemeriksaan X-ray mungkin perlu ditunda hingga
kondisi pasien stabil. Foto X-ray harus memasukkan bagian proksimal dan distal fraktur
untuk menyingkirkan occult dislocation dan cedera lainnya.
Penatalaksanaan

Immobilisasi harus termasuk pada sendi proksimal dan distal dari fraktur. Setelah dibidai,
status neurologis dan vaskularisasi dari ekstremitas bagian distal harus diperiksa kembali.

Gambar X-ray pada fraktur


Tipe klasifikasi Fraktur:

Deskripsi anatomik

AO (Arbeitsgemeinschaft fr Osteosynthesefragen) classification

Salter-Harris classification

Gustilo open fracture classification

Deskripsi anatomik
-

Comminution
Non-comminuted or mildly comminuted or severely comminuted
Lokasi
Displacement
Dapat displaced / non-displaced

Dibagi

translation,

angulation,

and

AO (Arbeitsgemeinschaft fr Osteosynthesefragen) classification

Cara penulisan:

1st number = tulang panjang

2nd number = segmen tulang

Huruf = Tipe fraktur (A,B,C)

Kemudian nomor 3rd & 4th mengklasifikasikan group & subgroup fraktur

shortening

Salter-Harris classification

Hanya digunakan pada pasien fraktur pediatrik yang mengenai growth plate (physis). Terdapat 5
tipe (I-V):
Tipe

Salter-Harris classification

Fraktur di sekitar physis tanpa cedera metafiseal


atau epifiseal

II

Fraktur disepanjang physis yang memanjang ke


metafise

III

Fraktur disepanjang physis yang memanjang ke


epifise

IV

Fraktur yang mengenai metafise, physis, dan


epifise

Crush injury pada physis

Klasifikasi Fraktur terbuka menurut Gustillo dan Anderson:


Tipe
I
II
III

Batasan
Luka bersih dengan panjang luka < 1 cm
Panjang luka > 1 cm tanpa kerusakan jaringan lunak yang berat
Kerusakan jaringan lunak yang berat dan luas, fraktur segmental terbuka, trauma
amputasi, luka tembak dengan kecepatan tinggi, fraktur terbuka di pertanian, fraktur yang

IIIA

perlu repair vaskuler dan fraktur yang lebih dari 8 jam setelah kejadian
Periosteum masih membungkus fragmen fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang

IIIB

luas
Kehilangan jaringan lunak yang luas, kontaminasi berat, periosteal striping atau terjadi

IIIC

bone expose
Disertai kerusakan arteri yang memerlukan repair tanpa melihat tingkat kerusakan
jaringan lunak.

Menurut hubungan dengan jaringan ikat sekitarnya.

Fraktur Simple

: fraktur tertutup

Fraktur Terbuka : bone expose


Fraktur Komplikasi : kerusakan pembuluh darah, saraf, organ visera

Menurut Mansjoer dan Appley Solomon fraktur diklasifikasikan menjadi :

1. Berdasarkan garis patah tulang


a. Greenstick, yaitu fraktur dimana satu sisi tulang retak dan sisi lainnya bengkok.
b. Transversal, yaitu fraktur yang memotong lurus pada tulang.
c. Spiral, yaitu fraktur yang mengelilingi tungkai/lengan tulang.
d. Obliq, yaitu fraktur yang garis patahnya miring membentuk sudut melintasi tulang

2. Berdasarkan bentuk patah tulang


a. Complet, yaitu garis fraktur menyilang atau memotong seluruh tulang dan fragmen tulang
biasanya tergeser.
b. Incomplet, meliputi hanya sebagian retakan pada sebelah sisi tulang.

c. Fraktur kompresi, yaitu fraktur dimana tulang terdorong ke arah permukaan tulang lain.
d. Avulsi, yaitu fragmen tulang tertarik oleh ligamen.
e. Communited (Segmental), fraktur dimana tulang terpecah menjadi beberapa bagian.
f. Simple, fraktur dimana tulang patah dan kulit utuh.
g. Fraktur dengan perubahan posisi, yaitu ujung tulang yang patah berjauhan dari tempat yang
patah.
h. Fraktur tanpa perubahan posisi, yaitu tulang patah, posisi pada tempatnya yang normal.
i. Fraktur Complikata, yaitu tulang yang patah menusuk kulit dan tulang terlihat

VI.

Prinsip Immobilisasi
Membidai trauma ekstremitas bila tidak mengancam nyawa , bisa ditunda sampai
secondary survey. Setelah pemasangan bidai dan meluruskan fraktur harus dilakukan
pemeriksaan status neurovaskular. Pemasangan yang lama(lebih dari 2 jam) pada tungkai
penderita dengan hipotensi dapat menimbulkan sindroma kompartemen.
Long spine board digunakan untuk penderita trauma multiple dengan dugaan trauma
spinal yang tidak stabil, namun karena dasarnya yang keras apalagi bil di pakai tanpa
bantalan dapat menumbulkan dekubitus pada oksiput, scapula, sacrum dan tumit. Karena
itu secepat mungkin penderita dipindahkan ke tempat yang lebih lembut dengan memakai
scoop stretcher atau cara log rolling.

Fraktur femur

Fraktur femur dilakukani imobilisasi sementara dengan traction splint. Traction splint ini
menarik bagian distal tungkai di atas kulit pergelangan kaki. Di proksimal, traction splint
didorong ke pangkal paha melalui ring yang menekan bokong, perineum dan pangkal
paha. Tarikan yang berlebihan akan merusak kulit pada kaki, ankle, pangkal paha dan
perineum. Gangguan neurovaskular terjadi karena tarikan saraf perifer. Fraktur kolum
femoris dapat dilakukan imobilisasi dengan traction splint, tetapi lebih nyaman dengan
traksi kulit atau traksi sepatu busa dengan posisi lutut sedikit fleksi. Cara paling
sederhana adalah membidai tungkai yang trauma dengan tungkai sebelahnya.

Cedera lutut

Pemakaian bidai lutut atau log leg splint atau gips dapat membantu kenyamanan dan
stabilitas. Tungkai tidak boleh dilakukan imobilisasi dalam ekstensi penuh, melainkan
dalam fleksi kurang lebih 10 derajat untuk menghindari tekanan pada struktur
neurovascular.

Fraktur tibia

Fraktur tibia sebaiknya dilakukan imobilisasi dengan cardboard atau metal gutter, long
leg splint. Jika tersedia dapat dipasang gips dengan imobilisasi meliputi tungkai bawah,
lutut dan ankle.

Fraktur ankle

Fraktur ankle di imobilisasi dengan bidai bantal dengan demikian menghindari tekanan
pada daerah tulang yang menonjol

Cedera lengan dan tangan

Tangan dapat dibidai sementara dalam posisi anatomis fungsional, dengan pergelangan
tangan sedikit dorsofleksi dean jari-jari fleksi 45 derajat pada sendi metakarpofalangeal.
Posisi ini diperoleh dengan imobilisasi tangan dengan rol kasa dan bidai pendek.
Lengan dan pergelangan tangan di imobilisasi datar pada bidai dengan bantalan. Siku di
imobilisasi pada posisi fleksi, memakai bidai dengan bantalan atau langsung di
imobilisasi ke badan memakai sling dan swath. Lengan atas di bidai dengan sling dan
swath atau ditambah balutan torako-brakial. Bahu dilakukan imobilisasi dengan sling dan
swath atau balutan valpeau.
Trauma Penyerta
Langkah untuk memastikan adanya trauma penyerta dan pengelolaannya :

Periksa riwayat trauma, terutama mekanismenya untuk memnentukan cidera lain

yang mungkin ada

Periksa ulang semua ekstremitas dengan perhatian khusus untuk tangan,


pergelangan tangan, kaki dan sendi di atas dan di bawah fraktur atau dislokasi

Periksa punggung penderita, termasuk tuolang belakang dan pelvis. Perlukaan dan
kerusakan jaringan lunak yang menunjuk ketidak stabilan, harus di catat.

Periksa ulang foto rontgen yang telah dilakukan pada secondary survey, untuk
menemukan trauma tersembunyi yang mungkin menyertai cidera yang tampak jelas.

TRAUMA
Fraktur klavikula

TRAUMA PENYERTA
Trauma torakal berat, khususnya kontusio

Fraktur scapula

paru dan fraktur iga

Dislokasi/ fraktur sendi bahu


Fraktur vertebra torakalis displaced
Fraktur spinal
Fraktur/ dislokasi sendi siku

Ruptur aorta torakalis


Trauma intraabdominal
Trauma a.brakialis, n.radialis ulnaris dan

Fraktur pelvis berat(mobil)


Fraktur pelvis berat(motor)
Fraktur femur

medianus
Trauma abdomen, torakalis atau kepala
Perdarahan pelvis
Fraktur kolum femoris dislokasi

Dislokasi lutut posterior

Sendi panggul posterior


Fraktur femur dislokasi

Dislokasi lutut atau faktur plateau tibia yang

Sendi panggul posterior


Trauma arteri atau n.poplitea

displaced
Fraktur kalkaneus
Fraktur terbuka

Fraktur spinal atau plateau tibia


Trauma penyerta yang bukan skeletal

Daftas Pustaka
AAPC. (2013). Fracture Classification in ICD-10-CM. AAPC.
American College of Surgeons. (2012). Advanced Trauma Life Support ATLS Student Course
Manual (9th ed.). Chicago, United States of America: American College of Surgeons.
AOTRAUMA. Mller AO Classification.

Brix, M. (2014). Principles for treatment of. Dept. Of Orthopaedics and Traumatology,
Odense University Hospital.
Fildes, John, MD, FACS. 2008. ATLS Student Course Manual Eight Edition. United States :
American College Of Surgeon
Froberg, L. (2013). Fracture Classification. Odense University Hospital.