Anda di halaman 1dari 26

OKTOVIANUS KOIBUR

UNIVERSITAS CENDERAWASIH

BAB . I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Mekanika tanah adalah ilmu yang alam perkembangan selanjutnya yang akan mendasari dalam
analisis dan desain perencanaan suatu pondasi agar suatu bangunan dapat berfungsi secara sempurna,
maka seorang insenyur harus bisa membuat perkiraan dan pendugaan yang tepat tentang kondisi
tanah dilapangan.
Ilmu mekanika tanah sangat berguna untuk memecahkan masalah-masalah Pada bidang
rekayasa . Karena tanah merupakan suatu dasar dari konstruksi. Sebelum menentukan pondasi dari
suatu konstruksi, maka perlu diketahui dahulu daya dukung tanah, pola distribusi tegangan didalam
tanah, atau penurunan pondasi dan sebagainya. Sifat-sifat tanah meliputi asal usul tanah (origin),
penyebaran ukuran butir, kemampuan mengalirkan air, sifat kepadatannya (Compressibility),
kekuatan gesernya, sensitifitasnya, kapasitas daya dukung dan lain-lain.
Perlu pula diketahui bahwa dalam kajian dan analisisuntuk proyek konstruksi seringkali
tidaklah begitu penting untukmengetahui semua sifat-sifat indeks tanah. Data sifat-sifat tanah yang
diperlukan bergantung pada informasi seberapa banyak data tersebut benar-benar dibutuhkan.
Sebagai contohnya, analisis mineral lempung memerlukan alat khusus yang mana data ini tidak
diperlukan langsung untuk perancangan fondasi, kecuali pada kondisi yang tertentu. Untuk tanah
organik, kandungan bahan organic sangat penting untuk diketahui karena dapat mempengaruhi
kekuatan dan pemampatan.
Untuk semua tanah pada umumnya, gambaran tentang tanah hendaknya juga menyangkut
warnanya. Warna ini dapat mengindikasikan komposisi mineral dan juga sangat berguna untuk
menentukan keseragaman (homogeneity) endapan tanah serta dapat pula sebagai bantuan untuk
identifikasi dan kaitannya selama konstruksi di lapangan.

1 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

1.2.PENGERTIAN MEKANIKA TANAH


Mekanika Tanah adalah suatu cabang ilmu teknik yang mempelajari perilaku tanah dan sifatnya
yang diakibatkan oleh tegangan dan regangan yang disebabkan oleh gaya-gaya yang bekerja.
Banyak para ahli mendefenisikan istilah Tanah sebagai berikut :
Tanah adalah mineral yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak
tersedimentasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan bahan bahan organik yang telah
melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang
kosong antara partikel-partikel padat tersebut. (Braja M. Das dkk, 1993 : 1)
Tanah adalah kumpulan (agregat) butiran mineral alami yang bisa dipisahkan oleh suatu cara
mekanika bila agregat dimaksud diaduk dalam air. (Karl Terzaghi dan Raph B. Peck, 1993 : 4)
Tanah adalah campuran butir minral tanah berbentuk tidak teratur dari berbagai ukuran yang
mengandung pori-pori diantaranya. Pori-pori ini dapat berisi air jika tanah jenuh, air dan udara
jika jenuh sebagian dan udara saja jika keadaan kering. Butiran itu merupakan hasil batuan
secara mekanika dan kimiawi yang, dikenal sebagai pasir, kerikil, lanau dan lempung.
(Ir.Gunawan. T dan Ir. Margaret. S, 1997).

Menurut pemahaman saya dari pendapat dari para ahli diatas pada umumnya yang masuk pada
bidang mekanika tanah adalah semua mineral atau bahan organik yang lapuk dan zat cair dan udara
yang mengisih ruang kosong antara partikel, partikel tersebut tidak melekat erat dan mudah di
pisahkan, berukuran kerikil sampai lempung yang berfungsi sebagai tempat pondasi bertumpuh.

1.3.MAKSUD DAN TUJUAN


1.3.1.Maksud
Ada pun maksud dari praktikum ini adalah untuk memberi bekal bagi mahasiswa dalam
bidang Mekanika Tanah. Mekanika Tanah merupakan salah satu syarat kurikulum Semester III di
Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Cenderawasih UNCEN Jayapura.
1.3.2.Tujuan
Ada pun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa dapat memahami mekanisme pemboran dan alat hand bor
2. Mahasiswa dapat mempelajari sifat sifat tanah

2 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

BAB. II
DASAR TEORI
2.1.PENGUJIAN YANG DILAKUKAN
2.1.1.Acara.I.Pemboran Tangan
1. Pengoperasian Alat
Pengeboran tangan di pergunakan berbagai macam Auger pada bagian bawah dan
serangkaian stang bor dan mempunyai tangkai (handel) yang dipakai untuk memutar
alat tersebut. Dalam beberapa hal tersebut seiring Three Pot (kaki tangan) dengan
kontrol tali yang dipakai untuk mencabut kembali stang-stang dengan auger dari lubang
tersebut. Penggunaan three pot pada pemboran tanah untuk kedalaman yang mencapai
10-20 meter.
Bor tangan hanya dapat dilakukan pada bahan-bahan lunak seperti lempung lunak
(shaft) samapai teguh (feep) dan tidak munkin dilakukan pemboran pada batu lunak
(sofgh bate) atau kerikil padat (lengse gravel). Bor auger yang paling umum dipakai
dalampemboran tangan adalah auger type IWAN. Shealby tube adalah serangkaian
alat yang disambung antara stang bor dengan pemegang tabung contoh (sampler tube).
Dan tabung tabung contoh yang bisa dipakai mempunyai diameter antara 6 7 dan 10
cm.
Derajat kerusakan contoh contoh tanah yang diambil dengan menggunkan tabung
contoh ini tergantung pada hal berikut :
Keadaan dan ukuran tabung contoh :
Perbandingan luas yang lebih dari 10% yaitu :

2 2 2 1
2 1

= 10%

Keterangan : d1

= Diameter () dalam tabung

D0

= Diameter () dalam tabung

= Tabel diding harus setipis mungkin

= Permukaan dalam dan luar dari tebung harus licin

= Ujung pemotong tabung harus cukup terpelihara serta


mempunyai bentuk dan ukuran tertentu.

3 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2. Cara Pelakasanaan
Tabung contoh sebaiknya ditekan kedalam tanah secara langsung atau di pukul/di
tumbuk.
3. Cara Membuat dan Membersihkan Lubang Bor
Tanah pada dasar lubang harus betul-betul asli dan sebelum tabung di masukan,
kotoran serta lumpur yang ada terlebih dahulu di keluarkan dari lubang bor. Sebelum
tabung bor dikeluarkan dari tanah, hendaknya dibiarkan beberapa menit dengan maksud
memberi kesempatan bagi terjadinya penkanaan tanah dengan permukaan dinding
tabung, kemudian tabung contoh diputar kira-kira 1800/3600untuk mencegah tanah pada
dasar lubang bor tidak lepas saat dicabut.
Setelah contoh diambil dari lubang, kemudian tabung contoh tersebut ditutup
dengan paraffin/lilin pada dua ujungnya untuk mencegah terjadi pengeringan dan
kemudian di bawa ke laboratorium untuk di uji.
4. Prosedur Cara Pengambilan Contoh Tanah Dengan Mengunkan Tube
a. Dasar lubang bor harus dibersihkan dengan hati-hati
b. Kedalaman lubang bor harus di ukur dengan tepat
c. Mencegah jang sampai berubah muka air di dalam lubang bor
d. Menjaga dan ukurlah panjang contoh tanah di dalam tanah Shelby tube
e. Masukan tabung ke dasar lubang bor
f. Tandailah batas roods menjadi beberapa titik tetap (casing/stang)
g. Tekan perlahan-perlahan shelby tube sampai terisi kira-kira 75%
h. Putarlah tabung dengan perlahan-lahan untuk memotong dasar dari contoh tanah
i. Dengan perlahan-lahan dan hati-hati angkatlah sampel keatas dan lepaslah tabung
dari pegangannya dan bersihkan
j. Berilah penomoran pada setiap tabung contoh dan kedua ujung tabung di beri
paraffin dan dibungkus dengan plastik/kertas perak kemudian di simpan ditempat
sejuk.

4 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2.1.2.Acara.II.Pengujian Kadar Air


1. Tujuan :
Cara uji kadar air (moisture content) digunakan untuk mengetahui kadar air yang
terdapat didalam pori-pori suatu contoh tanah.
2. Prinsip :
Kadar air tanah dapat ditntukan dari perbandingan antara berat air yang terkandung
dalam pori-pori butir tanah dengan berat tanah itu sendiri setelah di keringkan pada
kondisi standar.
3. Bahan :
Bahan (benda uji) yang dibutuhkan untuk pemeriksaan kadar air tanah tergantung pada
ukuran butir maksimum dari contoh yang diperiksa, seperti pada tabel dibawah ini.
Ukuran butir maksimum

Jumlah benda uji maksimum

1000 gram

Lewat saringan nomor 10

100 gram

Lewat saringan nomor 40

10 gram

4. Peralatan :
Peralatan yang digunkan untuk pengujian terdiri dari :
1. Oven yang dilengkapi dengan termostat
2. Krus aluminium
3. Timbangan dengan ketelitian 0,001 gram
4. Desikator
Persiapan : contoh tanah dipersiapkan sesuai dengan tabel tersebut diatas,
5. Prosedur :
a. Timbang krus aluminium (W1) dan catat beratnya
b. Masukan benda uji kedalam krus aluminium dan timbang beratnya (W2)
c. Tutup krus aluminium dibuka, kemudian

masukan kedalam oven dengan

temperature 1000 C slama 24 jam.


d. Keluarkan krus aluminium dari oven, tutup krus dipasang kembali dan didinginkan
dalam desikator selama kurang lbih 15 menit.
e. Setelah dingin timbang dan catat beratnya (W3)

5 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

Catatan :
1. Berat benda uji dan neraca yang dipakai harus disesuiakan dengan butiran tanah
maksimum agar di dipakai hasil yang teliti.

2. Jika tidak tersedia oven pengeringan, maka pengeringan dapat di lakukan dengan
cara:
-

Digoreng diatas kompor

Dibakar langsung setelah disiram dengan spiritus (khusus untuk tanah yang yang
tidak mengandung bahan yang mudah terbakar).

Mengunakan Speedy Moisture test.

3. Masing-masing krus aluminium dan tutupnya harus diberi tanda yang jelas agar
tidak tertukar
4. Pada waktu menimbang, tutup krus aluminium selalu terpasang
5. Untuk mendapat hasil yang dapat dipercaya, setiap sampel tanah di uji sebanyak 5
kali.
Perawatan :
1. Bersihkan krus aluminium kedap air segera setelah percobaan selesai
2. Jemur silica gel yang berada dalam desicator secara berkala untuk menghilangkan
air yang diserapnya.

6 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2.1.3.Acara.III.Besar Butir (Analisis Ayakan)


1. Tujuan :
Pemeriksaan ini dimaksud untuk menentukan pembagian ukuran butir (gradasi) dari tanah
yang lewat saringan nomor 40.
2. Peralatan :
Peralatan yang digunkan untuk pengujian terdiri dari :
a. Mesin ayakan (sive sheker)
b. Saringan nomor 20, 40, 70, 140, 200
c. Neraca analitik dengan tingkat ketelitian 0,001 gram
d. Pan untuk penimbangan
e. Alat pembagi seperti cone quartering dan splitter
f. Oven dilengkapi dengan thermostat pengatur suhu untuk mengatur pemanas 1100 C
3. Prosedur :
a. Benda uji di jemur atau di oven sampai kering
b. Bila banyak di lakukan core quartring atau splitter untuk mendapatkan yang reprsentatif
c. Timbang 100 gram dan disaring
d. Dan tiap saringan di timbang berat tertahan tiap mesh
e. Hitung persen berat lolos tiap mesh
Perawatan :
a. Setelah selesai dipakai, segera bersihkan saringan dengan mengunakan sikat yang halus
dan ditiup dengan kompresor
b. Lumasi oli bagian bagian dari mesin ayakan yang bergerak secara berkala
c. Kencangkan semua baut yang kendor
d. Apabila goncangan terlalu keras dan berisik, purat sedikit tiang penggantung agar
posisinya segera dengan sentrik. Atur ruang kosong antara sentrik dan coakan alat
pengguncang agar tidak terlalu rapat lalu oleskan stempt secukupnya.

7 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2.1.4.Acara.IV.Pengujian Berat Jenis


1. Tujuan :
Cara uji berat jenis tanah (specific gravity) digunakan untuk menentukan berat jenis tanah
yang mempunyai butiran lewat saringan nomor 10 dengan mengunakan alat picnometer.
2. Prinsip :
Berat jenis tanah dapat di perbandingkan dengan cara memperbandingkan antara berat butir
tanah tersebut dengan berat air suling (aquades) yang mempunyai isi yang sama pada suhu
standar.
3. Bahan :
Bahan (benda uji) yang dibutuhkan untuk pemeriksaan brat jenis tanah terdiri dari :
a. Contoh lolos saringan nomor 10 yang didapat dengan cara perempat (con qatering)
b. Air suling
4. Peralatan :
Peralatan yang digunakan pada pengujian berat jenis terdiri dari :
a. Picnometer dengan kapasitas minimum 100ml
b. Desikator
c. Oven yang dilengkapi dengan pengaturan suhu tetap
d. Neraca dengan ketelitian 0,001 garam
e. Termometer ukuran 0 500 C dengan ketelitian pembacaan 10 C
f. Saringan nomor 4 dan nomor 10 dan penadanya
g. Botol semprot yang berisi air suling
h. Bak perendam
i. Alat pemanas atau (hot plate)
j. Mortal dan penumbunya
5. Prosedur :
a. Timbang berat picnometer dan tutupnya (kosong) catat beratnya
b. Masukan benda uji kedalam picnometer dan timbang bersama dengan tutupnya dan catat
beratnya
c. Tambahkan air suling sehingga picnometer terisi 2/3
d. Untuk bahan yang mengandung lempung, diamkan benda uji terendam selama paling
sedikit 24 jam
e. Didikan isi picnometer dengan hati-hati (tutupnya dilepas) selama minimal 10 menit dan
miringkan botol sekali-kali untuk membantu mengeluarkan udara yang tersekap.
8 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

f. Kemudian dinginkan sampai suhu kamar dan isilah picnometer dengan air suling sampai
penuh atau biarkan picnometer beserta isinya terendam dalam bejana air sampai suh
konstan. Ukur dan catat suhu air dalam picknometer kemudian tutup botonya di pasang
dan timbang berat dengan ketelitian 0,001 gram
g. Bila isi picnometr belum diketahiu maka tentukan isinya. Isi picnometer dengan air
suling sampai penuh dan tutup, suhu kamar dengan ketelitian 0,001 gram
h. Keringkan bagian luarnya dan timbangt dengan ketelitian 0,001 gram
i. Pemeriksaan dilakukan dua kali
Perawatan :
Bersihkan picnometer segera setelah selesai percobaan untuk menghindari kotoran yang
melekat

9 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2.1.5.Acara. V.Batas batas Atterberg


2.1.5.a.Pengujian Batas Cair
1. Tujuan :
Cara uji batsa cair (liquid limit) contoh tanah di gunakan untuk menentukan kadar air
tanah tersebut pada kedalaman batas cair.
2. Prinsip :
Contoh tanah tercampur air sehingga menjadi satu pasta di uji dalam Casagrande
Apparatus, kemudian di potong Standar Grave dan dijatuhkan dengan tinggi 1 cm,
maka tanah dalam keadaan bats cair apabila 25 kali jatuh sepanjang 12,70 mm
3. Bahan :
Bahan yang digunkan untuk uji bats cair terdiri dari :
-

Contoh uji lolos saringan nomor 40 sebanyak 200 gram

Air suling sebanyak 200 ml

4. Peralatan :
Peralatan yang digunakan untuk pengujian terdiri dari :
a. Alat batas cair standar (Casagrande Apparatus)
b. Alat pembuat alur (Standar Grove)
c. Sendok dempul
d. Plat kaca
e. Timbang dalam keterlitian 0,001 gram
f. Cawan kadar air minimal 4 buah
g. Spatula dengan panjag 12,5 cm
h. Botol tempat air suling
i. Oven yang dilngkapi dengan thermostat
5. Prosedur :
a. Letakan 150 gram fraksi yang lolos saringan nomor 40, peralatan dan bahan
lainya
b. Dengan mengunkan spatula, adulah benda uji tersebut dengan menambah air
suling sedikit demi sedikit sampai homogen
c. Setelah contoh menjadi campuran yang merata, ambil sebagian benda uji ini dan
letakan diatas mangkok dan batsa cair. Ratakan permukaannya sehingga sejajar
dengan dasar alat, bagian yang tebal harus 1 cm
10 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

d. Buat jalur dengan jalan membagi benda uji menjadi dua bagian dengan
menggunakan alat Grooving tool
e. Putarlah alat dengan kecepatan 120 rpm, pemutaran ini dilakukan terus sampai
dasar alat bersinggung sepanjang 12,70 mm, catat jumlah jatuhnya dan periksa
kadar airnya.
f. Ulangi langka b sampai e dengan variasi kadar air yang berbeda sampai minimal
3 kali. Usahakan di peroleh jumlah pukulan 40 47, 30 40, 20 30, 10 20.
Cara perhitungan :
Hasil hasil yang diperoleh berupa jumlah pukulan dan kadar air yang bersangkutan
kemudian digambarkan dalam bentuk grafik. Jumlah pukulan sebagai sumber
mendatar dengan skala logaritma, sedangkan besar kadar air sebagai sumbu tegak
dengan skala biasa.
Buatlah grafiklurus melalui titik-titik itu. Jika tenyata tidak terletak pada garis lurus,
maka buatlah gari lurus mlalui titik berat dari titik-titik tersebut. Tentukan besarnya
kadar air pada pukulan 25 dan kadar air inilah yang merupakan batas cair (liquid
limit) dari benda uji tersebut.
Perawatan :
1. Bersihkan peralatan segera setelah percobaan selesai
2. Lumasi pen penggantung mangkok supaya bisa bergerak dengan bebas
3. Kencangkan baut (borg) penjepit sentrik agar bisa berputar sesuai dengan
kecepatan putaran tuas (tidak slip)
2.1.5.b. Pengujian Batas Plastis
Pemeriksaan ini dimaksud untuk menentukan kadar air suatu tanah pada keadaan bats
plastis. Batas plastis adalah kadar air minimum dimana suatu tanah masih dalam
keadaan plastis.
1. Peralatan :
a. Plat kaca 45 x 45 x 0,9 cm
b. Batang perbandingan dengan diameter 3 mm, panjang 15 cm
c. Neraca dengan ketlitian 0,001 gram
d. Cawan untuk menentukan kadar air 2 buah
e. Botol semprot berisi air suling
f. Oven yang dilengkapi dengan termostat
Benda uji : siapkan contoh saringan nomor 40 sebanyak 30 gram
11 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2. Prosedur :
a. Letakan benda uji diatas plat kaca, kemudian diadug sampai kadar airnya
merata
b. Setelah kadar airnya merata, geleng-gelnglah diatas plat kaca sampai diameter
3mm.
c. Apabila sebelum diameter 3 mm sudah retak, maka benda uji disatukan
kembali dan di tambah air sedikit diaduk sampai merata. Apabila sudah
mencapai 3 mm belum menunjukan keretakan, maka benda uji dibiarkan
beberapa saat di udara agar kadar airnya berkurang sedikit.
d. Pengadukan dan penggelengan diulangi terus sampai retakan-retakan itu terjadi
pada saaat gelengan berdiameter 3mm
e. Periksa kadar air batang tanah pada kondisi (d) dilkukan dua kali pemeriksaan

12 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2.2. ANALISIS
2.2.1.Cara Perhitungan Kadar Air
Untuk menghitung kadar air dari contoh uji maka hal yang harus di lakukan ialah :
1. Timbang cawan kosong sebagai nilai (W1).
2. Timbang cawan yang telah di isi contoh basah sebagai nilai (W2).
3. Timbang cawan yang telah di isi contoh yang basah yang telah dikeringkan sebagai
nilai (W3).
4. Hitung nilai berat air dengan cara (W2 W3).
5. Hitung nilai berat contoh kering dengan cara (W3 W1).
6. Dan hitung nilai kadar air dengan cara berat air di bagi dengan berat contoh kering
hasilnya dikalikan dengan 100%.
2.2.2.Cara Perhitungan Besar Butir (Analisis Ayakan)
Untuk menghitung Besar Butir dari contoh uji maka hal yang harus di lakukan ialah :
1. Tentukan berat contoh uji yang akan digunakan
2. Timbang berat contoh yang tertahan pada mesh 20(0,85/Pasir sangat kasar), mesh
40(0,425/Pasir kasar), 70(0,212/Pasir sedang), 140(0,106/Pasir halus), 200(0,075/Pasir
sangat halus) dan Pan (Bahan sangat halus). (Sistem Klasifikasi Unified)
3. Jumlahkan berat contoh yang tertahan pada tiap mesh dan pan
4. Dan hitung nilai persen tertahan pada tiap mesh dan pan dengan cara berat contoh
tertahan pada tiap mesh di bagi dengan berat contoh uji yang digunakan dan dikalikan
dengan 100%
5. Hitung persen lolos dengan cara berat contoh uji dikurang dengan persen tertahan pada
tiap mesh

13 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2.2.3.Cara Perhitungan Berat Jenis


Untuk dapat menghitung berat isi dari contoh uji maka yang harus di lakukan ialah :
1. Timbang picnometer kosong untuk mendapatkan nilai dari (W1)
2. Timbang picnomter yang sudah di isi oleh contoh uji untuk nilai (W2)
3. Hitung nilai berat contoh (W3) dengan cara (W2 W1)
4. Timbang berat picnometer, contoh tanah dan air yang di isi 2/3 dari volume picnometer
untuk nilai (W5)
5. Timbang berat picnometer dan air yang di isi penuh untuk mendapatkan nilai (W4)
6. Hitung berat isi contoh (W6) dengan cara (W5 W4)
7. Hitung berat semu (W7) dengan cara (W3 W6)
8. Ukur suhu rungan/kamar yang telah dikoreksi (a)
9. Untuk mendapatkan nilai dari berat jenis dari contoh uji adalah berat contoh (W3) di
kalikan dengan koreksi suhu kamar (a) di bagi dengan berat semu (W7)
2.2.4.Cara Perhitungan Batas batas Atterberg
Batas batas Atterberg meliputi Batas Cair dan Batas Plastis Untuk dapat menghitung
batas cair dan batas plastis dari contoh uji maka yang harus di lakukan ialah :
1. Timbang berat cawan kosong.
2. Timbang cawan dan contoh basah
-

Batas Cair

: Yang telah di pukul pada alat casagrande.

Batas Plastis : Yang telah di geleng geleng sampai mencapai diameter 3mm

3. Timbang cawan dan contoh kering.


4. Hitung berat air dengan cara berat cawan dan contoh basah kurang berat cawan dan
contoh kering.
5. Hitung berat contoh kering dengan cara berat cawan dan contoh kering di kurang berat
cawan.
6. Hitung kadar air dengan cara berat air dibagi dengan berat contoh kering di kalikan
denga 100%.

14 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2.3.RUMUS
2.3.1.Rumus Pengujian Kadar Air
Bebera rumus perhitungan Kadar air :
Berat air = W2 W3
Berat contoh kering = W3 W1
Kadar air =

(W2 W3)
100%
(W3 W1)

Keterangan :
W1 : Berat cawan

W3 : Berat cawan + contoh kering

W2 : Berat cawan + contoh basah


2.3.2.Rumus Pengujian Besar Butir (Analisis Ayakan)
Beberapa rumus perhitungan Besar butir :
Jumlah berat tertahan :
W(#i1) = W(#i1)
W(#40) = W(#20)+W(#40)
W(#70) = W(#40) + W(#70) dan seterusnya.
Persen tertahan pada mesh ke =

W(#i)
100%
Wc

Persen lolos = Wc W(#i1) W(#i2) dan seterusnya.


Keterangan : W(#i1) : Berat tertahan pada mesh pertama
W(#i)

: Berat tertahan pada mesh ke i (misalnya mesh no.20)

Wc

: Berat contoh uji yang dipakai dalam pengujian

2.3.3.Rumus Pengujian Berat Jenis


Cara perhitungan Berat Jenis dengan rumus :
Hitung berat jenis tanah dengan rumus :
=

.
+

Keterangan :

Ws

: Berat contoh kering (gram)

Wbw

: Berat Picnometer + air

Wbws : Berat Picnometer + contoh + Air


a

: Koreksi temperature (tc) pada suhu kamar

Koreksi temperature :
=

200
15 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

Keterangan :

= Berat isi air pada temperature

200C = Berat isi air pada temperature 200C


2.3.4.Rumus Pengujian Batas - batas Atterberg
Bebera rumus perhitungan Kadar air :
W4 = W2 W3
W5 = W3 W1

Kadar air =

W4
100%
W5

Keterangan :
W1 : Berat cawan

W4 : Beratair

W2 : Berat cawan + contoh basah

W5 : Berat contoh kering

W3 : Berat cawan + contoh kering

16 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

BAB . III
HASIL

3.1.ACARA.I.FORM PEMBORAN TANGAN


Pekerjaan : Pengambilan Sampel Tanah
Tanggal

: 08-01-2013

Tabel.3.1.Form Pemboran Tangan


Kedalaman (Cm)

0 25

25 - 50

50 75

75 100

100 120

Profil Tanah

Deskripsi
1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.

Warna
Ukuran Butir
Textur Tanah
Kepadatan
Kelembaban
Warna
Ukuran Butir
Textur Tanah
Kepadatan
Kelembaban
Warna
Ukuran Butir
Textur Tanah
Kepadatan
Kelembaban
Warna
Ukuran Butir
Textur Tanah
Kepadatan
Kelembaban
Warna
Ukuran Butir
Textur Tanah
Kepadatan
Kelembaban

: Coklat Abu abu


: Kasar
: Tidak seragam, Kompak
: Non kohesif
: Lembab
: Coklat Orange
: Kasar
: Tidak seragam, Kompak
: Non kohesif
: Lembab
: Coklat Orange
: Kasar
: Tidak seragam, Kompak
: Non kohesif
: Lembab
: Coklat Orange
: Halus
: Seragam, Kompak
: Kohesif
: Lembab
: Coklat pucat
: Kasar
: Seragam, Kompak
: Kohesif
: Lembab

Keterangan
LAB.5.a
Sampel tergangu

LAB.5.b
Sampel tergangu

LAB.5.c
Sampel tergangu

LAB.5.d
Sampel tergangu

LAB.5.e
Sampel tergangu

120 170

17 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

3.2.ACARA.II.PENGUJIAN KADAR AIR


Kedalaman

: 25 Cm sampai 50 Cm

Tanggal

:10-01-2013

Tabel.3.2.Pengujian Kadar Air


Nomor cawan

5.1.a

5.1.b

Berat cawan,(W1)

(gram)

11,2

12,6

Berat cawan + Contoh basah,(W2)

(gram)

51,2

62,6

Berat cawan + Contoh kering,(W3)

(gram)

41,4

50

Berat air,(W2-W3)

(gram)

9,8

12,6

Berat contoh kering,(W3-W1)

(gram)

30,2

37,4

Kadar air,((W2-W3)/(W3-W1)x100%)

(%)

32,45 %

33,69 %

Kadar air rata-rata

(%)

33,07 %

3.3.ACARA.III.PENGUJIAN BESAR BUTIR (ANALISIS AYAKAN)


Kedalaman

: 25 Cm sampai 50 Cm

Berat Contoh

: 100 gram

Tanggal

: 11-01-2013

Tabel.3.3.Analisis Ayakan
Persen (%)

Ukuran

Ukuran

Berat

Jumlah

Mesh

bukaan (mm)

tertahan (gram)

berat tertahan (gram)

Tertahan

Lolos

20

0,85

29,6

29,6

29,6

70,4

40

0,425

19,2

48,8

19,2

51,2

70

0,212

8,3

57,1

8,3

42,9

140

0,106

19

76,1

19

23,9

200

0,075

19

95,1

19

4,9

Pan

4,3

99,4

4,3

0,6

18 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

3.4.ACARA.IV.PENGUJIAN BERAT JENIS


Kedalaman : 25 Cm sampai 50 Cm
Tanggal

: 17-01-2013
Tabel.3.4.Pengujian Berat Jenis

Nomor Picnometer

5.1.a

5.1.b

Berat picnometer,(W1)

(gram)

65,9

50,7

Berat contoh + Picnometer,(W2)

(gram)

79,6

72,9

Berat contoh,(W3=W2-W1)

(gram)

13,7

22,2

Temperature

(0C)

29

29

Koreksi Temperature (a)

(tc)

0,9977

0,9977

Berat Picnometer+air,(W4)

(gram)

166,2

167,2

Berat Picnometer+Contoh +air,(W5)

(gram)

169,3

175

Berat isi contoh,(W6=W5-W4)

(gram)

3,1

7,8

Berat semu,(W7=W3-W6)

(gram)

10,6

14,4

Berat jenis (W3/W7 )

(gram)

1,29

1,54

Berat jenis rata-rata

(gram)

1,42

3.5.ACARA.V.PENGUJIAN BATAS ATTERBERG


Kedalaman : 25 Cm sampai 50 Cm
Tanggal

: 17-01-2013
Tabel.3.5.Pengujian Batas Atterberg

Batas

Cair

Jumlah pukulan
Nomor cawan

20

24

5.1.a.c

5.1.b.c

Plastis
39

47

5.1.c.c 5.1.d.c 5.1.a.p 5.1.b.p

Berat contoh basah+cawan

(gram)

37,7

21,5

21,6

20,7

19,6

17,5

Berat contoh kering+cawan

(gram)

31,2

19,3

19,3

18,6

18,5

16,8

Berat air

(gram)

6,5

2,2

2,3

2,1

1,1

0,7

Berat cawan

(gram)

13,5

13,4

13,1

13

13,4

13,2

Berat contoh kering

(gram)

17,7

5,9

6,2

5,6

5,1

3,6

Kadar air

(%)

36,7 %

37,2 %

22%

19%

37,1% 37,5%

21%

19 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

BAB . IV
PEMBAHASAN
4.1.Jenis Tanah Berdasarkan Pengujian Besar Butir
Sistem klasifikasi AASHTO membagi tanah kedalam 7 kelompok yaitu A-1 sampai A-7, dan
dari kelompok itu dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu tanah Granular (A-1, A-2 dan A-3),
yaitu tanah yang mengandung 35% atau kurang butiran yang lolos saringan 0,075 mm (No.
200), dan tanah lanau-lempung (A-4, A-5, A-6, dan A-7) , yaitu tanah yang mengandung lebih
dari 35% butir yang lolos saringan 0,075 mm (No. 200).
Untuk keperluan pendeskripsian, sering kali tanah dibagi menjadi lima fraksi sebagai berikut :

Bongkah (boulders) - butiran yang tertahan saringan 75 mm (3 in).

Kerikil (gravel) - butiran yang lolos saringan 75 mm (3 in) dan tertahan saringan 2 mm
(No. 10).

Pasir kasar (coarse sand)- butiran yang lolos saringan 2 mm (No.10) dan tertahan saringan
0,425 mm (No.40).

Pasir halus (fine sand) - butiran yang lolos saringan 0,075 mm (No.200).

Gabungan lanau (silt) dan lempung (clay)- butiran(No.200).0,425 mm (No. 40) dan
tertahan yang lolos saringan 0,075 mm (No.200)

Berdasarkan hasil pengujian besar butir didapat berapa jenis tanah dengan persen tertahan pada
saringan sebagai berikut :
-

Saringan No. 20

: 29,6 % (Pasir sangant kasar )

Saringan No. 40

: 19,2 % (Pasir kasar)

Saringan No. 70

: 08,3 % (Pasir sedang)

Saringan No. 140

: 19 % (Pasir halus)

Saringan No. 200

: 19 % (Pasir)

Yang lolos saringan No.200

: 04,3 % (Lanau Lempung)

Kelompok
Tanah Granular

Kelompok Lanau lempung

20 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
35

Persen tertahan (%)

30
25
20
15
10
5
0
20

40

70

140

200

>1000

Nomor Mesh (mm)

Grafik.4.1.Grafik Ukuran butir

4.2.Penamaan Berdasarkan Pengujian Batas Atterberg


Dari data pengujian Batas Atterberg, digambarkan grafik hubungan antara jumlah pukulan
dan kadar air lihat Grafik.4.2. Batas cair ditentukan sebagai kadar air pada jumlah pukulan n =
25, dari grafik diperoleh batas cair (LL) = 37 %. Dan indeks Plastis (PI) di tentukan dengan cara
: Indek plastisitas (PI) = Batas Cair (LL) Batas Plastis (PL)

38

Batas Cair
: 36,95 %
Batas Plastis : 21 %
Index Plastis : 15,95 %

Kadar air (%)

47; 37,5
24; 37,2

37

39; 37,1

20; 36,7

36
10

25

50

Jumlah
Pukulan Batas Cair
Grafik.4.2.Grafik
21 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

Grafik.4.2.Grafik Batas Cair

Sampel tanah yang di gunakan pada pengujian ini secara umum pada sistem klasifikasi
AASTHO adalah klasifikasi dengan symbol CL (lempung inorganic) lihat Grafik.4.3 yang terdiri
dari elemen lanau dan lempung (dengan batas cair 50%) dan plastisitas sample tanah yang
sedang (PI = 16%), serta viskositas tanah rendah. Perubahan volume tanah untuk kadar air
maksimum tidak akan terlalu besar, maka tanah ini dapat digolongkan pada kondisi semi padat.
Kondisi tanah ini pada kondisi plastisnya masih dapat ditoleransi, karena untuk
kecenderungan tergelincirnya sangat kecil mengingat rentang kadar airnya tidak terlalu besar
(Batas Cair < 50). Penurunan kadar air pada tanah (sample) tidak akan menyebabkan reduksi
volume yang terlalu besar juga. Keberadaan tanah ini di lokasi tempat pembangunan sangat
cocok untuk menunjang kekuatan berdirinya suatu bangunan. Untuk sejumlah massa tanah yang
besar (luas daerah yang besar) akan tidak mudah terjadinya longsor dan ambelasan, mengingat
kadar air tanah sample ini rendah.

22 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
100
Garis A
90
80

Indeks Plastis,IP (%)

70
CH & OH
60
50
40

CL & OL

30
MH & OH
20
CL-ML
10
CL

ML&OL

0
0

20

40

60

80

100

120

140

160

180

200

Batas Cair,LL (%)

Grafik.4.3.Grafik Plastisitas

23 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

BAB.V
PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Sampel tanah yang digunakan pada praktikum ini secara umum dikelompokkan / klasifikasikan
dalam tanah berbutir halus karena lebih dari 50% butiran yang tertahan pada ayakan mesh No.70, 40
dan 20 (AASTHO). Namun pada sampel ini relatif seragam dan perubahan besar butir yang tidak
terlihat terlalu berubah dengan drastis. Klasifikasi tanah pada sistem klasifikasi AASTHO adalah
klasifikasi dengan symbol CL (lempung inorganic) yang terdiri dari elemen lanau dan lempung
(dengan Batas cair 50 %) dan indeks plastisitas sample tanah yang sedang (PI = 16 %). Deskripsi
dan klasifikasi tanah adalah tanah semipadat, plastisitas rendah, dan didominasi oleh anorganik.
Pada praktikum dapat saja terjadi banyak kesalahan yang dapat saja terjadi, seperti terlalu keras
menumbuk / menghaluskan sample tanah, sehingga terdapat banyak butiran halus berukuran lempung
dan menyebabkan hasil kurang akurat, serta kesalahan-kesalahan kecil lainnya seperti penggilingan
pada uji plastis (sampai diameter 3mm), penimbangan sampel, dan lain sebagainya. Namun demikian
hasil yang diperoleh dari praktikum ini masih dapat ditoleransi untuk dijadikan data dengan hasil
yang merujuk pada keadaan sebenarnya dari sampel tersebut.

24 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

Lampiran :
1. Pengujian kadar air
Perhitungan mengunakan rumus
Diket : W1a : 11,2 gr

W1b : 12,6 gr

W2a : 51,2 gr

W2b : 62,6 gr

W3a : 41,4 gr

W3b : 50 gr

a. Berat air = W2 W3

b. Berat air = W2 W3

= 51,2 41,4

= 62,6 50

= 9,8

= 12,6

a. Berat contoh kering

= W3 W1

b. Berat contoh kering = W3 W1

= 41,4 11,2

= 50 12,6

= 30,2

= 37,4

W2W3

a. Kadar air = W3W1 100%


9,8

= 30,2 100% = 32,45%

Kadar air rata rata =

W2W3

b. Kadar air = W3W1 100%


12,6

= 37,4 100% = 33,69%

32,45% + 33,69%
= 33,07%
2

25 | 26

OKTOVIANUS KOIBUR
UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2. Pengujian Besar Butir


Perhitungan mengunakan rumus
Diket : Berat contoh : 100 gr
Jumlah berat tertahan :
W(#20)

= 29,6 gr

W(#40)

= 29,6 + 19,2 = 48,8 gr

W(#70)

= 48,8 + 8,3

= 57,1 gr

W(#140) = 57,1 + 19

= 76,1 gr

W(#200) = 76,1 + 19

= 95,1 gr

Pan

= 99,4 gr

= 95,1 + 4,3

Persen tertahan :
29,6
100% = 29,6 %
100
19,2
Mesh No. 40 =
100% = 19,2 %
100
8,3
Mesh No. 70 =
100% = 8,3 %
100
19
Mesh No. 140 =
100% = 19 %
100
19
Mesh No. 200 =
100% = 19 %
100
4,3
Pan
=
100% = 4,3 %
100
Mesh No. 20 =

Persen Lolos :
Mesh No.20 = 100 29,6 = 70,4 %
Mesh No.40 = 70,4 19,2 = 51,2 %
Mesh No.70 = 51,2 8,3

= 42,9 %

Mesh No.140 = 42,9 19

= 23,9 %

Mesh No.200 = 23,9 19

= 4,9 %

= 4,9 4,3

= 0,6 %

Pan

26 | 26