Anda di halaman 1dari 9

METODE HYPNOTEACHING DALAM PROSES PEMBELAJARAN SEBUAH DIKLAT

Adi Riyanto Suprayitno

ABSTRACT
One of the effective methods, nowdays, in teaching is hypnoteaching. Hypnoteaching is a
learning method that combines the art of teaching and the art of hypnotist. In other words,
hypnoteaching is the art of communication in the process of learning by exploring the
subconscious mind of training participants, so that training participants is brought to focus
condition, relax and suggestive in receiving the lesson.
Key words: Hypnoteaching, focus, relax, suggestive
PENDAHULUAN
Tercapainya tujuan pembelajaran, selain berasal dari diri peserta diklat, juga tidak
terlepas dari kemampuan widyaiswara menyampaikan bahan ajar. Widyaiswara dituntut untuk
dapat menjadi manajer yang baik di dalam suatu kegiatan pembelajaran agar apa yang menjadi
tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Widyaiswara harus mampu membangkitkan
motivasi, gairah, perhatian dan peserta diklat dalam belajar.
Pada kenyataannya dalam suatu kegiatan pembelajaran, terkadang widyaiswara
menjumpai peserta diklat-peserta diklat yang terlihat bosan dan lesu, dan sedikit sekali mau
berpartisipasi aktif untuk melibatkan diri dalam proses pembelajaran, atau malas menggunakan
pikiran untuk memecahkan persoalan yang dikemukakan di kelas.
Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya kondisi di atas. Faktor tersebut
dapat berasal dari peserta diklat, widyaiswara, maupun lingkungan belajar. Namun, apapun
penyebabnya, diharapkan widyaiswara mampu membawa peserta diklat mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan
metode pembelajaran yang efektif.
Banyak cara atau metode yang dapat diterapkan oleh widyaiswara agar proses
pembelajaran diklat dapat berjalan efektif, salah satunya adalah dengan menerapkan metode
hypnoteaching dalam proses pembelajaran. Cara mengajar dengan teknik hypnoteaching
terbilang efektif. Namun, masih banyak yang belum mengenal secara lebih dalam tentang
hypnoteaching. Dengan mengaplikasikan hypnoteaching dalam proses pembelajaran diklat,
informasi yang masuk langsung diterima oleh bagian otak yang berperan sebagai long term
memory, sehingga kapanpun akan digunakan oleh pesErta diklat, informasi tersebut dapat
dimunculkan kembali.

PENGERTIAN HYPNOTEACHING
Hypno berasal dari kata hypnosis yang berarti keadaan dimana seseorang berada
dalam kondisi trance, atau mudah menerima sugesti. Teaching merupakan kata dari bahasa
inggris, yaitu teach yang berarti mengajar. Dengan demikian, Hypnoteaching merupakan cara
pembelajaran atau cara mengajar dengan menggunakan unsur hypnosis, yaitu saat seseorang
bisa menerima sugesti dengan mudah.
Berbeda dengan Hypnoteraphy, saat melakukan hypnoteaching, klien (disini adalah
peserta diklat) berada dalam keadaan sadar seutuhnya-dengan mata terbuka. Tujuan utama
hypnoteaching adalah untuk membangunkan motivasi dalam diri setiap peserta diklat.
Penyebab tidak masuknya pengetahuan dari widyaiswara adalah karena pikiran peserta diklat
sedang terpecah atau tidak fokus. Disinilah penggunaan cara mengajar dengan teknik
hypnoteaching. Yaitu, dengan merilekskan pikiran peserta diklat agar pengetahuan yang
didapat bisa dipahami dengan baik. Kondisi rileks adalah kondisi ideal dalam sebuah proses
hypnosis sehingga berbagai sugesti (materi pembelajaran) dapat diserap dan disimpan dalam
long term memory (pikiran bawah sadar-subsconcious mind) dan terinternalisasi dalam diri
peserta diklat. Namun, perlu dipahami bahwa hypnoteaching bukanlah teknik yang dapat
menjadikan peserta diklat super pandai. Hypnoteaching hanyalah merupakan sebuah teknik
yang sangat membantu memudahkan dalam kegiatan pembelajaran.
Pada saat ini, harus diakui masih banyak persepsi negatif masyarakat terhadap
penggunaan hypnotis untuk pembelajaran, masih terdapat sebagian orang yang menganggap
bahwa teknik ini tidak sesuai dengan syariah, ada juga yang mengasumsikan bahwa bila
seseorang menggunakan hypnoteaching, maka dalam proses pembelajaran adalah bagaimana
membuat peserta diklat tidur dan mempengaruhinya tanpa sadar.
Hypnoteaching sebenarnya merupakan salah satu teknik yang menggabungkan antara
ilmu hipnosis, komunikasi, psikologi dan teknik pengajaran di kelas. Jadi teknik ini jauh dari
mistik maupun klenik. Banyak sekali definisi dari Hypnoteaching yang dibuat oleh para pakar,
namun definisi yang penulis rasa tepat yang merupakan perluasan pengertian yang penulis
dapatkan dari workshop dan pelatihan professional hypnoterapi adalah Seni berkomunikasi
dalam proses pembelajaran dengan cara mengekplorasi alam bawah sadar, sehingga peserta
diklat menjadi fokus, relaks dan sugestif dalam menerima matadiklat yang diberikan.

Hypnoteaching adalah salah satu pendekatan baru dalam dunia pendidikan,termasuk


kediklatan, khususnya dalam proses belajar mengajar. Sebenarnya baru disini bukan benarbenar baru karena pada hakekatnya, walaupun tanpa disadari, dalam sebuah proses
pembelajaran beberapa guru, dosen dan widyaiswara selama ini sudah menerapkannya.
RELAKSASI: FAKTOR UTAMA HYPNOTEACHING
Setiap proses pembelajaran sebaiknya dimulai dengan kesan pertama yang
menyenangkan. Suasana yang relaks, menyenangkan, dan menyegarkan membuat pikiran
bawah sadar peserta diklat siap menerima berbagai informasi. Untuk menuju ke kondisi
relaksasi peserta diklat, beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Suasana Kelas
Kondisi lingkungan sekitar hendaknya mendukung suasana pembelajaran, sekaligus
membuat peserta diklat menjadi relaks. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Apakah ruangan kelas dalam keadaan bersih atau kotor?

Bagaimana suasana bangku dan tempat duduk, apakah sudah tertata rapi atau
berantakan?

Apakah ruangan kelas kering atau lembab?

Apakah ada plafon yang bocor atau meneteskan air?

Apakah ruangan terlalu panas atau terlalu dingin?

Bagaimana penerangan di dalam kelas, apakah cukup terang atau gelap?

Bagaimana kondisi di dalam kelas, apakah terlalu sunyi atau gaduh karena terlalu dekat
dengan sumber keramaian, dsb.

2. Penampilan Widyaiswara
Penampilan widyaiswara mewakili sikap, kepercayaan diri, nilai, karakter, dan
kepribadiannya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga penampilan
seseorang widyaiswara, yaitu:

Apakah warna pakaian yang Widyaiswara kenakan terlalu mencolok ataukah sudah
kusam?

Apakah ada kancing yang terlepas? Risleting yang belum ditutup? Apakah kemeja yang
dipakai widyaiswara sudah rapi atau belum?

Apakah bau badan widyaiswara terlalu menyengat? Apakah bau perfum yang widyaiswara
kenakan terlalu menyengat?

Apakah wajah widyaiswara terlalu berminyak?

Apakah bagian mata widyaiswara tampak kuyu atau mengantuk?

Apakah rambut widyaiswara sudah tidak rapi lagi?

Bagaimana dengan kondisi kumis, jenggot, brewok widyaiswara?

Ingat penampilan seorang widyaiswara memegang peranan dalam proses pembelajaran.


Dengan demikian, sesaat sebelum memfasilitasi, sebaiknya persiapkan diri sebaik mungkin.
Widyaiswara bisa bercermin terlebih dahulu, pastikan semuanya dalam keadaan baik.
3. Kalimat Pembuka
Gunakan dan memilih sebuah kalimat pembuka yang bisa menenangkan peserta diklat,
bukan memberikan sebuah ketegangan kepada peserta diklat. Kalimat pembuka bisa dimulai
dengan menanyakan keadaan dan kesehatan peserta. Kalimat pembuka juga ditujukan
untuk menggugah kesadaran pesrta diklat akan pentingnya mata diklat yang akan
disampaikan. Kalimat pembuka yang baik dapat membangun keakraban dengan peserta dan
menciptakan kesan positip dari peserta diklat terhadap widyaiswara.
MIND FOCUS & ALPHA STATE
Pikiran fokus, sejatinya, bukan sekedar memperhatikan dan mendengar apa yang
sedang peserta diklat pelajari. Dalam teknik hypnoteaching, kita perlu memindahkan gelombang
pikiran seseorang dari level pikiran beta menuju ke level pikiran alpha. Berikut adalah level
gelombang pikiran yang ada pada manusia:
1. Pikiran Beta
Gelombang pikiran beta adalah pikiran sibuk yang berada pada frekuensi 14-30 Hz.
Pada kondisi ini, seorang mampu melakukan aktivitas dan penggunaan pikiran lebih dari satu
fokus. Dalam proses pembelajaran, jika gelombang pikiran peserta diklat masih berada
dalam level beta, maka akan terlihat peserta diklat tidak fokus pada pembahasan materi
diklat. Peserta diklat terkesan asyiknya bermain bersama teman-temannya, mengobrol,
bahkan mungkin ada perasaan mencekam yang disebabkan oleh pikiran tentang beban
belajar yang akan dijalaninya selama proses pembelajaran dan sebagainya.
2. Pikiran Alpha
Gelombang pikiran alpha berada pada frekuensi 8-13,9 Hz. Pada kondisi ini, seseorang
benar-benar dalam kondisi relaks dan fokus. Kondisi inilah yang dimaksud dengan kondisi
hipnosis, yaitu saat seseorang mudah menyerap informasi secara maksimal tanpa adanya
pikiran-pikiran lain yang mengganggu.
3. Pikiran Theta
Gelombang pikiran Theta berada pada frekuensi 4-7,9 Hz. Pada kondisi ini, seseorang
telah berada dalam kondisi setengah tidur atau sering disebut kondisi meditatif. Dalam

kondisi ini ide-ide kreatif muncul dan jika kita tidak mengendalikan diri, kita bisa langsung
memasuki kondisi tidur pulas. Pikiran theta bukan merupakan kondisi hipnosis yang
diperuntukkan dalam proses pembelajaran di kelas. Pikiran theta lebih sering diperuntukan
dalam proses hypnotherapy.
4. Pikiran Delta
Gelombang pikiran delta berada pada frekuensi 0,1 -3,9 Hz. Pada kondisi ini, seseorang
dikatakan dalam keadaan tidur pulas atau dengan kata lain, kita memasuki area tidak
sadarkan diri.
Hypnosis dalam pembelajaran atau hypnoteaching bekerja pada level pikiran apha.
Dalam level ini, kita mengkondisikan peserta diklat agar masuk dalam hypnosis state (kondisi
hipnosis). Sehingga, diharapkan setiap informasi bisa dengan mudah masuk ke dalam memori
jangka panjang peserta diklat tanpa adanya distorsi dari pikiran-pikiran lain yang
membebaninya.
Seorang widyaiswara sangat berperan dalam membuat peserta diklat bisa memasuki
gelombang pikiran alpha. Berikut ini beberapa hal penting yang perlu dilakukan.
1. Mendapatkan Perhatian
Sebelum proses pembelajaran dilaksanakan, seorang widyaiswara bisa memulainya
dengan berdoa, bernyanyi bersama-sama, atau kegiatan lain yang dapat menyenangkan
peserta diklat. Tujuannya adalah agar pikiran bawah sadar peserta diklat tertarik dengan
mata diklat yang akan disampaikan.
2. Membangun Tema
Tentukan sebuah tema yang menarik dalam setiap proses pembelajaran. Sebagai
contoh, dalam mata diklat pengembangan profesi bagi penyuluhan pada submateri penulisan
KTI, tema bisa memancing pikiran bawah sadar adalah Nilai angka kredit KTI cukup besar.
Tema ini merupakan pancinngan kepada pikiran bawah sadar peserta diklat untuk memasuki
gelombang pikir alpha-nya masing-masing.
3. Menampilkan Struktur dan Peraturan
Saat peserta diklat mempelajari sesuatu, berikan peta pembelajaran secara general,
kemudian secara

detail.

Namun,

hindari

kalimat-kalimat

yang bisa memberatkan

pembelajaran peserta diklat. Peraturan perlu diterapkan agar pikiran bawah sadar peserta
diklat mampu melingkupi apa yang seharusnya menjadi pusat perhatiannya. Peraturan
seperti tidak adanya telepon seluler yang berdering dan semacamnya membuat pikiran

bawah sadar seseorang menjadi lebih konsisten dalam berfokus. Namun, ingat, bahwa
setiap peraturan dibuat disertakan dengan punishmen/hukuman yang setimpal ketika ponsel
widyaiswara berbunyi disaat proses pembelajaran berlangsung.

4. Membangun Hubungan (Building Rapport)


Prinsip utama Hypnoteaching adalah Bawalah dunia peserta diklat ke dunia
widyaiswara dan antarkan dunia widyaiswara ke dunia peserta diklat. Artinya sebelum
widyaiswara menyampaikan mata dilat, seorang widyaiswara harus mau dan mampu
menyamakan frekuensi antara dirinya dengan peserta diklat (building rapport) sehingga
komunikasi dalam proses pembelajaran menjadi lebih kondusif dan efektif. Oleh karena itu
sebelum widyaiswara meminta peserta diklat untuk membuka mindset yang berorientasi
kepada pencapaian tujuan pembelajaran, widyaiswara harus mau membuka mindset nya
terlebih dahulu, agar berorientasi kepada peserta diklat dengan metode andragogi.
Dalam membangun rapport yang dikaitkan norma kelas, diharapkan seorang
widyaiswara tidak terlalu keras dan over dicipline. Karena hal ini sering membuat kondisi
peserta diklat tidak relaks. Itulah salah satu hal yang membuat gelombang pikiran peserta
diklat sulit

memasuki kondisi alpha. Teknik-teknik seperti breathing (menarik napas

bersama-sama); mirroring (menyamakan gerak tubuh dengan peserta diklatnya). Dan


penggunaan bahasa-bahasa persuasif yang bersifat mengajak membuat informasi yang
diberikan langsung ditangkap oleh pikiran bawah sadar seseorang.
KOMUNIKASI PIKIRAN BAWAH SADAR
Sebagaimana telah disebutkan di atas hypnoteaching berasal dari dua kata dalam
Bahasa Inggris yaitu hypno dan teaching. Hypno adalah ilmu hypnosis atau hipnotis dan
teaching adalah mengajar.
Mengajar, secara harfiah, adalah memberikan informasi kepada seseorang yang
membuat seseorang dari tidak tahu menjadi tahu. Sebagai contoh: sebelum belajar seseorang
yang tidak tahu hasil dari 7x7, Namun setelah belajar dia menjadi tahu bahwa 7x7 itu hasilnya
adalah 49. Jika pengetahuan 7x7 sama dengan 49 itu kita sebut sebagai data (pengetahuan),
maka dengan kata lain, mengajar itu sebenarnya adalah menyampaikan data kepada
seseorang dan seseorang itu menyimpannya. Bukti dia menyimpan data tersebut adalah kapan
pun ditanya tentang data itu dia bisa kembali menunjukkannya. Sekarang pertanyaan intinya

adalah dimana data kita tetang 7x7 adalah 49 itu disimpan? Nah jawabannya ternyata gudang
penyimpanan data itu adalah PIKIRAN BAWAH SADAR (Subsconcious mind).
Menurut penelitian akademis yang telah dipercayai selama ini bahwa otak manusia itu
cara kerjanya dibagi menjadi dua yaitu pikiran SADAR (conscious mind) dan pikiran BAWAH
SADAR (sub-conscious mind). Jika diprosentasekan ternyata pikiran sadar itu perannya hanya
12% dan pikiran bawah sadar adalah 88%. Maka dari itu hampir semua keseharian kita
sebenarnya dikendalikan oleh pikiran bawah sadar termasuk diantaranya penyimpanan data
atau pengetahuan. Termasuk juga di dalamnya data nama kita sendiri. Ada proses panjang
orang tua kita memasukkan data bahwa nama kita adalah X. Sehingga, itulah mengapa sampai
detik ini kita masih ingat nama kita, karena data itu telah tersimpan.
Sekarang sudah semakin jelas, bahwa proses mengajar itu adalah memasukkan data ke
dalam pikiran bawah sadar peserta diklat karena data tersebut disimpan di sana. Tentu
pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara agar bisa memasukkan data itu langsung ke
pikiran bawah sadar? Caranya, ibarat kita hendak memasukkan sesuatu, katakanlah dokumen,
ke dalam sebuah rumah, maka kita harus mempelajari dulu seluk beluk, atau struktur bangunan
rumah tersebut; dimana pintunya, dimana jendelanya, di mana kamarnya, dan lain-lain. Atau
paling gampang cari kuncinya singga kita bisa dengan mudah masuk ke dalam rumah tersebut
dan kita simpan dokumen itu di sana.
Hypnosis atau hipnotis adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk dan kunci pikiran
bawah sadar. Dengan teknik hipnotis kita bisa dengan mudah memasukkan data ke pikiran
bawah sadar dan juga mengeluarkan/menghapus data tersebut. Itulah makanya kita sering
melihat pertunjukan hipnotis (hypno-stage) di panggung hiburan atau di TV ada orang yang bisa
lupa namanya sendiri. Itu ril dan tidak ada kong-kali kong antara subjek dengan master. Yang
dilakukan oleh master adalah menghapus data nama subjek dari pikiran bawah sadarnya.
Karena data tersebut sudah tidak ada lagi, maka dia tidak bisa meyebutkan namanya sendiri.
Proses penghapusan itu 100% hanya dilakukan dengan kata-kata dan tidak mengandung unsur
mistis atau klenik. Hipnotis itu murni sains - ilmu psikologi tentang komunikasi persuasif untuk
membuka pikiran bawah sadar seseorang.
Disinilah keterkaitan antara hipnotis dan pengajaran yang kemudian disebut dengan
hypnoteaching. Singkatnya, hypnoteacing adalah mengajar dengan menggunakan metode

hypnosis untuk menyampaikan ilmu pengetahuan langsung ke pikiran bawah sadar peserta
didik.
Komunikasi terkadang kurang efektif dan efisien. Hal itu disebabkan tidak adanya
komunikasi bawah sadar yang mendukung tejadinya two way communication, heart-to-heart
atau komunikasi dua arah dari hati ke hati. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam
berkomunikasi agar terjalin sebuah komunikasi bawah sadar antara widyaiswara dan penerima
informasi (peserta diklat).
1. Informasikan Hal yang Ingin Kita Sampaikan
Sering kali, disebabkan sebuah rutinitas, seorang widyaiswara sudah tidak lagi menjelaskan
tujuan secara umum dan secara khusus dalam setiap proses pembelajarannya. Itulah yang
membuat gelombang pikiran beta menjadi aktif karena harus melakukan analisis dan
kebingungan tentang informasi apa yang akan ia terima dan apa manfaat yang akan
dirasakan. Oleh karena itu, setiap kali proses pembelajaran dimulai, setiap widyaiswara perlu
menginformasikan sebuah outline tentang apa yang akan disampaikan atau diajarkan
kepada peserta diklat.
2.

Cara Penyampaian dan Cara Mengatakan Informas Tersebut


Kesalahan dalam berkomunikasi, seperti ketidaksesuaian pola bahasa yang digunakan
antara pemberi informasi dan penerima informasi, merupakan hal yang perlu menjadi
perhatian. Ingat, pikiran bawah sadar seseorang hanya tertarik terhadap sebuah kesamaan.

3. Kondisi atau Situasi


Kondisi dan situasi yang kondusif serta keberlangsungan merupakan kunci dari kesuksesan
komunikasi pikiran bawah sadar. Oleh karena itu, hindarilah hal-hal yang bisa menutup
jalinan komunikasi bawah sadar antara widyaiswara dan peserta diklat. Berikut ini contoh hal
yang perlu dihindari.

Berbicara terlalu cepat/lambat.

Berbicara monoton dan tidak menarik.

Berbicara, tetapi tidak terdengar hingga ke bangku paling belakang.

Menjelek-jelekkan peserta diklat.

Merendahkan peserta diklat.

Merasa widyaiswara lebih tahu segalanya.

Kurang melakukan kontak mata.

Kurang tegas dan bertele-tele.

Mencatat apa yang telah ada di buku.

Penggunaan tata bahasa yang tidak dimengerti/buruk.

Humor dengan isi yang tidak sepantasnya (bernuansa porno).

Penutup
Manfaat dari metode hypnoteching adalah proses pembelajaran menjadi lebih efektif
karena semua materi yang disampaikan langsung bisa dipahami oleh para peserta diklat karena
ilmu yang disampaikan LANGSUNG sampai ke tempat penyimpanannya yaitu pikiran bawah
sadar para peserta diklat. Yakinlah, tidak ada kebahagian yang lebih besar bagi seorang
widyaiswara kecuali melihat peserta diklat bisa menyerap materi yang disampaikan. Sehingga,
bagi widyaiswara, memfasilitasi diklat menjadi sangat mudah dan menyenangkan karena
semua yang diajarkan dapat dipahami. Bagi peserta diklat, semua ilmu yang diberikan
widyaiswara dapat diterima dengan baik. Proses pembelajaran menjadi menyenangkan. Proses
pembelajaran menjadi sangat manusiawi. Tidak ada peserta diklat yang stress. Dan banyak
lagi manfaat yang dapat dirasakan langsung dengan menggunakan metode ini.

DAFTAR PUSTAKA
Nurindra Y. 2014. Fundamental and Advance Hypnoterapy. (Materi Workshop dan training
Profesional Hypnoterapy)
Sentanu E. 2007. Quantum Ikhlas. Jakarta: Kata Hati Institut
Sutiyono A. 2014. Saktinya Hypnoparenting. Jakarta: Penebar Plus

Anda mungkin juga menyukai