Anda di halaman 1dari 14

Makalah Pengolahan Air Limbah

(Pencemaran Limbah Industri Minyak Di Laut)


Disusun Oleh:

Nama / NPM

: 1. Dudi Suhermansah
2. Rendra Dermawan
3. Sri Purwanti

4. Tegar Arividian W.
Kelompok

: Tujuh (7)

Kelas

: 3ID03

Mata Kuliah

: Pengetahuan Lingkungan

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2013

BAB I
LATAR BELAKANG
Keadaan lingkungan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan
masyarakat. Banyak aspek kesehatan manusia dipengaruhi oleh

lingkungan, dan banyak penyakit dapat dimulai, didukung, ditopang atau


dirangsang oleh faktor-faktor lingkungan. Bagi pengusaha yang belum
sadar terhadap akibat buangan mencemarkan lingkungan, tidak punya
program pengendalian dan pencegahan pencemaran. Oleh sebab itu
bahan buangan yang keluar dari pabrik langsung dibuang ke alam bebas.
Limbah membutuhkan pengolahan bila ternyata mengandung
senyawa pencemaran yang berakibat menciptakan kerusakan terhadap
lingkungan atau paling tidak potensial menciptakan pencemaran. Suatu
perkiraan harus dibuat lebih dahulu dengan jalan mengidentifikasi:sumber
pencemaran, kegunaan jenis bahan, sistem pengolahan,banyaknya
buangan dan jenisnya, kegunaan bahan beracun dan berbahaya yang
terdapat dalam pabrik. Dengan adanya perkiraan tersebut maka program
pengendalian dan penanggulangan pencemaran perlu dibuat. Sebab
limbah tersebut baik dalam jumlah besar atau sedikit dalam jangka
panjang atau jangka pendek akan membuat perubahan terhadap
lingkungan, maka diperlukan pengolahan agar limbah yang dihasilkan
tidak sampai mengganggu struktur lingkungan.

Namun demikian tidak selamanya harus diolah sebelum dibuang kelingkungan. Ada
limbah yang langsung dapat dibuang tanpa pengolahan, ada limbah yang setelah diolah
dimanfaatkan kembali. Dimaksudkan tanpa pengolahan adalah limbah yang begitu keluar dari
pabrik langsung diambil dan dibuang. Ada beberapa jenis limbah yang perlu diolah dahulu
sebab mengandung pollutant yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan. Limbah diolah
dengan tujuan untukmengambil barang-barang berbahaya di dalamnya dan atau
mengurangi/menghilangkan senyawa-senyawa kimia atau nonkimia yang berbahaya dan
beracun.

BAB II
STUDI PUSTAKA
2.1

Pengertian Air Limbah


Menurut Ehless dan Steel, air limbah atau air buangan adalah sisa
air dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempattempat umum lainnya, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan

atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta


mangganggu lingkungan hidup.
Batasan lainnya mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi
dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman,
perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air tanah,
air pemukiman dan air hujan yang mungkin ada (Haryoto Kusnoputranto,
1985).
Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa air buangan
adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah
tangga maupun kegiatan lain seperti industri, perhotelan, dan sebagainya.
Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya besar, karena kurang
lebih 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan-kegiatan manusia seharihari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar).
Selanjutnya air limbah ini akhirnya akan kembali ke sungai dan laut dan
akan digunakan oleh manusia lagi. Oleh karena itu, air buangan ini harus
dikelola dan atau diolah secara baik.

2.2

Sumber Air Limbah

Air limbah ini dapat berasal dari berbagai sumber, secara garis besar
dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
1.

1.

Air
buangan
yang
bersumber
dari
rumah
tangga
(domestic wastes water), yaitu air limbah yang berasal dari pemukiman
penduduk. Air limbah rumah tangga terdiri dari 3 fraksi penting, yaitu :
Tinja (faeces), berpotensi mengandung mikroba pathogen

2.

Air seni (urine), umumnya mengandung Nitrogen (N) dan Fosfor, serta
kemungkinan kecil mikro-organisme.

3.

Grey water, merupakan air bekas cucian dapur, mesin cuci dan kamar
mandi. Grey water sering juga disebut dengan istilah sullage.
Campuran faeces dan urine disebut
sebagai excreta,
sedangkan
campuran excreta dengan air bilasan toilet disebut sebagai black
water. Mikroba pathogen banyak terdapat pada excreta. Excreta ini
merupakan cara transport utama bagi penyakit bawaan.

2.

Air buangan industri (industrial wastes water), yang berasal dari


berbagai jenis industry akibat proses produksi. Zat-zat yang terkandung di
dalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh

masing-masing industri, antara lain: nitrogen, sulfide, amoniak, lemak


garam-garam zat pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut dan
sebagainya. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengolahan jenis air limbah
ini, agar tidak menimbulkan polusi lingkungan menjadi lebih rumit.
3.

1.

Air buangan kota praja (municipal wastes water), yaitu air buangan yang
berasal dari daerah; perkantoran, perdagangan, hotel, restoran, tempattempat umum, tempat-tempat ibadah, dan sebagainya. Pada umumnya
zat-zat yang terkandung dalam jenis air limbah ini sama dengan jenis air
limbah rumah tangga. Air limbah rumah tangga sebagian besar
mengandung bahan-bahan organik sehingga memudahkan di dalam
pengolahannya. Sebaliknya, limbah industri lebih sulit pengolahannya
karena mengandung pelarut mineral, logam berat, dan zat-zat organic lain
yang bersifat toksik. Volume air limbah yang dihasilkan pada suatu
masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
Kebiasaan manusia
Makin banyak orang menggunakan air, makin banyak air limbah yang
dihasilkan.

2.

Penggunaan system pembuangan kombinasi atau terpisah


Pada sistem kombinasi, volume air limbah bervariasi dari 80-100 galon
atau lebih per kapita, sedangkan pada sistem terpisah volume air limbah
mencapai rata-rata 25-50 galon per kapita.

3.

Waktu
Air limbah tidak mengalir merata sepanjang hari, tetapi bervariasi pada
waktu dalam sehri dan musim. Di pagi hari, manusia cenderung
menggunakan air , yang menyebabkan aliran air limbah lebih banyak
dibandingkan pada tengah hari yang volumenya sedikit, dan pada malam
hari agak meningkat lagi.

2.3

Sifat Air Limbah

Sifat air limbah penting untuk diketahui, karena hal ini akan
menentukan pengolahan yang tepat, sehingga tidak mencemari
lingkungan hidup. Secara garis besar dapat digolongkan sebagai berikut:
1.

Karakteristik fisik

1.

Padatan : pada limbah cair terdapat padatan organic dan nonorganik


yang mengendap dan tersuspensi sehingga bisa mengendap dan
menyebabkan pendangkalan.

2.

Kekeruhan : kekeruhan menunjukkan sifat optis di dalam air karena


terganggunya cahaya matahari saat masuk ke dalam air akibat adanya
koloid dan suspense.

3.

Bau : bau dikarenakan karena adanya mikroorganisme yang menguraikan


bahan organik.

4.

Suhu : limbah cair memiliki suhu yang berbeda dibandingkan dengan air
biasa, biasanya suhunya lebih tinggi karena adanya proses pembusukan.

5.

Karakteristik kimiawi

1.

Keasaman : keasaman limbah cair dipengaruhi oleh adanya bahan


buangan yang bersifat asam atau basa. Agar limbah tidak berbahaya,
maka limbah diupayakan untuk memiliki pH netral.

2.

Logam berat beracun : Cadmium dari industri tekstil, merkuri dari pabrik
cat, raksa dari industri perhiasan dan jenis logam berat yang lainnya.

3.

Nitrogen : umumnya terdapat sebagai bahan organic dan diubah menjadi


ammonia oleh bakteri sehingga menghasilkan bau busuk dan bisa
menyebabkan permukaan air menjadi pekat sehingga tidak bisa ditembus
cahaya matahari.

4.

Fenol : salah satu bahan organic yang berasal dari industri tekstil,
kertas, minyak dan batubara BOD : kebutuhan oksigen yang dibutuhkan
untuk menguraikan senyawa organic yang ada di dalam air.

5.

COD : kebutuhan oksigen yang diperlukan mikroba untuk menghancurkan


bahan organik sehingga menyebabkan keracunan.

6.

Karakteristik bakteriologis
Bakteri dalam air limbah berfungsi untuk menyeimbangkan DO dan BOD.
Sedangkan bakteri pathogen banyak terdapat dari hasil buangan dari
peternakan, rumah sakit, laboratorium, sanatorium, buangan rumah
tangga khususnya dari kamar mandi/wc. Kandungan bakteri pathogen
serta organism golongan E. coli terdapat juga dalam air limbah tergantung
dari mana sumbernya, namun keduanya tidak berperan dalam proses
pengolahan air limbah. Limbah industri tidak banyak mengandung bakteri
kecuali dari bahan produksinya memang berhubungan dengan potensi
adanya bakteri diantaranya industri makanan/minuman, pengalengan ikan
dan daging, abbatoir.

Beberapa mikroorganisme dalam air limbah, antara lain:


1.

Kelompok protista : virus, bakteri, jamur, protozoa

2.

Kelompok tanaman dan bintang : algae, cacing

2.4

Parameter Air Limbah

Berikut adalah
berkaitan dengan air limbah.

parameter

yang

dapat

digunakan

1.

Kandungan zat padat (total solid, suspending solid, dissolved solid)

2.

Kandungan zat organik

3.

Kandungan zat anorganik (mis; P, Pb, Cd, Mg)

4.

Kandungan gas (mis: O2, N, CO2)

5.

Kandungan bakteri (mis: E.coli)

6.

Kandungan pH

7.

Suhu

2.5

Dampak Pembuangan Air Limbah

Air limbah yang tidak menjalani proses pengolahan yang benar


tentunya dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Dampak
tersebut antara lain:
1.

Gangguan Kesehatan
Air limbah dapat mengandung bibit penyakit yang dapat menimbulkan
penyakit bawaan air. Selain itu di dalam air limbah mungkin juga terdapat
zat-zat berbahaya dan beracun yang dapat menimbulkan gangguan
kesehatan bagi makhluk hidup yang mengkonsumsinya. Adakalanya, air
limbah yang tidak dikelola dengan baik juga dapat menjadi sarang vector
penyakit (misalnya nyamuk, lalat, kecoa, dan lain-lain).

2.

Penurunan Kualitas Lingkungan


Air limbah yang dibuang langsung ke air permukaan (misalnya sungai dan
danau) dapat mengakibatkan pencemaran air permukaan tersebut.
Sebagai contoh, bahan organic yang terdapat dalam air limbah bila
dibuang langsung ke sungai dapat menyebabkan penurunan kadar
oksigen yang terlarut didalam sungai tersebut. Dengan demikian

menyebabkan kehidupan di dalam air yang membutuhkan oksigen akan


terganggu,
dalam
hal
ini
akan
mengurangi
perkembangannya.
Adakalanya, air limbah juga dapat merembes ke dalam air tanah, sehingga
menyebabkan pencemaran air tanah. Bila air tanah tercemar, maka
kualitasnya akan menurun sehingga tidak dapat lagi digunakan sesuai
peruntukannya.
3.

Gangguan Terhadap Keindahan


Adakalanya air limbah mengandung polutan yang tidak mengganggu
kesehatan dan ekosistem, tetapi mengganggu keindahan. Contoh : air
limbah yang mengandung pigmen warna yang dapat menimbulkan
perubahan warna pada badan air penerima. Walaupun pigmen tersebut
tidak menimbulkan gangguan terhadap kesehatan, tetapi terjadi
gangguan keindahan terhadap badan air penerima tersebut.
Kadang-kadang air limbah dapat juga mengandung bahan-bahan yang bila
terurai menghasilkan gas-gas yang berbau. Bila air limbah jenis ini
mencemari badan air, maka dapat menimbulkan gangguan keindahan pada
badan air tersebut.

4.

Gangguan terhadap kerusakan benda


Adakalanya air limbah mengandung zat-zat yang dapat dikonversi oleh
bakteri anaerobik menjadi gas yang agresif seperti H 2S. Gas ini dapat
mempercepat proses perkaratan pada benda yang terbuat dari besi (mis.
Pipa saluran air limbah) dan bangunan air kotor lainnya. Dengan cepat
rusaknya air tersebut maka biaya pemeliharaannya akan semakin besar
juga, yang berarti akan menimbulkan kerugian material.
Untuk menghindarkan terjadinya gangguan-gangguan diatas, air
limbah yang dialirkan ke lingkungan harus memenuhi ketentuan seperti
yang disebutkan dalam Baku Mutu Air Limbah. Apabila air limbah tidak
memenuhi ketentuan tersebut, maka perlu dilakukan pengolahan air
limbah sebelum mengalirkannya ke lingkungan.

2.6.

Pengolahan Air Limbah


Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan akhir harus menjalani
pengolahan terlebih dahulu. Untuk dapat melaksanakan pengolahan air
limbah yang efektif diperlukan rencana pengolahan yang baik. Pengolahan
air limbah dapat dilakukan secara alamiah maupun dengan bantuan
peralatan. Pengolahan air limbah secara alamiah biasanya dilakukan
dengan bantuan kolam stabilisasi sedangkan pengolahan air dengan

bantuan peralatan misalnya dilakukan pada Instalasi Pengolahan Air


Limbah/ IPAL (Waste Water Treatment Plant / WWTP).

2.6.1

Tujuan Pengolahan Air Limbah

Adapun tujuan dari pengolahan air limbah itu sendiri, antara lain:
1.

Mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga.

2.

Melindungi hewan dan tanaman yang hidup didalam air.

3.

Menghindari pencemaran tanah permukaan.

4.

Menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan vektor penyakit.

2.6.2

Syarat Sistem Pengolahan Air Limbah

Sementara itu, sistem pengolahan air limbah yang diterapkan harus


memenuhi persyaratan berikut:
1.

Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber-sumber air minum.

2.

Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan.

3. Tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air di
dalam penggunaannya sehari-hari.
4.

Tidak dihinggapi
penyakit.

oleh

vektor

atau

serangga

5.

Tidak terbuka dan harus tertutup.

6.

Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap.

2.6.3

yang

mengakibatkan

Langkah-langkah Pengolahan Air Limbah

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengelolah air


limbah. Ada 5 tahap yang di perlukan dalam pengolahan air limbah. yaitu:
1.

Pengolahan Awal (Pretreatment) : Tahap ini melibatkan proses fisik yang


bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam
limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini
ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil
separation.

2.

Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment): pengolahan tahap


pertama memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak
perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi
ialah neutralization, chemical addition and coagulation, flotation,
sedimentation, dan filtration.

3.

Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment): tahap kedua dirancang


untuk menghilangkan zat terlarut dari limbah yg tak dapat dihilangkan
dgn proses fisik. Peralatan yang umum digunakan pada pengolahan tahap
ini ialah activated sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated lagoon,
stabilization basin, rotating biological contactor, serta anaerobic contactor
and filter.

4.

Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment): Proses-proses yang


terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and
sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange, membrane
separation, serta thickening gravity or flotation. pada proses ini dilakukan
pemisahan secara kimia untuk lebih memurnikan air yang belum
sepenuhnya bersih.

5.

Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment): Lumpur yang terbentuk sebagai


hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali
melalui proses digestion or wet combustion, pressure filtration, vacuum
filtration, centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau
landfill.

2.6.4

Jenis Pengolahan Limbah

Pengolahan limbah cair


pengolahan menurut tingkat
karakteristiknya.
1.

industri dapat
perlakuan dan

dibagi menjadi dua,


pengolahan menurut

Pengolahan berdasarkan tingkat perlakuan


Menurut tingkatan prosesnya, pengolahan limbah dapat digolongkan
menjadi 5 tingkatan. Namun, tidak berarti bahwa semua tingkatan harus
dilalui karena pilihan tingkatan proses tetap bergantung pada kondisi
limbah yang diketahui dari hasil pemeriksaan laboratorium. Dengan
mengetahui jenis-jenis parameter dalam limbah, dapat ditetapkan jenis
peralatan yang dibutuhkan. Berikut beberapa tahapan pengolahan air
limbah.

1.

Pra-pengolahan (pre-treatment)

Pada tahap ini, saringan kasar yang tidak mudah berkarat dan berukuran
3030 cm untuk debit air 100 m2 per jam sudah cukup baik. Untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik, saringan dapat dipasang secara seri
sebanyak dua atau tiga saringan. Ukuran messnya (besar lubang kawat
tikus) dapat dibandingkan dengan kawat kasa penghalang nyamuk.
Saringan tersebut diperiksa setiap hari untuk mengambil bahan yang
terjaring. Contoh bahan-bahan yang terjaring dapat berupa padatan
terapung atau melayang yang ikut bersama air. Bahan lainnya adalah
lapisan minyak dan lemak di atas permukaan air.
2.

Pengolahan primer (primary treatment)


Pada tahapan ini dilakukan penyaringan terhadap padatan halus atau zat
warna terlarut maupun tersuspensi yang tidak terjaring pada penyaringan
terdahulu.
Pengolahan secara kimia dilakukan dengan cara mengendapkan bahan
padatan melalui penambahan zat kimia. Reaksi yang terjadi akan
menyebabkan berat jenis bahan padatan menjadi lebih besar daripada air.
Tidak semua reaksi dapat berlaku untuk semua senyawa kimia (terutama
senyawa organik).
Pengolahan secara fisika dilakukan melalui pengendapan maupun
pengapungan yang ditujukan untuk bahan kasar yang terkandung dalam
air limbah. Penguapan dilakukan dengan memasukkan udara ke dalam air
dan menciptakan gelembung gas sehingga partikel halus terbawa bersama
gelembung ke permukaan air. Sementara itu, pengendapan (tanpa
penambahan bahan kimia) dilakukan dengan memanfaatkan kolam
berukuran tertentu untuk mengendapkan partikel-partikel dari air yang
mengalir di atasnya.
3.

Pengolahan sekunder (secondary treatment)

Tahap ini melibatkan proses biologis yang bertujuan untuk menghilangkan


bahan organik melalui proses oksidasi biokimia. Di dalam proses biologis
ini, banyak dipergunakan reactor lumpur aktif dan trickling filter.
4.

Pengolahan tersier (tertiary treatment)

Pengolahan tersier merupakan tahap pengolahan tingkat lanjut yang


ditujukan terutama untuk menghilangkan senyawa organik maupun
anorganik. Proses pada tingkat lanjut ini dilakukan melalui proses fisik
(filtrasi, destilasi, pengapungan, pembekuan, dan lain-lain), proses kimia
(absorbs karbon aktif, pengendapan kimia, pertukaran ion, elektrokimia,

oksidasi, dan reduks), dan proses biologi (pembusukan oleh bakteri dan
nitrifikasi alga).
2.

Pengolahan berdasarkan karakteristik


Proses pengolahan
dilakukan secara:

1.

berdasarkan

karakteristik

air

limbah

dapat

Proses fisik, dapat dilakukan melalui:


1.

Penghancuran

2. Perataan air (misalnya: mengubah system saluran dan membuat


kolam)
3. Penggumpalan
ferrosulfat)

2.

5.

4.

Sedimentasi

4.

Pengapungan

5.

Filtrasi

(misalnya:

menggunakan

alumunium

sulfat

dan

Proses kimia, dapat dilakukan melalui:


1.

Pengendapan dengan bahan kimia

2.

Pengolahan dengan logoon atau kolam

3.

Netralisasi

4.

Penggumpalan atau koagulasi

Sedimentasi
(misalnya
dan zone settling)

dengan discrete settling, floculant settling,

6. Oksidasi dan reduksi


7.

Klorinasi

8. Penghilangan klor
natrium
sulfat)
9.

(biasanya

menggunakan

Pembuangan fenol

10. Pembuangan sulfur


5.

Proses biologi, dapt dilakukan dengan:

1.

Kolam oksidasi

karbon

aktif

atau

2.

Lumpur aktif (mixed liquid suspende solid / MLSS)

3.

Trickling filter

4.

Lagoon

5.

Fakultatif

6.

Proses fisika kimia biologi

7.

Pengolahan tingkat lanjut

BAB III
STUDI KASUS DAN ANALISIS
3.1

Studi Kasus

Ledakan anjungan minyak yang terjadi di teluk meksiko sekitar 80


kilometer dari Pantai Louisiana pada 22 April 2010. Peledakan tersebut
terjadi oleh pengeboran minyak di lepas pantai itu dikelola perusahaan
minyak British Petroleum (BP). Ledakan itu memompa minyak mentah
8.000 barel atau 336.000 galon minyak ke perairan di sekitarnya. Ledakan
tersebut menyebabkan pencemaran limbah minyak di laut.

Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari hasil eksplorasi


produksi minyak, pemeliharaan fasilitas produksi, fasilitas penyimpanan,
pemrosesan, dan tangki penyimpanan minyak pada kapal laut. Limbah
minyak bersifat mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif,
beracun, menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif. Limbah minyak
merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3), karena sifatnya,
konsentrasi maupun jumlahnya dapat mencemarkan dan membahayakan
lingkungan hidup, serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup
lainnya.

4.2

Analisis

Ketika minyak masuk ke lingkungan laut, maka minyak tersebut


dengan segera akan mengalami perubahan secara fisik dan kimia.

Diantara proses tersebut adalah membentuk lapisan (slick formation),


menyebar
(dissolution),
menguap
(evaporation),
polimerasi
(polymerization), emulsifikasi (emulsification), emulsi air dalam minyak
( water in oil emulsions ), emulsi minyak dalam air (oil in water
emulsions), foto oksida, biodegradasi mikorba, sedimentasi, dicerna oleh
plankton dan bentukan gumpalan.
Hampir semua tumpahan minyak di lingkungan laut dapat dengan
segera membentuk sebuah lapisan tipis di permukaan. Hal ini dikarenakan
minyak tersebut digerakkan oleh pergerakan angin, gelombang dan arus,
selain gaya gravitasi dan tegangan permukaan. Beberapa hidrokarbon
minyak bersifat mudah menguap, dan cepat menguap. Proses penyebaran
minyak akan menyebarkan lapisan menjadi tipis serta tingkat penguapan
meningkat.
Minyak tidak dapat larut di dalam air, melainkan akan mengapung di
atas permukaan air, bahan buangan cairan berminyak yang di buang ke air
lingkungan akan mengapung menutupi permukaan air. Kalau bahan
buangan cairan berminyak mengandung senyawa yang volatile maka akan
terjadi penguapan dan luar permukaan minyak yang menutupi permukaan
air akan menyusut. Penyusutan luas permukaan ini tergantung pada jenis
minyaknya dan waktu lapisan minyak yang menutupi permukaan air dapat
juga terdegradasi oleh mikroorganisme tertentu, namun memerlukan
waktu yang cukup lama.
Lapisan minyak di permukaan air lingkungan akan mengganggu
kehidupan organisme dalam air. Hal ini disebabkan oleh Lapisan minyak
pada permukaan air akan menghalangi difusi oksigen dari udara ke dalam
air sehingga jumlah oksigen yang terlarut di dalam air menjadi berkurang.
Kandungan oksigen yang menurun akan mengganggu kehidupan hewan
air. Adanya lapisan minyak pada permukaan air juga akan menghalangi
masuknya sinar matahari ke dalam air sehingga fotosintesis oleh tanaman
air tidak dapat berlangsung. Akibatnya, oksigen yang seharusnya
dihasilkan pada proses fotosintesis tersebut tidak terjadi. Kandungan
oksigen dalam air jadi semakin menurun. Tidak hanya hewan air saja yang
terganggu akibat adanya lapisan minyak pada permukaan air tersebut,
tetapi burung air pun ikut terganggu karena bulunya jadi lengket, tidak
bisa mengembang lagi terkena minyak. Selain dari pada itu, air yang telah
tercemar oleh minyak juga tidak dapat dikonsumsi oleh manusia karena
seringkali dalam cairan yang berminyak terdapat juga zat-zat yang
beracun, seperti senyawa benzene, senyawa toluene dan lain sebagainya.

4.3

Kesimpulan

Berbagai macam kegiatan industri dan teknologi yang ada saat ini
apabila tidak di sertai dengan program pengelolaan air yang baik akan
mengakibatkan kerusakan ekosistem yang ada dalam hal ini adalah air,

baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahan buangan dan air
limbah yang berasal dari kegiatan industri adalah penyebab terjadinya
pencemaran air.
Kasus pencemaran air laut akibat dari pengeboran Indusri minyak
ditengah laut, tumpahan minyak, kebocoran kapal tanker dan lain-lain.
Sehingga dapat berpengaruh pada beberapa sector , diantaranya
lingkungan pantai dan laut, ekosistem biota pantai dan laut, dan
mengganggu aktivitas nelayan sehingga mempengaruhi kesejahteraan
mereka. Pengaruh-pengaruh tersebut antara lain dapat mengubah
karakteristik populasi spesies dan struktur ekologi komunitas laut, dapat
mengganggu proses perkembangan dan pertumbuhan serta reproduksi
organisme laut, bahkan dapat menimbulkan kematian pada organisme
laut.