Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

MATA KULIAH KIMIA RUMAH TANGGA


Obat Tradisional dan Obat Farmasi

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 5
1.
2.
3.
4.

HILDA IKA PUSPITASARI


NOVI SETIORINI
RISA EKA ICHWANAH
AUDIA NUR AZIZAH

(14030654002)
(14030654009)
(14030654011)
(14030654037)

PENDIDIKAN IPA 2014 A

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN PENDIDIKAN IPA

2016DAFTAR ISI
1

COVER
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A. Obat Tradisional
B. Obat Farmasi
1. Analgenetika Narkotika
2. Analgenetika non-Narkotika
3. Analgenetika Antipiretika
4. Antipasmodik
5. Antibiotik
BAB III Penutup
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

...
...

1
2

...
...
...

3
3
4

...
...
...
...
...
...
...

5
7
8
11
15
17
19

...
...
...

22
22
23

22

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Obat tradisional merupakan obat-obatan yang diolah secara
tradisional, turun-temurun, berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat,
kepercayaan, atau kebiasaan setempat, baik bersifat magic maupun
pengetahuan tradisional. Obat tradisional pada saat ini banyak digunakan
karena menurut beberapa penelitian tidak terlalu menyebabkan efek
samping, karena masih bisa dicerna oleh tubuh.
Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi, telah diciptakan
peralatan berteknologi tinggi maka sekitar pada permulaan abad ke-20, obat-

obat kimia sintetis atau obat farmasi mulai bermunculan. Aspirin salah
satu indikator kemajuan obat farmasi saat itu. Pada tahun 1940 terjadi
gebrakan dalam penemuan dan penggunaan penisilin.
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai sifatsifat dari obat tradisional dan obat farmasi, baik dari struktur kimianya,
dan pengaruh terhadap lingkungan.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana penggunaan obat tradisional/obat herbal di negara yang
2.

sedang berkembang maupun negara maju saat ini ?


Bagaimana akibat penyalahgunaan senyawa obat analgetika

3.

golongan narkotika terhadap masyarakat?


Bagaimana cara penggunaan obat analgetika terhadap kesehatan

4.

tubuh manusia?
Bagaimana sifat obat golongan obat analgetika Antipasmodik
terhadap kesehatan tubuh?

C. TUJUAN

1.

Untuk dapat memahami tentang penggunaan obat tradisional/obat


herbal di negara yang sedang berkembang maupun negara maju saat

2.

ini ?
Untuk dapat memahami tentang akibat penyalahgunaan senyawa

3.

obat analgetika golongan narkotika terhadap masyarakat?


Untuk dapat mengetahui tentang cara penggunaan obat analgetika

4.

terhadap kesehatan tubuh manusia?


Untuk dapat memahami tentang sifat obat golongan obat analgetika
Antipasmodik terhadap kesehatan tubuh?

BAB II
PEMBAHASAN
A. OBAT TRADISIONAL
Dewasa ini penggunaan obat tradisional/obat herbal di negara yang
sedang berkembang maupun negara maju cenderung terus meningkat.
Tendensi ini mempunyai dua dimensi penting yaitu: dimensi medik terkait
dengan penggunaannya yang luas diseluruh dunia dan dimensi ekonomi
terkait dengan terciptanya nilai tambah ekonomi yag bermanfaat bagi umat
manusia. Dalam konteks ini WHO menggarisbawahi mengenai pentingnya
kerangka kerja untuk aksi bersama antara WHO dan negara anggota
dengan tujuan untuk meningkatkan peran signifikan obat herbal dalam
sistem pelayanan kesehatan.
Obat herbal Indonesia, yang dikenal sebagai JAMU, sejak berabadabad telah digunakan secara luas oleh bangsa Indonesia untuk memelihara
kesehatan dan mengobati penyakit. Di masa depan, pengembangan dan
penggunaan obat herbal Indonesia mesti didasarkan bukti-bukti ilmiah
yang kuat. Indonesia dikenal secara luas sebagai mega center keaneka
ragaman hayati (biodiversity) terbesar ke dua setelah Brazil di dunia, yang
terdiri dari tumbuhan tropis dan biota laut. Di wilayah Indonesia terdapat
sekitar 30.000 jenis tumbuhan dan 7.000 di antaranya ditengarai memiliki
khasiat sebagai obat. Salah satunya adalah marijuana.
Marijuana (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) adalah
tumbuhan

budidaya

penghasil

serat.

Tanaman semusim ini tingginya dapat


mencapai 2 meter. Berdaun menjari dengan
bunga jantan dan betina ada di tanaman
berbeda (berumah dua). Bunganya kecilkecil dalam dompolan di ujung ranting.
Tumbuhan ini hanya tumbuh di pegunungan
tropis dengan ketinggian di atas 1.000 meter
Gambar tumbuhan marijuana

di atas permukaan laut.


Sumber :
Tumbuhan marijuana ini mengandunghttp//marijuana.images.com
2 senyawa, yakni senyawa
pasif Cannabidiol [CBD] dan senyawa aktif THC.
5

1. Senyawa Cannabidiol [CBD]


Cannabidiol [CBD], adalah senyawa ganja yang bersifat non
psikoaktif yang memiliki sifat terapi yang bagus untuk kesehatan.
CBD tingkat tinggi dapat meningkatkan efek positif dan menekan efek
negatif dari THC. Biasanya, jika berkenaan dengan ganja, orang-orang
akan berfikiran bahwa ganja membuat giting dan berbahaya untuk
dikonsumsi. Mereka berfikir seperti ini karena umumnya publik hanya
mengetahui satu senyawa aktif
dalam

ganja

yaitu

THC

[Tetrahydrocannabinol]. Apa yang


belum

banyak

publik

ketahui

adalah salah satu senyawa ganja


yang bernama Cannabidiol.
CBD bekerjasama dengan
THC dalam cara kerjanya. Jika

Gambar stuktur senyawa in-active CBD


Sumber : http://CBD structure.com

digunakan secara terpisah, CBD


atau THC tidak akan seefektif mengobati sakit kronis seperti jika

mereka digunakan secara bersamaan.


Beberapa manfaat dari senyawa CBD ini adalah :
a. CBD memperbaiki kerusakan otak akibat alkohol.
Menurut penelitian di Universitas Kentucky, CBD merubah
otak secara fisiologis dan bisa memperbaiki kerusakan karena
alkoholik

akut.

Penelitian

menemukan

bahwa

CBD

bisa

mengurangi kerusakan saraf sebanyak 48,8% di entorhinal korteks.


b. CBD efektif mengatasi kecemasan sosial yang parah.
Banyak yang mengaku bahwa ganja meredakan kecemasan
mereka sementara yang lain mengatakan sebaliknya. Hal ini
dikarenakan kandungan CBD di setiap tanaman ganja berbeda.
Sebuah penelitian yang sengaja diadakan untuk mengetahui
dampak CBD pada kecemasan sosial dalam berbicara di depan
publik. Ternyata mereka yang sebelumnya diberi dosis CBD, rasa
cemas dan grogi mereka berkurang selama mereka berbicara di
depan publik. Para peneliti menyatakan bahwa CBD memiliki
banyak keuntungan dibandingkan dengan obat anti depresan

lainnya karena efeknya yang cepat dengan tidak menimbulkan rasa


ketergantungan.
c. CBD adalah obat anti-psikotik yang kuat.
Percobaan klinik di Jerman menemukan bahwa CBD efektif
mengobati schizophrenia sebagai obat anti-psikotik biasa dengan
efek samping yang sedikit. Hal ini menunjukan yin-yang pada
senyawa ganja dimana THC dosis tinggi mempunyai efek psikotik.
CBD-lah yang menekan sifat negatif dari THC. Dan karena alasan
inilah CBD baik untuk mereka yang mempunyai sejarah gangguan
mental dalam keluarga.
2. Senyawa THC (tetrahydrocannabinol)
THC adalah salah satu dari banyak senyawa yang ditemukan
dalam resin yang disekresikan oleh kelenjar. Ia adalah zat utama
psikoaktif

dalam

ganja

yang

akan

menghasilkan

efek

tinggi/gitting/high. Lebih dari kelenjar ini ditemukan di sekitar organ


reproduksi tanaman dari pada daerah
lain dari tanaman. Senyawa lain yang
unik untuk ganja disebut cannabinoid,
yang hadir dalam resin ini dan dapat
mengurangi efek dari THC.
Ketika THC terkena udara, akan
merusak ke cannabinol, cannabinoid
yang memiliki efek psikologis tersendiri.
Nasional Administrasi Keselamatan Lalu

Gambar senyawa aktif THC


Sumber : structure
THC.wikipedia

Lintas Jalan Raya


melaporkan bahwa konsentrasi THC rata-rata dalam ganja adalah 1
sampai 5 persen; dan minyak ganja, itu rata-rata
sebesar 20 persen. Dalam hal ganja medis, dosis awal 2,5 mg dua
kali sehari.
THC dapat diekstraksi dari ganja, atau disintesis, seperti
halnya untuk dronabinol obat yang disetujui FDA. Dronabinol
digunakan untuk mengobati atau mencegah mual dan muntah yang
berhubungan dengan obat-obatan kanker dan meningkatkan selera
makan orang dengan AIDS, Pada tahun 1985, THC sintetis yang

disebut Marinol telah disetujui sebagai obat oleh FDA. NORAC


Laboratorium Azusa, California kini satu-satunya produsen THC di
Amerika Serikat. "
THC menemukan sel-sel otak, atau neuron, dengan jenis tertentu
dari reseptor yang disebut reseptor cannabinoid. Kemudian, ia
mengikat reseptor tersebut. Ketika menempel pada neuron, THC
mengganggu komunikasi normal antara neuron. Anggap saja sebagai
gangguan dalam layanan telepon, disebabkan mungkin dengan
terlalu banyak pengguna sekaligus. Katakanlah Neuron # 1 perlu
memberitahu Neuron # 2 untuk membuat memori baru. Jika THC
ada dalam campuran, komunikasi ini akan gagal. THC, bahan aktif
utama dalam ganja, menghasilkan efek yang berpotensi dapat
berguna untuk mengobati berbagai kondisi medis. Ini adalah bahan
utama dalam pil yang saat ini digunakan untuk mengobati mual pada
pasien kemoterapi kanker dan untuk menstimulasi nafsu makan pada
pasien dengan membuang-buang karena AIDS. Para ilmuwan terus
menyelidiki

penggunaan

medis

potensial

lainnya

untuk

cannabinoids.
B. OBAT FARMASI
Obat memiliki berbagai macam fungsi bagi tubuh seperti
penghilang rasa nyeri, obat penenang dan pusat stimulator sistem saraf.
Analgetika adalah senyawa yang dapat menekan fungsi sistem syaraf pusat
secara

selektif,

digunakan

untuk

mengurangi

rasa

sakit

tanpa

mempengaruhi kesadaran. Analgetika bekerja dengan meningkatkan nilai


ambang persepsi rasa sakit. Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya
merupakan suatu gejala, yang fungsinya adalah melindungi dan
memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di dalam
tubuh,seperti peradangan (rematik, encok), infeksi-infeksi kuman atau
kejang-kejang otot. Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan
mekanis, fisik, atau kimiawi yang dapat menimbulkan kerusakankerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut
mediator-mediator nyeri yang letaknya pada ujung-ujung saraf bebas di

kulit, selaput lendir, atau jaringan-jaringan (organ-organ) lain. Dari tempat


ini rangsangan dialirkan melalui saraf-saraf sensoris ke Sistem Saraf Pusat
(SSP) melalui sumsum tulang belakang ke thalamus dan kemudian ke
pusat nyeri di dalam otak besar, dimana rangsangan dirasakan sebagai
nyeri.
Berdasarkan pembagian senyawa analgetika, senyawa ini dibagi
menjadi beberapa macam,antara lain :
1. Analgetika narkotika
Analgetika narkotika mempunyai sifat analgetika dan hipnotik
(hipnotik = menyebabkan kesadaran berkurang seperti bermimpi
indah, dalam istilah sehari hari disebut fly). Yang dimaksud
analgetika narkotika ini ialah alkaloid golongan opium, misalnya
morfina, meperidin, metadon dan sebagainya. Alkaloid golongan
opium ini diperoleh dari tumbuhan tumbuhan golongan Papaver
somniferum.
Meskipun memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang
lain, golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau
menghilangkan rasa nyeri yang hebat. Meskipun terbilang ampuh,
jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada
pemakai. Obat Analgetik Narkotik ini biasanya khusus digunakan
untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti pada kasus patah tulang dan
penyakit kanker kronis.
Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali
dengan tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya
mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan
menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan
toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan
fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila
pengobatan dihentikan.
Karena bahaya adiksi ini, maka kebanyakan analgetikasentral
seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika dan
penggunaannya di awasi dengan ketat oleh Dirjen POM.

Untuk obat-obat analgetik narkotika terbagi dalam beberapa


golongan, yaitu:
a. Morfina

Daya penghilang rasa nyeri morfin jauh lebih besar dari


pada codeina. Sifat analgetika dari morfina berdasarkan
penekanannya pada susunan saraf sentral yang disertai dengan
perasaan

nyaman,

menghambat

pernafasan

dan

dapat

menyembuhkan batuk. Penggunaannya; Untuk mengobati rasa


sakit yang tidak dapat disembuhkan dengan analgetika
antipiretika, misalnya pada kanker, menahan rasa sakit pada
waktu operasi dan sebagainya. Kerja ikutannya; dapat
mengakibatkan sembelit yang hebat, perasaan mual dan
muntah muntah, alergi (gatal gatal) dan yang terutama
adalah mengakibatkan gatal gatal.
Morfina tak boleh diberikan kepada penderita radang
hati atau asma, karena morfina menekan pusat pernafasan.
Juga tak boleh diberikan kepada bayi. Pemberian morfina
kepada orang tua dan anak anak harus hati hati, sebab
mereka sangat peka.
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat
diabsorsi melalui kulit luka. Morfin dapat diabsorpsi usus,
tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah
daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian
parenteral dengan dosis yang sama. Setelah pemberian dosis
tunggal, sebagian morfin mengalami konyugasi dengan asam

10

glukoronat di hepar, sebagian dikeluarkan dalam hasil ekskresi.


Morfin yang terkonyugasi ditemukan dalam empedu. Sebagian
yang sangat kecil dikeluarkan bersama cairan lambung.

b. Metadone
Mempunyai efek analgesik mirip morfin, tetapi tidak
begitu menimbulkan efek sedatif. Dieliminasi dari tubuh lebih
lambat dari morfin (waktu paruhnya 25 jam) dan gejala
withdrawal-nya tak sehebat morfin, tetapi terjadi dalam jangka
waktu lebih lama. Diberikan secara per oral, injeksi IM, dan
SC.Diindikasikan untuk analgesik pada nyeri hebat, dan juga
digunakan untuk mengobati keterganungan heroin.
c. Meperidin (petidin)

11

Menimbulkan efek analgesik, efek euforia, efek sedatif,


efek depresi nafas dan efek samping lain seperti morfin, kecuali
konstipasi.Efek analgesiknya muncul lebih cepat daripada
morfin, tetapi durasi kerjanya lebih singkat, hanya 2-4
jam.Diindikasikan untuk obat praoperatif pada waktu
d. Fentanil
Merupakan opioid sintetik, dengan efek analgesik 80x lebih
kuat

dari

morfin,

tetapi

depresi

nafas

lebih

jarang

terjadi.Diberikan secara injeksi IV, dengan waktu paruh hanya


4 jam dan dapat digunakan sebagai obat praoperatif saat
anestesi.
2. Analgenetika Non-Narkotika
Obat Analgetik Non-Narkotika tidak mengakibatkan efek ketagihan
pada pengguna. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap
pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi
perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai
keluarnya banyak keringat.
Untuk obat-obat analgetik non-narkotika terbagi dalam beberapa
golongan, yaitu:
a. Golongan Salicylates, Contoh Obatnya:
1) Aspirin/asetosal
Mempunyai kemampuan

menghambat biosintesis

prostaglandin. Kerjanya menghambat enzim siklooksigenase


secara ireversibel, pada dosis yang tepat,obat ini akan
menurunkan pembentukan prostaglandin maupun tromboksan
A2, pada dosis yang biasa efek sampingnya adalah gangguan
lambung . Efek ini dapat diperkecil dengan penyangga yang
cocok ( misalnya, minum aspirin bersama makanan yang
diikuti oleh segelas air atau antasid).
2) Salisilamid
Salisilamid

adalah

amida

asam

salisilat

yang

12

memperlihatkan efek analgesic dan antipiretik mirip asetosal,


walaupun dalam badan salisilamid tidak diubah menjadi
salisilat. Efek anlgesik antipiretik salisilamid lebih lemah
daripada salisilat, karena salisilamid dalam mukosa usus
mengalami metabolism lintas pertama, sehingga hanya sebagian
salisilamid yang diberikan masuk sirkulasi sebagai zat aktif.
Obat ini mudah diabsorpsi usus dan cepat didistribusi ke
jaringan. Obat inimenghambat glukoronidasi obat anlagesik lain
di hati misalnya Na salisilat dan asetaminofen, sehingga
pemberian bersama dapat meningkatkan efek terapi dan
toksisitas obat tersebut. Salisilamida adalah turunan dari asam
salisilat, sering dikombinasi dengan parasetamol dan kofeina.
Merupakan analgetika yang daya kerjanya kurang kuat bila
dibandingkan dengan asetosal, tetapi banyak dipakai karena
sifatnya tidak terlalu asam, sehingga tidak menimbulkan radang
dan pendarahan pada lambung. Dosis; dewasa (oral 3 X sehari
500 mg)
3) Diflunisial
Obat ini merupakan derivate difluorofenil dari asam
salisilat, tetapi dalam tubuh tidak diubah menjadi asam
salisilat.Bersifat analgesic dan anti-inflamasi tetapi hampir tidak
bersifat antipiretik.Obat ini juga berperan dalam penghambatan
prostaglandin melalui penghambatan enzim COX.
b. Golongan para Aminophenol, Contoh Obatnya :
1) Acetaminophen
Acetaminophen adalah metabolit dari fenasetin. Untuk
Fenasetin, tidak digunakan lagi dalm pengobatan, karena
penggunaannya dikaitkan dengan terjadinya anemia hemolitik,
dan mungkin kanker kandung kemih. Obat ini menghambat
prostaglandin yang lemah pada jaringan perifer dan tidak
memiliki efek anti-inflamasi yang bermakna. Obat ini berguna
untuk nyeri ringan sampai sedang seperti nyeri kepala, mialgia,

13

nyeri pasca persalinan dan keadaan lain. Efek samping kadangkadang timbul peningkatan ringan enzim hati.
2) Farmakodinamik
Efek analgesic paracetamol serupa dengan salisilat, yaitu
menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang.
Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang
diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Efek
antiimflamasinya sangat lemah, oleh karena itu paracetamol
tidak digunakan sebagai antireumatik.Paracetamol merupakan
penghambat biosintesis PG yang lemah.PG dihambat akibat
adanya penghambatan enzim COX.
c. Golongan Pyrazolone dan Derivatnya
Dalam kelompok ini termasuk dipiron, antipirin, dan
aminopirin.

Antipirin

(fenazon)

adalah

5-okso-1-fenil-2,3-

dimetilpirazolidin. Aminopirin (amidopirin) adalah derivate 4dimetilamino dari antipirin. Dipiron adalah derivate metansulfonat
dari aminopirin yang larut baik dalam air dan dapat diberikan
dalam suntikan. Selain itu, masih ada derivate dipiron yaitu
methampiron (antalgin) yang banyak digunakan/tersedia dalam
bentuk suntikan atau tablet. Saat ini antipirin dan aminopirin tidak
dianjurkan digunakan lagi karena lebih toksik daripada dipiron.
Obat ini berperan dalam penghambatan prostaglandin melalui
penghambatan enzim COX. Nama lain dari piramidon ialah
amidopirin, aminopirin. Piramidon ini sangat berkhasiat untuk
melawan demam yang tinggi dan radang. Nama lain dari novalgin
adalah Antalgin, dipiron, sangat berkhasiat sebagai analgetik dan
spesmolitik 9melawan kejang), maka sering digunakan untuk
mengobati (mengurangi) rasa sakit pada masa haid, sakit kepala,
sakit encok dan lain lain. Pada penggunaan yang lama baik
novalgin maupun piramidon dapat mengakibatkan agranulositosis
(yaitu lenyapnya butir butir darah putih di dalam darah).

14

Karena

kerja

ikutannya

yang

cukup

besar

dan

membahayakan itu, maka obat obat ini hanya boleh dibeli dengan
resep dokter.
Dosis dewasa; 3 x sehari 100 mg (oral) untuk piramidon 3 x
sehari 100 mg (oral) untuk novalgin
Karena obat obat analgetika umumnya mempunyai kerja
ikutan yang cukup membahayakan kesehatan masyrakat, maka
pada obat obat paten yang dibuat oleh pabrik sering
dikombinasikan dengan obat analgetika lain. Tujuannya selain
untuk mengurangi kerja ikutan juga untuk memperbesar daya
analgetikanya. Contoh obat obat analgetika yang dikombinasi:
1) Kombinasi antara analgetika dengan analgetika (Novalgin dan
Piramidon). Misalnya pada tablet Gardan.
2) Kombinasi antara analgetika dengan sedativa-hypnotika (Veronal
dan Piramidon). Misalnya pada tablet Veramon.
3) Kombinasi antara analgetika dengan analeptika (Salisilamida,
Parasetamol dan Coffein). Misalnya pada tablet Refagan.
4) Kombinasi antara analgetika dengan zat antihistamin, terutama
untuk mengurangi gejala gejala pada influenza(flu). Misalnya:
Tablet Inza (isinya Parasetamol + antihistamin + cofeina)
Tablet Decolgen (isinya Parasetamol + antihistamin + vitamin
C)
3. Analgenetika antipiretika
Antipiretik adalah zat-zat yang dapat mengurangi suhu
tubuh.Pada keadaan demam, thermostat di hipotalamus terganggu,
menyebabkan suhu tubuh meningkat. Obat analgetika-antipiretika
bekerja mengembalikan fungsi thermostat ke suhu tubuh normal,
dengan cara rangsangan pusat pengatur kalor di hipotalamus.
Sehingga terjadi vasodilatasi perifer dikulit danpengeluaran kalor
disertai keluarnya banyak keringat.
Berdasarkan struktur kimianya obat analgetika-antipiretika
dibagi menjadi dua kelompok yaitu :

15

a. Turunan anilin dan para aminofenol


Turunannya

seperti

acetaminofen,asetanilid,

dan

fanasetin,mempunyai aktivitas analgesik-antipiretik sebanding


dengan aspirin,tetapi tidak mempunyai efek antiradang dan
antirematik. Turunan ini digunakan untuk mengurangi rasa
nyeri kepala dan nyeri pada otot atau sendi, dan obat penurun
panas yang cukup baik. Efek samping yang dittimbulkan antara
lain adalah methoglobin dan hepatotoksik.
Anilin mempunyai efek antifiretik cukup tinggii tetapi
toksisitasnya juga besar karena menimbulkan methemoglobin
suatu bentuk hemoglobin yang tidak berfungsi sebagai
pembawa oksigen.pada dosis terapi relatif aman tetapi pada
dosis

yang

lebih

besar

menyebabkan

pembentukan

methemoglobin dan mempengaruhhi jantung.

b. Turunan 5-pirazolon
Turunannya

seperti

antipirin,

amindopirin

dan

metampiron,aspirin. Turunan ini digunakan untuk mengurangi


rasa sakit pada keadaan nyyeri kepala,nyeri spasma usus,
ginjal,

saluran

empedu,

dan

urin,neuralgia,

migrain,

dismenorhu,nyeri gigi,dan nyeri rematik. Efek samping yang


ditimbulkan

oleh

turunan

5-pirazolon

adalah

agranulositosis,yang dalam beberapa kasus dapat berakibat


fatal. Di pasaran piralozon terdapat dalam antalgin, neuralgin,
dan novalgin. Obat ini amat manjur sebagai penurun panas dan
penghilang
menimbulkan

rasa
efek

nyeri.

Namun

berbahaya

piralozon
yakni

diketahui

agranulositosis

(berkurangnya sel darah putih), karena itu penggunaan


analgesik yang mengandung piralozon perlu disertai resep
dokter.
Antipirin (fenazon) mempunyai aktivitas analgesik hampir
sama dengan asetanilid dengan awal kerja yang lebih cepat.
Efek samping agranulosistisnya cukup besar sehingga besar

16

sehingga sekarang tidak lagi digunakan untuk pemakain


sistemik. Antipirin mempunyai efek paralitik pada syaraf
sensori dan motorik sehingga digunakan untuk anestesi
setempat dan vasokontriksi pada pengobatan rinitis dan
laringitis dosis : 5-15%
Amidopirin

(pyramidon,aminopirin,aminofenazon)

mempunyai aktivitas analgesik serupa dengan antipirin ,awal


kerjanya lebih lambat dan masa kerjanya lebih panjang
adsorbsi obat dalam saluran saluran cerna cepat,dan kurang
lebih 25-30%. Efek sampingnya cukup besar dan berakibat
fatal sehingga sekarang tidak lagi digunakan.
Metampiron NA (metamizol Na,antalgin,novalgin,dipiron)
merupakan

antipiretik

yang

cukup

populer

di

indonesia.adsorbsinya sangat cepat dan cepat termetabolisme di


hati. Efek samppingnya sangat berat sehingga di larang beredar
di amerika serika,inggris,jepang,dan australia. Dosis : 500 mg
4dd.
Profifenazon ( isopiriin,larodon) digunakan terutama
sebagai antirematik. Senyawa dapat menimbulkan spasma pada
otot bergaris dan penggunaannya sering di kombinasi dengan
obat analgesik lain. Dosis : 500mg 4dd
Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester
aspirin. Obat ini digunakan sebagai obat antiinflamasi dan
antipiretik. Untuk pengobatan demam pada anak obat ini
bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin
dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivat dari
aspirin maka obat ini tidak boleh digunakan untuk anak yang
mengidap Sindrom Reye.
Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika.
Analgesik narkotika digunakan sebagai penghilang nyeri.
Dalam bentuk sediaan injeksi IM (intramuskular) Fentanyl
digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan kanker.

17

Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan


menghilangkan rasa sakit secara menyeluruh dengan obat
untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/menetap. Obat
Fentanyl

digunakan

hanya

untuk

pasien

yang

siap

menggunakan analgesik narkotika. Fentanyl bekerja di dalam


sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit. Beberapa
efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem
syaraf pusat. Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan
ketergantungan tetapi tidak sering terjadi bila pemakaiannya
sesuai dengan aturan. Ketergantungan biasa terjadi jika
pengobatan dihentikan secara mendadak. Sehingga untuk
mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan
dosis secara bertahap dengan periode tertentu sebelum
pengobatan dihentikan.

4. Antispasmodik
Antispasmodik adalah obat yang membantu mengurangi atau
menghentikan kejang otot di usus yang mungkin disebabkan diare,
gastritis, tukak peptik dan sebagainya
Antiantikolinergik dengan efek antispasmodik bekerja secara
antagonis

kompetitif

dengan

asetilkolin

pada

reseptor

muskarinikdalam kelenjar eksokrin dan otot polos,sehingga


mmengahambat syaraf para simpetik,mengurangi sekresi dan
pergerakan

saluran

cerna.antikoligernik

digunakan

sebagai

pramedikasi pada anestesi. Antispasmodik dibagi menjadi tiga


kelompok yaitu :

a. Alkaloida solanaceae dan turunannya


Fungsinya sebagai pemblok kolinergik. Atropin sulfat
memiliki efek midriatik karena menyebabkan paralisis otot
siliari dan iris mata,digunakan untuk obat mata pada
peradangan dan luka karena kornea dan iris. Dosis setempat
pada konjungtiva mata : larutan 0.5-1%,1 tetes 1-3 dd.

18

Homatropin HBr mempunyai efek midriatik serupa dengan


atropin yaitu menyebabkan paralisis otot siliari dan iris mata.
Homtropin digunakan untuk pengobatan keradangan mata dan
luka pada kornea atau iris. dosis : larutan 1-2% , 1 tetes 2-3dd.
Hiosiamin sulfat mempunyai efek perangsang sistem syaraf
pusat lebih rendah dan aktifitas perifer lebih tinggi dibanding
atropin. Digunakan untuk meringankan spasmae atau kolik
saluran uroginetal dan tukok lambung. Dosis oral : 0,125-0,250
mg 3-4 dd.
Hiosin Br dapat ,menimbulkan efek narkootik atau sedatif
dan bekerja sebagai penekan syaraf parasimpatik sebanding
dengan

atropin.digunakan

sebagai

antikolinergik

dapat

diberikan secara parenteral.setempat pada mata dan secara


oral.dosis larutan : 0,25%,1 tetes 3dd. Dosis oral : 0,4-0,8 mg
1ddb.
b. Senyawa amonium kuartener sintetik
Senyawa turunan ini mudah terionisasi sehingga sukar
menembus sawar darah-otak dan tidak menimbulkan efek pada
sistem saraf pusat. Butropiumbromida (coliopan) adalah
senyaawa parasimpatolitik turunan hiosiamin. Bekerja sebagai
antispasmodik dengan menurunkan tonus dan pergerakan saraf
otot polos saluran cerna dengan cara memblok reseptor
asetilkolin pada ujung saraf. Butropium juga menghambat
sekresi asam lambung dan mempunyai efek antitukak lambung.
Diponium bromida mmerupakan antispasmodik yang
berhubungn dengan saluran empedu, ginjal dan uroginetal.
Fenpiverinium bromida merupakan antispasmodik yang
berhubungan empedu,giinjal dan saluran cerna,diare kolitis dan
tukak kolon.
Mefenzolat bromida digunakan untuk mengurangi rasa
nyeri kerena kram pada bagian bawah saluran cerna, diare, dan
tukak kolon.

19

Pipenzolat bromida berhubungan dengan jantung dan


pilorus.
Pivetanat etobromida (panpurol), tiemonium metil sulfat,
timepidium bromida, paletamat bromida, pripinium bromida
digunakan untuk nyeri saluran cerna.
c. Senyawa amin tersier sintetik
Heksahidro adifenin HCl, disiklomin HCl, papaverin,
mebeverin HCl, alverin sitrat, pramiverin mempunyai efek
spasmolitik digunakan untuk nyeri saluran cerna.
Mekanisme kerja belum diketahui secara pasti. Tetapi
mempengaruhi relaksasi otot polos endogen. Efek samping
golongan ini antara lain adalah ketidaknyamanan abdominal,
mual, diare, dan mengantuk.
Selain analgenetika, salah satu golongan obat farmasi jika ditinjau dari
berbagai macam fungsinya bagi tubuh yaitu antibiotika. Antibiotika adalah zatzat kimia oleh yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat
mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi
manusia relatif kecil. Turunan zat-zat ini, yang dibuat secara semi-sintesis, juga
termasuk kelompok ini, begitu pula senyawa sintesis dengan khasiat antibakteri
(Tjay & Rahardja, 2007). Antibiotik adalah zat biokimia yang diproduksi oleh
mikroorganisme, yang dalam jumlah kecik dapat menghambat pertumbuhan atau
membunuh pertumbuhan mikroorganisme lain (Harmita dan Radji, 2008).
Berikut ini adalah untuk penggolongan antibiotika :
1. Penicilin
Penisilin merupakan kelompok
antibiotika Beta Laktam yang telah lama
dikenal. Pada tahun 1928 di London,
Alexander Fleming menemukan antibiotika
pertama yaitu Penisilin yang satu dekade
kemudian dikembangkan oleh Florey dari
biakan

Penicillium

notatum

untuk

penggunaan sistemik. Kemudian digunakan


P. chrysogenum yang menghasilkan Penisilin

Struktur kimia penicillin


Sumber : https://tintusfar.files.wordpress.com/

20

lebih banyak. Penicillin yang digunakan dalam pengobatan terbagi dalam


Penisilin alam dan Penisilin semisintetik. Penisilin semisintetik diperoleh
dengan cara mengubah struktur kimia Penisilin alam atau dengan cara sintesis
dari inti Penisilin.
Beberapa Penisilin akan berkurang aktivitas mikrobanya dalam
suasana asam sehingga Penisilin kelompok ini harus diberikan secara
parenteral. Penisilin lain hilang aktivitasnya bila dipengaruhi enzim
Betalaktamase (Penisilinase) yang memecah cincin Betalaktam.
2. Safalosporin
Sefalosporin termasuk golongan
antibiotika Betalaktam. Seperti antibiotik
Betalaktam

lain,

antimikroba

mekanisme

Sefalosporin

ialah

kerja
dengan

menghambat sintesis dinding sel mikroba.


Yang dihambat adalah reaksi transpeptidase
tahap

ketiga

dalam

rangkaian

reaksi

pembentukan dinding sel. Sefalosporin aktif


terhadap kuman gram positif maupun garam
negatif,

tetapi

spektrum

masing-masing

derivate

Struktur kimia safalospirin


Sumber : https://tintusfar.files.wordpress.com/

bervariasi.
3. Kloramfenikol
Kloramfenikol adalah antibiotik berspektrum luas yang mempunyai
aktifitas

bakteriostatik,

dan

pada

dosis

tinggi

bersifat

bakterisid.

Kloramfenikol memiliki nama kimia 1- (pnitrofenil)- dikloroasetamido-1,3propandiol, rumus molekul C11H12Cl2N2O5dan memiliki struktur:

Struktur kimia kloramfenikol


Sumber : https://tintusfar.files.wordpress.com/

21

Kloramfenikol merupakan senyawa fenil propan tersubstitusi yang


mempunyai dua unsur struktur tidak lazim untuk bahan alam yaitu suatu
gugus nitro aromatik dan residu diklor asetil. Gugus R pada turunan
kloramfenikol

berpengaruh

pada

aktivitasnya

sebagai

anti

bakteri

Staphylococcus aureus. Kloramfenikol (R=NO2) mempunyai aktivitas


antibakteri terhadap Staphyllococcus aureus yang optimal.
Untuk mendapatkan senyawa turunan kloramfenikol baru dengan
aktivitas optimal, harus diperhatikan agar gugus R bersifat penarik elektron
kuat dan mempunya sifat lipofilik lemah. Turunan kloramfenikol yang
mempunyai gugus trifluoro lebih aktif daripada kloramfenikol terhadap E.
coli. Turunan yang gugus hidroksilnya pada C3 terdapat sebagai ester juga
digunakan dalam terapi.

22

A. BAB III
B. PENUTUP
C.
A. KESIMPULAN
1. Dewasa ini penggunaan obat tradisional/obat herbal di negara yang sedang
berkembang maupun negara maju cenderung terus meningkat. Tendensi
ini mempunyai dua dimensi penting yaitu: dimensi medik terkait dengan
penggunaannya yang luas diseluruh dunia dan dimensi ekonomi. Obat
herbal Indonesia, yang dikenal sebagai JAMU, sejak berabad-abad telah
digunakan secara luas oleh bangsa Indonesia untuk memelihara kesehatan
dan mengobati penyakit.
D.
2. Obat analgetik golongan narkotika ketika dikonsumsi tidak sesuai dengan
aturan atau penempatan pemakaiaan mengakibatkan ketagihan dan
merusak kesehatan masyarakat, maka pemakaian obat ini diatur oleh
undang undang dan diawasi ketat oleh pemerintah.
E.
3. Obat analgetik golongan antipiretik penggunaanya harus sesuai petunjuk
dokter karena apabila dikonsumsi dengan dosis berlebih dapat
mengakibatkan gangguan fungsi hati dan ginjal
F.
4. Obat golongan analgetik antispasmodik penggunaannya harus sesuai
petunjuk pemakaian,karena apabila disalahgunakan dapat mengakibatkan
gangguan pada saluran cerna.dan efek sampinggnya dapat mengakibatkan
ketidaknyamanan abdominal, mual, diare, konstipasi, dan mengantuk.

G.
B. SARAN
H.
Untuk
menyempurnakan
makalah
ini
penulis
mengharapkan saran dan kritiknya dari pembaca yang membangun.karena
penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan baik dalam
penyajian materi maupun penulisan makalah.
I.

J.
K.

23

L. DAFTAR PUSTAKA
M.
N.

Ernst, Edzard. 2004. Prescribing Herbal Medications Appropriately.


Journal of Family Practice.. Vol. 53. No. 12 WHO. 2002. Traditional
Medicine Growing Needs and Potential.Geneva

O.

MDT. 1996. Monografi Desa Trunyan. Kecamatan Kitamani. Kabupaten


Bangli. Propinsi Bali.

P.

Nasution, R.E. 1992. Prosiding Seminar dan Loka Karya Nasional


Etnobotani.

Departement

Pendidikan

dan

Kebudayaan

RI-LIPI.

Perpustakaan Nasional RI. Jakarta.


Q.

Sastropradjo. 1990. Tumbuhan Obat. Lembaga Biologi Nasional LIPI.


Balai Pustaka. Jakarta.

R.

Soekardjo bambang, siswando .2008.kimia medisinal. surabaya : Airlangga


university press

S.

Sutarjadi. 1992. Tumbuhan Indonesia Sebagai Sumber Obat, Komestika


dan Jamu.

T.

Traditional Chinese Medicine Under DSHEA (The Dietary Supplement


Health and Education Act): A Conundrum. The Journal of Al;ternative and
Complentary Medicine Volume 5, Number 2 pp 181- 189

U.

WHO. 2002. WHO Traditional Medicine Strategy. Geneva.

V.

Anonim

2011.

Analgesic

dan

obat-obatnya

http://habib.blog.ugm.ac.id/kuliah/. Diakses pada 30 Agustus 2016


W. http://eprints.ung.ac.id/4077/5/2013-1-48401-821310035-bab201082013022455. pdf
X. https://tintusfar.files.wordpress.com/2013/06/antibiotik-poltekeskemenkes-ri.pdf
Y. http://eprints.ums.ac.id/24190/2/BAB_1.pdf

Z. http://medicalmarijuana.procon.org/view.answers.php?questionID=637
AA.

http://pohonkehidupan420.co.id/2015/01/thc-

tetrahydrocannabinol.html
AB.

https://www.drugabuse.gov/publications/drugfacts/marijuana

AC.

http://www.theweedblog.com/what-are-the-active-ingredients-in-

medical-marijuana/
AD.

https://id.wikipedia.org/wiki/Ganja