Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Sejarah pendidikan Islam pada hakekatnya sangat berkaitan erat dengan
sejarah Islam. Periodesasi pendidikan Islam selalu berada dalam periode
sejarah Islam itu sendiri. Secara garis besarnya Harun Nasution membagi
sejarah Islam ke dalam tiga periode. Yaitu periode Klasik, Pertengahan dan
Modern. Kemudian perinciannya dapat dibagi lima periode, yaitu: Periode
Nabi Muhammad SAW (571-632 M), periode Khulafa ar Rasyidin (632-661
M), periode kekuasaan Daulah Umayyah (661-750 M), periode kekuasaan
Abbasiyah (750-1250 M) dan periode jatuhnya kekuasaan khalifah di
Baghdad (1250-sekarang). Dalam makalah ini penulis mencoba untuk
menggambarkan tentang pola pendidikan Islam pada periode Dinasti
Umayyah.
Faktor yang menyebabkan kurang pesatnya perkembangan ilmu-ilmu pada
zaman ini salah satunya adalah faktor pemerintahan bani Umayyah yang lebih
suka pada membangun kekuatan pemerintahan/politik yang cenderung
otoriter.
Untuk mengetahui pertumbuhan pendidikan Islam pada zaman ini yang lebih
rinci, baiklah kita masuk saja pada pembahasan materi.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam Masa Bani Umayyah


Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu kota negara
dipindahkan Muawiyyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa
sebagai gubernur sebelumnya. Muawwiyah Ibn Abi Sofyan adalah pendiri
Dinasti Umayyah yang berasal dari suku Quraisy keturunan Bani Umayyah
yang merupakan khalifah pertama dari tahun 661-750 M, nama lengkapnya
ialah Muawwiyah bin Abi Harb bin Umayyah bin Abdi Syam bin Manaf.
Setelah Muawwiyah diangkat jadi khalifah ia menukar sistem pemerintahan
dari Theo Demikrasi menjadi Monarci (Kerajaan/Dinasti) dan sekaligus
memindahkan Ibu Kota Negara dari Kota Madinah ke Kota Damaskus.
Muawwiyah lahir 4 tahun menjelang Nabi Muhammad SAW menjalankan
Dakwah Islam di Kota Makkah, ia beriman dalam usia muda dan ikut hijrah
bersama Nabi ke Yastrib. Disamping itu termasuk salah seorang pencatat
wahyu, dan ambil bagian dalam beberapa peperangan bersama Nabi.
Pada dinasti Umayyah perluasan daerah Islam sangat luas sampai ke timur
dan barat. Begitu juga dengan daerah Selatan yang merupakan tambahan dari
Daerah Islam di zaman Khulafa ar Rasyidin yaitu: Hijaz, Syiria, Iraq, Persia
dan Mesir.
Seiring dengan itu pendidikan pada priode Danasti Umayyah telah ada
beberapa lembaga seperti: Kuttab, Masjid dan Majelis Sastra. Materi yang
diajarkan bertingkat-tingkat dan bermacam-macam. Metode pengajarannya

pun tisak sama. Sehingga melahirkan beberapa pakar ilmuan dalam berbagai
bidang tertentu.

B.

Pola Pendidikan Islam pada Priode Dinasti Umayyah


Pada masa dinasti Umayyah pola pendidikan bersifat desentrasi. Desentrasi
artinya pendidikan tidak hanya terpusat di ibu kota Negara saja tetapi sudah
dikembangkan secara otonom di daerah yang telah dikuasai seiring dengan
ekspansi teritorial. Sistem pendidikan ketika itu belum memiliki tingkatan
dan standar umur. Kajian ilmu yang ada pada periode ini berpusat di
Damaskus, Kufah, Mekkah, Madinah, Mesir, Cordova dan beberapa kota
lainnya, seperti: Basrah dan Kuffah (Irak), Damsyik dan Palestina (Syam),
Fistat (Mesir). Diantara ilmu-ilmu yang dikembangkannya, yaitu: kedokteran,
filsafat, astronomi atau perbintangan, ilmu pasti, sastra, seni baik itu seni
bangunan, seni rupa, maupun seni suara.
Pola pendidikan Islam pada periode Dinasti Umayyah telah berkembang bila
dibandingkan pada masa Khulafa ar Rasyidin yang ditandai dengan
semaraknya kegiatan ilmiah di masjid-masjid dan berkembangnya Khuttab
serta Majelis Sastra. Jadi tempat pendidikan pada periode Dinasti Umayyah
adalah:
1.

Khuttab
Khuttab atau Maktab berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis
atau tempat menulis, jadi Khuttab adalah tempat belajar menulis. Khuttab

merupakan tempat anak-anak belajar menulis dan membaca, menghafal


Al Quran serta belajar pokok-pokok ajaran Islam.
Adapun cara yang dilakukan oleh pendidik disamping mengajarkan Al
Quran mereka juga belajar menulis dan tata bahasa serta tulisan.
Perhatian mereka bukan tertumpu mengajarkan Al Quran semata dengan
mengabaikan pelajaran yang lain, akan tetapi perhatian mereka pada
pelajaran sangat pesat. Al Quran dipakai sebagai bahasa bacaan untuk
belajar membaca, kemudian dipilih ayat-ayat yang akan ditulis untuk
dipelajari. Disamping belajar menulis dan membaca murid-murid juga
mempelajari tata bahasa Arab, cerita-cerita Nabi, hadist dan pokok
agama.
2.

Masjid
Pada Dinasti Umayyah, Masjid merupakan tempat pendidikan tingkat
menengah dan tingkat tinggi setelah khuttab. Pelajaran yang diajarkan
meliputi Al Quran, Tafsir, Hadist dan Fiqh. Juga diajarkan kesusasteraan,
sajak, gramatika bahasa, ilmu hitung dan ilmu perbintangan.
Diantara jasa besar pada periode Dinasti Umayyah dalam perkembangan
ilmu pengetahuan adalah menjadikan Masjid sebagai pusat aktifitas
ilmiah termasuk syair. Sejarah bangsa terdahulu diskusi dan akidah.
Pada periode ini juga didirikan Masjid ke seluruh pelosok daerah Islam.
Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah selalu
menjadi tumpuan penuntut ilmu diseluruh dunia Islam dan tampak juga
pada pemerintahan Walid ibn Abdul Malik 707-714 M yang merupakan

Universitas terbesar dan juga didirikan Masjid Zaitunnah di Tunisia yang


dianggap Universitas tertua sampai sekarang.
Pada Dinasti Umayyah ini, masjid sebagai tempat pendidikan terdiri dari
dua tingkat yaitu: tingkat menengah dan tingkat tinggi. Pada tingkat
menengah guru belumlah ulama besar sedangkan pada tingkat tinggi
gurunya adalah ulama yang dalam ilmunya dan masyhur kealiman dan
keahliannya. Umumnya pelajaran yang diberikan guru kepada muridmurid seorang demi seorang, baik di Khuttab atau di Masjid tingkat
menengah. Sedangkan pada tingkat pelajaran yang diberikan oleh guru
adalah dalam satu Halaqah yang dihadiri oleh pelajar bersama-sama.

3.

Majelis Sastra
Majelis sastra merupakan balai pertemuan yang disiapkan oleh khalifah
dihiasi dengan hiasan yang indah, hanya diperuntukkan bagi sastrawan
dan ulama terkemuka. Menurut M. Al Athiyyah Al Abrasy Balai-balai
pertemuan tersebut mempunyai tradisi khusus yang mesti diindahkan
seseorang yang masuk ketika khalifah hadir, mestilah berpakaian necis
bersih dan rapi, duduk di tempat yang sepantasnya, tidak tertawa
terbahak-bahak, tidak meludah, tidak mengingus dan tidak menjawab
kecuali bila ditanya. Ia tidak boleh bersuara keras dan harus bertutur kata
dengan sopan dan memberi kesempatan pada sipembicara menjelaskan
pembicaraannya serta menghindari penggunaan kata kasar dan tawa
terbahak-bahak. Dalam balai-balai pertemuan seperti ini disediakan

pokok-pokok

persoalan

untuk

dibicarakan,

didiskusikan

dan

diperdebatkan.
Hal diatas sesuai dengan wasiat Abdul Malik ibn Harman kepada
pendidik puteranya dengan pesan Ajarkan kepada mereka berkata benar
disamping mengajarkan Al Quran. Jauhkanlah mereka dari orang-orang
jahat yang tidak mengindahkan perintah Allah dan tidak berlaku sopan,
dan jauhkan juga mereka chadam dan pekerjaannya karena bergaul
dengan mereka akan dapat merusak moralnya. Gunakanlah perasaan
mereka agar badannya kuat, dan serahkanlah mereka bersufi dan air
dengan menghisabnya pelan-pelan dan jangan minum tidak senonoh bila
memerlukan teguran hendaklah secara tertutup, jangan sampai diketahui
oleh pelayan dan tamu agar mereka tidak dipandang rendah.
Majelis sastra merupakan tempat berdiskusi membahas masalah
kesusasteraan dan juga sebagai tempat berdiskusi mengenai urusan
politik. Perhatian penguasa Ummayyah sangat besar pada pencatatan
kaidah-kaidah nahwu, pemakaian Bahasa Arab dan mengumpulkan
Syair-syair Arab dalam bidang syariah, kitabah dan berkembangnya semi
prosa.

4.

Pendidikan Istana
Yaitu pendidikan yang diselenggarakan dan diperuntukkan khusus bagi
anak-anak khalifah dan para pejabat pemerintahan. Kurikulum pada
pendidikan istana diarahkan untuk memperoleh kecakapan memegang
kendali pemerintahan atau hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan

keperluan dan kebutuhan pemerintah, maka kurikulumnya diatur oleh


guru dan orang tua murid.
5.

Pendidikan Badiah
Yaitu tempat belajar bahasa arab yang fasih dan murni. Hal ini terjadi
ketika khalifah Abdul Malik ibn Marwan memprogramkan arabisasi
maka muncul istilah badiah, yaitu dusun badui di Padang Sahara mereka
masih fasih dan murni sesuai dengan kaidah bahasa arab tersebut.
Sehingga banyak khalifah yang mengirimkan anaknya ke badiah untuk
belajar bahasa arab bahkan ulama juga pergi ke sana di antaranya adalah
Al Khalil ibn Ahmad.

6.

Pendidikan Perpustakaan
Pemerintah dinasti umayyah mendirikan perpustakaan yang besar di
Cordova pada masa khalifah Al Hakam ibn Nasir.

7.

Bamaristan
Yaitu rumah sakit tempat berobat dan merawat orang serta tempat studi
kedokteran. Cucu Muawiyah Khalid ibn Yazid sangat tertarik pada ilmu
kimia

dan

kedokteran.

Ia

menyediakan

sejumlah

harta

dan

memerintahkan para sarjana yunani yang ada di Mesir untuk


menerjemahkan buku kimia dan kedokteran ke dalam bahasa arab. Hal
ini menjadi terjemahan pertama dalam sejarah sehingga al Walid ibn
Abdul Malik memberikan perhatian terhadap bamaristan.

Usaha yang tidak kalah pentingnya pada masa Dinasti Umayyah ini
dimulainya penterjemahan ilmu-ilmu dari bahasa lain ke dalam Bahasa
Arab, seperti yang dilakukan oleh Khalid ibn Yazid ia memerintahkan
beberapa sarjana Yunani da Qibti ke dalam Bahasa Arab tentang ilmu
Kimia, Kedokteran dan Ilmu Falaq.
Pada periode Dinasti Umayyah ini terkenal sibuk dengan pemberontakan
dalam negeri dan sekaligus memperluas daerah kerajaan tidak terlalu
banyak memusatkan perhatian pada perkembangan ilmiah, akan tetapi
muncul beberapa ilmuwan terkemuka dalam berbagai cabang ilmu
seperti yang dikemukana oleh Abd. Malik Ibn Juraid al Maki dan cerita
peperangan serta syair dan Kitabah.
Dibidang fiqh secara garis besarnya dapat dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu aliran ahli al-Ray dan aliran al hadist, kelompok aliran
pertama ini mengembangkan hukum Islam dengan menggunakan analogi
atau Qiyas, sedangkan aliran yang kedua lebih berpegang pada dalil-dalil,
bahkan aliran ini tidak akan memberikan fatwa jika tidak ada ayat Al
Quran dan hadits yang menerangkannya. Nampaknya disiplin ilmu fiqh
menunjukkan perkembangan yang sangat berarti. Periode ini telah
melahirkan sejumlah mujtahid fiqh.

Terbukti ketika akhir masa

Umayyah telah lahir tokoh mazhab yakni Imam Abu Hanifah di Irak dan
Imam Malik Ibn Anas di Madinah, sedangkan Imam Syafii dan Imam
Ahmad ibn Hanbal lahir pada masa Abbasyiyah.

Dibidang syair yang terkenal dikalangan orang Arab diantaranya adalah


tentang pujian, syairnya adalah:
Artinya :

Engkau adalah pengendara kuda yang paling baik, engkau

adalah orang yang pemurah di atas dunia ini


Periode Dinasti Umayyah pada bidang pendidikan, adalah menekankan
ciri ilmiah pada Masjid sehingga menjadi pusat perkembangan ilmu
pengetahuan tinggi dalam masyarakat Islam. Dengan penekanan ini di
Masjid diajarkan beberapa macam ilmu, diantaranya syair, sastra dan
ilmu lainnya. Dengan demikian periode antara permulaan abad ke dua
hijrah sampai akhir abad ketiga hijrah merupakan zaman pendidikan
Masjid yang paling cemerlang.
Nampaknya pendidikan Islam pada masa periode Dinasti Umayyah ini
hampir sama dengan pendidikan pada masa Khulafa ar Rasyiddin.
Hanya saja memang ada sisi perbedaan perkembangannya. Perhatian
para Khulafa dibidang pendidikan agaknya kurang memperhatikan
perkembangannya sehingga kurang maksimal, pendidikan berjalan tidak
diatur oleh pemerintah, tetapi oleh para ulama yang memiliki
pengetahuan yang mendalam. Kebijakan-kebijakan pendidikan yang
dikeluarkan oleh pemerintah hampir tidak ditemukan. Jadi sistem
pendidikan Islam ketika itu masih berjalan secara alamiah karena kondisi
ketika itu diwarnai oleh kepentingan politis dan golongan.
Walaupun demikian pada periode Dinasti Umayyah ini dapat disaksikan
adanya gerakan penerjemahan ilmu-ilmu dari bahasa lain ke dalam

bahasa Arab, tetapi penerjemahan itu terbatas pada ilmu-ilmu yang


mempunyai kepentingan praktis, seperti ilmu kimia, kedokteran, ilmu
tata laksana dan seni bangunan. Pada umumnya gerakan penerjemahan
ini terbatas keadaan orang-orang tertentu dan atas usaha sendiri, bukan
atas dorongan negara dan tidak dilembagakan. Menurut Franz Rosenthal
orang yang pertama kali melakukan penerjemahan ini adalah Khalid ibn
Yazid cucu dari Muawwiyah.
Selain kemajuan seperti di atas ilmu pengetahuan yang berkembang pada
masa ini adalah:
a.

Ilmu agama, seperti: Al-Quran, Haist, dan Fiqh. Proses pembukuan


Hadist terjadi pada masa Khalifah Umar ibn Abdul Aziz sejak saat
itulah hadis mengalami perkembangan pesat.

b.

Ilmu sejarah dan geografi, yaitu segala ilmu yang membahas tentang
perjalanan hidup, kisah, dan riwayat. Ubaid ibn Syariyah Al Jurhumi
berhasil menulis berbagai peristiwa sejarah.

c.

Ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu segla ilmu yang mempelajari


bahasa, nahu, saraf, dan lain-lain.

d.

Bidang filsafat, yaitu segala ilmu yang pada umumnya berasal dari
bangsa asing, seperti ilmu mantik, kimia, astronomi, ilmu hitung dan
ilmu yang berhubungan dengan itu, serta ilmu kedokteran.

10

C. Tokoh-Tokoh Pendidikan pada Masa Bani Umayyah


Tokoh-tokoh pendidikan pada masa Bani Umayyah terdiri dari ulama-ulama
yang menguasai bidangnya masing-masing seperti dalam bidang tafsir,
hadist, dan Fiqh. Selain para ulama juga ada ahli bahasa/sastra.
1.

Ulama-ulama tabiin ahli tafsir


Yaitu: Mujahid, Athak bin Abu Rabah, Ikrimah, Said bin Jubair,
Masruq bin Al-Ajda, Qatadah. Pada masa tabiin tafsir Al-Quran
bertambah luas dengan memasukkan Israiliyat dan Nasraniyat, karena
banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani memeluk agama Islam. Di
antara mereka yang termasyhur: Kabul Ahbar, Wahab bin Munabbih,
Abdullah bin Salam, Ibnu Juraij.

2.

Ulama-ulama Hadist
Kitab bacaan satu-satunya ialah al-Quran. Sedangkan hadis-hadis
belumlah dibukukan. Hadis-hadis hanya diriwayatkan dari mulut ke
mulut. Dari mulut guru ke mulut muridnya, yaitu dari hafalan uru
diberikannya kepada murid, sehingga menjdi hafalan murid pula dan
begitulah seterusnya. Setengah sahabat dan pelajar-pelajar ada yang
mencatat hadist-hadist itu dalam buku catatannya, tetapi belumlah
berupa buku menurut istillah kita sekarang. Ulama-ulama sahabat yang
banyak meriwayatkan hadis-hadis ialah: Abu Hurairah (5374 hadist),
Aisyah (2210 hadist), Abdullah bin Umar ( 2210 hadist), Abdullah
bin Abbas ( 1500 hadist), Jabir bin Abdullah (1500 hadist), Anas bin
Malik (2210 hadist).

11

3.

Ulama-ulama ahli Fiqh


Ulama-ulama tabiin Fiqih pada masa bani Umayyah diantaranya adalah:,
Syuriah bin Al-Harits, alqamah bin Qais, Masuruq Al-Ajda,Al-Aswad
bin Yazid kemudian diikuti oleh murid-murid mereka, yaitu: Ibrahim AnNakhl (wafat tahun 95 H) dan Amir bin Syurahbil As Syaby (wafat
tahun 104 H). sesudah itu digantikan oleh Hammad bin Abu Sulaiman
(wafat tahubn 120 H), guru dari Abu Hanafiah.

4. Ahli bahasa/sastra
Seorang ahli bahasa seperti Sibawaih yang karya tulisnya Al-Kitab,
menjadi pegangan dalam soal berbahasa arab. Sejalan dengan itu,
perhatian pada syair Arab jahiliahpun muncul kembali sehingga bidang
sastra arab mengalami kemajuan.
Di zaman ini muncul penyair-penyair seperti Umar bin Abu Rabiah
(w.719), Jamil al-uzri (w.701), Qys bin Mulawwah (w.699) yang dikenal
dengan nama Laila Majnun, Al-Farazdaq (w.732), Jarir (w.792), dan Al
akhtal (w.710).
Sebegitu jauh kelihatannya kemajuan yang dicapai Bani Umayyah
terpusat pada bidang ekspansi wilayah, bahasa dan sastra arab, serta
pembangunan fisik. Sesungguhnya dimasa ini gerakan-gerakan ilmiah
telah berkembang pula, seperti dalam bidang keagamaan, sejarah dan
filsafat. Dalam bidang yang pertama umpamanya dijumpai ulama-ulama
seperti Hasan al-Basri, Ibnu Syihab Az-Zuhri, dan Wasil bin Ata. Pusat

12

kegiatan ilmiah ini adalah Kufah dan Basrah di Irak. Khalid bin Yazid bin
Muawiyah (w. 794/709) adalah seorang orator dan penyair yang berpikir
tajam. Ia adalah orang pertama yang menerjemahkan buku-buku tentang
astronomi, kedokteran, dan kimia.

D.

Madrasah/Universitas pada Masa Bani Umayyah


Perluasan negara Islam bukanlah perluasan dengan merobohkan dan
menghancurkan, bahkan perluasan dengan teratur diikuti oleh ulama-ulama
dan guru-guru agama yang turut bersama-sama tentara Islam. Pusat
pendidikan telah tersebar di kota-kota besar sebagai berikut: di kota Mekkah
dan Madinah (HIjaz),di kota Basrah dan Kufah (Irak), di kota Damsyik dan
Palestina (Syam), di kota Fistat (Mesir). Madrasah-madrasah yang ada pada
masa Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
1.

Madrasah Mekkah
Guru pertama yang mengajar di Makkah, sesudah penduduk Mekkah
takluk, ialah Muaz bin Jabal. Ialah yang mengajarkan Al Quran dan
mana yang halal dan haram dalam Islam. Pada masa khalifah Abdul
Malik bin Marwan Abdullah bin Abbas pergi ke Mekkah, lalu mengajar
disana di Masjidil Haram. Ia mengajarkan tafsir, fiqh dan sastra.
Abdullah bin Abbaslah pembangunan madrasah Mekkah.

13

2.

Madrasah Madinah
Madrasah Madinah lebih termasyur dan lebih dalam ilmunya, karena di
sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat nabi. Berarti disana banyak
terdapat ulama-ulama terkemuka.

3.

Madrasah Basrah
Ulama sahabat yang termasyur di Basrah ialah Abu Musa Al-asyari dan
Anas bin Malik. Abu Musa Al-Asyari adalah ahli fiqih dan ahli hadist,
serta ahli Al Quran. Sedangkan Abas bin Malik termasyhur dalam ilmu
hadis. Al-Hasan Basry sebagai ahli fiqh, juga ahli pidato dan kisah, ahli
fikir dan ahli tasawuf. Ia bukan saja mengajarkan ilmu-ilmu agama
kepada pelajar-pelajar, bahkan juga mengajar orang banyak dengan
mengadakan kisah-kisah di masjid Basrah.

4.

Madrasah Kufah
Madrasah Ibnu Masud di Kufah melahirkan enam orang ulama besar,
yaitu: Alqamah, Al-Aswad, Masroq, Ubaidah, Al-Haris bin Qais dan
Amr bin Syurahbil. Mereka itulah yang menggantikan Abdullah bin
Masud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar
kepada Abdullah bin Masud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah,
bukan saja belajar kepada Abdullah bin Masud. Bahkan mereka pergi
ke Madinah.

5.

Madrasah Damsyik (Syam)


Madrasah itu melahirkan imam penduduk Syam, yaituAbdurrahman AlAuzaiy yang sederajat ilmunya dengan Imam Malik dan Abu-

14

Hanafiah. Mazhabnya tersebar di Syam sampai ke Magrib dan


Andalusia. Tetapi kemudian mazhabnya itu lenyap, karena besar
pengaruh mazhab SyafiI dan Maliki.
6.

Madrasah Fistat (Mesir)


Ulama yang mula-mula di madrasah Mesir ialah Abdullah bin Amr bin
Al-As, yaitu di Fisfat (Mesir lama). Ia ahli hadis dengan arti kata yang
sebenarnya. Karena ia bukan saja menghafal hadis-hadis yang
didengarnya dari Nabi S.A.W, melainkan juga dituliskannya dalam
buku catatan, sehingga ia tidak lupa atau khilaf meriwayatkan hadishadis itu kepada murid-muridnya. Oleh karena itu banyak sahabat dan
tabiin meriwayatkan hadis-hadis dari padanya.

15

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Pemerintah dinasti Umayyah menaruh perhatian dalam bidang pendidikan.
Memberikan dorongan yang kuat terhadap dunia pendidikan dengan
penyediaan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan agar para ilmuan, para
seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang
dikuasainya serta mampu melakukan kaderisasi ilmu. Setelah sistem Monarki
diberlakukan, maka secara otomatis pemilihan raja didasarkan atas garis
keturunan. Ini mengakibatkan munculnya pendidikan istana. Untuk
mengimbangi dengan tantangan dari Negara Barat, maka pemerintah tidak
hanya memfokuskan pelajaran terhadap pelajaran agama Islam saja. Akan
tetapi, pemerintah pada saat itu telah memeulia kegiatan penterjemahan
terhadap buku-buku yang dikarang oleh orang barat.

3.2. SARAN
Karena makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu pemakalah minta
saran dan kritikan dari saudara dan Bapak Dosen pembimbing demi
kesempurnaan makalah ini.

16

DAFTAR PUSTAKA

Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1992.


Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, Jakarta, Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1967.
Syuaib, Yusuf, Sejarah Daulah Umayyah 1, Jakarta, Bulan Bintang, 1997.
Langgulung, Hasan, Pendidikan Islam Menghadapi Abad-21, Jakarta, Pustaka Al
Husna, 1980.
Yunus, Mahmud., Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, PT. Hida Karya Agung,
1981.
Nizar, Samsul, Sejarah Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, PT. Cuputat
Press Group, 2005.
Al Abrasi, Athiyya, Tarbiyah Al Islamiyah, Terjemahan Bustami A. Ghani,
Jakarta, Bulan Bintang, 1993
Fahmi, Asma Hasan, Mabadiat Tarbiyyah Al Islamiyyah, diterjemahkan oleh
Mukhtar Yahya dan Sanusi Latif, Jakarta, Bulan Bintang, tth.
Salabi, Ahmad, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang.
Chalil, Munawar, Empat Biografi Imam Mazhab, Jakarta, Bulan Bintang, 1989.
Suwedi, Sejarah Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada,
2004.
http://makalahzaki.blogspot.com/2011/10/madrasahuniversitas-pada-masabani.html
http://karyaulama.blogspot.com/2008/04/pola-pendidikan-Islam-periodedinasti.html
http://akitephos.wordpress.com/sejarah-pendidikan-Islam/

17

MAKALAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

BANI UMAYAH

DISUSUN OLEH :

MUHAMMAD NUR FAISAL


KELAS 8G

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 BINONG


SMPN 1 BINONG
2016

18