Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kista dermoid merupakan suatu choristoma yang bersifat kongenital
dilapisi oleh keratinizing epidermis dengan struktur dermis di dalamnya, seperti
folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea. Kista dermoid berisi
cairan sebasea, keratin, kalsium, dan kristal kolesterol. Sekitar 10-50% kista
dermoid merupakan kista dermoid orbital.
Pada suatu survei histopatologis dilaporkan terdapat 307 kasus tumor
orbita, 35% merupakan kista dermoid. Selain itu, pada survei yang dilakukan
oleh Shield terhadap 645 biopsi orbita pada semua usia, 24% merupakan kista
dermoid dimana 250 anak dibawah usia 18 tahun, 46% merupakan kista
dermoid.
Kista dermoid biasanya ditemukan pada beberapa tahun pertama
kehidupan. Akan tetapi, kista dermoid yang profunda dapat tidak terdiagnosis
pada beberapa tahun kehidupan dan biasanya akan didiagnosis pertama kali pada
usia dewasa. Kista dermoid orbital paling banyak ditemui di bagian superolateral
dengan sutura frontozygomatic sebagai tempat perlengketannya dan jarang
ditemukan pada daerah superonasal.
Kista dermoid ditemukan berupa massa berbentuk oval, membesar
perlahan, teraba lunak, dan tidak nyeri. Namun bisa juga ditemukan kista
dermoid dengan pergeseran bola mata dan proptosis non-aksial, biasanya

ditemukan pada kista dermoid tipe profunda. Diagnosis pasti kista dermoid
dengan pemeriksaan histopatologi. Tatalaksana definitif dari kista dermoid ialah
ekstirpasi kista dengan mengangkat seluruh kista beserta kapsulnya.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui asuhan yang diberikan kista dermoid pada Ny.
2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Tujuan khusus
Untuk mengetahui pengertian dari kista dermoid
Untuk mengetahui etiologi dari kista dermoid
Untuk mengetahui tanda dan gejala dari kista dermoid
Untuk mengetahui komplikasi dari kista dermoid
Untuk mengetahui terapi dari kista dermoid
Untuk mengetahui penatalaksanaan dari kista dermoid

C. Hasil Yang Diharapkan


a. Bagi institusi kesehatan
Menambah referensi dalam upaya peningkatan pelayanan kebidanan
khususnya asuhan kebidanan pada wanita
b. Bagi institusi pendidikan
Menambah referensi dalam bidang pendidikan sehingga dapat menyiapkan
calon-calon bidan yang berkompeten khususnya dalam memberikan asuhan
kebidanan pada wanita secara komprehensif
c. Bagi penulis
Menambah pengetahuan dan memberikan pengalaman nyata yang berkaitan
dengan Asuhan kebidanan pada wanita
d. Bagi Pembaca

Memberikan tambahan pengetahuan tentang asuhan kebidanan pada wanita.


D. Waktu Dan Tempat

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Kista adalah suatu organ yang membesar dan di dalamnya berisi cairan,
seperti sebuah balon yang berisi air. Pada wanita, organ yang paling sering
menjadi kista adalah indung telur. Tidak ada ketentuan apakah indung telur kiri
atau kanan yang sering menjadi kista. Pada kebanyakan kasus kista justru tidak
memerlukan operasi. Kista ovarium sering terjadi pada wanita di masa
reproduksinya. Sebagian besar kista terbentuk karena perubahan kadar hormon
yang terjadi selama siklus haid, produksi dan pelepasan sel telur dari ovarium.
Adalah satu teratoma yang jinak di mana struktur-struktur ektodermal dengan
differensiasi sempurna, seperti epitel kulit, rambut, gigi dan produk glandula
sebasea berwarna putih kuning menyerupai lemak nampak lebih menonjol
daripada elemen-elemen entoderm dan mesoderm.

B. Etiologi
Menurut etiologinya, kista ovarium dibagi menjadi dua, yaitu (Ignativicius,
Bayne, 1991) :
1. Kista non neoplasma, disebabkan karena ketidakseimbangan hormon
estrogen dan progesteron, diantaranya adalah :
1) Kista non fungsional
Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan epitelium yang berkurang
di dalam kortek.
2) Kista fungsional

Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang menjadi ruptur


atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan folikuler diantara
siklus menstruasi. Banyak terjadi pada wanita yang menarche kurang
dari 12 tahun. Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi
progesteron setelah ovulasi. Kista tuka lutein, disebabkan karena
meningkatnya kadar HCG terdapat pada mola hidatidosa. Kista stein
laventhal, disebabkan karena peningkatan kadar LH yang menyebabkan
hiperstimulasi ovarium.
2. Kista neoplasma (Wiknjosastro, et.all, 1999)
Kistoma ovarii simpleks. Adalah suatu jenis kistadenoma serosum yang
kehilangan epitel kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista.
Kistadenoma ovarii musinosum. Asal kista ini belum pasti, mungkin berasal
dari suatu teratoma yang pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemen
yang lain. Kistadenoma ovarii serosum. Berasal dari epitel permukaan
ovarium (germinal ovarium). Kista endometroid. Belum diketahui
penyebabnya dan tidak ada hubungannya dengan endometrioid. Kista
dermoid. Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis.

C. Ciri-ciri
1. Tidak ada ciri-ciri yang khas pada kista dermoid.
2. Dinding kista kelihatan putih keabu-abuan, dan agak tipis.
3. Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, dibagian lain padat.
4. Sepintas lalu terlihat seperti kista berongga satu, tetapi bila dibelah,
biasanya nampak satu kista besar dengan ruangan kecil-kecil dalam
dindingnya.
5. Pada umunya terdapat satu daerah pada dinding bagian dalam, yang
menonjol dan padat.

6. Tumor mengandung elemen-elemen ektodermal, mesodermal, dan


entodermal. Maka dapat ditemukan kulit, rambut, kelenjar sebase, gigi,
tulang rawan, serat otot jaringan ikat, dan mukosa traktus gastrointestinal,
epitel saluran pernapasan, dan jaringan tiroid.
7. Bahan yang terdapat dalam rongga kista ialah produk dari kelenjar sebasea
berupa massa lembek sperti lemak, bercampur dengan rambut.
8. Pada kista dermoid dapat terjadi torsi tangkai dengan gejala nyeri mendadak
di perut bagian bawah. Ada kemungkinan pula terjadinya sobekan dinding
kista dengan akibat pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum.
D. Etiologi (Penyebab)
Kista ovarium disebabkan oleh gangguan (pembentukan) hormon pada
hipotalamus, hipofisis, dan ovarium. Oleh sel telur melalui proses patologis
Peran Indung Telur
Setiap wanita mempunyai 2 indung telur kanan dan kiri. Ukuran normalnya
sebesar biji kenari. Setiap indung telur berisi ribuan telur yang masih muda,
sering disebut juga follicle. Setiap bulan follicle tersebut membesar dan satu di
antaranya membesar sangat cepat dan menjadi telur yang matang. Pada peristiwa
ovulasi, telur yang matang ini keluar dari indung telur dan bergerak ke rahim
melalui saluran telur. Apabila sel telur yang matang ini tidak dibuahi, follicle
akan mengecil dan menghilang dalam waktu 2-3 minggu dan akan terus
berulang sesuai siklus haid
pada seorang wanita. Jikalau ada gangguan proses siklus ini maka akan terjadi
apa yang disebut kista.
E. Jenis Kista
Ada 4 macam kista indung telur. Kista fungsional, dermoid, cokelat
(endometriosis) dan kista kelenjar (cystadenoma). Sampai saat ini masih belum
diketahui bagaimana terjadinya kista. Biasanya tumbuh sangat pelan dan sering

terjadi keganasan pada umur lebih 45 tahun. Dari keempat kista ini yang paling
banyak dan justru sering mengecil sendiri seiring dengan membaiknya
keseimbangan hormonal adalah kista fungsional.
Kista Dermoid.
Kista ini terjadi karena jaringan dalam telur yang tidak dibuahi. Kemudian
tumbuh menjadi beberapa jaringan seperti rambut, tulang dan lemak. Kista dapat
terjadi pada dua indung telur dan biasanya tanpa gejala. Timbul gejala rasa sakit
apabila kista terpuntir atau pecah.
Bentuk cairan ini seperti mentega, kandunganya tidak hanya cairantapi juga
partikel lain seperti rambut, gigi, tulang atau sisa-sisa kulit. Asal tahu saja kista
ini merupakan bawaan sejak lahir dan bisa dialami pria dan wanita. Seperti kista
mosinosum juga sama dengan kista dermoid memerlukan hati-hati pada ibu
hamil karena bila meletus akan mengakibatkan cairan lengket isi cairanya seperti
rambut, gigi atau tulang bisa masuk perut akan mengakibatkan dan
menimbulkan sakit luar biasa.
F. Gejala-gejala
Pada umumnya kista bersifat jinak, berukuran kecil, dan tidak
berpengaruh terhadap kesuburan. Tetapi, kista bisa berbahaya manakala sudah
berukuran besar. Lebih diperjelas lagi, kista merupakan neoplasma atau
pertumbuhan sel baru yang liar. Kista bisa dikatakan berisiko jika neoplasmanya
ganas dan bisa mengakibatkan kanker ovarium. Sebagian besar kista ovarium
tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit nyeri yang tidak berbahaya. Tetapi
adapula kista yang berkembang menjadi besar dan menimpulkan nyeri yang
tajam. Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala saja karena
mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang

panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker ovarium. Meski
demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan ditubuh
Anda untuk mengetahui gejala mana yang serius.
G. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis kista ovarium antara lain:
1. Sering tanpa gejala.
2. Nyeri saat menstruasi.
3. Nyeri di perut bagian bawah.
4. Nyeri pada saat berhubungan badan.
5. Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai ke kaki.
6. Terkadang disertai nyeri saat buang air kecil dan/atau buang air besar.
7. Siklus menstruasi tidak teratur; bisa juga jumlah darah yang keluar banyak
Gejala-gejala berikut memberikan petunjuk diperlukan penanganan kesehatan
segera:
Nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba Nyeri bersamaan dengan demam Rasa ingin
muntah.
Adapun manifestasi klinis kanker ovarium antara lain:
1. Perubahan menstruasi.
2. Rasa sakit atau sensasi nyeri saat bersenggama (dyspareunia).
3. Gangguan pencernaan yang menetap, seperti: kembung, mual.
4. Perubahan kebiasaan buang air besar, contoh: sukar buang air besar (=
5.
6.
7.
8.
9.

sembelit, konstipasi,obstipasi)
Perubahan berkemih, misalnya: sering kencing.
Perut membesar, salah satu cirinya adalah celana terasa sesak.
Kehilangan selera makan atau rasa cepat kenyang (perut terasa penuh).
Rasa mudah capek atau rasa selalu kurang tenaga.
Rasa nyeri pada (tulang) punggung bawah (Low back pain).

Meskipun kista tidak mengganggu kesuburan, dianjurkan untuk selalu


melakukan deteksi dini berupa pemeriksaan ultrasonografi (USG). Karena, ada
kemungkinan kista tersebut neoplasma ganas dan bisa mengakibatkan kanker
ovarium. Seperti diketahui, kanker ovarium merupakan kanker nomor tiga
penyebab wanita dengan kista di rahimnya tetap bisa hamil. Lagi pula organ
ovarium itu ada sepasang, jika salah satunya terganggu dan tidak berfungsi,

masih ada satu lagi sehingga kehamilan masih dapat terjadi. Kista berukuran
besar dapat mengganggu kehamilan, bukan kesuburan kaum wanita. Kista yang
memiliki diameter lebih dari 5 cm dapat melintir pada saat terjadi kehamilan.
Akibatnya, kista pecah dan menimbulkan nyeri sangat hebat. Bila hal itu terjadi,
dapat menjadi nekrotik dan bisa mengakibatkan emboli hingga kematian. Itulah
sebabnya kista berukuran besar harus diangkat agar tidak mengganggu dan dapat
didiagnosis secara petologi. Dengan diagnosis dapat diketahui apakah kista itu
jinak atau ganas. Yang disebut kista itu berupa selaput. Ada yang berisi cairan
kental, dan bukan kental, yaitu dermoid. Kista dermoid berasal dari elemen
ektodermal sehingga sel-selnya mirip kulit, yaitu sel epitel pipih, juga folikel
rambut, kelenjar keringat, dan kadang-kadang juga terdapat elemen tulang.
Potensi kista dermoid menjadi ganas relatif kecil, cuma sekitar 1-3%. Penyakit
yang mengganggu kesuburan dan sering disalahartikan sebagai kista adalah
endometriosis. Endometriosis memang ada yang berbentuk kista, karena itu
sering disebut kista. Padahal, kista merupakan neoplasma, sementara
endometriosis berupa kelenjar dinding rahim yang abnormal dan tumbuh di luar
rahim. Biasanya penyakit endometriosis bisa mempengaruhi kesuburan dan
dapat memicu terbentuknya kista di indung telur. Kematian perempuan
Indonesia setelah kanker payudara dan kanker mulut rahim. Jika terjadi kanker
ovarium, ada kemungkinan organ reproduksi seperti indung telur atau rahim
harus dibuang sehingga penderita tidak bisa hamil.
H. Diagnosa
Pemeriksaan Penunjang
1. Laparaskopi

Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor


berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan silat-sifat tumor itu.
2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor apakah
tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor
kistik atau solid, dan dapatkah dibedakan pula antara cairan dalam rongga
perut yang bebas dan yang tidak.
3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk

menentukan

adanya

hidrotoraks.

Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam


tumor. Penggunaan foto rontgen pada pictogram intravena dan pemasukan
bubur barium dalam colon disebut di atas.
4. Parasentesis
Telah disebut bahwa fungsi pada asites berguna menentukan sebab asites.
Perlu diingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan cavum
peritonei dengan kista bila dinding kista tertusuk.
(Wiknjosastro, et.all, 1999)
kolposkopi screening, dan pemeriksaan darah (tumor marker atau petanda
tumor).Selain itu, MRI dan CT Scan bisa dipertimbangkan tetapi tidak sering
dilakukan karena pertimbangan biaya
Pemeriksaan Laboratorium
Di dalam praktek, jika diperlukan dokter kandungan akan menganjurkan untuk
melakukan pemeriksaan sekret (yang meliputi: Trichomonas, Candida/jamur,
bakteri batang, bakteri kokus, epitel, lekosit, eritrosit, epitel, dan pH) dan
hematologi, misalnya: Hb (Hemoglobin).
I. Komplikasi
Beberapa ahli mencurigai kista ovarium bertanggung jawab atas terjadinya
kanker ovarium pada wanita diatas 40 tahun. Mekanisme terjadinya kanker

10

masih belum jelas namun dianjurkan pada wanita yang berusia diatas 40 tahun
untuk melakukan skrining atau deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya
kanker ovarium.
Faktor resiko lain yang dicurigai adalah penggunaan kontrasepsi oral terutama
yang berfungsi menekan terjadinya ovulasi. Maka dari itu bila seorang wanita
usia subur menggunakan metode konstrasepsi ini dan kemudian mengalami
keluhan pada siklus menstruasi, lebih baik segera melakukan pemeriksaan
lengkap atas kemungkinan terjadinya kanker ovarium.
J. Terapi
1. MetodeLaparoskopi
Terapi bedah atau operasi merupakan tindakan yang dilakukan pada pasien
apabila kista tidak menghilang, memiliki ukuran besar, menimbulkan
keluhan- keluhan seperti rasa nyeri perut, nyeri haid atau gangguan siklus
dan infertilitas. Dibandingkan dengan metode konvensional, di mana pasien
dibedah dengan sayatan yang lebar di sekitar perut untuk pengangkatan
kista, metode laparoskopi merupakan metode terkini (Gold Standard) dalam
dunia kedokteran. Laparoskopi merupakan teknik pembedahan atau operasi
yang dilakukan dengan membuat dua atau tiga lubang kecil (berdiameter 510 milimeter) di sekitar perut pasien. Satu lubang pada pusar digunakan
untuk

memasukkan

sebuah

alat

yang

dilengkapi

kamera

untuk

memindahkan gambar dalam rongga perut ke layar monitor, sementara dua


lubang yang lain untuk peralatan bedah yang lain. Teknik ini disebut juga
teknik operasi minimal invansif (Minimal Invansive Surgery). Namun,
teknik ini tetap memiliki resiko bagi pasien, terutama karena saat melakukan
operasi tersebut, dokter yang menangani memerlukan ruang dalam rongga

11

perut

sehingga

memerlukan

gas

karbondioksida

(CO2)

untuk

mengembangkan rongga perut, antara lain risiko yang dapat terjadi jika gas
bertekanan tinggi tersebut masuk ke dalam pem- buluh darah.
2. Kista Tidak Harus Selalu Dioperasi
Seorang ibu yang pernah mempunyai kista berukuran 65 x 60 mm, dan
disarankan oleh dokter untuk mengangkat kistanya melalui prosedur
operasi, setelah menggunakan Hydroxygen Plus selama 3 minggu ternyata
kistanya telah menghilang. Ini adalah berita gembira karena dia tidak harus
operasi untuk membuang kistanya. Pada kasus lainnya, kista berukuran 4,2
cm menghilang dalam waktu 12 hari setelah menggunakan Hydroxygen
Plus. Beberapa wanita yang mengalami nasib sama juga mengungkapkan
kegembiraannya setelah mengetahui kistanya hilang. Hydroxygen Plus
adalah produk terapi oksigen unik yang akan menyuplai tubuh anda dengan
oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk membersihkan tubuh anda dari
sampah dan racun. Ketiadaan oksigen di sel kita melemahkan sistem
kekebalan tubuh, memungkinkan infeksi oleh virus, kerusakan sel,
pertumbuhan bakteri, penuaan dini, dan berbagai masalah kesehatan
lainnya.

Tanpa

pasokan

oksigen

yang

cukup

ke

dalam

darah,

memungkinkan sel-sel yang rusak untuk memperbanyak diri dan terus


bertumbuh dalam tubuh kita karena sel-sel kita kekurangan oksigen. Jika
sel-sel tubuh kita kaya oksigen, sel-sel yang telah bermutasi akan sulit untuk
berkembang. Hydroxygen Plus juga telah dilengkapi dengan enzim-enzim,
asam amino, trace mineral, dan probiotik agent.
3. Tindakan operasi

12

pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor
dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor.
Akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan
pengangkatan ovarium, bisanya disertai dengan pengangkatan tuba
(Salpingo-oovorektomi). (Wiknjosastro, et.all, 1999)
Asuhan post operatif merupakan hal yang berat karena keadaan yang
mencakup keputusan untuk melakukan operasi, seperti hemorargi atau
infeksi. Pengkajian dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda vital, asupan
dan keluaran, rasa sakit dan insisi. Terapi intravena, antibiotik dan analgesik
biasanya diresepkan. Intervensi mencakup tindakan pemberiaan rasa aman,
perhatian terhadap eliminasi, penurunan rasa sakit dan pemenuhan
kebutuhan emosional Ibu. (Hlamylton, 1995). Terapi pada kista dermoid
tediri atas pengngkatan, biasanya dengan seluruh ovarium
K. Tindakan antisipasi
Jika anda mempunyai kista yang berukuran kecil, anda perlu melakukan
observasi, terutama jika anda sudah memasuki usia pramenopause. Anda perlu
melakukan pemeriksaan USG berikutnya setelah 1 bulan, meskipun sebagian
besar kista telah menghilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu. Untuk
wanita yang telah melewati masa menopause juga perlu memeriksa kadar
protein CA-125. Bagaimanapun, hal ini tergantung dari berbagai faktor seperti
ukuran kista dan bagaimana kista berubah sepanjang waktu. Follow up
diperlukan dalam jangka waktu 4 bulan setelah kista menghilang. Pada kasus
kista yang berukuran besar, dimana perut tampak seperti orang hamil, atau
muncul gejala-gejala seperti yang disebutkan diatas, kemungkinan kista perlu

13

diangkat melalui prosedur laparatomi. Kadangkala dokter tetap menganjurkan


untuk mengangkat kista meskipun anda tidak merasakan gejala, hal ini berguna
untuk menurunkan risiko kista berubah menjadi ganas. Kista yang berukuran
tidak terlalu besar bisa diangkat dengan menggunakan laparoskopi, yaitu suatu
tehnik pembedahan dimana ahli bedah membuat 2 buah robekan kecil di perut
bagian bawah dan dengan bantuan laparoscope (mikroskop berbentuk tabung
yang dimasukkan ke dalam robekan untuk melihat organ internal), ahli bedah
membuat lubang kecil pada kista untuk mengeringkan cairan di dalamnya.

14

BAB III
PEMBAHASAN KASUS

Tanggal masuk :

Pengkaji : kelompok

Jam Masuk

Tanggal : 27 Nov 2016

Tempat

: R.S ZA

Jam

15

: 12.00 WIB

16

DATA SUBJEKTIF
1. Identitas Pasien :
Nama
Umur
Tgl/jam lahir
Jenis kelamin
BB lahir
Panjang Badan

: Bayi Ny. W dan Tn. N


: 3 jam
: 14 Februari 2016 jam 17.45 WIB
: Perempuan
: 1800 gram
: 42 cm

17

2. Riwayat Kesehatan Ibu


Jantung
: tidak ada
Hipertensi
: tidak ada
Diabetes Melitus
: tidak ada
Malaria
: tidak ada
Ginjal
: tidak ada
Asma
: tidak ada
Hepatitis
: tidak ada
Riwayat operasi abdomen/ SC : tidak ada
3. Riwayat Penyakit Keluarga
Hipertensi
: tidak ada
Diabetes Melitus : tidak ada
Asma
: tidak ada
Lain- lain
: tidak ada
4. Riwayat Persalinan Sekarang
G : II
P: I
A: 0
UK
: 28 minggu
Tanggal/ Jam Persalinan : 14 Februari 2016, pukul 17.45 WIB
Tempat Persalinan
: BPM Salabiah S.SiT
Penolong Persalinan
: Salabiah S.SiT
Jenis Persalinan
: Normal
Komplikasi Persalinan : ibu : tidak ada
Bayi : tidak ada
Ketuban Pecah
: 18.00 WIB
Keadaan Plasenta
: utuh
Tali Pusat
: 55

18

5. Riwayat Kehamilan
a. Riwayat komplikasi kehamilan
Perdarahan
: tidak ada
Preeklamsia/Eklamsia :tidak ada
Penyakit kelamin
: tidak ada
Lain- lain
: tidak ada
b. Kebiasaan ibu waktu hamil
Makanan : nasi, lauk pauk, air mineral
Obat- obatan : tablet Fe
Jamu
: tidak ada
Merokok : tidak ada

DATA OBJEKTIF :
Kebutuhan Bayi

Intake
: ASI
Eliminasi
: Tidak ada
Miksi
: Tidak ada
Keluar tanggal
:Mekonium
: Tidak ada
Warna
: tidak ada
Keluar tanggal
:Aktifitas
: tidak ada

Antropometri
1.
2.
3.
4.
5.

Berat Badan
: 1800 gram
Panjang badan
: 42 cm
Lingkar kepala
: 29 cm
Lingkar dada
: 24 cm
Lingkar perut ( jika ada indikasi ) : -

Pemeriksaan Umum
1. Jenis kelamin
2. APGAR Score
3. Keadaan umum bayi
4. Suhu
5. Bunyi jantung
Frekuensi

: perempuan
: 5/6
: lemah
: 36 0c
:
: 100 x/mnt

19

Respirasi

: 40

x/mnt

Pemeriksaan Fisik
1. Kepala
Caput succedanum : tidak ada
Cepal hematom
: tidak ada
2. Mata
Bentuk
: simetris
Sekret : normal
Conjungtiva : tidak anemis
Sclera : tidak ikterik
3. Hidung
Bentuk
: mancung
Secret : tidak ada
4. Mulut
Bibir
: ada
Palatum : ada
5. Telinga
Bentuk : simetris
Secret
: tidak ada
6. Leher
Pergerakan
: ada
Pembengkakan : tidak ada
Kekakuan
: tidak ada
7. Dada
Bentuk simetris/ tidak : simetris
Retraksi dinding dada
: tidak ada
8. Abdomen
Kembung
: tidak ada
Tali pusat
: normal
9. Punggung
: ada/ tidak ada tulang belakang
10. Tangan dan kaki
Gerakan
: sedikit aktif
Bentuk
: simetris
Jumlah jari
: 10 jari tangan , 10 jari kaki
Warna
: merah

Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada
Assessment/ Diagnosa

20

Bayi Ny. W dan Tn. N, usia 3 jam dengan BBLR di rujuk ke Rumah Sakit.
Planning
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Bina hubungan baik dengan keluarga


Informasikan hasil pemeriksaan
Berikan O2 untuk membantu pernapasan si bayi
Jaga kehangatan tubuh bayi
Anjurkan ibu untuk inisiasi menyusu dini
Ajarkan ibu perawatan bayi berat lahir rendah
Ajarkan ibu perawatan tali pusat
Siapkan rujukan

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kista dermoid merupakan suatu kista teratoma jinak (choristoma) yang bersifat
kongenital dilapisi oleh keratinizing epidermis dengan struktur dermis di dalamnya,
seperti folikel rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea. Kista dermoid berisi
cairan sebasea, keratin, calcium dan kristal kolesterol. Kista ini sering ditemukan pada
anak-anak, walupun bisa ditemukan pada semua usia.
Kista dermoid orbital paling banyak ditemui di aspek superolateral dengan
sutura frontozygomatic sebagai tempat perlengketannya dan jarang ditemukan pada
daerah superonasal. Pada umumnya kista dermoid ditemukan berupa massa seperti
telur, berbentuk oval yang membesar perlahan, teraba lunak, dan tidak nyeri. Namun
bisa juga ditemukan kista dermoid dengan pergeseran bola mata dan proptosis nonaksial atau massa yang batas posteriornya kurang jelas yang biasanya ditemukan pada
kista dermoid tipe profunda. Diagnosis pasti kista dermoid adalah dengan
pemeriksaan histopatologi. Tatalaksana definitif dari kista dermoid ialah ekstirpasi
kista.
B. Saran
1. Bagi Lahan Praktek
Sebagai masukan dalam memberikan asuhan dan pengambilan tindakan
terhadap pasien penderita kista dermoid

21

2. Bagi Pembaca
Sebagai referensi dan bahan bacaan untuk masyarakat umum, agar
mengetahui asuhan apa yang dapat diberikan kepada pasien dengan kista
dermoid.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai referensi dan bahan bacaan mahasiswa-mahasiswi Yayasan
Pendidikan Darussalam Lhokseumawe, khususnya Akedemi Kebidanan
Darussalam agar mahsiswi mampu menerapkan manajemen asuhan kebidanan.
4. Bagi Penulis
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penulis dalam manajemen
asuhan kebidanan pada penyakit kista dermoid
5. Bagi Penulis
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penulis dalam manajemen
asuhan kebidanan pada penyakit kista dermoid