Anda di halaman 1dari 10

5 Negara dengan Tingkat Kematian Tertinggi

di dunia

5 Negara dengan Tingkat Kelahiran


Tertinggi

10 Negara Dengan Tingkat Kehamilan


Remaja Tertinggi Di Dunia
10). Hungaria:
Negara ini memiliki 9.175 kelahiran per tahun oleh remaja perempuan. Persentase
kelahiran adalah 1,3% per tahun.
9). Italia:
11.153 kelahiran remaja mengambil tempat di Italia per tahun dan persentase kelahiran
adalah 1,6%.
8). Spanyol:
Ada 11.264 kelahiran berlangsung setiap tahun di Spanyol dan persentase entah
bagaimana sama dengan Italia, yaitu 1,6%.
7). Australia:
Negara ini memiliki 11.894 remaja kelahiran per tahun dan persentase tingkat kelahiran
adalah 1,7%.
6). Jepang:
17.501 bayi lahir di Jepang per tahun dan 2,5% adalah angka kelahiran persentase
Jepang.
5). Prancis:
17.985 adalah tingkat kelahiran negara ini dengan persentase 2,6% tingkat kelahiran.
4). Kanada:
Ada 19.920 remaja kelahiran per tahun di Kanada dan persentase tingkat kelahiran
adalah 2,8%.
3). Jerman:
Ini adalah 3 rd negara tertinggi dengan tingkat kehamilan remaja tertinggi dengan
29.000 kelahiran per tahun dan persentase tingkat kelahiran adalah 4,1%.
2). Polandia:
Negara tertinggi kedua dengan 30.413 kelahiran per tahun adalah Polandia dan
persentase tingkat kelahiran adalah 4,3%.
1). Amerika Serikat:
Negara dengan jumlah angka kelahiran tertinggi adalah US dengan 494.357 kelahiran
remaja per tahun dan dengan persentase tingkat kelahiran tertinggi, yaitu 7,6%.

9 BIDAN YANG MENDAPAT REWARD

Bidan punya andil besar atas kesehatan juga kesejahteraan ibu hamil, terutama di pedesaan.
Berbagai cara pun dilakukan bidan menjawab tantangan budaya masyarakat setempat, tantangan
ekonomi, dan kesehatan. Minimnya akses kesehatan, tak adanya biaya jelang persalinan, serta
budaya setempat yang berdampak pada kesehatan ibu menjadi sejumlah masalah sekaligus
tantangan yang dijawab sembilan bidan inspirasional peraih penghargaan Srikandi Award 2011
ini.
Kategori Tantangan Budaya:
1. Bidan Meiriyastuti - Jambi
Meiriyastuti, perempuan berusia 32 tahun ini termasuk bidan muda di Desa Teriti, Kecamatan
Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi. Meski masih muda, ia tak gentar berhadapan dengan masyarakat
menjawab tantangan budaya setempat. Bukan perkara mudah bagi bidan muda untuk mengubah
persepsi di masyarakat mengenai penanganan persalinan yang keliru, bahkan merugikan
kesehatan ibu dan bayi.
Ritual pascapersalinan membudaya di masyarakat yang tinggal di tepian sungai Batanghari.
Salah satunya ritual "Nyebur ke Ayek". Ritual ini mengharuskan bayi berusia tujuh hari untuk
dimandikan air kembang di sungai Batanghari yang dingin. Sementara, pascamelahirkan, ibu
hanya boleh mengonsumsi nasi putih dan kecap asin selama 40 hari. Ibu pantang makan sayuran
dan ikan, karena dianggap akan mendatangkan penyakit pada bayi.
Meiriyastuti mendapatkan penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011, atas
konsistensinya melakukan pendekatan kepada masyarakat selama 11 tahun untuk memodifikasi
tradisi. Yakni, mengajak masyarakat memandikan bayi, tetap dengan bunga, namun berisi air
hangat yang ditampung dalam baskom.

2. Bidan Sri Ariati - Majene, Sulawesi Barat


Lain lagi dengan bidan Sri Ariati yang mengabdi di Kelurahan Banggae, Majene, Sulawesi Barat.
Kebiasaan masyarakat lokal yang menimbulkan risiko terhadap kesehatan ibu pascapersalinan
berhasil diubahnya. Sebelumnya, masyarakat setempat taat pada adat yang mengharuskan ibu
pascamelahirkan untuk mengangkat air dari sumur ke rumah.
Menggunakan bahasa Mandar, bidan Sri mengajak masyarakat Banggae untuk mulai
meninggalkan tradisi ini. Ia berhasil melakukan pendekatan kepada dukun beranak atau disebut
Sando, yang jumlahnya dua kali lipat dari jumlah bidan di daerah tersebut. Sosok bidan Sri tak
asing di tengah masyarakat Banggae. Atas kontribusinya, ia pun dinilai layak menerima
penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011.
3. Bidan Rosalinda Delin - Belu, Nusa Tenggara Timur
Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk Atapupu, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur berlokasi 12
kilometer dari perbatasan Timor Leste. Di desa ini, masyarakat setempat mengenal budaya
panggang api pasca persalinan. Selama 40 hari pascapersalinan, ibu dan bayi di Jenilu harus
melakukan ritual panggang api yang berisiko menimbulkan anemia pada ibu, dan mengganggu
pernafasan bayi.
Adalah bidan Rosalinda Delin yang menggerakkan sosialisasi dari rumah ke rumah mengenai
risiko ini. Perlahan, masyarakat mulai meninggalkan budaya panggang api. Atas perjuangannya,
penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011 diberikan kepadanya.
Kategori Pemberdayaan Ekonomi:
1. Bidan Kesih - Bandung, Jawa Barat
Kemiskinan berdampak pada kesehatan ibu dan bayi. Inilah yang menjadi dasar perjuangan
bidan Kesih (35) yang bertugas di Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.
Dari 1685 kepala keluarga yang berprogesi sebagai buruh tani di desa ini, 90 persennya
tergolong miskin.

Bidan Kesih kemudian mengajak perempuan berdaya secara ekonomi, untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi dan kesehatan. Bidan Kesih memimpin koperasi Bunda pada 2006 dan
melahirkan 69 kader darinya. Produk keripik opak menjadi sumber mata pencaharian perempuan
di desa ini, yang dijual melalui koperasi. Bersama kader-kadernya, bidan Kesih juga membantu
warga miskin dengan memfasilitasi dana sosial bersalin. Membangun kemandirian ekonomi
perempuan yang menjadi perhatian bidan Kesih, membawanya ke Jakarta sebagai penerima
penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011.
2. Bidan Sri Partiyah - Magetan, Jawa Timur
Inilah bidan di Desa Duwet Kecamatan Bendo, Magetan, Jawa Timur yang mau berurusan
dengan sampah, dan mengolahnya menjadi berkah. Bidan Sri Partiyah mendirikan bank sampah
untuk meningkatkan taraf ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Ia mengajak warga mengumpulkan sampah, memilah dan memilih sampah sesuai jenisnya, lalu
menimbangnya, menentukan harga, dan menjualnya ke pengepul. Hasil dari bank sampah ini
dimanfaatkan untuk memberikan bantuan kepada balita gizi buruk serta pemeriksaan golongan
darah gratis bagi ibu hamil di Magetan.
Ia juga mengajak warga memanfaatkan hasil penjualan sampah sebagai modal penanaman buah
pepaya. Hasil tanaman pepaya selain dapat menambah penghasilan keluarga, juga dapat
memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil. Atas upayanya, Sri Partiyah menerima penghargaan
Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011.
3. Bidan Sri Puayah - Musi Rawas, Sumatera Selatan
Bersama 34 anggota koperasi yang dibinanya, bidan Sri Puayah, memproduksi abon dan
berbagai makanan hasil olahan. Kaum perempuan anggota koperasi mampu mandiri secara
ekonomi berkat upaya bidan Sri Puayah. Mereka berkontribusi meningkatkan penghasilan
keluarga sehingga mampu memberikan asupan gizi untuk anak-anaknya.
Awalnya, Sri Puayah (34) bertugas sebagai bidan di Desa P1 Mardiharjo, Kecamatan Purwodadi,
Musi Rawas, Sumatera Selatan sejak 1999. Namun menjadi bidan saja tak cukup baginya.

Apalagi melihat kondisi kemiskinan warga yang tak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi.
Pembedayaan ekonomi perempuan menjadi solusi, yang pada akhirnya, juga membantu bidan
menjalankan fungsi utamanya, sebagai mitra perempuan saat menyiapkan kehamilan hingga
melahirkan. Atas kepeduliannya, Sri dianugerahi penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi
Award 2011.
Kategori Promosi Kesehatan:
1. Bidan Dewi Susila - Deli Serdang, Medan
Bidan Dewi Susila (32), berkontribusi menggalakkan pencegahan HIV/AIDS usia dini melalui
program "Kesan Pertama di Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara.
Tingginya angka kasus HIV/AIDS di Tanjung Morawa karena penyalahgunaan narkoba dan seks
bebas melatari program ini. Kini, ada 180 pemuda yang bertugas sebagai agen penyebar
informasi mengenai bahaya HIV/AIDS. Upaya bidan Dewi menciptakan generasi musa sehat di
Tanah Deli memberikan inspirasi dan apresiasi, berupa penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi
Award 2011.
2. Bidan Ni Nyoman Rai Sudani - Badung, Bali
Pemakaian KB pada perempuan menimbulkan masalah. Inilah juga yang dialami masyarakat di
Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali. Bidan Rai Sudani (51), memberanikan diri menggagas
program KB vasektomi bagi pria. Upaya ini bukan tanpa masalah, karena masih banyak
masyarakat yang memercayai rumor bahwa KB vasektomi menimbulkan gangguan dan
mengurangi kualitas hubungan seksual. Meski begitu, Bidan Rai Sudani tak gentar hingga
akhirnya berhasil mengajak 42 akseptor untuk mengikuti KB vasektomi hingga Oktober 2011
lalu. Atas kegigihannya, bidan Rai Sudani menerima penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi
Award 2011.
3. Bidan Ponirah - Serang, Banten
Angka kematian ibu dan bayi menjadi masalah utama di pedesaan lantaran minimnya akses dan
tenaga kesehatan. Bidan Ponirah (43), yang bertugas di Desa Waringin Kurung, Serang, Banten,
berinisiatif mendirikan Bidan Praktek Swasta untuk memberikan solusi.

Cara yang dipilihnya di antaranya menggalakkan kegiatan senam ibu hamil, pemeriksaan
kandungan, kunjungan nifas selama 40 hari untu mengawasi kesehatan ibu dan bayi,
memberikan pelayanan gratis bagi keluarga tak mampu, juga menjalin hubungan dan kerjasama
dengan dukun beranak. Upaya bidan Ponirah membuahkan hasil. Angka kematian ibu dan bayi
di wilayahnya mencapai lima persen dari total kelahiran (data sebelum 2003). Namun kini,
terjadi penurunan kematian ibu dan bayi mendekati nol persen pada 2011. Atas upayanya di
bidang promosi kesehatan, bidan Ponirah layak menerima penghargaan Bidan Inspirasional
Srikandi Award 2011.