Anda di halaman 1dari 23

Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta

Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang


Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang merupakan rumah sakit
pemerintah yang berpredikat sebagai rumah sakit tipe B pendidikan. Rumah
sakit ini disebut sebagai rumah sakit pemerintah karena dimiliki dan
diselenggarakan oleh pemerintah daerah tingkat Kabupaten. Rumah sakit ini
dipimpin oleh seorang direktur dan dibantu oleh tiga orang wakil direktur.
Pelayanan kesehatan spesialis Rumah Sakit Umum Kabupaten
Tangerang sebanyak 29 macam yakni bedah, penyakit dalam, anak, obgyn,
radiologi, anesthesi, patologi klinik, jiwa, mata, THT, kulit dan kelamin,
jantung, paru, saraf, bedah ortopedi, urologi, patologi anatomi, rehabilitasi
medik, bedah plastik, bedah saraf, gizi, akupuntur, okupasi kerja, bedah
mulut, ortodonti, prostodonti, konservasi gigi, periodonti, penyakit mulut.
Dengan Keputusan Bupati Tangerang No.445/Kep.113-HUK/2008
RSU Kabupaten Tangerang ditetapkan sebagai penyelenggara Pola Pengelola
Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) Kabupaten
Tangerang dengan status BLUD penuh dan pada tahun 2011 memperoleh
sertifikat akreditasi 16 bidang pelayanan.
Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dikatakan sebagai rumah
sakit pendidikan berdasarkan KepmenkesRI No: HK.02.03/I/0501 2013
tanggal 18 Maret 2013 tentang Penetapan Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Tangerang sebagai Rumah Sakit Pendidikan Satelit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Serta adanya hubungan kerja sama rumah
sakit dengan beberapa universitas sebagai tempat pendidikan dan pelatihan
bagi tenaga medis dan paramedis untuk pengembangan ilmu pengetahuan
bagi calon dokter, dokter gigi, apoteker, kebidanan, dan keperawatan.
Pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
terdiri dari pelayanan farmasi klinik dan non klinik (manajemen). Pelayanan
farmasi klinik berorientasi pada peningkatan kesehatan pasien. Oleh karena
itu RSU Kabupaten Tangerang terus meningkatkan

melalui kegiatan

pendidikan serta pengembangan sarana dan prasarana seperti perawatan, alat


diagnostik

modern,

sistem

komputerisasi

dan

tenaga

kesehatan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

99

100
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

berpengalaman, walaupun demikian masyarakat tetap mengharapkan


pelayanan dan pengelolaan yang lebih baik melalui pelayanan kesehatan dan
pengelolaan manajemen secara profesional.
Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang juga membentuk Komite
Farmasi dan Terapi (KFT) yang bertujuan untuk mendapatkan penggunaan
obat yang rasional serta mengembangkan hubungan kerja sama antara sesama
bidang kesehatan, dimana masa kerja komite ini selama 3 tahun dan salah
satu tugas yang paling penting dari komite ini adalah menyusun formularium
rumah sakit untuk membantu pengelolaan dan penggunaan obat di instalasi
farmasi rumah sakit. Penyusunan formularium rumah sakit berdasarkan atas
kesepakatan dalam rapat dari masing-masing utusan tiap staf medik
fungsional (SMF) untuk digunakan sebagai acuan rumah sakit dalam
menjamin penggunaan obat yang aman dan rasional, sehingga obat yang
digunakan adalah obat yang tertera dalam formularium Rumah Sakit Umum
Kabupaten Tangerang dan formularium tersebut akan dievaluasi dan direvisi
setiap tahunnya dengan memperhatikan usulan dari staf medik fungsional.
Formularium di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang terakhir
diterbitkan pada tahun 2013.
Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan rujukan dan diberi kewenangan dalam pengelolaan
manajemen dan sumber daya, termasuk didalamnya penggunaan dan
penerimaan fungsional secara langsung. Rumah Sakit Umum Kabupaten
Tangerang dipimpin oleh direktur yang berasal dari tenaga kesehatan yang
mempunyai kompetensi dalam manajemen administrasi rumah sakit.
B. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
merupakan suatu departemen atau unit pelayanan fungsional di bidang
penunjang medis yang dipimpin oleh seorang apoteker dan dibantu oleh
beberapa orang apoteker yang bertanggung jawab atas seluruh pelayanan
kefarmasian yang terdiri atas pelayanan paripurna mencakup perencanaan,
pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan/sediaan farmasi,

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

101
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita rawat inap dan rawat jalan,
pengendalian mutu dan pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh
perbekalan kesehatan di rumah sakit serta pelayanan farmasi klinik umum
dan spesialis mencakup pelayanan langsung pada pasien. yaitu dengan
menyelenggarakan sediaan farmasi, pengelolaan obat, pendistribusian obat,
pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat dan pelayanan
farmasi klinik dan non klinik yang berorientasi kepada pasien serta kegiatan
lain seperti pendidikan dan penelitian. Depo Farmasi yang terdapat di Rumah
Sakit Umum Kabupaten Tangerang adalah Depo Farmasi Rawat Jalan, Depo
Farmasi Rawat Inap, Depo Farmasi IGD, Depo Farmasi Instalasi Khusus
Wijaya Kusuma (IKW), Depo Farmasi Anyelir, Depo Farmasi OK depan dan
Depo Farmasi OK belakang dan Depo Farmasi cathlab.
1. Depo Farmasi Rawat Jalan
Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
melayani pasien-pasien khususnya rawat jalan yang buka setiap hari Senin
s/d Kamis jam 07.30-15.30 WIB dan Jumat jam 07.30-16.00 WIB.
Depo Farmasi rawat jalan merupakan Depo Farmasi yang
melakukan pelayanan resep yang melayani resep dari pasien UMUM,
pasien BPJS PBI dan non PBI, serta pasien dari perusahaan-perusahaan
yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang.
Kegiatan pelayanan di Depo Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit
Umum Kabupaten Tangerang dilakukan oleh apoteker dan asisten
apoteker yang bertugas terhadap kegiatan pelayanan yang meliputi
penyiapan obat untuk pasien, penyerahan obat yang sudah disiapkan,
monitoring resep, serta pemberian KIE.
Pelayanan di Depo Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum
Kabupaten Tangerang telah menggunakan sistem komputerisasi,terutama
yang berkaitan dengan harga dan ketersediaan obat. Hal ini untuk
mempermudah dan mengefektifkan waktu serta mempercepat waktu
pelayanan bagi pasien dan bermanfaat untuk mengumpulkan data
penerimaan serta pengeluaran obat, data pasien yang menerima obat, jenis
obat yang dilayani, daftar harga obat dengan menyesuaikan daftar obat

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

102
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

dengan kemampuan keuangan pasien serta mencatat pendapatan tiap


harinya.
Persediaan obat dan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan
habis medis pakai di Depo Farmasi Rawat Jalan didistribusikan dari
Instalasi Farmasi Rumah Sakit berdasarkan permintaan yang di input
melalui SIMRS. Untuk pengamprahan dilakukan setiap hari, namun
terkadang ada penambahan barang yang diamprah diluar jadwal
pengamprahan dikarenakan kurangnya stok obat yang diluar perkiraan.
Sistem distribusi yang digunakan pada Depo Farmasi Rawat Jalan yaitu
individual prescribing (IP). Keuntungan penggunaan sistem IP ini adalah
memungkinkan resep dikaji oleh IFRS, pengendalian obat oleh IFRS
lebih mudah, pencegahan interaksi obat dapat dicegah. Sedangkan
kerugiannya adalah membutuhkan jumlah personil IFRS dan sering
terjadi kesalahan obat.
Sistem IP maksudnya adalah resep diserahkan langsung oleh
dokter ke pasien yang mendapatkan pengobatan rawat jalan dari dokter
poliklinik di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. Resep individual
ini selanjutnya akan dibawa oleh pasien ke Depo Farmasi Rawat Jalan,
dimana setelah menyerahkan resep ke petugas administrasi pasien akan
diberikan nomor resep dan nomor yang sama ditulis pada resep asli,
kemudian dilakukan skrining resep, konfirmasi harga obat atau alkes
hanya ditujukan kepada pasien umum. Setelah harga dikonfirmasikan
kepada pasien dan pasien setuju maka obat disiapkan, diberi etiket, lalu
dilakukan pengecekan ulang antara obat dan resep oleh apoteker,
kemudian pasien dipanggil dan diberi informasi yang diperlukan
berkaitan dengan obat pasien tersebut.
Penyimpanan obat dibedakan

berdasarkan

obat

generik,

paten,sifat dan karakteristik serta bentuk sediaan dari masing-masing obat


yang disusun menurut abjad dan farmakologi. Untuk keluar masuknya
obat dikontrol dengan sistem komputerisasi, agar dapat diketahui selalu
stok obat didalam Depo Farmasi. Sistem kontrol ketersediaan barang yang
dilakukan di Depo Farmasi Rawat Jalan adalah dengan melakukan stok

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

103
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

opname semua persediaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan habis
medis pakai setiap akhir bulan, dan dilaporkan ke IFRS untuk disesuaikan
dengan data yang ada.
2. Depo Farmasi Rawat Inap
Pelayanan resep Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
untuk pasien rawat inap dilaksanakan di Depo Farmasi Rawat Inap yang
melayani Paviliun Cempaka, Dahlia, Flamboyan, Kemuning, Soka,
Seruni, Kenanga dan Mawar. Pola pelayanan resep menggunakan sistem
distribusi obat secara One Daily Dose(ODD) diberikan untuk pasien yang
masih dirawat inap, dimana pemberian obat untuk pemakaian sehari dan
resep individu untuk pasien rawat inap yang diperbolehkan pulang.
Keuntungan sistem ODD adalah mengurangi beban kerja IFRS,
meminimalkan jumlah obat, mengurangi kesalahan penggunaan obat.
Sedangkan kerugiannya adalah membutuhkan personil IFRS yang lebih
banyak, obat yang ada dalam ruangan persediaan obat dapat hilang.
Tugas dari apoteker ruangan yaitu membantu koordinator
pelayanan dalam menjalankan pelayanan sediaan farmasi alat kesehatan
dan bahan habis medis pakai dan pelayanan farmasi klinik dimana
apoteker melakukan visite bersama dokter dan perawat dan mengecek
kelengkapan resep, mengecek ulang obat dan alat kesehatan yang sudah
disiapkan, menyerahkan obat dan alat kesehatan dengan disertai informasi
yang diperlukan, melakukan konseling pada pasien yang dianggap
memerlukan, dan menjaga hubungan dengan dokter, perawat dan tenaga
kesehatan lainnya.
Depo Farmasi Rawat Inap melayani permintaan obat dimulai jam
08.00 16.00 WIB. Pengadaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan
habis medis pakai di Depo Farmasi Rawat Inap dilakukan setiap hari yaitu
dengan mencatat permintaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan
habis medis pakai melalui SIMRS. Penyimpanan sediaan farmasi alat
kesehatan dan bahan habis medis pakai di Depo Farmasi Rawat Jalan
berdasarkan alfhabetis, farmakoterapi, dan bentuk sediaan.
3. Depo Farmasi IGD (Instalasi Gawat Darurat)

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

104
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

Pelayanan Depo Farmasi IGD dilakukan pada pasien-pasien yang


gawat darurat selama 24 jam. Depo Farmasi IGD merupakan salah satu
Depo Farmasi yang melayani penyediaan obat dan alkes untuk pasien
umum, BPJS PBI dan Non-PBI serta PT. Depo Farmasi IGD dikelola oleh
seorang asisten apoteker (AA) dan Administrasi. Sistem distribusi obat ke
pasien menggunakan sistem kombinasi Individual Prescribing (IP) dan
ODD untuk pasien ICCU. Depo Farmasi IGD buka 24 jam, untuk
melayani pembelian alkes dan obat-obatan. Depo Farmasi IGD terletak di
dalam instalasi gawat darurat dan dijaga oleh seorang apoteker, petugas
administrasi dan asisten apoteker (AA) untuk shift pagi. Sedangkan untuk
shift sore dan malam hanya dijaga oleh administrasi dan asisten apoteker.
Pelayanan Depo Farmasi IGD antara lain :
Pasien dari IGD sendiri dan ICU atas
Pavaliun Anyelir A, Anyelir B, Kamar Bersalin, Aster, Perinatologi A,
Perinatologi B, NICU, Mawar, Kenanga, Seruni, Kemuning,
Flamboyan, Dahlia dan Cempaka yang dilayani pada jam 15.30-07.00
WIB.
4. Depo Farmasi IKW (Instalasi Khusus Wijayakusuma)
Instalasi Khusus Wijayakusuma (IKW) merupakan instalasi
yang melayani pasien umum dan pasien BPJS non PBI. Instalasi ini
merupakan instalasi VIP dari Rumah Sakit Umum Kabupaten
Tangerang. Di instalasi ini terdapat Depo Farmasi yang melayani
permintaan dan kebutuhan obat pasien di ruang perawatan IKW
dengan sistem penyimpanan obat berdasarkan jenis sediaan, suhu
penyimpanan, efek farmakologi dan alfabetis. Depo Farmasi IKW
dipegang oleh seorang Apoteker dibantu oleh asisten apoteker dan
petugas administrasi. Pelayanan pasien di IKW ini menggunakan
sistem UDD (Unit Dose Dispensing) dan Individual Prescribing
(IP). Keuntungan sistem UDD adalah mengurangi kesalahan
penggunaan obat, pembayaran obat lebih teliti dan meminimalkan
kredit, mengurangi persediaan obat di ruangan, serta penggunaan
personil di ruangan lebih efisien. Sedangkan kerugian sistem UDD

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

105
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

adalah beban kerja IFRS lebih besar, diperlukan waktu pelayanan


IFRS 24 jam, diperlukan biaya tambahan untuk pembelian obat
dalam kemasan Unit Dosage dan untuk pengemasan kembali.
Alur pelayanan di IKW mulai dari dokter melakukan visite
bersama dengan perawat dan apoteker untuk melihat perkembangan
terapi pasien lalu dokter menuliskan resep. Apoteker akan mencatat
resep di masing-masing CPO (Catatan Penggunaan Obat) tiap
pasien lalu catatan penggunaan obat tersebut disampaikan kepada
petugas Depo Farmasi di IKW, kemudian apoteker dan asisten
apoteker akan menyiapkan obat sesuai CPO dan memasukkan
tagihan untuk pemakaian obat pada hari itu ke kasir. Obat akan
diantarkan langsung ke pasien disertai pemberian informasi (KIE)
oleh apoteker atau asisten apoteker. Untuk obat injeksi diserahkan
langsung

kepada

pasien

yang

selanjutnya

pasien

akan

memberikannya ke perawat dan perawat akan menyuntikkan obat


tersebut kepada pasien.
5. Depo Farmasi Anyelir
Pelayanan obat di Depo Farmasi anyelir dilakukan pada ruang
bersalin dan juga rawat inap anak dengan sistem Individual Prescribing
(IP). Depo Farmasi anyelir memberikan pelayanan obat mulai dari jam
07.30 15.30 WIB pada hari senin - jumat, Depo Farmasi anyelir
melayani pasien yang berada di dalam gedung anyelir diantaranya adalah
pasien pra dan pasca persalinan dan anak anak.
6. Depo Farmasi OK (Kamar Operasi)
Depo Farmasi OK terdiri dari OK Cito dan OK belakang.
OK Central digunakan untuk operasi yang bersifat cito (segera) dan
OK belakang digunakan untuk operasi yang bersifat terencana.
Depo Farmasi OK menyediakan obat-obatan dan alat-alat
kesehatan.

Sistem

pendistribusiannya

menggunakan

sistem

Individual Prescribing (IP).


Depo Farmasi ini setiap harinya dilakukan pemantauan atau
pengecekan kelengkapan obat-obatan dan alat-alat kesehatan agar

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

106
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

persediaannya lengkap sehingga tidak mengganggu jalannya operasi yang


dilakukan oleh para dokter.
a. Depo Farmasi OK Depan
Depo Farmasi OK depan ini melayani pasien selama 24 jam. Depo
Farmasi OK cito melayani alat kesehatan dan injeksi yang akan
digunakan dalam operasi dan petugas yang bertanggung jawab di
Depo Farmasi OK cito terdiri dari seorang asisten apoteker.
b. Depo Farmasi OK Belakang
Depo Farmasi OK belakang/central menyediakan obat-obatan dan
alat-alat kesehatan untuk operasi yang bersifat terencana dan
terjadwal.
C. Kegiatan Farmasi Klinik
Pelayanan farmasi klinik adalah pelayanan farmasi yang diberikan
sebagai bagian dari perawatan pasien melalui interaksi yang profesional
dengan pelayanan kesehatan lainnya yang secara langsung terkait dengan
perawatan pasien. Berikut ini adalah kegiatan farmasi klinik di Rumah Sakit
Umum Kabupaten Tangerang :
1. Visite
Visite merupakan suatu kegiatan yang dilakukan bersama dokter
dan perawat atau dapat juga dilakukan sendiri (visite mandiri) dengan
tujuan untuk mengecek kondisi/keadaan dari pasien yang dirawat.
Masih minimnya jumlah apoteker yang ada di Rumah Sakit Umum
Kabupaten Tangerang sehingga menyebabkan pelayanan yang diberikan
kepada pasien belum optimal sebab 1 (satu) orang apoteker masih
melayani melebihi 30 (tiga puluh) tempat tidur. Hal ini belum memenuhi
persyaratan seperti yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 58/MENKES/SK/X/2014

tentang Standar

Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit yang menyatakan bahwa idealnya


visite dilakukan oleh 1 (satu) apoteker per 30 (tiga puluh) tempat tidur
menggantikan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1333/MENKES/SK/XII/1999.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

107
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

Kegiatan visite dilakukan oleh dokter bersama apoteker dan


perawat ke ruang rawat inap telah dilakukan di Rumah Sakit Umum
Kabupaten Tangerang. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi
penggunaan obat, memantau penggunaan obat agar obat yang diberikan
kepada pasien tepat waktu dan mengecek jumlah obat yang diberikan
kepada pasien untuk menghindari pemberian obat ganda.
2. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Pelayanan informasi obat di Rumah Sakit Umum Kabupaten
Tangerang ini telah berjalan cukup optimal, dimana pelayanan ini
dilakukan kepada pasien dan rekan profesi kesehatan (dokter maupun
perawat) yang dapat dilayani segera atau melalui telepon dalam waktu 24
jam. Pertanyaan yang diajukan dapat secara lisan maupun tulisan. Selain
menjawab pertanyaan mengenai obat, pelayanan informasi obat juga
menerbitkan/ leaflet dan brosur.
3. Konseling
Pelaksanaan konseling di rawat inap belum berjalan dengan
optimal karena masih terbatasnya apoteker yang ada di Rumah Sakit
Umum Kabupaten Tangerang. Berbeda dengan rawat jalan, pada rawat
inap selain konseling juga mulai dilakukan pemantauan terapi obat (PTO)
dan monitoring efek samping obat (MESO) sebab pelaksanaan konseling
di rawat jalan telah sesuai dengan standar pelayanan farmasi di rumah
sakit

berdasarkan

Keputusan

No.58/MENKES/SK/X/2014

dimana

Menteri

Kesehatan

kegiatan

konseling

RI
telah

dilaksanakan di ruangan khusus dengan adanya pencatatan kartu pasien.


Konseling ini ditujukan pada pasien yang kurang mengerti tentang cara
penggunaan obat maupun kepada pasien yang baru pertama kali
menggunakan obat tersebut misalnya penggunaan insulin dan suppo.
Umumnya, konseling ditujukan untuk pasien dengan penyakit menahun
seperti pasien TBC dan Diabetes.
4. Penanganan Obat Sitotoksik
Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang telah memiliki ruangan
khusus untuk menangani obat sitotoksik dan telah melaksanakan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

108
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

penanganan obat sesuai dengan standar farmasi dan cara penanganan obat
yang baik.
Petugas yang menangani obat sitotoksik di Rumah Sakit Umum
Kabupaten Tangerang adalah apoteker dan asisten apoteker yang telah
mendapatkan pelatihan penanganan obat sitotoksik secara khusus di
Rumah Sakit Darmais sebab Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
memberikan kesempatan kepada tenaga farmasis yang terpilih mengikuti
pelatihan dan pendidikan tersebut.
Petugas yang terlibat langsung dalam pencampuran obat sitotoksik
harus melakukan medical check up seperti pemeriksaan darah lengkap,
fungsi hati maupun ginjal yang dilakukan setiap 6 bulan sekali pada awal
sebelum bertugas dan setelah bertugas untuk mengetahui apakah petugas
tersebut terpapar obat sitotoksik.
5. Pengkajian Resep
Pengkajian resep yang diterima dilakukan mulai dari persyaratan
administrasi, persyaratan farmasetik dan persyaratan klinis baik untuk
pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap.
a. Persyaratan administrasi meliputi: nama, umur, jenis kelamin dan berat
badan pasien, nama, nomor izin, alamat dan paraf dokter, tanggal resep,
unit/ruangan asal pasien.
b. Persyaratan farmasetik meliputi: bentuk dan kekuatan sediaan, dosis
dan jumlah obat, stabilitas dan ketersediaan, aturan, cara dan teknik
penggunaan.
c. Persyaratan klinis meliputi: ketepatan indikasi, dosis dan waktu
penggunaan obat, duplikasi pengobatan, alergi, interaksi, dan efek
samping obat, kontra indikasi, dan efek aditif.
D. Pelayanan Farmasi Non-Klinik
Pelayanan farmasi non klinik adalah pelayanan farmasi yang tidak
langsung berkaitan dengan perawatan penderita dan menjadi tanggung jawab
apoteker. Adapun pelayanan farmasi non klinik yang dilakukan di Rumah
Sakit Umum Kabupaten Tangerang adalah:
1. Pengelolaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan habis medis pakai

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

109
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

Berdasarkan SK Menteri Kesehatan No.58/MENKES/SK/X/2014


tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit yang menyatakan bahwa instalasi
farmasi bertanggung jawab terhadap semua barang di rumah sakit. Rumah
Sakit Umum Kabupaten Tangerang telah melaksanakan standar pelayanan
tersebut

karena

proses

pengadaan,

pengendalian

persediaan

dan

penyimpanan perbekalan kesehatan berada dibawah pengawasan Instalasi


Farmasi. Tahapan pengelolaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan
habis medis pakaiyang dilakukan di Rumah Sakit Umum Kabupaten
Tangerang adalah:
a. Seleksi
Seleksi merupakan tahap awal dalam siklus manajemen obat.
Seleksi di RSU Kabupaten Tangerang dilakukan dengan metode
bottom up yaitu menerima usulan dari dokter penulis resep dengan
mengacu kepada pedoman terapi dan rasionalisasi obat melalui SMF
(Staf Medik Fungsional).
Tujuan dari seleksi obat yaitu:
Meningkatkan penggunaan terapi obat yang rasional,
Meningkatkan ketepatan suatu obat dalam pengobatan seorang
pasien,
Meningkatkan ketepatan dosis dan bentuk sediaan untuk pasien,
Ketersediaan terapi obat yang diseleksi,
Meminimalkan efek dan tindakan yang merugikan,
Menghindari interaksi dengan terapi lain, misal dengan makanan,
uji laboratorium dan faktor lingkungan.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

110
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

Manfaat seleksi obat yaitu:


Memudahkan apoteker untuk memantau pemakaian dan evaluasi
obat,
Menghindari tumpang tindih penggunaan anggaran,
Kesamaan persepsi antara pemakai obat dan penyedia anggaran,
Estimasi kebutuhan obat lebih tepat, koordinasi antara penyedia
anggaran dan pemakai obat,
Pemanfaatan dana pengadaan obat dapat lebih optimal.
Selain itu juga mengacu pada formularium 2013. Peranan besar dalam
proses seleksi ini yaitu Tim Farmasi dan Terapi (TFT).
Seleksi obat di RSU Kabupaten Tangerang berdasarkan pada
kebutuhan obat terkait prevalensi penggunaan obat tertinggi di daerah
Tangerang dan sekitarnya, dengan tetap mempertimbangkan (Efektif,
Aman, Rasional, Murah, dan Bermutu) dan juga berdasarkan pada
daftar-daftar obat yang tersedia untuk pasien dengan jaminan
kesehatan yang dilayani di RSU Kabupaten Tangerang (BPJS dan PT).
b. Perencanaan
Perencanaan

adalah

langkah

berikutnya

dalam

siklus

manajemen. Perencanaan merupakan proses untuk menetapkan


kebutuhan-kebutuhan,

mencapai

sasaran,

mengatur

target

dan

menetapkan strategi-strategi, tanggung jawab dan sumber daya yang


dibutuhkan untuk mencapai target.
Tujuan dari perencanaan:

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

111
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

Mengidentifikasi secara jelas sasaran jangka panjang


Menetapkan kebutuhan-kebutuhan dan masalah yang ada saat ini
Memastikan kebijakan yang digunakan pada sumber daya finansial
dan keberadaan personel
Memperolehsumber daya tambahan
Menyediakan suatu basis untuk mengevaluasi efektivitas
c. Pengadaan
Pengadaan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan habis
medis pakai termasuk dalam siklus pengelolaan obat, arti pengadaan
sendiri merupakan usaha dan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan
operasional yang telah ditetapkan dalam fungsi perencanaan,
penentuan kebutuhan maupun penganggaran.Pengadaan barang di
RSU Kabupaten Tangerang mengacu pada PerPres No. 70 tahun 2012.
Pengadaan barang di Rumah Sakit Umum Kabupaten
Tangerang sesuai dengan RBA (Rencana Bisnis Anggaran) yang telah
dibuat 1 tahun sekali. Hal ini disebabkan Rumah Sakit Umum
kabupaten Tangerang merupakan Rumah Sakit Pemerintah tipe B
pendidikan yang sudah bersifat BLUD (Badan Layanan Unit Daerah),
sehingga keuangannya dikelola sendiri. Metode pengadaan yang
dilakukan di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang antara lain:
1. Pembelian
Sistem Pengadaan Langsung
Pemilihan PBF yang kompeten dilakukan oleh pejabat
pengadaan yang bertugas memilih supplier dan negosiasi harga.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

112
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

Peran farmasis di bagian pengadaan ini antara lain melakukan


seleksi terhadap distributor dan negosiasi harga. Dalam memilih
distributor, ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan antara
lain : banyaknya kebutuhan akan obat yang dibeli dan sifat
kebutuhan obat yang akan dibeli (cito atau tidak), harga yang
ditawarkan, kecepatan pengiriman, kualitas pengiriman (untuk
menjaga agar obat tetap dalam kualitas baik) dan kualitas
pelayanan. Seleksi ini dilakukan oleh pihak RS dengan mencari
data distributor yang legal, berbadan hukum dan memiliki NPWP.
Distributor yang dipilih adalah yang memberikan jaminan legalitas
dan kualitas barang, baik secara fisik maupun dokumentasi yang
berupa sertifikat analisis atau Material Safety Data Sheet (MSDS),
memberikan jaminan kepastian keamanan sediaan farmasi alat
kesehatan dan bahan habis medis pakai, pelayanan dan fasilitas
harga terbaik dengan harga kompetitif, ketersediaan barang lengkap
dan pasti (repeat stock).Pabrik harus mempunyai Sertifikat Analisa
dan khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai
certificate of origin.
Alur pengadaan

barang secara

pangadaan

langsung

dilakukan dengan cara kepala instalasi farmasi membuat Surat


Permohonan Permintaan Barang (SPPB) yang dibuat sesuai dengan
kebutuhan dan ditandangani oleh Kepala instalasi farmasi yang
menjadi dasar untuk membeli barang. SPPB tersebut berisi nama
produk, stok barang yang ada, jumlah yang diminta dan harga
produk. SPPB diberikan ke kepala bidang pelayanan penunjang
medis untuk di pilih dan di cek kesesuaian antara SPPB dengan
Rencana Bisnis Anggaran (RBA). Jika sudah sesuai, maka akan
dibuatkan

Bon Permohonan Biaya (BPB). BPB berisi nama

barang, jumlah barang yang diminta, harga satuan dan harga total.
Kemudian ditandatangani oleh kepala bidang (sebagai pembuat

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

113
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

BPB). Selanjutnya diberikan ke bagian keuangan (sebagai


pemeriksa) untuk mengecek ada tidaknya anggaran. Jika sudah
sesuai maka akan ditandatangani oleh kepala bagian keuangan, lalu
ditandatangani oleh direktur Rumah Sakit Umum Kabupaten
Tangerang (sebagai pengguna anggaran). Selanjutnya meminta
permohonan ke Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Setelah
disetujui maka diserahkan ke Pejabat Pengadaan.
Masing-masing anggota Pejabat Pengadaan akan memegang
BPB sesuai peran masing-masing yang selanjutnya akan dibuat
SPPH (Surat Permohonan Penawaran Barang) yang berisi nama
barang, spesifikasi, satuan, jumlah dan masa berlaku. SPPH
tersebut dikirim melalui fax atau dapat diberikan langsung ke PBF.
Selanjutnya PBF akan membuat penawaran harga yang berisi jenis
atau nama barang, spesifikasi, satuan, jumlah dan harga penawaran.
Kemudian akan dicek kesesuaian dengan BPB oleh anggota Pejabat
Pengadaan. Namun jika sudah sesuai, maka Pejabat Pengadaan
akan membuat berita acara negosiasi, yang ditandatangani oleh
Pejabat Pengadaan dan PBF.
Berita acara penawaran tersebut diserahkan kepada PPK
yang kemudian akan dibuat Surat Perintah Kerja (SPK) dan Surat
Pesanan (SP) ke PBF. Kemudian barang dikirim oleh PBF. Barang
yang datang langsung diantar ke gudang lalu dicek kesesuaian
antara faktur, fisik dan SPK baik jumlah dan nama barang oleh
bagian penerima dan pemeriksa barang. Jika sesuai, maka akan
ditandatangani oleh Panitia Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP).
Kemudian PBF akan menukarkan faktur ke PPK dengan membawa
berkas-berkas seperti kwitansi, faktur pajak dan berita acara
penerimaan barang. Kemudian akan dicek kelengkapan berkas
tersebut oleh PPK. Jika sudah sesuai, maka akan diserahkan ke
bagian keuangan untuk dilakukan pembayaran ke PBF.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

114
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

Sistem pengadaan dengan cara pengadaan langsung


memberikan manfaat bagi IFRS, antara lain:
Lebih mudah dan lebih sederhana.
Mengurangi risiko terjadinya penumpukan obat di gudang.
Menghindari kadaluarsa obat karena penyimpanan yang lama.
Obat dan sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan habis medis
pakai yang dibutuhkan dapat diperoleh lebih cepat.
2. Produksi
Pengadaan barang dengan cara produksi dilakukan oleh Rumah
Sakit Umum Kabupaten Tangerang dengan tujuan untuk membantu
dan memperlancar permintaan barang. Produksi dilakukan apabila
barang tidak tersedia di pasaran, kemasan lebih kecil dan dosis
yang tersedia di pasaran tidak sesuai dengan kebutuhan, seperti
produksi antiseptik tangan (Hands Rub) yang lebih murah dan
dibutuhkan dalam jumlah banyak. Selain itu juga dilakukan
pengenceran

dan

pencampuran

obat-obat

sitotoksik

untuk

kemoterapi.
Kegiatan produksi di IFRS bertujuan untuk membantu dan
memperlancar permintaan barang (obat). Peran bagian produksi
adalah:
1) Membuat atau meracik sediaan non steril (formula khusus yang
sering dipakai), contohnya:
a. Sediaan pulveres
b. Sediaan kapsul: kapsul CaCO3 dan kapsul asam folat
c. Larutan antiseptik cuci tangan: campuran alkohol, gliserol,
H2O2 dan essen.
2) Mengubah bentuk (pengenceran). Contoh: Alkohol 70 %, H2O2
dan iodin.

Syarat dan kriteria produksi di RSU Kabupaten

Tangerang yaitu:

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

115
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

a. Tidak tersedia di pasaran


b. Dosis yang ada di pasaran tidak sesuai dengan kebutuhan
c. Kemasan lebih kecil (repacking).
Bagian produksi bertanggung jawab atas ketersediaan
obat- obat yang diperlukan di depo-depo farmasi

lainnya,

sehingga dapat mengurangi waktu tunggu pasien terhadap


pelayanan

farmasi

di

Rumah

Sakit

Umum

Kabupaten

Tangerang.
Pelaksanaan produksi dilakukan oleh petugas produksi
dengan menggunakan masker dan mencuci tangan selama
kegiatan produksi. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya
kontaminasi terhadap produk yang dibuat.
Kekurangan yang terjadi di bagian produksi Rumah Sakit
Umum Kabupaten Tangerang antara lain:
a. Menurut KepMenKes No.1197 tahun 2004, lingkungan kerja
ruang produksi harus rapi, tertib, dan efisien. Untuk
meminimalkan terjadinya kontaminasi sediaan, harus dipisah
antara ruang produksi sediaan non steril dan steril. Instalasi
Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang tidak
memproduksi sediaan steril, namun kemungkinan terjadinya
kontaminasi silang dapat terjadi karena tidak adanya batasan
antar ruangan serta tidak adanya pengontrolan mikroba.
b. Sebaiknya perlu penentuan ED produk obat racikan yang
berdasarkan sifat dan stabilitas obat sehingga mutu dan
kualitas obat lebih terjamin.
c. Pengujian produk akhir kurang dilakukan dengan baik
sehingga memungkinkan obat yang dibuat tidak sesuai
standar CPOB. Perlu adanya quality control sehingga
menjamin obat yang dibuat sesuai standar.
3. Donasi/Sumbangan
Pengadaan barang di Rumah Sakit Umum Kabupaten
Tangerang juga ada yang berasal sumbangan Kementerian
Kesehatan berupa obat HIV, alur permintaan dengan cara membuat
laporan

penggunaan

obat

dan

obat

yang

tersisa

kepada

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

116
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

Kementerian Kesehatan.

Selain itu ada sumbangan dari Dinas

Kesehatan Kabupaten Tangerang dan Dinas Kesehatan Kota


Tangerang berupa vaksin, alur permintaan dengan cara membuat
surat permohonan meminta vaksin ke Dinas Kesehatan Kabupaten
Tangerang

dan Dinas

Kesehatan

Kota Tangerang dengan

mencantumkan jumlah sisa vaksin dan jumlah yang diminta.


Sumbangan obat ini sangat dibutuhkan untuk peningkatan kualitas
pelayanan farmasi yang rasional.
d. Distribusi
Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk
dijangkau oleh pasien dengan mempertimbangkan:
1) Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada
2) Metode sentralisasi atau desentralisasi
3) Sistem floor stock, individual prescreption, unit dispensing dose,
one daily dose atau combination.
Pelayanan distribusi obat di Rumah Sakit Umum Kabupaten
Tangerang dilakukan secara desentralisasi dimana dilakukan distribusi
obat dari gudang ke Depo Farmasi tempat perawatan penderita dan
kemudian distribusi obat dilanjutkan dari Depo Farmasi ke pasien.
Depo Farmasi-Depo Farmasi yang terdapat di Rumah Sakit Umum
Kabupaten Tangerang yaitu Depo Farmasi Rawat Jalan, Depo Farmasi
Anyelir, Depo Farmasi Rawat Inap, Depo Farmasi IGD, Depo Farmasi
Instalasi Khusus Wijaya Kusuma, Depo Farmasi OK, Depo Farmasi
Bougenville dan Depo Farmasi Cathlab. Alur distribusi obat
desentralisasi ini membawa pelayanan farmasi lebih dekat pada
penderita dan staf profesional.
e. Penerimaan
Ketika barang datang maka Panitia Penerimaan barang harus
memeriksa semua barang yang datang kemudian diserahkan ke
farmasi untuk periksa ulang, pada penerimaan barang tersebut harus
membawa SPK (surat perintah kerja). Jumlah barang yang datang
dimasukan kedalam data stok barang melalui sistem komputerisasi.
f. Penyimpanan

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

117
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

Penyimpanan di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang


dibawah pengawasan dan tanggung jawab apoteker. Barang yang
sudah diperiksa oleh tim penerima dan pemeriksa barang Rumah Sakit
Umum Kabupaten Tangerang diserahkan ke petugas dan disimpan di
Gudang IFRS Tangerang. Penyimpanan sediaan farmasi alat kesehatan
dan bahan habis medis pakaidi gudang disimpan berdasarkan stabilitas
obat, selanjutnya berdasarkan bentuk sediaan dan alfabetis dengan
menggunakan sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First
Expired First Out).

Sistem FIFO yaitu barang yang baru datang

keluar terakhir dan sistem FEFO yaitu barang yang mendekati tanggal
kadaluarsa diletakkan paling depan agar terdistribusi lebih cepat
kepada pasien. Padatnya kegiatan di gudang menyebabakan sistem
FIFO dan FEFO belum terlaksana secara optimal.
E. Gudang sediaan farmasi alat kesehatan dan bahan habis medis pakai
Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang memiliki gudang farmasi
untuk menyimpan dan menyalurkan obat-obatan dan sediaan farmasi alat
kesehatan dan bahan habis medis pakailainnya (seperti alkes habis pakai,
pembalut, bahan baku, antiseptik dan gas medis) yang telah dilakukan
pemeriksaan. Untuk perbekalan kesehatan yang digunakan secara bersamaan
oleh pasien di ruang perawatan didistribusikan langsung dari gudang farmasi
ke masing-masing ruangan (floor stock).
Keuntungan dari sistem ini adalah perbekalan kesehatan yang
dibutuhkan dapat langsung digunakan karena sudah tersedia, sehingga
memepercepat pengerjaan laporan pengeluaran barang di gudang farmasi.
Kerugian sistem ini adalah kemungkinan kehilangan dan kerusakan
persediaan obat dan alkes di ruangan lebih besar sehingga diperlukan
peningkatan pengawasan terhadap perbekalan farmasi. Selain itu kurangnya
informasi obat dari apoteker karena pelayanannya dilakukan oleh perawat.
F. Central Sterilization Supply Departement (CSSD) dan Laundry

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

118
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

Unit sterilisasi sentral atau CSSD (Central Sterilization Supply


Departement) merupakan suatu unit pelayanaan bahan dan alat steril bersifat
menunjang kepada unit-unit lain di rumah sakit yang melakukan tindakan
aseptis, pembedahaan, tindakan penyakit menular sebagai penyediaan barang
atau alat steril yang dimulai dari proses perencanaan, pengadaan, pencucian
atau

dekontaminasi,

pengemasan

dan

pemberian

tanda,

sterilisasi,

penyimpaan dan pendistribusian serta memberikan jaminaan mutu kualitas


sterilitasnya.
Tujuan didirikan instalasi sterilisasi sentral dan laundry di Rumah Sakit
Umum Kabupaten Tangerang untuk membebaskan bahan-bahan dari kuman
dan sporanya, membunuh kuman-kuman atau mikroorganisme, mencegah
terjadinya infeksi nosokomial (INOS), serta mencegah timbulnya luka infeksi
operasi/tindakan medis lainnya.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.983/MENKES/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit
Umum, CSSD merupakan salah satu pelayanan penunjang medis yang
dipimpin oleh seorang kepala jabatan fungsional, yang dalam menjalankan
tugas sehari-hari bertanggungjawab langsung kepada Wadir Penunjang
Medis. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kabupaten Tangerang No. 81
tahun 2004 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Rumah Sakit Umum, maka
Instalasi Sterilisasi Sentral berubah menjadi Instalasi Sterilisasi dan Laundry.
G. Instalasi Sanitasi
Tujuan Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang melakukan program
sanitasi adalah untuk menyelenggarakan RSU Tangerang yang berwawasan
lingkungan, indah, bersih dan sehat serta bebas dari pencemaran lingkungan
rumah sakit. Dalam menjalankan program tersebut kegiatan sanitasi ini
dilakukan oleh pihak ketiga diluar dari rumah sakit karena mengingat RSU
Kabupaten Tangerang berada di daerah pemukiman warga maka pengolahan
program sanitasi ini diserahkan kepada pihak ketiga di luar dari rumah sakit.
Hal-hal yang dilakukan dalam program sanitasi ini adalah sebagai berikut:

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

119
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

1. Pengelolaan kebersihan ruangan, bangunan dan halaman rumah sakit.


2. Pengelolaan limbah padat medis.
3. Pengelolaan limbah padat non medis yang diangkut oleh Dinas
Kebersihan Kota Tangerang.
4. Pengelolaan limbah cair yang dilakukan oleh Instalasi Pengolahan Air
Limbah.
5. Pengendalian serangga dan binatang pengganggu.
6. Pengawasan kualitas air bersih dan air minum.
7. Pengawasan kualitas makanan dan minuman, pengujian dilakukan setiap
6 bulan sekali.
8. Pengelolaan pertamanan.
Dalam setiap pengemasan limbah, setiap limbah ditempatkan dalam
wadah yang berbeda, seperti:
a) Plastik kuning digunakan untuk limbah medis non tajam.
b) Safety box digunakan untuk limbah medis tajam.
c) Plastik hitam digunakan untuk limbah padat non medis.
d) Plastik ungu digunakan untuk limbah sisa operasi dan bahan
cytotoxic.
e) Plastik coklat digunakan untuk limbah obat kadaluarsa.
f) Untuk limbah cair langsung dialirkan ke IPAL RSU Kabupaten
Tangerang.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

120
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Rumah Sakit Umum milik Pemerintah kabupaten Tangerang adalah rumah
sakit pendidikan yang saat ini berakreditasi B dan memiliki 437 tempat
tidur dan telah BLUD penuh dan serta memperoleh sertifikat akreditasi di
16 bidang pelayanan.
2. Kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Umum Kabupaten
Tangerang yaitu pelayanan farmasi klinik dan non klinik (manajemen).
3. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang merupakan
suatu departemen atau unit pelayanan fungsional di bidang penunjang
medis yang dipimpin oleh seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa
orang apoteker yang bertanggung jawab atas seluruh pelayanan
kefarmasian.
4. Secara fungsional tugas utama apoteker di IFRS Umum Tangerang adalah
menyediakan kebutuhan obat untuk pasien rawat inap dan rawat jalan,
menyiapkan obat sesuai resep dokter, berkomunikasi bersama dokter dan
perawat serta memberikan informasi yang jelas tentang petunjuk
pemakaian obat kepada pasien dan/atau keluarga pasien, mencatat dan
menginformasikan stok obat perhari serta mempertanggung jawabkan
pemakaian psikotropika dan narkotika.
5. Secara struktural tugas utama apoteker di Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Umum Kabupaten Tangerang adalah bertanggung jawab terhadap fungsi
manajemen yang meliputi usulan perencanaan, penerimaan, penyimpanan,

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX

121
Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta
Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang
Periode 01 Oktober 2015 28 November 2015

dan distribusi sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
apakai serta bertanggung jawab terhadap kegiatan farmasi klinik.
6. Masih kurangnya tenaga apoteker sehingga menyebabkan farmasi klinis
tidak berjalan secara optimal sebab masih didapatkan penggunaan obat
yang kurang tepat.
B. Saran
1. Perlu adanya peningkatan dan pengawasan terhadap peresepan obat karena
masih didapatkan penggunaan obat yang kurang tepat dan dalam
penggunaan obat yang sesuai dengan formularium rumah sakit dan
formularium nasional.
2. Pemberian informasi (KIE) agar lebih ditingkatkan sehingga dapat
meningkatkan ketepatan dan kerasionalan penggunaan obat kepada pasien
3. Meningkatkan kerja sama secara terpadu antara farmasis dengan tenaga
kesehatan lainnya terkait penerapan Pharmaceutical care kepada pasien
sehingga didapatkan penanganan yang lebih optimal.
4. Penerapan phamaceutical care kedepannya lebih ditingkatkan lagi,

terutama dalam hal komunikasi dan konseling kepada pasien sehingga


paradigma patient oriented lebih baik dan lebih dikenal masyarakat.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta Angkatan XXIX