Anda di halaman 1dari 12

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Mikroalga merupakan mikroorganisme fotosintetik dengan ukuran renik yang


hidup diseluruh perairan tawar/laut. Eksplorasi yang besar-besaran perlu ditunjang
dengan metode yang baik untuk mengembangbiakkan mikroalga. Salah satu metode
yang digunakan untuk memperbanyak mikroalga dalam jumlah yang besar adalah
menggunakan kolam. Mikroalga merupakan tumbuhan yang paling efisien dalam
menangkap, memanfaatkan energi matahari dan CO2 untuk keperluan fotosintesis.
Mikroalga lazim disebut fitoplankton. Mikroalga merupakan salah satu organisme
yang dapat dinilai ideal dan potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku baku
produksi bioenergi.
Mikroalga memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, sehingga
mikroalga merupakan suatu sumber mikro nutrien, vitamin, minyak dan elemen
mikro untuk komunitas perairan. Mikroalga sebagian ada yang mencemari air dan
dapat menurunkan kualitas air. Hal ini disebabkan karena mikroalga dapat
menimbulkan rasa, bau, yang tidak enak, menurunkan pH, menyebabkan warna, dan
kekeruhan. Lemak dalam mikroalga terdiri dari gliserol, asam lemak jenuh atau asam
lemak tak jenuh. Komposisi lemak pada masing-masing mikroalga dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti perbedaan nutrisi, lingkungan dan fase pertumbuhan.
Beberapa jenis mikroalga berpotensi sebagai sumber minyak. Kandungan minyak
mikroalga bervariasi tergantung jenis mikroalganya.
Mikroalga merupakan sumber biomassa yang mengandung komponenkomponen bermananfaat tinggi seperti protein, karbohidrat, asam lemak. Jenis
produk yang dihasilkan dari produksi biomassa mikroalga bervariasi, mulai dari
produk pangan, pakan, hingga fine chemical, termasuk trigliserida yang dapat
dikonversi menjadi biodiesel. Selain itu, mikroalga merupakan sumber daya alam
terbaharukan yang tergolong biomassa dengan biodiversitas tinggi.
B. Tujuan
Mengetahui cara kultur mikroalga Chlorella sp., pada skala laboratorium.

C. Tinjauan Pustaka
Mikroalga merupakan tumbuhan air mikroskopik yang mampu bergerak
secara pasif (Parsons, et al., 1989). Mikroalga juga merupakan mikroorganisme
fotosintetik dengan morfologi sel yang bervariasi, baik uniseluler maupun
multiselular. Mikroalga memiliki peranan yang penting dalam ekosistem perairan
sebagai sumber makanan, pelindung fisik bagi organisme perairan karena dalam
biomassa mikroalga mengandung komposisi kimia yang potensial, misalnya protein,
karbohidrat, pigmen, asam amino, lipid dan hidrokarbon (Sanchez et al., 2007).
Selain itu spesies mikroalga juga diklasifikasikan berdasarkan warna pigmen
seperti

Chloropyceae,

Phaeophyceae,

Phyrrophyceae. Menurut Cotteau (1996)

Chrysophyceae,

Rhodophyceae,

mikroalga dapat diklasifikasikan pada

beberap filum diantaranya:


1. Cyanobacteria (Alga biru hijau)
Cyanobacteria atau alga biru hijau adalah kelompok alga yang paling primitif
dan memiliki sifat-sifat bakterial dan alga. Kelompok ini adalah organisme
prokariotik yang tidak memiliki struktur-struktur sel seperti yang ada pada alga
lainnya, contohnya nukleus dan chloroplast. Mereka hanya memiliki klorofil a.
Selain itu, alga hijau biru ini mempunyai variasi fikobilin seperti halnya karotenoid.
Pigmen-pigmen ini memiliki beragam variasi sehingga warnanya bisa bermacammacam dari mulai hijau sampai ungu bahkan merah. Alga hijau biru tidak memiliki
flagella, namun beberapa filamen membuat mereka bergerak ketika berhubungan
dengan permukaan. Unisel, koloni dan filamen-filamen cyanobacteria adalah
kelompok yang umum dalam budidaya, baik sebagai makan maupun sebagai
organisme pengganggu.
2. Chlorophyta (alga hijau)
Alga hijau adalah kelompok alga yang paling maju dan memiliki banyak sifatsifat tanaman tingkat tinggi. Kelompok ini adalah organisme prokariotik dan
memiliki struktur-struktur sel khusus yang dimiliki sebagian besar alga. Memiliki
kloroplast, DNA berada di dalam nukleus, dan beberapa selulosa. Memiliki flagella.
Dinding sel alga hijau sebagian besar berupa mempunyai klorofil a dan beberapa
karotenoid dan biasanya berwarna hijau rumput. Alga hijau menyimpan zat tepung
sebagai cadangan makanan meskipun ada diantaranya menyimpan minyak dan
lemak.
3. Chrysophyta (Alga coklat-emas)

Alga coklat-emas dikaitkan dengan diatom, namun mereka memiliki dinding sel
silika yang sedikit selama masa hidupnya. Alga ini memiliki sifat-sifat yang dapat
ditemui pada sebagian besar alga. Beberapa anggota kelompok alga ini memiliki
flagella dan motil. Semua memiliki kloroplas dan memiliki DNA yang terdapat di
dalam nukleusnya. Alga ini hanya memiliki klorofil a dan c serta beberapa
karotenoid sepert fucoxantin yang memberikan warna kecoklatan. Alga ini sering
kali dibudidayakan dalam bentuk uniseluler pada usaha budiadaya sebagai sumber
pakan.
Komposisi nutrisi mikroalga secara umum terdiri dari protein, karbohidrat,
lemak, mineral dan asam nukleat. Protein yang dibutuhkan sebanyak 30-55%.
Karbohidrat sebanyak 10-30%, lemak sebanyak 10-25%, mineral sebanyak 10-40%
dan asam nukleat sebanyak 4-6%. Unsur-unsur tersebut setidaknya harus ada dalam
media pertumbuhan mikroalga (Pranayogi, 2003).
Ketersediaan benih untuk pakan alami yang memadai baik dari segi jumlah,
mutu, dan kesinambungannya harus dapat terjamin agar usaha pengembangan
budidaya organisme laut dapat berjalan dengan baik. Sampai saat ini usaha
pengkulturan pakan alami masih merupakan faktor pembatas dalam pengembangan
budidaya laut di Indonesia untuk organisme-organisme tertentu. Oleh karena itu,
usaha pengkulturan pakan alami sangat mutlak diperlukan. Pembenihan ikan dan
non-ikan laut sangat membutuhkan pakan alami. Berdasarkan kenyataan tersebut,
perlu diadakan pembenihan atau kultur pakan alami yang dapat dilakukan dalam
skala laboratorium dan dalam skala massal. Skala laboratorium ditujukan untuk
perbanyakan bibit murni dan skala massal ditujukan untuk memenuhi pakan larva
ikan (Baugis, 1979).

II. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol kultur, pipet tetes,
lampu TL 40 Watt, batu aerasi, aerator, mikroskop, selang aerasi, beaker glass,
haemocytometer, object dan cover glass.
Bahan-bahan yang digunakan dalam

praktikum ini adalah media

Conway/Miquel Allen/Zarrouk, Chlorella sp., dan akuades.


B. Metode
Metode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah :
1. Media atau pupuk disiapkan
2. Bibit Chlorella sp. diambil 50 ml
3. Bibit Chlorella sp. kemudian dimasukkan ke dalam botol dan ditambah akuades
500 ml
4. Kepadatan awal dihitung
5. Pupuk ditambahkan
6. Kultivar disimpan di rak kultur
7. Kepadatan akhir dihitung

B. Pembahasan
Kultur mikroalga dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu kultur skala
laboratorium, kultur skala semi massal, dan kultur massal. Kultur skala laboratorium
membutuhkan kondisi lingkungan yang terkendali. Tujuannya agar pertumbuhan
optimal sehingga dapat sebagai starter yang bermutu tinggi untuk kultur selanjutnya.
Laboratorium sebaiknya ber AC untuk mengatur suhu ruangan, intensitas cahaya
sebagai sumber energi dapat dari lampu TL (Chisti, 2007).
Mikroalga yang dapat dilakukan kultur menurut Maruyama (1978)
diantaranya:
a. Chlamydomonas
Mikroalga Chlamydomonas hidup di air tawar dan air laut, berwarna hijau dan
motil dengan lebar 6,5-11 mm dan panjang 7,5-14 mm. Mempunyai dua flagella
yang

tumbuh

didekat

sebuah

benjolan

pada

bagian

belakang

sel.

Chlamydomonas biasanya dibudidayakan untuk dijadikan pakan rotifer.


b. Tetraselmis
Tetraselmis hidup di air tawar dan air laut, berupa organisme hijau, motil,
dengan lebar 9-10 mm, dan panjang 12-14 mm. Mempunyai empat flagella yang
tumbuh dari sebuah alur pada bagian belakang anterior sel. Tetraselmis sering
dibudidayakan dikarenakan dapat dijadikan sebagai sumber makanan untuk
mengkultur rotifer, kerang, dan larva udang.
Menurut Isnansetyo & Kurniastuty (1995) Faktor-faktor yang mempengaruhi
dalam proses kultur mikroalga diantaranya:
1. Habitat
Kedalaman suatu tempat mempengaruhi zona-zona suatu perairan. Keberadaan
sel alga pada zona eufotik, lebih sering dari pada di zona-zona yang lain. Peran
angin berfungsi dalam mengaduk permukaan air secara meluas.
2. Temperatur
Temperatur secara langsung mempengaruhi organisme hidup melalui proses
metabolisme. Temperaur bertambah sejalan dengan salinitas dan pengendalian
berat jenis air. Temperatur merupakan variabel penting. Temperatur dan salinitas
sangat mempengaruhi struktur kerapatan air. Semakin meningkatnya salinitas,
maka tingkat kerapatan air akan semakin meningkat pula. Temperatur optimum
untuk pertumbuhan mikroalga antara (18-25)0C. Ada beberapa yang mempunyai
temperatur optimum rendah 4-60C, misalnya diatome di Antartika.
3. Cahaya
Alga membutuhkan cahaya untuk fotosintesis. Hal yang harus diperhatikan dari
cahya adalah fotoperiodisitas dan kualitas. Intensitas cahaya berkurang secara
eksponensial selama menembus air. Berkurangnya cahaya selaras dengan

absorbsi air, materi dalam air dan sejuml;ah partikel kecil terlarut. Intensitas
cahaya rendah sebagai pembatas di musim dingin, karena kecepatan fotosintesis
rendah.
4. Salinitas
Perubahan lapisan air berpengaruh terhadap perbedaan berat jenis pada
lingkungan

akuatik,

perubahan

ini

disebut

dengan

stratifikasi,

yang

mempengaruhi keberadaan sel pada zona eufotik dan keberadaan nutrien.


Garam-garam anorganik tidak larut di lautan. Fungsinya sebagai penyusun
elemen yang penting dalam aktivitas osmosis. Garam-garam di perairan yang
kuat arusnya didominasi oleh Ca2+, HCO3-, dan CO3 yang mempengaruhi
tingginya pH. Perairan yang tenang dengan total garam-garam tidak larut rendah

a.

dari Na dan Cl sehingga kandungan pH lebih asam.


Fase pertumbuhan mikroalga menurut Armanda (2013) terdiri atas :
Fase lag/ induction phase (24 jam pertama)
Fase ini disebut juga fase istirahat. Fase ini merupakan fase adaptasi

mikroalga dengan lingkungan kulturnya. Mikroalga akan melakukan metabolisme


sehingga ukuran sel akan meningkat. Namun, mikroalga belum menunjukkan
pertumbuhan populasi yang nyata. Lama tidaknya fase ini tergantung pada viabilitas
sel. Bila sel inokulum adalah sel yang masih muda, berarti sel ini masih viabel untuk
membelah. Sel-sel yang viabel akan lebih cepat beradaptasi, sehingga fase lag ini
menjadi lebih singkat.
b. Fase eksponensial/logarithmic phase
Fase ini sel mikroalga mengalami peningkatan secara cepat. Puncak
pertumbuhan populasi terjadi pada fase ini. Fase ini menunjukkan bahwa sel telah
berhasil beradaptasi dengan media dan mampu memanfaatkan nutrien dengan
optimal.
c. Fase stasioner/stationery phase
Fase ini pertumbuhan mikroalga cenderung stasioner, artinya pembelahan sel
dan kematian sel seimbang. Artinya, nutrisi sudah dimanfaatkan secara optimal oleh
mikroalga, namun diimbangi dengan kematian sel yang seimbang.
d. Fase kematian/death phase
Penurunan jumlah sel pada fase ini sangat drastis. Hal ini diakibatkan jumlah
nutrien sudah semakin habis dan akumulasi metabolit sekunder semakin meningkat.
Sehingga adanya peningkatan toksin yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroalga.
Menurut Widyartini (2012), tahapan dalam pelaksanaan budidaya mikroalga,
yaitu:
1. Koleksi

Tujuan koleksi adalah mendapatkan satu/beberapa jenis mikroalga dari alam


untuk dikultur murni. Sampel dari tanah dilakukan pengenceran bertingkat,
kemudian dilakukan isolasi.
2. Isolasi
Metodeisolasi tergantung ukuran dan karakteristik mikroalga. Ada 5 metode
yang dapat dilakukan yaitu, metode isolasi secara biologis, metode isolasi
pengenceran berseri, metode isolasi gores, metode isolasi pengulangan sub kultur,
metode isolasi pipet kapiler.
3. Perbanyakan
Perbanyakan mikroalga dapat dilakukan di laboratorium maupun di luar
laboratorium.
Chlorella sp. tumbuh pada media yang mengandung cukup unsur hara, seperti
nitrogen, fosfor, kalium. Chlorella sp. akan tumbuh baik pada temperatur optimal
25C. Nutrisi yang diperlukan alga dalam jumlah besar adalah karbon, nitrogen,
fosfor, sulfur, natrium, magnesium, kalsium. Sedangkan unsur hara yang dibutuhkan
dalam jumlah relatif sedikit adalah besi, tembaga (Cu), mangan (Mn), seng (Zn),
silikon (Si), boron (B), molibdenum Chlorella sp. mempunyai pigmen warna hijau
dan kaya dengan warna biru yang disebut Phycocyanin merupakan protein complek.
Phycocyanin merupakan pembentuk darah putih didalam tubuh manusia dan
merupakan antibodi atau pembentuk imunitas dari serangan racun kimia dan radiasi.
Warna hijau dari klorofil pada Chlorella sp. disebut darah hijau (green blood)
mempunyai kandungan zat besi pembentuk hemoglobin yang berfungsi sebagai
penambah makanan bagi penyandang anemia. Pada Chlorella sp. terdapat warna
kuning oranye merupakan kandungan karoten terdiri dari xanthopill, myxoxanthopill,
zeaxathin, cryptoxanthin, echinenone, fucoxanthin, violaxanthin dan astaxanthin.
Total karoten yang terdapat pada Chlorella sp. per 10 gr yaitu 0,37 %. Karoten
mempunyai khasiat pada manusia sebagai antioksidan. Chlorella sp. mengandung
polisakarida sebanyak 15-25 gr merupakan karbohidrat yang mudah diserap didalam
darah. Pada Chlorella sp. kering terdapat enzim Superoxide dismutase (SOD) sekitar
10.000-37.500 units per 10 gram yang merupakan anti radikal bebas untuk mencegah
penuaan dini (Chalid, 2010).
Chlorella sp. Sangat dikenal bisa digunakan sebagai bahan pakan ikan, dan
dapat pula dijadikan sebagai suplemen dan sebagai biodiesel. Chlorella sp.
merupakan salah satu mikroalga yang mudah ditumbuhkan atau di kultivasi tanpa
lingkungan yang spesifik. Chlorella sp. biasanya mampu tumbuh diantara range suhu

4-350C, dengan intensitas cahaya sebesar 1000-70000 Lux dan laju aerasi sekitar 0-6
L/min (Sri Uam et al., 2015).
Perbanyakan mikroalga merupakan salah satu solusi yang baik untuk
memecahkan semua masalah lingkungan, seperti pemanasan global, peningkatan
lubang ozon dan iklim berubah karena konsumsi kuantitas tinggi karbondioksida
dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan oksigen dan glukosa. Ganggang dapat
beradaptasi dalam lingkungan apapun dan di bawah semua kondisi. Jadi, dapat
tumbuh di sistem kolam terbuka, sistem kolam tertutup, fotobioreaktor, lingkungan
laut dan air limbah. Sistem kolam tertutup, semua kondisi seperti CO2, gas, air,
pasokan dan pupuk cahaya matahari dapat dikontrol. Air sangat penting untuk
menumbuhkan mikroalga karena ganggang menyerap nutrisi dari air (air limbah
pengobatan) untuk menghasilkan biomassa mikroalga dan nutrisi yang berubah di
daerah yang berbeda. Ada banyak metode mekanis dan kimia (biokimia,
termokonversi kimia dan reaksi kimia) untuk mengkonversi biomassa mikroalga
untuk biofuel untuk produksi energi. Nutrisi air limbah diberi tambahan nutrisi yang
berbeda dalam air limbah, seperti nitrogen, fosfor, amonia, sulfur, besi, racun dan
semua logam (bahan kimia) dalam air limbah untuk produksi biomassa mikroalga
(Damarki et al., 2012).
Berdasarkan hasil praktikum, didapatkan jumlah Chlorella sp. menggunakan
haemocytometer didapatkan jumlah Chlorella sp. sebanyak 25 sel, sehingga hasil
perhitungannya adalah 62500 sel/ml. Chlorella sp. setelah dikultur selama 4 hari,
tidak mengalami pertumbuhan, ini terlihat bahwa kultur di dalam botol tidak
berwarna hijau keruh. Justru, ditemukan banyaknya endapan. Pertumbuhan Chlorella
spp. yang dikultur sangat ditentukan oleh ketersediaan nutrien (unsur hara) dan
kondisi lingkungan (Sylvester et al., 2002). Selain nutrien dan kondisi lingkungan,
inokulum juga merupakan faktor yang sangat penting di dalam kultur Chlorella spp.
karena kultur tidak mungkin dilaksanakan tanpa adanya inokulum (Sapta et al.,
2002).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Gambar 1. Chlorella sp.

Gambar 2. Media Kultur Chlorella


sp.

Gambar 3. Hasil Kultur


Chlorella sp. Hari Ke-4
Perhitungan Chlorella sp. menggunakan haemocytometer :
L1 = 24
L2 = 30
L3 = 25
L4 = 21
Total L = L1+L2+L3+L4 = 100 = 25
4
N = 25 x 2,5 x 104

= 62,5 x 104
V1 = 50
V2 = 500
N2 = V1. N1
V2
N2 = 50.62,5 x 104 = 625 x 102
500

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1.

Cara kultur mikroalga Chlorella sp., pada skala laboratorium dimulai dengan
media yang telah disaring dan disterilkan, dimasukan dalam botol-botol kultur,
inokulum dimasukkan 1/3 bagian, diberi pupuk cair dan aerasi, kemudian

2.

diletakkan pada rak kultur dengan pencahayaan lampu TL 40 Watt.


Jumlah Chlorella sp. menggunakan haemocytometer didapatkan jumlah
Chlorella sp. sebanyak 25 sel, sehingga hasil perhitungannya adalah 62500
sel/ml. Chlorella sp. setelah dikultur selama 4 hari, tidak mengalami
pertumbuhan.
B. Saran
Saran untuk praktikum ini adalah perlu ketelitian dalam memasukkan

inokulum, media, dan pupuk growth agar sesuai dengan komposisinya. Selain itu,
ketelitian juga diperlukan dalam perhitungan jumlah sel mikroalga.

DAFTAR REFERENSI
Chisti, P. 2007. Microalgae, In: Manual on Production and Use of Live Food for
Aquaculture, FAO Fisheries. Technical Paper, Lavens, P and P. Sorgeloos, 8-47.
Cotteau. 1996. Algal Culture from Laboratories to Pilot Plant.Washington: Carnegie
Institution.
Maruyama, et al. 1986. Petunjuk Pemeliharaan Kultur Murni Massal Mikroalga
Proyek Pengembangan Udang. United Nations Development Programme, Food and
Agriculture Organizations of The United Nations.