Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN TERNAK PERAH

Pembuatan dan Penilaian Kualitas Silase


Disusun oleh:
Darin Nisrina

200110140026

Kelompok

4
Kelas B

LABORATORIUM PRODUKSI TERNAK PERAH


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2016

I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Usaha peternakan sapi perah menjadi komoditi yang sangat berkontribusi
dalam penyediaan pangan. Oleh karena itu, populasi sapi perah pun semakin
meningkat. Namun, peningkatan populasi ini tidak diiringi dengan penambahan
lahan pertanian. Akibatnya, penyediaan pakan untuk sapi perah semakin sulit.
Selain itu, faktor lain yang menyebabkan sulitnya menyediakan pakan bagi sapi
perah ialah tidak menentunya iklim di Indonesia. Terkadang kemarau berlebih
bahkan hujan berlebih. Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan vegetasi
hijauan terhambat.
Teknologi pengawetan hijauan sangat diperlukan mengingat permasalahan
yang timbul di Indonesia. Salah satu teknologi pengawetan yang dapat dilakukan
adalah dengan cara pembuatan silase. Namun, silase pun tidak selalu dapat
memenuhi kebutuhan pakan sapi perah. Diperlukan silase yang baik dan
berkualitas. Oleh sebab itu, pengetahuan dan pemahaman yang mendalam
mengenai pembuatan silase sangat dibutuhkan.
1.2 Maksud dan Tujuan
1. Mengetahui cara membuat silase.
2. Menilai silase serta dapat mengkategorikan silase yang baik.

1.3 Waktu dan Tempat


Praktikum pembuatan silase dilaksanakan tanggal 1 November 2016 dan
praktikum penilaian kualitas silase dilaksanakan tanggal 22 November 2016.
Praktikum bertempat di kandang sapi perah di Ciparanje.

II
TINJAUAN PUSTAKA
Silase adalah pakan yang berbahan baku hijauan, hasil samping pertanian atau
bijian berkadar air tertentu yang telah diawetkan dengan cara disimpan dalam tempat
kedap udara selama kurang lebih tiga minggu. Penyimpanan pada kondisi kedap
udara tersebut menyebabkan terjadinya fermentasi pada bahan silase. Tempat
penyimpanannya disebut silo. Silo bisa berbentuk horizontal ataupun vertikal. Silo
yang digunakan pada peternakan skala besar adalah silo yang permanen, bisa
berbahan logam berbentuk silinder ataupun lubang dalam tanah (kolam beton). Silo
juga bisa dibuat dari drum atau bahkan dari plastik. Prinsipnya, silo memungkinkan
untuk memberikan kondisi anaerob pada bahan agar terjadi proses fermentasi. Bahan
untuk pembuatan silase bisa berupa hijauan atau bagian-bagian lain dari tumbuhan
yang disukai ternak ruminansia, seperti rumput, legume, biji bijian, tongkol jagung,
pucuk tebu, batang nanas dan lain-lain. Kadar air bahan yang optimal untuk dibuat
silase adalah 65-75%. Kadar air tinggi menyebabkan pembusukan dan kadar air
terlalu rendah sering menyebabkan terbentuknya jamur. Kadar air yang rendah juga
meningkatkan suhu silo dan meningkatkan resiko kebakaran (Heinritz, 2011).
Teknologi silase adalah suatu proses fermentasi mikroba merubah pakan
menjadi meningkat kandungan nutrisinya (protein dan energi) dan disukai ternak
karena rasanya relatif manis. Silase merupakan proses mempertahankan kesegaran
bahan pakan dengan kandungan bahan kering 3035% dan proses ensilase ini
biasanya dalam silo atau dalam lobang tanah, atau wadah lain yang prinsifnya harus
pada kondisi anaerob (hampa udara), agar mikroba anaerob dapat melakukan reaksi

fermentasi. Keberhasilan pembuatan silase berarti memaksimalkan kandungan


nutrien yang dapat diawetkan. Selain bahan kering, kandunganm gula bahan juga
merupakan faktor penting bagi perkembangan bakteri pembentuk asam laktat selama
proses fermentasi (Khan et al., 2004). Silase adalah makanan ternak yang dihasilkan
melalui proses fermentasi hijauan dengan kandungan uap air yang tinggi. Pembuatan
silase tidak tergantung kepada musim jika dibandingkan dengan pembuatan hay yang
tergantung pada musim (Sapienza dan Bolsen, 1993).
Proses pembuatan silase (ensilage) akan berjalan optimal apabila pada saat
proses ensilase diberi penambahan akselerator. Akselerator dapat berupa inokulum
bakteri asam laktat ataupun karbohidrat mudah larut. Fungsi dari penambahan
akselerator adalah untuk menambahkan bahan kering untuk mengurangi kadar air
silase, membuat suasana asam pada silase, mempercepat proses ensilase,
menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk dan jamur, merangsang produksi asam
laktat dan untuk meningkatkan kandungan nutrien dari silase (Schroeder, 2004).
Silase yang baik biasanya berasal dari pemotongan hijauan tepat waktu
(menjelang berbunga), pemasukan ke dalam silo dilakukan dengan cepat,
pemotongan hijauan dengan ukuran yang memungkinkannya untuk dimampatkan,
penutupan silo secara rapat (tercapainya kondisi anaerob secepatnya) dan tidak sering
dibuka.

Silase yang baik beraroma dan berasa asam, tidak berbau busuk. Silase

hijauan yang baik berwarna hijau kekuning-kuningan, dipegang terasa lembut dan
empuk tetapi tidak basah (berlendir). Silase yang baik juga tidak menggumpal dan
tidak berjamur. Kadar keasamanya (pH) apabila dilakukan analisa lebih lanjut adalah
3,2-4,5. Silase yang berjamur, warna kehitaman, berair dan aroma tidak sedap adalah
silase yang mempunyai kualitas rendah (Rukmana, 2005).

III
ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA
3.1 Pembuatan Silase
3.1.1 Alat
1. Tong dan tutupnya
2. Karung
3. Timbangan
4. Gelas ukur plastik
5. Mesin Chopper
6. Plastik dengan ukuran 50 cm x 30 cm (plastik polybag)
3.1.2 Bahan
1. Tebon jagung
2. Molases
3.1.3 Cara Kerja
1. Menghidupkan mesin chopper hingga stabil.
2. Memasukkan tebon jagung ke dalam mesin chopper hingga ukuran
tebon menjadi lebih kecil.
3. Memasukkan tebon jagung yang sudah terpotong-potong ke dalam
karung, kemudian menimbangnya.
4. Mengukur molasses sebanyak ... menggunakan gelas ukur plastik.
5. Memasukkan tebon jagung ke dalam tong secara perlahan hingga
mencapai 1/3 bagian kemudian menuangkan molasses secara merata.

6. Menginjak tebon jagung yang ada di dalam tong dengan tujuan


memadatkan bahan yang ada di dalam tong.
7. Memasukkan tebon jagung ke dalam tong secara perlahan hingga
mencapai 2/3 bagian kemudian menuangkan molasses secara merata.
8. Menginjak tebon jagung yang ada di dalam tong.
9. Memasukkan tebon jagung ke dalam tong secara perlahan hingga
mencapai hampir penuh kemudian menuangkan molasses secara merata.
10. Menginjak tebon jagung yang ada di dalam tong.
11. Memasukkan tebon jagung ke dalam tong sampai tong sangat padat
kemudian menutupnya dengan plastik polybag sebelum ditutup dengan
tutup tong.
12. Tong ditutup dengan tutup tong kemudian dikencangkan.
13. Tong kemudian disimpan di tempat yang sejuk selama 21 hari.

3.2 Penilaian Kualitas Silase


3.2.1 Alat
1. Parameter uji
3.2.2 Bahan
1. Silase
3.2.3 Cara Kerja
1. Mengambil silase dari 8 kelompok, kemudian meminta sampel dari
masing-masing kelompok.

2. Menguji bau dan rasa, sentuhan, warna, dan cita rasa.


3. Menilai berdasarkan parameter yang telah ditentukan.
4. Mengujikan pada sapi secara in vivo.

IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Pembuatan Silase
a. Berat Tebon yang digunakan

: 34 kg (40 detik)

b. Pemotongan Tebon dengan Chopper

: 1 menit 47 detik

c. Pemasukan Tebon ke dalam Karung

: 1 menit 18 detik

d. Penimbangan Molases

: 260 gram (42 detik)

e. Pemasukan Tebon ke dalam Silo

: 23 menit 37 detik

4.1.2 Pengamatan dan Penilaian Silase Setelah 21 Hari


Tabel 1. Pengujian Silase dari 8 Kelompok
Pengujian

Kriteria (berlaku
hanya untuk
kelompok 4)

Bau dan
Rasa

Bau segar, manis,


asam, dan harum
(5)

Rasa
Sentuhan
(Sensasi)

Kondisi antara 5 dan


3

Warna

Silage dari Kelompok


3

10

10

10

15

Hijau Kekuningan
terang

10

10

10

Bau dan
Cita Rasa

Dicicipi asam
rasanya, tetapi
wangi

20

20

20

10

20

25

Rasa

Asam

20

20

20

20

43

55

65

40

65

71

Jumlah

*Kelompok 1 dan 2 tidak melakukan praktikum pembuatan silase


Tabel 2. Penilaian Silase dari 8 Kelompok
Indikator
Penilaian

Silage dari Kelompok


3

10

10

20

20

20

25

15

15

20

20

20

10

20

20

25

25

25

10

Sentuhan

10

10

10

Total

53

53

75

75

75

50

Wangi
Bau
Warna

*Kelompok 1 dan 2 tidak melakukan praktikum pembuatan silase

4.2 Pembahasan
Silase merupakan salah satu teknik pengawetan hijauan pakan ternak untuk
mengatasi kekurangan pakan di musim kering dengan prinsip pemeraman dalam
kondisi anaerob. Terdapat 2 tahapan pada pembentukkan silase yaitu tahapan
yang bersifat aerob dan yang bersifat anaerob. Pada tahapan aerob terjadi dua
proses yaitu respirasi sel tumbuhan dan proteolysis yang disebabkan oleh adanya
aktivitas enzim yang terapat pada tumbuhan. Pada kondisi ideal, oksigen akan
habis pada 4-5 jam setelah tong ditutup rapat. Kemudian akan terjadi peningkatan
suhu selama 15 hari pertama. Selanjutnya pada tahapan anaerob terjadi proses
fermentasi. Pada proses fermentasi bakteri asam laktat aktif memfermentasi gula
menjadi asam laktat disertai produksi asam asetat, etanol, karbondioksida, dan

lain-lain. Masa aktif fermentasi berlangsung selama 1 minggu sampai 1 bulan.


Namun, proses pembentukan asam laktat berlangsung 5-8 hari dan berhenti pada
hari ke-21 di mana pH mencapai 4. Asam laktat yang dihasilkan inilah yang akan
membuat silase menjadi tahan lama karena sifatnya yang asam sehingga bakteri
pembusuk lainnya tidak dapat berkembang. Selain itu, bau asam laktat ini disukai
oleh ternak. Hal inilah yang menyebabkan palatabilitas silase tinggi. Setelah masa
aktif bakteri asam laktat berakhir, maka ensilase akan memasuki fase stabil jika
tong ditutup dan disegel dengan baik. Pada fase ini aktivitas bakteri hanya sedikit.
Bakteri penghasil asam laktat yang penting dalam proses ensilase terbagi
menjadi dua berdasarkan kemampuannya dalam menguraikan subsrat, antara lain
homofermentatif

dan

heterofermentatif.

Bakteri

penghasil

asam

laktat

homofermentatif hanya dapat menghasilkan asam laktat, contohnya Lactobacillus


casei, Lactobacillus curvatus, dan Pediococcus pentosacues. Bakteri penghasil
asam laktat heterofermentatif dapat menghasilkan senyawa lain selain asam laktat
seperti etanol, contohnya Lactobacillus brevis, Lactobacillus buchneri, dan
Leuconostoc mesenteroides.
Terdapat perbedaan dalam proses pembuatan silase yang dilakukan oleh
kelompok 4 dengan kelompok 3,5, dan 7 yaitu pada bahan yang digunakan.
Kelompok 4 ditambahkan molases sedangkan kelompok 3,5, dan 7 tidak diberi
molases. Molases yang ditambahkan dapat merangsang pertumbuhan bakteri
asam laktat karena kandungan karbohidrat yang terdapat pada molases sehingga
bakteri dapat hidup dan tumbuh dengan baik. Hal ini yang menyebabkan silase
dari kelompok 4 berasa asam dibandingkan dengan silase dari kelompok 3.

Silase yang dihasilkan dari masing-masing kelompok pun berbeda dari


indikator warna, cita rasa dan bau, serta sentuhan. Silase yang dihasilkan dari
kelompok 4 berwarna hijau kekuningan terang sedangkan silase yang dihasilkan
oleh kelompok lain bervariasi hingga ada yang berwarna hampir kecoklatan.
Perbedaan warna dari masing-masing silase disebabkan oleh perubahanperubahan yang terjadi dalam tanaman karena proses respirasi aerob yang
berlangsung selama persediaan oksigen masih ada, sampai gula tanaman habis.
Gula akan teroksidasi menjadi CO2, air, dan panas, sehingga temperature naik.
Bila temperature tidak terkendali, maka silase akan berwarna coklat tua sampai
hitam. Hal ini menyebabkan turunnya nilai pakan karena banyak sumber
karbohidat yang hilang dan kecernaan protein turun. Warna kecoklatan ini juga
dapat disebabkan oleh terjadinya reaksi Maillard (Gonzalez et al., 2007).
Bau yang ditimbulkan dari silase disebabkan karena bakteri anaerob aktif
menghasilkan asam organik. Silase yang baik memiliki aroma asam dan wangi.
Bau asam dari silase dapat dijadikan indikator bahwa proses ensilase berhasil.
Rasa asam pada penilaian silase berkaitan erat dengan derajat keasaman (pH).
Kualitas silase dapat dikategorikan berdasarkan pH-nya, yaitu 3,5-4,2 baik sekali,
4,2-4,5 baik, 4,5-4,8 sedang, dan lebih dari 4,8 adalah jelek. Selain itu, silase yang
baik dapat dilihat dari teksturnya, yaitu teksturnya masih jelas seperti bahan
dasarnya. Tekstur silase dapat menjadi lembek jika kadar air dari hijauan tinggi
sehingga silase banyak menghasilkan air.
Berdasarkan hasil penilaian kualitas silase, jumlah total nilai yang dihasilkan
ialah 53. Ini berarti silase dinilai cukup baik, namun silase ini tidak dianjurkan
bila diberikan dalam jumlah banyak. Selain itu, pemotongan tebon jagung

menggunakan chopper merupakan cara yang efektif dan efisien untuk


mendapatkan tebon jagung dengan ukuran 3-4 cm dilihat dari durasi penggunaan
mesin chopper.

V
KESIMPULAN
1. Proses pembuatan silase oleh kelompok 4 menggunakan molases sedangkan
kelompok lain tidak.
2. Total nilai hasil penilaian kualitas silase berjumlah 53 yang berarti silase tersebut
cukup baik namun tidak dianjurkan untuk diberikan pada ternak dalam jumlah
banyak.
3. Indikator silase yang baik dapat dilihat dari warna, tekstur, sentuhan, bau, pH,
aroma, dan rasa.

DAFTAR PUSTAKA
Gonzalez J, Fara-Marmol J, Rodrguez CA, Martnez A. 2007. Effects of ensiling
on ruminal degradability and intestinal digestibility of Italian rye-grass.
Anim Feed Sci Technol. 136:38-50.
Heinritz, S. 2011. Ensiling Suitability of High Protein Tropical Forages and Their
Nutritional Value for Feeding Pigs. Diploma Thesis. University of
Hohenheim. Stutgart.
Khan, M.A., M. Sarwar and M.M.S. Khan. 2004. Feeding value of urea treated
corncobs ensiled with or without Enzose (corn Dextrose) for lactating
crossbred cows. Asian-Aust. J. Anim. Sci. 8: 1093 1097.
Rukmana, R. 2005. Silase dan Permen Ternak Ruminansia. Kanisius. Yogyakarta
Schroeder, J.W. 2004. Silage Fermentation and Preservation. http://www.ext.
nodak.edu/expubs/ansci/dairy/as1254w.btm.pdf.
Sapienza, D.A. and K.K. Bolsen. 1993. Teknologi Silase (Penanaman, Pembuatan
dan

Pemberiannya pada Ternak). Penerjemah: Martoyondo Rini B.S.

LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai