Anda di halaman 1dari 4

STABILITAS DAN PENILAIAN STABILITAS

SEDIAAN SUSPENSI
15 Apr
BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut,
terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak boleh cepat
mengendap, dan bila digojog perlahan lahan, endapan harus terdispersi kembali. Dapat di
tambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi harus
menjamin sediaan mudah di gojog dan di tuang .
Dalam pembuatan suspensi harus diperhatikan beberapa faktor anatara lain sifat partikel
terdispersi (derajat pembasahan partikel), Zat pembasah, Medium pendispersi serta komponen
komponen formulasi seperti pewarna, pengaroma, pemberi rasa dan pengawet yang digunakan.
Suspensi harus dikemas dalam wadah yang memadai di atas cairan sehigga dapat dikocok dan
mudah dituang. Pada etiket harus tertera Kocok dahulu dan di simpan dalam wadah tertutup
baik dan disimpan di tempat yang sejuk .
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat
penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan salah
satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi.
B.

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar pembaca, khususnya mahasiswa dapat
membuat sediaan suspensi dan mengetahui bagaimana menjaga stabilitas sediaan suspensi serta
mengetahui cara untuk melakukan penilaian stabilitas suspensi. Selain itu makalah ini juga
dibuat untuk memenuhi tugas yang diberikan pada mata kuliah Farmasetika 1 di Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin program studi D3-Farmasi.
BAB II
STABILITAS DAN PENILAIAN SEDIAAN SUSPENSI
A.

Stabilitas Suspensi

Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah:


1. Ukuran Partikel

Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan
keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan
terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas
merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas
penampangnya.
2. Kekentalan / Viskositas
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental
suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Hal ini dapat dibuktikan dengan hukum
STOKES

Ket:
V = Kecepatan Aliran
d = Diameter Dari Partikel
p = Berat Jenis Dari Partikel
p0 = Berat Jenis Cairan
g = Gravitasi
= Viskositas Cairan
3. Jumlah Partikel / Konsentrasi
Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel tersebut akan
susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut.
Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin
besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu
yang singkat.
4. Sifat / Muatan Partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang
sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan
tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan
tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat mempengruhi.

Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer, homogeniser, colloid
mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan dengan penambahan zat
pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut
sebagai suspending agent (bahan pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air
(hidrokoloid).
Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu:
1.

Bahan pensuspensi dari alam.

Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom / hidrokoloid. Gom
dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk
mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah
dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas,
PH, dan proses fermentasi bakteri.
a.

Termasuk golongan gom:

Contonya: Acasia ( Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth , Algin


b.

Golongan bukan gom:

Contohnya: Bentonit, Hectorit dan Veegum.


2.

Bahan pensuspensi sintesis

a.

Derivat Selulosa

Contohnya: Metil selulosa, karboksi metil selulosa (CMC), hidroksi metil selulosa.
b.

Golongan organk polimer

Contohnya: Carbaphol 934.


B.

Penilaian Stabilitas Suspensi

1.

Volume sedimentasi

Adalah suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Vu) terhadap volume mula mula dari suspensi
(Vo) sebelum mengendap.

2.

Derajat flokulasi.

Adalah Suatu rasio volume sedimentasi akhir dari suspensi flokulasi (Vu) terhadap volume
sedimentasi akhir suspensi deflokulasi (Voc).

3.

Metode reologi

Berhubungan dengan faktor sedimentasi dan redispersibilitas, membantu menemukan perilaku


pengendapan, mengatur vehicle dan susunan partikel untuk tujuan perbandingan.
4.

Perubahan ukuran partikel

Digunakan cara Freeze-thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampai titik beku, lalu
dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat pertumbuhan kristal, yang
pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran partikel dan sifat kristal.
BAB III
PENUTUP
A.

Simpulan

Kestabilan suspensi dapat dinilai dengan cara melihat sifat fisik dari suspensi racikan tersebut,
dimana partikel tidak mengalami agregasi dan tetap terdistribusi merata, bila partikel mengendap
akan mudah tersuspensi kembali dengan pengocokan yang ringan.
Salah satu cara untuk menjaga stabilitas suspensi adalah dengan memperlambat penimbunan
partikel serta menjaga homogenitas dari partikel. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
stabilitas suspensi, yaitu :
1. Ukuran Partikel
2. Kekentalan/Viscositas
3. Jumlah Partikel/Konsentrasi
4. Sifat/Muatan Partikel
Untuk memenuhi persyaratan, pembuatan suspensi harus dilakukan secara baik dan benar. Dari
informasi yang diterima, racikan suspensi di apotek belum dilakukan secara baik dan benar,
sehingga kemungkinan hasil racikan suspensi yang dibuat dari beberapa apotek kurang
memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan