Anda di halaman 1dari 6

PERKAWINAN

CAMPURAN

TERKAIT

KAIDAH

HUKUM ANTAR TATA HUKUM INTERN

KASUS POSISI
NY. SURTIATI Wu Warga Negara Indonesia melakukan perkawinan campuran dengan Dr.
CHARLIE WU alias WU CHIA HSIN yang telah dicatatkan di Kantor Pencatatan Sipil
Jakarta. Perkawinan tersebut telah dikaruniai dua orang anak yang lahir di Jakarta dan
berkewarganegaraan Amerika Serikat yang bernama Alice dan Denise. Sejak awal
perkawinan ternyata hubungan keduanya sudah tidak harmonis. Ketidakharmonisan tersebut
akhirnya berbuntut pada gugatan cerai yang diajukan Dr. Charlie Wu ke Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan. Dalam Gugatannya Dr. Charlie Wu memohon agar hak asuh atas kedua
anaknya diberikan kepadanya. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan permohonan
tersebut yang kemudian ditegaskan lewat keputusan banding. Ny. Surtiati Wu yang merasa
tidak puas mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, namun permohonan kasasinya ditolak.
ANALISA
Mengingat tahun kelahiran kedua anak tersebut adalah 1986 dan 1987, maka
peraturan yang mengatur adalah undang-undang No. 62 tahun 1968. Dalam Pasal 1b tersebut
menyatakan bahwa Warga Negara Indonesia (WNI) adalah orang yang pada waktu lahirnya
mempunyai hubungan hukum kekeluargaan dengan ayah seorang WNI dengan pengertian
hubungan kekeluargaan itu diadakan sebelum orang itu berusia 18 tahun dan belum menikah
di bawah usia 18 tahun. Dengan ketentuan pasal ini, dapat disimpulkan bahwa Indonesia
menganut secara ketat asas ius sanguinis. Oleh sebab itu, seperti dalam kasus ini dimana
terjadi perkawinan campuran antara perempuan WNI (Ny Surtiati) dengan laki-laki WNA
(Dr. Charlie Wu), maka anak yang dilahirkan akan mengikuti kewarganegaraan si ayah
dimanapun ia dilahirkan. Mengenai ketentuan ini terdapat pengecualian yakni apabila negara
si ayah tidak memberikan kewarganegaraan bagi si anak yang dilahirkan sehingga si anak
akan berstatus stateless atau tanpa kewarganegaraan. Dalam kasus ini, Dr. Charlie Wu
merupakan warga negara Amerika yang menganut asas kewarganegaraan ius soli, dimana
seseorang mendapat kewarganegaraan berdasarkan tempat kelahirannya. Kedua anak yang
merupakan hasil perkawinan campuran antara Dr. Charlie Wu dengan Ny. Surtiati dilahirkan

di Indonesia, tepatnya Jakarta. Dengan demikian, terjadi pertemuan antara dua asas
kewarganegaraan yang berbeda. Berdasarkan pasal 1 b UU No. 62 tahun 1958, kedua anak
tersebut mengikuti kewarganegaraan ayah mereka, yakni Amerika. Namun, berdasarkan asas
ius soli yang dianut oleh Amerika Serikat, kewarganegaraan kedua anak tersebut mengikuti
tempat kelahiran mereka, yaitu Indonesia. Hal ini mengakibatkan kedua anak tersebut
menjadi stateless. Akan tetapi, UU no.62 tahun 1958 menganut asas anti apatride dimana
terjadi seseorang tidak memiliki kewarganegaraan. Oleh sebab itu, dalam kasus seperti ini,
kedua anak itu dapat menjadi WNI jika sang ibu mengajukan permohonan ke pengadilan.
Dalam kasus ini, kedua anak tersebut menjadi warga negara Amerika. Hal ini dimungkinkan
dengan pengakuan Dr. Charlie Wu bahwa kedua anak tersebut adalah kedua anaknya
sehingga harus mengikuti kewarganegaraannya yakni Amerika. Berdasarkan ketentuan dalam
pasal 17 UU No. 62 tahun 1958 dapat disimpulkan bahwa seorang anak yang diakui oleh
orang asing sebagai anaknya dan memperoleh paspor atau surat yang bersifat paspor dari
negara asing, maka ia memperoleh kewarganegaraan dari negara tersebut. Karena Dr. Charlie
Wu mengajukan permohonan paspor kepada Kedutaan Besar Amerika Serikat. Dengan
keluarnya paspor Amerika atas nama Alice dan Dennis Aulia, maka ketentuan pasal 17
tersebut berlaku. Kedua anak itu mendapat pengakuan dari Dr. Charlie Wu yang seorang
WNA sebagai anaknya.
Sedangkan mengenai putusan perceraian itu sendiri, mengingat uraian-uraian
mengenai sikap dan tingkah laku dari Ny. Surtiati Wu yang buruk, seperti kasar, keras kepala,
mau menang sendiri, dan suka berbohong yang akhirnya menyebabkan timbulnya
perselisihan dan percekcokan di dalam rumah tangga. Hal ini tidak sesuai dengan tujuan dari
dilangsungkannya lembaga perkawinan yang tertera dalam undang-undang tentang
perkawinan, yaitu perkawinan adalah untuk membentuk suatu keluarga yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sehingga adalah hal yang wajar apabila
Mahkamah Agung mengabulkan gugatan perceraian yang diajukan oleh Dr. Charlie Wu, yaitu
menyatakan ikatan perkawinan antara Dr. Charlie Wu dan Surtiati Wu putus karena
perceraian.
Hal ini juga didukung oleh pernyataan yang dikeluarkan oleh kedua anak dari
Penggugat dan Tergugat bahwa mereka setuju apabila kedua orangtua mereka bercerai karena
jika perkawinan tersebut dilanjutkan, hanya akan menambah penderitaan batin mereka saja
dan lagi mereka tidak keberatan apabila ditaruh di bawah perwalian dari Penggugat (Dr.
Charlie Wu).

Apabila menilik dari uraian yang diajukan oleh kuasa hukum dari Penggugat bahwa :
1. Ny. Surtiati Wu telah bersikap dan bertingkah laku buruk sehingga menimbulkan banyak
percekcokan dan perselisihan dalam rumah tangga.
2. Percekcokan dan perselisihan tersebut menimbulkan pernderitaan batin bagi kedua anak
mereka, yaitu Alice dan Denise Aulia.
3. Kedua anak mereka mendukung perceraian antara Dr. Charlie Wu dan Surtiati Wu.
4. Kedua anak mereka tidak keberatan untuk ditaruh di bawah perwalian Dr. Charlie Wu.
5. Dr. Charlie Wu sudah menyatakan kesanggupannya untuk terus merawat dan mendidik
Alice dan Denise Aulia, menjaga perkembangan kehidupan jasmani dan rohani mereka
serta menanggung biaya pendidikan mereka sampai perguruan tinggi. Maka, putusan
Mahkamah Agung untuk menyatakan putusnya perkawinan antara Dr. Charlie Wu dan
Surtiati Wu serta menyerahkan perwalian kedua anak mereka yang berkewarganegaraan
Amerika adalah tepat.
Jika dianalisis terhadap perkawinan campur dari Dr. Charlie Wu dengan Ny. Surtiati
Wu, maka pada bagian latar belakang permasalahan bentuk perkawinan ini terdapat
kontradiksi yang kuat antara doktrin ketertiban umum dengan doktrin hak-hak yang
diperoleh. Dr Charlie Wu menikah dengan Ny. Surtiati di Kansas, Amerika Serikat termasuk
perkawinan yang sama sekali sah. Dr. Charlie Wu dan Nyonya Surtiati telah memperoleh
hak-hak di Negara Amerika Serikat sehingga dalam penerapannya di Indonesia maka
permasalahan ini tidak serta merta dinyatakan tidak sah oleh Indonesia berdasarkan
Ketertiban Umum karena bertentangan dengan UU Kewarganegaraan.
Hak-hak yang diperoleh biasanya dipakai untuk mengedapankan bahwa perubahan
dari fakta-fakta, tidak akan mempengaruhi berlakunya kaidah-kaidah yang semula dipakai.
Penerapan prinsip ini menurut pemikiran Dicey yang menentukan bahwa, Any Right which
has been duly recognized, and in general, enforced by English court, and no right which has
not been duly acquired in enforced or in general, recoqnized by English courts. Hak yang
telah diperoleh menurut ketentuan hukum Negara asing, diakui dan sepenuhnya dilaksanakan
oleh hakim, sepanjang hak-hak ini tidak bertentangan dengan konsepsi public policy.
Namun dalam praktek dan jika dihubungkan dengan kasus Dr. Charlie Wu dengan Ny.
Surtiati Wu, Wirjono Prodjodikoro berpendapat bahwa hak-hak yang diperoleh pada
perkawinan camouyr yang mendapat legitimasi di Amerika Serikaty tersebut setidak-tidaknya
tidak dijadikan dasar dari seluruh bangunan bagi sang Hakim dalam melaksanakan tugasnya
memilih hukum yang harus dipergunakan, sebagai pengecualian atas apa yang menurut
ketentuan-ketentuan HPI lex fori seyognya harus diperlakukan.

Kemudian dalam hal pengakuan anak tersebut sebenarnya hakim dalam mempertimbagkan
analisa yuridis tidak menggunakan HATAH atau Hukum Antar Tata Hukum secara maksimal.
Hal ini membuktikan bahwa hakm Indonesia terlebih-lebih mengenai kasus Dr. Charlie Wu
dengan Ny. Surtiati Wu yang terkait dengan masalah hatah tidak mengenal dengan baik
mengenai konstruksi berfikir hatah dengan tidak memasukan salah satupun pertimbangan
dalam putusannya. Inilah sikap dari para hakim yang entah chauvimis ataukah
keterbelakangan ilmu sehingga tanpa adirnya Keterangan Ahli dalam persidangan yang
mengungkapakan dalil-dalil HATAH kemudian akan dikesampingkan.
Perpindahan Dr. Charlie Wu yang berkewarganegaraan Amerika Serikat, sebenarnya
suatu permasalahan tersendiri, karena disini ada titik pertalian yang harus dicermati, karena
Hakim pasti akan memilih akankah akan menggunakan setelsel hukum Amerika Serikat
sesuai dengan kewarganegaraan Chalie Wu ataukah menggunakan Stelsel Hukum Indonesia
sesuai dengan kewarganegaraan dari Istrinya, Ny. Surtiati Wu, serta sesuai dengan letak
diajukannya gugatan perdata yang dilakukan oleh Dr. Charlie Wu yakni di Pengadilan Negri
Jakarta Selatan. Hal inilah yang perlu juga kita tinjau dan seharusnya Hakim sebagai pihak
pencari keadilan mempertimbangkan hal ini.
Van Vollenhoven mengungkapkan salah satu pertimbangan untuk mempergunakan
hukum nasional dalam menentukan stelsel hukum yang berlaku apabila terjadi titik pertalian
adalah dengan melihat adanya :

Percampuran dengan sukubangsa Asli (vermenging met de autochtone bevolking)

Persatuan

dengan

masyarakat

hukum

setempat

(deelgennotschap

van

locale

rechtgemeenschap)
Sedangkan perbedaan antara kedua syarat ini ialah bahwa pencampuran dengan suku bangsa
asli berlangsung dalam lingkungan daerah yang lebih luas atau isebut region atau regional.
Sedangkan persatuan dengan masyarakat setempat maka semula ini memperlihatkan suatu
proses pengolahan yang tidak sedemikian mendalam., kemudian mengenai daerah yang
lebih kecil namun sebaliknya dirasakanlebih dalam. Jika kembali dalam kasus maka akan
terasa janggal bahwa Dr. Charlie Wu berserta anak Dr. Charlie Wu yang hanya melakukan
pencampuran yang tidak sedalam persatuan namun hendak memakai stelsel hukum
Indonesia.

ANALISIS PERISTIWA
HUKUM ANTAR TATA HUKUM
D
I
S
U
S
U
N
OLEH

M. AULIA GANDA PUTRA


1106200403

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2016