Anda di halaman 1dari 38

Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan

Inquiry
Inquiry merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang banyak dianjurkan untuk
diterapkan dalam pembelajaran IPA/Sains, Untuk mengetahui apa dan bagaimana pendekatan
inquiry itu, baca artikel berikut:
1. Pendahuluan
Fisika adalah bagian dari IPA yaitu ilmu tentang zat dan energi yang pada umumnya didasarkan
atas pengamatan / observasi dan eksperimen. Fisika seperti halnya IPA (science) adalah ilmu
pengetahuan yang diperoleh melalui / menggunakan proses ilmiah (scientific method), yaitu
cara-cara khusus untuk menyelidiki, memecahkan masalah atau menemukan products (hasilhasil ilmiah). Cara-cara tersebut antara lain : mengidentifikasi masalah, membuat hipotesis,
mendesain eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengevaluasi data, menarik kesimpulan, dll.
Pengamatan terhadap gejala alam diorganisir menjadi hukum dan prinsip. Hukum dan prinsip
harus dapat dijelaskan dengan suatu teori. Teori disusun sedemikian rupa sehingga dapat
menjelaskan sebanyak mungkin gejala atau peristiwa yang diamati. Teori harus dapat
meramalkan peristiwa-peristiwa baru yang sebelumnya tidak teramati, dan peristiwa yang
diramalkan oleh teori itu harus dapat diamati baik langsung maupun tak langsung. Betapapun
indahnya suatu teori dirumuskan, tidaklah dapat dipertahankan kalau tidak sesuai dengan hasil
observasi. Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein: Science dimulai dari fakta dan berakhir
dengan fakta, tidak peduli teoriteori apa yang dibangun diantaranya. Didalam menjelaskan
suatu gejala/peristiwa, kadang-kadang fisikawan memperkenalkan konsep-konsep yang mungkin
asing bagi awam seperti : daya, gaya, energi, momentum, dll.,demikian pula dalam menjelaskan
hal-hal yang tidak adapat teramati fisikawan sering menggunakan model seperti : model atom,
model elektron, ataupun model matematis seperti : usaha = gaya x perpindahan, dll.
Fisika/IPA tidak hanya terdiri atas sekelompok fakta yang berupa hukum, prinsip, dll.,tetapi juga
meliputi cara berfikir dan berkarya. Oleh karenanya kurang tepat bila pembelajaran Fisika / IPA
semata-mata berupa sekumpulan fakta. Didalam membelajarkan Fisika / IPA guru tidak hanya
mengharapkan agar siswa memiliki products atau hasil ilmiah saja, tetapi juga diharapkan agar
siswa terbiasa menggunakan dan mengalami proses ilmiah atau metode ilmiah, karena
dengan demikian siswa diharapkan dapat memiliki dan mengembangkan sikap ilmiahnya.
2. Pendekatan dan Metode Pembelajaran IPA/Fisika
Ada dua pengertian dalam cara mengajarkan suatu mata pelajaran, yakni pendekatan dan metode.
Pendekatan mengajar adalah langkah untuk sampai ke tujuan atau dalam hal ini adalah ilmu
pengetahuan (Sukarno, 1983 : 61). Dari kutipan di atas pendekatan mengajar merupakan suatu
upaya/usaha yang dilakukan oleh seorang guru pada waktu menyajikan bahan pelajaran agar para
siswa memperoleh ilmu pengetahuan. Metode mengajar adalah cara menyajikan atau
mengajarkan suatu mata pelajaran. Pendekatan mengajar dan metode mengajar merupakan suatu
hal yang kait mengkait, karena keduanya merupakan suatu usaha untuk memperoleh ilmu
pengetahuan.
Pendekatan mengajar merupakan titik tolak bagi guru dalam menggunakan metode mengajar.
Penggunaan metode mengajar akan berhasil baik apabila disertai dengan pendekatan mengajar

yang baik dalam arti sesuai atau tepat. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam
pembelajaran IPA misalnya :
a. Pendekatan induktif
b. Pendekatan deduktif
c. Pendekatan otoriter (dogmatis)
d. Pendekatan inquiry
a. Pendekatan induktif bertitik tolak dari suatui proses berfikir secara induktif yaitu rangkaian
beberapa faktor atau informasi yang kemudian dapat ditarik kesimpulan yang dapat berlaku
secara umum dan merupakan suatu generalisasi. Dengan menggunakan pendekatan induktif,
guru mengajak siswa mengadakan pengamatan atau percobaan untuk mendapatkan keterangan
atau data. Dari data dan keterangan tersebut siswa dengan bimbingan guru berusaha mengolah
dan menghasilkan suatu kesimpulan. Dengan menggunakan pendekatan induktif siswa dapat
melakukan aktivitas, karena siswa diajak ikut serta atau diikut sertakan dalam menganalisis,
menyimpulkan data atau keterangan yang mereka peroleh sendiri melalui pengamatan atau
percobaan.
b. Pendekatan deduktif bertitik tolak dari suatu hukum atau kesimpulan umum yang telah
dianggap benar untuk sampai kepada suatu hukum yang baru atau suatu kesimpulan yang
khusus. Pada pendekatan deduktif ini, guru mengajak atau membimbing siswa untuk
merumuskan suatu kesimpulan yang khusus dari pendapat atau hukum yang berlaku umum dan
dianggap betul. Sebagai contoh kita memperoleh hukum Boyle-Gay-Lussac dengan menganggap
bahwa hukum Boyle adalah benar dan hukum Gay-Lussac adalah benar. Contoh lain kita
memperoleh hukum Keppler III dengan menganggap bahwa hukum II Newton dan hukum
Newton tentang gravitasi adalah benar
c. Pendekatan otoriter atau pendekatan dogmatis. Pada pendekatan ini gurus secara langsung
mengajarkan/menanamkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan kepada siswa,dan siswa menerima
saja dan harus percaya mengenai kebenaran dari ilmu tersebut. Penggunaan pendekatan otoriter
tidak membimbing siswa untuk berkreativitas, karena siswa tidak mendapat kesempatan untuk
ikut memikirkan / mengetahui proses perumusan dari ilmu pengetahuan tersebut. Keterangan
yang diterima siswa pada umumnya sudah merupakan atau mengandung suatu kesimpulan
sehingga siswa menjadi pasif dan cenderung hanya menjadi pengumpul fakta saja. Dalam
membelajarkan IPA-Fisika sedapat mungkin jangan menggunakan penmdekatan otoriter.
d. Pendekatan inquiry adalah pendekatan dengan cara menyelidiki atau mencari. Menurut Kuslan
dan Stone dalam bukunya Teaching Children Science an Inquiry Approach, Inquiry
teaching as that teaching by which teacher and children study scientific phenomena with
approach and spirit of scientist Kutipan di atas dapat diartikan bahwa: pengajaran dengan
pendekatan inquiry adalah pengajaran dimana guru dan siswa mempelajari gejala-gejala ilmiah
dengan pendekatan jiwa ilmuwan. Dalam menyajikan pelajaran dengan pendekatan inquiry, guru
membimbing siswa untuk beraktivitas melalui penyelidikan dan mencari atau mendapatkan data
secara eksperimen. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis atau disimpulkan menjadi suatu
hukum atau rumusan, sehingga diharapkan siswa dapat memperoleh konsep konsep
pengatahuan dari hasil eksperimennya sendiri. Ilmu pengetahuan atau kesimpulan yang didapat
siswa, sebagian besar harus berdasarkan atas hasil usaha siswa itu sendiri. Pengamatan,
penyelidikan maupun percobaan, dan analisis datanya harus dilakukan siswa sendiri dengan
mendapatkan bimbingan dari guru.
Didalam membelajarkan IPA/Fisika guru dituntut sejauh mungkin menggunakan pendekatan

inquiry (inquiry approach) atau pendekatan dengan menyelidiki. Dengan pendekatan inquiry,
siswa dituntut sebanyak-banyaknya melakukan eksperimen atau pengamatan. Dengan demikian
sekolah harus memiliki sejumlah alat alat pelajaran IPA yang memadai baik secara kualitas
maupun kauantitas. Apabila alat-alat tersebut tidak ada, guru dituntut untuk mengadakan alat-alat
tersebut dengan menggunakan bahan yang sesederhana mungkin namun dapat mempunyai fungsi
yang sama dengan alat-alat buatan pabrik. Pengamatan dan eksperimen tidak merupakan satusatunya cara untuk mempelajari IPA/Fisika, dalam berbagai hal cara-cara menggunakan teori
juga harus dibahas. Untuk itu guru harus mempunyai konsep yang jelas mengenai teori dalam
IPA/Fisika. Percobaan atau eksperimen jangan dipandang sebagai pelengkap atau penyerta
pelajaran, melainkan sebagai bagian yang terintegrasi dengan pelajaran.
Metode penyampaian dipilih sedemikian rupa sehingga sesuai dengan bahan yang akan
diajarkan. Metode ceramah sebaiknya dikurangi. Proses pembelajaran sebaiknya menjadikan
siswa lebih aktif, guru hanya sebagai pembimbing atau fasilitator sedangkan siswa aktif
melakukan kegiatan-kegiatan. Siswa hendaknya dituntut keaktifannya baik fisik maupun mental
( intelectual-emotional). Metode yang sekiranya baik untuk pembelajaran IPA/Fisika adalah
metode eksperimen, metode demonstrasi, metode tanya jawab, diskusi, metode tugas, metode
proyek, dll.
3. Pendekatan inquiry dalam pembelajaran IPA-Fisika
Perkataan inquiry (inquire) berarti menanyakan, menyelidiki, memeriksa. Proses-proses
mental dalam inquiry meliputi : merumuskan problema, mendesain eksperimen, melaksanakan
eksperimen, mengorganisir data, menaganalisis data, menarik kesimpulan. Selain itu juga adanya
sikap jujur, objektif, hasrat ingin tahu, terbuka, mau menerima gagasan-gagasan baru atau
pendapat orang lain, dsb. Sehubungan dengan hal tersebut maka pembelajaran dengan
pendekatan inquiry harus meliputi pengalaman-pengalaman yang menjamin siswa dapat
mengembangkan proses-proses inquiry.
Ciri-ciri pembelajaran inquiry menurut Kuslan dan Stone dalam bukunya Teaching Children
Science : An inquiry Approach adalah :
a. Ada proses-proses ilmiah antara lain : mengamati, mengukur, memperkirakan,
membandingkan, mengukur, meramalkan, mengklasifikasikan, bereksperimen, berkomunikasi,
berpendapat, menganalisis, dan mengambil kesimpulan.
b. Jangka waktu bukan hal penting. Tidak urgen untuk menyelesaikan suatu masalah atau topik
hanya karena harus memenuhi waktu yang telah ditentukan.
c. Jawaban-jawaban, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip yang dicari, sebelumnya harus tidak
diketahui oleh siswa lebih dulu.
d. Siswa sunggguh-sungguh berminat dalam menemukan pemecahan masalah yang dibahas.
e. Isi atau aktivitas dalam inquiry tidak harus selalu dihubungkan dengan pengajaran-pengajaran
yang telah ataupun berikutnya.
f. Setiap masalah agar diidentifikasi dan dipersempit/disederhanakan sedemikian sehingga
memungkinkan dapat dipecahkan oleh kelas.
g. Hipotesis-hipotesis diaujukan oleh kelas.
h. Setiap siswa dibebani/bertanggung jawab untuk mengusulkan cara-cara memperoleh data dari
eksperimen yang dilakukan, observasi, buku bacaan dan sumber lain yang bersangkutan.
i. Usul-usul tersebut dibahas dan dievaluasi oleh kelas. Bila mungkin agar dapat diidentifikasikan
perkiraan-perkiraan, keterbatasan-keterbatasan, serta kesukaran-kesukaran yang bersangkutan
dengan usul-usul tersebut.
j. Dalam melaksanakan penyelidikannya, siswa dapat secara perorangan atau bersama-sama

dalam suatu kelompok atau bersama-sama seluruh kelas.


k. Siswa meringkas data yang diperoleh, kemudian mengambil kesimpulan sementara mengenai
kesesuaiannya dengan hipotesis yang mereka ajukan. Usaha-usaha ini semua mereka lakukan
untuk menghasilkan penjelasan / ketrangan ilmiah
l. Kesimpulan-kesimpulan atau penjeleasan tersebut dicari hubungannya sedemikian rupa
sehingga bila mungkin dapat dihasilkan suatu konsep atau prinsip IPAyang lebih luas untuk
dikembangkan selanjutnya.
Pembelajaran dengan pendekatan inquiry dapat menggunakan berbagai macam metode. Apapun
metode yang dipilih hendaknya tetap mencerminkan ciri-ciri pembelajaran dengan pendekatan
inquiry. Ada beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran dengan
pendekatan inquiry, anatara lain : tanya jawab, diskusi, demosntrasi, eksperimen, dll.
4. Jenis dan tingkatan dari inquiry
Ada beberapa jenis/ tingkatan inquiry, dari yang paling sederhana sampai kepada yng ideal,
antara lain :

Oleh: Hadi Susanto, FPMIPA UNNES


Pustaka :
AmienModel Pembelajaran | 25 March 2010by sholahuddin Tagged Pendekatan Inquiry
You can leave a response, or trackback from your own site.

Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan Inquiry Pada


Siswa Kelas V SD Kalibanteng Kidul 01 Semarang.

Uji Murniati, 1402907157 (2011) Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPA Melalui


Pendekatan Inquiry Pada Siswa Kelas V SD Kalibanteng Kidul 01 Semarang. Under
Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

PDF (Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan Inquiry


Pada Siswa Kelas V SD Kalibanteng Kidul 01 Semarang.) - Published Version
Restricted to Registered users only
Request a copy

Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pembelajaran IPA di Sekolah Dasar.
Namun pada kenyataannya penguasaan konsep dalam pembelajaran IPA kurang
maksimal. guru dalam pembelajaran, sehingga menyebabkan hasil belajar siswa rendah.
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah: (l) Meningkatkan ketrampilan guru dalam
pembelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) melalui pendekatan inquiry siswa kelas V
SD Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang, (2) Meningkatkan aktivitas siswa dalam
pembelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) melalui pendekatan Inquiry pada materi
gaya gesek siswa SD Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang, (3) Meningkatkan hasil
belajar siswa dalam pembelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) melalui pendekatan
Inquiry pada materi gaya gesek kelas V SD Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang.
Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan tiga siklus.
Tiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi. dan
refleksi. Sebagai subjek penelitian adalah siswa dan guru kelas V SD Kalibanteng Kidul
01 Kota Semarang. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi/pengamatan,
dokumentasi, tes dan wawancara. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (l)
Penggunaan pendekatan inquiry oleh guru dalam pernbelajaran juga meningkatkan
ketrampilan guru. (2) Proses pernbelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiry
menunjukkan adanya peningkatan aktivitas siswa, hal ini dapat dilihat pada lembar
aktivitas siswa yang rnenunjukkan secara umum siswa dalam kelas sudah menunjukkan
partisipasinya dalam pembelajaran yakni siswa secara aktif. (3) Model pembelajaran
dengan menggunakan inquiry dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD
Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang. Peningkatan hasil belajar ini dapat dilihat dari
hasil penelitian siklus I siswa yang mencapai ketuntasan belajar 75% ada 33 siswa
( 68,8%), pada siklus II siswa yang mencapai ketuntasan belajar afektif dan psikomotorik
75% ada 35 siswa (72,9%) sedangkan pada siklus III siswa yang mencapai ketuntasan
belajar afektif dan psikomotorik 75% ada 48 siswa (100 %) Berdasarkan hasil analisis
data sesuai rumusan masalahnya maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA
menggunakan model pembelajaran inquiry dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa
kelas V SD Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang.

NSTA Position Statement:

Scientific Inquiry
Introduction

The National Science Education Standards (NSES p. 23) defines scientific inquiry as "the
diverse ways in which scientists study the natural world and propose explanations based
on the evidence derived from their work. Scientific inquiry also refers to the activities
through which students develop knowledge and understanding of scientific ideas, as well
as an understanding of how scientists study the natural world." The Science as Inquiry
Standard in NSES includes the abilities necessary to do scientific inquiry and
understanding about scientific inquiry.
Scientific inquiry reflects how scientists come to understand the natural world, and it is at
the heart of how students learn. From a very early age, children interact with their
environment, ask questions, and seek ways to answer those questions. Understanding
science content is significantly enhanced when ideas are anchored to inquiry experiences.
Scientific inquiry is a powerful way of understanding science content. Students learn how
to ask questions and use evidence to answer them. In the process of learning the strategies
of scientific inquiry, students learn to conduct an investigation and collect evidence from
a variety of sources, develop an explanation from the data, and communicate and defend
their conclusions.
The National Science Teachers Association (NSTA) recommends that all K16 teachers
embrace scientific inquiry and is committed to helping educators make it the centerpiece
of the science classroom. The use of scientific inquiry will help ensure that students
develop a deep understanding of science and scientific inquiry.
Declarations

Regarding the use of scientific inquiry as a teaching approach, NSTA recommends that
science teachers

Plan an inquiry-based science program for their students by developing both


short- and long-term goals that incorporate appropriate content knowledge.

Implement approaches to teaching science that cause students to question


and explore and to use those experiences to raise and answer questions
about the natural world. The learning cycle approach is one of many effective
strategies for bringing explorations and questioning into the classroom.

Guide and facilitate learning using inquiry by selecting teaching strategies


that nurture and assess student's developing understandings and abilities.

Design and manage learning environments that provide students with the
time, space, and resources needed for learning science through inquiry.

Receive adequate administrative support for the pursuit of science as inquiry


in the classroom. Support can take the form of professional development on
how to teach scientific inquiry, content, and the nature of science; the
allocation of time to do scientific inquiry effectively; and the availability of
necessary materials and equipment.

Experience science as inquiry as a part of their teacher preparation program.


Preparation should include learning how to develop questioning strategies,
writing lesson plans that promote abilities and understanding of scientific
inquiry, and analyzing instructional materials to determine whether they
promote scientific inquiry.

Regarding students abilities to do scientific inquiry, NSTA recommends that teachers


help students

Learn how to identify and ask appropriate questions that can be answered
through scientific investigations.

Design and conduct investigations to collect the evidence needed to answer


a variety of questions.

Use appropriate equipment and tools to interpret and analyze data.

Learn how to draw conclusions and think critically and logically to create
explanations based on their evidence.

Communicate and defend their results to their peers and others.

Regarding students understanding about scientific inquiry, NSTA recommends that


teachers help students understand

That science involves asking questions about the world and then developing
scientific investigations to answer their questions.

That there is no fixed sequence of steps that all scientific investigations


follow. Different kinds of questions suggest different kinds of scientific
investigations.

That scientific inquiry is central to the learning of science and reflects how
science is done.

The importance of gathering empirical data using appropriate tools and


instruments.

That the evidence they collect can change their perceptions about the world
and increase their scientific knowledge.

The importance of being skeptical when they assess their own work and the
work of others.

That the scientific community, in the end, seeks explanations that are
empirically based and logically consistent.

Adopted by the NSTA Board of Directors


October 2004
References

American Association for the Advancement of Science (1993). Benchmarks for science
literacy. New York: Oxford University Press.
National Research Council (1996). National science education standards. Washington,
DC: National Academy Press.
National Research Council (2000). Inquiry and the national science education standards:
A guide for teaching and learning. Washington, DC: National Academy Press.

Penerapan metode inquiry dalam pembelajaran Sains di sekolah dasar


Diposting oleh Raharjo Ismail | Pada Hari Rabu, September 29, 2010
A. Kelebihan dan Kekurangan Metode Mengajar Inquiry
Metode mengajar inquiry mengandung proses mental yang tingkatannya cukup tinggi.
Proses mental yang ada pada inquiry diantaranya : merumuskan masalah, membuat
hipotesis, mendesain eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan
menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Dalam pembelajaran inquiry, kegiatan
belajar mengajar harus direncanakan agar siswa memperoleh pengalaman, sehingga
berkesempatan untuk mengalami proses inquiry.
Dalam pembelajaran inquiry, guru jarang menerangkan tetapi banyak mengajukan
pertanyaan. Dengan pertanyaan, guru dapat membantu siswa dalam berpikir. Guru
dapat mengajukan pertanyaan yang sesuai pada setiap individu siswa, sehingga
mampu mengorganisasi pendapat serta dapat meningkatkan pengertian terhadap
segala sesuatu yang sedang dibahas. Dan siswa mampu menemukan sendiri
konsep/prinsip yang direncanakan guru untuk dimiliki siswa.
Diskusi dalam pembelajaran inquiry, guru mengarahkan kegiatan mental siswa sesuai
dengan perencanaan. Siswa lebih banyak terlibat, sehingga tidak hanya mendengarkan
ceramah dari guru, melainkan mendapat kesempatan untuk berpikir. Siswa dapat
merumuskan jawaban dari masalah yang disajikan dalam diskusi. Karena dipaksa

berpikir, perkembangan kognitif setiap individu lebih dimungkinkan terlaksana.


Keuntungan menggunakan metode mengajar inquiry adalah :
1. Perkembangan cara berpikir ilmiah, seperti menggali pertanyaan, mencari
jawaban, dan mengumpulkan/memproses keterangan dengan inquiry approach
dapat dikembangkan seluas-luasnya.
2. Dapat melatih siswa untuk belajar sendiri dengan positif sehingga dapat
mengembangkan pendidikan demokrasi.
Selain keuntungan diskusi dalam pembelajaran inquiry pun mempunyai kelemahannya,
yaitu :
1. Belajar mengajar dengan inquiry approach memerlukan kecerdasan siswa yang
tinggi. Bila siswa kurang cerdas, hasilnya kurang efektif.
2. Inquiry approach kurang cocok pada siswa yang usianya terlalu muda, misalnya
Sekolah Dasar (SD) kelas 1, 2, dan 3.
B. Penerapan Metode Mengajar Inquiry dalam Pembelajaran Sains di Sekolah
Dasar
Sains bisa disebut juga Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sains berhubungan dengan cara
mencari tahu tentang alam secara sistematis, Sehingga Sains bukan hanya
penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau
prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan Sains
diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan
alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam
kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian
pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan
memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk inkuiri dan
berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang
lebih mendalam tentang alam sekitar. (Depdiknas, CD ROM KTSP 2006).
Sains diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia
melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan Sains
perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di
tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains,
lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk
merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep Sains dan kompetensi
bekerja ilmiah secara bijaksana.
Pembelajaran Sains sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry)
untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta
mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu
pembelajaran Sains di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara
langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap
ilmiah.

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Sains di SD/MI merupakan
standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi
acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK
dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan,
bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
Mata Pelajaran Sains di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut :
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan
keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya
2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang adanya
hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan
masyarakat
4. Mengembangkan keterampilan proses untuk
memecahkan masalah dan membuat keputusan

menyelidiki

alam

sekitar,

5. Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan


melestarikan lingkungan alam
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya
sebagai salah satu ciptaan Tuhan
7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar
untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
Adapun ruang lingkup bahan kajian Sains untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut :
1. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan
interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan
2. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas
3. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya
dan pesawat sederhana
4. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda
langit lainnya.
Tidak semua materi dalam pelajaran Sains bisa disampaikan dengan metode inquiry.
Hanya materi-materi tertentu yang mungkin disampaikan dengan metode inquiry.
Kemudian tidak semua jenjang di Sekolah Dasar (SD) cocok menerapkan metode

inquiry dalam pelajaran Sains. Yang cocok menerapkan metode inquiry dalam pelajaran
Sains adalah kelas 4, 5 dan 6, terutama kelas 6 yang paling cocok menerapkan metode
inquiry dalam pembelajaran Sains.
Penulis mengambil materi pelajaran Sains dari kelas 6 untuk disampaikan dengan
menggunakan metode inquiry. Alokasi waktu adalah 2 jam pelajaran. Dengan rincian
sebagai berikut :
1. Standar Kompetensi
Memahami energi dan perubahannya.
2. Kompetensi Dasar
Menyelidiki berbagai cara perpindahan energi panas dan listrik.
3. Indikator
a. Menunjukkan gejala kelistrikan, misalnya : pengaruh menggosok benda.
b. Mengidentifikasi berbagai sumber energi listrik.
4. Materi Pokok
Perpindahan energi panas dan listrik.
5. Metode Pembelajaran
a. Ceramah
b. Inquiry
6. Tujuan Pembelajaran
a. Mengetahui gejala kelistrikan, misalnya : pengaruh menggosok benda.
b. Mengetahui berbagai sumber energi listrik.
7. Alat dan Sumber Belajar
a. Buku paket Sains kelas VI
b. Penggaris plastik
c. Sobekan kertas
8. Langkah-langkah Kegiatan
a. Kegiatan Awal
1) Siswa diminta berdoa dipimpin oleh ketua kelas.
2) Absensi.
3) Apersepsi. Beberapa siswa ditanya satu per satu secara acak tentang pelajaran
sebelumnya tentang perpindahan panas. Siswa diperkenalkan materi pelajaran hari ini.
b. Kegiatan Inti
1) Siswa diberi penjelasan singkat tentang energi listrik dan gejala kelistrikan.
2) Siswa dibantu guru melakukan percobaan penggaris yang digosokkan ke rambut
untuk dapat menarik sobekan kertas.
3) Siswa diberi penjelasan singkat oleh guru tentang sumber-sumber energi listrik.
4) Kelompok diminta mendiskusikan sumber-sumber energi listrik dan menuliskannya
dalam selembar kertas.

5) Perwakilan masing-masing kelompok mengungkapkan hasil diskusinya di depan


kelas dan mengumpulkannya kepada guru.
c. Kegiatan Akhir
1) Post test lisan. Guru menunjuk secara acak satu per satu siswa untuk ditanya
tentang pemahaman dan kesimpulan mereka atas serangkaian kegiatan yang telah
mereka lakukan tadi.
2) Siswa diminta untuk menyimpulkan tentang materi perpindahan energi panas dan
listrik melalui metode inquiry tadi.
Dari serangkaian kegiatan pembelajaran sains dengan penggunaan metode inquiry di
atas, dari mulai kegiatan awal, inti hingga kegiatan akhir, namapak jelas bahwa siswa
lah yang lebih banyak aktif. Guru lebih bersikap pasif dan berperan sebagai fasilitator.
Dari mulai penemuan masalah dengan percobaan (eksperimen) sampai menemukan
kesimpulan dengan cara diskusi menunjukkan bahwa memang siswa lah yang bersikap
aktif. Guru hanya berusaha mencoba merangsang proses mental dan intelektual
dengan banyak bertanya kepada para siswa secara acak. Inilah esensi dari metode
mengajar inquiry.
C. Hambatan-hambatan yang Muncul pada Penerapan Metode Mengajar Inquiry
dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
Kegiatan inquiry pada pelajaran Sains kelas 6 yang telah dijabarkan pada sub bab
diatas, berpotensi menimbulkan hambatan-hambatan sebagai berikut :
1. Kemungkinan sebagian siswa tidak berperan serta aktif dalam metode inquiry ini
sehingga justru menghambat jalannya pengajaran melalui metode ini.
2. Tingkat kedewasaan siswa kurang mencukupi untuk metode inquiry ini. Tuntutan
peran terlalu tinggi sehingga siswa tidak mampu menjalankan peran ini dengan
baik.
3. Persiapan dan penjelasan yang kurang dari guru bisa membuat metode inquiry
ini terhambat. Siswa harus diberi penjelasan yang cukup sebelum acara dimulai.
Guru harus membantu persiapan sematang mungkin supaya proses
pembelajaran bisa berjalan dengan lancar.
4. Adanya keengganan siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam metode
inquiry ini. Siswa seringkali tidak bersedia untuk ikut serta dalam metode inquiry
ini yang telah dirancang, walaupun guru menganggap siswa tersebut mampu
berperan serta.
5. Kurang kompetennya guru dalam merancang dan mengendalikan metode inquiry
ini dapat menyebabkan terhambatnya proses pembelajaran.

Model Pembelajaran Inquiry Presentation Transcript

1. LATAR BELAKANG Tekhnologi semakin berkembang Kesulitan belajar tapi


mutu pendidikan terutama matematika karena pendidikan IPA matematika
jauh pembelajaran yang dari yang kita harapkan. kurang efektif penggunaan
alat peraga dalam pembelajaran matematika masih sangat kurang sehingga
siswa Pembelajarankesulitan dalam memahami konsep inkuiri matematika.
Pembelajaran matematikaPenumpukan informasi atau konsep yang baik
terjadi jika proses pada peserta didik kurang pembelajaran matematika
bermanfaat di kelas berhasil membelajarkan siswa, baik dalam berfikir secara
logis, sikap maupun keterampilan.

2. Rumusan Masalah

3. Tujuan Penelitian

4. Manfaat

5. Batasan Istilah

6. Berdasarkan identifikasi permasalahan di atas, maka masalah dalam


penelitian ini dibatasi pada UpayaPeningkatan Hasil Belajar Matematika
Pada Siswa Smp Kelas VIII Dengan Menggunakan Alat Peraga Melalui Model
Pembelajaran Inkuiri Semester 2 Tahun Ajaran 2011/2012.

7. Tinjauan Pustaka

8. Hakikat Pembelajaran Matematika

9. Model Pembelajaran InkuiriTahapanMengajukan pertanyaan atau


permasalahan Kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan
diajukan. Untuk meyakinkan bahwa pertanyaan sudah jelas, pertanyaan
tersebut dituliskan di papan tulis, kemudian siswa diminta untuk
merumuskan hipotesis.Merumuskan hipotesis Hipotesis adalah jawaban
sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan yang dapat diuji
dengan data. Untuk memudahkan proses ini, guru menanyakan kepada siswa
gagasan mengenai hipotesis yang mungkin. Dari semua gagasan yang ada,
dipilih salah satu hipotesis yang relevan dengan permasalahan yang
diberikan.Mengumpulkan data Hipotesis yang digunakan untuk menuntun
proses pengumpulan data. Data yang dihasilkan dapat berupa tabel, matrik,
atau grafik.Analisis data Siswa bertanggung jawab mengujii hipotesis yang
telah dirumuskan dengan menganalisis data yang telah diperoleh. Faktor
penting dalam menguji hipotesis adalah pemikiran benar atau salah.
Setelah memperoleh kesimpulan, dari data percobaan, siswa dapat mengujii
hipotesis yang telah dirumuskan. Bila ternyata hipotesis itu salah atau
ditolak, siswa dapat menjelaskan sesuai dengan proses inkuiri yang telah
dilakukannya.Membuat kesimpulan Langkah penutup dari pembelajaran
inkuiri adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang
diperoleh siswa.

10. Alat PeragaAlat peraga adalah saluran komunikasi atau perantara yang
digunakan untukmembawa atau menyampaikan suatu pesan guna mencapai
tujuanpengajaran. Alat peraga merupakan alat bantu atau penunjang
yangdigunakan oleh guru untuk menunjang proses belajar
mengajar(http:/media.diknas.co.id.pdf).Menurut Darhim (1989: 6)
mengatakan bahwa alat peraga matematika adalahsuatu alat peraga yang
penggunaanya diintegrasikan dengan tujuan dan isipengajaran yang telah
dituangkan dalam garis besar program pengajaran(GBPP) bidang studi
matematika dan bertujuan untuk mempertinggi mutukegiatan belajar
mengajar.

11. Fungsi Alat Peraga

12. Macam-macam Alat Peraga

13. Hasil BelajarHasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang


sebagaiproses belajar, atau penguasaan keterampilan yang dikembangkan
olehmata pelajaran, yang biasanya ditunjukkan oleh nilai tes atau nilai
yangdiberikan oleh guruMenurut Sudjana (1995: 3) hasil belajar siswa pada
hakikatnya adalahperubahan-perubahan tingkah laku. Hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalamanbelajarnya.Menurut Kingsley dalamm Sudjana (1995: 22) hasil
belajar dibagimenjadi 3 macam, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan,
(b)pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita.

14. AKTIVITAS BELAJARPengajaran yang efektif adalah pengajaran yang


menyediakan kesempatan belajarsendiri atau melakukan aktivitas sendiri.
Penerapan aktivitas dalam prosespembelajaran sangat besar nilainya bagi
pengajaran siswa, hal tersebutdikarenakan sebagai berikut :2.Para siswa
mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri3.Berbuat
sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa
secaraterintegrasi4.Memupuk kerja sama yang harmonis dikalangan
siswa5.Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri6.Memupuk
disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi
demokratis7.Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan
antara orang tuadengan guru8.Pengajaran diselanggarakan secara realistis
dan konkret sehinggamengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta
menghindarkan verbalitas.9.Pengajaran disekolah menjadi hidup
sebagaimana aktivitas dalam kehidupanmasyarakat (Hamalik, 2007:175176).

15. Kerangka Berfikir Pemahaman terhadap pengertian, langkah-langkah


pembelajaran, pembuatan alat peraga dan penggunaannya. Berdasarkan
teori Pembelajaran Inkuiri dengan Perangkat pembelajaran Inkuiri belajar
Dienes Penggunaan Alat Peraga dengan Alat Peraga tentang materi Segitiga
Pelaksanakan Tindakan yang meliputi enam fase berikut : Menyajikan
pertanyaan atau masalah,Membuat hipotesis, Merancang percobaan,
Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi, Mengumpulkan dan
menganalisis data, Membuat kesimpulan Penggunaan berbagai macam

teknik pengumpulan data yaitu lembar angket, hasil belajar. Analisis data
yang mengikuti tiga langkah yaitu reduksi data, penyajian data dan
penarikan kesimpulan serta analisis angket dan hasil belajar Perolehan data
tentang Hasil belajar dan motivasi peningkatan aktivitas belajar siswa belajar
siswa meningkat.

16. Penelitian yang RelevanCahyarini, Naning, Dwi. 2008. Penerapan Model


Pembelajaran Inkuiri untukMeningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas IV Mata
Pelajaran IPA di MISenden Tahun Ajaran 2007/2008 yang menyimpulkan
bahwa modelpembelajaran inkuiri dapat meningkatkan pemahaman konsep
IPA denganmateri pokok Energi dan Perubahannya, keterampilan
mengkomunikasikanhasil kerja dan sikap berpikir kritis siswa di MI Senden
Kecamatan KampakKabupaten Trenggalek. Berdasarkan hasil penelitian ini
disarankan gurumenerapkan model pembelajaran inkuiri dalamm
pembelajaran IPA danpembelajaran yang berpusat pada siswa, sehingga
prestasi belajar siswameningkat dan pembelajaran yang dilakukan lebih
bermakna. Ahmad, Anika (2009). PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN INKUIRI PADA POKOK BAHASAN DALIL
PYTHAGORAS DI KELAS VIII MTS NEGERI SIDOARJO yang menyimpulkan
bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri
tergolong aktif.

17. Hipotesis TindakanMenurut Sudjana (2002: 219), hipotesis tindakan


adalahasumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuatuntuk
menjelaskan hal itu yang sering dituntut untukmelakukan pengecekannya.
Hipotesis tindakan dalammpenelitian ini adalah :2.Dengan menerapkan
pembelajaran Inkuiri denganpenggunaan Alat Peraga dapat meningkatkan
motivasisiswa selama proses pembelajaran matematika.3.Dengan
menerapkan pembelajaran Inkuiri denganpenggunaan Alat Peraga dapat
meningkatkan hasil belajarsiswa selama proses pembelajaran matematika

18. Metode Penelitian

19. Jenis PenelitianLangkah-langkah PTK

20. Subjek PenelitianSubjek penelitian ini adalah siswa SMPTempat dan Waktu
PenelitianPenelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP. Penentuan
waktupenelitian mengacu pada kalender akademik sekolah.Faktor yang
ditelitiFaktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar
danmotivasi belajar matematika SMP.

21. Rancangan Penelitian Identifikasi Masalah Perencanaan Refleksi SIKLUS I


Pelaksanaan Pengamatan Permasalahan Baru Hasil Refleksi Perbaikan
Perencanaan Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan Pengamatan Dilanjutkan Ke
Siklus berikutnya Gambar. 2 Model Siklus PTK

22. Instrumen PenelitianLembar Observasi Lembar observasi digunakan


untuk memperoleh data evaluasi proses belajar mengajardengan model
pembelajaran inkuiri berupa lembar aktivitas siswa yang digunakan

untukmengamati keaktivan siswa selama proses pembelajaran pada setiap


siklus.Tes Hasil Belajar Tes merupakan cara atau prosedur yang digunakan
dalam rangka pengukuran danpenilian di bidang pendidikan (Sudiyono,
2009:67). Tes yang dilakukan berupa tes materiprasyarat (Pre-test) dan tes
akhir (Post-test) pada setiap siklus. Pre-test dilaksanakanuntuk mengetehui
sejauh manakah materi yang akan diajarkan telah dapat dikuasaisiswa. Tes
akhir yang dilaksanakan pada setiap siklus dilaksanakan untuk
mengetahuiapakah semua materi pelajaran yang diterapkan dengan
pembelajaran inkuiri dapatdikuasai oleh siswa dengan baik dan mengetahui
apakah hasil (kognitif) belajarmengalami peningkatan pada setiap siklus.

23. Teknik Analisis DataLembar ObservasiLembar observasi aktivitas siswa


diolah dengan menggunakan persamaan berikut ini : Total Nilai Rata rata
nilai = Total Pengamat nilai tertinggi nilai terendah + 1 kisaran nilai tiap
kriteria = Jumlah kriteria

24. Tes Hasil Belajar Nilai rata-rata siswaNilai akhir kumulatif siswa adalah
perhitungan menggunakan formula: X X = NKeterangan: X = Nilai akhir
rata-rata siswa = Jumlah nilai siswa X N = Jumlah siswa Ketuntasan Belajar
KlasikalKetuntasan pada belajar klasik melakukan perhitungan
menggunakanformula: N KB = X 100%Keterangan: SKB = Ketuntasan
BelajarN = Jumlah siswa yang dinilai KKMS = Jumlah seluruh siswa

25. Indikator Keberhasilan1. Indikator keberhasilan tindakan untuk aktivitas


belajar siswa Kegiatan pembelajaran matematika dengan menerapkan model
inkuiri di kelas VIII SMP Kota Bengkulu dikatakan dapat meningkatkan
aktivitas belajar siswa, jika dari hasil observasi aktivitas siswa skor rata-rata
pengamat adalah 24 dengan kriteria skor aktif.3. Indikator keberhasilan
tindakan untuk hasil belajar siswa Kegiatan pembelajaran matematika
dengan penerapan model pembelajaran inkuiri di kelas VIII SMP Kota
bengkulu. Tindakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa jika nilai rata-rata
seluruh siswa mencapai 68 dan persentase ketuntasan belajar klasikal 85

Model Pembelajaran Inquiry Training


Oleh
(Magister

Jul
Pendidikan

Hasratman
IPA
-

D.
Kimia,

Musa,
Universitas

S.Si
Jambi)

Salah satu model pembelajaran yang akan diperkenalkan dalam tulisan ini adalah
model pembelajaran inquiry training (inquiry training model) atau juga dikenal
dengan istilah inquiry-based learning. Dalam pembelajaran bidang Sains, model ini
sampai sekarang masih tetap dianggap sebagai metode yang cukup efektif. Joko
menyebutkan dari David L. Haury dalam artikelnya, Teaching Science Through Inquiry
(1993) mengutip definisi yang diberikan oleh Alfred Novak : inquiry merupakan tingkah
laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomenafenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inquiry berkaitan

dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau
pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu.
Model menggambarkan tingkat terluas dari praktek pendidikan dan berisikan orientasi
filosofi pembelajaran. Model digunakan untuk menyeleksi dan menyusun strategi
pengajaran, metode, keterampilan, dan aktivitas siswa untuk memberikan tekanan
pada salah satu bagian pembelajaran (topik konten). "Inquiry" didefinisikan sebagai
upaya untuk mencari kebenaran, pengetahuan, atau upaya untuk mencari informasi
melalui
serangkaian
pertanyaan.
Sebuah peribahasa berbahasa Inggris : "Tell me and I forget, show me and I remember,
involve me and I understand." Hal yang disebutkan pada kalimat terakhir, involve me
and I understand adalah salah satu dasar pemikiran dalam model inquiry training.
Keterlibatan siswa dalam porsi yang cukup besar amat menentukan kepahaman siswa
dalam materi pembelajaran tersebut. Model inquiry merupakan model pembelajaran
yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga
dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan
kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai
subjek
yang
belajar.
Alasan rasional penggunaan model inquiry adalah bahwa siswa akan mendapatkan
pemahaman yang lebih baik mengenai Sains dan akan lebih tertarik terhadap Sains
jika mereka dilibatkan secara aktif dalam melakukan Sains. Perlu diketahui bahwa
investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung inquiry. Investigasi
ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep Sains dan meningkatkan keterampilan
proses berpikir ilmiah siswa. Diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari
proses
berfikir
ilmiah
tersebut.
Di dalam pembelajaran konvensional yang sebelumnya kita kenal, siswa diarahkan
sedemikian rupa sehingga siswa menjadi sedikit bertanya dan kurang kreatif
mengelola rasa ingin tahunya. Penyampaian materi ajar dirancang oleh guru tanpa
memperhatikan keterlibatan siswa dalam mencaritahu sendiri apa yang ingin
diketahuinya tentang suatu topic bahasan. Beberapa hal yang menyebabkannya adalah
kurangnya pemahaman pendidik atau guru dalam memahami model inquiry training
bahkan
tidak
mengetahuinya
sama
sekali.
Perlu juga ditekankan bahwa inquiry training tidak hanya sekedar memancing siswa
untuk mengemukakan pertanyaan melainkan lebih dari itu. Kompleksitas inquiry
terjadi melalui proses keterlibatan siswa dalam mengumpulkan informasi atau data
yang kemudian dimanfaatkannya sebagai bentuk pengetahuan baru. Proses ini lahir
dari rasa penasaran atau rasa ingin tahunya untuk menjawab pertanyaan yang
diajukan.
Menurut penelitian Iklima (2011), model pembelajaran inquiry training memberi
kesempatan siswa untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar di dalam kelas.
Keaktifan tersebut meliputi keaktifan dalam mengajukan dan menjawab pertanyaan,

melakukan eksperimen, dan diskusi kelompok. Proses pelaksanaan pembelajaran


dengan model inquiry training diawali dengan tahapan konfrontasi dengan masalah,
pengumpulan dan verifikasi data, pengumpulan data-eksperimentasi, mengorganisasi
dan
merumuskan
penjelasan,
serta
menganalisis
proses
inquiry.
Berdasarkan hasil penelitian Arief (2010) yang menggunakan metode eksperimen
dalam penelitiannya, penggunaan model inquiry training dalam belajar fisika memiliki
pengaruh terhadap prestasi belajar siswa, adanya kreativitas tinggi, dan sikap ilmiah
tinggi. Joko juga menyebutkan bahwa model inquiry dalam belajar Sains memiliki
pengaruh yang tinggi terhadap motivasi belajar siswa. Akhirnya Joko menyimpulkan
bahwa berdasarkan penjabaran kelima komponen dalam metode inquiry ditinjau dari
berbagai teori tentang motivasi dan rasa ingin tahu (curiosity) terlihat bahwa model
inquiry
memberikan
kesempatan
meningkatnya
motivasi belajar
siswa.
Model inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman
proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary dan pemahaman konsep, berpikir kritis,
dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa model inquiry tidak saja meningkatkan
pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam Sains saja, melainkan juga
membentuk
sikap
keilmiahan
dalam
diri
siswa.
Adapun peranan guru dalam pembelajaran dengan model inquiry adalah sebagai
pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu
disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa
masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah
menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah.
Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap
kegiatan
siswa
dalam
pemecahan
masalah
harus
dikurangi.
Walaupun dalam praktiknya aplikasi pembelajaran model inquiry sangat beragam,
tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa
pembelajaran dengan model inquiry memiliki 5 (lima) komponen yang umum yaitu
Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation,
dan Variety of Resources (Garton, 2005) sebagaimana disebutkan dalam Joko.
Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang
memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena.
Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke
pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan
pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab
pertanyaan ini sesuai dengan Taxonomy Bloom siswa dituntut untuk melakukan
beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti
tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau
dikonstruksi.
Student Engagement. Dalam model inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu
keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif

menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir
bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang
menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam
melakukan
sebuah
investigasi.
Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan
atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa
bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat
muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar.
Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta
untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya
mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa
slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini
guru
melakukan
evaluasi.
Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar,
misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain
sebagainya.
Secara umum Joyce dan Weill (1986) mengidentifikasi empat model pembelajaran
yakni (a) model proses informasi, (b) model personal, (c) model interaksi sosial, dan
(d) model behavior. Model inquiry training masuk dalam kategori model proses
informasi. Masih menurut Joice dan Weill (1987), model pembelajaran inquiry
training terdiri atas lima fase yaitu : 1. Menghadapkan masalah, 2. Mencari dan
mengkaji data, 3. Mengkaji data dan eksperimentasi, 4. Mengorganisasikan,
merumuskan, dan menjelaskan hasil, 5. Menganalisis dan mengorganisasikan hasil
penelitian.
Heather Banchi dan Randy Bell (2008) menyarankan 4 (empat) tingkatan inquiry, mulai
dari yang terendah hingga tingkatan yang tertinggi atau tingkatan yang dianggap
sempurna. Tingkatan pertama disebut inquiry konfirmasi (confirmation inquiry). Siswa
diberikan pertanyaan dan juga diberikan metode atau prosedur oleh guru untuk
menemukan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan. Pada tingkatan ini, siswa
hanya
mengerjakan
sesuai
instruksi
terkonfirmasi
oleh
pengajar.
Tingkatan kedua, inquiry terstruktur (structured inquiry). Hampir sama dengan
tingkatan pertama, akan tetapi di sini siswa memainkan peranan aktif dalam
memberikan penjelasan secara mandiri berdasarkan bukti ilmiah yang mereka
kumpulkan. Tingkatan ketiga, inquiry terbimbing (guide inquiry). Guru menyediakan
sebuah pertanyaan berciri pertanyaan penelitian dan siswa merancang prosedur atau
metodenya sendiri untuk daftar pertanyaan yang juga mereka rancang sendiri,
sehingga dengan ini siswa mampu memberikan penjelasan. Pada tingkatan ini, siswa
lebih banyak terlibat lebih daripada inquiry terstruktur. Akan lebih berhasil apabila
siswa memliki banyak peluang atau kesempatan untuk mempelajari sendiri dan
mempraktikkannya dengan berbagai cara eksperimen dan pengumpulan data.

Tingkatan keempat disebut inquiry terbuka (open inquiry). Tingkatan ini dianggap
paling sempurna dan menyeluruh dalam proses inquiry. Dalam tingkatan open inquiry,
siswa memiliki peluang atau kesempatan yang sangat besar dalam hal bertindak
layaknya seorang ilmuwan peneliti, merancang pertanyaan dan menurunkannya,
merancang dan melaksanakan investigasi, serta mengkomunikasikan hasilnya.
Yang penting diperhatikan di sini adalah siswa membaca dan berusaha mencari
informasi dalam keadaan butuh informasi yang kita sajikan (yang harus dikuasai
siswa). Kebutuhan merupakan salah satu pendorong (motif) siswa untuk melakukan
sesuatu. Pada saat butuh informasi tersebut, siswa juga akan membuka seluruh
inderanya sehingga siap untuk menerima berbagai informasi, yang selanjutnya akan
mereka
rekam
dalam
ingatan
mereka.
Berbagai kegiatan dapat dirancang untuk bisa menciptakan situasi dan kondisi bagi
siswa untuk melakukan tugasnya yaitu belajar dengan kemauannya sendiri. Maka dari
itu, seorang guru harus mampu mengenali lebih dekat apa yang menarik bagi
siswanya, sehingga dapat mempertimbangkan dan akhirnya merancang sebuah
kegiatan
yang
laku
di
hadapan
siswa.
Model inquiry training menurut Suchman (1962) diturunkan dari teori berikut :
1. Orang secara alamiah akan bertanya-tanya (mencari tahu) jika dia dihadapkan pada
sebuah
teka-teki.
2. Dia akan menjadi waspada dan belajar menganalisa strategi berfikirnya.
3. Strategi belajar yang baru dapat diajarkan secara langsung padanya dan menambah
strategi
berfikir
yang
telah
ada.
4. Adanya kerjasama, saling mengungkapkan ide, strategi berfikir, dapat memperkaya
strategi berfikir dan membantu siswa belajar tentang pengetahuan sementara
(tentatif), pengetahuan yang muncul begitu saja, dan dapat menghargai alternatifalternatif
penjelasan.
Model inquiry training dapat dipakai pada berbagai mata pelajaran atau mata kuliah
dan dapat diadaptasikan pada berbagai usia, bahkan usia TK sekalipun. Adaptasi dapat
dilakukan dengan menyederhanakan masalah, atau dengan menggunakan materi/alat
bantu
visual,
petunjuk-petunjuk
yang
lengkap
dan
mudah
diingat.
Model inquiry training ini, selain dapat mencapai tujuan sebuah pokok bahasan juga
dapat
meningkatkan
:
1. Keterampilan proses (mengamati, mengumpulkan dan mengolah data, dan
sebagainya);
2.
Pelajar
aktif
dan
mandiri;
3.
Pengungkapan
verbal;
4. Toleransi terhadap keadaaan yang ambigu (memiliki dua arti) dan juga ketekunan;
5.
Berfikir
logis;
6.
Sikap
bahwa
semua
pengetahuan
itu
sifatnya
sementara.
Aturan-aturan yang harus dipegang dan harus ada dalam model pembelajaran ini

adalah:
1.
2.
3.

Adanya
Adanya

Adanya

kebebasan
kesamaan

kerjasama;
berfikir;
derajat.

Seorang guru ketika beraksi sepanjang proses inquiry harus memakai prinsip-prinsip
berikut
:
1. Guru menekankan bahwa pertanyaan yang boleh diajukan siswa dinyatakan dalam
kalinat
pertanyaan
tertutup
(jawabannya
hanya
ya
dan
tidak).
2. Guru meminta siswa menyusun ulang pertanyaan yang tidak sesuai.
3. Guru hanya menunjukkan poin-poin yang tidak sesuai atau keluar dari topik.
4.
Guru
menggunakan
bahasa
inquiry
(hipotesa
kemudian
uji).
5. Guru tidak dibenarkan untuk mengevaluasi teori yang diajukan siswa pada saat
proses
inquiry
berlangsung.
6. Guru menekankan agar siswa membuat pernyataan yang lebih jelas tentang
teorinya dan memberikan dukungan untuk generalisasi teori tersebut.
7.
Guru
memberi
dukungan
ke
arah
interaksi
antar
siswa.
Adapun keterlibatan siswa dalam model inquiry training memunculkan beberapa
karakteristik yakni: 1. memiliki pandangan terhadap dirinya sebagai pembelajar dari
proses pembelajaran, 2. Siswa menerima ajakan untuk belajar dan kemauan besar
dalam proses eksplorasi, 3. Siswa mampu mengemukakan pertanyaan, mengajukan
penjelasan, dan melakukan investigasi, 4. Siswa merencanakan dan mengadakan
kegiatan pembelajaran, 5. Siswa saling berkomunikasi menggunakan berbagai cara
untuk mendapatkan informasi atau data, 6. Siswa mampu mengkritik secara mandiri
proses praktik pembalajaran yang mereka lakukan sendiri

Penggunaan Strategi Contextual Teaching Learning (CTL)Dengan Pendekatan Inquiry Dalam


Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Siswa kelas V MI Al-Hikmah Sumberrejo Kabupaten
Malang
Penulis
: Anis Syafi'atin
Tahun
: 2010
Fakultas
: Tarbiyah
Jurusan
: Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Pembimbing : 1) Marno, M. Ag..
Kata Kunci : Strategi Contextual, Pendekatan Inquiri, Prestasi
Pembelajaran IPA dengan metode ceramah dan demonstrasi menjadikan
siswa sebagai subyek belajar yang pasif karena hanya melihat, mendengar dan
mencatat, karena itu nilai yang dicapai siswa masih dibawah kriteria yang
ditetapkan di KTSP, maka dalam penelitian ini mencoba menggunakan strategi
contextual teaching learning (CTL) dengan pendekatan inquiry untuk mengatasi
permasalahan tersebut. Penggunaan strategi contextual teaching learning (CTL)
dengan pendekatan inquiry dalam pembelajaran IPA memungkinkan siswa dapat
memiliki konsep-konsep (daya serap) mengenai bahan atau materi pokok bahasan

sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan


(KTSP). Subyek penelitiannya adalah siswa kelas V Mi Al-Hikmah Sumberrejo
yang berjumlah 15 anak. Penelitian ini menggunakan standar ketuntasan belajar
berdasarkan KTSP yaitu 75% untuk ketuntasan individu dan 80% untuk
ketuntasan kelas.
Dari penelitian ini dapat dikemukan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA
menggunakan strategi contextual teaching learning dengan pendekatan inquiry
menjadi efektif dengan lebih banyak memberikan bimbingan pada siswa.
Kemampuan guru mengajar sudah sesuai dengan RPP ini dilihat dari nilai akhir
yang diperoleh dari siklus I dan II yaitu 87% dan 95%. Kemampuan siswa
terhadap pembelajaran IPA menggunakan strategi contextual teaching learning
dengan pendekatan inquiry dari siklus I dan II menunjukkan hasil yaitu untuk
merumuskan masalah dari nilai B menjadi nilai A, merumuskan hipotesis dari
nilai C menjadi nilai B, mengumpulkan bukti dari nilai B menjadi nilai A,
menguji hipotesis dari nilai B menjadi nilai A, dan menyimpulkan dari nilai B
menjadi nilai A. Untuk ketuntasan kelas secara keseluruhan pada kemampuan
siswa terhadap metode inkuiri dari siklus I dan II mengalami peningkatan yaitu
dari perolehan nilai B menjadi nilai A.
Prestasi belajar siswa pada pokok bahasan magnet dengan penggunaan
strategi contextual teaching learning dengan pendekatan inquiry menunjukkan ada
peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata sebelum menggunakan
strategi contextual teaching learning dengan pendekatan inquiry 14 siswa yang
belum tuntas dan hanya 1 siswa yang tuntas. kemudian setelah menggunakan
strategi contextual teaching learning dengan pendekatan inquiry nilai rata-rata
siswa pada siklus I mencapai 76,6. 7 siswa telah mencapai ketuntasan individu
dan 8 siswa belum mencapai ketuntasan. Dari siklus II mengalami peningkatan
lagi yaitu prestasi belajar dari 15 siswa diperoleh hasil 14 siswa mencapai
ketuntasan individu dan 1 siswa belum mencapai ketuntasan individu, namun
untuk ketuntasan kelas sudah mendapatkan nilai rata-rata yang diperoleh 80,6.
Saran dari adanya penelitian ini adalah guru dapat menggunakan strategi
contextual teaching learning dengan pendekatan inquiry pada saat pembelajaran
dengan cara memberikan bimbingan pada siswa, dan menggunakan strategi
contextual teaching learning dengan pendekatan inquiry dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa.

MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY


Model pembelajaran Inquiry (inkuiri), merupakan salah satu model pembelajaran terkenal.
Inquiry berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan
pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Model pembelajaran Inquiry
(inkuiri) bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa untuk membangun kecakapan intelektual
yang terkait dengan proses berpikir reflektif.
Teori yang mendasari model pembelajaran ini:

1. Secara alami manusia mempunyai kecenderungan untuk selalu mencari tahu akan segala
sesuatu yang menarik perhatiannya;
2. Mereka akan menyadari keingintahuan akan segala sesuatu tersebut dan akan belajar untuk
menganalisis strategi berpikirnya tersebut;
3. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung dan ditambahkan/digabungkan dengan strategi
lama yang telah dimiliki siswa;
4. Penelitian kooperatif (cooperative inquiry) dapat memperkaya kemampuan berpikir dan
membantu siswa belajar tentang suatu ilmu yang senantiasa bersifat tentatif dan belajar
menghargai penjelasan atau solusi altematif.
Sanjaya menyatakan, ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi model pembelajaran
Inquiry (inkuiri). Pertama, model pembelajaran Inquiry (inkuiri) menekankan kepada aktifitas
siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pendekatan inquiry
menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa
diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga
diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Artinya dalam model
pembelajaran Inquiry (inkuiri) menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi
sebagai fasilitator dan. Ketiga, model pembelajaran Inquiry (inkuiri) adalah mengembangkan
kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental, akibatnya dalam pembelajaran inquiry
siswa tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat
menggunakan potensi yang dimilikinya.
model pembelajaran Inquiry (inkuiri) terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi
guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Ketiga
jenis model pembelajaran Inquiry (inkuiri) tersebut adalah:
Inquiry Terbimbing (guided inquiry approach)
Model pembelajaran Inquiry (inkuiri) terbimbing yaitu posisi guru membimbing siswa dengan
melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi.
Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya.
Inquiry Bebas (free inquiry approach).
Pada umumnya model pembelajaran Inquiry (inkuiri) ini digunakan bagi siswa yang telah
berpengalaman belajar dengan pendekatan inquiry. Karena dalam model pembelajaran Inquiry
(inkuiri) bebas, menempatkan siswa seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi
kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah
secara mandiri, merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan.
Inquiry Bebas yang Dimodifikasi ( modified free inquiry approach)
Model pembelajaran Inquiry (inkuiri) ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua model
pembelajaran Inquiry (inkuiri) sebelumnya, yaitu: model pembelajaran Inquiry (inkuiri) dan
model pembelajaran Inquiry (inkuiri). Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik
untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada.
Prosedur Pembelajaran
Tujuan utama dari model pembelajaran inquiry adalah membuat siswa menjalani suatu proses
tentang bagaimana pengetahuan diciptakan. Untuk mencapai tujuan ini, siswa dihadapkan pada
sesuatu (masalah) yang misterius, belum diketahui, tetapi menarik. Namun, perlu diingat bahwa

masalah, tersebut harus didasarkan pada suatu gagasan yang memang dapat ditemukan
(discoverable ideas), bukan mengada-ada.
Model ini sangat penting untuk mengembangkan nilai dan sikap yang sangat dibutuhkan agar
siswa mampu berpikir ilmiah, seperti
1.keterampilan melakukan pengamatan, pengumpulan dan pengorganisasian data termasuk
merumuskan dan menguji hipotesis serta menjelaskan fenomena,
2. kemandirian belajar,
3.keterampilan mengekspresikan
secara verbal,
4. kemampuan berpikir logis, dan
5. kesadaran bahwa ilmu bersifat dinamis dan tentatif.
Kepustakaan:
Wawan
Junaidi,
Model
Pembelajaran
Inquiry
training
junaidi.blogspot.com/2009/06/model-pembelajaran-inquiry-training.html

,http://wawan-

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.


(Kencana Prenada Media Group. Jakarta. 2008).

Model Pembelajaran Kolaboratif MURDER


Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)

Model Pembelajaran Inkuiri


27 Mei 2010 oleh Herdian,S.Pd., M.Pd.
Model Pembelajaran Inkuiri

Sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk


menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang alam sekitar di
sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia
memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indera penglihatan,
pendengaran, pengecapan dan indera-indera lainnya. Hingga dewasa keingintahuan
manusia secara terus menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya.
Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari oleh

keingintahuan itu. Didasari hal inilah suatu strategi pembelajaran yang dikenal dengan
inkuiri dikembangkan.
Inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Ia
menambahkan bahwa pembelajaran inkuiri ini bertujuan untuk memberikan cara bagi
siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait
dengan proses-proses berpikir reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari
pendidikan, maka harus ditemukan cara-cara untuk membantu individu untuk
membangun kemampuan itu.
Selanjutnya Sanjaya (2008;196) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi ciri
utama strategi pembelajaran inkuiri. Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada
aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pendekatan
inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa
tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal,
tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.
Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan
sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap
percaya diri (self belief). Artinya dalam pendekatan inkuiri menempatkan guru bukan
sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
Aktvitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan
siswa, sehingga kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat
utama dalam melakukan inkuiri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran
inkuiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses
mental, akibatnya dalam pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai
pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.
Sanjaya (2008:202) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri mengikuti langkah-langkah
sebagai berikut:
A. Orientasi
Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran
yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:

Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai
oleh siswa

Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk


mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta

tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah


sampai dengan merumuskan kesimpulan

Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam
rangka memberikan motivasi belajar siswa.

B. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang
mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa
untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada
jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari
jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui
proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya
mengembangkan mental melalui proses berpikir.
C. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai
jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat
dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap
anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk
dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan
kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
D. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji
hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan
proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses
pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan
tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
E. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan
data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis
juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban
yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh
data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
F. Merumuskan kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh


berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat
sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
Alasan rasional penggunaan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah bahwa siswa
akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai matematika dan akan lebih
tertarik terhadap matematika jika mereka dilibatkan secara aktif dalam melakukan
penyelidikan. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung
pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. Investigasi ini difokuskan untuk memahami
konsep-konsep matematika dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa.
Sehingga diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berpikir ilmiah
tersebut.
Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa
diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap pelajaran
matematika, khususnya kemampuan pemahaman dan komunikasi matematis siswa.
Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang
berupaya menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam
proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas
dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang
belajar, peranan guru dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah sebagai
pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan
kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan
dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber
belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru
masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah
harus dikurangi.
Dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas, guru mempunyai peranan sebagai
konselor, konsultan dan teman yang kritis. Guru harus dapat membimbing dan
merefleksikan pengalaman kelompok melalui tiga tahap: (1) Tahap problem solving atau
tugas; (2) Tahap pengelolaan kelompok; (3) Tahap pemahaman secara individual, dan
pada saat yang sama guru sebagai instruktur harus dapat memberikan kemudahan bagi
kerja kelompok, melakukan intervensi dalam kelompok dan mengelola kegiatan
pengajaran.
Pendekatan inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru
terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswanya.
Ketiga jenis pendekatan inkuiri tersebut adalah:
1. Inkuiri Terbimbing (guided inquiry approach)

Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa
melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu
diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap
pemecahannya. Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang
berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Dengan pendekatan ini siswa belajar
lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami
konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas
yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual
agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.
Pada dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman
sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan,
kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa
mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat
berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar
dapat memahami konsep pelajaran matematika. Di samping itu, bimbingan dapat pula
diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama berlangsungnya proses
belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui
dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafolding yang diperlukan oleh siswa.
2. Inkuiri Bebas (free inquiry approach).
Pada umumnya pendekatan ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar
dengan pendekatan inkuiri. Karena dalam pendekatan inkuiri bebas ini menempatkan
siswa seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan
permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah secara mandiri,
merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan.
Selama proses ini, bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak
diberikan sama sekali. Salah satu keuntungan belajar dengan metode ini adalah adanya
kemungkinan siswa dalam memecahkan masalah open ended dan mempunyai alternatif
pemecahan masalah lebih dari satu cara, karena tergantung bagaimana cara mereka
mengkonstruksi jawabannya sendiri. Selain itu, ada kemungkinan siswa menemukan cara
dan solusi yang baru atau belum pernah ditemukan oleh orang lain dari masalah yang
diselidiki.
Sedangkan belajar dengan metode ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain: 1)
waktu yang diperlukan untuk menemukan sesuatu relatif lama sehingga melebihi waktu
yang sudah ditetapkan dalam kurikulum, 2) karena diberi kebebasan untuk menentukan
sendiri permasalahan yang diselidiki, ada kemungkinan topik yang diplih oleh siswa di
luar konteks yang ada dalam kurikulum, 3) ada kemungkinan setiap kelompok atau

individual mempunyai topik berbeda, sehingga guru akan membutuhkan waktu yang
lama untuk memeriksa hasil yang diperoleh siswa, 4) karena topik yang diselidiki antara
kelompok atau individual berbeda, ada kemungkinan kelompok atau individual lainnya
kurang memahami topik yang diselidiki oleh kelompok atau individual tertentu, sehingga
diskusi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
3. Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan ( modified free inquiry approach)
Pendekatan ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri
sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas.
Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan
atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam pendekatan ini siswa
tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri, namun
siswa yang belajar dengan pendekatan ini menerima masalah dari gurunya untuk
dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan. Namun bimbingan yang diberikan lebih
sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur.
Dalam pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi bimbingan, agar siswa
berupaya terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa dapat menemukan
sendiri penyelesaiannya. Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan
permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung dengan
memberikan contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, atau
melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.
Berdasarkan pengertian dan uraian dari ketiga jenis pembelajaran dengan pendekatan
inkuiri, penulis memilih Pendekatan Inkuiri Terbimbing yang akan digunakan dalam
penelitian ini. Pemilihan ini penulis lakukan dengan pertimbangan bahwa penelitian yang
akan dilakukan terhadap siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP), dimana
tingkat perkembangan kognitif siswa masih pada tahap peralihan dari operasi konkrit ke
operasi formal, dan siswa masih belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri
serta karena siswa masih dalam taraf belajar proses ilmiah, sehingga penulis beranggapan
pendekatan inkuiri terbimbing lebih cocok untuk diterapkan.
Selain itu, penulis berpendapat bahwa pendekatan inkuiri bebas kurang sesuai diterapkan
dalam pembelajaran matematika, karena dalam proses pembelajaran matematika topik
yang diajarkan sudah ditetapkan dalam silabus kurikulum matematika, sehingga siswa
tidak perlu mencari atau menetapkan sendiri permasalahan yang akan dipelajari.
DAFTAR PUSTAKA

Cochran, Rachel et al.(2007). The impact of Inqury-Based Mathematics on Context


Knowledge and Classroom Practice. Journal. Tersedia:
http://www.rume.org/crume2007/papers/cochran-mayer-mullins.pdf
Krismanto, M.Sc. (2003). Beberapa Teknik, Model dan Strategi dalam Pembelajaran
Matematika. PPPG Matematika. Yogyakarta.
Sanjaya, Wina. Dr. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta
Slavin, Robert.E. (2008). Cooperative Learning; Teori, Riset dan Praktik. Bandung. PT.
Nusa Media
Tim MKPBM. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung. JICA

an Model Pembelajaran Inquiry (inkuiri)


Model Pembelajaran Inquiry (inkuiri)

Model pembelajaran Inquiry (inkuiri), merupakan salah satu model


pembelajaran terkenal. Inquiry berasal dari kata to inquire yang berarti ikut
serta, atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan, mencari informasi, dan
melakukan penyelidikan. Model pembelajaran Inquiry (inkuiri) bertujuan
untuk memberikan cara bagi siswa untuk membangun kecakapan intelektual
yang terkait dengan proses berpikir reflektif.
Sanjaya menyatakan, ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi
model pembelajaran Inquiry (inkuiri). Pertama, model pembelajaran Inquiry
(inkuiri) menekankan kepada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari
dan menemukan, artinya pendekatan inquiry menempatkan siswa sebagai
subjek belajar. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk
mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga
diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Artinya
dalam model pembelajaran Inquiry (inkuiri) menempatkan guru bukan
sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan. Ketiga, model
pembelajaran Inquiry (inkuiri) adalah mengembangkan kemampuan

intelektual sebagai bagian dari proses mental, akibatnya dalam pembelajaran


inquiry siswa tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, akan tetapi
bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.
model pembelajaran Inquiry (inkuiri) terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan
besarnya intervensi guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang
diberikan oleh guru kepada siswanya. Ketiga jenis model pembelajaran
Inquiry (inkuiri) tersebut adalah:
Inquiry Terbimbing (guided inquiry approach)
Model pembelajaran Inquiry (inkuiri) terbimbing yaitu posisi guru
membimbing siswa dengan melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan
awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif
dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya.
Inquiry Bebas (free inquiry approach).
Pada umumnya model pembelajaran Inquiry (inkuiri) ini digunakan bagi siswa
yang telah berpengalaman belajar dengan pendekatan inquiry. Karena dalam
model pembelajaran Inquiry (inkuiri) bebas, menempatkan siswa seolah-olah
bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan
permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah
secara mandiri, merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan.
Inquiry Bebas yang Dimodifikasi ( modified free inquiry approach)
Model pembelajaran Inquiry (inkuiri) ini merupakan kolaborasi atau modifikasi
dari dua model pembelajaran Inquiry (inkuiri) sebelumnya, yaitu: model
pembelajaran Inquiry (inkuiri) dan model pembelajaran Inquiry (inkuiri).
Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki
tetap diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada.
Referensi Makalah
Kepustakaan:
Rachel Cochran, et al. The impact of Inqury-Based Mathematics on Context
Knowledge and Classroom Practice. (Journal 2007). Krismanto, Beberapa
Teknik, Model dan Strategi dalam Pembelajaran (Yogyakarta. 2003). Wina
Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
(Kencana Prenada Media Group. Jakarta. 2008). Slavin, Robert.E. Cooperative
Learning; Teori, Riset dan Praktik. (Bandung. PT. Nusa Media. 2008).

Model Pembelajaran Inquiry


Metode Inquiry yaitu sebuah metode pembelajaran dimana guru berusaha
mengarahkan siswa untuk mampu menyadari apa yang sudah didapatkan
selama belajar. Sehingga siswa mampu berfikir dan terlibat dalam kegiatan
intelektual dan memproses pengalaman belajar itu menjadi sesuatu yang
bermakna dalam kehidupan nyata.
Model Pembelajaran Inquiry dilakukan dengan tahapan:
1.Tahapan penyajian masalah
Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memancing siswa
untuk mengumpulkan informasi.Keterlibatan siswa pada tahap ini
adalah(1)memberi respon positif terhadap masalah yang dikemukakan,
(2)mengungkapkan ide awal.
2.Tahapan verifikasi data
Guru memberikan pertanyaan pengarah sehingga siswa mampu
mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis.Keterlibatan siswa pada tahap ini
yaitu(1)melakukan pengamatan terhadap masalah yang diberikan,
(2)merumuskan masalah,(3)mengidentifikasi masalah,(4)membuat
hipotesis,dan(5)merancang eksperimen.
3.Megadakan eksperimen dan pengumpulan data Pada tahap ini siswa diajak
melakukan eksperimen atau mengumpulkan data dari permasalahan yang
ada.Peran siswa dalam tahap ini yaitu(1)melakukan eksperimen atau
pengumpulan data,dan(2)melakukan kerjasama dalam mengumpulkan data.
4.Merumuskan penjelasan
Guru mengajak siswa untuk melakukan analisis dan diskusi terhadap hasil
yang diperoleh sehingga siswa mendapatkan konsep dan teori yang benar
sesuai konsepsi ilmiah.Keterlibatan siswa dalam tahap ini
adalah(1)melakukan diskusi,dan(2)menyimpulkan hasil pengumpulan data.
5.Mengadakan analisis inquiry
Guru meminta kepada siswa untuk mencatat informasi yang diperoleh serta
diberi kesempatan bertanya tentang apasaja yang berkaitan dengan
informasi yang mereka peroleh sebelumnya lalu kemudian guru memberikan
latihan soal-soal jika dipelukan.Keterlibatan siswa dalam tahap ini
yaitu(1)mencatat informasi yang diperoleh,(2)aktif
bertanya,dan(3)mengerjakan latihan soal.

Pembelajaran Metode Inquiry, Pengertian,


Makalah, Langkah, Menurut Para Ahli

Pembelajaran Metode Inquiry, Pengertian Makalah, Langkah Menurut Para Ahli - Metode
Inquiry adalah cara penyampaian bahan pengajaran dengan memberi kesempatan kepada siswa
untuk belajar mengembangkan potensi intelektualnya dalam jalinan kegiatan yang disusunnya
sendiri untuk menemukan sesuatu sebagai jawaban yang meyakinkan terhadap permasalahan
yang dihadapkan kepadanya melalui proses pelacakan data dan informasi serta pemikiran yang
logis, kritis dan sistematis. (Slamento. Proses Belajar Mengajar Dalam Proses Kridit Semester. Jakarta : Bumi
Aksara. 1993. Hlm 116)

Metode Inquiry istilah dalam bahasa inggris, ini merupakan suatu teknik atau cara yang
digunakan guru untuk mengajar di depan kelas. Adapun pelaksanaannya sebagai berikut: guru
membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas. Siswa di bagi menjadi kelompok, dan masingmasing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan. (Roestiyah. Strategi Belajar
Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta. 1991. Hlm 75)

Metode ini berasal dari John Dewey, maksud utama metode ini adalah memberikan latihan
kepada murid dalam berfikir. Metode ini dapat menghindarkan untuk membuat kesimpulan
tergesa-gesa, menimbang-nimbang kemungkinan pemecahan, dan menangguhkan pengambilan
keputusan sampai terdapat bukti-bukti yang cukup. (Muhaimin. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya : CV.
Citra Media. 1996. Hlm 88)

Metode inquiry ini merupakan suatu metode yang merangsang murid untuk berfikir, menganalisa
suatu persoalan sehingga menemukan pemecahannya. Dalam bahasa inggrisnya disebut problem
solving method. Metode ini membina kecakapan untuk melihat alasan-alasan yang tepat dari
suatu persoalan, sehingga pada akhirnya dapat ditemukan bagaimana cara penyelesaiannya.
Metode inipun adalah metode yang membina murid untuk dapat berfikir ilmiah, yaitu cara
berfikir yang mengikuti jenjang-jenjang tertentu di alam penyelesaiannya. Kemampuan untuk
memperoleh tilikan dapat dilatih dan dikembangkan dengan metode mengajar semacam ini.
(Djajadisastra. Metode-Metode Mengajar. Bandung : Angkasa.. 1981. Hlm 19)

Metode inquiry juga dikembangkan oleh Suchman untuk mengajar siswa memahami proses
penelitian. (Joyce and Weil. Models of Teaching Prentice: Prentice/Hall International. 1986. Hlm 56) . Suchman
tertarik untuk membantu siswa melakukan penelitian secara mandiri dan disiplin. Hal ini
didasarkan pada pemikiran bahwa anak-anak selalu memiliki rasa ingin tau. Suchman
menginginkan siswa mempertanyakan mengapa suatu peristiwa terjadi dan menelitinya dengan
cara mengumpulkan dan mengolah data secara logis. Dengan demikian maka metode inquiry
akan memperkuat dorongan alami untuk melakukan eksplorasi dengan semangat besar dan
dengan penuh kesungguhan.
Metode ini menuntut kemampuan untuk dapat melihat sebab akibat atau relasi-relasi diantara
berbagai data, sehingga pada akhirnya dapat menemukan kunci pembuka masalahnya. Kegiatan
semacam ini merupakan ciri yang khas dari pada suatu kegiatan inteligensi. Metode ini
mengembangkan kemampuan berfikir yang dipupuk dengan adanya kesempatan untuk
mengobservasi problema, mengumpulkan data, menganalisa data, menyusun suatu hipotesa,
mencari hubungan (data) yang hilang dari data yang telah terkumpul untuk kemudian menarik
kesimpulan yang merupakan hasil pemecahan masalah tersebut. Cara berfikir semacam itu lazim
disebut cara berfikir ilmiah. Cara berfikir yang menghasilkan suatu kesimpulan atau keputusan
yang diyakini kebenarannya karena seluruh proses pemecahan masalah itu telah di ikuti dan

dikontrol dari data yang pertama yang berhasil dikumpulkan dan di analisa sampai kepada
kesimpulan yang ditarik atau ditetapkan. Cara berfikir semacam itu benar-benar dapat
dikembangkan dengan menggunakan metode pemecahan masalah. (Djajadiasatra. Metode-Metode
Mengajar. Bandung : Angkasa.. 1981. Hlm 19-20)

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode inquiry adalah metode mengajar
yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan yang
sebelumnya belum mereka ketahui. Sedangkan tujuan dari metode inquiry ini adalah untuk
membantu siswa dalam mengembangkan intelektual dan ketrampilannya yang timbul dari
pertanyaan-pertanyaan dan menyelidikinya untuk mendapatkan jawaban sesuai dengan
keingintahuan mereka. (Joyce And Weil. Models of Teaching. Prentice/Hall International e. 1986. Hlm 57)
Meski awalnya metode inquiry dikembangkan untuk ilmu alam, namun prosedur inquiry bisa
diterapkan pada semua topik yang dapat diformulasikan menjadi situasi yang penuh dengan
pertanyaan. Dari situasi yang penuh dengan pertanyaan akan menimbulkan konfrontasi
intelektual yang pada akhirnya mendorong terciptanya inquiry. Dengan metode inquiry siswa
dikondisikan untuk berpikir secara kritis dan kreatif serta untuk mendorong kesimpulanya sendiri
yang didasarkan atas observasi yang mereka lakukan.
Dalam penelitian ini model inquiry yang dipakai adalah model inquiry yang dikembangkan oleh
Suchman. Model inquiry ini dimulai dengan menyajikan situasi yang penuh dengan pertanyaan.
Setelah situasi tersebut disajikan pada siswa, kemudian para siswa diberitahu bahwa mereka
perlu mengupas beberapa aspek dari situasi itu, misalnya mengenai sifat dan definisi. Pada saat
seperti ini siswa diperbolehkan untuk bertanya itu dijawab oleh guru hanya dengan kata ya
atau tidak. Langkah terakhir siswa diharapkan dapat menyimpulkan sendiri jawaban masalah
yang diajukan.
Langkah-Langkah Metode Inquiry.
Langkah-langkah selengkapnya model inquiry adalah sebagai berikut : (Ibid. Hlm 63)

Langkah pertama :
o Menyajikan masalah
o Menjelaskan prosedur penelitian
o Menyajikan situasi yang bertentangan atau berbeda

Langkah kedua

o Mengumpulkan dan mengkaji data


o Memeriksa hakikat obyek dan kondisi yang dihadapi
o

Memeriksa hal-hal yang terjadi pada masalah

Langkah ketiga

o Mengkaji data dan eksperimentasi


o Mengisolasi variabel yang sesuai
o Merumuskan hipotesis dan mengujinya

Langkah keempat:
o Mengorganisasikan, merumuskan kesimpulan
o Menarik kesimpulan

Langkah kelima :
o Menganalisis proses inquiry
o Menganalisis prosedur inquiry dan mengembangkan prosedur yang lebih efektif

Prinsip dan norma yang dikandung dalam metode inquiry adalah kerja sama, kebebasan
intelektual, dan kesamaan derajat Selanjutnya menyatakan bahwa selama proses inquiry siswa
saling berinteraksi dengan siswa lain dan juga dengan gurunya. (Ibid. Hlm 63)
Di sisi lain ketepatan belajar dalam metode inquiry berkenaan dengan efektivitas dan
efisiensi.efektivitas berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai, sedang efisiensi berkenaan
dengan
ketepatan
waktu
dan
kemudahan
dalam
pelaksanaan.
Dari uraian diatas maka untuk melihat efektivitas metode inquiry dilakukan evaluasi berdasarkan
aktifitas siswa selama melakukan proses inquiry. Aktifitas siswa ini meliputi ketertarikan,
kesungguhan, antusiasme, berani mengemukakan pendapat baik pada guru ataupun siswa,
menghargai pendapat siswa lain serta keceriaan. Aktifitas ini diamati pada setiap langkah dari
model
inquiry.
Metode pemecahan masalah juga dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

Pengenalan kesulitan (Masalah)

Pendefinisian masalah

Saran-saran mengenai berbagai kemungkinan pemecahan

Pengujian hipotesis

Memverifikasi kesimpulan. (Muhaimin. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya : CV. Citra Media. 1996.
Hlm 88)

Agar pembelajaran dengan metode inquiry dapat berjalan lancar, perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a.
Interaksi
guru
dengan
siswa
Guru mengontrol interaksi dalam kelas serta mengarahkan prosedur inquiry. Dalam proses ini
diperlukan kerja sama antara guru dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa. Siswa diberikan
kebebasan dalam mengemukakan pendapat atau dalam mengajukan pertanyaan.
b.
Peran
guru
Dalam metode inquiry guru berperan sebagai fasilitator, motivator, dan informan. Sebagai
fasilitator, guru menyediakan fasilitas yang diperlukan oleh siswa dan menciptakan kondisi yang
kondusif. Sebagai motivator, guru berperan mendorong siswa agar senantiasa giat dalam
melakukan kegiatan dengan memberikan pertanyaan atau tanggapan yang bersifat memacu dan
mengarahkan siswa. Sedangkan sebagai informan, guru berperan sebagai sumber informasi bagi
siswa akan tetapi dalam hal ini guru tidak memberikan informasi langsung.
Tujuan Metode Inquiry
Tujuan utama dari pada penggunaan metode inquiry (pemecahan masalah) adalah
mengembangkan kemampuan berfikir, terutama di dalam mencari sebab akibat dan tujuan suatu
masalah. Metode ini melatih murid-murid dalam cara-cara mendekati dan cara-cara mengambil
langkah-langkah bila akan memecahkan suatu masalah yaitu dengan memberikan kepada murid
pengetahuan kecakapan praktis yang bernilai/bermanfaat bagi keperluan hidup sehari-hari.
Metode ini memberikan dasar-dasar pengalaman yang praktis mengenai bagaimana cara-cara
memecahkan suatu masalah dan kecakapan ini dapat diterapkan bagi keperluan menghadapi
masalah-masalah
lainnya
di
dalam
masyarakat.
Mengingat tujuan tersebut di atas, maka pemecahan suatu masalah jangan di ajarkan sebagai
pengetahuan saja, melainkan harus menjadi alat bagi murid untuk selanjutnya dapat memecahkan
sendiri segala macam masalah yang mungkin akan dijumpainya, sekarang maupun kelak,
disekolah,
dirumah
maupun
di
masyarakat.
Tujuan-tujuan lainya selain dari tujuan utama yang telah disebutkan di atas yaitu :
1. Belajar bagaimana bertindak di dalam suatu situasi baru.
2. Belajar bagaimana caranya keluar dari situasi yang sulit.
3. Belajar bagaimana cara mempertimbangkan suatu keputusan.
4. Belajar bagaimana caranya membatasi suatau persoalan.

5. Belajar bagaimana caranya menemukan pemecahan-pemecahan.


6. Belajar menyadari bahwa setiap masalah pasti ada cara tertentu untuk memecahkannya.
7. Belajar meneliti suatu masalah dari semua sudut pemecahan.
8. Belajar bekerja secara sistematis diwaktu memecahkan suatu masalah.
9. Belajar menguji kebenaran suatu keputusan yang telah ditetapkan. (Djajadisastra. MetodeMetode Mengajar. Bandung