Anda di halaman 1dari 24

BAB 1 PENDAHULUAN

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi pada manusia dan
diperkirakan prevalensnya lebih dari satu miliar di seluruh dunia. Pada anak hipertensi
merupakan suatu masalah penting karena bila tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat
menetap hingga dewasa dan menyebabkan berbagai penyakit kardiovaskular diantaranya
hipertrofi ventrikel kiri, penebalan tunika intima-media, aterosklerosis dan disfungsi diastolik,
serta gagal ginjal. Prevalensi dan diagnosis hipertensi pada anak dan remaja tampak meningkat
akhir-akhir ini. Prevalensi hipertensi pada anak diperkirakan sebesar 1,2%.7
Pengukuran tekanan darah secara rutin berguna untuk deteksi hipertensi pada anak sedini
mungkin. Tekanan darah normal anak-anak bervariasi karena banyak faktor mempengaruhinya
antara lain usia, jenis kelamin, tinggi badan, dan berat badan.
Hipertensi pada anak dibagi dua kategori, yaitu hipertensi primer apabila penyebab
hipertensi tidak dapat dijelaskan atau tidak diketahui penyakit dasarnya, biasanya berhubungan
dengan faktor keturunan, masukan garam, stress, dan kegemukan, serta hipertensi sekunder
terjadi akibat penyakit lain yang mendasarinya. Penelitian selama ini menunjukkan hipertensi
pada anak terbanyak bersifat sekunder. Penyebab hipertensi pada anak hampir 80% berasal dari
penyakit ginjal. Biasanya timbul dalam bentuk akut atau berlangsung kronik.10
Hipertensi pada anak harus mendapat perhatian yang serius, karena bila tidak ditangani
dengan baik, penyakit ini dapat menetap hingga dewasa. Agar hipertensi dapat dideteksi sedini
mungkin sehingga dapat ditangani secara tepat, maka pemeriksaan tekanan darah yang cermat
harus dilakukan secara berkala setiap tahun setelah anak berusia tiga tahun. Edukasi, deteksi
dini, diagnosis yang akurat dan terapi yang tepat akan memperbaiki kesudahan (outcome) jangka
panjang anak-anak dan remaja yang menderita hipertensi ini. Dalam tulisan ini akan diuraikan
mengenai definisi, etiologi, manifestasi klinis, pendekatan diagnosis dan terapi hipertensi pada
anak.2,3
1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


I.

Definisi Hipertensi
Tekanan darah normal pada anak adalah tekanan darah sistolik (TDS) dan tekanan darah

diastolik (TDD) di bawah persentil 90 berdasarkan jenis kelamin, usia dan tinggi badan.10
Definisi hipertensi pada anak dan remaja didasarkan pada distribusi normal tekanan darah pada
anak sehat. Batasan hipertensi menurut The Fourth Report on the Diagnosis, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure in Children and Adolescent adalah sebagai berikut Hipertensi
adalah nilai rata-rata tekanan darah sistolik dan atau diastolik lebih dari presentil ke-95
berdasarkan jenis kelamin, usia, dan tinggi badan pada pengukuran sebanyak 3 kali atau lebih.
Prehipertensi adalah nilai rata-rata tekanan darah sistolik dan atau diastolik antara persentil ke90 dan 95. Pada kelompok ini harus diperhatikan secara teliti adanya faktor risiko seperti
obesitas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kelompok ini memiliki kemungkinan yang
lebih besar untuk menjadi hipertensi pada masa dewasa dibandingkan dengan anak yang
normotensi 3,7,12.
Anak remaja dengan nilai tekanan darah di atas 120/80 mmHg harus dianggap suatu
prehipertensi. Seorang anak dengan nilai tekanan darah di atas persentil ke-95 pada saat
diperiksa di tempat praktik atau rumah sakit, tetapi menunjukkan nilai yang normal saat diukur
di luar praktik atau rumah sakit, disebut dengan white-coat hypertension. Kelompok ini
memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan yang mengalami hipertensi menetap
untuk menderita hipertensi atau penyakit kardiovaskular di kemudian hari7.
Untuk anak usia 6 tahun atau lebih, krisisi hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
sistolik 180 mmHg dan atau diastolik 120 mmHg, atau tekanan darah kurang dari ukuran
tersebut namun telah disertai komplikasi yang mengancam jiwa, seperti ensefalopati (kejang,
stroke, defisit fokal), payah jantung akut, edema paru, aneurisma aorta, atau gagal ginjal akut.

Pada anak berusia kurang dari 6 tahun, batasan krisis hipertensi adalah tekanan darah 50% diatas
persentil ke-95.7
Nilai tekanan darah normatif ditetapkan berdasarkan gender, tinggi badan dan umur.
Klasifikasi tekanan darah pada anak dapat dilihat pada tabel dibawah:
Tabel 1. Klasifikasi tekanan darah pada anak
Klasifikasi Tekanan Darah
Normal
Pre-Hipertensi
Hipertensi grade 1
Hipertensi grade 2

Dibawah persentil 90
Persentil 90 - < Prsentil 95 atau TD >
120/80 mmHg
Persentil 95 Persentil 99 + 5 mmHg
> Persentil 99 + 5 mmHg

Gambar 1. Tekanan Darah di Persentil 95 Laki-laki dan Perempuan pada Persentil Tinggi12
Definisi hipertensi pada anak dan remaja didasarkan pada distribusi normal tekanan
darah pada anak sehat. Data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES),
tekanan darah anak laki-laki dan anak perempuan berdasarkan persentil usia dan tinggi badan
yang sudah direvisi tersaji pada tabel 1 dan 2 di bawah ini.7
Tabel 2. Tekanan Darah Anak Laki-Laki Berdasarkan Persentil Usia dan Tinggi Badan8
3

Tabel 3. Tekanan Darah Untuk Anak Perempuan Berdasarkan Usia dan Persentil Tinggi Badan8

Cara penggunaan tabel tekanan darah 1 dan 2 yaitu sebagai berikut:

1) Pergunakan

grafik

pertumbuhan

Center

for

Disease

Control

(CDC)

2000

(www.cdc.gov/growthcharts) untuk menentukan persentil tinggi anak.


2) Ukur dan catat TDS dan TDD anak.
3) Gunakan tabel TDS dan TDD yang benar sesuai jenis kelamin.
4) Lihat usia anak pada sisi kiri tabel. Ikuti perpotongan baris usia secara horizontal dengan
persentil tinggi anak pada tabel (kolom vertikal).
5) Kemudian cari persentil 50, 90, 95, dan 99 TDS di kolom kiri dan TDD di kolom kanan.
6) Interpretasikan tekanan darah (TD) anak:
TD
: < persentil 90 adalah normal.
TD
: Antara persentil 90-95 disebut pre-hipertensi.
Pada anak remaja jika >120/80 mmHg disebut prehipertensi.
TD
: > persentil 95 kemungkinan suatu hipertensi.
7) Bila TD >persentil 90, pengukuran TD harus diulang sebanyak dua kali pada kunjungan
berikutnya di tempat yang sama, dan rerata TDS dan TDD harus dipergunakan.
8) Bila TD >persentil 95, TD harus diklasifikasikan dan dievaluasi lebih lanjut.
1. Teknik pengukuran tekanan darah
Tekanan darah sebaiknya diukur dengan menggunakan sfigmomanometer air raksa,
sedangkan sfigmomanometer aneroid memiliki kelemahan yaitu memerlukan kalibrasi secara
berkala. Osilometrik otomatis merupakan alat pengukur tekanan darah yang sangat baik untuk
bayi dan anak kecil, karena saat istirahat teknik auskultasi sulit dilakukan pada kelompok usia
ini. Sayangnya alat ini harganya mahal dan memerlukan pemeliharaan serta kalibrasi berkala
Panjang cuff manset harus melingkupi minimal 80% lingkar lengan atas, sedangkan lebar cuff
harus lebih dari 40% lingkar lengan atas (jarak antara akromion dan olekranon, (lihat Gambar 1
dan 2). Ukuran cuff yang terlalu besar akan menghasilkan nilai tekanan darah yang lebih rendah,
sedangkan ukuran cuff yang terlalu kecil akan menghasilkan nilai tekanan darah yang lebih
tinggi.7

Gambar 2. Lingkaran Lengan Atas Harus Diukur Tengah-tengah Antara Olekranon dan
Akromion7

Gambar 3. Cuff Pengukur Tekanan Darah7

Tekanan darah sebaiknya diukur setelah istirahat selama 3-5 menit, suasana sekitarnya
dalam keadaan tenang. Anak diukur dalam posisi duduk dengan lengan kanan diletakkan sejajar
jantung, sedangkan bayi diukur dalam keadaan telentang. Jika tekanan darah menunjukkan
angka di atas persentil ke-90, tekanan darah harus diulang dua kali pada kunjungan yang sama
untuk menguji kesahihan hasil pengukuran.7
Teknik pengukuran tekanan darah dengan ambulatory blood pressure monitoring
(ABPM) menggunakan alat monitor portable yang dapat mencatat nilai tekanan darah selama
7

selang waktu tertentu. ABPM biasanya digunakan pada keadaan hipertensi episodik, gagal ginjal
kronik, anak remaja dengan hipertensi yang meragukan, serta menentukan dugaan adanya
kerusakan organ target karena hipertensi. Tekanan darah sistolik ditentukan saat mulai
terdengarnya bunyi Korotkoff ke-1. Tekanan darah diastolik sesungguhnya terletak antara mulai
mengecil sampai menghilangnya bunyi Korotkoff. Teknik palpasi berguna untuk mengukur
tekanan darah sistolik secara cepat, meskipun nilai tekanan darah palpasi biasanya sekitar 10
mmHg lebih rendah dibandingkan dengan auskultasi.7
II.

Etiologi
Hipertensi pada anak dapat dibedakan menjadi primer dan sekunder. Pada anak usia pra

remaja, hipertensi sekunder lebih sering terjadi, hal ini dikarenakan adanya penyakit dasar yang
menyebabkan terjadinya hipertensi yaitu kelainan parenkim ginjal merupakan penyebab
tersering12.
Hipertensi Primer
Hipertensi primer atau esensial merupakan hipertensi yang tidak dapat dijelaskan
penyebabnya. Meskipun demikian, beberapa faktor dapat diperkirakan berperan menimbulkan
seperti faktor keturunan, berat badan, respons terhadap stres fisik dan psikologis, abnormalitas
transpor kation pada membran sel, hipereaktivitas sistem saraf simpatis, resistensi insulin, dan
respons terhadap masukan garam dan kalsium12.
Hipertensi primer atau esensial lebih banyak terjadi pada usia remaja dengan angka
kejadian sekitar 85% sampai 95%. Hipertensi primer jarang ditemukan pada anak di bawah usia
10 tahun. Faktor risiko terjadinya hipertensi primer termasuk diantaranya riwayat keluarga
dengan hipertensi dan peningkatan IMT (indeks masa tubuh), gangguan tidur, anak ras kulit
hitam, beberapa sindrom metabolik diantaranya adalah rendahnya kadar plasma high density
lipoprotein,

peningkatan

kadar

plasma

trigliserida,

abdominal

obesity,

resistensi

insulin/hiperinsulinemia. Penyakit ginjal merupakan penyebab tersering terjadinya hipertensi

sekunder dengan angka kejadian sekitar 78%. Penyebab lainnya antara lain adalah kelainan
endokrin (pheochromocytoma, hipertiroid).
Tekanan darah yang tinggi pada masa anak-anak merupakan faktor risiko hipertensi pada
masa dewasa muda. Hipertensi primer pada masa anak biasa ringan atau bermakna. Evaluasi
anak dengan hipertensi primer harus disertai dengan evaluasi beberapa faktor risiko yang
berkaitan dengan risiko berkembangnya suatu penyakit kardiovaskular. Obesitas, kolesterol
lipoprotein densitas tinggi yang rendah, kadar trigliserida tinggi, dan hiperinsulinemia
merupakan faktor risiko yang harus dievaluasi untuk berkembangnya suatu penyakit
kardiovaskular12.
Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder lebih sering terjadi pada anak-anak dibanding pada orang dewasa.
Evaluasi yang lebih teliti diperlukan pada setiap anak untuk mencari penyebab hipertensi. Anak
dengan hipertensi berat, anak dengan usia yang masih muda, serta anak remaja dengan gejala
klinis sistemik disertai hipertensi harus dievaluasi lebih lanjut. Anamnesis dan pemeriksaan fisik
yang mengarahkan pada suatu kelainan sistemik yang mendasari hipertensi merupakan langkah
pertama evaluasi anak dengan kenaikan tekanan darah yang menetap. Jadi, sangat penting untuk
mencari gejala dan tanda klinis yang mengarah pada penyakit ginjal (hematuria nyata, edema,
kelelahan), penyakit jantung (nyeri dada, dispneu, palpitasi), atau penyakit dari sistem organ lain
(seperti kelainan endokrinologis, reumatologis)12.
Riwayat penyakit dahulu diperlukan untuk mengungkap penyebab hipertensi. Pertanyaan
diarahkan pada riwayat opname sebelumnya, trauma, infeksi saluran kemih, diabetes, atau
masalah gangguan tidur. Riwayat penyakit keluarga berupa hipertensi, diabetes, obesitas, apnea
pada waktu tidur, penyakit ginjal, hiperlipidemia, stroke, dan kelainan endokrinologis perlu
diteusuri12.
Sekitar 60-80% hipertensi sekunder pada masa anak berkaitan dengan penyakit parenkim
ginjal. Kebanyakan hipertensi akut pada anak berhubungan dengan glomerulonefritis,
9

Sedangkan hipertensi kronis paling sering berhubungan dengan penyakit parenkim ginjal (7080%), hipertensi renovaskular (10-15%), koartasio aorta (5-10%), feokromositoma dan
penyebab endokrin lainnya (1-5%). Pada anak yang lebih kecil (< 6 tahun) hipertensi lebih
sering sebagai akibat penyakit parenkim ginjal, obstruksi arteri renalis, atau koartasio aorta.
Anak yang lebih besar bisa mengalami hipertensi dari penyakit bawaan yang baru menunjukkan
gejala dan penyakit dapatan seperti refluks nefropati atau glomerulonefritis kronis12.
Patogenesis hipertensi pada anak dengan penyakit ginjal melibatkan beberapa
mekanisme. Hipoperfusi ginjal pada penyakit glomerular diketahui memicu produksi renin
melalui apparatus jukstaglomerular yang mengaktifkan angiotensin I dan selanjutnya
mengaktifkan angiotensin II sehingga menyebabkan hipertensi. Sistem hormonal seperti
prostaglandin meduler yang bersifat vasodepresor dapat menurun dan menyebabkan hipertensi,
substansi lipid pada medula ginjal juga menurun pada penyakit ginjal. Hipervolemia akibat
retensi air dan garam menyebabkan curah jantung meningkat dan timbul hipertensi. Hipertensi
juga bisa disebabkan oleh farmakoterapi untuk penyakit parenkim ginjal yang diobati dengan
kortikosteroid12.
III.

Patofisiologi
Faktor yang menentukan tekanan darah adalah cardiac output dan tahanan vaskular

perifer. Kelainan kelainan yang meningkatkan cardiac output dan tahanan vaskular perifer akan
meningkatkan tekanan darah. Cardiac output dan tahanan vaskular perifer dapat meningkat
secara sendiri-sendiri melalui berbagai mekanisme, tetapi juga dapat terjadi interaksi diantara
keduanya. Sebagai contoh, bila penyebab awalnya mengakibatkan peningkatan cardiac-output,
terjadi pula kompensasi peningkatan tahanan vakuler perifer. Bahkan ketika penyebab
awalnya telah menghilang dan cardiac output kembali normal, tekanan darah masih tetap
tinggi karena tahanan vaskular perifer tetap meningkat. 4
Cardiac output ditentukan oleh stroke volume dan heart rate, meskipun sebagian besar
mekanisme terjadinya hipertensi persisten disebabkan oleh kenaikan stroke volume dan hanya
10

sedikit sekali karena kenaikan heart rate. Kenaikan stroke volume biasanya disebabkan oleh
meningkatnya volume intravaskuler, baik oleh karena retensi cairan, atau fluid shift ke dalam
ruang intravaskular. Retensi garam berperan besar meningkatkan cairan intravaskular yang
berasal dari intake yang berlebih-lebihan, peningkatan resorpsi garam dalam tubular ginjal,
yang sering dijumpai pada keadaan aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron

dan

hiperinsulinemia. Peningkatan tonus simpatis meningkatkan cardiac output melalui stimulasi


pelepasan renin, juga dengan jalan meningkatkan kontraktilitas jantung dan heart rate. 7,9
Perubahan tahanan vaskular perifer dapat berasal dari kelainan fungsional maupun
struktural. Peningkatan angiotensin II, aktivitas simpatis, endothelins (prostaglandin H2;
PGH2), penurunan endothelial relaxation factors (mis. nitric oxide), dan kelainan genetik dalam
vascular cell receptors, kesemuanya meningkatkan kontraktilitas otot polos vaskular, sehingga
meningkatkan tahanan vaskular perifer. Juga diduga bahwa asam urat yang telah diketahui
meningkat pada anak-anak dengan hipertensi, mungkin juga berperan dalam patogenesis dalam
perubahan arteriol renal seperti yang terlihat pada hipertensi esensial.5,6
IV.

Manifestasi Klinis
Hipertensi derajat ringan atau sedang umumnya tidak menimbulkan gejala. Namun dari

penelitian yang baru-baru ini dilakukan, kebanyakan anak yang menderita hipertensi tidak
sepenuhnya bebas dari gejala. Gejala non spesifik berupa nyeri kepala, insomnia, rasa lelah,
nyeri perut atau nyeri dada dapat dikeluhkan. Pada keadaan hipertensi berat yang bersifat
mengancam jiwa atau menggangu fungsi organ vital dapat timbul gejala yang nyata. Keadaan
ini disebut krisis hipertensi. Krisis hipertensi ini dibagi menjadi dua kondisi yaitu hipertensi
urgensi dan hipertensi emergensi.2,12
Manifestasi klinis krisis hipertensi sangat bervariasi namun komplikasi utama pada anak
melibatkan sistem saraf pusat, mata, jantung, dan ginjal. Anak dapat mengalami gejala berupa
sakit kepala, pusing, nyeri perut, muntah, atau gangguan penglihatan. Krisis hipertensi dapat
pula bermanifestasi sebagai keadaan hipertensi berat yang diikuti komplikasi yang mengancam
11

jiwa atau fungsi organ seperti ensefalopati, gagal jantung akut, infark miokardial, edema paru,
atau gagal ginjal akut. Ensefalopati hipertensif ditandai oleh kejang fokal maupun umum diikuti
penurunan kesadaran dari somnolen sampai koma. Gejala yang tampak pada anak dengan
ensefalopati hipertensif umumnya akan segera menghilang bila pengobatan segera diberikan dan
tekanan darah diturunkan. Gejala dan tanda kardiomegali, retinopati hipertensif, atau gambaran
neurologis yang berat sangat penting karena menunjukkan hipertensi yang telah berlangsung
lama.1,3,7
V.

Pendekatan Diagnostik

1. Anamnesis
Anamnesis harus dilengkapi sedetil mungkin untuk mencari kemungkinan diagnostic .
Banyak pasien yang mengeluh gejala-gejala non-spesifik seperti misalnya nyeri kepala, lelah,
dan ganguan tidur. Keluhan berupa nyeri kepala hebat, gangguan penglihatan, nyeri dada lebih
spesifik untuk hipertensi berat. Hematuria dan sembab mengarah kepada glomerulonefritis
akut, sedangkan penurunan berat badan dan berkeringat menunjukkan abnormalitas
endokrin atau tumor neuroendokrin. Riwayat pemasangan kateter arteri umbilikal
mengarahkan pada penyebab ginjal. Riwayat keluarga tentang diet, tidur, dan pemakaian obatobatan tertentu menunjukkan etiologi hipertensi individual. 10
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang menyeluruh ditujukan untuk mencari kemungkinan adanya
penyakit penyebab atau kerusakan organ target. Pada pemeriksaan awal, tekanan darah
hendaknya diukur pada keempat ekstremitas sebagai suatu skrining untuk koartasio aorta, yang
harus dicurigai apabila tekanan darah ekstremitas atas lebih tinggi dari ekstremitas bawah.
Denyut nadi ekstremitas bawah biasanya juga lebih lemah. Pemeriksaan jantung termasuk
pemeriksaan bruit karotid atau abdominal akan melengkapi diagnosis. Pemeriksaan kepala dan
leher mencari adanya pembesaran tiroid atau retinopati hipertensi, pemeriksaan kulit untuk
12

melihat adanya striae atau neurofibroma. Pemeriksaan neurologi mungkin akan menemukan
adanya tanda-tanda hipertensi akut atau kronik seperti misalnya palsi Bell atau adanya defisit
neurologis berupa hemiparesis.5,7
VI.

Penatalaksanaan hipertensi pada anak


Tujuan pengobatan hipertensi pada anak adalah mengurangi risiko jangka pendek

maupun panjang terhadap penyakit kardiovaskular dan kerusakan organ target . Penanganan anak
dengan hipertensi ditujukan pada penyebab naiknya tekanan darah dan mengurangi gejala yang
timbul. Kerusakan organ target, kondisi-kondisi lain yang terjadi bersamaan, serta faktor-faktor
risiko juga mempengaruhi keputusan terapi. Terapi nonfarmakologis dan terapi farmakologis
direkomendasikan berdasarkan usia anak, tingkatan hipertensi, dan respon terhadap terapi7,8.

Gambar 4. Algoritme Untuk Manajemen Anak Dengan Peningkatan Tekanan Darah12.


a) Terapi non-farmakologis
13

Pada anak dengan kondisi pre-hipertensi atau hipertensi tingkat 1 terapi berupa perubahan
gaya hidup direkomendasikan. Terapi ini berupa pengontrolan berat badan, olahraga yang
teratur, diet rendah lemak dan garam, pengurangan kebiasaan merokok pada anak remaja yang
merokok, dan tidak mengkonsumsi alkohol. Korelasi yang kuat terdapat pada anak yang
memiliki berat badan lebih dengan peningkatan tekanan darah. Pengurangan berat badan telah
terbukti efektif pada anak obese disertai hipertensi. Pengontrolan berat badan tidak hanya
menurunkan tekanan darah juga menurunkan sensitivitas tekanan darah terhadap garam,
menurunkan risiko kardiovaskular lain seperti dislipidemia dan tahanan insulin. Pada penelitian
tersebut disebutkan bahwa penurunan indeks massa tubuh 10% menurunkan tekanan darah
dalam jangka waktu pendek sebesar 8 sampai 10 mmHg.8,9
Diet rendah garam yang dianjurkan adalah 1,2 g/hari pada anak usia 4-8 tahun dan 1,5 g/hari
pada anak yang lebih besar.16 Diet rendah garam yang dikombinasikan dengan buah dan
sayuran, serta diet rendah lemak menunjukkan hasil yang baik untuk menurunkan tekanan darah
pada anak. Asupan makanan mengandung kalium dan kalsium juga merupakan salah satu upaya
untuk menurunkan tekanan darah. Olahraga secara teratur merupakan cara yang sangat baik
dalam upaya menurunkan berat badan dan tekanan darah sistolik maupun diastolik.Olahraga
teratur akanmenurunkan tekanan darah dengan cara meningkatkan aliran darah, mengurangi
berat badan dan kadar kolesterol dalam darah, serta stres. Seorang anak yang tidak kooperatif
dan tetap tidak dapat mengubah gaya hidupnya perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan obat
anti hipertensi7.
b) Terapi Farmakologis
Indikasi penggunaan terapi farmakologis hipertensi pada anak dan remaja jika ditemukan
keadaan hipertensi yang bergejala, kerusakan organ target (seperti: hipertrofi ventrikel kiri,
retinopati, proteinuria), hipertensi sekunder, hipertensi tingkat 1 yang tidak berespon dengan
perubahan gaya hidup, dan hipertensi tingkat 2. Tujuan terapi adalah mengurangi tekanan darah

14

kurang dari persentil 95. Jika terdapat kerusakan organ target atau penyakit yang mendasari,
tujuan terapi adalah tekanan darah kurang dari persentil 90.5,8,9
Perlu

ditekankan bahwa tidak ada

satupun obat antihipertensi

yang

lebih

superiordibandingkan dengan jenis yang lain dalam hal efektivitasnya untuk mengobati
hipertensi pada anak.7 Menurut the National High Blood Pressure Education Program
(NHBEP) Working Group on High Blood Pressure in Children and Adolescents obat yang
diberikan sebagai antihipertensi harus mengikuti aturan berjenjang (step-up), dimulai dengan
satu macam obat pada dosis terendah, kemudian ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai
efek terapoitik, atau munculnya efek samping, atau bila dosis maksimal telah tercapai.
Kemudian obat kedua boleh diberikan, tetapi dianjurkan menggunakan obat yang memiliki
mekanisme kerja yang berbeda7.
Dalam memilih terapi farmakologi harus dipertimbangkan efikasi ketersediaan obat,
frekuensi pemberian, efek samping dan biaya. Farmakoterapi harus mengikuti tahapan
peningkatan dosis obat secara bertahap. Menggunakan satu macam obat dengan dosis terendah
kemudian meningkatkan dosis sampai efek terapetik terlihat. Bila terdapat efek samping atau
dosis obat maksimal dapat digunakan obat kedua yang memiliki mekanisme kerja berbeda.
Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors (ACEI) (seperti: kaptopril, enalapril, lisinopril,
ramipril) dan Calcium Channel Blocking Agents (seperti: nifedipin, amlodipin, felodipin,
isradipin) adalah obat antihipertensi yang sering digunakan karena efek sampingnya yang
rendah. Diuretika (diuretik tiazid, loop diuretic, dan diuretik hemat kalium biasanya digunakan
sebagai terapi tambahan.1,2,8
Obat-obatan baru seperti penghambat reseptor angiotensin (seperti: irbesartan) juga
digunakan pada hipertensi yang terjadi pada anak dan remaja. Obat ini mungkin bisa menjadi
pilihan pada anak yang menderita batuk kronik akibat penggunaan penghambat ACE.
Penghambat reseptor adrenergik (seperti: propanolol, atenolol, metoprolol, dan labetolol),
penghambat reseptor adrenergik , agonis reseptor , vasodilator langsung, agonis reseptor
15

adrenergik perifer jarang digunakan pada pasien anak karena efek samping yang
ditimbulkannya, akan tetapi obat-obatan ini dapat menjadi pilihan bila terjadi kegagalan terapi
dengan obat-obatan Calcium Channel Blocking Agents, 16 Angiotensin-Converting Enzyme
Inhibitors, atau penghambat reseptor angiotensin.8

Gambar 5. Langkah-langkah pendekatan pengobatan hipertensi7

Tabel 4. Obat Anti Hipertensi Untuk Hipertensi Pada Anak 1-7 Tahun Yang Di Rawat Jalan8

16

Pengobatan pada krisis Hipertensi


The Fourth Report on the diagnosis, evaluation, and treatment of high blood pressure in
children and adolescents mendefinisikan hipertensi berat bila tekanan darah melebihi 5 mmHg
di atas persentil 99 menurut usia. Krisis hipertensi yaitu rerata TDS atau TDD >5 mmHg di atas
persentil 99 disertai gejala dan tanda klinis.10,11 Pendapat lain menyebutkan bahwa hipertensi
krisis dapat bersifat emergensi yaitu peningkatan TDS atau TDD yang telah atau dalam proses
17

menimbulkan kerusakan organ dalam beberapa menitjam atau urgensi yang perlu diturunkan
dalam 12-24 jam karena sewaktu-waktu dapat progresif menjadi hipertensi emergensi (TDS
>180 mmHg dan TDD >120 mmHg)12.
Hipertensi emergensi adalah suatu keadaan yang menunjukkan tekanan darah yang
harus diturunkan dalam waktu satu jam, karena pada penderita didapatkan kejang, nyeri kepala,
gangguan penglihatan, atau payah jantung. Pemberian nifedipin secara oral atau sublingual
sangat membantu pada tahap awal pengobatan, sambil mencari cara agar obat suntikan dapat
segera diberikan7.
Krisis hipertensi yang disertai gejala ensefalopati hipertensif memerlukan pengobatan
dengan antihipertensi intravena untuk mengendalikan penurunan tekanan darah dengan tujuan
terapi menurunkan tekanan darah >25% selama 8 jam pertama setelah krisis dan secara
perlahan-lahan menormalkan tekanan darah dalam 26 sampai 48 jam. Krisis hipertensi dengan
gejala lain yang lebih ringan seperti sakit kepala berat atau muntah dapat diobati dengan
antihipertensi oral atau intravena. Pengawasan secara berhati-hati dilakukan terhadap reaksi
pupil, penglihatan, kesadaran, dan temuan neurologis12.
Sodium nitroprusid, nikardipin, dan labetalol dianjurkan sebagai obat intravena yang
aman dan efektif karena mudah dititrasi dan dengan toksisitas yang rendah. Obat lain yang
dianjurkan adalah hidralazin, klonidin, esmolol, enalaprilat. Nipedipin yang diberikan sublingual
juga dianjurkan. Keamanan dan efikasi nipedipin kerja cepat telah terbukti aman dan hanya
menimbulkan sedikit efek samping saat digunakan pada anak dengan hipertensi yang dirawat
inap. Obat oral perlu mendapat perhatian khusus karena efek penurunan tekanan darah tabg
tidak terkendali sehingga respons penurunan tekanan darah tidak dapat diprediksi12.
Pengobatan secara intravena yang harus segera diberikan adalah natrium nitroprusid atau
infus labetolol bila tersedia. Bolus hidralazin secara intravena dapat diberikan bila obat infus
tersebut di atas tidak tersedia. Pada anak yang menderita hipertensi kronik dianjurkan untuk
menurunkan tekanan darah sebesar 20-30% dalam waktu 60-90 menit. Anak yang menderita
18

hipertensi urgensi harus diberi nifedipin yang kerjanya cepat dan harus dirawat untuk memantau
keadaan dan melihat efek samping. Tekanan darah harus diturunkan dalam waktu 24 jam dengan
nifedipin. Meskipun demikian diperlukan obat-obat lain yang memilki masa kerja panjang.
Hipertensi urgensi biasanya terjadi pada penderita glomerulonefritis akut, hipertensi akselerasi,
dan setelah dilakukan transplantasi ginjal7.
Tabel 5. Antihipertensi untuk Manajemen Hipertensi Berat pada Anak 1-17 Tahun12

Salah satu bentuk hipertensi emergensi adalah krisis hipertensi, yaitu tekanan darah
meningkat dengan cepat hingga mencapai sistolik 180 mmHg atau diastolik 120 mmHg,
sehingga perlu ditangani dengan obat-obatan seperti terlihat pada Tabel 67.

19

Tabel 6. Obat-obat Antihipertensi untuk Penanggulangan Krisis Hipertensi7


Obat
Diazoksid

Cara
pemberian
Intravena
cepat (1-2
menit)

Natrium
Pompa infus
nitroprusid

Dosis awal

Respon
awal
3-5 menit

Lamanya
respon
4-24 jam

50 mg/l dalam
larutan D5%
(5 mikrogram/
ml) 0,5-8
mi k r o g r am /
kg/menit atau
0,01-0,16 ml/
kg/menit
0,1-0,2 mg/kg

Segera

Selama
infus

10-30
menit

2-6 jam

2-5 mg/kg
dalam 30 menit
respon (-)
ulangi

Hidralazin

IV atau IM

Reserpin

IM

0,07 mg/kg,
maksimal 2,5
mg

1,5-3 jam

2-12 jam

Alfa
metildopa

Pompa infus

2-6 jam

6-18 jam

Klonidin

IV
IM

5-10 mg
dalam 50 ml
D5% (50 mg/
ml diberikan
sekitar 30-60
menit) ulangi
tiap 6-8 jam
0,002 mg/kg/
kali ulangi
tiap 4-6 jam.
Dosis bisa
ditingkatkan
sampai 3x lipat

IV: 5
Bebera-pa
menit
jam
IM:
beberapa
menit
lebih lama

Efek samping
Nausea,
hiperglikemia,
retensi
natrium, obat
pilihan
Membutuhkan
pengawasan
terus
menerus, risiko
keracunan
tiosianat

Takikardia,
flushing, sakit
kepala
Hidung
tersumbat,
respon awal
lambat
Mengantuk,
respon awal
lambat

Mengantuk,
mulut
kering, Rebound
hypertension

Lama pengobatan yang tepat pada anak dan remaja hipertensi tidak diketahui dengan
pasti. Beberapa keadaan memerlukan pengobatan jangka panjang, sedangkan keadaan yang lain
dapat membaik dalam waktu singkat. Oleh karena itu, bila tekanan darah terkontrol dan tidak
terdapat kerusakan organ, maka obat dapat diturunkan secara bertahap, kemudian dihentikan
20

dengan pengawasan yang ketat setelah penyebabnya diperbaiki. Tekanan darah harus dipantau
secara ketat dan berkala karena banyak penderita akan kembali mengalami hipertensi di masa
yang akan datang7.
Pada Tabel 5 dibawah ini diperlihatkan petunjuk untuk menurunkan secara bertahap
pengobatan hipertensi bila tekanan darah telah terkontrol.
Tabel 7. Petunjuk Untuk Step-down Therapy pada Bayi, Anak atau Remaja7
Bayi

Kenaikan tekanan darah terkontrol untuk 1 bulan


Dosis obat tidak meningkat, dan bayi terus tumbuh
Tekanan darah tetap konstan dan terkontrol

Dosis obat diturunkan sekali seminggu dan berangsur-angsur dihentikan


Anak atau Tekanan darah terkontrol dalam batas normal untuk 6 bulan sampai 1 tahun
remaja

Kontrol tekanan darah dengan interval waktu 6-8 minggu.


Ubah menjadi monoterapi.
Setelah terkontrol berlangsung kira-kira 6 minggu, turunkan monoterapi setiap
minggu dan bila memungkinkan berangsur-angsur dihentikan.
Jelaskan pentingnya arti pengobatan non farmakologik untuk pengontrolan
tekanan darah.
Jelaskan pentingnya untuk memonitor tekanan darah secara terus menerus, dan
bahwa terapi farmakologik dapat dibutuhkan pada setiap waktu

Pembedahan
Penderita dengan stenosis arteri renalis perlu dilakukan pembedahan dengan angioplasti
balon atau operasi by pass untuk mengatasi hipertensi dan memperbaiki fungsi ginjal. Demikian
juga pada penderita infark ginjal segmental, hipoplasia ginjal unilateral yang sudah tidak
berfungsi perlu dipertimbangkan untuk dilakukan nefrektomi parsial atau lengkap. Untuk
memaksimalkan pengobatan hipertensi, ginjal yang terkena dan kontralateralnya harus
dievaluasi secara seksama, termasuk menilai kadar renin vena renalis setelah tindakan bedah.
Pembedahan juga dapat dilakukan pada feokromositoma7.
VII.

Pencegahan

21

Upaya pencegahan terhadap penyakit hipertensi pada anak harus mencakup pencegahan
primer, sekunder, maupun tersier. Pencegahan primer hipertensi harus dilihat sebagai bagian dari
pencegahan terhadap penyakit lain seperti penyakit kardiovaskular dan stroke yang merupakan
penyebab utama kematian pada orang dewasa. Penting pula diperhatikan faktor-faktor risiko
untuk terjadinya penyakit kardiovaskular seperti obesitas, kadar kolesterol darah yang
meningkat, diet tinggi garam, gaya hidup yang salah, serta penggunaan rokok dan alkohol7.
Sejak usia sekolah, sebaiknya dilakukan pencegahan terhadap hipertensi primer dengan
cara mengurangi asupan natrium dan melakukan olah raga teratur. Konsumsi natrium perlu
diimbangi dengan kalium. Rasio konsumsi natrium dan kalium yang dianjurkan adalah 1:1.
Sumber kalium yang baik adalah buah-buahan seperti pisang dan jeruk. Memberikan ASI
eksklusif pada bayi merupakan cara penting untuk mengurangi faktor risiko terjadinya
hipertensi7.
Pencegahan sekunder dilakukan bila anak sudah menderita hipertensi untuk mencegah
terjadinya komplikasi seperti infark miokard, stroke, gagal ginjal atau kelainan organ target.
Pencegahan ini meliputi modifikasi gaya hidup menjadi lebih benar, seperti menurunkan berat
badan, olahraga secara teratur, diet rendah lemak dan garam, menghentikan kebiasaan merokok
atau minum alkohol7.
Olah raga yang baik pada anak yang menderita hipertensi sebagai bagian dari
pencegahan sekunder merupakan kombinasi dari jenis aerobik dan statik. Olah raga yang
bersifat kompetitif diperbolehkan pada anak dengan prehipertensi, hipertensi stadium 1 dan 2
yang terkontrol, tanpa disertai gejala atau kerusakan organ target. Olahraga teratur sering
dikaitkan juga dengan pelepasan zat yang disebut endorphins, yang membuat perasaan menjadi
lebih nyaman dan santai. Asupan makanan mengandung kalsium dapat dilakukan sebagai
pengobatan alternatif untuk mengatasi hipertensi. Kadar kalsium yang tinggi dalam darah akan
menurunkan kadar natrium7.

22

Apabila komplikasi sudah terjadi, misalnya stroke dan retinopati, maka upaya
rehabilitatif dan promotif yang merupakan bagian dari pencegahan tersier dapat dilakukan untuk
mencegah kematian dan mempertahankan fungsi organ yang terkena seefektif mungkin7.

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Sorof JM, Lai D, Turner J, Portman RJ. Overweight, ethnicity, and the revalence of
hypertension in school-aged children. Pediatrics 2004; 113:3:475-82.
2. Adrogue HE, Sinaiko AR. Prevalence of hypertension in junior high school-aged
children: effect of new recommendations in the 1996 updated Task Force Report. Am
JHypertens 2001; 14:412-4.
3. Chris tanto, dkk. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV. Jakarta: Media Aesculapius
4. Varda NM, Gregoric A. A diagnostic approach for the child with hypertension. Pediatric
Nephrol 2005; 20:499-506.
5. Sorof JM, Alexandrov AV, Cardwell G, Portman RJ. Carotid artery intimal-mediated
thickness and left ventricle hypertrophy in children with elevated blood pressure.
Pediatrics 2003; 111:61-6.
6. Hanevold C, Waller J, Daniels S, Portman R, Sorof J, International Pediatric
Hypertension Association. The effect of obesity, gender, and ethnic group on left
ventricle hypertrophy and geometry in hypertensive children: a collaborative study of the
International Pediatric Hypertension Association. Pediatrics 2004; 113:328-33.
7. Sukarwana N, Rachmadi D, Halimanto D. Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi Pada
Anak IDAI. Bandung: Unit Kerja Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2011
8. National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood
Pressure in Children and Adolescents. The Fourth Report on the Diagnosis, Evaluation,
and Treatment of High Blood Pressure in Children and Adolescents. Pediatrics 2004;
114:555-76.
9. Feld LG, Corey H. Hypertension in childhood. Pediatr. Rev. 2007; 28:283-98.
10. Croix B, Feig DI. Chilhood hypertension is not a silent disease. Pediatr Nephrol
2006;21:527-32
11. Somu S, Sundaram B, Kamalanathan AN. Early detection of hypertension in general
practice. Arch. Dis. Child. 2003; 88:302.
12.
Supartha M, Suarta IK, Agung IB. Majalah Kedokteran Indonesia: Hipertensi
pada anak.. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
Mei 2009; Volum:59, Nomor:5.

24