Anda di halaman 1dari 4

Pancasila dan Penistaan Agama

No. 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama, merupakan produk undang-undang


yang semestinya ditegakkan dengan tegas oleh para negarawan.

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

KESADARAN untuk melindungi agama dan umat beragama di negara ini terhitung
masih lemah. Setidaknya indikasi itu dilihat dari belum adanya respon dari penegak
hukum yang memuaskan dalam kasus penistaan Ahok terhadap al-Quran.
Hingga terjadilah aksi damai terbesar dalam sejarah Indonesia yang diikuti sekitar
satu juta umat, Jumat 4 November 2016 lalu. Kasus ini terbilang lambat. Sebab,
pelaporan dilakukan sudah lebih dari satu bulan lalu.
Lambatnya penanganan kasus satu ini tentu berbeda dengan kasus-kasus korupsi
yang menjerat sejumlah pejabat tinggi negara dan pemimpin daerah. Seorang
menteri dan mantan menteri pernah langsung ditangkap dan ditahan. Seorang
Gubernur juga pernah langsung ditetapkan sebagai tersangka, meski masih diduga.
Kasus korupsi dan kejahatan agama tentu saja kasus yang sama penting untuk
ditangani. Tetapi, para pejabat, penegak hukum dan Presiden mestinya tahu bahwa
kejahatan yang terkait dengan agama sifatnya lebih sensitif. Mesti ada skala prioritas
dalam hal ini.
Sebabnya, negara ini berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara ini bukan
ateis. Makanya, komunisme juga resmi dilarang di negeri ini. Negara yang
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa itu tidak boleh ada blasphemy (pelecehan
agama). Dalam undang-undang negara blasphemy adalah kejahatan atau kriminal.
Hukum negara telah mengatur melalui UU No. 1/PNPS/Tahun 1965 tentang
Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan Agama. Pasal 1 UU menerangkan
tentang larangan melakukan pendodaan agama dalam bentuk apapun. Bunyi pasal
tersebut adalah: Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum
menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk
melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau
melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan

keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokokpokok ajaran agama itu.
Pelanggaran terhadap UU di atas diancam hukum lima tahun. Sebagaimana diatur
dalam Pasal 2 ayat 3: Maka orang, penganut, anggota dan/atau anggota Pengurus
Organisasi yang bersangkutan dari aliran itu dipidana dengan pidana penjara
selama-lamanya lima tahun.
Sementara KUHP pasal 156 juga menegaskan, pelaku penistaan agama diancam
hukuman penjara lima tahun penjara. Pasal 156 a KUHP berbunyi: Dipidana dengan
pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka
umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: (a) yang pada pokoknya
bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang
dianut di Indonesia; (b) dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama
apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
Karena itu, penista agama itu tidak berjiwa Pancasila. Seharusnya yang bisa
menjadi pejabat negara itu orang yang berjiwa Pancasila dan taat undang-undang.
Tetapi persoalannya lagi-lagi ada pada etika politik yang buruk.
Perilaku politik para politikus masih seperti perdagangan atau jual beli. Ada tawar
menawar, kesepakatan dan daftar harga barang. Dalam sistem yang demikian,
Pancasila, undang-undang dan konstitusi tidak berfungsi dengan baik (off).
Politik dagang (trade politic) demikian sama sekali tidak konstitusional dan tidak
beretika. Di sini kapitalisme berkuasa, bukan partai politik. Bahkan seorang
pemimpin negara pun bisa tidak berkutik.
Apa sebab? Para kapitalis memainkan peran sebagai pemodal politikus. Tentu
tujuannya adalah hegemoni ekonomi dan mengamankan kerajaan bisnisnya.
Politikus diberi modal untuk membeli kursi jabatan. Lihat saja fenomena pilkada.
Siapa bermodal bersar, dia yang berpeluang besar menang. Seperti kata pepatah
tak ada fulus, mampus.
Pun ada tawar menawar. Bila ada uang banyak, maka mudah untuk mendapatkan
barang yang berharga. Modal pas-pasan bisa mendapatkan kursi yang mahal,
asalkan pintar dalam menawar.
Di sinilah terjadi kerja sama saling menguntungkan dalam menutup aib-aib
politiknya. Sama-sama mengamankan posisi antara politikus dan pemodal kapitalis.
Asalkan sama-sama aman, jalan terus.
Seorang politikus sering terpenjara oleh tawar-menawar ini. Bila keluar dari
kesepakatan dengan pemodal, ia bisa dibuka aibnya. Resikonya, karirnya tumbang.
Maka, mereka memilih menjadi orang jahat asalkan aman, daripada orang sholih

tapi dihancurkan hidupnya. Penjahat bisa menjadi pejabat. Dan Pejabat bisa
mendadak menjadi penjahat. Atau minimal menjadi pelindung penjahat. Jadi, ini
memang sudah sedemikian rusaknya etika politik kita.
Tentu saja tidak semua berperilaku seperti itu. Masih banyak yang baik dan sholih.
Berjiwa pejuang, Pancasilais dan taat agamanya. Namun, seberapa besar pengaruh
politikus yang baik ini dalam menentukan kebijakan negara? Kita semua berdoa,
semoga yang baik menang dan yang jahat kalah.
Seorang pejabat yang terpenjara oleh trade politic itu tentu saja bisa lolos dari
ancaman pemodal kapitalis bila didukung rakyat.
Dalam kasus penistaan al-Quran ini seyogyanya Presiden kembali kepada
Pancasila dan konstitusi. Saat ini, jutaan rakyat tersakiti oleh pelaku penista agama.
Sakitnya rakyat ini terobati bila Pancasila dan konstitusi ditegakkan. Tetapi, bila
Presiden meremehkan rakyat yang mayoritas Muslim ini, maka resiko politik
Presiden sangat besar. Seharusnya isu agama itu tidak bisa ditawar dengan
kepentingan politik tertentu.
Andaikan para pejabat sadar dengan sejarah pendirian Indonesia. NKRI ini tegak
dengan darah para ulama dan santri. Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia,
peran ulama tidak bisa diabaikan. Konon, pada detik-detik menjelang pengumuman
kemerdekaan, Bung Karno tak melupakan ulama untuk diminta nasihatnya.
Di Cianjur ia menemui dua ulama besar, yaitu KH. Abdul Mukti dari Muhammadiyah,
dan KH. Hasyim Asyari dari NU untuk meminta masukan tentang kemerdekaan
Indonesia.
Pada zaman perang kemerdekaan, KH. Hasyim Asyari meminta agar umat Islam
Indonesia ikut serta berkontribusi untuk Indonesia. Sebagai komponen terbesar,
Muslim Indonesia harus berada pada peran vital. Baginya, Indonesia harus dibangun
oleh para cerdik pandai Muslim, bukan orang asing.
Pada tahun 1945, para kiai NU se-Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya
mengadakan pertemuan khusus yang dimpimpin oleh KH. Wahab Hasbullah. Dalam
kesempatan itu, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan tausiyah tentang kewajiban umat
Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan. Berpijak dari tausiyah itu, maka
pertemuan tersebut mengeluarkan resolusi yang dikenal dengan Resolusi Jihad.
Hasyim Asyari adalah pejuang yang dikenal tidak pernah mau tunduk kepada
penjajah Belanda dan Jepang. Ia sering dibujuk Belanda untuk tunduk, namun selalu
ditolaknya. Akibat sikapnya yang non-kooperatif terhadap Belanda ini, pesantren
Tebuireng pernah dihancurkan Belanda.

Kiai Hasyim pernah menyampaikan pidato tegas dalam acara pertemuan ulama
seluruh Jawa Barat di Bandung. Ia mengatakan: Kita seharusnya tidak lupa bahwa
pemerintahan dan pemimpin mereka (Belanda) adalah Kristen dan Yahudi yang
melawan Islam. Memang benar, mereka seringkali mengklaim bahwa mereka akan
netral terhadap berbagai agama dan mereka tidak akan menganak emaskan satu
agama, akan tetapi jika seseorang meneliti berbagai usaha mereka untuk mencegah
perkembangan Islam pastilah tahu bahwa apa yang mereka katakana tidak sesuai
dengan apa yang mereka praktekkan. Kita harus ingat bahwa Belanda berusaha
agar anak-anak kita menjauhkan mereka dari ajaran-ajaran Islam dan mencekoki
mereka dengan kebiasaan buruknya. Belanda telah merusak kehormatan Negara
kita dan mengeruk kekayaan. Belanda telah mencoba memisahkan ulama dari umat.
Dalam berbagai hal, Belanda telah merusak kepercayaan umat terhadap ulama
dengan berbagai cara (Soeara Masjoemi 15 Agustus 1944 dalam Samsul
Maarif, Mutiara-Mutiara Dakwah KH. Hasyim Asyari, hal. 294).
Jendral A. H. Nasution dalam sebuah pidato peringatan 18 Tahun Piagam Jakarta 22
Juni 1963 di Jakarta mengatakan, bahwa rumusan dasar negara muncul di
antaranya karena inisiatif para alim ulama yang mengirimkan surat berisi usulan
tentang bentuk dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi Indonesia merdeka.
Surat yang dikirim dari berbagai alim ulama itu berjumlah 52 ribu surat yang terdaftar
(Endang Saifuddin Anshari, Piagama Jakarta 22 Juni 1945, hal. 29-30).
Inilah cara para pendiri bangsa agar karakter bangsa tidak ditelan oleh imperialisme
baru. Seperti ungkapan KH. Muhammad Isa Anshori, : Pancasila harus hidup
dengan teman-temannya sila yang lain, seribu satu sila yang tersebar dalam
lembaran ajaran Islam. Bila Pancasila tidak dijaga dengan cara seperti itu, maka
akan ditelan oleh imperialisme dan komunisme.
Adanya Pancasila merupakan dasar konstitusional melindungi agama dan umat
beragama. UU negara semuanya berdasarkan Pancasila ini. Tidak terkecuali
undang-undang yang mengatur hubungan antar agama, penistaan agama dan lainlain.
No. 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama, merupakan produk undang-undang
yang semestinya ditegakkan dengan tegas oleh para negarawan. Karena UU
tersebut merupakan amanah pendiri bangsa, agar Indonesia tetap pada koridor
Pancasila. Berarti, siapa yang menista agama, maka dia tidak Pancasilais.*
Penulis anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) Jawa Timu
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar