Anda di halaman 1dari 5

Nama : Rizki Lintang Erlangga Tanggal Praktikum: 23 Maret 2010

NRP : A14080011 Bahan Tanaman : Umbi Kentang (Solanum tuberosum)

Mayor : Manajemen Sumberdaya Lahan Nama Asisten : Meri Lestari

Kelompok : 3 Diana Agustin C.

PENETAPN POTENSIAL AIR JARINGAN TUMBUHAN

Tujuan Praktikum

Mengukur nilai potensial air jaringan umbi kentang

Pendahuluan

Sistem yang menggambarkan tingkah laku air dan pergerakan air dalam tanah dan tubuh
tumbuhan didasrakan atas suatu hubungan energi potensial. Air mempunyai kapasitas untuk
melakukan kerja, yaitu akan bergerak dari daerah dengan energi potensial tinggi ke daerah energi
potensial rendah. Energi potensial dalam sistem cairan dinyatakan dengan cara membandingkannya
dengan energi potensial air murni. Karena air dalam tumbuhan dan tanah biasanya secara kimia
tidak murni, disebabkan adanya bahan terlarut dan secara fisik dibatasi oleh berbagai oleh adanya
bahan terlarut dan secara fisik dibatasi oleh berbagai gaya,seperti gaya tarik menarik yang
berlawanan, gravitasi, dan tekanan, maka energi potensial lebih kecil dari pada energi potensial air
murni (Gardner,1991).
Potensial air adalah potensial kimia air dalam suatu system atau bagian system. Dinyatakan
dalam satuan tekanan dan dibandingkan dengan potensial kimia air murni (juga dalam satuan
tekanan) pada tekanan atmosfer dan pada suhu serta ketinggian yang sama potensial murni
ditentukan sama dengan nol. Faktor-faktor penghasil gradient yaitu konsentrasi atau aktifitas, suhu,
tekanan, efek larutan terhadap potensial kimia pelarut, matriks. Mengukur metode air dengan
metode volume jaringan, metode chordate, metode tekanan uap (Salisbury dan ross, 1995)
Osmosis merupakan difusi air melintasi membran semipermeabel dari daerah dimana lebih
banyak ke daerah dengan air yang lebih sedikit. Osmosis sangat ditentukan oleh potensial kimia air
atau ptensial air, yang menggambarkan kemampuan molekul air untuk dapat melakukan difusi.
Sejumlah besar volume air akan memilki kelebihan energi bebas daripada volume yang sedikit,
dibawah kondisi yang sama. Energi bebas suatu zat per unit jumlah, terutama per berat gram
molekul (energi bebas mol-1) disebut potensial kimia. Potensial kimia zat terlarut kurang lebih
sebanding dengan konsentrasi zat terlarutnya. Zat terlarut yang berdifusi cenderung untuk bergerak
dari daerah yang berpotensi kimia lebih tinggi menuju daerah yang berpotesial kimia lebih kecil
(Ismail, 2006).

Hasil Pengamatan

Tabel 1. Perubahan berat silinder kentang setelah perendaman

Berat Berat
Larutan
Sebelum Setelah Penambahan Perubahan
Sukrosa
Direndam Direndam Berat (g) Berat (%)
(M)
(g) (g)

Air
2,1 2,5 0,4 19,04
Destilata
0,05 1,7 2,0 0,3 17,64
0,10 1,9 2,0 0,1 5,26
0,15 1,5 1,5 0,0 0
0,20 2,0 1,9 0,1 5,00
0,25 2,0 1,9 0,1 5,00
0,30 1,9 1.7 0,2 10,53
0,35 1,9 1,5 0,4 21,05
0,40 1,5 1,2 0,3 25.00
0,45 1,7 1,4 0,3 17,65
0,50 1,8 1,3 0,5 27,78
0,60 2,0 1,3 0,7 35,00

Data Perubahan Berat Kentang selama Percobaan

40
PerubahanBerat (%)

0,6
30 0,5
0,4
20 0,35 Perubahan Berat
0,05 0,45

10 0,3
0,1 0,2 0,25
0 0,15

0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35 0,4 0,45 0,5 0,6
LarutanSukrosa(M)
Pengolahan data

Larutan Sukrosa 0,1 M


% perubahan berat= [(2,0 1,9) / 1,9]100% =5,26%

Potensial air (-s) = M i R T

(-s 0,15 ) = 0,15 x 1 x 0,0831 x 300 = - 3,74 bar

1. s Air destilata = 0 x -3,74 = 0 bar 7. s 0,35 = 0,35 x -3,74 = -8,73 bar


0,15 0,15

2. s 0,05 = 0,05 x -3,74 = -1,25 bar 8. s 0,40 = 0,40 x -3,74 = -9,97 bar

0,15 0,15

3. s 0,10 = 0,10 x -3,74 =- 2,49 bar 9. s 0,45 = 0,45 x -3,74 = -11,22 bar

0,15 0,15

4. s 0,20 = 0,20 x -3,74 = -4,99 bar 10. s 0,50 = 0,50 x -3,74 = -12,47 bar

0,15 0,15

5. s 0,25 = 0,25 x -3,74 = -6,23 bar 11. s 0,60 = 0,60 x -3,74 = -14,96 bar

0,15 0,15

6. s 0,30 = 0,30 x -3,74 = -7,48 bar


0,15

Pembahasan

Dilihat dari tabel, aquades dan larutan sukrosa konsentrasi 0,05 M sampai 0,15 M, nilai
perubahan berat dan % perubahannya positif. Namun pada konsentrasi sukrosa 0,2 M sampai 0,6
M, nilainya negative. Nilai positif ini diperoleh dari berat akhir kentang yang lebih besar dari berat
awal kentang, akibat terjadinya penambahan berat jaringan oleh air dari larutan sukrosa. Pergerakan
air dari larutan sukrosa menuju sel kentang menunjukkan bahwa konsentrasi air dalam larutan
sukrosa lebih tinggi daripada dalam sel kentang. Dengan demikian larutan sukrosa 0,05 M - 0.15 M
disebut larutan hipotonis (larutan dengan kandungan solute yang lebih rendah dari larutan lain. Nilai
negative perubahan dan % perubahan berat akhir yang terjadi pada konsentrasi sukrosa 0,2 M 0,6
M diperoleh dari berat akhir kentang yang lebih kecil dari berat awalnya, akibat terjadi penyusutan
berat jaringan karena air keluar dari sel menuju larutan sukrosa sehingga dapat disimpulkan
merupakan larutan hipertonis (kandungan solutenya lebih tinggi daripada sekelilingnya. Pada
praktikum kali ini tidak terdapat jaringan kentang yang tidak mengalami penambahan maupun
pengeluaran air atau tidak ada pergerakan molekul air karena tidak ada gradient konsentrasi larutan
yang memiliki konsentrasi sama dengan konsentrasi larutan dalam sel disebut larutan isotonis.
Dengan adanya pengurangan berat awal umbi kentang disebabkan karena potensial air pada
umbi kentang lebih tinggi dibandingkan dengan potensial air pada larutan sukrosa, sehingga air
yang terjadi dalam kentang bergerak keluar, sehingga ternyata pengurangan berat pada umbi
kentang. Hal ini berarti sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa air bergerak dari potensial air
tinggi kepotensial air yang rendah. Perpindahan atau pergerakan molekul air dari potensial air yang
tinggi kepotensial air yang rendah disebut dengan osmosis.

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum adalah potensial air pada suatu
larutan berpengaruh terhadap perpindahan cairan dalam jaringan tumbuhan. Makin besar potensial
air, makin besar kemampuan cairan untuk berosmosis dengan hasil itu kita dapat menetukan
potensial air jaringan pada silinder kentang. Adanya perbedaan hasil yang didapatkan pada hasil
pengamatan dengan teori disebabkan adanya kesalahan-kesalahan yang terjadi saat praktikum
berlangsung diantaranya, kurang baiknya pengeringan silinder yang dilakukan dengan tisu, adanya
perbedaan ketebalan silinder menyebabkan perbedaan ketebalan membran, serta lama perendaman.

Daftar Pustaka
Gardner, Franklin P., R. Brent Pearce, dan Roger L. Mitchell. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya.
Jakarta: UI Press.
Ismail. 2006. Fisiologi Tanaman. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM Makassar.
Salisbury, F.b dan Ross, C.W.1995. FISIOLOGI TUMBUHAN jilid 1 edisi IV alih bahasa Luqman,
RR dan Sumaryono. Penerbit ITB. Bandung.

Jawaban Pertanyaan

1. Potensial air (-s) = M i R T

(-s 0,15 ) = 0,15 x 1 x 0,0831 x 300 = - 3,74 bar

2. karena pada larutan sukrosa memiliki siffat non elektrolit yang tidak akan merusak membran.
Dan pada larutan sukrosa tidak mengakibatkan perubahan berat. Artinya potensil air larutan
sama dengan potensial air jaringan, sehingga sel tumbuhan tidak dapat dengan mudah untuk
mengabsorbsi senyawa tadi.sedangkan Nacl dan Kcl memiliki konstanta ionisasi yang
merupakan cairan pekat yangdapat mengakibatkan sel tumbuhan mengalami plasmolisis.

3. Air destilata digunakan sebagai kontrol karena memiliki potensial mendekati atau sama dengan
0. Sifat air destilata yang bebas dan ion-ion mengakibatkan air dapat keluar masuk membrane
tanpa hambatan, sehingga dapat merubah berat dan volume dari jaringan kentang.

4. Pada biji yang kering udara atau tumbuhan xerofit, permukaannya bersifat hidrofilik dan nilai
absorbanya tinggi. Bila biji kering dimasukkan ke dalam air, biji akan menyerap banyak air
dan mengembang. Dan untuk mendapatkan suplai air ini memerlukan potensial air yang
tinggi.sehingga potensial potensial matrik tidak dapat diabaikan.penyerapan air kedalam biji
banyak disebabkan oleh matriks, permukaan protein dan beberapa polisakarida dinding sel
harus terhidrasi terlebih dahulu sebelum perkecambahan dimulai.

5. a. Pengairan pada tanaman : Pengairan yang tepat dengan memperhatikan potensial air optimal
dan keutuhan sel tanaman.

b. Penentuan kadar pupuk : Kadar pupuk dalam tanah akan mempengaruhi potensial air
tanaman oleh karena itu pupuk yang diberikan harus sesuai.

c. potensial tanaman dapat menentukan apakah suatu senyawa dapat diserapdengan baik oleh
tanaman setelah penyemprotan herbisida, peptisida,pemberian pupuk dan pengendalian
gulma dengan garam.

6. 1. Metode ekuilibrasi uap : pengukuran terhadap tekanan uap air yang berada dalam
keseimbangan dengan air yang berada dalam sampel jaringan yang ditempatkan dalam suatu
ruangan kecil tertutup.

2. Metode Imersi uap : adanya pemindahan netto air secara spontan antara jaringan dengan
atmosfer.

3. Metode perendaman : metode zat warna untuk mengukur potensial air dari jaringan yang
uniform.

4. Metode Osmometer Cryoscopy (potensial osmotic) : berdasarkan pengukuran titik beku cairan
yang diukur adalah cairan jaringan.