Anda di halaman 1dari 13

Kekristenan Akar Krisis Ekologis?!

(Polemik dan Apologetik Teologi Lingkungan Hidup Kekristenan)


Dibuat Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah:
Teologi Kontemporer
Dosen Pengampu:
Pdt. Dr. Keloso S. Ugak

Oleh:
Metusalakh Rizky Nayar
NIM: 15.06.027

Program Pascasarjana (S2 M.Th.)


Semester Genap Tahun Akademik 2015/2016

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI


GEREJA KALIMANTAN EVANGELIS
BANJARMASIN
2016

Kekristenan Akar Krisis Ekologis?!


(Polemik dan Apologetik Teologi Lingkungan Hidup Kekristenan)
Christianity is the basic for ecological crisis Lynn White, 1969.1

A. Pendahuluan
Bumi tempat kita tinggal sedang menghadapi krisis. Krisis yang dimaksud adalah
krisis ekologi. Krisis ekolologi ini berdampak pada semua anggota bumi, termasuk manusia.
Akan tetapi, manusia bukan hanya korban dari krisis ekologi, manusia juga salah satu
penyebab krisis ekologi. Selain posisi sebagai korban dan penyebab krisis ekologi, manusia
juga memiliki peran lain yaitu sebagai pemelihara ekosistem. Kerusakan alam yang sangat
memprihatinkan semua orang di dunia akhir-akhir ini telah menjadi pembicaraan di semua
kalangan. Isu ini juga sudah banyak dikaitkan dengan agama. Dalam kaitan dengan
kekristenan, ajaran yang terlalu antroposentrik telah dianggap menjadi sumber kelalaian
manusia dalam pemeliharaan terhadap alam. Klaim ini telah dikatakan sejak pertengahan
1960-an oleh Lynn White, Jr, dan tokoh lainnya. Tulisan ini mencoba memberikan klaim
kekristenan sebagai penanggungjawab isu-isu krisis lingkungan hidup dan di sisi lain klaimklam pembelaan seputar kekristenan tersebut.
1. Sejarah Munculnya Pemikiran Ekoteologi
Ekoteologi adalah sebuah bentuk teologi konstruktif dengan fokus pada hubungan
antara agama dan alam, khususnya berkenaan dengan keprihatinan lingkungan.2 Hal ini
menyangkut cara pandang manusia beriman yang selalu berteologi tentang hubungan
(interaksi) antara dirinya, baik dengan sesamanya, maupun dengan hewan, tumbuhan, bahkan
alam lingkungannya.3 Istilah ekoteologi, atau yang biasa disebut juga dengan teologi
lingkungan, ini sesungguhnya adalah sebuah pemahaman yang merupakan gabungan antara
pokok-pokok pemikiran dari ilmu Ekologi suatu cabang dalam ilmu Biologi dan
Teologi. Dan ketika Ekologi ini dibicarakan dalam kaitannya dengan Teologi, maka
1

Pernyataan Lynn Townsend White, Jr. Bahan mata kuliah Etika Terapan: Etika Lingkungan Hidup program S2 STT GKE Banjarmasin
2015.

2 http://en.wikipedia.org/wiki/Ecotheology, diunduh pada tanggal 1 Nopember 2016.


3 Bnd. Definisi Ekologi dalam: P.S. Verma & V.K. Agarwal, , Environmental Biology (Principles of Ecology). (Ram Nagar New Delhi: S.
Chand and Company Ltd, 2005), 3.

seringkali bahasan ini sangat berhubungan erat dengan masalah moral, sebab permasalahan
ekologi memang umumnya terkait dengan krisis moral dalam usaha memahami ciri saling
ketergantungan antara manusia dengan lingkungan hidup. Ini menyangkut cara tentang
bagaimanakah seharusnya manusia bersikap terhadap lingkungannya.4 Munculnya pemikiran
tentang ekoteologi ini menunjukkan adanya kesadaran umum dalam diri manusia bahwa
selama ini telah terjadi kesalahan berkenaan dengan sikap dasar manusia terhadap lingkungan
hidup.5
Istilah ekologi sendiri sebetulnya telah lama ada. Istilah ini dimunculkan pertama kali
pada tahun 1866 oleh Ernst Haeckel, seorang murid Charles Darwin untuk menunjuk pada
keseluruhan organisme atau pola hubungan antar organisme dan lingkungannya.6 Namun
sejak kemunculannya, ilmu ini masih belum mempunyai perhatian khusus terhadap masalah
konservasi (perlindungan dan pelestarian lingkungan). Masalah konservasi itu sendiri
pertama kali baru dipikirkan secara serius ketika Henry Fairfield Osborn, Jr.7
mempublikasikan tulisannya pada tahun 1948 dengan judul Our Plundered Planet. Buku ini
berbicara mengenai kritik terhadap tidak adanya usaha manusia dalam memelihara
kelestarian bumi, di mana manusia dipandang sebagai penghancur alam.
Era 60-an dan 70-an pantas dianggap sebagai masa lahirnya kesadaran ekologis
manusia. Sebab pada tahun-tahun inilah mulai terjadinya krisis ekologis di seluruh dunia dan
terjadinya eksploitasi alam yang gila-gilaan.8 Oleh sebab itulah kritik-kritik berkenaan
dengan sikap dan tingkah laku manusia terhadap alam mulai bermunculan. Bahkan kritikkritik yang bermunculan tersebut ternyata juga diarahkan kepada gereja dan kekristenan,
yang dianggap sebagai biang keladi kerusakan alam yang selama ini telah terjadi.
2. Polemik: Kekristenan Sebagai Akar Krisis Ekologi

4 William Chang, Moral Lingkungan Hidup, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), 31


5 Ibid., 31-32.
6 Robert P. Borrong, Etika Bumi Baru : Akses Etika Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 18.
7 http://en.wikipedia.org/wiki/Henry_Fairfield_Osborn,_Jr., diunduh pada tanggal 1 Nopember 2016.
8 A. Sunarko, dan A. Eddy Kristiyanto, Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi, (Yogyakarta, 2008: Kanisius), 138.

Di dalam Kitab Kejadian 1 dan 2 dijelaskan tentang bagaimana dunia diciptakan oleh
Allah. Gereja berdasarkan kesaksian Alkitab mengakui bahwa dunia adalah hasil ciptaan
Allah yang terpisah dari-Nya. Allah diimani sebagai creatio ex nihilo, sang Pencipta yang
mampu menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada. Manusia adalah salah satu ciptaan
Allah yang dibuat dari tidak ada menjadi ada. Ciptaan dan Pencipta terpisah satu dengan yang
lain, karena Allahlah yang membuat ciptaan ada. Posisi Allah sebagai Pencipta yang terpisah
dari ciptaan-Nya inilah yang dipandang oleh beberapa teolog sebagai akar dari krisis ekologi.
Beberapa teolog yang dimaksud adalah Emil Brunner, Lynn Townsend White Jr dan Harvey
Cox. White dan Cox adalah pemikir besar dalam dunia eko-teologi, ilmu yang dikembangkan
untuk melihat hubungan antara lingkungan hidup dan teologi, yang memandang pemisahan
antara Pencipta dan ciptaan-Nya sebagai akar krisis ekologi.
Emil Brunner adalah seorang teolog Kristen yang terkenal dengan pernyataannya
Allah minus dunia sama dengan Allah (Harun, 2008: 32). Brunner menaruh landasan bagi
pemikiran Kristen yang meyakini bahwa Allah dan dunia adalah subjek dan objek yang
terpisah. Keterpisahan antara Allah dan dunia ciptaanNya berdampak pada kecenderungan
manusia untuk mengutamakan penyembahannya kepada Allah tapi melupakan perannya bagi
lingkungan hidup. Seolah-olah manusia dapat mengasihi Allah tanpa mengasihi lingkungan
hidupnya. Hasilnya adalah manusia yang mengeksploitasi alam sekaligus mengaku
menyembah Allah yang menciptakannya.9
Teolog yang paling terkenal berkenaan dengan kritiknya terhadap gereja dan
kekristenan adalah Lynn Townsend White, Jr., seorang teolog Amerika abad pertengahan.
Kritiknya dimulai dalam sebuah kuliah di tahun 1966 yang kemudian dimuat
dalam tulisannya The Historical Roots of Our Ecologic Crisis, diterbitkan jurnal Science,
Vol 155 (Number 3767), pp 12031207, pada 10 Maret 1967. Dalam artikelnya ini, Lynn
menunjukkan bahwa pada saat ini, ketika tekhnologi telah berkembang dengan pesat,
memungkinkan manusia untuk menghancurkan dan mengeksploitasi lingkungan secara habishabisan. Ia menunjukkan bahwa mentalitas Revolusi Industri, yang menganggap bumi
hanyalah sumber daya untuk konsumsi manusia, itu sesungguhnya jauh lebih tua dari
aktualitas mesin, yang ternyata berakar dari kekristenan abad pertengahan. Sebab, menurut
Lynn, apa yang telah dilakukan orang terhadap alam itu sangat tergantung dari apa yang
sedang manusia pikirkan tentang diri mereka sendiri dalam kaitannya dengan segala hal di
9 Bdk. Irene Ludji , Kerusakan Lingkungan Ditinjau dari Perspektif Ekologi dan Respon Agama-Agama, disampaikan dalam Seminar
Studium Generale di Universitas Kristen Satya Wacana pada tanggal 1 Maret 2014.

lingkungan mereka.10 Dengan hipotesanya itu, lalu White mengemukakan sebuah pertanyaan
fundamental mengenai apakah memang ada kesalahan yang telah dibuat di dalam sistem
ajaran Kristen mengenai dunia dan manusia, sehingga menyebabkan terangsangnya orang
Kristen di masa lalu untuk mengeksploitir dunia ini sehabis-habisnya. Terhadap pertanyaan
ini, Lynn beranggapan bahwa memang ada kesalahan yang terdapat dalam doktrin tentang
penciptaan dalam agama Kristen Barat.11 Menurutnya akar historis dari krisis
ekologi yang kita alami sekarang adalah sains dan tekhnologi Barat yang
sangat dipengaruhi oleh pandangan teologis Kristen yang bersifat
menyepelekan keberadaan alam.12 Ia juga berargumen bahwa teologi YahudiKristen pada dasarnya telah bersifat eksploitatif terhadap dunia alam karena:
a. Alkitab menegaskan tentang kekuasaan manusia atas alam dan menetapkan
kecenderungan antroposentrisme.
b. Orang Kristen membuat perbedaan antara manusia (yang diciptakan segambar dan
serupa dengan Allah) dan ciptaan lain, yang tidak memiliki jiwa atau roh, adalah
rendah13 karena bukan merupakan gambar dan rupa Allah (Imago Dei).
Penghayatan terhadap doktrin ini menghasilkan rasa transenden (lebih) manusia terhadap
alam yang sedemikian rupa, sehingga manusia dilihat sebagai penguasa alam, sedangkan
alam hanyalah sebagai obyek untuk kepentingan manusia.14 Orang Kristen merasa diri
mempunyai martabat yang paling luhur karena merasa bahwa mereka diciptakan oleh Allah
dan diberi kuasa untuk menguasai bumi (bdk. Kej 1:27-28). Orang Kristen merasa mendapat
legitimasi ilahi untuk melakukan penggalian sumber daya alam yang dapat dipakai untuk
memenuhi hidupnya. Manusia bebas untuk menggunakan kekayaan alam untuk kepentingan
dirinya.15 Dengan adanya pemahaman ini, White menganggap bahwa kekristenan telah
10 http://www.bookrags.com/wiki/Lynn_Townsend_White,_Jr., diunduh pada tanggal 1 Nopember 2016.
11 Emanuel Gerrit Singgih, Agama Kristen dan Ekologi, dalam Gema No. 38, Lingkungan Hidup, Yogyakarta: UKDW, 43.
12 Lynn berkata: Kekristenan adalah agama yang paling antroposentris yang bahkan telah dilihat dunia. Kekristenan, dibandingkan
mutlak dengan paganisme kuno dan agama-agama Asia, bersikeras bahwa adalah kehendak Allah agar manusia memanfaatkan alam untuk
tujuan-tujuannya yang tepat.Lihat. Lynn White, Jr.; The Historical Roots of Our Ecological Crisis; dalam Norman L. Geisler; Etika
Kristen: Pilihan dan Isu; (Malang: SAAT, 2003), 394

13 http://www.bookrags.com/wiki/Lynn_Townsend_White,_Jr., diunduh pada tanggal 1 Nopember 2016.


14 Emanuel Gerrit Singgih, Agama Kristen dan Ekologi, 43.
15 A. Sunarko, dan A. Eddy Kristiyanto, 2008, 141.

membantu berkembangnya pandangan bahwa manusia boleh mengatasi ciptaan yang lain dan
bahwa manusia berhak menguasainya. Gagasan mengenai penguasaan manusia atas ciptaan
lainnya dalam kitab Kejadian telah ditafsirkan orang Kristen selaku mandat penguasaan
manusia, yang selanjutnya telah didukung pula oleh usaha ilmiah. Maka akar dari krisis
ekologis adalah pemahaman orang Kristen mengenai tugas menguasai yang ditafsirkan
menjadi penguasaan / pengeksploitasian.16 Keyakinan ini telah menyebabkan adanya sebuah
ketidakpedulian terhadap alam yang terus berdampak negatif dalam dunia industri pascaKristen. White menyimpulkan bahwa ide-ide fundamental kemanusiaan tentang alam ini yang
harus diubah, mereka harus meninggalkan sikap unggul dan suka menghina itu, yang telah
membuat mereka suka memanfaatkan bumi ini dengan seenaknya. 17 Dan untuk mencegah
kerusakan lebih lanjut terhadap lingkungan, White mengemukakan dua pilihan bagi manusia,
pertama, memperbaiki ajaran Kristen dengan mengadopsi pandangan St. Fransiskus Assisi,18
yang secara luas dianggap sebagai santo pelindung ekologi, yang telah mampu mewujudkan
sebuah demokrasi ciptaan di mana semua makhluk dihormati dan penaklukan manusia atas
ciptaan dibatasi, atau kedua, meninggalkan kekristenan sama sekali, dan menggantinya
dengan agama non-Barat, seperti Buddhisme Zen.19
Menurut Lynn, krisis lingkungan hidup yang disebabkan oleh perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi modern tersebut terjadi karena ajaran Alkitab khususnya
Perjanjian Lama tentang penciptaan (Harun, 2008: 29). Lynn meyakini bahwa karena Allah
yang dijelaskan di dalam Perjanjian Lama adalah Allah yang terpisah dari ciptaan-Nya maka
alam dipahami sebagai yang terpisah dari Allah, demikian pula manusia terpisah dari alam.
Keterpisahan ini disebut juga sebagai dualisme Allah dan dunia yang mengakibatkan sikap
kesewenang-wenangan manusia dalam mengeksploitasi alam yang terpisah dari Allah.
Selanjutnya di dalam Perjanjian Baru terkhususnya kitab Wahyu dijelaskan tentang bumi baru
yang akan datang bersamaan dengan peristiwa kedatangan Allah yang kedua kalinya. Kisah
16 Celia E. Deane-Drummond, Teologi dan Ekologi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 20.
17 http://www.bookrags.com/wiki/Lynn_Townsend_White,_Jr., diunduh pada tanggal 1 Nopember 2016.
18 Lynn, Jr. Mengatakan: Since the roots of our trouble are so largely religious, the remedy must also be essentially religious, whether
we call it that or not. We must rethink and refeel our nature and destiny. The profoundly religious,but heretical, sense of the primitive
Franciscans for the spiritual autonomy of all parts of nature may point a direction. I propose Francis as a patron saint for ecologists. Lih.
Lynn, Jr, The Historical Roots of Our Ecologic Crisis,1.207.

19 Lily Kong, 1990, Geography And Religion: Trends And Prospects, dalam: Progress in Human Geography, Vol. 14, No. III, 355-71,
London: Department Of Geography London University College 26 Bedford Way London, p. 17-19.

ini juga menegaskan keterpisahan Allah dan alam yang ada di dunia ini dan rencana Allah
untuk menggantikan alam di bumi dengan alam lain yang lebih sempurna. Konsep
keterpisahan antara Allah dan alam yang ditemukan baik dalam Perjanjian Lama maupun
Perjanjian Baru inilah yang melahirkan sikap tidak peduli kepada kelestarian lingkungan
hidup di kalangan umat Kristen.
Harvey Cox, di dalam bukunya Secular City, mengangkat ide yang sama dengan
White, yaitu bahwa kisah penciptaan mengakibatkan lahirnya pemikiran yang memisahkan
alam dari Allah dan manusia dari alam. Akibatnya alam yang dilepaskan dari pesona
ilahinya hanya dipandang sebagai objek biasa (Harun, 2008: 30). Pesona Allah yang
dihilangkan dari alam akibat pemisahan tersebut mengakibatkan manusia memanfaatkan
alam bagi perkembangan ilmu pengetahuannya. Cox, berbeda dari White, tidak memandang
pemisahan antara ciptaan dan Pencipta sebagai sesuatu yang secara utuh negatif. Pemisahan
antara ciptaan dan Pencipta dilakukan oleh Pencipta untuk menunjukkan bahwa Ciptaan
memiliki eksistensinya sendiri, ciptaan dipercaya untuk mengembangkan diri dan
kehidupannya dengan memanfaatkan lingkungan hidup disekitarnya. 20
Baik pandangan Brunner, White maupun Cox, sama-sama memberi penekanan pada
pemisahan antara Pencipta dan Ciptaan yang diakui dalam ajaran gereja berdampak pada
krisis ekologi. Walaupun Cox tidak sepenuhnya menyalahkan pemisahan ciptaan dan
Pencipta di dalam kitab Kejadian sebagai dasar kerusakan lingkungan, tetapi ia mengakui
bahwa penafsiran terhadap kisah tersebut telah melahirkan sikap yang berbeda bagi manusia
dalam menjalankan kehidupannya di sekitar lingkungannya. Pemisahan antara Pencipta dan
ciptaan melahirkan ruang berkreasi bagi manusia di dalam dunia yang seringkali tidak
dimanfaatkan dengan bijaksana. Di sini manusia menjadi penguasa atas ciptaan Allah yang
lain.
3. Apologetik: Kekristenan Bukan Melulu Akar Krisis Ekologi
Artikel yang telah ditulis oleh Lynn White mengundang kontroversi. Namun tak dapat
dipungkiri bahwa karena jasanyalah pemikiran mengenai ekoteologi semakin mengalami
perkembangannya. Sejak era 70-an inilah perdebatan berkenaan dengan ekoteologi dimulai
dalam wujud tanggapan-tanggapan terhadap pandangan White. Banyak teolog segera
mengemukakan pendapatnya melalui berbagai tulisan, diantaranya: James Barr dalam
tulisannya yang berjudul Man and Nature : The Ecological Controversy and the Old
20 Ibid,

Irene Ludji , Kerusakan Lingkungan Ditinjau dari Perspektif Ekologi dan Respon Agama-Agama,

Testament, yang diterbitkan dalam Bulletin of the John Rylands Library of the University of
Manchester No. 55, pada tahun 1972. Dalam tulisannya ini, Barr berpendapat bahwa memang
kerusakan alam ini diakibatkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Padahal ada
tuduhan bahwa Iptek itu lahir dari sikap religius Yahudi-Kristen terhadap alam. Terhadap hal
ini, menurut Barr, hasil penafsiran bahwa ada-tidaknya hubungan antara Iptek dengan Alkitab
itulah yang perlu mendapat kepastian. Pada kenyataannya Iptek memang mengalami
perkembangannya di dunia Barat, yang berlatar belakang Kristen. Tetapi agak berlebihan
kalau dirumuskan bahwa konsep penciptaan mengakibatkan lahirnya Iptek.21
James Barr mengatakan bahwa dominasi manusia yang dikumandangkan dalam
kisah penciptaan tidak sekedar bersifat eksploitatif semata, melainkan justru dekat dengan
pemikiran dunia Timur yang dikenal dengan baik oleh Sang Gembala Agung . Oleh karena
itu doktrin Yahudi-Kristen tentang penciptaan tidak perlu bertanggung jawab atas krisis
ekologis yang ada, seperti yang telah dituduhkan oleh Lynn. Sebab justru sebaliknya, bahwa
dasar alkitabiah yang dipakai sebagai doktrin Kristen ini akan cenderung ke arah yang
berlawanan, jauh dari tuntutan untuk mengeksploitasi alam, melainkan berupa tugas untuk
menghormati dan melindungi.22 Pada akhir tulisannya, dengan tegas Barr menyimpulkan
bahwa tradisi Yahudi-Kristen tidak langsung berhubungan dengan Iptek, dan karena itu tidak
bersangkut paut dengan kerusakan ekologis. Eksploitasi habis-habisan oleh manusia terhadap
alam selama ini sesungguhnya adalah pengaruh dari paham humanisme liberal, dimana
manusia tidak lagi menganggap diri di bawah naungan sang Pencipta.23
Selain Barr, teolog lain yakni John Macquarrie, juga memberikan tanggapannya
terhadap Lynn melalui tulisan yang berjudul Creation and Environment, pada tahun 1972.
Pada intinya ada 3 hal yang disampaikan Macquarrie dalam bukunya ini, yaitu: pertama,
tuduhan bahwa kisah penciptaan sebagai ajaran yang melahirkan Iptek tidaklah dapat
dibuktikan. Baik orang Ibrani maupun orang Kristen mula-mula tidak menelorkan teknologi,
sebab budaya Yunanilah yang mempeloporinya. Ini berarti bahwa hubungan antara doktrin
penciptaan dengan teknologi baru terjadi sebagai perkembangan kemudian, dalam

21 Emanuel Gerrit Singgih, Agama Kristen dan Ekologi, 47.


22 James Barr, dalam: Man and Nature: The Ecological Controversy and the Old Testament, Bulletin of the John Rylands Library of the
University of Manchester 55 (1972) : 22, 30, yang dikutip dalam: Christopher JH Wright, The Mission Of God: Unlocking The Bible's
Grand Narrative, (Downers Grove USA: InterVarsity Press, 2006), 425.

23 Emanuel Gerrit Singgih, Agama Kristen dan Ekologi, 49.

kebudayaan Eropa.24 Kedua, dalam tradisi Ibrani transendensi Allah tidak pernah terlepas dari
imanensi-Nya. Macquarrie mengistilahkan hal ini sebagai teisme dialektis yang erat
kaitannya dengan panenteisme dimana Tuhan adalah transenden: dari mana segala sesuatu
berasal; juga imanen: sebagai kekuatan yang mendukung dan merawat serta mengikat dunia
bersama-sama dengan diri-Nya.25 Sehingga penciptaan tidak selalu berakibat obyektifisasi.
Selalu ada unsur-unsur naturalisme yang terkandung dalam pemahaman Ibrani mengenai
penciptaan (bdk. Kej 9:10 tentang perjanjian Allah yang bukan hanya dengan Nuh (manusia)
saja melainkan juga dengan semua binatang di muka bumi; dan Maz 19:1 tentang alam
yang memantulkan kemuliaan Allah).

Ketiga, adanya kesejajaran antara konsep

penatalayanan dan model organis. Konsep penatalayanan di mana ada keseimbangan


antara tugas memanfaatkan sumber daya alam dengan tugas memelihara alam. 26 haruslah
dapat dilakukan secara sejajar di samping model organis di mana diakui adanya hubungan
secara organis antara Tuhan dengan seluruh ciptaan secara integral. Demikianlah sejarah
munculnya pemikiran tentang ekoteologi. Selanjutnya pada dekade-dekade berikutnya,
hingga saat ini, pemikiran tentang ekoteologi ini semakin mengalami perkembangan yang
pesat. Meski arah perkembangannya menuju pada corak yang semakin beragam, namun
gerakan ini mendapat banyak dukungan dari gereja-gereja sedunia, bahkan direstui juga oleh
Dewan Gereja-gereja se-Dunia.27
Secara khusus menjawab model penafsiran Brunner, White, dan Cox terhadap kisah
penciptaan dalam Kejadian 1 dan 2, berkembang berbagai model tafsiran eko-teologi yang
lain. Beberapa model eko-teologi yang akan dipaparkan berikutnya berisi usaha untuk
menjelaskan bahwa Alkitab dan ajaran gereja sesungguhnya memuat pesan penting bagi
manusia untuk melindungi lingkungan hidup. Kelima model ini dipilih karena mewakili
pergerakan pemikiran eko-teologi dari yang terbuka terhadap perlindungan lingkungan hidup

24 Ibid., 45-46.
25 http://www.quodlibet.net/articles/michaud-ecology.shtml, diunduh pada tanggal 1 Nopember 2016.
26 Robert P. Borrong. 2003, 162.
27 Berkenaan dengan perhatian dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup, gereja-gereja mulai memikirkannya secara serius sejak
tahun 1968 dalam Sidang Raya IV DGD di Upsala, Swedia. Selain itu, DGD juga mengadakan studi tentang lingkungan tahun 1971 yang
melahirkan dokumen bernama: the global environment, responsible choice and social justice. Selanjutnya dalam Sidang Raya DGD VI di
Vancouver, Canada, diputuskanlah tema tentang: Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace and Integrity of Creation
JPIC) yang akhirnya seringkali menjadi tema rutin Sidang-sidang Raya DGD pada tahun-tahun berikutnya. Lih. Robert P. Borrong, 259-260.

walaupun masih bersifat antroposentris (berpusat pada manusia) sampai kepada pandangan
eko-teologi yang berpusat pada inkarnasi Allah dan peran Roh Kudus.
Pertama, John Stott dengan model imago-Dei. Stott menjelaskan bahwa keberadaan
manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah atau imago Dei adalah dasar sikap
perlindungan manusia terhadap lingkungan hidup. Diciptakan menurut gambar Allah
memiliki tiga makna yaitu hubungan, komunitas, dan tugas khusus. Pertama, manusia yang
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah harus memiliki hubungan yang intim dengan
Allah yang berdampak pada sikap membawa damai kepada ciptaan Allah yang lain. Kedua,
Allah sejak penciptaan memandang seluruh ciptaanNya sebagai bagian dari sebuah
komunitas yang saling menopang. Manusia diciptakan untuk menopang ciptaan yang lain
sebagaimana ciptaan yang lain menopang keberlangsungan hidup manusia. Ketiga, manusia
sebagai gambar dan rupa Allah diberikan kuasa untuk menaklukkan (Ibrani: Kabbas) dan
berkuasa (Ibrani: Raddah) yang ditafsirkan oleh Stott sebagai tangggung jawab untuk
mengolah/mengusahakan, menjaga/merawat taman Allah, dan memberi nama kepada
ciptaan Allah yang lain (Pasang, 2011: 98).28 Model imago dei yang dikembangkan oleh
Stott ini jelas menekankan pada manusia sebagai yang lebih istimewa dibandingkan dengan
ciptaan Allah yang lain walaupun juga menaruh perhatian kepada tanggung jawab manusia
untuk memelihara ciptaan Allah yang non-human.
Kedua, John Macquarrie dengan model organis. Model ini yang menolak pemisahan
antara Pencipta dan ciptaan sebagaimana disampaikan oleh White dan Cox. Macquarrie
menjelaskan bahwa ada banyak bagian Alkitab, selain Kejadian 1 dan 2, yang menegaskan
hubungan yang tidak terpisah antara Allah sebagai Pencipta dengan dunia dan isinya sebagai
ciptaan, misalnya kejadian 9:10, Mazmur 19: 1; 29 (Harun, 2008: 31). Di dalam model
organis, Allah tidak dilihat sebagai Allah yang di atas manusia tetapi sebaliknya Allah dilihat
sebagai bagian dari kehidupan ciptaan. Kata organis menunjuk kepada ciri khas organisme
yang saling terhubung, membutuhkan, dan menopang satu dengan yang lain. Sebagaimana
organisme, demikian pula hubungan antara Allah selaku Pencipta dengan ciptaan-Nya
bukanlah hubungan atas-bawah tetapi hubungan bergantung yang saling memberi makna.
Ketiga, Jay B McDaniel dengan model pendekatan panenteisme. Istilah panenteisme
seringkali dipasangkan dengan istilah panteisme, keduanya berbeda definisi. Panteisme
adalah keyakinan bahwa Allah ada dalam semua ciptaan-Nya, sedangkan panenteisme adalah

28 Haskarlianus Pasang, Mengasihi Lingkungan, (Jakarta: Perkantas. 2011), 96-98

keyakinan bahwa semua ciptaan adalah bagian dari Allah. Dalam panteisme Allah tidak
dibedakan dari ciptaan, sedangkan dalam penenteisme Allah berbeda dengan ciptaan
walaupun tetap memiliki hubungan dekat dengan ciptaan-Nya. 29 McDaniel memahami kisah
penciptaan sebagai sebuah simfoni yang tak pernah selesai: yang dimainkan oleh orkes
dengan banyak pemain yang kreatif yang dikoordinasikan oleh Allah sebagai dirigen yang
terus menerus merayu mereka kepada kreativitas yang baru dan menghasilkan suatu
kerukunan di dalam perbedaan-perbedaan (Harun, 2008: 33-34). Model ini mengakui bahwa
ciptaan mewakili keindahan Penciptanya dan seluruh ciptaan dipanggil untuk hidup harmonis
bersama dengan Penciptanya.
Keempat, Sallie McFague, dengan model teologi kenosis. Teologi kenosis adalah
teologi yang difokuskan pada kisah inkarnasi Yesus Kristus ke dalam dunia. Teologi yang
dikembangkan oleh McFague ini tidak memandang Allah sebagai Pencipta yang terpisah dari
dunia dan ciptaan-Nya. Allah telah berinkarnasi dan menjadi bagian dari dunia di dalam diri
Yesus Kristus, Allah menyatu dengan dunia. Oleh karena itu, Allah dan dunia adalah
kesatuan.30 Akibatnya adalah ciptaan harus melihat dunia sebagai bagian dari tubuh Allah,
walaupun Allah tidak bisa dibatasi hanya dalam dunia saja tetapi Allah dapat diidentifikasi
lewat ciptaanNya.
Kelima, Denis Edwards dengan model teologi Roh Kudus. Edwards, melihat
peristiwa penciptaan sebagai proses yang masih terus-menerus berlangsung dengan
pengawalan dari Roh Allah sendiri (Harun, 2008:37). Roh Kudus berfungsi di dalam dunia
sebagai yang menyertai ciptaan dan merangkul ciptaan menuju sebuah kesinambungan. Roh
Kudus menderita bersama ciptaan yang menderita dan memberi kekuatan kepada ciptaan.
Menurut Edwards, Roh Kudus memainkan peran penting karena di dalam roh, segala
makhluk adalah bagian dari kita, dan kita bagian dari mereka, bersama-sama dihidupkan oleh
satu Roh yang merangkum semua (Harun, 2008: 40). Roh menyatukan ciptaan dengan
pencipta-Nya dalam persekutuan yang saling memelihara.
Kelima model eko-teologi yang dipaparkan diatas memiliki dua ciri yang relatif sama
yaitu: pertama, manusia bukan pusat dari ciptaan. Manusia bukanlah satu-satunya ciptaan
yang penting bagi Allah. Ajaran Alkitab yang menyatakan bahwa manusia diciptakan
menurut gambar Allah tidak membuat manusia diistimewakan oleh Allah dihadapan ciptaan
29 Tucker, Evelyn Mary and Grim A. John. Agama, Filsafat, & Lingkungan Hidup, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), 83
30 Sallie McFague , Blessed are the Consumers: Climate Change and the Practice of Restraint, (Fortress Press. Kindle Edition, 2013),
171-173.

non-human lainnya. Sebaliknya manusia yang setara kedudukannya dengan ciptaan Allah
yang lain, diingatkan untuk menjalankan peran memuliakan Allah lewat hidup yang harmonis
dengan ciptaan lain sebagai satu keutuhan ciptaan. Kedua, keutuhan antara Pencipta dan
ciptaan. Baik dengan menelusuri ayat-ayat Alkitab selain Kejadian 1 dan 2, menafsir ulang
kisah inkarnasi Yesus Kristus ke dalam dunia, maupun dengan mengutamakan peran Roh
Kudus, model-model di atas meyakini bahwa Allah sebagai Pencipta tidak terpisah dari
ciptaan-Nya. Allah hadir di tengah-tengah ciptaan-Nya lewat inkarnasi Yesus dan menyatu
dengan ciptaanNya. Allah menuntun ciptaan-Nya lewat Roh Kudus dan bergumul bersama
dengan mereka. Allah menderita bersama ciptaan-Nya dan menguatkan seluruh ciptaan-Nya
untuk menuju kepada pemulihan.

B. Penutup
Kritik White Lynn atas kekristenan yang dianggapnya sedikit-banyak berperan
sebagai salah satu penyebab mendasar kerusakan lingkungan hidup, menurut penulis di satu
sisi dapat diterima, tetapi di sisi lain juga penting dikritisi. Penerimaan tersebut berdasarkan
fakta yang ada, bahwa sedikit-banyak ayat Alkitab (atau dipahami juga sebagai doktrin
kekristenan) dari dahulu sampai sekarang ditafsirkan sepihak dan dipakai sebagai legatimasi
kekuasaan superior multak manusia atas seluruh ciptaan. Kita tidak boleh menutup mata atas
realita tersebut, namun kita juga mesti membuka mata bahwa ayat-ayat Alkitab yang
ditafsirkan sebagai doktrin tersebut tidak dapat serta-merta disalahkan, bahkan ia bisa saja
dimanfaatkan dan menjadi korban kambing hitam oleh segelintir orang secara personal atau
kolektif demi kepentingan ego negatif yang destruktif. Jadi menurut penulis yang patut
diperhatikan sebagai pihak yang bertanggung jawab adalah oknum manusia, bukan saja
ajaran kekristenan.
Dalam soal pemahaman terhadap Alkitab, perlu apresiasi yang lebih besar terhadap
bagian-bagian Alkitab yang menunjang pemahaman akan pentingnya pelestarian alam.
Perdebatan para teolog tentang sejauh mana Alkitab dapat menunjang program-program
penyadaran akan pentingnya alam, kiranya tidak perlu membuat kita terperangkap pada suatu
pendapat saja. Harus diakui paradigma antroposentris memang dominan dalam Alkitab tetapi
itu tidak harus membuat kita pesimis bahwa dalam Alkitab tidak ada sesuatu yang bisa kita
angkat sebagai isu ekologis. Persoalan yang sering kali timbul tidak melulu terletak pada
Alkitab tetapi pada cara membacanya atau pada kita sebagai pembacanya.

Berangkat dari kesadaran akan sesama ciptaan Tuhan maka cara berpikir yang masih
mempertahankan superioritas manusia atas alam tidak lagi dapat dipertahankan. Pembacaan
Alkitab yang dilandasi oleh kesadaran akan kemandirian alam akan menghasilkan
pemahaman yang baru. Bila kaum feminis berhasil memperlihatkan adanya kesadaran akan
ketidakadilan gender dapat membuat orang membaca Alkitab dengan kepekaan yang
membuatnya tidak menyepelekan perempuan, maka kita dapat berharap adanya kesadaran
akan kebesaran alam akan membuat orang lebih melihat pentingnya peranan alam dalam
Alkitab.
Ekologi bukan sesuatu yang tidak disentuh oleh Alkitab seperti klaim beberapa orang
yang begitu getol memperjuangkan kesadaran ekologi. Tetapi memang bahwa untuk melihat
sentuhan ekologis dalam Alkitab diperlukanlah paradigma baru, paradigma berpikir atau
berteologi yang menjadikan alam sebagai bagian integral dari karya penciptaan Allah maupun
karya penyelamatan Allah. Tiada penciptaan yang tidak berisi alam dan tiada keselamatan
yang tidak mengikutsertakan alam. Jika alam diciptakan Tuhan, alam juga diselamatkan
Tuhan. Tanpa penyelamatan alam, tiada penyelamatan yang utuh. Dan tanpa keselamatan
yang utuh, sebenarnya, belum ada keselamatan sama sekali.

Anda mungkin juga menyukai