Anda di halaman 1dari 21

BAB III

PELAKSANAAN RENCANA TINDAK LANJUT (RTL)

A. Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK)


1. Siklus 1
a. Persiapan
Diawali dengan berdiskusi dengan pengawas pembina dan para
guru di sekolah mengenai pentingnya penentuan Kriteria Ketuntasan
Minimal

(KKM)

sebagai

dasar

dalam

evaluasi/penilaian

hasil

pembelajaran. Hal ini dilakukan karena hampir 85% lebih guru tidak
paham dengan penentuan KKM. Agar semua guru paham dengan konsep
dan tata cara penentuan KKM, maka kami memprogramkan pelatihan
dalam bentuk IHT (In House Training) yang diharapkan dapat
memberikan pengetahuan kepada seluruh guru tentang Kriteria
Ketuntasan Minimal. IHT ini diselenggarakan di sekolah dengan
melibatkan seluruh guru dan pengawas pembina sebagai pendamping
selama dua hari dengan memanfaatkan waktu setelah pulang sekolah.
Persiapan yang dilakukan adalah membuat Surat undangan, ruangan yang
akan digunakan, perangkat multimedia yang diperlukan, jadwal
pelaksanaan IHT, materi yang akan di sampaikan pada saat pelatihan,
pemateri (Kepala Sekolah/peserta OJL), konsumsi dan lain.lain.
Anggaran yang dibutuhkan seluruhnya ditanggung oleh Kepala Sekolah
dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada di sekolah.

22

23

b. Pelaksanaan
Tema Rencana tindak kepemimpinan yang dilaksanakan yaitu
Upaya meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun Kriteria
Ketuntasan Minimal melalui In House Training yang diikuti oleh 13
orang guru sebagai peserta.
Pelaksanaan IHT diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan
penyampaian materi tentang konsep KKM, penentuan kompleksitas, daya
dukung dan intake siswa pada setiap kompetensi dasar. Setelah
penyampaian materi, peserta diminta unttuk menganalisis 3 komponen
KKM pada masing-masing indikator di tiap kompetensi dasar. Hasil
analisis kemudian dipresentasikan di depan kelas.
Pada hari kedua peserta di minta untuk menentukan KKM tiap-tiap
kompetensi dasar pada masing-masing mata pelajaran. Dari tiap
kompetensi dasar, akan di dapat KKM untuk tiap Standar Kompetensi
yang pada akhirnya akan mendapatkan KKM untuk tiap mata pelajaran.
c. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dilaksanakan untuk mengukur tingkat keberhasilan dari
kegiatan penentuan KKM diawali dengan penentuan KKM pada setiap
mata pelajaran. Kegiatan monitoring dan evaluasi melibatkan kepala
sekolah dan pengawas pembina. Instrumen monitoring dan evaluasi
diberikan setelah kegiatan dilaksanakan untuk mengukur kemampuan
calon kepala sekolah dalam merencanakan, melaksanakan sampai pada
hasil yang dicapai pada kegiatan IHT.

24

d. Refleksi
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, guru-guru di SMP
Alhilaal Sanana masih banyak yang bingung dengan penentuan KKM
mata pelajaran. Ada beberapa yang setelah menghitung nilai KKM
menggunakan angka pada indikator di setiap kompetensi dasar, telah
beranggapan bahwa itu sudah merupakan nilai KKM. Padahal mereka
tidak memperhatikan standar kompetensi pada yang ada pada tiap-tiap
mata pelajaran.
e. Hasil yang Diperoleh
Dari hasil monitoring dan evaluasi, pada pelaksanaan kegiatan IHT,
di dapat hasil yang baik dengan presentasi sebesar 80,76%. Sedangkan
hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan calon kepala sekolah
terhadap guru-guru dalam menentukan KKM dengan mengisi instrumen
monev dan menilai KKM yang telah dibuat guru adalah sebagai berikut:
No

Nama Guru

Perolehan Nilai

Ket

Fatima Fataruba, S.Pd

67,85

Hartati, S.Ag

80,36

Mahmud Yoisangadji

66,07

Rahsun Rantetiko, S.PdI

62,50

Faisal Duwila, S.Pd

60,71

Siti Hardiana Hasan, S.PdI

67,85

Sartini Mahmud, SS

67,85

Sutamin Umalekhoa, S.Pd

82,14

Ramida Umagapi, S.Pd

60,71

10

Maryani Sapsuha, S.Pd

67,85

25
11

Mardina Buamona, S.Pd

66,07

12

Ucing Umagapi, S.Pd

78,57

13

Hidayat Buamona, S.Pd

64,29

ANGKA

HURUF

KETERANGAN

86 100

Sangat Baik

71 85

Baik

56 70

Cukup

< 55

Kurang

Berdasarkan hasil penilaian terhadap KKM yang telah dibuat, dapat


disimpulkan bahwa dari 13 orang guru terdapat 3 orang guru memperoleh
nilai di atas 70 dengan ketegori (B), sedangkan sisnya 10 orang guru yang
masih mendapat nilai di bawah 70 dengan ketegori (C). Hal ini
menunjukkan bahwa sebagian besar guru-guru di SMP Alhilaal Sanana
masih belum memahami bagaimana menetapkan KKM pada tiap mata
pelajaran yang diampunya.
f. Kesimpulan
Penyampaian materi perlu diperbaiki sehingga pemahaman guru
terhadap materi yang disampaikan lebih mengena. Waktu yang singkat
penyampaian materi tidak semuanya terserap.
Sebagai tindak lanjut maka ke-10 orang guru tersebut diberikan
pendampingan oleh calon kepala sekolah dalam menetapkan KKM mata
pelajarannya untuk mempersiapkan perbaikan di siklus 2.

26

2. Pelaksanaan RTK Siklus Kedua


a. Persiapan
Mengevaluasi setiap tahapan yang telah dilaksanakan dalam
penetapan KKM di siklus 1 untuk memperbaiki hal-hal yang masing
kurang terhadap pelaksanaan IHT. Materi yang terasa sangat singkat
dijelaskan, disiapkan hard copy-nya untuk dibagikan kepada guru-guru.
Berkomunikasi dengan guru-guru apa-apa yang menjadi kendala mereka
ketika proses penetapan KKM dilakukan.
Hasil evaluasi dan diskusi tersebut dijadikan untuk melakukan
pendampingan kembali yang terjadwalkan dengan baik.
b. Pelaksanaan
Melakukan kegiatan pendampingan oleh calon kepala sekolah
dibantu oleh pengawas terhadap 10 orang guru yang berdasarkan hasil
monev masih kurang memahami penetapan KKM untuk mata pelajaran
yang mereka ampu.
c. Monitoring
Monitoring

dilakukan

melalui

observasi

kegiatan

dengan

melibatkan pengawas pembina. Instrumen monitoring dilakukan setelah


kegiatan pendampingan berlangsung untuk mengetahui ketercapaian
tujuan IHT yaitu meningkatkan kemampuan guru untuk menetapkan
KKM tiap mata pelajaran.

27

d. Refleksi
Berdasarkan hasil instrumen monitoring yang dilakukan terhadap
10 orang guru yang terbukti dapat meningkatkan kemampuannya dalam
menetapkan KKM mata pelajaran. Hal ini menandakan bahwa dengan
pendampingan yang dilakukan oleh calon kepala sekolah dapat
membantu guru-guru dalam mengatasi kesulitannya dalam menetapkan
KKM mata pelajaran yang diampunya.
e. Hasil yang Diperoleh
Dari kegiatan pendampingan yang dilakukan kepada 10 orang guru,
dapat disajikan hasilnya pada tabel berikut ini :
No

Nama Guru

Perolehan Nilai

Ket

Fatima Fataruba, S.Pd

71,43

Mahmud Yoisangadji

82,14

Rahsun Rantetiko, S.PdI

78,57

Faisal Duwila, S.Pd

89,29

Siti Hardiana Hasan, S.PdI

73,21

Sartini Mahmud, SS

78,57

Ramida Umagapi, S.Pd

80,36

Maryani Sapsuha, S.Pd

82,14

Mardina Buamona, S.Pd

83,93

10

Hidayat Buamona, S.Pd

78,57

f. Kesimpulan
Pada tabel diatas dapat disimpulkan bahwa ada kemajuan yang
didapatkan setelah dilakukannya pendampingan. Dari 10 orang yang
tadinya masuk pada kategori C sekarang tinggal 2 orang saja yang masih

28

di kategori yang sama, namun jika dilihat dari nilai yang diperoleh ada
kemajuan dari 67,85 menjadi 71,43 dan dari 67,85 menjadi 73,21.
B. Supervisi Guru Junior
Salah satu tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi akademik.
Setiap kepala sekolah harus memiliki dan menguasai konsep supervisi akademik
yang meliputi : pengertian, tujuan dan fungsi, prinsip-prinsip, dan dimensidimensi substansi supervisi akademik. Sasaran supervisi akademik adalah
kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Kegiatan

Supervisi Akademik secara umum dilaksanakan meliputi

kegiatan perencanaan, pelaksanaan, analisis hasil supervisi akademik dan tindak


lanjut supervisi akademik. Adapun kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Perencanaan
a. Membuat jadwal pelaksanaan supervisi guru junior
b. Merencanakan guru junior yang akan di observasi
c. Menyiapkan instrumen-instrumen (RPP dan Observasi Pelaksanaan
Pembelajaran)
2. Pelaksanaan
a. Pra Observasi
Mengadakan pertemuan dengan guru junior yang akan diobservasi dan
mendiskusikan

tentang

Rencana

Pelaksanaan

Pembelajaran,

Penggunaan Alat Peraga, Format Penilaian. Kemudian guru junior


diminta menyiapkan RPP yang akan di bawakan pada saat observasi di
kelas. RPP tersebut kemudian di nilai oleh calon kepala sekolah dengan
memperhatikan rambu-rambu dalam penyusunan RPP. Hasil penilaian
diisi dalam instrumen para observasi yang telah disiapkan sebelumnya.
b. Observasi

29

Calon kepala sekolah mengadakan observasi terhadap guru junior


selama 2 x 40 menit (1x pertemuan) adapun identitas guru junior yaitu :
Nama
: Hartati, S.Ag
NIP
: 19730611 201012 2 001
Jabatan
: Guru Mata Pelajara IPS
Pangkat/Gol : Penata Muda Tk. I, III/b
Supervisi akademik terhadap guru junior dilaksanakan pada kelas IX
yaitu tanggal 22 September 2016.
Pada saat observasi, kegiatan pembelajaran diawali dengan salam dan
doa. Setelah itu guru mengecek siswa yang tidak hadir dengan
menanyakannya ke ketua kelas. Setelah itu guru menyiapkan alat
peraga di depan kelas, dan mulai menyampaikan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai oleh peserta didik. Setelah itu peserta didik dibagi
menjadi beberapa kelompok dengan cara berhitung. Pada kegiatan inti,
guru memberikan arahan bagaimana untuk mengerjakan pertanyaanpertanyaan yang ada di lembar kerja yang disiapkan. Peserta didik
diminta untuk megerjakannya dengan membaca fotokopian materi yang
telah diberikan. Ketika bekerja di dalam kelompok, guru hanya
beberapa kali melihat aktivitas peserta didik yang mengerjakan tugas di
masing-masing kelompok. Guru hanya membantu 2 kelompok saja
dengan mengarahkannya untuk menjawab pertanyaan yang ada di
lembar

kerja.

Hasil

pekerjaan

masing-masing

kelompok

di

presentasikan di depan kelas. Kegiatan penutup, guru merangkum apa


yang telah dipelajari. Sebelum selesai disimpulkan, bel pergantian
waktu sudah berbunyi, guru langsung memberikan tugas kepada peserta
didik sebelum keluar dari kelas.
c. Pasca Observasi

30

Setelah observasi dilakukan kegiatan refleksi secara singkat dengan


guru junior. Guru junior ditanya bagaimana perasaan/kesan setelah
melakukan proses pembelajaran. Hal-hal positif yang telah dilakukan di
kelas di sampaikan kepada yang bersangkutan, kemudian hal-hal yang
masih kurang dan tidak cocok yang dilakukan pada saat di kelas untuk
diperbaiki. Setelah itu guru junior diberi instrumen format 3 (pasca
observasi) untuk diisi.
d. Tindak lanjut
Dari pelaksanaan kegiatan supervisi tersebut supervisor menghitung
nilai kemampuan guru yunior melaksanakan pembelajaran berdasarkan
hasil isian instrumen supervisi akademik diperoleh 65,2 % dalam
kategori kemampuan CUKUP.
Untuk observasi kelas calon kepala sekolah menyarankan untuk
menggunakan metode/pendekatan yang variatif, mendorong peserta
didik untuk memanfaatkan jaringan internet yang ada di sekolah sebaia
sumber belajar. Pengalokasian waktu pada saat proses pembelajaran
berlangsung agar di perhatikan sehingga dapat diselesaikan tepat waktu.
3. Hasil yang Diperoleh
Dari pengamatan pada siklus 1 dan siklus 2, untuk guru junior a.n Hartati,
S.Ag; untuk perencanaan kegiatan pembelajaran, ini diperlihatkan dengan
adanya peningkatan perolehan nilai skor (86,3%) menjadi (97,7%) dengan
klasifikasi A (Baik sekali), dan untuk kegiatan observasi kelas diperoleh
nilai skor (65,2%) menjadi (76,3%) dengan klasifikasi C (cukup) menjadi B
(Baik).

31

Dari pengamatan siklus 1 dan siklus 2, untuk guru junior a.n Hartati, S.Ag
pada observasi kelas ada peningkatan yang signifikan yaitu dari 65,2%
menjadi 76,3% dari klasifikasi C (Cukup) menjadi klasifikasi B (Baik)
Dari hasil wawancara dengan keduanya terlihat ada kepuasan, walaupun
belum sempurna, bahkan setelah kegiatan ini guru junior lebih antusias agar
program supervisi ini berkesinambungan, dengan supervisi akademik guru
junior merasakan adanya manfaat yang mereka rasakan, a) dalam
penyusunan RPP, b) pelaksanaan proses pembelajaran. Sehingga dapat
menigkatan kompetensi mereka.
C. Penyusunan Perangkat Pembelajaran
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Penyusunan perangkat pembelajaran merupakan hal penting yang harus
dilakukan oleh guru sebelum pelaksanaan proses pembelajaran. Perangkat
pembelajaran meliputi : 1). Analisa keterkaitan Standar Kompotensi dengan
Kompetensi Dasar, serta Indikator Pencapaian Kompetensi, 2) Silabus, 3)
program tahunan, dan 5) RPP.
Calon kepala sekolah juga adalah seorang guru karenanya dalam
menjalankan kewajibannya sebagai seorang guru, calon kepala sekolah juga
dituntut untuk menyusun RPP sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.
Bahkan karena calon kepala sekolah adalah calon pemimpin yang sedang
dilatih, ia harus lebih memahami dan memberikan contoh kepada rekan guru
lainnya dalam menyusun perangkat pembelajaran.

32

Tahap awal dalam pembelajaran yaitu menyusun perencanaan


pembelajaran yang diwujudkan yaitu pembuatan perencanaan pembelajaran
yang diwujudkan dengan kegiatan pembuatan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP).
RPP mencakup : 1). Data sekolah, mata pelajaran, dan kelas/semester,
Alokasi waktu 2). Standar Kompetensi (SK) 3). Kompetensi Dasar (KD) 4).
Indikator 5). Tujuan Pembelajaran 6). Materi Ajar 7). Metoda Pembelajaran
8). Langkah-langkah Pembelajaran. 9). Alat dan Sumber Belajar. 10).
Penilaian.

Dalam laporan On the Job Learning (OJL) ini calon kepala

sekolah juga menyusun RPP sesuai dengan mata pelajaran yang diampu.
Sebagai langkah awal dalam menyusun RPP adalah penulisan data sekolah,
mata pelajaran, dan kelas/semester, alokasi waktu. Dan sesuai dengan
program semester yang telah dibuat sebelumnya, bertepatan dengan materi
ajar Dasar-dasar penggunaan Internet/Intranet aloksi waktu 2 x 40 menit ( 2
jam pelajaran )
Penentuan SK dan KD diambil dari silabus untuk penentuan indikator
disesuaikan dengan SK, KD dan cakupan materi yang akan disampiakan. Alat
dan sumber belajar juga disesuaikan dengan kondisi dilapangan, dimana di
sekolah kami berapa guru telah memanfaatkan TIK dalam penyampaian
proses pembelajaran. Untuk langkah-langkah pembelajaran diawali dengan
pendahuluan

(memberi

salam,

mengecek

kehadiran

peserta

didik,

menyampaikan tujuan pembelajaran) pendahuluan selama 10 menit


dilanjutkan dengan kegiatan inti, diakhiri dengan kegiatan penutup.

33

Peserta

didik

dibagi

dalam

beberapa

kelompok,

kemudian

mengumpulkan informasi untuk menjawab lembar kerja yang telah sediakan


dengan cara browsing ke internet. Setelah menjawab pertanyaan yang ada di
lembar kerja, kemudian peserta didik diminta untuk merangkumnya secara
tertulis yang kemudian dibacakan hasilnya di depan kelas. Selama peserta
didik melakukan kegiatan ini guru dapat melakukan penilaian sikap, peserta
didik bersama guru membuat kesimpulan atas jawaban dari pertanyaan
(kegiatan ini berlangsung kurang lebih selama 60 menit). Dilanjutkan dengan
kegiatan penutup dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik bila
ada hal yang belum dipahami guru memberikan penjelasan atas pertanyaan
yang disampaikan peserta didik, peserta didik diberi tes tulis untuk
mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran dapat diserap peserta didik.
2. Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk
membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Jenis-jenis bahan ajar berdasarkan subjeknya terdiri dari dua jenis, yaitu
: a) Bahan ajar yang sengaja dirancang untuk belajar seperti buku, LKS. b)
Bahan ajar yang dirancang dapat dimanfaatkan untuk belajar menyatakan
bahwa jika ditinjau dari fungsinya maka bahan ajar yang dirancang terdiri
atas 3 kelompok, yaitu : bahan ajar persentasi, bahan referensi, dan bahan
belajar mandiri.
Berkaitan dengan salah satu tugas On the Job Learning (OJL) yaitu
menyusun bahan ajar, maka calon kepala sekolah juga mencoba menyusun

34

bahan ajar. Seperti yang diuraikan di atas tentang pengertian bahan ajar dan
dasar pengembangan bahan ajar, diantaranya adalah ketersediaan bahan
sesuai tuntutan kurikulum, artinya bahan ajar yang dikembangkan harus
sesuai dengan kurikulum, karakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang
dikembangkan dapat disesuiakan dengan karakteristik siswa sebagai sasaran.
Maka pengembangan bahan ajar yang dilakukan guru akan sangat
bermanfaat.
3. Instrumen Penilaian
Penilaian memang peranan yang penting dalam pembelajaran. Penilaian
berfungsi untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran.
Kurikulum KTSP memberlakukan sistem autentik dalam penilaiannya, artinya
penilaian pembelajaran yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Dalam RPP instrumen penilaian ada dibagian paling akhir, untuk
keperluan On the Job Learning (OJL) calon kepala sekolah juga melakukan
penyusunan instrumen penilaian.
D. Pengkajian Aspek Manajerial
Dalam mengkaji 9 aspek manajerial, sebagai langkah persiapan calon
kepala sekolah menyiapkan beberapa dokumen, 1) Bahan ajar yang didapat
berupa modul pada kegiatan In-Service 1. 2) Untuk mencari kondisi ideal
digunakan atau berpedoman pada Permendiknas/Permendikbud sesuai dengan
aspek kajian manajerial. 3) Instrumen kajian 9 aspek manajerial yang akan
dijadikan panduan mencari informasi dari pemegang jabatan di sekolah, dan 4)

35

format wawancara yang diperlukan untuk menambah kelengkapan data sesuai


aspek yang dikaji.
1. Rencana Kerja Sekolah
Setelah mempelajari bahan pembelajaran penyusunan rencana kerja
sekolah (RKS) kemudian mengkaji RKS dan RKJM SMP Alhilaal Sanana
dan SMP Negeri 1 Sanana, penulis mengerti dan memahami beberapa cara
penyusunan RKS dan RKJM diantaranya model RKS/RKJM yang disusun
dikembangkan berdasarkan rekomendasi EDS mengelompokkan kegiatankegiatan sekolah ke dalam 8 standar : 1) Standar isi, 2) Standar proses, 3)
Standar kompetensi lulusan, 4) PTK, 5) sarana dan prasarana, 6)
pengelolaan, 7) pembiayaan, dan 8) penilaian.
Di sekolah magang 1 dan 2, RKS memuat kegiatan-kegiatan: 1)
kesiswaan, 2) kurikulum dan kegiatan pembelajaran, 3) PTK serta
pengembangannya, 4) sarana dan prasarana, 5) keuangan dan pembiayaan,
6) budaya dan lingkungan sekolah. Stakeholder yang ada, belum dilibatkan
dalam menyusun RKS, baik di sekolah magang 1 maupun di sekolah
magang 2. Belum ada tim pengembangan sekolah yang menyususn EDS
sebagai dasar penyusunan RKS. Kondisi ini ditemui di sekolah magang 1
maupun sekolah magang 2.
2. Pengelolaan Keuangan Sekolah
Di sekolah magang 1 dan 2, sumber keuangan sekolah berasal dari
pemerintah berupa BOS pusat (APBN) dan Dana Rutin (APBD). Namun
ada peraturan daerah yang melarang sekolah melakukan pungutan pada
peserta didik sehingga sumber keuangan sekolah terbatas hanya

36

mengandalkan dari dana BOS dan Dana Rutin, sementara dana BOS dan
dana rutin peruntukannya sudah ditentukan pengalokasiannya, tidak bisa
digunakan seperti mendistribusikan dana yang bersumber dari masyarakat
sehingga solusi menghadapi peraturan daerah tersebut adalah Sekolah
melakukan pengolahan keuangan secara efektif dan efisien, dimana
pembiayaan lebih difokuskan kepada kegiatan sekolah yang dianggap sangat
penting dan diprioritaskan. Namun karena minimnya jumlah dana yang
diterima, banyak hal yang tidak dapat disediakan untuk memenuhi 8 standar
nasional pendidikan.
3. Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pada sekolah magang 1 (SMP Alhilaal Sanana), perencanaan
pemenuhan kebutuhan tenaga guru dan administrasi belum dibuat. Sekolah
belum memiliki perencanaan dalam memenuhi standar untuk guru dan
tenaga kependidikan. Rata-rata guru telah berijazah S-1 dan mengajar sesuai
dengan latar belakang pendidikannya. Namun ada 4 orang guru yang latar
belakang pendidikannya berbeda dengan mata pelajaran yang diampunya.
Yang belum terpenuhi di sekolah magang 1 yaitu ketersediaan guru konselor
yang sesuai standar.
Pada sekolah magang 2, keadaannya hampir sama dengan sekolah
magang 1. Ada 4 orang guru yang belum berijazah S-1, tetapi dua
diantaranya sedang menyelesaikan pendidikan S1-nya. Kepala sekolah telah
bersertifikat pendidik, dengan kualifikasi akademik S-1. Jumlah guru
dengan rombel masih kekurangan untuk mata pelajaran Bahasa Inggris,

37

Bahasa Indonesia, Matematika, Pendidikan jasmani dan IPS serta guru


konselor.
Di sekolah magang 1, tidak memiliki kepala administrasi yang sesuai
dengan standar dan diangkat/di-SK-kan oleh pemerintah daerah. Jumlah
tenaga administrasi sebanyak 7 orang dengan kualifikasi pendidikan SMA
sederajat. Dengan jumlah yang banyak itu, kompetensi yang dimilikinya
masih kurang sehingga tugas-tugas administrasi belum sepenuhnya
terselesaikan. Sedangkan di sekolah magang 2, terdapat kepala administrasi
yang diangkat/di-SK-kan sebagai kepala administrasi.
Kepala perpustakaan dan kepala laboratorium telah ada baik di
sekolah magang 1 maupun sekolah magang 2, namun belum memenuhi
standar.
4. Pengelolaan Administrasi Sekolah
Di SMP Alhilaal Sanana (sekolah magang 1) terdapat pelaksana
administrasi keuangan, administrasi sarana dan prasarana serta administrasi
persuratan dan pengarsipan. Sedangkan untuk pelaksana administrasi yang
lain belum terlaksana. Tidak ada petugas layanan khusus di sekolah magang
1. Di sekolah magang 2, terdapat tenaga administrasi Kepegawaian,
Administrasi Keuangan, Administrasi Sarana dan Prasarana, Administrasi
Urusan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat, Administrasi Persuratan dan
Pengarsipan, Administrasi Kesiswaan dan Administrasi Kurikulum. Petugas
layanan khusus yang tersedia adalah, penjaga sekolah, tukang kebun, tenaga
kebersihan, pesuruh dan pengemudi. Kepala perpustakaan dan kepala
laboratorium sepenuhnya ditugaskan kepada guru yang dianggap mampu

38

untuk mengelolanya. Jadi belum ada standarisasi untuk menempatkan guru


atau pegawai untuk menjadi kepala perpustakaan dan kepala laboratorium.
5. Pengelolaan Sarana dan Prasarana Sekolah
Sarana prasarana di sekolah magang 1 banyak yang masih kurang dan
tidak layak untuk digunakan. Banyak ruangan yang sudah tidak bisa
difungsikan untuk tempat belajar. Laboratorium hanya ada bangunannya,
tetapi isi berupa peralatannya tidak ada. Perpustakaan masih kekurangan
buku pegangan, buku referensi ataupun buku-buku bacaan. Sekolah
memiliki jaringan internet yang diharapkan dapat membantu guru dalam
proses belajar mengajar, dimana sumber belajar yang ada sangat terbatas.
Pada sekolah magang 2, sebagian besar sarana prasarananya hampir
lengkap. Ada penambahan ruang kelas baru, untuk memenuhi jumlah siswa
yang peminatnya dari tahun ke tahun semakin bertambah. Ada beberapa
sarana ataupun prasarana yang perlu di perbaiki dan ditambah seperti belum
adanya laboratorium komputer, masih banyak komputer yang rusak dan
tidak bisa dimanfaatkan, kamar WC yang tidak bisa digunakan, kantin
sekolah yang nyaman. Alat-alat yang digunakan untuk pembelajaran seperti
infokus baru tersedia 1 buah, alat-alat olahraga ada beberap yang sudah
harus diganti.
Dari kondisi di dua sekolah magang tersebut diatas, sistem pelaporan
dan perencanaan terkait sarana prasarana yang belum dibuat. Penyediaan
sarana prasarana hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah daerah atau
dengan pembelian, peminjaman atau rekondisi.

39

6. Pengelolaan Kurikulum
SMP Alhilaal Sanana merupakan sekolah imbas Kurikulum KTSP
2013. Namun kurikulum yang berlaku dan digunakan sekarang adalah
KTSP. Dokumen 1 dan dokumen 2 disusun masih mengikuti standar dari
contoh kurikulum yang ada, belum berdasarkan kebutuhan dan hasil
analisis. Sedangkan pada SMP Negeri 1 Sanana, kurikulum yang berlaku
adalah Kurikulum 2013 untuk kelas VII, sedangkan kelas VIII dan IX
menggunakan KTSP 2006. Dokumen kurikulum yang baru dibuat dan
disusun adalah KTSP 2006, sementara kurikulum 2013 masih dalam
penyempurnaan.
7. Pengelolaan Peserta Didik
Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan peserta didik
kemudian mengkaji pengelolaan peserta didik sekolah tempat magang,
penulis memiliki pemahaman tentang perencanaan dan penerimaan peserta
didik baru. Kegiatan pembinaan peserta didik sebagaimana diatur dalam
permendiknas nomor 39 tahun 2008 tentang pembinaan dimaksud adalah :
1. Pembinaan budi pekerti luhur atau akhlak mulia;
2. Melaksanakan tata tertib sekolah;
3. Melaksanakan gotong royong dan kerja bakti (bakti sosial);
4. Melaksanakan norma-norma yang berlaku dan tatakrama pergaulan;
5. Menumbuhkembangkan kesadaran untuk rela berkorban terhadap
sesama;

40

6. Melaksanakan

kegiatan

7K

(Keamanan,

kebersihan,

ketertiban,

keindahan, kekeluargaan, dan kedamaian ).


Penulis juga mendapat informasi dan pengetahuan tentang kegiatankegiatan pengembangan diri siswa yang dikembangkan berdasarkan bakat,
minat, kreativitas dan kemampuan siswa. Untuk mengembangkan
penguasaan kompetensi dalam pengelolaan peserta didik, penulis akan lebih
banyak membaca bahan-bahan pembelajaran terkait pengelolaan peserta
didik dari berbagai sumber.
8. Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran
Pada sekolah magang 1, pemanfaatan TIK masih terasa kurang, hanya
beberapa orang guru yang mencoba menggunakan jaringan internet sebagai
sumber belajarnya. Ada juga guru yang memanfaatkan televisi di sekolah
sebagai sumber belajarnya.
Pada sekolah magang 2, penggunaan infokus, internet maupin media
TIK yang lain hanya digunakan oleh guru mata pelajaran Tikom.
Kemampuan guru dalam menyajikan materi menggunakan software aplikasi
masih sangat minim, dimana jumlah sarana TIK yang tersedia masih
terbatas. Namun hal ini sudah direncanakan pada rencana kegiatan sekolah
untuk memenuhi kebutuhan guru akan sarana yang memadai dalam proses
belajar mengajar di kelas.
9. Monitoring dan Evaluasi
Setelah mempelajari bahan pembelajaran monitoring dan evaluasi
program sekolah kemudian mengkaji monitoring dan evaluasi sekolah

41

tempat magang, berdasarkan Permendiknas nomor 13 tahun 2007


kompetensi manajerial mencapai terget kompetensi Melakukan monitoring,
evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah dengan
prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya Penulis belum
mendapatkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh sekolah
magang berdasarkan prinsip-prinsip monitoring dan evaluasi sehingga
belum memperoleh pengetahuan yang utuh yaitu paham secara teori dan
praktek. Untuk meningkatkan penguasaan kompetensi penulis dalam
pelaksanaan monitoring dan evaluasi program sekolah, maka penulis
berharap agar dapat dilibatkan secara langsung dalam pelaksanaan monev
program-program sekolah dimasa yang akan datang.
E. Peningkatan Kompetensi Berdasarkan AKPK di Sekolah Magang 2
Dalam peningkatan kompetensi yang masih kurang berdasarkan AKPK
(kompetensi sosial), maka penulis melakukan pembelajaran dan pengkajian pada
sekolah magang 2 yaitu SMP Negeri 1 Sanana dengan beberapa langkah:
A. Persiapan
Dalam kegiatan perencanaan, penulis mempersiapkan instrumen wawancara
untuk kepala sekolah. Selain itu penulis juga berkoordinasi dengan kepala
sekolah untuk memaparkan tujuan OJL pada sekolah beliau bahwa ada dua
kegiatan yang akan dilaksanakan di sekolah magang 2 ini dan salah satunya
adalah peningkatan AKPK berkenaan dengan kompetensi sosial. Penulis juga
menyampaikan teknik dan cara pengambilan data dan informasi berkaitan
dengan kegiatan tersebut. Pemaparan tujuan dan teknik ini dapat di pahami,

42

sehingga Kepala Sekolah memberikan ruang dan waktu yang sebaikbaiknya kepada penulis.
Penulis juga meminta kesiapan beberapa orang guru dan pegawai untuk
diwawancara serta menentukan pelaksanaan wawancara tersebut.
B. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan penulis berusaha mempelajari kompetensi sosial yang
dimiliki oleh kepala sekolah dengan cara melakukan wawancara kepada
kepala sekolah dan beberapa orang guru.
C. Hasil
Hasil dari wawancara kepada kepala sekolah dan beberapa guru, maka dapat
di simpukan bahwa kompetensi sosial yang dimiliki Kepala SMP Negeri 1
Sanana cukup tinggi dan bisa dijadikan sebagai pembelajaran yang berarti
bagi penulis sebagai calon kepala sekolah.
Dari hasil wawancara kami berkesimpulan bahwa komunikasi yang
intens dapat membangun hubungan yang baik dengan semua warga sekolah
maupun stakeholder yang ada pada satu sekolah. Tentunya sifat mengayomi,
melindungi, perhatian yang membuat hubungan kedekatan emosional kepala
sekolah dengan seluruh warga sekolah dapat terjaga dengan baik.
Pada akhirnya, setelah melakukan On the Job Learning (OJL) pada
SMP Negeri 1 Sanana, penulis mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat
bagaimana memupuk jiwa sosial sebagai seorang pimpinan terhadap
bawahannya maupun dilingkungan tempat kita bekerja. Salah satu hal yang
bisa penulis terapkan dalam peningkatan kompetensi sosial dimasa yang
akan datang adalah membangun komunikasi yang baik dengan seluruh warga
sekolah maupun stakeholder yang ada sehingga suasana kekeluargaan dapat
terjalin dengan baik di lingkungan sekolah.