Anda di halaman 1dari 57

KIMIA FISIKA 1

Satuan Studi 2
HUKUM PERTAMA
TERMODINAMIKA

Oleh
Ir. M S Tupamahu
Kerjasama
Departemen Teknologi Kimia ITB, dengan

Technische Hogeschool Twente, Nederland


Satuan Studi 2
DAFTAR ISI
Daftar Besaran Ilmiah, Konsep dan Prinsip

iii

Pendahuluan

iv

Tujuan

vi

1.

HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA

2.1

Pendahuluan

2.2

Beberapa Pengertian Dasar dan Konsep

2.2.1

Sistem dan Lingkungan

2.2.2

Keadaan Sistem dan Fungsi Keadaan

2.2.3

Perubahan Keadaan

2.2.4

Kalor dan Kerja

2.3

Hukum Pertama Termodinamika

2.3.1

Energi-dalam dan perubahan energi-dalam

2.3.2

Perumusan hukum pertama termodinamika

10

2.4

Fungsi Entalpi dan Perubahan Entalpi

12

2.5

Kapasitas Kalor

12

2.5.1

Kapasitas kalor pada volum tetap dan pada tekanan tetap

13

2.5.2

Hubungan antara Cp dan Cv

14

2.5.3

Pengaruh temperatur pada kapasitas kalor

15

2.6

Proses Ekspansi Joule-Thomson

16

2.7

Aplikasi Hukum Pertama pada Reaksi Kimia

19

2.7.1

Kalor reaksi pada volum tetap dan tekanan tetap

20

2.7.2

Entalpi pembentukan standar

21

2.7.3

Entalpi perubahan fasa kalor laten

24

2.7.4

Kalor Pelarutan

25

2.7.5

Kalor Pembentukan Ion

26

2.7.6

Perkiraan kalor reaksi dari energi ikatan

29

2.7.7

Pengaruh temperatur pada kalor reaksi

32

2.8

Skema Metoda Penyelesaian Problema Secara Sistematik (PPSS)

36

2.9

Lembaran PPSS

38

2.10

Lembaran Hubungan Pokok (HP)

39

2.11

Contoh contoh soal yang diselesaikan dengan metoda PPSS

40

2.12

Soal soal Latihan

57

Lampiran-1 : Jawaban Soal-soal Latihan

63

Lampiran-2 : Daftar Berat Atom, Tetapan dan Faktor Konversi

64

Daftar besaran ilmiah, konsep dan prinsip yang di gunakan dalam satuan ini

Persamaan keadaan
gas ideal PV=nRT
Pers.lead.V.d.waals
[P + (n2a/V2)] (V
nb) = nRT
Factor daya mampat
Z= PV/nRT

Dibahas dalam satuan ini


Pokok-pokok
no
fatsa!
System dan
2.2.1.
lingkungan
Fungsi keadaan
2.2.2.
diferensial total
Perubahan
2.2.2
reversible
.
Kalor, q
2.2.3.
Kerja, W
Kerja ekspansi
2.2.4.
Kerja ekspansi
reversible =dw
2.2.4.
PdV
Fungsi energi
2.2.4.
dalam, U
Perubahan energi 2.2.4.
dalam = U
Du=dqv, U=qv 2.3.1.
Hokum pertama
termodinamika
2.3.1.
du=dq + dw
2.3.2.
2.3.2.

Pokok-pokok
Funsi entalpi,
H=U+PV
dH=Dqp, H=Qp
kapasitas kalor C=dq/
dT
kapasitas kalor pd
Ptetap, cp
kapasitas kalor pada
V tetap Cv
cp-cv=r
cp=a+bT+cT
ekspansi joule,
Thomson koef. J.
T.U=(DT/DP) h
temperature inverse
entalphi pembentukan
standart Hf
Hf
unsure=0(konversi)
Entalpi perubahan
fasa kalor pelarutan
integral kalor
pengenceran integral
Entalpi perubahan
fasa kalor pelarutan
integral
Kalor pengenceran
integral.

No
fatsa!
2.4.
2.4.
2.5.
2.5.1.
2.5.1.
2.5.2..
2.5.3.
2.6.
2.6.

Poko-pokok
Kalor
pembentukan
ion
Enegi disosiasi
ikatan energi
ikatan rat-rata
Entalpi reaksi,
H=v;H;
H=U+(n)
RT
Entalpi standar
reaksi H=v;
H;=
v, Hf, ;
Persamaan
kirchof
cp= v; cp;

No
fatsa
2.7.5
2.7.6
2.7.6
2.7.7
2.7.1
2.4.7

2.6.

2.7.7

2.7.2.

2.7.7

2.7.2.
2.7.3.
2.7.4.
2.7.4.

Pendahuluan
Dalam satuan studi 2 di bahas hukum pertama termodinamika dan penggunaanya baik
pada proses transfer fisik maupun pada reaksi kimia. Dimulai dengan memberikan penjelasan
tentang beberapa pengertian yang penguasaannya oleh para mahasiswa merupakan syarat mutlak
untuk dapat memahami dengan baik uraian selanjutnya, satuan ini melanjutkan dengan
pembahasan dua fungsi penting, yaitu fungsi energi dalam, u, dan fungsi entalpi, h, serta
perumusan hukum pertama dalam bentuk matematik yang biasanya dipergunakan dalam
perhitungan. Pada bagian akhir dari satuan ini kemudian dibahas cara-cara perhitungan
perubahan energi dalam perubahan dan perubahan entalpi pada proses transisi dan pada reaksi
kimia skema metode penyelesaian problema secara sistematik serta contoh-contoh soal yang
dikerjakan dengan metode ini juga diberikan.
Dari perjalanan penulis dalam memberikan kuliah kimia fisika teryata bahwa para
mahasiswa seringkali menemui kesuliatan dalam menyelesaikan problema-problema
termodinamika. Kesulitan ini, menurut pendapat penulis bersumber pada berbagi sebab :

1. kurang penguasaan dari pengertian-pengertian dasar, seperti mislanya sistem, fungsi


keadaan, difesensial total, proses reversibel, dan sebagainya.
2. penggunaan yang tidak tepat dari perasamaan atau hubungan termodinamika. Hendaknya
di perhatikan bahwa banyak persamaan atau hubungan tidak berlaku secara umum dan
hanya boleh dipergunakan dalam situasi tertentu saja. Umpamanya, persamaan poission
tetap, seringkali dipergunakan pada setiap proses adiabatic, padahal persamaan ini hanya
berlaku apabila proses tersebut, yang menyangkut gas ideal, berjalan.

Tujuan :
Setelah anda memplajari satuan-studi ini anda harus dapat:
1. memberikan definisi yang tepat dari berbagai pengertian yang tercantum pada daftar
besaran ilmiah konsep dan prinsip pada hal. iii
2. mendemonstrasikan kebolehan anda penguasaan definisi tersebt dengan cara menarik
kesimpulan yang tepat dari ketentuan. Ketentuan yang mneyangkut definisi tersebut.
Umpamanya dalam menganalsia sesuatu problema.
3. menulis semua hubungan pokok dengan syarat-syaratnya tanpa melihat dalam diktat atau
dalam lembaran hp.
4. menggunaka hubungan pokok dalam menyelesaikan problem seperti:
a) perhitungan parameter system P,V dan T pada proses-proses isotherm, isobar, isokhor
dan adiabatic;
b) perhitungan W, Q, U dan H,
c) perhitungan kalor reaksi dari data entalpi pembentukan satndar
d) perkiraan kalor reaksi dari data energi ikatan;
e) perhitungan kalor reaksi sebagi fungsi dari temperature
reversible.
3. cerobaoh dalam penggunaan notasi, lambang atau tanda. Umpamanya dalam penulisan
dV =N Cv dT.
4. kurang adanya latihan membuat soal
oleh karena itu, dalam mempelajari satuan studi ini para mahasiswa hendaknya :
(1) memahami pengertian-pengertian dengan baik,
(2) memperhatikan dengan seksama syarat-syarat berlakunya persamaan atau hubungan yang
di turunkan ;
(3) tidak ceroboh dalam menuliskan notasi atau lambang,
(4) menyediakan waktu untuk latihan membuat soal-soal.
Masih terdapat banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa sudah cukup dengan memahami
soal-soal yang deikerjakan oleh dosen atau dengan cara penyelesaianya diberikan sebagi
contoh. Dalam latihan membuat soal sangat dianjurkan untuk mempergunakan metode PPSS.

2. HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA


2.1.pendahuluan
Termodinamika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari transformasi dari berbagi
bentuk
energi.
Pembatasan-pembatasan
dalam
trasformasi
ini
serta
penggunaanya.termodinamika didasarkan atas dua postulat pokok yang dikenal sebagai
hukum pertama dan hukum kedua. Hukum pertama menyangkut masalah pertukaran energi.
Sedangkan hukum ke dua membahas arah dari pertukaran tersebut. Kedua hukum ini tidak
dapat di buktikan secara matematik, kebenaranya adalah berdasarkan pengalaman manusia
semata-mata.
Pembahasan termodinamika dapat dilakukan secara klasik dan secara statistic. Pada
termodinamika klasik sistem dibahas dari sifat-sifat makroskopisnya : pada termodinamika
statistic system di tinjau sebagi suatu kumpulan dari sejumlah besar molekul-molekul dan
sifat-sifat mikroskopisnya dihitung dari sifat sifat molekul dengan menggunakan cara-cara
mekanika statistic
Bagi ahli kimiapengetahuan tentang termodinamika adalah penting skali oleh karena
banyak penggunanya, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun bidang ilmu teknik
misalnya, aplikasi dari termodinamika pada sistem kimia memungkinkan perumusan syaratsyarat kesepontanan dan kesetimbangan reaksi. kedudukan kestimbangan reaksi, yang
dinyatkan secara kauntitatif dengan tetapan kesteimbangan dapat pula di evaluasi

2.2. beberpa pengertian dasar dan konsep


2.2.1 Sistem dan lingkungan
Dalam pembahasan termodinamika memusatkan perhatianya pada suatu bagian tertentu
dari alam semesta, yang disebut sistem. Sistem dapat berupa suatu zat atau campuran zat-zat
yang di pelajari sifat-sifatnya pada kondisi yang dapat di atur. Sitem-sistem penting dalam
ilmu teknik adalah gas(misalnya udara), uap(misalnya uap air), campturan gas (misalnya uap
bensin da udara), dan uap dalm kontak dengan cairanya itu(misalnya cairan dan uap
amonik ). Termodinamika kimia, kecuali hal tersebut diatas, ojuga mempelajari padatan film
permukaan dan sel-sel elektokimia
Segala sesuatu yang berada di luar system di sebut lingkungan system terpisah dari
lingkungannya dengan batas-batas tertentu yang dapat nyata atu tidak nyata. Dalam bnyak hal
batas-batas sitem adalah permukaanya, misalnya pada setetes cairan antar sistem dan
lingkunagn dapat terjadi pertukaran energi dan materi. Berdasarkan pertukaran ini dapat di
bedakan 3 macam:

1. sistem tersekat, yang dengan lingkunagnya tidak dapat mempertukarkan baik energi
maupun materi. Contoh ; botol termos yang ideal.
Sistem tersekat merupakn sistem dengan energi tetap, walaupun didalamnya dapat terjadi
perubahan energi dari satu bntuk ke brntk lainya.

2. sistem tertutup, yang dengan lingkunganya hanya dapat mempertukarkan enrgi. Contoh :
sejumlah gas dalam slinder
3. sistem terbuka, yang dengan lingkungan dapat mempertukarkan energi dan materi.
Contoh: suatu zat atau campuran zat-zat dalam gelas piala terbuka.
2.2.2. Keadaan system dan fungsi keadaan
Suatu sistem berada dalam keadaan tertentu apabila semua sifat-sifatnya mempunyai
harga tertentu yang tidak berubah dalam waktu. Keadan sistem ditentukan oleh sejumlah
parameter atau variable sistem(misalnya temperature, tekanan, volume, zumlah zat,
komposisi, energi dalam, entropi, dan sebaginya). Jumlah parameter yang diperlukan
bergantung pada sistem itu sendiri. Untuk suatu gas tunggal misalnya, di perlukan tiga
parameter, seperti jumlah mol, temperature dan tekanan. Bila ketika parameter ini telah di
tentukan harganya, maka gas teersebut berada dalam keadaan tertentu dan semua variable
sistem lainya mempunyai harga tertentu pula
Variable sistem dapat di golongkan sebagi variable intensif, yang tidak bergantung pada
ukuran sistem(tekanan, temperature, ekstensip, yang bergantung pada ukuran sistem(massa
volume , energi dalam, entropi, dan sebaginya).
Setiap besaran atau variable yang harganya hnya tergantung pada keadan sistem dan tdak
bergantung pada bagimana keadan itu tercapai, di sebut fungsi keadaan. Fungsi keadan
misalnya temperature, tekanan, volume, energi dalam, entropi, dan sebaginya. Pada
prinsipnya setiap fungsi keadan data dinyatakn sebagi fungsi dari suatu set variable yang
cukup untuk menetukan keadaan system. Misalnya untuk gas ideal dapat ditulis V= V(nT,P)
P=p(n,T,V) atau T=T(n,p,V)
Diferensial dari setiap fungsi keadan merupakn diferensial total. Jadi, bila x adalah suatu
fungsi keadan maka dx adalah diferensial total. Sifat-sifat dx sebagai diferensial total dapat di
simpulkan
sebagai
berikut .
2

1.

dx x 2 x1

dx 0
2.
3.

Bila x adalah fungsi dari y dan z maka


X=f(y,z)

dx (

x
x
)dy ( )dz Mdy Ndz
y
z

M (
Dengan,

x
x
)danN
z
z

m
n
)( )
z
y

Dapat dibuktikan bahwa


Pertanyaan : buktikan pers. (2,3)

2.2.3 Perubahan keadaan


Bila suatu sitem mengalami perubahan keadan, maka perubahan ini sudah tentu bila
keadan awaldan keadan akhir system di ketahui. Urutkan keadan keadan anara yang dilalui
system dalm perubahan ini di sebut jalanya yang sudah di tentukan di sebut prose. Suatu
prose dapat bersifat reversible atau tidak reversible .
Dalam termodinamika proses reversible adalah yang harus memenuhi 2 persyaratan :
(a) proses itu dapat di Batalkan arahnya sehingga setiap keadaan antara yang telah di
lalui oleh sistem aka dilaluinya kembali dengan arah yang berlawannan
(b) proses itu harus berlangsung demikian lambatnya sehingga
Setiap keadaan antara yang dilalui oleh sistem dapat dianggap sebagai berada dalam
kesetimbangan. Hal ini hanya mungkin bila pada setiap saat gaya penentang tak terhingga
lebih kecil dari gaya penggerak proses. Perhatikan, misalnya sejumlah gas dalam slinder
yang dilengkapi dengan penghisap. Gas memuai dari volum awal V 1 volum akhir V2.
Gaya penggerak dari proses ini adalah tekanan luar P 2 kalau proses pemakaian ini
berlangsung secara reversible, maka pada setiap saat harus berlaku P 2= p-dp, dengan dp
ialah suatu bilangan yang tak terhingga kecil. Untuk proses pemampatan secara reversibel

dari V2 ke V1 harus berlaku P2= p+dp. Setiap proses yang tidak memenuhi persyaratan di
atas bersifat tak reversibel.

Walaupun dalam praktek proses yang benar-benar berjalan secara reversibel tidak
ditemukan, namun ada sejumlah proses yang dapat diperlakukan demikian, misalnya
proses perubahan fasa yang berlangsung pada temperatur transisinya. Perhatikan,
misalnya proses pengkapan air 1atm dan 100oc
1atm
H2O (l)

H2O (g)
100oc

Pada kondisi 1atm dan 100oc fase cair dan fase uap beradadalam kesetimbangan dan
bila perubahan ini berlangsung cukup lambat maka prosesnya dapat dianggap reversibel.
Perubahan

1atm
H2O (l)

H2O (g)
25OC

Tidak dapat dianggap reversibel karena, kedua fasa tersebut tidak berada dalam
kesetimbangan pada 1atm dan 25oc.
Dalam termodinamika konsep kereversibelan adalah penting sekali, antara lain
dalam hubungannya dengan kerja maksimum dan pendefinisian fungsi entalpi.
Baik proses reversibel maupun proses tak reversibeldapat dilaksanakan secara
isotherm (temperature tetap), isobar (tekanan tetap), isokhor(volume tetap), adiabat(tanpa
ada pertukaran kalor antara sistem dan lingkungan), dan sebagainya.

2.2.4. Kalor dan Kinerja.


Kalor dan kinerja adalah dua konsep penting dalam termodinamika oleh karena
itu pengertian tenteng konsep ini harus difahami dengan baik.
Kalor, 1, didefinisikan sebagai energy yang dipindahkan melalui batas-batas
sistim sebagai akibat langsung dari berbedaan temperatur antara sistem dan lingkungan.
Menurut perjanjian q dihitung positip bila kalor masuk sistim dan negative bila kalor
keluar dari sistem. Jumlah kalor yang diperuntukan antara sistim dan lingkungan
bergantung pada caranya perubahan keadaan sistem berlangsung. Oleh karena itu q bukan
fungsi dan dq bukan diferensial total (biasanya dinyatakan sebagai dg). Penting untuk
diperhatikan bahwa kalor sebagai suatu bentuk emerge hanya mempunyai arti dalam
suatu perubahan. Adalah tidah benar untuk menyatakan bahwa sistim pada keadaan
tertentu mempunyai sejumlah kalor. Kalor hanya muncul dalam suatu perubahan
keadaan.
Kerja, w, adalah energi, yang bukan kalor, yang diperuntukan antara sistim dan
lingkungan dalam suatu perubahan keadaan. Menurut perjanjian w dihitung positif, bila
lingkungan melakukan kerjaterhadap sistim(misalnya pada proses pemampatan gas), dan
negative bila sistim melakukan kerja terhadap lingkungan (misalnya bila gas memuai
terhadap tekanan atmosfir). Besarnya w bergantung pada jalannya perubahan jadi kerja
bukan merupakan fungsi keadaan dan dw bukan diferensial total(biasanys dinyatakan
sebagai dw).
Salah satu bentuk kerja yang pentingadalah kerja yang bersangkutan dengan
perubahaan volumsitim dan yang disebut kerja ekspansi (atau kerja kompersi bila terjadi
pengurangi volume sistim). Kerja ini dapat ditentukan sebagai berikut. Perhatikan
sejumlah gas yang dalam sebuah silinder yang dilengkapi dengan penghisap (lihat
gambar 2-1).
Bila penghisap digerakan sepanjang jarak dx
terhadap tekanan luar Pl, maka kerja yang
dilakukan oleh gas adalah
Kerja = gaya X jarak
Dw = -Pl A dx
Atau dw = -PLdv

(2-4)

Tanda minus dalam pers (2-4) adalah sesuai dengan pejanjian bahwa kerja yang
dilakukan oleh gas dihitung negatif. Kerja yang dilakukan oleh gas bila volum berubah
dari V1, ke V2 dapat diperoleh dengan mengintegrasikan pers (2-4)
W = -V1V2 Pe
dv

Harga dari integral ini hanya dapat dihitung apabila p l dapat dinyatakan sebagai
fungsi dari v. pada umumnya fungsi ini tidak diketahui. Beberapa keadaan khusus:
1. Pl =o , yaitu bila gas memuai terhadap vakum; dalam hal ini
W=0 , proses ini disebut ekspansi bebas

2. Pl tetap, misalnya bila gas memuai, tekanan atmosfer yang tetap, dalam hal ini pers
(2-6) dapat diubah menjadi,
W = - Plv1v2 dv = - Pl (v2-v1)= -Pl v
(2-6)
3. PL= P-dp, yaitu bila proses pemakaian berlangsung reversibel, dalam hal ini pers (2-5)
menjadi

Oleh karena itu suku kedua pada ruas kanan persamaan ini sangat kecil disbanding
terhadap suku pertama, maka pada pertumbuhan reversibel akan berlaku.

Dengan p ialah tekanan gas harga integral ini dapat dihitung bila persamaan
keadaan dari gas yang bersangkutan diketahui, misalnya untuk gas ideal, p = nRT/v,
sehingga pada temperaturnya tetap.

Pertanyaannya :

1.Hitung Wrev untuk gas van der wals pada temperature tetap
2.

Tunjukan bahwa pers 2-9 merupakan kerja maksimum yang


dapat dilakukan oleh gas

Bila persamaan keadaan tidak diketahui, maka harga integral pada pers 2-9 dapat
dievaluasi secara grafik (lihat gambar 2-2).
Kecuali kerja ekipansi ada sejumlah
kerja-kerja lain. Kerja-kerja ini selalu
dapat dinyatakan dengan parameterparameter sistim bila perubahan
berlangsung reversibel, secara matematik
setiap bentuk kerja dapat dinyatakan
sebagai.

Hukum pertama termodinamika


Energi dalam dan perubahan energi dalam
Setiap sistem mempunyai sejumlah energy yang merupakan jumlah total dari
berbagai bentuk energy kinetic dan energi potensial yang terdapar dalam sistim itu.
Bentuk-bentuk energy ini mencangkup energy translasi, energi rotasi, energi vibrasi,
energy elektronik dan sebagainnya. Besarnya energy ini, yang disebut energy dalam U,
tidak diketahui energy dalam hanya bergantung pada keaadaan sistim, pada suatu
keadaan tertentu energy dalam mempunyai harga tertentu.
Jika sistim mengalami perubahan dari keadaan 1 (energy-dalam=U1) ke keadaan 2
(energi-dalam=U2), maka sistim akan mengalami perubahan energy dalam sebesar,

Apabila sistim kembali ke keadaan semula bukan melalui jalan B melainkan melalui jalan C,
maka akan didapat
Vc =- Va
Jadi, Vb = Vc, dan hal ini menunjukan bahwa perubahan energy dalam antara
keadaan 1 dan keadaan 2 tidak bergantung pada jalan, dengan kata lain U adalah
fungsi keadaan dan du adalah diferensial total. Berbeda dengan energy dalam, U, maka
perubahan energy dalam, U, dapat ditentukan secara eksperimen atau dihitung.
2.

perumusan hukum pertama termodinamika


Bila dalam suatu perubahan sistim menyerap sejumlah (kecil) kalor dq dan melakukan
kerja (kecil) dw, maka sistim akan mengalami perubahaan energi dalam , dv, sebesar

Walaupun hukum pertama termodinamika tidak dapat dibuktikan,namun


kebenarannya tidak dapat diragukan. Pengalaman menunjukan bahwa perpetuum
mobile jenis pertama, yaitu peristiwa menciptakan energy oleh sebuah mesin dengan
suatu cara perubahaan keadaan sistim, adalah tidak mungkin.
Bila kerja yang dapat dilakukan oleh sistim terbatas pada kerja ekspansi(misalnya
pada kebanyakan reaksi kimia), maka per 2.10 dapat diubah menjadi

menurut pers 2-14 perubahan energi dalam, U, adalah kaloryang diserapoleh sistim
bila proses berlangsung pada vvolum tetap pada reaksi-reaksi kimia U merupakan
kalor reaksi padavolum tetap (misalnya kalorreaksi dalam proses pembakaran
senyawa hidrokarbon dalam calorimeter bom).
2.4 fungsi entalpi dan perubahan entalpi
Kebanyakan reaksi-reaksi kimia banyak dilaksanakan pada tekanan tetap yang
sama dengan tekanan atmosfer. Dalam hal ini pers 2.12. dapat dinyatakan sebagai

Karena H adalah fungsi keadaan, maka perubahaan entalpi, H, hanya bergantung


pada keadaan awal dan keadaan akhir sistim pada reaksi reaksi kimia H adalah kalor
reaksi pada tekanan tetap
2.5. Kapasitas kalor
Kapasitas kalor suatu sistim didefinisikan sebagai jumlah kalor yang diperlukan
untuk menaikan temperatur sistim sebanyak suatu derajat

Karena dengan bergantung pada jalannya perubahan , maka sistem mempunyai


banyak harga-harga untuk kapasitas kalor. Dua di antaranya yang paling penting yaitu
kapasitas kalor pada volume tetap dan tekanan tetap akan dibahas di bawah.

2.5.1 Kapasitas Kalor pada Volume Tetap dan Tekanan Tetap


Apabila kerja yang dilakukan oleh sistem terbatas pada kerja ekspansi , maka dq= du + PdV ,
sehingga pers.(2-20) dapat diubah menjadi ,
C=

du+ PdV
dT

Pada volume tetap , C = Cv dan dV = 0 . Jadi ,

Cv=

(2-21)

dgv
dT

=(

U
T )v

(2-22)

Menurut persamaan ini kapasitas kalor pada volume tetap adalah sama dengan penambahan
energi dalam per derajat kenaikan temperatur pada volume tetap.

Kapasitas kalor pada tekanan tetap dapat diturunkan sebagai berikut. Menurut persamaan (2-20)
dan persamaan (2-21)
Cp=

dgp
dT

u
v
p
+
p(
T
T )p

=(

(2-23)
H=U + PV
dH = dU + PdV + VdP
Pada P tetap ,

dH = dU + PdV

Dan ,

H
p
T

= =(

u
v
p
+ p( T )p
T

(2-24)
Dari persamaan (2-23) dan persamaan (2-24) dapat diambil kesimpulan bahwa ,
Cp=

dgp
dT

=(

H
p
T

(2-25)

Jadi , kapasitas kalor pada tekanan tetap adalah sama dengan penambahan entalpi sistem per
derajat kenaikan temperatur pada tekanan tetap. Baik kapasitas kalor pada volum tetap maupun
kapasitas kalor pada tekanan tetap biasanya dinyatakan per mol zat.
2.5.2 Hubungan antara Cp dan Cv
Cp Cv = (

H
p
=(
T

Menurut persamaan (2-24)

Sehingga ,

Cp Cv = (

(2-26)

H
p
T

-(

u
v
T

u
v
p
+
p(
T
T )p

U
p
T

v
+ p( T )p - (

u
v
T

Energi dalam , U dapat di tinjau sebagai fungsi dari temperatur dan volum ,
U = f (T , V )
dU = (

dT pada P tetap ,

u
v
T

u
T
T

dT + (

u
p
=(
T

u
v
+(
T

dV
u
T
(
T

v
p
T

Bila persamaan ini di substitusikan ke dalam persamaan (2-26) akan diperoleh

[( ) ]
u
T+P
v

Cp Cv =

v
p
T

(2-29)

Untuk gas ideal energi dalam hanya terdiri atas energi kinetik translasi dan oleh karena energi ini
u
T
v

hanya bergantung pada temperatur , maka (

= 0 dan persamaan (2-29) berubah

menjadi ,
Cp Cv = P(

v
p
T

Dari persamaan keadaan gas ideal , PV = RT , dapat diturunkan ,


P(

v
p=R
T

Sehingga bagi gas ideal akan berlaku ,


Cp Cv = R

(2-28)

Walaupun sebenarnya hanya berlaku untuk gas ideal , namun persamaan ( 2-28) sering dipakai
secara pendekatan pada gas nyata , oleh karena selisih Cp Cv tidak banyak berbeda dari harga

R ( lihat tabel 2-2 ). Bagi cairan dan padatan pada umumnya harga (

v
p
, sangat kecil ,
T

sehingga dalam hal ini Cp Cv .

2.5.3 Pengaruh Temperatu pada Kapasitas Kalor


Pada umumnya kapasitas kalor merupakan fungsi dari temperatur , fungsi ini biasanya
dinyatakan secara empiris sebagai ,
Cp = a + bT + cT2
Cp = a + bT +

C'
T2

(2-29)
(2-30)

Dengan a , b , c dan a , b , c adalah tetapan. Harga harga a, b dan c untuk beberapa jenis gas
tertera pada tabel 2.2

Tabel 2.2
Kapasitas Kalor pada tekanan dan volum tetap
(kal Mol-1K-1)
Harga pada 298 K
GAS

He

CP

CV

Parameter pers. (2-29)


CP-CV

b 102

c 107

4,97

2,98

1,99

4,98

6,90

4,91

1,99

6,947

-0,200

6,94

4,95

1,99

6,449

1,413

4,808

O2

7,05

5,05

2,00

6,093

3,253

-0,807

CO

6,99

4,97

2,00

6,342

1,836

-10,171

HCl

7,05

5,01

2,04

6,732

0,433

-2,801

Cl

8,25

6,14

2,11

7,576

2,424

3,697

H2O

7,91

5,93

1,98

7,187

2,393

-9,650

CO2

8,96

6,92

2,04

6,396

10,193

2,084

8,63

6,57

2,06

6,189

7,887

-35,333

8,60

6,59

2,01

3,422

17,845

-7,28

12,91

10,65

2,06

1,376

41,852

-41,65

H2
N2

NH3
CH4
C2H6

-138,27

2.6 Proses Ekspansi Joule Thomson


Joule dan Thomson melakukan serangkaian percobaan untuk mengetahui apakah gas akan
mengalami perubahan temperatur apabila diekspansikan secara adiabatis.
< V1 > A B C < V2 >
P1 P2 P1 > P2
T1

T2

n (mol)
Gmb. 2-4 Ekspansi Joule - Thomson
Pada proses ini (lihat gambar 2-4 ) sejumlah gas dengan volum V1 pada tekanan R1 , dalam
ruang A1 , diekspansikan melalui penyekat berpori B ke dalam ruang C , dimana tekanannya P2
(P1 > P2). Selama ekspansi berlangsung temperatur di dalam kedua ruangan diukur dengan teliti.
Sistim terisolasi dengan baik agar supaya tidak terjadi pertukaran kalor dengan lingkungan.
Kerja yang dilakukan terhadap gas pada penghisap kiri adalah P1V1 dan kerja yang dilakukan
oleh gas adalah penghisap kanan adalah P2V2 , sehingga kerja total dalam proses ini adalah
W = P1V1 P2V2 . Karena tidak ada pertukaran kalor antara sistem dan lingkungan , q = 0 ,
sehingga
U=W

U2 U1 = P1V1 P2V2
U2 + P2V2 = U1 + P1V1
H2 = H1 atau H = 0
Hasil perhitungan ini mengusngkapkan bahwa proses ekspansi ini berlangsung pada entalpi
tetap. Joule dan Thomson menemukan bahwa semua gas yang diselidiki , kecuali hidrogen dan
helium , disekitar temperatur kamar, mengalami penurunan temperatur awal gas dan dinyatakan
dengan suatu besaran yang disebut koefisien Joule-Thomson,
=

T
H
P

Besaran ini dapat diukur langsung dari perubahan temperatur T


penurunan tekanan P melalui penyekat berpori. Bila
temperatur , sedangkan bila
=0

bila gas mengalami

>0 akan terjadi penurunan

<0 akan terjadi kenaikan temperatur. Temperatur dimana

disebut temperatur inversi ; pada temperatur inversi gas tidak akan mengalami

perubahan temperatur apabila diekspansikan pada entalpi tetap.

Temperatur inversi bergantung pada tekanan, seperti terlihat pada Tabel 2-3 untuk gas nitrogen.
Pada tekanan 100 atm terjadi pendingin bila gas ini diekspansikan pada 200oC.
Tabel 2-3
Koefisien Joule-Thomson untuk gas nitrogen
( dalam K atm-1)
pada

P
(atm)
-150

-100

100

200

300

1266

06490

02656

01292

00558

00140

20

1125

05958

02494

01173

00472

00096

60

00601

04506

02088

00975

00372

-00013

100

00202

02754

01679

00768

00262

-00075

140

00056

01373

01316

00582

00168

-00129

180

00211

00965

01015

00462

00094

-00160

200

00284

00087

00891

00419

00070

-00171

Dan terjadi pemanasan bila ekspansi berlangsung pada 3000C pada 200 atm ada dua temperatur
inversi yaitu antara -1000C dan -1500C dan antara 2000 dan 3000C . Efek Joule Thomson sangat
penting dalam proses pencairan gas.
Koefisien Joule Thomson dapat dikaitkan dengan besaran-besaran termodinamika lainnya
sebagai berikut :
H=H(T,P)
dH = (

H
p
dT + (
T

0 = Cp dT + (

= (

dP

H
p=Cp
maka ,
T

Pada entalpi tetap , dH = 0 , dan karena (

Dan ,

H
T
p

H
T
p

T
H
P

=-

dP
1
Cp

H
T
p

(2-32)

Melalui persamaan persamaan Maxwell yang akan dibicarakan pada bab berikut , dapat
dibuktikan bahwa :
(

H
V
T =V T (
)p
p
T

(2-33)

Sehingga persamaan (2-32) dapat diubah menjadi ,


=

Persamaan ini memungkinkan perhitungan

P.V=R.T

P(

V
p
T

[( ) ]

1
V
T
pV
Cp
T

dari persamaan keadaan gas .

(2-34)

untuk gas ideal ?

Pertanyaan : Berapa harga


=

1
Cp

([ TRP )V ]

V
Cp

(V1)

Contoh :
Koefisien Joule Thomson untuk gas nitrogen pada 00C adalah 0,249 K atm-1 dan 0,266 K atm-1
pada 1 atm. Perkirakan besarnya penurunan temperatur bila gass ini diekspansikan secara joule
thomson dari 20 atm hingga 1 atm pada 0oC . Andaikan bahwa dalam jangka tekanan yang
cukup kecil ini , merupakan fungsi linier dari tekanan.

Penyelesaian :
Dari data pada 20 atm dan pada 1 atm dapat diturunkan

sebagai fungsi tekanan,

= 0,269 8,95 x 10-4 p

Pada H tetap , dT =

0,,2698,95 x 10

273,2

dT

dP = (0,269 8,95 x 10-4p ) dP

-4

)dP

20

T 293,2 = 0,269 ( 1 2 0 ) T = 268,3oK

1
2

T = 4,9oK

( 8,95 x 10-4) (12 202)

2.7. Aplikasi Hukum Pertama pada Reaksi Kimia. Termokimia.


Termokimia mempelajari efek panas yang terjadi baik dalam perubahan secara kimia (reaksi
kimia, proses pelarutan) maupun secara fisik (proses penguapan, peleburan, dsb.). efek panas ini
dapat bersifat eksoterm, yaitu bila kalor dilepaskan, dan endoterm, yaitu bila proses disertai
dengan penyerapan kalor. Jumlah kalor yang beersangkutan dalam suatu reaksi bergantung pada
jenis dan jumlah zat-zat yang bereaksi, pada temperatur dan pada tekanan (terutama pada reaksi
gas). Oleh karena itu kalor reaksi dari suatu reaksi hendaknya dinyatakan bersama-sama
persamaan reaksi, dimana kondisi-kondisi reaksi tertera dengan jelas. Misalnya,
N2 (g) + 3H2 (g)

C (grafit) +

1
2

O2 (g)

2NH3 (g)

H
1000 K

= -26,76 KKal

CO2 (g)

H
290 K

= -94,05 KKal

H2 (g) +

1
2

O2 (g)

H20 (l)

H
290 K

= -68,32 KKal

H2 (g) +

1
2

O2 (g)

H20 (g)

H
290 K

= -57,79 KKal

2.7.1. Kalor Reaksi pada Volum Tetap dan pada Tekanan Tetap
Dalam termokimia ada dua kondisi khusus yang penting, yaitu volum tetap dantekanan tetap,
oleh karena pada kedua kondisi ini kalor reaksi dikaitkan dengan fungsi-fungsi termodinamika
tertentu. Bila reaksi dikerjakan pada volum tetap (misalnya dalam kalorimeter bom), maka kalor
reaksinya sama dengan perubahan energi-dalam sistem,
qv = U

sedangkan pada tekanan tetap, kalor reaksi sama dengan perubahan entalpi,
qp = H
Hubungan antara kedua besaran ini dapat diturunkan sebagai berikut.
H = U + PV
dH = dU + d(PV)

H= U+

atau,

(PV)

(2.35)
Bila semua zat-zat pereaksi dan hasil reaksi sebagaicairan atau padatan, maka harga (PV)
sangat kecil (kecuali bila tekanan sangat tinggi) dibandingkan terhadap H dan U
sehingga dapat diabaikan; dalam hal ini H U. Dalam reaksi yang menyangkut gas,
harga (PV) bergantung padaa perubahan jumlah Mol gas yang terjadi dalam reaksi. Denagn
pengandaian gas bersifat ideal, (PV) = (nRT) = RT( n), sehingga pers.(2.35)
mengambil bentuk:
H = U + ( n) RT

(T tetap)

(2.36)
Dengan n = jumlah Mol gas hasil reaksi jumlah Mol gas pereaksi. Persamaan ini berlaku
apabila sistem hanya dapat melakukan kerja volum.
Harga enthalpy pembentukan standar dari sejumlah senyawa tertera pada table 2-4.
Table 2-4
Enthalpy pembentukan standar(kkal/mol) pada 25C
zat
H0 (g)
H0(l)
HCl(g)
HBr(g)
HI(g)
S
SO (g)
SO(g)
HSO(l)
NO(g)

Hf
-57,798
-68,317
-22,063
-8,66
+6,20
+0,071
-70,96
-94,45
-193,91
+21,600

Zat
NO (g)
NH(g)
HNO(l)
CO(g)
CO (g)
NaCl(s)
NaF(s)
CaO(s)
CaCO(s)
AlO(s)

Hf
+8,091
-11,04
-41,404
-26,416
-94,052
-98,232
-136,0
-151,9
-288,45
-399,09

zat
FeO(s)
AgCl(s)
CH(g)
CH (g)
CH(g)
C H (g)
C H (l)
CHOH(l)
CH OH(l)
CHCOOH(l)

Hf
-196,5
-30,362
-17,889
-20,236
+12,496
+19,820
+11,718
-57,02
-66,356
-116,4

Menerut enthalpy pembentukan standar dari semua unsure unsure sama dengan nol. Berdasarkan
perjanjian ini enthalpy standar dari setiap zat dapat disamakan dengan enthalpy pembentukan
standar nya. Misalnya pada contoh 2 diatas :

Ca (s) + C(s) +1 O (g) CaCO (s)


H = -288,45 kkal/mol
H = HCaCO HCa HC 1 HO = Hf (CaCO)
Menurut perjanjian, HCa = 0 , HC=0 dan HO=0, sehingga
H= HCaCO = Hf(CaCO)
Enthalpy pembentukan standar dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut
1. Penentuan langsung secara eksperimen
Contoh :
C(grafit) + O (g) CO (g)
H= -94,05 kkal
Hf (CO) = -94,05 kkal/mol
Reaksi ini yang dapat dikerjakan dalam kilometer bom, memberikan kalor reaksi pada
volume tetap , U ; H dihitung kemudian dengan menggunakan pers (2-36).
2. Perhitungan dari data kalor pembakaran standar
Kalor pembakaran standar suatu senyawa , HC , ialah perubahan enthalpy pada reaksi
pembakaran satu mol senyawa dengan oksigen secara sempurna, dengan semua zat dalam
keadaan standar. Data tentang kalor pembakaran standar biasanya diberikan dalam
literature pada 25C. Penggunaan data ini dalam perhitungan kalor pembentukan .
misalnya pada reaksi pembentukan metana :
C (grafit) + 2H (g) CH(g)

H = ?

Kalor pembakaran standar pada 25Oc


HC (C) = -94,05 kkal/mol
HC (H) = -68,32 kkal/mol
HC (CH) = - 212,80 kkal/mol
a) C(s) + O(g) CO (g) H = -94,05 kkal
b) H (g) + O (g) HO(l) H = -68,32 kkal
c) CH (g) + 2O (g) CO(g) + 2HO (l)
H =-212,80 kkal

a) C(s) + O(g)
2x

b)

CO (g)

2H(g) + O(g) 2HO (l)


C(s) + 2H(g)

H = -94,05 kkal
H = -136,64 kkal

CO (g) + 2HO (l) H = -230,69 kkal

c) CH (g) + 2O (g) CO(g) + 2HO (l)


C(s) + 2H (g)

CH (g)

H =-212,80 kkal

H = -17,89 kkal

Hf (CH) = -17,89 kkal/mol pada 25C


(108)
3. Perkiraan kalor pembentukkan dari energy ikatan. Metoda ini akan dibahas lebih lanjut
pada fatsal 2.7.6
2.7.3

enthalpy perubahan fasa . kalor laten

Proses perubahan fasa misalnyapenguapan dan sublimasi, pada umumnya disertai


perubahan enthalpy. Perubahan enthalpy ini, yang biasanya disebut kalor laten, dapat dihitung
dari kalor pembakaran atau dari kalor pembentukkan.
Contoh :
1) C (grafit) + O (g) CO (g)
C (intan) + O (g) CO (g)
C (grafit)
C (intan)

H = -94,052 kkal
H= -94,505 kkal H = +0,453 kkal

2) Pada 25C, H0 (g) : Hf = -57,798 kkal/mol


HO (l) : Hf = -68,317 kkal/mol
Untuk proses, HO (l) HO (g)
H = -57,798 (-68,317) =+10,521 kkal
Kalor laten ini disebut kalor penguapan, Hv
Contoh lain dari kalor laten, misalnya :
Kalor leburan HO(s) HO (l)

Hm = +1,44 kkal/mol(0C)

Kalor sublimasi HO(s) HO(g) Hs = +12,17 kkal/mol (0C)

Kalor sublimasi dapat dihitung dari kalor leburan dan kalor penguapan , misalnya untuk air pada
0C:
Kalor Pembentukan dalam Air (Kkal Mol-1) pada suhu 25C
Zat

Kalor pembentukan dalam air (Kkal Mol-1)

NaOH(s)
NaCl
NaNO3
CH3COONa
CH3COOH
HCl

0 H2O

100 H2O

200 H2O

H2O

-101,99
-98,232
-111,54
-169,8
116,4
22,063

-112,108
-97,250
-106,83
-173,827
-116,724
-39,713

-112,1
-97,216
-106,70
-173,890
-116,724
-39,798

-112,236
-97,302
-106,651
-174,122
-116,743
40,023

Tabel 2.7
Kalor Pembentukan Ion dalam larutan pada suhu 25C

Ion
H+
Li+
Na+
K+
NH4+
Ag+
Mg2+
Ca2+
Zn2+
Cd3+
Cu2+

H Kkal Mol-1
0,000
-66,554
-57,279
-60,04
-31,74
+25,31
-110,41
-129,77
-36,43
-17,30
+15,39

Ion
OHFClBrINO3ClO4SO43CO32PO43HS-

H Kkal Mol-1
-57,957
-78,66
-40,023
-28,90
-13,37
-49,372
-31,41
-216,90
-161,63
-306,9
-4,22

Perhitungan semacam ini selalu memberikan jumlah dari entalpi pembentukan dua jenis ion.
Untuk mengetahui entalpi pembentukan dari satu ion saja harus diketahui entalpi
pembentukan dari ion yang lain. Oleh karena entalpi pembentukan dari satu ion tidak dapat
diukur atau dihitung, maka dibuat perjanjian bahwa entalpi pembentukan standar dari ion H+
dalam air sama dengan nol. Jadi,
1
H
2

(g) + aq H+(aq)+e

H=0

Dengan ketentuan ini entalpi pembentukan dari ion OH- dalam air dapat dihitung,
1
H
2

1
(g) + 2 O

(g) + aq + eOH- (aq)

H298

-54,957 Kkal
Entalpi pembentukan dari ion-ion lain dapat ditentukan dengan cara yang sama. Pada table
2.7 tertera entalpi pembentukan standar dari sejumlah ion, pada 25C. Data ini dapat
dipergunakan untuk menghitung kalor reaksi-reaksi ion dalam larutan air.
Contoh:
Hitung kalor reaksi dari reaksi berikut,
1
H
2

(g) + AgCl (s) + aq Ag (s) + H+ (aq) + Cl- (aq)

1
H298= Hf Cl- +HfH+- 2 Hf H2 - Hf AgCl
= -40,023+0-0-(-30,362)
= -9,661Kkal
Pada eksperimen ditemukan bahwa, dalam larutan encer, kalor reaksi dari reaksi antara basa
kuat, misalnya NaOH atau KOH dengan asam kuat, misalnya HCl atau H2SO4, tidak
bergantung pada jenis asam atau basanya. Hal ini disebabkan karena asam kuat, basa kuat dan
garam terionisasi dengan sempurna dalam larutan dan satu-satunya reaksi yang terjadi ialah
reaksi antara ion H+ dengan ion OH- :
H+ + OH- H2O

H298= -13,360 Kkal

Reaksi penetralan asam lemah atau basa lemah biasanya memberikan kalor reaksi yang lebih
rendah dari harga di atas, oleh karena terjadinya absorpsi panas pada proses disosiasi asam
atau basa lemah.

2.7.6. Perkiraan Kalor Reaksi dari Energy Ikatan


Metode ini yang hanya dapat dipergunakan pada reaksi gas yang menyangkut zat-zat
dengan ikatan kovalen, didasarkan atas anggapan bahwa, (a) semua ikatan C-H dalam
CH4 adalah identik, dan (b) energy ikatan dari ikatan tertentu tidak bergantung pada
senyawa dimana ikatan tersebut ditemukan.
Ada dua macam energy ikatan, yaitu (1) energy disosiasi ikatan dan (2) energy ikatan
rata-rata. Energi disosiasi ikatan D ialah perubahan entalpi dalam reaksi pemutusan
ikatan dalam molekul dwiatom atau dalam pemutusan ikatan tertentu dalam suatu
senyawa. Energi ikatan ini dapat ditentukan langsung secara kalorimetri atau secar
spektroskopi. Misalnya,
H-H (g) RH (g)

DH-H= 104,2 Kkal

H-O-H (g) HO (g) +0 (g)

DHO-H=119 Kkal

Energi ikatan rata-rata, E, ialah energy rata-rata yang diperlukan untuk memutuskan
ikatan tertentu dalam semua sanyawa yang mengandung ikatan tersebut. Misalnya, untuk
memutuskan satu ikatan C-H dalam CH4, CH3OH atau CH3COOH diperlukan rata-rata
99 Kkal Mol-1. Energi ikatan rata-rata dapat ditentukan secara kalorimetri dengan
menggunakan hukun Hess.
Contoh:
Perkirakan C-H dari data (pada 25C):
Energy ikat rata-rata:
C(s) + 2H2(g)

CH4(g)

H1= -17,9 Kkal

C(s) C(g)

H2= 172 Kkal

H2(g) 2H(g)

H3 = 104,2 Kkal

Menurut hukum Hess :


H1

= H2 + H3 + H4

-17,9 = 172 + 2(104,2) +H4


H4

= -3983 Kkal

CH4 (g)
C-H =

C(g) +4H(g)
1
4

. H =

H=398,3 Kkal

1
-1
4 (398,3) = 99,6 Kkal Mol

Beberapa harga energy disosiasi ikatan dan energy ikatan rata-rata tertera pada Table
2.8 dan pada table 2.9
Tabel 2.8
Energi disosiasi ikatan
(25C)
Senyawa

D
Kkal Mol-1

Senyawa

D
Kkal Mol-1

H2
O2
N2
HF
HCl
HBr
HI
H2N-NH2
HO-OH
H3C-CH3

104,2
119,2
226
1135,8
103,0
87,5
71,3
58
51
88

Cl2
Br2
F2
I2
NO
CO
HO-H
CH3O-H
CH3-H
NC-CN

58
46,0
38
36,1
151,0
256,9
119
112
104
144

Tabel 2.9
Energi ikatan rata-rata
(25C)
Ikatan
C-H
C-O
C=O
C-C
C=C
CC
C-F
O-O
O-H
C(gr)C(g)

Kkal Mol-1
99
84
170
83
147
194
105
33
111
172

ikatan
C-Cl
C-Br
C-S
C=S
C-N
CN
N-N
N=N
NN
N-H

Kkal Mol-1
79
66
62
114
147
210
38
100
226
93

Penggunaan data energy ikatan dalam perkiraan kalor reaksi dilukiskan dengan beberapa
contoh di bawah ini.
Contoh:
1. Perkirakan kalor reaksi untuk reaksi,
H2C=CH2(g) + H2(g)H3C-CH3(g)
Pada reaksi ini 4 ikatan C-H, satu ikatan C=C dan satu ikatan H-H diputuskan dan
terbentuk satu ikatan C-C dan 6 ikatan C-H
H298 = - C-C-6 C-H+ C=C +4 C-H +DH-H
= -83 - 6(99) + 147 + 4(99) + 104
= -30 Kkal (eksperimen: -33Kkal)
2. Perkirakan kalor reaksi untuk reaksi

1
2C(gr)+3H2(g)+ 2 O2(g) H3C-O-CH3(g)

= H1 + H2 + H3 + H4

= 2(172) + 3 (104,2) +

1
2

(119,2) (6x 99 + 2 x 84)

= -46 Kkal (eksperimen : -44Kkal)

3. Perkirakan kalor reaksi untuk reaksi,


6C(gr) + 3H2(g) C6H6(g)

= H1 + H2 + H3
= 6(172) + 3(104,2) (6x99 + 3x83 + 3x147)
= 61 Kkal (eksperimen : 20 Kkal)

Pertanyaan:
Apa sebab pada contoh 3 terdapat perbedaan yang besar antara hasil
perhitungan dan nilai yang diperoleh secara eksperimen ? (Nilai eksperimen
ini dihitung dari data kalor pembakaran)

2.7.7. Pengaruh Temperatur terhadap Kalor Reaksi


Pada umumnya H reaksi merupakan fungsi dari temperature dan tekanan. Karena
pengaruh tekanan cukup rumit maka di sini hanya akan diturunkan pengaruh
temperature pada H.
Perhatikan reaksi,
1A1 + 2A2 3A3 + 4A4
Perubahan entalpi reaksi diberikan oleh,
H = Hhasilreaksi-Hpereaksi
=

Atau,

3HA3 + 4HA4 1HA1 2HA2


{H = iHi }

Dengan koefisien i dihitung positif untuk hasil reaksi dan negative untuk pereaksi.
Bila semua zat berada dalam keadaan standar,
H= iHi= iHf,I

(2.38)

Dengan Hf,I ialah kalor pembentukan standar zat i. Persamaan ini memungkinkan
perhitungan H reaksi dari data kalor pembentukan standar.
Perubahan H dengan temperature diperoleh dengan cara mendiferensiasikan pers.
(2.37) terhadap temperature pada tekanan tetap.

( H)
T

Karena

( HiT )

( HiT )

= i

(2.39)

= Cp, maka

( H)
T

( H)
T

=i p,i

(2.40)

= p

(2.41)

Atau

Persamaan ini terkenal sebagai persamaan Kirchhoff


Persamaan 2.41 dapat diintegrasi apabila p dapat dianggap tetap antara T1 dan T2,
misalnya bila perbedaan antara kedua temperatur ini tidak besar, maka integrasi dari
persamaan 2.41 menghasilkan
H2

H1

T2

d ( H ) =
p

dT
T1

H2-H1 = p(T2-T1)

(2.42)

Dengan H1 dan H2 ialah masing-masing kalor reaksi pada T1 dan T2.


Contoh:
Hitung kalor yang dilepaskan bila satu mol air membeku pada -10C pada tekanan
tetap bila diketahui H273= -1435 kal Mol-1, p H2O(l) = 18,0 kal K-1Mol-1 dan p
H2O(s) = 8,8 kal K-1Mol-1

H2O(l) H2O(s)
H263- H273 = [ pH2O(s) - p H2O(l)] (263,2 -273,2)
H263 + 1435 = (-9,2)(-10)
H263 = -1343 kal Mol-1
Kalau p tidak dapat dianggap tetap, maka
T2

H2- H1=

p
T1

dT

(2.43)

Harga integral pada ruas kanan dapat dihitung bila p sebagai fungsi temperature
diketahui (lihat 2.5.3)

Untuk memudahkan perhitungan H pada pelbagi temperature, pada tekanan tetap, sebaiknya
terlebih dahulu ditentukan H= F(T). hal ini dapat dilakukan sebagai berikut.

d ( H)
HT =

p dT

p dT

+I

+I

(2.44)

Contoh :
Pembakaran asam benzoate, C H COOH , dalam calorimeter bom, menghasilkan U
sebesar -771,20 kkal/mol pada 25C. Hitung harga H pada temperature yang sama.
Penyelesaian :
C H COOH (s) + 7 O(g) --> 7CO (g) + 3HO(l)
U = -771,20 kkal
n = 7 7 = -
H = -771,20 (1/2)(1,99)(298) 10-3
= -771,50 kkal

2.7.2

enthalpi pembentukan standar

Perubahan enthalpidalam proses pembentukan satu mol senyawa dari unsur unsure
nya disebut entalpi pembentukan dari senyawa tersebut. Enthalpy pembentukan biasanya
diberikan sebagaienthalpi pembentukan standar , Hf yaitu untuk semua zat dalam reaksi
berada dalam keadaan standar. Keadaan standar suatu zat tunggal murniialah bentuknya yang
paling stabilpada 25C dan 1atm, misalnya keadaan standar dari karbon ialah grafit, dari
belerang ialah belerang rombik dan dari oksigen ialah gas oksigen.
Contoh :
(1) S (s) + O (g) SO (g) H = -70,96 kkal
Hf (SO) =-70,96 kkal/mol
(2) Ca (s) + C(s) +1 O(g) CaCO(s)
H = -288,45 kkal
Hf (CaCO) = -288,45 kkal/mol

Dengan I ialah tetapan integrasi .Harga integral pada ruas kanan kemuadian dihitung dengan
mensubsitusikan ?Cp=g(T)d dan I dievaluasi dari harga ?H yang diketahui pada pada
temperature tertentu misalnya pada suhu 25C . untuk mendapatkan gambaran yang lebih
jelas dari metode ini perhatikan contoh metode yang di bawah :
1/2 N2(g)+3/2 H2 (g) ?NH3 (g)
H248= -11,04 kal
Dari table 2.2 :Cp (NH3) =6,19 +7,89 x10-3 T - 7,2 8x 10-1 T2 kkal kal-1 mal -7
Cp (NH3) =6,45 +1,41x10-3 T - 0,81 x 10-7 T2

Cp (H2) =6,95 - 0,20 x10-3T + 4,81-7 T2


Cp = Cp (NH3) Cp (N2) 3/2 Cp (H2)

6,19

(7,28+

6,45 3 x 6,95

2
2
)

0,81 3 x 4,81

)
2
2

(7,89

1,41 3 x 0,20

)
10-3T
2
2

10-7T2

Cp = -7,45 + 7,48 x10-3 T - 14,09 x10-7 T-2

(2-45)

Subtitusikan persamaan (2-45) ke dalam persamaan (2,44):


HT = ( - 7,45 + 7,48 x 10 -3 dT+I
HT = -7,45 T + 3,74 x 10 -3 T -2 + 4,70 x 10 -7 T-3 + I

(2-46)

Pada 298,2 K , H = -11,04 kkal = -11040 kal. Subtitusi harga ini ke dalam persamaan (245)
-11040 =-7,45 (278,2)+ 3,74 x10-3 (298,2)2 - 4,70x?10-7 (298,2)3 + I
I = -9163
Jadi , HT= -9163 - 7,45 T + 3,74 x10-3 T-2 - 4,70 x 10-7 T3 (2-47)
Dengan menggunakan perasamaan ini harga ?H dapat dihitung pada setiap temperature
,misalnya pada 500K :
H/500 = -9163 - 7,45 (500) + 3,74 x10-3 (500)2 - 4,70 x10-7 (500)3
= -12,012 kal = -12,01 kkal .

2.11 CONTOH -CONTOH SOAL YANG DISELESAIKAN DENGAN METODE PPSS


(HUKUM PERTAMA THERMODINAMIKA)
Persamaan keadaan untuk suatu gas nyata diberikan sebagai
p(v- ??)=?RT
(1) Turunkan persamaan untuk kerja yang dilakukan ,jika gas ini di mampatkan secara
isotrem
reversible dari volum Va ke volum Vb.
(2 ) Mol gas ideal mengalami perubahan secara reveribel dari keadaan A ke keadaan B
dengan empat cara yang menyatakan dengan 1,2,3, dan 4.untuk proses 4berlaku Tv= tetap

tentukan kerja yang dilakukan oleh gas ,dinyatakan dalam Pa ,Pb ,Va dan Vbdalam proses
keempat tersebut.
(3) Sejumlah gas ideal berada dalam sebuah silinder dengan penghisap (friksi diabaikan ),Cp
5/2R dan Cv=3/2R.Gas ini mengalami perubahan reversibel ,berturut-turut sebagai berikut :
1.ekspansi secara isobar dari keadaan awal (p = 1atm,V=0,5 L) hingga volum menjadi 4x
lebih besar 2, pemapatkan secara isotrem pada 300k sampai tercapai volum yang demikian
besarnya hingga 3,gas dapat di kembalikan pada keadaannya awal melalui suatu proses
secara isokbar.
Gambarkan proses -proses tersebut pada diagram PV.
Hitung tekanan gas pada pada akhir proses (2)
Hitung kerja yang dilakukan oleh gas pada proses (3)
Hitung kalor yang dipertukaran dalam sistem dan lingkungan pada sisterm(3)
(4) Hitung ?V dan ?H (dalam KJ) jika ,Kg helium dipanaskan dari 0 hingga 100c dalam
sebuah tempat tertutup dengan volum 1m^3 .lakukan perhitungan yang sama untuk 1kg neon
kedua gas tersebut dapat dianggap ideal.
(5) 10 mol gas nitrogen ,yang dapat dianggap ideal, berada dalam sebuah silinder dengan
penghisap pada temperatur 300k dan tekanan 40 atm.tekanan luar diperkecil hingga 10 atm
dengan tiba-tiba gas bereskpansi adiabat ,Cv tidak bergantung pada temperatur dan sama
dengan 20,8gmol^(-1) k^(-1) hitung temperatur akhir, ?u dan ?h .bila diandaikan bahwa
silinder penghisap tidak menyerap panas.
(6) untuk suatu gas ideal, Cp=8,58 kal mol^(-1) k^(-1).Hitung volum dan temperature akhir
jika 2 mol gas ini, pada 20c dan 15 atm dieskpansikan secara adiabat dan reveribel hingga
mencapai tekanan 5 atm.
(7) bila pada soa; diatas gas tersebut dieskpansikan secara adiabat tidak reversibel terhadap
tekanan luar tetap 5 atm,berpakah volum dan temperatur akhir ?
(8) koefisien joule - Thomson untuk suatu gas van dear weals diberkan sebagai :
?=1/cp(2a/RT- ?)
A= 1,34 ?,atm mol^(-2) ,?=0,039 ?.mol^(-1)
Hitung perbuhan entalpi bila satu mol gas ini dieskpansikan secara joule -thamson pada
temperature tetap 300k.dari 1 hingga 500 atm .
(9) 0,500g n- heptana (C7H16) yang dibakar dalam sebuah kalori meter dengan volum tetap
hingga menjadi Co2(g) dan H20 (L).menimbulkan kenaikan temperatur sebesar
2,934c.kapasitas calorimeter dengan perlengkapan ialah 1954 kal k^-1 dan temperatur ratarata calorimeter ialah 25c.Hitung ,(a)kalor pembakaran heptana dalam volum tetap, dan
(b)pembakaran heptana dalam tekanan tetap.

(10) Hitung kalor penguaopan air (dalam kal g^-1 ) pada 120c dan 1 atm . kapasitas kalor
H2O (L) dan H2O(g)masing -masing ialah 1,0 dan 0,45 kal g^-1 k^-1 kalor penguapan air
pada suhu 100c dan 1 atm ialah 520 kal g^-1 .
(11) Magnetik ,Fe3O4 dapat direduksi menjadi besi (a) dengan hidrgen dan (b) dengan
karbon monoksida dari data di bawah hitunglah perubahan entalphi pada proses
pembentukkan 1g besi
?Hf,298=fe3O4(s) = -267,00 kkal mol^-1
= C0(g)

= -26,416

= H2O(g)

=-57,798

= C2O(g)

= -94,05

(12) Hitung energy rata-rata dari ikatan c-1 jika diketahui :


?Hf,298=CH3I(g) = 13,0 kj mol -1
H(g)

= 218,0

C(g)

=716,7

Energy ikatan rata-rata C-H =415,9 kj mol^-1


(13) Hitung temperatur maksimum dari nyala api jika propane (C3H8) dibakar dengan udara
(dalam jumlah teoritis )pada 25c dan I atm . komposisi udara :02 =20% mol , N2 = 80%mol .abaikan disosiasi dari zat -zat hasil reaksi pada temperatur yang di hitung
Data : ?Hf,298=C3H8 (g) = -24820 kkal mol^-1
H20(g)
`

= -57798

C2O(g) = -94052
Cp (N2) = 6,5 + 1,0 X ?10?^(-3) T kal mo^1 kal^1
Cp (CO2) =7,7 + 5,3 x?10?^(-3) T
Cp (H20)= 8,15 +0,5x ?10?^(-3) T

Soal 9
Kalorimeter : C = 1954 kal K-1

n heptana
C7H16
T
0,500 g

Isokhor
t = 2,934 oC

CO2 (g)
H2O (l)

Reaksi : C7H16 + 11 O2

Ditanyakan :

7 CO2 (g) + 8 H2O (l)

U
reaksi per Mol ( < 0 )
H
reaksi per Mol ( < 0 )

(a) P.V = n.R.T (gas ideal)


dU = dq + dw
H = U + P.V
(b) Kalor dilepaskan = - Kalor diserap
n = nhr - npr
n = 7 12 = -5

dU = dq + dw = dqv

qv = - q kal = - C

Ur = qv

qv tidak diketahui

t
Ur = - C
=-M.C.

t ( per 0,500g)
t (per Mol)

( problema standar)

W
H

H = U + P. V

dH = d U + d(P.V)
dU + d( n.R.T)
H=

Hr =

Ur +

U + R.T

n R.T

pengandaian : gas ideal

problema standar

Ur = - (100,23/0,5) (1954) (2,934) x 10-3 kkal Mol -1 = - 1149 kkal Mol -1


Hr = - 1149 + (7-12) (1,99) (298,2)x 10-3 kkal Mol-1 = - 1152 kkal Mol-1

Soal 10
H20 (g) , Hv = ?

H20 (l)

dH = n. Cp. dT ( P tetap)

Cp H2O (l) = 1,0 kal g-1 K-1


Cp H2O (g) = 0,45 kal g-1 K-1
Hv = 540 kal g-1 (100 , 1 atm)

Ditanyakan : Hv pada suhu 120 , 1 atm dalam kal g-1


Pada proses perubahan fasa (proses transisi), perhatikan apakah proses tersebut berlangsung
reversibel atau tidak reversibel. Proses berlangsung reversibel apabila pada kondisi yang
diberikan oleh kedua fasa berada dalam kesetimbaangan misalnya, H20 (l)
H20 (g).
Bila reversibel : Kalor transisi biasa diketahui (literatur)
Bila tak revers : pecahkan proses tersebut. Menjadi sejumlah proses, kemudian hitung H
dari tiap-tiap proses.
Htotal =

Hi

dH = n Cp dT
H=

H +
1

(persamaan ini terkenal sebagai Hukum Hess)

H = n Cp
H +
2

H
3

H = Cp H O (l) . (T -T ) kal (n = 1 gram)


1
2
2
1
H = 540 kal
2
H = Cp H O (g). (T -T ) kal (n = 1 gram)
3
2
4
3

Hv = Cp H 0 (l) (T -T ) + 540 + Cp H 0 (g) (T -T )


2
2
1
2
4
3
Problema standar
Hv = (1,0) (-20) + 540 + (0,45) (20) kal g-1 = 529 kal g-1

Soal 11
Ho
1
3 Fe (s) + 4 H20 (g), H1o

(a) Fe3O4 (s) + 4 H2 (g)

Ho
2

3 Fe (s) + 4 CO2 (g), H2o

(b) Fe3O4 (s) + 4 CO (g)


H o=
reaksi

Vi H o
f,i

Vi negatif untuk pereaksi


Hfo,298

: Fe3O4 (s)

= - 267,00 kkal Mol-1

CO (g)
H20 (g)
CO2 (g)

= - 26,416 kkal Mol-1


= - 57,798 kkal Mol-1
= - 94,052 kkal Mol-1

Ditanyakan : (a) H1o ; (b) H2o ?


Ho =

Vi H o
f,i

Ho = 4 Ho
1
f,i H2O -

Ho
f,i Fe3O4 per 3 Mol Fe

= 1/3 x 1/55,85 (4 Hof,i H2O -

Ho
f,i Fe3O4)

problema

standar
Lihat di atas

Ho = 4 Ho
2
f,i CO2 -

Ho
f,i Fe3O4 per 3 Mol Fe

= 1/3 x 1/55,85 (4 Hof,i CO2 -

Ho
f,i Fe3O4)

standar
(a)

Ho = 1/167,55 [4 (-57,798) (-267,00)] kkal g-1 Fe


1
Ho = 0,214 kkal g-1 Fe
1

(b)

Ho = 1/167,55 [4 (-94,052) (-267,00)] kkal g-1 Fe


2
Ho = - 0,020 kkal g-1 Fe
2

problema

Soal 12
C(s) + 3/2 H2 (g) + I2 (s)

CH3I (g)

C (s)

C (g)

H2 (g)

H (g)

I2 (s)

I (g)

Ho = 13,0 KJ
1
Ho
= 716,7 KJ
2

Ho
3
Ho
4

= 218,0 KJ
= 106,8 KJ

-1

EC-H = 415,9 KJ Mol


Yang ditanyakan : EC-I = ? ( EC-I > 0 )
CH3I(g)

C (g) + 3H (g) + I (g),

Ho = E + E
C-H
C-I

3 EC-H

EC-I = Ho
( Ho tidak diketahui)

Ho = Ho + 3. Ho + Ho 1
2
3
4

Ho

Ho = Ho + 3. Ho + Ho 2
3
4

Ho
1

Subtitusi : EC-I =

Ho + 3. Ho + Ho 2
3
4

standar

EC-I = 716,7 + 3(218,0) + 106,8 13,0 3 (415,9)


EC-I = 216,6 KJ Mol-1

Ho 3 E
1
C-H problema

Soal 13

Reaksi : C3H8 (g) + SO2 (g)

3CO2(g) + 4H2O (g)

(udara)
Komposisi udara : O2 = 20
(p tetap)

- Mol, N2 = 80

H o = C H (g)
f ,298
3 8

- Mol

= - 24820 kal Mol-1

dH = n. Cp .dT
Ho =

Vi H o
f,i

CO2 (g)

= - 94052 kal Mol-1

Vi negatif untuk pereaksi

N2O (g)

= - 57798 kal Mol-1

(dH)p = q

Cp N2 (g)

= 6,5 + 1,0 x 10-3T kal Mol-1 K-1

Cp CO2 (g)

=7,7 + 5,3 x 10-3T kal Mol-1 K-1

Cp H2O (g)

=8,15 + 8,5 x 10-3T kal Mol-1 K-1


(T2 T1)

Ditanyakan : T2 = ?

Proses ini dapat dipecahkan menjadi dua macam proses :


(1) Reaksi Kimia, secara Isoterm dan Isobar yang menghasilkan kalor reaksi, Hr
yang kemudian dipergunakan untuk
(2) Pemanasan, zat-zat hasil reaksi dari T1

T2 secara adiabat dan isobar

T2:

= 3[7,7 (T2-T1) + 5,3/2 x 10 -3 (T22-T12)] + 4[8,5(T2-T1)


+ 0,5/2 x10-3(T22-T12)] + 20 [6,5 (T2-T1) +1,0/2 x 10-3
(T22-T12)]
= 185,7 (T2-T1) + 18,95 x 10-3 (T22-T12)
q tidak diketahui
Q

: lihat proses (1) : q

= - Hor = -

Vi Ho = -( V Ho
f,i
f,i CO2 +

Hof,iH2 + V Hof,iC3H8)
= -[3(-94052) + 4(-57798) 1(-24820)]
= 4885,28 kal
Subtitusi : 488528 = 185,7 (T2-T1) + 18,95 x 10-3 (T22-T12)

problema standar

488528 = 185,7 (T2 298,2) + 18,95 x 10-3 (T22 298,22)


18,95 x 10-3 T22 + 185,7 T2 545588 = 0
T2 =

[ - 185,7 +

185,72 + 4(18,95 x 10-3) (545588) ]

2 x 18,95 x 10-3

2.12.

SOAL-SOAL LATIHAN

(1) Satu Mol gas ideal berada dalam sebuah silinder dengan penghisap pada temperatur
25 dan tekanan 107 Nm-2. Tekanan luar terhadap penghisap diturunkan dalam
tiga tahap, mula-mula dari 107 Nm-2 hingga 5 x 106 Nm-2, temperatur tetap 25 .
Hitung kerja total dan bandingkan dengan kerja yang dilakukan bila perubahan
berlangsung isoterm dan reversibel dari 107 hingga 105 Nm-2 pada 25
(2) Isi tabel di bawah ini untuk n Mol gas ideal yang mengalami perubahan dari keadaan I
(P1, V1, T1) ke keadaan akhir 2a, 2b, 2c dan 2d.

Berikan, untuk masing-masing proses, ungkapan bagi V, q dan w.


U12

q12

W12

a) Isokhor

-1/2 n Cv T1

-1/2 n Cv T1

b) Isobar

n Cv T1

n Cp T1

P1 V1

c) Isoterm

n R T1 In2

-n R T1 In2

d) adiabat

(3) Sejumlah gas ideal (Cv = 5/2 R) berada dalam sebuah silinder dengan penghisap
(abaikan friksi). Tekanan gas ialah 1 atm dan volume dibawah penghisap ialah 10
liter. Gas ini menjalani proses reversibel sebagai berikut dari keadaan awal gas di
panaskan secara isoterm hingga 327oC. Kemudian gas dimampatkan secara isobar
pada 2 atm dan mencapai volume yang demikian besarnya sehingga dapat
dikembaliakan pada keadaan semula. Melalui suatu proses isoterm.
R = 8,31 g Mol-1 K-1 , 1 atm = 1,013 x 10 5 N m-2
a. Hitung kerja yang dilakukan pada proses isoterm.
b. Hitung kalor yang diperlukan pada proses isobar

(4) Kalau keadaan suatu sistim berubah dari keadaan a ke keadaan b (lihat gambar),
jumlah kalor yang diserap dan kerja yang dilakukam oleh sistim masing-masing ialah
20 KJ dan 30 KJ.

a. Berapakah jumlah kalor yang diserap oleh sistim melalui jalan adl kalau kerja
yang dilakukan melalui jalan ini ialah 10 KJ ?
b. Kalau keadaan sistem dikembalikan dari b ke a melalui jalan yang bengkok (lihat
gambar), kerja yang dilakukan ialah 20 KJ. Apakah dalam hal ini sistem menyerap
kalor ataukah melepaskan kalor ? dan berapa banyak ?
c. Kalau Ua = 0 dan Ub = 40 KJ, berapakah jumlah kalor yang diserap oleh sistem
pada proses ad dan proses db?
Kalor jenis karbon dioksida pada tekanan tetap diberikan sebagai berikut :
t
:
0
100
200
Cp (kal g-1 der-1)
Tentukan :

0,1952

0,2169

0,2387

a. Persamaan yang merupakan kapasitas kalor molar, pada tekanan tetap, sebagai
fungsi temperature yang berlaku 0 dan 200
b. Kapasitas kalor molar rata-rata, pada tekanan tetap antara 100 dan 200
c. Jumlah kalor yang dilepaskan bila 1 Mol karbon dioksida didinginkan dari 200
hingga 0o pada tekanan tetap
6.Tunjukkan bahan untuk gas ideal yang mengalami perubahan secara adiabatik dan
reversible
berlaku ungkapan.
PV=tetap
cp
Dengan = cv .Persamaan ini terkenal sebagai persamaan poisson.
7.Pemampatan suatu gas secara adiabatik dari 1 atm hingga 6,5 atm berlangsung menurut
persamaan
PV1,2=Tetap
Hitung,(a)temperatur akhir,(b)volum air,dan(c)kerja yang dilakukan (dalam kg m).bila
volum awal dan temperature awal dari gas masing-masing 15m3 dan 170c.
8.Untuk suatu gas ideal.
CP=29,4+8,4010-3T J Mol-1K-1
(a) Nyatakan Cv sebagai fungsi dari temperatur.
(b) Untuk 1 Mol gas ini diberikan dua keadaan masing-masing di cirikan oleh P1=20,00
atm,V1=2,00 liter.
Dengan proses adiabatic manakah dapat dicapai keadaan 2 dari keadaan 1?
(c) Hitung U dan H untuk proses pada (b)
9. Satu mol gas ideal,pada 3000K,diekspeksikan secara adiabatik dan reversible dari 20
3
hingga 1atm,Cv= 2 R.Hitung q,w, u dan H

untuk perubahan ini.

10.1m3gas metana(CH4),pada 50c dan 2 atm,dipanaskan pada tekanan tetap hingga


volumnya menjadi 2m3,kemudian dimampatkan secara adiabatic hingga tekanan
menjadi 4 atm,dan akhirnya diinginkan pada volum tetap hingga tekanan menjadi 1
atm.Semua proses semua proses berjalan reversible.Gas metana dapat dianggap ideal,
Cp
-1 -1
5
-2
Cv =1,40,R=8,31 J mol K ,1 atm=1,01310 Nm .Hitung perbedaan entalpi
antara keadaan awal dan keadaan akhir.
11.20 gram etanol(C2H3OH) diuapkan pada titik didih normalnya .Kalor penguapan
etanol ialah kal g-1 dan volum jenis uapny ialah 607 mol g-1.Hitung perubahan energy
dalam(kal) pada proses ini abaikan volum dari cairan.

12.Gas amoniak,pada 27,00C dan 1 atm,dialirkan dengan kecepatan 41 cm3detik-1


kedalam sebuah pipa yang terisolasi terhadap panas,dalam pipa gas mengalir melalui
kawat yang dipanaskan secara listrik.Tahanan kawat=100 ohm dan kuat arus=50,0
mA.Gas yang mengalir keluar mempunyai temperature 31,090C dan tekanan 1
atm.Hitung Cp dan Cv dari amoniak dengan pengandaian bahwa gas ini bersifat ideal.
13.Koefisien joule Thomson untuk gas N2 pada 3000C dan pada tekanan antara 0 dan 60
atm dapat diberikan oleh persamaan
=0,00142-2,6010-4 p (atm)
Jika diandaikan bahwa persamaan ini tidak bergantung pada temperature disekitar
3000C,hitung penurunan temperature bila gas ini diekspansikan secara joule Thomson
dari 60 hingga 20 atm.
14.Dengan menggunakan data pada Tabel 2-3 tentukan tekanan dimana gas nitrogen
mengalami inverse joule Thomson pada temperature 3000C.Hitung juga tekanan ini
dengan persamaan pada soal 13.
15.Suatu larutan asam sulfat dalam air yang mula-mula mengandung 73,13%(berat)
H2SO4 diencerkan dengan air hingga mencapai konsentrasi 35,25%.Berapakah kalor
pengenceran integral jika 100 gram dari larutan semula diencerkan pada 250C?

16.Hitung H0298 untuk reaksi,


CdSO4(s)+H2O(gas) CdSO4.H2O(s)
Bila diketahui

CdSO4(s)+400 H2O(l) CdSO4(400 H2O)


CdSO . H O(s)+399H O(l) CdSO (400 H O)
4

H0 = -10977 kal
298

= -6095

H2O(g) H2O(l)

= -9717

Secara eksperimen ditemukan -15451 kal mol-1


17.Dengan mempergunakan data pada table 2-8 dan table 2-9 perkirakan kalor
pembentukan standar dari 2,2,3,3 tetra metal butane (C8H18).
18.Berapakah jumlah kalor yang dilepaskan pada proses pembakaran 1 kg karbon
menjadi karbon monoksida pada 10000C?
Data: H 0 CO(g)= -26,62 kkal mol-1
f 298

Cp(CO)= 6,25+2,09110-3T-0,45910-6T2 kal mol-1K-1


Cp(C)= 1,1+4,810-3T-1,20010-6 T2
Cp(O2)=6,26+4,810-3 T-0,77010-6 T2
19.Pada pembuatan asam nitrat dari kalium nitrat reaksi-reaksi dibawah ini terjadi secara
bersamaan
KNO (s)+H SO (l) KHSO (s)+HNO (g)
3

2KNO3(s)+H2SO4(l) K2SO4(s)+2HNO3(g)
Hitung jumlah kalor yang dilepaskan (diperlukan) pada pembuatan 1 k asam nitrat
jika diandaikan bahwa 80% dari asam tersebut dihasilkan pada reaksi (1).

Data: Hf 0298;KNO3(s)= -119,5 kkal mol-1


H2SO4(l)= -192,9
HNO3(g)= -34,4
KHSO4(s)= -274,0
K2SO4(s)= -340,6
20.Dari eksperimen ditemukan data (pada 250C) sebagai berikut
Fe O (s)+3C(s) 2Fe(s)+3CO(s) H0=117,3 kal
2

FeO(s)+C(s) Fe(s)+CO(g)
C(s)+O (g) CO (g)

H0=37,3
H0= -94,05

1
CO(g)+ 2 O2(g) CO2(g)

H0= -67,63

Hitung kalor pembentukan standar dari FeO(s) dan Fe2O3(s).

21.Uap air pada temperature 1500C dialirkan melalui kokas pada temperature 10000C dan
terjadi reaksi
C(s)+H O(g) CO(g)+H (g)
2

20% dari uap air tidak bereaksi.Gas keluar dari generator pada temperature
7000C.Hitung jumlah kalor yang diperlukan untuk mereaksikan 1kg uap air pada
kondisi yang bersangkutan.
Data: H0
H O(g)= -58,00 kkal mol-1
f,291

H0 CO(g)= -26,62 kkal mol-1


f,291

Cp H2(g)=6,62+0,8110-3 T kal mol-1 K-1


CpH2O(g)=8,15+0,510-3 T
CpC(s)=1,1+4,810-3 T
CpCO(g)=6,5+1,010-3 T
1
22.Reaksi C(s)+ 2 O2(g) CO(g),adalah eksotermik,sedangkan reaksi,C(s)
+H2O(g) O(g)+H2(g) adalah endotermik.Secara teori suatu campuran yang
terdiri atas uap air dan udara (20% mol O2+80% mol N2) dapat dialirkan melalui
kokas sehingga temperature tidak berubah.Dengan pengandaian bahwa kedua reaksi
tersebut berjalan dengan sempurna,tentukan perbandingan udara;uap air, bila
campuran tersebut dipanaskan hingga 1000C dan dimaksudkan untuk
mempertahankan temperature kokas pada 10000C.
Data; lihat soal diatas;

CpO2(g)=6,5+1,010-3 T kal mol-1 K-1


CpN2(g)=6,5+10-3 T

Lampiran 1
Jawaban Soal-Soal Latihan
1. Wtotal= -5448 J; wrev= -11391 J
1

U
2. (a)
12= 2 CvT1

q12= -

2 CvT1

(b)

= CvT1

(c)

=0

= CpT1
= RT ln 2

(d)

= CvT1(21- -1)

=0

w12=0
=P1V1
= - RT1 ln 2
= C T (21--1)
v

3. (a) w31= -702 J ; (b) q12=2533 J


4. (a) 60 kJ ; (b) -70 kj,kalor dilepaskan ; qad=qdb=0
5. (a) Cp=8,6+0.00456 t kal mol-1 der-1 ; (b)10,027 kal mol-1 der-1 ; (c) -1911 kal
6. dU=dq+dW-dW CvdT= - PdV= ln T= -ln V+ln I VT

Cv
R

Cv
Cv
+1
=tetap P R
R

RT
Cv

V dV
R

Pv Cv

= I V( nR R
V

Cp
R

dT
T

=I P

=tetap PV=tetap.

7. (a) 1230C ; (b) 3,15 m3 ; (c) -283700 kg m.

=-

dV
Cv

V
R
Cv
R

8. (a) Cv=21,1+8,4010-3 T J mol-1 K-1 ; (b) adiabat tak reversible pada Pl=0 ; (c) U=
H= 0
9. q=0 ; W= U= -625 kal ; H = -1042 kal
10. H = -277 kJ
11. U= 3806 kal
12. Cp=8,81 kal mol-1 der-1 ; Cv=6,82 kal mol-1 der-1
13. t= -0,1520C
14. 55 atm ; dengan persamaan,P=54,6 atm
15. -4680 kal
16. H0 298= -14,599 kkal mol-1
17. Hf 0= -49,2 kkal mol-1
18. qp= 2251 kkal
19. qp= 86,5 kkal
20. Hf 0 FeO(s)= -63,7kkal mol-1 ; Hf 0 Fe2O3(s)= -196,6 kkal mol-1
21. qp= 1606 kkal
22. udara: H2O=8,89 mol : 1mol

Lampiran 2
Daftar Berat Atom
(dibulatkan hingga dua angka dibelakang koma)
Unsur

Lambang Berat atom

Belerang

32,06

Besi

Fe

55,85

Hydrogen

1,01

Kalium

39,10

Karbon

12,01

Nitrogen

14,01

Oksigen

16,00

Tetapan:
Tetapan gas,

R=8,314 J mol-1K-1
8,314107 erg mol-1 K-1
0,0821 liter atm mol-1 K-1
1,99 kal mol-1K-1

Faktor Konversi
1atm=1,013105 Nm-2
1,013106 dyne cm-2
760 torr (mmHg)
1torr=133,322 Nm-2
1,31610-3atm
1kal=4,184 J
1J=0,24 kal
T(0K)=t(0C) + 273,2
Ln X=2,303 log X