Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan Umum


Air adalah sumber kehidupan, karena itu ketersediaan air tawar baik untuk
air minum maupun keperluan lainnya harus tetap dijaga. Salah satu penyebab
pencemaran air adalah air asam tambang yang dihasilkan dari kegiatan industri
pertambangan seperti pengupasan tanah penutup (overburden), penggalian
batubara, serta tersingkapnya tanah atau batuan yang mengandung mineral sulfida
antara lain berupa pirit dan markasit. Air asam tambang merupakan hasil dari
oksidasi batuan yang mengandung pirit (FeS2) dan mineral sulfida dari sisa batuan
yang terpapar oleh oksigen yang berada dalam air (Elberling.et.al, 2008).
Air asam tambang tersebut akan mengikis tanah dan batuan yang
mengakibatkan larutnya berbagai logam seperti besi (Fe), kadmium (Cd), mangan
(Mn), dan seng (Zn). Oleh karena itu, selain memiliki pH yang rendah (nilainya
berkisar antara 1,5 hingga 4), air asam tambang juga mengandung logam-logam
dengan konsentrasi tinggi, sehingga dapat berakibat pada kesehatan masyarakat
dan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik (Juari, 2006; Marganingrum &
Noviardi, 2010). Permasalahan lingkungan yang ditimbulkan karena pengaruh air
asam tambang baik selama kegiatan penambangan adalah menurunnya kualitas air
tanah, air permukaan terutama jika dialirkan ke sungai akan berdampak pada biota
yang ada di perairan, terutama masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai
yang memanfaatkan air sungai untuk keperluan rumah tangga.
Prinsip utama pengelolaan asam tambang adalah sedapat mungkin
mencegah terbentuknya air asam tambang atau disebut dengan upaya preventif
(Gautama, 2012). Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencegah terbentuknya
air asam tambang di daerah penimbunan batuan penutup-rencana pengelolaan
overburden (overburden management plan). Tetapi pada kenyataannnya pada

20

kegiatan penambangan terbuka hal tersebut tidak dapat mencegah secara total
terjadinya air asam tambang, sehingga untuk mengatasi hal tersebut perlu
dilakukan pengolahan yang tepat. Pengolahan air asam tambang diperlukan agar
air limbah dari pertambangan yang menjadi air asam tambang tersebut memenuhi
baku mutu lingkungan sebelum dilepaskan ke badan perairan alami (lingkungan).
Pengolahan air asam tambang pada umumya
Langkah pertama yang digunakan untuk mengelola air asam tambang
adalah dengan mengetahui sumber produksi pembentuk potensial asam. Produksi
potensial asam umumnya berasal dari penilaian melalui sisa batuan (waste rock)
yang dianalisis, dimana dapat dibagi atas 2 kategori analisis, yaitu analisis statis
atau analisis dinamis atau kinetik. Dalam tes statis, seluruh analisis batuan
digunakan untuk memprediksi kualitas air asam tambang, dengan asumsi bahwa
mineral mineral spesifik yang terdiri dari batuan sisa akan bereaksi dengan air
akan menghasilkan tingkat asam atau basa yang bervariasi. Alternatif lain adalah
test dinamis yang secara empiris menentukan kualitas lindi berdasarkan subjek
batuan sampel yang disimulasikan dengan proses pelapukan dan pemantauan
kualitas efluen yang dihasilkan. Masing masing teknik mempunyai kelebihan
dan kekurangan satu dengan yang lainnya (Bradham dan Carrucio, 1990).
2.2 Air Asam Tambang
Air asam tambang (AAT) dihasilkan di atau dalam sisa batuan, tailing,
dinding pit tambang terbuka dan tambang bawah tanah. Mineral sulfida seperti
pirit teroksidasi dan hadir di air dan udara melalui oksigen yang menghasilkan air
asam tambang melalui proses kimia dan biokimia. Oksidasi mineral sulfida dapat
dideskripsikan dengan persamaan (Morin and Hutt, 1997 dalam Bussiere, 2009)
dengan langkah pertama terjadinya oksidasi langsung dari pirit (FeS 2) oleh
oksigen yang menghasilkan sulfat (SO42-), ferrous iron (Fe2+) dan keasaman (H+) :
2FeS2 + 7O2 + 2H2O = 2Fe2+ + 4SO42- + 4H+ ............................................ (1)
Reaksi selanjutnya ferrous iron teroksidasi menjadi ferric iron (Fe 3+).
21

2Fe2+ + 1/2O2 + 2H+ = 2Fe3+ + H2O ............................................(2)


Ferrous iron juga dapat teroksidasi menghasilkan iron hidroksida (FeOOH) dan
keasaman.
Fe2+ + 1/4O2 + 3/2H2O = FeOOH + 2H+........................................................ (3)
Pada saat pH > 4, Fe

3+

akan terendapkan sebagai ferric hidroksida (Fe(OH) 3),

lepas ke lingkungan dengan sangat asam.


Fe3+ + 3H2O = Fe(OH)3 + 3H+ ...............................................................................(4)

Pada saat pH < 4, Ferric iron akan larut dan mengoksidasi pirit secara langsung
dan melepas asam kesekelilingnya dengan bebas.
FeS2 + 14Fe3+ + 8H2O = 15Fe2+ + 2SO42- + 16H+................(5)
Secara keseluruhan reaksi oksidasi pirit dapat diperlihatkan sebagai berikut :
FeS2 + 15/4O2 + 7/2H2O = Fe(OH)3 + 2H2SO4 .....................(6)
Oksidasi 1 mol pirit akan menghasilkan 2 mol asam sulfur. Secara umum
pertimbangan literatur (Aubertin et al, 2002 dalam Bussiere 2009) bahwa oksidasi
oleh oksigen (persamaan 1) berlangsung pada pH netral (5 < pH > 7), sementara
itu oksidasi tidak langsung (Persamaan 5) lebih dominan pada pH rendah (pH <
3).

Persamaan

diatas

berdasarkan

pada

persamaan

stoikiometri

tanpa

mempertimbangkan kondisi kinetik setiap reaksi. Seperti nilai rata-rata oksidasi


sebagai fungsi faktor penambah (Jerz dan Rimstidt, 2004 dalam Bussiere, 2009),
supply oksigen, temperatur, pH, aktivitas bakteri, luas paparan. Pertimbangan
secara umum rata-rata reaksi dikontrol oleh (persamaan 2). Rata-rata reaksi
berjalan lambat pada pH rendah, tetapi meningkat dengan cepat dan menurunkan
pH karena adanya bakteri. Contohnya Acidithiobaccilus ferrooxidans sebagai
katalisator reaksi oksidasi ferrous iron menjadi ferric iron.
Kualitas kimia dari drainase juga tergantung dari mineral lain yang ada di
batuan sisa. Asam dapat bereaksi dengan penetral oleh karbonat dan mineral

22

sillicate, yang dapat dipertimbangkan sebagai penetral utama adalah calcite


(CaCO3) dan dolomite (CaMg(CO3)2) (Lapakko,1992).
2CaCO3 + H2SO4 = 2Ca2+ + 2HCO3- + SO42- ............................(7)
CaMgCO32- + H2SO4 = Ca2+ + Mg2+ + 2HCO3- + SO42-

................ (8)

Persamaan diatas memperlihatkan bahwa 2 mol calcite dan 1 mol dolomit


dibutuhkan untuk menetralkan 1 mol asam sulfur. Kapasitas mineral penetral
untuk membatasi pembentukan air asam tambang juga tergantung kepada faktor
yang berbeda beda untuk mempengaruhi proses reaksi seperti : temperatur, pH,
tekanan, permukaan mineral.
Ketika potensi penetral kurang dari potensial pembentukan asam, air asam
tambang akan terjadi dan diperlukan pengukuran yang akurat dan tindakan
mitigasi. Beberapa tahun terakhir, beberapa teknik telah diajukan untuk
membatasi dampak air asam tambang terhadap lingkungan. Salah satu pendekatan
yang dikembangkan untuk mengontrol produksi air asam tambang dari tailing dan
batuan sisa adalah dengan mengeliminasi atau menghilangkan satu atau lebih dari
3 komponen utama reaksi oksidasi yaitu : oksigen, air dan mineral sulfida.
Beberapa metode yang dikembangkan adalah :
a. Ekstraksi sulfida
Kehadiran mineral sulfida adalah esensi utama pembentukan air asam
tambang. Air asam tambang dapat dikontrol dengan melakukan ekstraksi mineral
sulfida sehingga membatasi pembentukan air asam tambang di lingkungan.
Recovery atau penyimpanan mineral sulfida yang diperlukan tergantung kepada
jumlah mineral penetral. Teknik yang berbeda dapat digunakan seperti flotasi dan
pemisahan dengan gravimetri dapat digunakan untuk memisahkan sulfida dari
tailing (Bussiere, 1998). Metode kontrol seperti ini secara umum sangat aplikatif
untuk pertambangan yang sedang beroperasi.

23

b. Hambatan oksigen / oxygen barriers


Oksigen merupakan salah satu komponen kunci terhadap pembentukan air
asam tambang. Membatasi kemampuan oksigen bereaksi pada batuan sisa adalah
salah satu teknik yang paling sering digunakan untuk mengontrol air asam
tambang, terutama pada daerah lembab (MEND, 2008). Pendekatan yang berbeda
dapat digunakan untuk menghambat oksigen dengan cara menempatkan pelindung
air dan mengatur elevasi air tanah.
2.3 Pengolahan Air Asam Tambang
Pemilihan pengolahan air asam tambang dikategorikan atas 2 yaitu
pengolahan pasif dan pengolahan aktif. Pengolahan yang paling umum digunakan
adalah dengan metode mengolah debit air asam tambang dengan pengolahan aktif
dimana pengolahan menggunakan kimia penetral yang ditambahkan terus
menerus ke air asam tambang. (Johnson and Hallberg, 2005 dalam Newcombe,
2009). Proses penetralan air asam tambang ini akan mengendapkan logam-logam
terlarut dan akan membentuk selimut lumpur (sludge blanket). Kelemahan dari
pengolahan aktif ini adalah memerlukan biaya yang besar dan memindahkan atau
membuang selimut lumpur yang mengandung logam.
Pemilihan metode pasif dalam pengolahan air asam tambang dibandingkan
dengan pengolahan secara aktif mempunyai kelebihan terutama dari segi
perawatan dan biaya yang lebih rendah. Sistem pengolahan pasif hanya
memerlukan perawatan dan penggantian secara periodik. Gambar dibawah ini
memperlihatkan beberapa alternatif pemilihan pengolahan air asam tambang.

24

AAT

P. Aktif

P. Pasif

Abiotik

Biologis

Penetral
Kimia

Bioreaktor

Saluran
Batu
Kapur

Abiotik

Biologis

Hambata
n Aktif

Kolam
Aerobik
Kolam
Anaerobi
k
Hambata
n Aktif

Gambar 2.1 Pemilihan pengolahan air asam tambang (amd), Johnson and Hallberg,
2005a Dalam Newcombe (2009)

2.4 Metoda Successive Alkalinity Producing System (SAPS)

25

Successive Alkalinity Producing System (SAPS) merupakan salah satu


metode pengolahan pasif air asam tambang yang terdiri atas lapisan bahan organik
dan batu kapur. Keduanya disusun secara vertikal dengan ketebalan tertentu. Air
asam tambang yang diolah akan mengalir secara vertilal ke dalam sistem
berdasarkan tekanan gravitasi hidrolik.
Pada sistem SAPS terdapat dua proses utama yang menyebabkan
terjadinya Peningkatan pH dan reduksi logam, yakni larutnya batu kapur dan
reduksi sulfat secara biologis. Kedua proses ini menghasilkan alkalinitas dalam
bentuk bikarbonat sebagai senyawa penetral. Lapisan bahan organik yang umum
digunakan adalah komposisi produk organik sisa yang biasanya dari industri
perkembangbiakan jamur yang disebut dengan Spent Mushroom Substrat (SMS).
SMS merupakan material organik yang bersifat heterogen yang mengandung
serbuk gergaji, kotoran hewan, dedak dan gypsum. SMS ini mengandung nutrient
dan penyedia sumber Karbon (Newcombe, 2009). Media SMS ini sangat kaya
jenis mikrobiologi di dalamnya, tinggi kandungan organiknya tetapi rendah
konsentrasi material esensi nutrient untuk tumbuhan.
Serbuk gergaji yang terdapat dalam komposisi SMS berfungsi sebagai
penyedia nutrisi bagi jamur. Sebelum digunakan sebagai media, biasanya serbuk
kayu harus dikompos terlebih dahulu agar bisa terurai menjadi senyawa yang
lebih sederhana agar mudah dicerna oleh jamur. Proses pengomposan berlangsung
1 2 hari menggunakan plastik atau terpal. Alternatif bahan yang digunakan
untuk mengganti serbuk kayu adalah berbagai macam ampas, misalnya ampas
kopi, ampas kertas, ampas tebu dan ampas teh. Dedak atau bekatul berfungsi
sebagai substrat dan penghasil kalori untuk pertumbuhan jamur (Chazali dan
Pratiwi, 2010).
Aspek desain SAPS yang harus diperhatikan adalah temperatur antara 40 o
C dan terendah 1o C, dengan reduksi sulfat sebesar 20% (Gusek et al, 2002 dalam
Bhattacharya et al 2008), tipikal reduksi sulfat antara 200 600 mmol/m 3/hari,
rekomendasi adalah 300 mmol/m3/hari untuk desain SAPS (Wildeman et al, 1994

26

dalam Bhattacharya et al, 2008). Studi yang dilakukan oleh Thomas et al, 2006
dalam Bhattacharya et al, 2008 menyatakan bahwa logam terlarut seperti Fe, Al,
Cu, Zn dan Ni dapat terakumulasi dalam substrat sepanjang waktu, walaupun fase
akumulasi berubah terhadap loading rate dan waktu. Dengan ketebalan batu kapur
1 m dan diameter 1,3 1,9 cm dapat menghasilkan paling sedikit 100 mg/L
alkalinitas untuk periode 10 tahun.
Menurut Neculita (2009), efisiensi pengolahan secara pasif air asam
tambang dengan bioreaktor, dalam hal ini SMS dan batu kapur dapat menaikkan
pH dari 2,9-5,7 menjadi pH 6 dan mereduksi logam 60-82% untuk logam Fe, dan
99,9% untuk logam Cd, Ni dan Zn dengan hidraulic retention times (HRTs) atau
waktu kontak 7,3 dan 10 hari.
2.5 Adsorpsi dan Jenis Adsorpsi
Adsorpsi adalah proses dimana satu atau lebih unsur-unsur pokok dari
suatu larutan fluida akan lebih terkonsentrasi pada permukaan suatu padatan
tertentu (adsorben). Dengan cara ini, komponen-komponen dari suatu larutan,
baik dari larutan gas ataupun cairan, bisa dipisahkan satu sama lain (Treybal,
1980). Adsorpsi melibatkan proses perpindahan massa dan menghasilkan
kesetimbangan distribusi dari satu atau lebih larutan antara fasa cair dan partikel.
Pemisahan dari suatu larutan tunggal antara cairan dan fasa yang diserap membuat
pemisahan larutan dari fasa curah cair dapat dilangsungkan. Berdasarkan interaksi
molekular antara permukaan adsorben dengan adsorbat, adsorpsi dibagi menjadi 2
(dua) jenis :
1. Adsorpsi fisik adalah adsorpsi yang terjadi akibat gaya interaksi tarik-menarik
antara molekul adsorben dengan molekul adsorbat. Adsorpsi ini melibatkan
gaya-gayaVan der Wals (sebagai kondensasi uap). Jenis ini cocok untuk proses
adsorpsi yang membutuhkan proses regenerasi karena zat yang teradsorpsi
tidak larut dalam adsorben tapi hanya sampai permukaan saja. Pada adsorpsi
fisik, adosrbat tidak terikat kuat pada permukaan adsorben sehingga adsorbat
dapat bergerak dari satu bagian permukaan ke bagian permukaan lainnya.
27

Permukaan yang ditinggalkan oleh adsorbat dapat digantikan oleh adsorbat


lainnya (multilayer).
2. Adsorpsi Kimia Adsorpsi kimia adalah adsorpsi yang terjadi akibat interaksi
kimia antara molekul adsorben dengan molekul adsorbat. Proses ini pada
umumnya menurunkan kapasitas dari adsorben karena gaya adhesinya yang
kuat sehingga proses ini tidak reversibel. Ikatan yang terbentuk merupakan
ikatan yang kuat sehingga lapisan yang terbentuk adalah lapisan monolayer.
2.6 Jenis Adsorben
Adsorben merupakan material berpori dan proses adsorpsi berlangsung di
dinding pori. Adsorben dapat digolongkan menjadi 2 (dua) jenis yaitu adsorben
tidak berpori (non-porous sorbents) dan adsorben berpori (porous sorbents).
1. Adsorben tidak berpori (non-porous sorbents)
Adsorben tidak berpori dapat diperoleh dengan cara presipitasi deposit
kristalin seperti BaSO4 atau penghalusan padatan kristal. Luas permukaan
spesifiknya kecil, tidak lebih dari 10 m2/g dan umumnya antara 0,1 1 m2/g.
adsorben tidak berpori seperti filter karet (rubber filters) dan karbon bergrafit
(graphitized carbon blacks) adalah jenis adsorben tidak berpori yang telah
mengalami perlakuan khusus sehingga luas permukaannya dapat mencapai
ratusan meter
2. Adsorben berpori
Luas permukaan spesifik adsorben berpori berkisar antara 100 1000
m2/g. Beberapa jenis adsorben berpori yang telah digunakan secara komersial
antara lain adalah karbon aktif, zeolit, silica gel, activated alumina.

2.7

Kulit Bagian Dalam Ubi Kayu Sebagai Adsorben Karbon Aktif

28

Karbon aktif merupakan arang yang telah diproses sedemikian rupa


dengan cara diaktifasi oleh suatu zat sehingga mempunyai daya serap yang tinggi.
Karbon atau arang merupakan padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon,
dihasilkan dari pemanasan pada suhu tinggi. Luas permukaan karbon aktif 300
3500 m2/g yang berhubungan dengan struktur pori internal yang berhubungan
dengan struktur pori internal yang menyebabkan karbon aktif mempunyai sifat
sebagai adsorber (Darmawan, 2010).
Kulit ubi kayu termasuk jenis sampah organik. Kulit ubi kayu mempunyai
kandungan selulosa yang cukup tinggi. Kulit ubi kayu dapat dimanfaatkan sebagai
bahan karbon aktif. (Darmawan, 2011). Karakteristik ubi kayu (manihot esculenta
crantz) yang efektif dalam menyerap logam berat (Obiri et al, 2006). Dalam
pemanfaatan ubi kayu sebagai bahan makanan dalam pengolahannya, ubi kayu
harus dikupas terlebih dahulu. Dengan kata lain kulit ubi kayu merupakan limbah
dari pengolahan ubi kayu yang cukup besar. Pemanfaatan kulit ubi kayu secara
komersil masih sedikit. Hal ini disebabkan karena kulit ubi kayu mengandung 3-5
kali lebih banyak kadar asam sianida (HCN) dari ubinya yang sangat berbahaya
jika dikonsumsi oleh manusia (Darmawan, 2010).
Menurut Darmawan (2010), salah satu cara untuk mengatasi limbah kulit
ubi kayu adalah dengan membuatnya menjadi lebih berguna dan mempunyai nilai
ekonomi yang lebih tinggi, yaitu sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif.
Dalam penelitian Koeswardhani (1995) yang melakukan analisis adsorpsi
logam Fe dan Zn pada limbah cair industri tekstil dengan karbon aktif bubuk
menyatakan bahwa efektivitas adsorpsi karbon aktif dipengaruhi waktu kontak.
Waktu kontak terbaik adalah 10 menit/liter dan kadar terendah yaitu 7,5% (75
gram karbon aktif/liter limbah cair). Dari penelitian ini juga disebutkan bahwa
karbon aktif masih efektif digunakan sebanyak 20 kali tanpa regenerasi.
Menurut Wasay, et.al, 1997 menyatakan bahwa karbon aktif berbentuk
granular mempunyai efektivitas mengadsorpsi logam (Cd, Cu, Cr, Hg, Mn, Pb dan
Zn) dari air lindi remediasi tanah yang terkontaminasi logam berat dengan
efektivitas 96 97% dengan pH antara 5,4-6,9 dan waktu kontak 5 7 jam.
29

Remediasi harian tanah 20 ton atau 10 m3 yang terkontaminasi logam berat yang
menghasilkan volume 62,5 m3 lindi dengan kadar 148 mg/L logam berat
memerlukan 575 kg granular karbon aktif. Regenerasi karbon aktif dilakukan
dengan cairan HCl.
Faktor faktor yang mempengaruhi performa karbon aktif sebagai
adsorber adalah (Desilva, 2010) :
1. Berat molekul
Dengan meningkatnya berat molekul maka daya serap akan semakin
meningkat karena molekul terlarut di dalam air. Struktur pori dari karbon harus
cukup besar untuk dapat dilewati oleh molekul terlarut.
2. pH
Penyerapan biasanya dipengaruhi oleh konsentrasi ion hidrogen dalam
larutan. Untuk asam asam organik adsorpsi akan meningkat bila pH diturunkan
atau pH rendah. Bila pH asam dinaikkan dengan penambahan alkali, adsorpsi
akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam.
3. Ukuran partikel
Ukuran partikel karbon aktif berpengaruh terhadap penyerapan logam.
Ukuran partikel yang tersedia 8-50 mesh. Ukuran yang terbaik 20-50 mesh.
4. Laju Aliran
Secara umum, laju aliran yang rendah mengakibatkan waktu kontak yang
lebih lama. Ukuran partikel 20 50 mesh mengalirkan dua kali lebih cepat dari 12
40 mesh, dan 12 40 mesh mengalirkan dua kali lebih cepat dari ukuran 8 - 30
mesh.
Kapasitas adsorpsi dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
qt = (Co Ct).V
m

(9)

dimana : qt : kapasitas adsorpsi dalam waktu t (mg adsorbate/g adsorbent)


Co : konsentrasi logam (mg/L)
Ct : konsentrasi residual setelah adsorpsi (mg/L)

30

V : volume sampel (l)


m : massa adsorbent (g)
Untuk menghitung persentase (%) penyisihan logam dapat dihitung
dengan menggunakan rumus :
R ( )=

(CoCt )
x 100
Co

..................................................................................(10)

31