Anda di halaman 1dari 58

PERENCANAAN PEMBUATAN PABRIK TEPUNG KANJI

Posted on November 19, 2010by 3id01


https://3id01.wordpress.com/2010/11/19/perencanaan-pembuatan-pabrik-tepung-kanji/

NAMA KELOMPOK:

ARIEF NURDINI / 30408152


ANGGITA PUSPITASARI / 30408127
ERLAN GUS HERMAWAN / 30408316
ERWIN IRIANTO SIAHAAN / 30408318
GHINA ANGGRAINI / 30408390
HAMDY

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kehidupan bangsa Indonesia umumnya ditopang oleh pembangunan di segala bidang
industri jasa maupun pengolahan bahan baku menjadi bahan jadi dan hasil pertanian
atau yang biasa disebut dengan agroindustri. Semakin berkembangnya industri pangan
selain dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat, juga dapat memberikan dampak
negatif dari berbagai sektor. Salah satu dampak negatif dengan berkembangnya industri
adalah timbul pencemaran lingkungan yang berasal dari limbah industri. Limbah
tersebut merusak keseimbangan sumber daya alam dan kelestarian alam.
Industri tepung tapioka atau kanji merupakan salah satu industri pangan yang terdapat
di Indonesia. Bahan baku industri ini adalah umbi ketela pohon yang diolah menjadi
tepung tapioka. Tepung tapioka merupakan bahan baku untuk keperluan industri
makanan, industri tekstil, industri kertas, dan lain-lain. Limbah industri tapioka
termasuk limbah organik, karena ditimbulkan sebagai sisa dari pengolahan ketela
pohon yang merupakan salah satu bahan organik. Apabila masalah limbah ini tidak
ditangani, maka dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.
Sebagian besar industri tapioka berlokasi dekat pemukiman berpenduduk padat
ataupun di tepi sungai. Lokasi industri di daerah tersebut dapat berakibat fatal bagi
lingkungan dan makhluk hidup yang mendiami daerah sekitar. Semakin
berkembangnya lingkungan industri maka, perlu dilakukan upaya pengelolaan

lingkungan di industri tapioka. Pengelolaan lingkungan ini tidak hanya dilakukan


setelah proses produksi selesai. Pengelolaan lingkungan ini diarahkan dengan
melakukan perubahan dalam proses produksi. Selain itu, perlu dilakukan pembangunan
lokasi pabrik Industri yang strategis dan penuh pertimbangan. Sehingga dapat
dilakukan penghematan-penghematan dalam pemakaian sumber daya serta
mengurangi beban pencemar yang keluar sebagai hasil dari proses.
Perumusan Masalah
Rencana dalam pembuatan pabrik tepung singkong (kanji) tentunya memiliki suatu
permasalahan yang perlu dikembangkan. Permasalahan tersebut menyangkut
bagaimana melakukan perencanaan pembangunan pabrik tepung kanji dengan modal
sebesar Rp 2.000.000.000 hingga pabrik tersebut beroperasi dan menghasilkan tepung
kanji yang siap jual.
Pembatasan Masalah
Perencanaan pembuatan pabrik tepung kanji ini pun dibatasi oleh beberapa hal.
Adapun pembatasan dalam masalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Pabrik yang akan dibuat merupakan pabrik tepung kanji.
2.
Modal rencana pembuatan pabrik adalah Rp. 2.000.000,00.
3.
Lokasi pembuatan pabrik adalah di kabupaten Sukabumi Selatan.
4.
Kapasitas produksi pabrik adalah sebesar 5 ton per hari.
Tujuan Penulisan
Pembuatan pabrik tepung kanji ini mempunyai beberapa tujuan. Adapun tujuan-tujuan
tersebut adalah sebagai berikut:
1.

Mampu melakukan analisis dan estimasi biaya pembuatan pabrik tepung kanji
dengan modal sebesar Rp. 2.000.000.000,00.
2.
Mampu mengidentifikasikan hal-hal yang diperlukan dalam pembuatan pabrik
tepung kanji.
3.
Mampu mengimplementasikan analisis dan estimasi biaya ini dalam kehidupan
nyata.

PEMBAHASAN

Industri tapioka mulai berkembang sejak tahun 1980-an. Industri pengolahan tapioka
ini menggunakan modal sendiri dan sebagian menggunakan modal dari perbankan dan
bantuan dari BUMN serta kemitraan. Di Indonesia, industri tepung tapioka memiliki
asosiasi, yaitu Assosiasi Tepung Tapioka Indonesia (ATTI) yang berpusat di Jakarta.
Keberadaan asosiasi ini belum begitu dirasakan oleh pihak-pihak terkait terutama
petani yang tidak dapat menikmati harga singkong sesuai dengan kesepakatan antara
pemda, petani dan pengusaha. Sementara pengusaha tidak dapat memperoleh bahan
baku secara langsung dari petani. Asosiasi ini diharapkan dapat berperan dalam
pengendalian harga pasar tepung tapioka, harga bahan baku serta akses permodalan
bagi pengusaha, sehingga industri tapioka dapat berkembang dalam rangka memenuhi
permintaan pasar dalam negeri dan pasar luar negeri.
Tapioka atau kanji atau tepung singkong ini berbahan dasar singkong. Singkong disebut
juga ubi kayu atau ketela pohon. Singkong merupakan bahan baku berbagai produk
industri, yakni meliputi industri makanan, farmasi, tekstil, dan lain-lain. Dalam industri
makanan, pengolahan singkong, dapat digolongkan menjadi tiga yaitu hasil fermentasi
singkong, singkong yang dikeringkan, dan tepung singkong atau tepung tapioka.

Gambar 1. Singkong
(Sumber : http://www.iptek.net.id/ind/terapan/images)
Teknologi yang dapat digunakan dalam industri tepung kanji atau tapioka adalah
industri tradisional, semi modern, dan full otomate. Industri tradisional adalah industri
pengolahan tapioka yang mengandalkan sinar matahari dan produksi tergantung pada
musim. Industri semi modern menggunakan mesin pengering (oven) dalam tahap
pengeringan. Sedangkan, industri full otomate yaitu industri pengolahan tapioka yang
menggunakan mesin dari proses awal sampai produk jadi. Industri tapioka yang

menggunakan peralatan full otomate berarti memiliki efisiensi tinggi, karena proses
produksi memerlukan tenaga kerja yang sedikit, waktu lebih pendek, serta
menghasilkan tapioka yang berkualitas.
Tenaga kerja pada industri tapioka tidak memerlukan keahlian khusus. Jumlah tenaga
kerja pun ditentukan oleh kapasitas produksi dan teknologi yang digunakan. Semakin
tinggi volume produksi semakin besar jumlah tenaga kerja yang diserap. Tenaga kerja
yang dibutuhkan meliputi seluruh proses produksi dari pengupasan sampai pada
pengeringan produk. Adapun tahapan proses produksi dari pembuatan tepung tapioka,
yaitu sebagai berikut:
1.

Pengupasan
Pengupasan dilakukan dengan cara manual yang bertujuan untuk memisahkan
daging singkong dari kulitnya. Selama pengupasan, dilakukan pula tahap pemilihan
singkong yang berkualitas tinggi dari singkong lainnya. Singkong yang kualitasnya
rendah tidak diproses menjadi tapioka dan dijadikan sebagai makanan untuk ternak.
2.
Pencucian
Pencucian dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan meremas-remas singkong di
dalam bak yang berisi air. Hal ini bertujuan untuk memisahkan kotoran pada
singkong.
3.
Pemarutan. Pada tahap pemarutan ini dilakukan cara semi mekanis. Tahap ini
maksudnya adalah pemarutan dilakukan dengan digerakkan oleh generator. Pada
tahap ini tidak sepenuhnya menggunakan tenaga maksimal manusia.
4.
Pemerasan
Tahap pemerasan ini dilakukan dengan menggunakan saringan goyang. Dimana
setelah dilakukan pemarutan dan dihasilkan bubur singkong, lalu bubur singkong
tersebut diletakkan di atas saringan yang digerakkan dengan mesin. Pada saat
saringan bergoyang, ditambahkan pula air melalui pipa berlubang. Pati yang
dihasilkan ditampung dalam bak pengendapan.

Gambar 2. Mesin Pemerasan


5. Pengendapan. Pati hasil pemerasan diendapkan dalam bak pengendapan selama 4
jam. Air di bagian atas endapan dialirkan dan dibuang, sedangkan endapan diambil dan
dikeringkan.
6. Pengeringan. Tahap pengeringan ini memerlukan mesin oven. Sebaiknya tepung
tapioka yang dihasilkan mengandung kadar air 15-19%.
Industri pengolahan singkong ini juga memiliki berbagai kendala. Salah satunya adalah
masalah ketersediaan bahan baku. Ketersediaan bahan baku sangat penting karena
apabila terjadi kelangkaan bahan baku singkong, maka produksi akan macet. Oleh
karena itu, kemitraan dengan petani sebagai pemasok bahan baku sangat diperlukan.
Disamping untuk menjamin ketersediaan bahan baku, kemitraan ini juga untuk
menjamin kualitas bahan baku.
Dalam pembuatan pabrik ini kami memakai jasa kontraktor PT. SENTRA SUCCES.
Kami memilih PT ini karena mereka mampu membuat pabrik dengan tata layout yang
terbaik dan harganya pun terjangkau untuk pembuatan pabrik singkong ini.
BIAYA OPERASIONAL
No

Asumsi

Satuan

Jumlah/nilai

Periode proyek

Tahun

Ruas tanah

Hektar

Hari kerja Per bulan

Hari

25

-Bulan kerja per tahun

Bulan

12

-Hari kerja tenaga borongan

Hari

300

Produksi dan harga

Kapasitas maksimum/hari

Ton

-Produksi per bulan

Ton

125

-Produksi per tahun

Ton

1500

-Harga tapioka per ton

Ton

3.800.000,-

-Produksi onggok per bulan

Ton

20

Rendaman per ton bahan baku

-Tapioka

25%

-Onggok

8%

Penggunaan tenaga kerja

-Tenaga manajerial

Rp/Orang

-Tenaga kerja tetap

Rp/Orang

20

Upah tenaga kerja per hari

-Tenaga manajerial

Rp/Orang

-Tenaga Kerja Tetap

Rp/orang

30.000 per hari

Bahan baku per bulan

Ton

125

Harga bahan baku

Rp/ton

400.000

10

Discount factor/suku bunga

5%

A. Singkong
1 kg : Rp. 400,00
12,5 ton : Rp. 5.000.000,- dengan potongan 5 % menjadi Rp. 4.750.000 / hari = Rp.
118.750.000,00/bulan = Rp. 1.425.000.000/tahun.

B. Hari Kerja
Jam 8 s.d 12. Breakjam 13 s.d 17 (8jam / hari) dengan hari Jumat sebagai hari
libur dan hari kerja Sabtu sampai Kamis. (1 bulan : 25 hari) dengan 7 divisi pekerjaan
dengan jumlah operator sebanyak 20 orang.
1.
Pengupasan = 10 orang
2.
Pencucian = 3 orang
3.
Penggilingan = 2 orang (packing)
4.
Pemerasan = 2 orang (packing)
5.
Penyaringan = 1 orang
6.
Penirisan
= 1 orang
7.
Pengeringan = 1 orang (packing) dengan menggunakan oven listrik
Setelah semua proses tersebut dilakukan, maka jadilah tepung tapioca.
C. Gaji : 1 orang : Rp. 750.000,00 / bulan
20 orang : Rp. 15.000.000,00 / bulan = Rp. 180.000.000,00/tahun
D. Energi
Listrik : Rp. 1.500.000 / bulan = Rp. 18.000.000,00 / tahun
Solar : 1 mesin : 20 liter (Rp. 4500/liter)
20 liter : Rp. 90.000,00/hari
1 mesin dengan kapasitas 20 liter : Rp. 90.000,00/hari
1 mesin dengan kapasitas 20 liter : Rp. 2.250.000/bulan
1 mesin dengan kapasitas 20 liter : Rp. 27.000.000/tahun
E. Telepon
Biaya Telepon per bulan : Rp. 1.000.000/bulan
biaya telepon per tahun : Rp. 12.000.000,F. Marketing

Promosi menggunakan Brosur

: Hanya pada kawasan Bogor

Promosi menggunakan Agen

: Daerah Cianjur, Sukabumi

Promosi menggunakan Internet : Sistem Kontrak


Total Promosi

: Rp. 1.000.000,-

G. Transportasi
Mobil Truk 2 buah

: Rp. 384.000.000,-

Transportasi (untuk bensi dll) : Rp. 300.000.000,Total Transportasi

: Rp. 684.000.000,-

H. Perawatan Mesin
Harga Mesin (Mesin ada 3 buah) : Rp. 350.000.000 masa 5 tahun
Perawatan mesin satu minggu

: Rp. 300.000 / Minggu

Perawatan mesin satu bulan

: Rp. 1.200.000 / Bulan

Perawatan mesin satu tahun

: Rp. 14.400.000 / Tahun

Biaya Mesin Genset


: Rp.15.000.000
I.
Total Biaya Tahunan
Bahan baku
: Rp. 1.425.000.000
Gaji

: Rp. 180.000.000

Listrik

: Rp. 18.000.000

Solar

: Rp. 27.000.000

Telepon

: Rp. 12.000.000

pembelian mesin

: Rp. 350.000.000,-

Perawatan mesin

: Rp. 14.400.000

Marketing

: Rp.

Biaya Mesin Genset

: Rp. 15.000.000 +

Total biaya

: Rp. 2.053.400.000

12.000.000

J. Biaya Tanah
Surat Izin (PBB dan Pajak)

: Rp. 10.000.000

Harga Tanah (400 meter)

: Rp. 100.000.000

Pembangunan (Kontraktor)

: Rp. 500.000.000 +

Total Biaya

: Rp. 610.000.000

K. Biaya tahunan dan tanah


Biaya tahunan
: Rp. 2.053.400.000
Biaya Transportasi

: Rp.

684.000.000,-

Biaya Tanah

: Rp.

610.000.000 +

Total Biaya

: Rp. 3.347.400.000,-

L. Sisa Uang
Besar Modal pinjaman dari Bank

: Rp. 2.000.000.000

Tambahan peminjaman modal

: Rp. 1.350.000.000

Biaya tahunan dan tanah


Total Sisa Uang

: Rp. 3.347.400.000
: Rp.

2.600.000

PERINCIAN KEUNTUNGAN
Selama 1 hari dapat menghasilkan 5 ton Tepung tapioka, maka selama 1 tahun mampu
menghasilkan 1500 ton tepung tapioka. Dimana 1 karung tepung tapioka berisi 50 kg
tapioca. Dengan harga 1 kilogram tapioka sebesar Rp. 4000.
1 karung tapioka

: Rp. 190.000

100 Karung tapioka : Rp. 190.000.000 / hari


: Rp. 475.000.000 / bulan
: Rp. 5.700.000.000 / Tahun

Onggok 1 karung 50 kg : Rp. 30.000,40 karung onggok

: Rp. 1.200.000,- / hari

: Rp. 30.000.000,- / bulan


: Rp. 360.000.000,- / tahun
Biaya bersih:
100 karung tapioka (1tahun) : Rp. 5.700.000.000
40 karung onggok (1 tahun) : Rp. 360.000.000 +
Total
Modal+Bunga 10%

:Rp. 6.060.000.000
: Rp. 1.842.500.000.

Total
: Rp. 4.217.500.000

Pengembalian modal dilakukan secara 2 tahap, yaitu tahun pertama sebesar 50%
dan tahun kedua 50%
Keuntungan:

Total biaya Bersih


Total biaya tahunan+tanah
Besar Keuntungan

No
1

Thn 1 : Rp. 870.100.000


Tahun Pertama
Satuan

Jumlah

Harga(per
satuan)

Nilai per bulan

Nilai per tahun

A. Tetap

Orang/bulan

20

750.000

15.000.000

180.000.000

B. Tidak Tetap

Orang/bulan

20

750.000

15.000.000

180.000.000

Ton

12.5

4.750.000

118.750.000

1.425.000.000

Ton

12.5

4.750.000

118.750.000

1.425.000.000

A. Solar

Liter/hari

20

4.500

2.250.000

27.000.000

B. Listrik

Bulan

1.500.000

1.500.000

18.000.000

C. Telepon

Bulan

1.000.000

1.000.000

12.000.000

22

2.504.500

4.750.000

57.000.000

Unit

384.000.000

384.000.000

Liter
Ton per bulan

150
125

4500
19.000.000

25.000.000
475.000.000

300.000.000
5.700.000.000

Minggu
Rupiah
Unit
Ton
Rupiah

1
1
4
2
1

300.000
610.000.000
365.000.000
1.200.000
1.000.000

1.200.000

30.000.000
1.000.000

14.400.000
610.000.000
365.000.000
360.000.000
12.000.000

Rupiah

1.842.500.000

Input
Tenaga kerja

Jumlah
Bahan Baku
A. Singkong

: Rp. 4.217.500.000
: Rp. 3.347.400.000

Jumlah
Biaya overhead

Jumlah
Transportasi
A. Mobil truck

B. Bensin
5
Penjualan Output
Perbaikan dan
pemeliharaan alat
6
Perizinan dan tanah
7
Pembeliaan mesin
8
Penjualan onggok
9
Marketing
Pengembalian modal
10
+ bunga 10% th 1
Jumlah Total Biaya

Keuntungan pada tahun ke-2


Bahan baku
: Rp. 1.425.000.000,Gaji karyawan
: Rp. 180.000.000
Biaya overhead
: Rp.
57.000.000
Transportasi
: Rp. 300.000.000
Maintenance
: Rp. 14.400.000

339.300.000

1.842.500.000
870.100.000

Perijinan
Marketing
Total

: Rp. 10.000.000
: Rp. 12.000.000
: Rp. 1,998,400,000

Pendapatan penjualan tahun ke-2:


Biaya bersih:
100 karung tapioka (1tahun) : Rp. 5.700.000.000
40 karung onggok (1 tahun) : Rp. 360.000.000 +
Total
Rp. 6.060.000.000
Total pendapatan : Rp. 6.060.000.000
Rp. 870.100.000 +
Total
: Rp. 6.930.100.000
Total pengeluaran : Rp. 1,998,400,000
Rp. 2.026.750.000 +
Rp. 4.025.150.000
Keuntungan
: Rp. 6.930.100.000
Rp. 4.025.150.000
Rp. 2.904.950.000

Tahun Kedua
No
1

Satuan

Jumlah

Harga(per
satuan)

Nilai per bulan

Nilai per tahun

A. Tetap

Orang/bulan

20

750.000

15.000.000

180.000.000

B. Tidak Tetap

Orang/bulan

20

750.000

15.000.000

180.000.000

Ton

12.5

4.750.000

118.750.000

1.425.000.000

Ton

12.5

4.750.000

118.750.000

1.425.000.000

A. Solar

Liter/hari

20

4.500

2.250.000

27.000.000

B. Listrik

Bulan

1.500.000

1.500.000

18.000.000

C. Telepon

Bulan

1.000.000

1.000.000

12.000.000

Input
Tenaga kerja

Jumlah
Bahan Baku
A. Singkong

Jumlah
Biaya overhead

22

2.504.500

4.750.000

57.000.000

A. Bensin
Penjualan Output
Perbaikan dan
6
pemeliharaan alat
7
Perizinan
8
Penjualan onggok
9
Marketing
Pengembalian modal
10
+ bunga 10% th 2

Liter
Ton per bulan

150
125

4500
19.000.000

25.000.000
475.000.000

300.000.000
5.700.000.000

Minggu
Rupiah
Ton
Rupiah

1
1
2
1

300.000
10.000.000
1.200.000
1.000.000

1.200.000

30.000.000
1.000.000

14.400.000
10.000.000
360.000.000
12.000.000

Rupiah

2.026.750.000

11

Rupiah

870.100.000

Jumlah
Transportasi

Sisa auang th 1

Jumlah Total Biaya

870.100.000
339.300.000

Break Event Point (BEP):


Biaya tetap
1. Bahan baku
2. Gaji
3. Perawatan mesin
4. Ijin
Total

Rp. 1.425.000.000/tahun
Rp. 180.000.000/tahun
Rp. 14.400.000/tahun
Rp. 10.000.000
+
Rp. 1.629.400.000 / tahun

Biaya variabel
1. Energy
2. Transportasi
3. Marketing
Total

Rp. 45.000.000/tahun
Rp. 300.000.000/tahun
Rp. 1.000.000/tahun
+
Rp. 346.000.000/ tahun

BEP = FC / (1-VC/P)
Dimana:
FC
: Biaya Tetap
P

: Harga jual per unit

VC

: Biaya Variabel per unit

2.026.750.000
2.904.950.000

BEP = FC / (1-VC/P)
= 1.629.400.000 / (1- (364.000.000/5.700.000.000))
= 1.629.400.000 / 0.93614035
= 1.740.550.975,- / tahun

KESIMPULAN
1. Setelah melakukan perhitungan dari berbagai macam referensi baik melalui media informasi
maupun langsung kepada orang yang mengerti akan harga bahan baku yang digunakan
untuk membuat tepung kanji, yaitu singkong. Dengan menggunakan modal sebesar Rp.
2.000.000.000,00 serta tambahan pinjaman terhaap Bank sebesar Rp.1.350.000.000 mampu
melakukan proses pembuatan sebuah pabrik tepung kanji yang sudah meliputi biaya
operasional pabrik selama 1 tahun, seperti tenaga kerja, perbaikan mesin, bahan baku, dll.
2. Pembuatan pabrik tepung kanji ini telah melalui proses perencanaan yang matang,
baik dari segi pembuatan maupun dari segi produksi yang dihasilkan. Dengan
mempertimbangkan segi ekonomis dalam proses produksinya guna meminimasi
pengeluaran biaya operasional. Seperti penggunaan mesin dalam produksinya
sehingga meminimasi tenaga kerja, mempertimbangkan hal yang biasanya terjadi
seperti pemadaman listrik, telah tersedianya genset guna mengantisipasi
terganggunya proses produksi.
3. Proses pembutan pabrik tepung kanji ini telah mempertimbangkan baik dari segi
teoritis dalam perhitungannya maupun dari segi kehidupan nyata seperti harga
bahan baku maupun peralatannya. Sehingga tidak menutup kemungkinan hasil
analisis dan estimasi biaya yang telah dilakukan dalam proses pembuatan pabrik
tepung kanji ini dapat diaplikasikan dalam dunia nyata.
digilib.unila.ac.id/5911/16/BAB%20II.pdf

http://digilib.unila.ac.id/3960/14/BAB%20II.pdf

PEMANFAATAN LIMBAH ONGGOK (ampas) TAPIOKA MENJADI TEPUNG AMPAS SEBAGAI


BAHAN BAKU OBAT NYAMUK DAN INDUSTRI MAKANAN
PEMANFAATAN LIMBAH ONGGOK / AMPAS TAPIOKA
kabupaten Pati salah satu sentra penghasil tepung Tapioka terbesar di Jawa
Tengah dengan jumlah di Indonesia ada 1.343 unit usaha, yang meliputi 27 jenis

industri. Total kapasitas industri mencapai 33.85 juta ton pertahun dengan total
investasi 20.17 trilyun.

Dalam industri pangan, limbah dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan.


Limbah industri pangan juga dapat menimbulkan masalah dalam penanganannya
karena mengandung sejumlah besar karbohidrat, protein, lemak, garam-garam
mineral dan sisa-sisa bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan dan
pembersihan (Jenie dan Rahayu, 1990).
Pada umumnya, limbah industri pangan tidak membahayakan kesehatan
masyarakat, karena tidak terlibat langsung dalam perpindahan penyakit. Akan
tetapi kandungan bahan organiknya yang tinggi dapat bertindak sebagai sumber
makanan untuk pertumbuhan mikroba (Jenie dan Rahayu, 1990).
Banyak contoh limbah industri pangan yang menimbulkan pemcemaran
lingkungan, salah satu contohnya adalah limbah industri tapioka. Industri tapioka
mengolah singkong sebagai bahan baku utama menjadi tepung tapioka. Di
Indonesia industri tepung tapioka tersebar di beberapa daerah antara lain; Kediri,
Madiun, Pati, Banyumas, Kuningan, Garut, dan Ciamis.
Limbah industri tapioka terdiri dari dua jenis, yaitu limbah cair dan limbah
padat.

Limbah

cair

akan

mencemari

air,

sedangkan

limbah

padat

akan

menimbulkan bau yang tidak sedap, apabila tidak ditangani dengan tepat. Onggok
tapioka merupakan limbah padat industri tapioka yang berupa ampas hasil
ekstraksi dari pengolahan tepung tapioka. Dalam industri tapioka dihasilkan 75%
onggok tapioka dari total bahan baku yang digunakan
Jumlah onggok tapioka yang dihasilkan dari industri kecil dengan bahan baku
lima kg per hari menghasilkan onggok tapioka sebanyak 3,75 kg. Sedangkan
industri menengah dengan bahan baku rata-rata sebanyak 20 kg per hari
menghasilkan 15 kg onggok tapioka dan industri besar dengan bahan baku 600 kg
per hari dapat menghasilkan onggok tapioka sebanyak 450 kg. Dari data tersebut
terlihat bahwa jumlah onggok yang dihasilkan dari industri tepung tapioka sangat
besar.
Sistem penanganan limbah yang digunakan dewasa ini adalah pemberian
perlakuan dan pembuangan limbah ke saluran pembuangan. Menurut Loehr (1977),
teknologi penanganan limbah yang dapat diterapkan untuk jenis industri pangan
adalah dengan cara penanganan biologik, pengendalian di dalam pabrik, filtrasi

pemisahan padatan biologik. Sistem seperti ini membutuhkan perlakuan cara-cara


kimia atau biologik, dan hal ini umumnya membutuhkan biaya yang mahal (Jenie
dan Rahayu, 1990). Oleh karena itu, untuk menekan biaya yang tinggi tersebut
dapat dilakukan pemisahan kembali produk-produk yang berguna dari limbah
tersebut.
Onggok tapioka merupakan limbah industri pangan yang jumlahnya sangat
banyak dan akan menjadi polusi bila tidak segera ditangani. Oleh karena itu
diperlukan usaha untuk memanfaatkan onggok tapioka dengan mengolahnya
kembali menjadi suatu produk, sehingga pencemaran lingkungan dapat berkurang
dan nilai guna onggok dapat meningkat. Pengolahan onggok tapioka menjadi
minyak merupakan suatu cara alternatif penanganan limbah secara efektif, karena
dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan nilai guna serta nilai
ekonomis onggok.
Onggok di Kabupaten Pati banyak degunakaqn sebaqgai bahan pakan ternak untuk yang masih
basah, sedangkan untuk onggok kering di tepung untuk dijual ke industri / pabrik obat nyamuk
dan sebagai bahan pembuat saos. untuk saat ini permintaan tepung onggok sangat tinggi, hal
ini dapat dilihat sulitnya mendapatkan bahan baku onggok kering untuk diolah sebagai tepung.
salah satu pabrik penepung onggok yang bada di kabupaten Pati adalah PT. Dua Putra Utama
yang ada di Dukuh Gunyangan Jl Raya Pati -Juana.
http://12010045.blogspot.co.id/2013/04/pemanfaatan-limbah-onggok-tapioka.html
Posted by Agus Najib at 3:30 AM

Pengolahan Limbah Padat Tapioka

http://helpingpeopleideas.com/publichealth/p
engolahan-limbah-tapioka/
Secara umum, pengelolaan limbah dapat dilakukan dengan cara pengurangan
sumber, penggunaan kembali, pemanfaatan, pengolahan, dan pembuangan.
Banyak jenis limbah dapat dimanfaatkan kembali melalui daur ulang atau
dikonversikan ke produk lain yang berguna. Pada dasarnya limbah dapat
mengalami perubahan secara biologis sehingga dapat dikonversikan ke produk
lain seperti energi, pangan, pakan, pupuk organik, dan lain-lain. Limbah yang
dapat dikonversikan ke produk lain, misalnya limbah dari industri pangan.
Limbah tersebut biasanya masih mengandung serat, karbohidrat, protein,
lemak, asam organik, dan mineral (Retnaningtyas, 2004).

Proses pengolahan singkong menjadi tepung tapioka akan menghasilkan limbah


2/3 sampai 3/4 dari bahan mentahnya (Amri, 1998). Limbah tepung tapioka
terdiri atas limbah padat yang biasa disebut onggok dan limbah cair. Limbah
padat berupa kulit dan ampas. Kulit diperoleh dari proses pengupasan,
sedangkan ampas yang berupa serat dan pati diperoleh dari proses
penyaringan.

Limbah cair industri tapioka dihasilkan selama proses pembuatan, mulai dari
pencucian sampai proses pengendapan. Apabila limbah industri tapioka tidak
diolah dengan baik dan benar dapat menimbulkan berbagai masalah,
diantaranya penyakit gatal-gatal, batuk dan sesak nafas; timbul bau yang tidak
sedap; mencemari perairan tambak sehingga ikan mati; perubahan kondisi
sungai karena proses pencemaran (Wahyuadi, 1996).
Limbah padat tapioka yang dihasilkan dari pengolahan ubi kayu merupakan
suatu media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme karena memiliki
keseimbangan bahan-bahan organik dan anorganik di dalamnya yang
merupakan nutrisi bagi pertumbuhan mikroorganisme. Menurut
Tjokroadikoesoemo (1986), limbah padat tapioka juga tidak mengandung bahanbahan beracun bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan jasad renik.
Terdapat beberapa alternatif yang dapat diterapkan, untuk melakukan
pengolahan limbah padat tapioka ini, seperti teknik biofertilizer dan
pengomposan. Teknik biofertilizer dapat dilakukan dengan cara menambahkan
Biolink-5. Biolink-5 merupakan kumpulan dari lima macam mikrorganisme yang
berperan dalam pendegradasian bahan organik, yaitu Bakteri Bacillus
thuringiensis, Bacillus subtilis, Bacillus megaterium, Lactobacillus plantarum,
dan Khamir Saccharomices cerevisiae. Dengan pemanfaatan ini, limbah padat
tapioka dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai manfaat dan ekonomis.
Teknik lain yang dapat dipilih dengan teknologi pengolahan dan pemanfaatan
limbah yang sederhana, murah dan effektif adalah pengomposan. Menurut
Slamet (2000), pengomposan adalah suatu cara untuk mengkonversikan bahanbahan organik menjadi bahan yang telah dirombak lebih sederhana dengan
menggunakan aktifitas mikroorganisme. Proses pengomposan secara alami
berlangsung dalam waktu yang cukup lama yaitu 2 3 bulan, bahkan 6 12
bulan tergantung dari bahannya. Proses pengomposan dapat dipercepat dengan
bantuan penambahan inokulan, sumber nitrogen, dan air.

Pembuatan biofertilizer dari limbah padat tapioka dengan penambahan Biolink-5


yang tepat serta penentuan waktu pengomposan yang benar diharapkan dapat
merubah karakteristik limbah padat tapioka yaitu dengan adanya penurunan
rasio C/N bahan organik hingga sama dengan C/N tanah yaitu 20 sehingga
dapat digunakan sebagai biofertilizer yang dapat diserap oleh tanaman
Komponen besar lainnya dari pengolahan tapioka adalah keberadaan kulit
singkong. Pada dasarnya hampir semua bagian dari pohon singkong bisa
dimanfaatkan mulai dari umbi hingga daunnya. Umbi Singkong biasanya hanya
diambil dagingnya dan untuk digoreng atau direbus. Sedangkan kulitnya
dibuang begitu saja atau di jadikan makanan untuk hewan ternak. Kulit singkong
selama ini memang sering disepelekan dan dianggap sebagai limbah dari
tanaman singkong. Padahal, kulit singkong ini memiliki kandungan karbohidrat
yang tinggi yang dapat dikonsumsi pula oleh manusia. Presentase jumlah
limbah kulit bagian luar sebesar 0,5-2% dari berat total singkong segar dan
limbah kulit bagian dalam sebesar 8-15%. Selain itu, kulit singkong juga terdiri
dari bahan karbon sebesar 59,31% sehingga dapat dimanfaatkan sebagai
karbon aktif.
Kulit singkong mempunyai komposisi yang terdiri dari karbohidrat dan serat.
Menurut Djaeni (1989), kulit singkong mengandung ikatan glikosida sianogenik
yaitu suatu ikatan organik yang dapat menghasilkan racun dalam jumlah 0.1%
yang dikenal sebagai racun biru (linamarin). Oleh karena itu, pemanfaatan kulit
singkong belum terlalu luas. Namun sebenarnya racun tersebut dapat
dihilangkan dengan cara menguapkannya atau mengeringkannya pada suhu
tinggi dan jika diolah menjadi karbon aktif racun biru tersebut akan hilang.
Sampah kulit singkong termasuk dalam kategori sampah organik karena sampah
ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Pengolahan limbah
kulit singkong dapat dimanfaatkan sebagai:
1. Kompos : Kulit singkong dapat diproses menjadi pupuk organik yang
kemudian disebut sebagi pupuk kompos. Kompos kulit singkong
bermanfaat sebagai sumber nutrisi bagi tumbuhan dan berpotensi
sebagai insektisida tumbuhan.
2. Pakan ternak : Kulit singkong sebagai pengganti rumput lapang. Karena
kulit singkong yang mengandung karbohidrat tinggi dapat dengan cepat
menggemukkan hewan ternak.

3. Bio energi : Kulit singkong bisa berpotensi untuk diproduksi menjadi


bietanol yang digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak.
Teknologi pembuatan bioetanol dari limbah kulit singkong melalui proses
hidrolisa asam dan enzimatis merupakan suatu alternatif dalam rangka
mendukung program pemerintah tentang penyediaan bahan bakar non
migas yang terbarukan yaitu BB ( bahan bakar nabati ) sebagai pengganti
bensin.
4. Sebagai karbon aktif

KARAKTERISTIK LIMBAH HASIL OLAHAN SINGKONG DALAM


PROSES PEMBUATAN TEPUNG TAPIOKA (MANIHOT
ESCULENTA ) DI SINAR KARYA USAHA.

KARAKTERISTIK LIMBAH HASIL OLAHAN SINGKONG DALAM


PROSES PEMBUATAN TEPUNG TAPIOKA
(MANIHOT ESCULENTA )
DI SINAR KARYA USAHA. KEC, PALOH , KAB, SAMBAS

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG

Disusun Oleh:
MOKMIN
2009340018

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN DAN SUMBERDAYA ALAM
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG
2012

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Singkong atau ketela pohon merupakan bahan baku utama yang digunakan
dalam pembuatan tepung tapioka atau kanji. Selain ketersediaan lahan yang luas,
budidaya tanaman ini relatif mudah dan murah baik dari segi persediaan bibit,
penanaman maupun perawatannya. Menurut Zulaikah (2002), kandungan gizi yang
dimiliki oleh singkong atau ketela pohon yaitu karbohidrat 36.8%, protein 1.0%,

lemak 0.3%, serat 0.9% dan air 61.4%.Menurut MSI tahun 2011, luas panen
Singkong di Sambas Kalbar diperkirakan mencapai 1,2 juta. Hektar (ha) dengan
produktivitas sebesar 19,5 ton perhektar, maka dihasilkan. Sekitar 23,5 juta ton
singkong basah.
Singkong merupakan bahan baku berbagai produk industri seperti industry
makanan, farmasi, tekstil dan lain-lain. Industri makanan dari singkong cukup
beragam mulai dari makanan tradisional seperti getuk, timus, keripik, gemblong,
dan berbagai jenis makanan lain yang memerlukan proses lebih lanjut.Didalam
singkong terdapa hidrogen sianida (HCN).HCN ini dapat menimbulkan gangguan
kesehatan, seperti penyempitan saluran napas, mual, muntah, sakit kepala, bahkan
bisa menimbulkan kematian. Namun dalam jumlah kecil sianida masih dapat
ditolerir tubuh yaitu 1mg per kilogram berat. (Higa, 2000).
(Jose dkk, 2000). Tapioka kaya karbohidrat dan energi. Tapung ini juga tidak
mengandung gluten, sehingga aman bagi yang alergi. Karena mengandung
linamarin, tapioka dapat menangkal pertumbuhan sel kanker. Secara awam, tapioka
sering disebut sebagai tepung. Walaupun sama-sama berasal dari singkong, Tepung
tapioka sangat berbeda dengan tepung singkong.Tapioka bersifat larut di dalam air,
sedangkan tepung singkong tidak larut.
Selain menghasilkan tepung, pengolahan tapioka juga menghasilkan limbah
yang akan menimbulkan masalah,baik limbah padat maupun limbah cair. Limbah
padat seperti kulit singkong dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pupuk,
sedangkan onggok (ampas) dapat digunakan sebagai sebagai bahan baku pada
industry pembuatan saus, campuran kerupuk, obat nyamuk bakar dan pakan
ternak. Limbah cair dapat dimanfaatkan untuk pengairan sawah dan ladang, selain
itu limbah cair pengolahan tapioka dapat diolah menjadi minuman nata de cassava.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan Praktek Kerja Lapangan adalah:
a)

Mengetahui proses produksi tepung tapioka di Sinar Karya Usaha, Kec.Paloh.

b)

Mengatahui permasalahan produksi tepung tapioka khususnya pada limbah


tepung tapioka.
1.3. Manfaat
Manfaat yang kemudian di dapat setelah melakukan praktek kerja lapang
mahasiswa dapat mengetahui secara langsung proses produksi tepung tapioka
serta kendalanya di lapangan dan memahami pengolahan limbah tepung tapioka.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Singkong
Singkong, (Manihot esculenta) Crantz, adalah semak berkayu yang selalu hijau
dengan akar dapat dimakan, yang tumbuh di daerah tropis dan subtropis wilayah di
dunia. Hal ini juga disebut yuca, singkong, dan mandioca. Singkong memiliki
kemampuan untuk tumbuh di lahan marjinal di mana sereal dan tanaman lain tidak
tumbuh dengan baik, yang dapat mentolerir kekeringan dan dapat tumbuh di tanah
rendah gizi.(Swiss Development Cooperation, 1993).
Singkong merupakan salah satu makanan pokok rakyat Indonesia, singkong
dengan nama binomial Manihot esculenta dari kerajaan plantae. Merupakan
tumbuhan tropik dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya biasa
dimakan karena sumber karbohidrat begitupun daunnya yang dimanfaatkan
sebagai sayuran. Singkong dibedakan menjadi 2 tipe yaitu tipe pahit dan manis.
Tipe yang berasa pahit mengandung kadar racun yang tinggi dibanding yang berasa
manis. Jika singkong mentah tidak dimasak sempurna maka akan terbentuk
hidrogen sianida (HCN). Pada singkong mentah/pahit kadar hidrogen sianida lebih
besar dari 50mg per kilogram sedangkan untuk yang sudah matang/manis

kadarnya

lebih

kecil

dari

50mg

per

kilogram.

(http://klikharry.wordpress.com/2006/12/14/keracunan-sianida/)
Varietas-varietas

singkong

unggul

yang

biasa

ditanam

penduduk

Indonesia adalah Singkong Valenca, Singkong Mangi, dan Singkong Gajah.

Singkong Valenca
(Endang, 2000) Ketela pohon Valenca berasal dari benua Amerika, tepatnya
dari negara Brazil. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia, antara lain: Afrika,
Madagaskar, India, Tiongkok. Ketela pohon berkembang di negara-negara yang
terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada tahun 1852.
Di Indonesia, ketela pohon Valenca menjadi makanan bahan pangan pokok
setelah beras dan jagung.(Rudi, 2006) Manfaat daun ketela pohon valenca sebagai
bahan sayuran memiliki protein cukup tinggi, atau untuk keperluan yang lain seperti
bahan obat-obatan.
Singkong Mangi
Jenis singkong mangi (Endang, 2000) pertama kali dikenal di Amerika Selatan
kemudian dikembangkan pada masa pra-sejarah di brasil dan paraguay. bentukbentuk modern dari spesies yang telah dibudi dayakan dapat ditemukan bertumbuh
liar di brasil selatan. meskipun spesies mangi yang liar ada banyak, semua varitas
mangi dapat dibudidayakan.
Singkong Gajah
Singkong gajah adalah singkong varietas Asli Kalimantan timur yang
ditemukan oleh Prof. Dr. Ristonom, MS dan dipublikasikan melalui Koran Lokal di
Kalimantan Timur dan internet sejak tanggal 08 Juli 2008.

Sosialisai dan

pengembangan dimulai tanggal 01 Juni 2009 dengan acara Panen Raya dan Bazaar

di Desa Bukit Pariaman, Kec. Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara


Provinsi Kalimantan Timur.
Singkong juga sangat dibutuhkan oleh berbagai bahan produksi berbagai
macam industri termasuk didalamnya industri kertas dan industri kimia. Besarnya
potensi

singkong,

peningkatan

produkstifitas

tentunya

hars

ditingkatkan,"

ungkapnya.(Menurut MSI tahun 2011), luas panen Singkong diperkirakan mencapai


1,2 juta. Hektar (ha) dengan produktivitas sebesar 19,5 ton perhektar, maka
dihasilkan. Sekitar 23,5 juta ton singkong basah. Walau naik1,7 persen pada 2011
luas panen singkong cenderung turun selama 10 tahun terakhir."Meskipun
demikian, produksi singkong cenderung naik, rata-rata 4,3 persen per tahun.
Kenaikan produksi terjadi karena peningkatan hasil per hektar dari 12,9 ton menjadi
19,5 ton per hektar," tandasnya. (naa/jpnn)
2.2. Hasil Olahan Singkong
(Damardjati, dkk 2002).Ada berbagai macam produk singkong tetapi sebagian
besar singkong tersebut dikonsumsi setelah panen seperti gorengan. Pemanfaatan
singkong sebagian besar diolah menjadi produk setengah jadi berupa pati (tapioka),
tepung singkong, gaplek dan chips. Produk olahan yang lain adalah bahan baku
pembuatan tape, getuk, keripik dan lain-lain
POHON INDUSTRI SINGKONG

2.3. Industri Tapioka

Di Indonesia, industri tepung tapioka memiliki asosiasi yaitu Assosiasi Tepung Tapioka Indonesia
(ATTI, 2007) yang berpusat di Jakarta. Keberadaan asosiasi ini belum begitu dirasakan oleh pihak-pihak
terkait terutama petani yang tidak dapat menikmati harga singkong sesuai dengan kesepakatan antara
pemda, petani dan pengusaha. Sementara pengusaha tidak dapat memperoleh bahan baku secara langsung
dari petani. Asosiasi ini diharapkan dapat berperan dalam pengendalian harga pasar tepung tapioka, harga
bahan baku serta akses permodalan bagi pengusaha, sehingga industri tapioka dapat berkembang dalam
rangka memenuhi permintaan pasar dalam negeri dan pasar luar negeri.

2.4.Tepung Tapioka
Tapioka yang diolah menjadi sirup glukosa dan destrin sangat diperlukan oleh
berbagai industri, antara lain industri kembang gula, penggalengan buahbuahan,
pengolahan
banyak
pengikat

es

krim,

digunakan
dalam

minuman

sebagai

industri

dan

bahan

makanan,

industri

pengental,
seperti

peragian.

bahan

dalam

Tapioka

pengisi

pembuatan

dan

juga
bahan

puding,

sop,

makanan bayi, es krim, pengolahan sosis daging, industri farmasi, dan lain-lain(Rudi
dan Ema dkk 2003).
2.4.1. Proses Pembuatan Tepung Tapioka
Adapun tahapan proses produksi dari pembuatan tepung tapioka, (Menurut
Erni dkk, 1999) yaitu sebagai berikut:
1)

Pengupasan
Pengupasan dilakukan dengan cara manual yang bertujuan untuk memisahkan
daging singkong dari kulitnya. Selama pengupasan, dilakukan pula tahap pemilihan
singkong yang berkualitas tinggi dari singkong lainnya. Singkong yang kualitasnya
rendah tidak diproses menjadi tapioka dan dijadikan sebagai makanan untuk ternak.

2)

Pencucian
Pencucian dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan meremas-remas singkong
di dalam bak yang berisi air. Hal ini bertujuan untuk memisahkan kotoran pada
singkong.

3)

Pemarutan.
Pada tahap pemarutan ini dilakukan cara semi mekanis. Tahap ini maksudnya
adalah pemarutan dilakukan dengan digerakkan oleh generator. Pada tahap ini tidak
sepenuhnya menggunakan tenaga maksimal manusia.

4)

Pemerasan
Tahap pemerasan ini dilakukan dengan menggunakan saringan goyang. Dimana
setelah dilakukan pemarutan dan dihasilkan bubur singkong, lalu bubur singkong
tersebut diletakkan di atas saringan yang digerakkan dengan mesin. Pada saat
saringan bergoyang, ditambahkan pula air melalui pipa berlubang. Pati yang
dihasilkan ditampung dalam bak pengendapan.

5)

Pengendapan.
Pati hasil pemerasan diendapkan dalam bak pengendapan selama 4 jam. Air di
bagian atas endapan dialirkan dan dibuang, sedangkan endapan diambil dan
dikeringkan.

6)

Pengeringan.
Tahap pengeringan ini memerlukan mesin oven (Suhu pengeringan

+ 500C)

Selama 45 menit. Sebaiknya tepung tapioka yang dihasilkan mengandung kadar air
15-19%.
2.4.2. Peralatan Yang Digunakan Dalam Proses Pembuatan Tepung Tapioka
1.

Pisau pengupas
Pisau pengupas sangat penting kerena pisau pengupas singkong dirancang sedemikian rupa agar
singkong yang dikupas tidak mengenai daging singkong yang akan kita kupas dan akan mempercepat
proses pengupasan.

2.

Bak pencucian

Digunakan untuk pencucian setelah pengupasan singkong dan bak pencucian juga berperan pada
hasil tepung yang kita produksi.
3.

Mesin pemarutan
Suatu alat yang dirancang untuk menghaluskan singkong agar dapat diambil tepung dari singkong
yang akan kita proses.

4.

Mesin penyaringan
Mesin ini digunakan untuk memisahkan antara tepung dan ampas dari singkong yang sudah kita
parut.

5.

Bak pengedapan
Bak pengedapan ini berperan untuk mendapatkan tepung tapioca karena dalam proses pembuatan
tepung dan air jadi satu maka bak ini bertujuan untuk mengedapkan tepung dan memisahkannya dari air.
DIAGRAM ALIR PROSES PEMBUATAN TEPUNG TAPIOKA

2.4.3. Permasalahan Tepung Tapioka

Salah satu kendala pemasaran tapioka terletak pada minimnya informasi


mengenai harga dan jumlah permintaan pasar yang dapat diperoleh
pengusaha. Selain tidak memiliki informasi pasar yang sempurna, belum
adanya regulasi mengenai perdagangan seperti standar produk dan pemasaran
juga menjadi kendala usaha ini(Yatno, 2004).
Disamping itu, mutu bahan baku juga menentukan kualitas tapioka. Kualitas
bahan baku sering tidak selalu baik, karena masih banyak petani yang
menerapkan pola panen singkong yang tidak optimal, di mana petani sering kali
memanen singkong lebih dini dari usia panen yang seharusnya yakni
singkong belum berumur 7 bulan. Padahal singkong yang menghasilkan
mutu tapioka yang baik berumur lebih dari 7 bulan. Menurunnya kualitas
tapioka tersebut menyebabkan rendahnya harga jual tapioka dan tepung tidak
bertahan lama (Dian Sari dkk, 2001).
Untuk mengatasi kendala tersebut diperlukan pembinaan dari peyediaan
bahan baku sampai pada pemasaran produk. Dalam peyediaan bahan baku
diperlukan kemitraan antara petani dan pengusaha agar ketersediaan dan
kualitas bahan baku tetap terjaga. Dalam hal pemasaran produk diperlukan
regulasi dan pembinaan akses pasar bagi pengusaha industri tapioca (Dian Sari dkk,
2001).
2.4.4. SNI Tepung Tapioka

Departemen Perindustrian secara resmi memberlakukan kembali ketentuan


wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk komoditas tepung tapioka atau
singkong mulai Agustus 2008. Pemberlakuan wajib SNI untuk Tepung Tapioka ini
diatur

dalam

Peraturan

Menteri

Perindustrian

(Permenperin)

No.

49/M-

IND/PER/7/2008 yang diterbitkan pada 14 Juli 2008.


Dengan diterapkannya SNI wajib ini, masyarakat tidak perlu khawatir dengan
isu beredarnya terigu non standar di pasar domestik. Produk tepung tapioka di

pasar yang tidak berlabel SNI, kata dia, dianggap produk ilegal tepung tapioka yang
sudah SNI yaitu dengan nomor : SNI 01-3451 -1994.
Karakteristik Tepung Tapioka yang baik dan yang sudah memenuhi Standar
Nasional Indonesia (SNI) adalah sebagai berikut :
N

Kandungan Yang Harus Diuji Di

Jumlah Satuan

Dalam Tepung Tapioka

1.

Kadar Protein

1,5 %

2.

Serat Kasar

2,3 %

3.

Besi

45,6 mg/100g

4.

HCN

10ppm

5.

Kadar Air

15 19 %

6.

Kadar Lemak

0,1 %

7.

Kalsium

45,6 %

8.

Fosfor

58,9 mg/100 g

9.

Kadar Abu

1,4 %

Kadar Pati

81,8 %

0.

Tabel 1. SNI ( Standar Nasional Indonesia) Tepung Tapioka.

2.5. Limbah idndustri Tapioka

2.5.1. Limbah Padat

Limbah padat tapioka atau onggog yang dihasilkan dari pengolahan ubi kayu
merupakan suatu media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme karena
memiliki keseimbangan bahan-bahan organik dan anorganik di dalamnya yang
merupakan nutrisi bagi pertumbuhan mikroorganisme. Menurut Tjokroadikoesoemo
(1986), limbah padat tapioka juga tidak mengandung bahan-bahan beracun bagi
pertumbuhan dan perkembangbiakan jasad renik.
2.5.1. Limbah Cair
Limbah cair industri tapioka dihasilkan selama proses pembuatan, mulai dari
pencucian sampai proses pengendapan. Apabila limbah industri tapioka tidak diolah
dengan baik dan benar dapat menimbulkan berbagai masalah, diantaranya
penyakit gatal-gatal, batuk dan sesak nafas; timbul bau yang tidak sedap;
mencemari perairan tambak sehingga ikan mati; perubahan kondisi sungai
(pencemaran) (Wahyuadi, 1996).
2.6. Limbah Industri Tapioka
Dalam suatu industri limbah sangat perlu di perhatikan karena berdampak
buruk bagi lingkungan sekitar industri dan untuk orang banyak dalam industry
tapioka limbah limbah yang dihasilkan adalah limbah cair dan limbah padat.

2.6.1. Karakteristik Limbah Tapioka


Selain menghasilkan tepung, pengolahan tapioka juga menghasilkan limbah,
baik limbah padat maupun limbah cair.limbah padat tersebut dari sisa pengupasan
dan pemarutan limbah sisa pemarutan disebut onggog yang sudah diambil sagu
atau tepungnya, sedangkan limbah cair dihasilkan dari air sisa pengendapan tepung
tersebut.
2.6.2. Dampak Limbah Tapioka

Dari limbah tapioka baik limbah padat maupun limbah cair dapat berdampak
buru. Limbah padat dari pembuatan tapioka mengandung sianida yang dapat
mengakibatkan keracunan seperti , sakit kepala, sesak nafas, tubuh lemah, buang
air kecil tidak lancar. Penderitanya menyangka kena sakit biasa. Mereka tidak
menyadari telah teracuni bahan kimia berbahaya dari sianida yang terkandung
didalam singkong.
Sedngkan linbah cairnya ribuan ikan mati mengambang di sungai. dampak
kerusakan itu Butuh waktu beberapa tahun sampai sebuah pabrik diketahui telah
mencemari lingkungan. Akibatnya, banyak pihak tidak awas sejak awal. Reaksi baru
bermunculan setelah dampak buruknya kasat mata. Tetapi kadang-kadang semua
sudah terlambat. Lingkungan yang rusak tidak bisa dipulihkan lagi atau perlu
waktu lama untuk memulihkannya.

2.6.3. Fisik Kimia Limbah


Ubi kayu mempunyai kandungan kimia ( per 100 gram ) antara lain :
N
o
1
2
3
4

Kandung
an

Satuan

Kalori

146 kal

Protein

1,2
gram

Lemak

0,3
gram

Hidrat

34,7

arang

gram

Kalsium

33 mg

Fosfor

40 mg

Zat besi

0,7 mg

Tabel 2. Kandungan Kimia Di Dalam Singkong


Pada buah ubi kayu mengandung ( per 100 gram ) seperti table di bawan ini:
N
o
1
2

Kandung
an

Satua
n

Vitamin B1

0,06
mg

Vitamin C

30 mg

Tabel 3. Kandungan Vitamin Dalam Singkong


Pada daun ubi kayu mengandung ( per 100 gram ) seperti table di bawan ini:
N
o

Kandunga
n

Vitamin C

275 mg

Vitamin B1

0,12
mg

Kalsium

165 mg

Kalori

73 kal

Fosfor

54 mg

Protein

6,8
gram

Lemak

1,2
gram

Hidrat
arang

13
gram

Satua
n

Zat besi

2 mg

Tabel 4. Kandungan Yang Terdapat Dalam Singkong


Sedangkan pada kulit batang ubi kayu mengandung tanin, enzim peroksidase,
glikosida dan kalsium oksalat.
Ciri-ciri fisik tanaman singkong mudah diamati yakni batangnya berkayu,
beruas, dan berbuku-buku. Tanaman singkong tumbuh tegak dan ketinggiannya
dapat mencapai 3 meter (Khudori 2003).
2.6.4. Dampak HCN
Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan. Sianida telah digunakan
sejak ribuan tahun yang lalu. Sianida juga banyak digunakan pada saat perang
dunia pertama. Efek dari sianida ini sangat cepat dan dapat mengakibatkan
kematian dalam jangka waktu beberapa menit.
HCN ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan, seperti penyempitan saluran napas, mual, muntah,
sakit kepala, bahkan bisa menimbulkan kematian. Namun sejumlah kecil sianida masih dapat ditolerir tubuh
yaitu 1mg per kilogram berat badan per hari. Untuk menghindari keracunan sianida ini maka singkong dicuci
terlebih dahulu dari tanah yang menempel di bagian kulit luar singkong, kemudian dikupas, dipotong-potong,
direndam dalam air hangat selama beberapa hari, dicuci, dan kemudian dimasak sempurna (dibakar atau
direbu).( http://id.wikipedia.org/wiki/Sianida 2000).

Asam sianida adalah bersifat asam lemak, garam sianida baik KCN maupun
NaCN dalam ruangan yang berkelembapan tinggi mudah bereaksi dan membentuk
gas HCN :
KCN + H2O HCN + KOH
Menurut Winarno (1984), batas aman kandungan HCN adalah sekitar

0,5-3,5 mg HCN/kg berat

bahan, sedangkan jumlah HCN di dalam umbi, menurut FAO cukup aman bila kurang dari 50 mg/kg umbi
kering. Oleh karena itu, HCN harus ditangani dengan sebaik-baiknya.

Penanganan secara tradisional dan mengomsumsi dalam batas yang ditentukan ternyata dapat
mengurangi atau menghilangkan kandungan HCN, tubuh dapat menerima (kebal HCN) jika mengomsumsi
dalam batas yang dianjurkan. Misalnya pengupasan kulit singkong sebelum diolah.
Lalu dilakukan perendaman dengan air garam juga dapat menetralkan HCN. Dapat dilakukan dengan
fermentasi beberapa hari (Ibid). HCN juga dapat hilang proses pemanasan atau perebusan tanpa ditutup.
Standar yang ditetapkan oleh FAO umbi-umbian dengan kadar 50 mg/kg ke bawah masih aman untuk di
konsumsi.

2.6.5. BOD dan COD


COD, singkatan dari Chemical Oxygen Demand, atau kebutuhan oksigen kimia
untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air. COD atau Chemical
Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh
bahan organik yang terkandung dalam air (Boyd, 1990). Hal ini karena bahan
organik yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat
kalium bikromat pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat
(Boyd, 1990; Metcalf & Eddy, 1991), sehingga segala macam bahan organik, baik
yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi
BOD singkatan dari Biological Oxygen Demand, atau kebutuhan oksigen
biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh mikroorganisme. BOD
memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit urai yang ada di
perairan. Bisa saja nilai BOD sama dengan COD(Boyd, 1990; Metcalf & Eddy, 1991),
tetapi BOD tidak bisa lebih besar dari COD. Jadi COD menggambarkan jumlah total
bahan organik yang ada. Standar baku mutu kandunganlah sebe COD dalam limbah
cair tapioka adalah sebesar 300mg/l. Dengan data tersebaut yang kandungannya
mencapai 7000 - 30000 mg/l, dapat di katakan bahwa limbah tapioka sangat
mencemari lingkungan.
Kualitas limbah Tapioka adalah sebagai berikut:

BOD (Biological Oxygen Demand) : 3000 - 7500 mg/l

COD (Chemical Oxygen Demand) : 7000 - 30000 mg/l

pH

: 4.0 - 6.5

III. METODOLOGI PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL)


3.1. Tempat dan Waktu
Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di Sinar Karya Usaha Kabupaten Sambas
Kalimantan Barat yang di mulai pada hari Senin,13 Februari 2012 sampai Selasa, 13
Maret 2012.
3.2. Matriks Kegiatan
Matriks kegiatan diatas dilakukan di tempat praktek kerja lapang (PKL) seperti
tabel berikut :
N
O

Waktu

Minggu I

Minggu II

Minggu III

Minggu
IV

Kegiatan

Pengetahuan
Industri

Pemahaman
Proses Produksi

Permasalah
akhir Pada
Proses

Karakteristik
Limbah

Tgl

Tgl

Tgl

13 - 19
Feb

20 - 27
Feb

28 Feb - 5
Mar

Tgl
6 - 12 Mar

Tabel 5. Matriks Kegiatan

3.3. Metode Pelaksanaan Praktek


Metode pelaksanaan Praktek Kerja Lapang (PKL) dalam pelaksanaannya telah
di laksanakan di Sinar Karya Usaha Kabupaten Sambas, Pengambilan data pada
kegiatan

PKL

dilakukan

secara

langsung

mengamati

dengan

mengaplikasikan praktek tersebut serta sharing bersama dengan pembimbing


lapangan yang sekaligus karyawan di Sinar Karya Usaha Kabupaten Sambas. yang
kemudian disebut data Primer. Kemudian data lain juga di ambil dari berbagai
literature yang ada, baik itu berbentuk buku maupun hasil penelitian dan laporan
yang sesuai dengan judul yang di ambil yang kemudian disebut data Sekunder.
3.4. Bahan dan Alat
1.

Bahan

Air
Ubi kayu (singkong)

Adapun singkong yang di gunakan adalah singkong Gajah,Kerena singkong


gajah memiliki buah yang besar dan kandungan pati tapioka nya banyak dan umur
panen singkong gajah selama 4 bulan dari awal tanam sampai panen, makan dari
itu industri di Sinar Karya Usaha Di Kec.Paloh menggunakan singkong tersebut.
2.

Alat
Alat alat yang digunakan di sinar karya usaha adalah :
pisau khusus yang dibuat untuk mengupas singkong,karung dan keranjang
sebagai wadah singkong yang habis di kupas sebelum di masukan ke bak
pencucian,tiga mesin disel sebagai penggerak untuk menghaluskan,memeras
pati,dan alat untuk mencuci di dalam bak pencucian, paralon untuk mengalirkan pati
kedalam bak penampungan dan untuk membuang air sisa pengendapan pati tapioka.

3.5.Diagram Alir Proses Pembuatan Tepung Tapioka Di Sinar Karya Usaha.

Add caption

3.6. Penjelasan Proses Pembuatan Tapioka

a.

Pengupasan
Didalam Proses tepung tapioka dilakukan pengupasan pada singkong,
pengupasan tersebut bartujuan untuk mengambil daging umbi singkong karena pati
/tepung terdapat didalam daging selain itu pengupasan juga dilakukan untuk
membersihkan tepung dari tanah yang menempel dikulit yang nanti akan
mempengaruhi hasil dari tepung, dan yang perlu diketahui didalam singkong
terdapat HCN.
Kandungan HCN yeng kita ketahui itu banyak terdapat pada kulit singkong
maka dengan pengupansan kita dapat mengurangi HCN yang terdapat didalam
tapioka yang akan kita produksi.

b.

Pencucian
Proses pencucian dilakukan untuk membersihkan daging singkong yang
sudah di kupas dari tanah yang menempel pada daging yang sudah dikupas dan
pada proses pencucian ini sangat menetukan hasil akhir dari peruses pembuatan
tepung tapioka karena jika kotoran yang menempel pada daging buah singkong
akan mempengaruhi warna dari tepung tapioka yang kita buat.

c.

Pemarutan
Pemarutan didalam proses pembuatan tepung tapioka dilakukan untuk
mempermudah pemisahan pati tepung tapioka yang terkandung di dalam singkong
tersebut, dan untuk memisahkan pati tapioka dan ampas dari sisa pemerasan.

d.

Pemerasan
Didalam

proses

pembuatan

tepung

tapioka

dilakukan pemerasan,

pemerasan tersebut dilakukan untuk memisahkan pati singkong yang kemudian pati
tersebut menjadi tepung tapioka,
e.

Pengendapan

Pengendapan dalam pembuatan tepung tapioka yaitu pengendapan air dan


pati tepung yang menyatu setelah dilakukan pemerasan pengendapan dilakukan
untuk

mengendapkan

atau

memisahkan

air

dan

tepung

setelah

pemerasan,pengendapan sering dilakukan selama 24 jam.


Setelah di lakukan Pengendapan dilakukan pembuanagan air dari sisa
pengendapan adalah hasil dari setengah pembuatan tepung tapioka yang akan
menghasilkan tepung tapioka dalam keadaan masih basah yakitu tepung tapioka
setengah jadi.pembuangan air ini dilakukan apabila pati tepung sudah mengendap
kedasar bak.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Keadaan Umum Sinar Karya Usaha

Industri tapioka yang berada di Kec. Paloh, Kab. Sambas, Kalbar termasuk industri yang baru
didirikan dengan nama Sinar Karya Usaha yang berada di daerah desa matang danau jalan raya tanah hitam
industri tersebut terletak di tepi pantai dan di sebelah depannya adalah daerah persawaha industri tersebut
berada agak jauh dari pemukiman penduduk.
Berawal dari proses pembuatan tepung sagu seseorang membuka bisnisnya dibidang pengolahan
singkong menjadi tapioka, karena singkong di Sambas masih di konsumsi secara langsung.Sinar Karya
Usaha ini merupakan perusahaan tapioka pertama yang ada di kabupaten sambas dan berdiri pada tanggal
27 Agustus 2011 dan di beri izin oleh pemerintah kabupaten sambas pada tanggal 13 januari 2012.
Bermodal sebuah pabrik yang sederhana di Jl. Raya Tanah Hitam Kec, Paloh, Sambas. KALBAR salah
seorang menekuni bisnis Tepung Tapioka ini adalah Munziri, A.Ma.Pd.S.Sos lulusan Sosial Politik Universitas
Tribhuwana Tunggadewi Malang dan merupakan seorang guru di SMK Negri 1 Paloh. Dimana Tapioka yang
terbuat dari singkong tersebut. Di sambas singkong cuma di buat tapai, di rubus, gorengan, dan keripik oleh
masyarakat akhirnya dikembangkan menjadi tepung Tapioka.
Dengan bermodalkan sebesar Rp 100 juta yang berasal dari pinjaman di Bank. Modal ini digunakan
untuk membuat bangunan pabrik, membeli mesin, bahan baku dan karyawan. Produk Tepung Tapioka
ini dibuatan Munziri, A.Ma.Pd.S.Sos hanya tepung Tapioka dalam bentuk basah dan di jual di PT.ATK, Pontianak.
Dan Sampai saat ini Jumlah karyawannya sekarang sebanyak 5 dan dengan upah Rp. 400.000 perorang
sedangkan untuk mengupas singkong ngupah masyarakat disekitar pabrik masyarakat tersebut di upah
dengan Rp.200 /Kg.
4.2. Singkong
Adapun singkong yang di gunakan adalah singkong Gajah,Kerena singkong gajah memiliki buah yang
besar dan kandungan pati tapioka nya banyak dan umur panen singkong gajah selama 4 bulan dari awal
tanam sampai panen, makan dari itu industri di Sinar Karya Usaha Di Kec.Paloh menggunakan singkong
tersebut.
Disinar Karya Usaha Singkong tersebut diperoleh dari petani di seputar kecamatan paloh petani
singkong yang menjual hasil tanamannya tersebut memperoleh bibit dari sinar karya usaha yang
memberikan bibit agar bahan baku dapat terpenuhi sekarang pemilik Sinar Karya Usaha mensosialaisasikan
tentang penanaman singkong dan cara pemanenannya.

Agar petani tadak menjual hasil panennya Sinar Karya Usaha memberikan harga pada petani agak
mahal dari pasaran di sekitar kecamatan Paloh tersebut yaitu dengan harga Rp.700 sedangkan di sekitar
kecamatan paloh harga singkong hanya mencapai Rp.500 dan dengan harga yang murah petani tdak dapat
sekaligus menjual hasil panennya sedangkan di Sinar Kasrya Usaha mengambil sebanyak-banyak mungkin.

4.3. Proses Produksi Tepung Tapioka

4.3.1.

Bahan Baku
Sampai saat ini Sinar Karya Usaha menggunakan bahan baku seperti yang di
bawah ini dan tidak menggunakan bahan kimia sama sekali.

Air
Air yang digunakan di Sinar Karya Usaha ada dua macam seperti air asin
yang diperoleh dari laut nutuk mencuci singkong yang sudah di kupas dan air tawar
yang diperoleh dari sumur bor yang berada disekitar pabrik yang dibuat sendiri air
tersebut digunakan tenpa penambahan zat kimia karena air tersebut di jernuhkan
secara alami yaitu dengan dilakaukan penyaringan.
Ubi kayu (singkong)
Adapun singkong yang di gunakan di Sinar Karya Usaha adalah singkong
Gajah, Kerena singkong gajah memiliki buah yang besar dan kandungan pati
tapiokanya banyak selain itu juga umur panen singkong gajah selama 4 bulan dari
awal tanam sampai panen, makan dari itu industri di Sinar Karya Usaha Di Kec.Paloh
menggunakan singkong tersebut dan seperti yang saya ketahui singkong gajah ini
berasal dari kalimantan tengah maka bibitnyapun mudah diperoleh. Singkong gajah
pula memiliki kelebihan pada proses penanamannya karena tahan terhadap iklim di
kalimantan yang panas.

4.3.2.

Bahan Tambah

Tawas
Tawas/Alum adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia Al2S04 11 H2O atau
14 H2O atau 18 H2O umumnya yang digunakan adalah 18 H2O. Semakin banyak
ikatan molekul hidrat maka semakin banyak ion lawan yang nantinya akan
ditangkap akan tetapi umumnya tidak stabil. Pada pH 7 terbentuk Al ( OH )-4. Flok
flok Al ( OH )3 mengendap berwarna putih.
Dan didalam proses pembuatan tepung tapioka maka perlu ditambahkan
tawas agar mempercepat proses pengendapan pada tepung tapioka dan untuk
penggunaannya tidak boleh melebihai apa yang sudah ditentukan oleh pemerintah.
Karena akan berbahaya bagi yang mengkonsumsi tepung tersebut maka tawas
yang harus di gunakan hanya sebanyak 1 g/liter.
Natrium Bisulfit (Na2SO4)
Matrium Bisulfit (Na2SO4) adalah bahan kimia berbentuk serbuk berwarna
putih, larut dalam air dan alkohol, berbau khas seperti gas sulfur di oksida,
mempunyai rasa asam dan asin. Dalam bahan makanan memiliki batasan seperti
yang telah ditetapkan oleh Amerika Serikat batasan penambahan Natrium Bisulfit
pada makanan adalah sebanyak 2000-3000 ppm. Dalam proses tepung tapioka
penambahan Natrium Bisulfit adalah sebanyak 0,1 %.

4.3.3.

Alat
Alat alat yang digunakan di sinar karya usaha adalah :

Pisau Pengupas Singkong

Pisau pengupas yaitu pisau yang khusus dibuat oleh pabrik tersebut untuk
mengupas

singkong,

dibuatnya

pisau

pengupas

tersebut

adalah

untuk

mendapatkan daging singkong secara maksimal dan pisau tersebut sudah di desain
agar dalam proses pengupasan tidak terkena daging singkong, selain untuk
mendapatkan daging singkong secara maksimal pisau ini juga mempermudah
proses pengupasan.

Timbangan
Timbangan ini digunakan untuk menimbang singkong yang datang dari petani dan
di gunakan untuk menimbang singkong yang sudah dikupas, selain itu juga
digunakan untuk menimbang tepung tapioka dalam keadaan basah yang nantinya
akan dijual,timbangan juga mempermudah untuk mengetahui hasil akhir dari
preoses pembuatan tepung tapioka.

Bak Pencuci
Bak pencuci di sinar karya usaha dibuat dengan semen seperti sumur dan
pengaduknya dibuat dari kayu yang di gerakan oleh mesin disel, bak ini dibuat
untukn pencucian singkong yang sudah dikupas karena singkong yang sudah
dikupas masih menempel tanah dari kulit singkong tersebut.

Bak penanpung
Bak penampungan di buat untuk menampung singkong yang sudah dicuci sebelum
diparut maka dimasukan dibak penampungan dalam bak ini selain untuk
mendekatkan dengan dengan pemarutan juga di gunakan untuk puncucian kembali
kerena dalam bak penampungan singkong yang sudah dibersihkan disiram dengan
air bersih barulah siap diparut.

Pemarut
Pemarutan di Sinar karya usaha di rakit sendiri yaitu dibuat dari seng yang di tajami
agar dapat menghaluskan singkong yang sudah siap dihaluskan pemarut ini dirakit
sendiri disinar karya usaha yang di gerakan oleh mesin diesel mesin ini dibuat untuk

menghaluskan singkong agar mudah memisahkan pati dari singkong yang nantinya
akan jadi tepung tapioka.

Pengayak
Pengayak digunakan untuk memisahkan ampas dari singkong dengan pati yang
nantinya dijadikan tapioka pengayak ini digarakan oleh mesin diesel yang di buat
persegipanjang di lapise kain halus berbentuk persegi panjang.

Bak Pengendapan
Di Sinar Karya Usaha bak pengendapan dibuat dari semen dan di beri kramik agar
mudah dalam proses pengambilan pati singkong atau tepung tapioka yang dalam
keadaan basah,bak pengendapan ini dibuat untuk mengendapkan pati singkong
atau memisahkan air dengan pati singkong yang nantinya dijadikan tapioka.

Mesin diesel sebanyak 3 buah


Mesin diesel ini digunakan untuk menggerakan mesin-mesin yang sudah dirakit di
sinar karya usaha mesin diselnya ada tiga buah karena mesin ini digunakan untuk
menggerakan seperti mesin pencuci, mesin pemarut, mesin pemeras dan penyedot
air.

Paralon
Paralon ini digunakan untuk mengalirkan singkong yang sudah di parut kemesin
pengayak karena singkongnya sudah halus maka digunakan paralon untuk
mengalirkan kedalam mesin pengayak, paralon juga digunakan untuk mengalirkan
peti dan air yang sudah diayak kedalam bak pengendapan, dan paralon juga di
gunakan untuk mengalirkan limbah cair atau air sisa pengendapan ke laut.

Pipa
Pipa ini digunakan untuk mengalirkan air kedalam bak pencucian dan kedalam bak
penampuingan, selain itu pipa ini digunakan untuk mengairi dalam proses
pemerasan agar proses pemisahan pati dan ampas lebih mudah.

Karung
Karung digunakan untuk wadah seperti wadah singkong yang belum dikupas, yang
paling penting karung ini digunakan untuk wadah tapioka yang dalam keadan basah
yang diankat dari bak pengendapan dimasukan dalam karung yang nantinya di jual.

4.3.4.

Tahapan Proses
Adapun tahapan proses produksi dari pembuatan tepung tapioka di Sinar
Karya Usaha, yaitu sebagai berikut:

1)

Pengupasan
Pengupasan dilakukan dengan cara manual seperti yang saya ketahui pengupasan
di Sinar Karya Usaha dilakukan dengan pisau khusus yang dirakit sendiri yang
nantinya menggunakan tenaga manusia, yang bertujuan untuk memisahkan daging
singkong dari kulitnya. Selama pengupasan, dilakukan pula tahap pemilihan
singkong yang berkualitas tinggi dari singkong lainnya. Singkong yang kualitasnya
rendah tidak diproses menjadi tapioka dan dijadikan sebagai makanan untuk ternak.

2)

Pencucian
Pencucian dilakukan dengan cara semi moderen, yaitu dengan dimasukan singkong
yang sudah dikupas kedalam bak khusus untuk mencuci yang di buat dari semen
dirakit sendiri dan pengaduk nya dibuat dari kayu yang nantinya akan mencuci
singkong seperti yang saya ketahui bak pencucian ini digerakan oleh mesin diesel .
Hal

ini

bertujuan

untuk

memisahkan atau

membersihkan

singkong

dari kotoran yang menempel pada daging singkongyang sudah dikupas karena
kotoran dari kulit singkong berupa tanah yang nantinya akan mempengaruhi hasil
akhir dari proses pembuatan tepung tapioka.

3)

Pemarutan.
Pada tahap pemarutan ini dilakukan cara semi moderen. Tahap ini maksudnya
adalah pemarutan dilakukan dengan digerakan oleh mesin disel dan alat pemarut
dirakit sendiri yang dibuat dari seng yang ditajami di buat menyerupai mesin
pemaru kelapa tetapi pemarut yang berada di Sinar Karya Usaha bentuknya besar
karena pada proses pembuatan tapioka singkong yang digunakan sangatlah
banyak. Pada tahap ini tidak sepenuhnya menggunakan tenaga mesin dimana
untuk memasukan ke dalam mesin pemarutan dari bak penampungan di lakukan
oleh manusia.

4)

Pemerasan
Tahap pemerasan ini dilakukan dengan menggunakan saringan yang di buat dengan
kain yang berbantuk persgi panjang bergoyang dan di gerakan oleh mesin disel.
Dimana setelah dilakukan pemarutan dan dihasilkan bubur singkong, lalu bubur
singkong tersebut dialirkan dengan paralon di atas saringan yang digerakkan
dengan mesindisel. Pada saat saringan bergoyang, ditambahkan pula air melalui
pipa berlubang maka peti dan ampas akan terpisah pati mengikuti air dan ampas
tersebut di buang ke penampungan ampas yang nanti akan diproses kembali. Pati
yang dihasilkan ditampung dalam bak pengendapan.

5)

Pengendapan.
Pati hasil pemerasan dialirkan dengan mengginakan paralon kebak pengendapan
dan diendapkan dalam bak pengendapan selama 24 jam. Maka akan Air yang
menyatu dengan pati akan terpisah, air yang menyatu dengan pati di bagian atas
dan pati yang tadi nya menyatu dengan air akan terpisan dan mengendap kedasar
bak pengendapan. Untuk mendapatkan tapioka dalam ke adaan basah maka air
yang sudah terpisah dari pati singkong di alirkan dan buang ke laut. Maka akan
menghasilkan tepung tapioka basah.

4.4.

Rendemen Tepung Tapioca Dalam Keadaan Basah

(Dian Kusumanto 2001) Tepung Nato sebenarnya sama dengan tepung


Tapioka, bedanya kalau Tapioka selalu disimpan dalam keadaan kering, sedangkan
tepung Nato disimpan dalam keadaan basah bersama air di atasnya. Tepung Nato
adalah istilah lokal untuk tepung Tapika basah, khusus istilah pada masyarakat
Kecamatan Sebuku, Lumbis dan Sembakung di Kabupaten Nunukan.
Untuk mengetahui rendemen maka Ubikayu berkulit kalau dikupas menjadi
sekitar 80% Ubikayu kupas, sedangkan Ubikayu kupasan bila diolah menjadi tepung
Nato menjadi sekitar 18 %, untuk limbah padat yang di hasilkan adalah 45% yaitu
dari kulit singkong 20% dan onggok 25% sedangkan limbah cairnya 40% (Dian
Kusumanto 2001).
Maka dari uraian diatas dapat dihitung rendemen proses pembuatan tepung
tapioca di Sinar Karya Usaha Di kecamatan Paloh dalam satu hari sebanyak 3 ton
atau 3000 kg maka dihasilkan tepung tapioca basah sebanya 450 kg, sedangkan
limbah yang dapat di hasilkanberupa limbah padat yaitu dari kulit sebanyak 60 kg
dan onggok sebanyak 65 kg sedengkan limbah cairn y sebnyak 2425 kg.

4.5.

Keunggulan Dan Kelemahan Penyimpanan Tepung Tapioka Basah


Di sinar karya usaha tepung tapioka yang dihasilkan berupa tepung tapioka
yang masih basah mempunya keuntungan dan kerugian seperti di bawah ini:

Keuntungan Dalam Penyimpanan Tapioka Dalam Keadaan Basah


Keuntungan tapioka dalam keadaan basah adalah tidak butuh waktu lama
untuk proses pengeringan dan tidak perlu menyiapkan gudang penyimpanan cukup
dangan menyiapkan karung yang nantinya menjadi wadah untuk tapioka basah.
Kelemahan Di Penyimpanan Tapioka Basah
Penyimpanan tapioka dalam keadaan basah dapat mempengaruhi hasil dari
tepung tapioka yang nantinya akan diproses karena dalam proses penyimpanannya

tidak diperhatikan secara efektif karena hanya dimasukan dalam karung dan
disimpan di ruangan terbuka yang nantinya terkena debu yang di bawa oleh angin
dan dalam penyimpanan tersebut menimbulkan bau kerena dalam penyimpanan
tersebut masih mengandung air yang menimbulkan bau tersebut.
4.3.

Limbah Yang Di Hasilkan


Pada

proses

pembuatan

tepung

tapioka

di

Sinar

Karya

Usaha

menghasilkan 20% tepung tapioka, limbah padat30%, dan limbah cair 50% seperti
penjelasan tentang limbah tapioka di bawah ini :
Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan pada pambuatan tepung tepioka di Sinar Karya
Usaha sebanyak 30% berupa Onggok dan kulit sisa pengupasan.dimana onggok
yang di hasilkan dari sisa pemarutan. Dan kulit dari sisa pengupasa singkong
sebelum diproses.
Dari limbah padat yang di hasilkan berupa onggok sebanyak 20% yang
nantinya akan dikepal berbentu bola yang nanti akan di keringkan untuk di jadikan
pakan hewan, dan kulit sisa pengupasan sebanyak 10% yang dikumpulkan lalu
dibakar yang nanti abunya akan di berikan kepada petani singkong yang nantinya
akan di jadikan pupuk oleh petani tersebut.
Pemanfaatan limbah tapioka seperti kulit dari singkong dapat diola menjadi
ethanol sedangkn di Sinar Karya Usaha hanya di jadikan abu yang akan dibuat
pupuk oleh petani singkong sedang kalau di buat ethanol maka akan dapat
menghasilkan produk yang nantinya akan dijual bahkan bisa dijadikan bahan bakar
untuk mesin-mesin dipabrik tersebut.
Dan onggok dapat juga diproses kembali menjadi prodak yang nanti nilai
ekonominya lebih tinggi seperti di buat menjadi kertas, asam sitrat, dll.
Asam sitrat adalah asam yang dapat dimakan yang biasa digunakan dalam
pembuatan minuman, makanan, pencuci mulut, selai jelly, permen, dan anggur.

Asam sitrat digunakan dalam produk makanan agar makanan mempunyai aroma
buatan dari bahan campuran seperti tablet dan minumam kaleng. Dalam farmasi,
sitrat digunakan untuk pengaturan pH dan bertindak sebagai pelindung dalam cuci
rambut dan tata rambut.
Kegunaan asam sitrat :

Menambah aroma minuman berkarbonasi, jamur, selai, dll ;

Bahan campuran tablet vitamin C ;

Bahan untuk madu buatan ;

Bahan campuran alam industri makanan & minuman ;

Bahan campuran dalam industri kosmetik.

Limbah Cair
Limbah cair dalam proses pembuatan tepung tapioka sebanyak 50%, adapun
limbah cair yang dihasilkan berupa air dari sisa pencucian singkong yang sudah
dikupas sebanyak 15%, dan air sisa pengendapan pati singkongsebanyak 35% yang
sudah di endapkan selama 24 jam limbah cair tersebut sangatlah berbahaya
apabila tidak ada penanganan secara khusus.
Limbah cair yang dihasilkan di Sinar Karya Usaha sekarang berupa air dari
proses yang di peroleh dari sumur bor yang di buat disekitar pabrik, sedangkan air
untuk pencucian singkong yang sudah dikupas di peroleh dari penyedotan air laut
yang ditampung dibak penampungan yang sudah dijernihkan dan sudah ducampur
dengan air hujan.
Limbah

cair

yang

di

hasilkan

sangat

memprihatinkan

karena

limbah

tersebut dialirkan ke laut yang nantinya akan merusak biota laut, karena Sinar
Karya Usaha berada di pinggir pantai, dan seperti yang di ketahui Singkong
mengandung HCN, maka HCN tersebu apa bila terkena kadar asin yang tinggi akan
menjadi netral seperti yang saya tanyakan kepada pemilik pabrik tersebut tetapi

tidak menutup kemungkinan lama kelamaan akan merusak biota laut yang ada di
sekitar industri tersebut.
Pemanfaatan limbah cair dari proses pembuatan tepung tapioka masih banyak
mengandung pati dari singkong, limbah cair tersebut masih dapat membawa pati
pada saat pembuangan air, adapun pati tapioka tersebut masih bisa di olah menjadi
olahan seperti nata, nata yang diolah dari limbah cair tapioka dinamakan
dapat nata de cassava alangkah baiknya limabah tersebut di olah kembali dari
pada dibuang ke laut seperti di industri Sinar Karya Usaha yang lama kelamaan
akan merusak biota laut di sekitar industri tersebut.
Dari hasil penelitian jika limbah cair tepung tapioka dibuang langsung ke laut
maka limbah cair tepung tapioka tersebut akan mencemari badan air tersebut.
Bahan pencemar yang ada di dalamnya akan mengalami penyebaran dan
pengenceran yang bersifat reaktif dengan adsorbsi, reaksi atau penghancuran
biologis. Air limbah juga mencemari tanah dan dalam perjalanannya akan
mengalami peristiwa mekanik, kimia dan biologis.
Limbah tepung tapioka yang dibiarkan di perairan terbuka akan menimbulkan
perubahan yang dicemarinya. Pencemaran tersebut antara lain (Soeriaatmadja,
1984) :
1.

Peningkatan zat padat berupa senyawa organik, sehingga timbul kenaikan limbah
padat, tersuspensi maupun terlarut.

2.

Peningkatan kebutuhan mikroba pembusuk senyawa organik akan oksigen,


dinyatakan dengan BOD dalam air.

3.

Peningkatan kebutuhan proses kimia dalam air akan oksigen air dinyatakan
dengan COD

4.

Peningkatan senyawa-senyawa beracun dalam air dan pembawa bau busuk yang
menyebar keluar dari ekosistem aquatik itu sendiri.

5.

Peningkatan derajat keasaman yang dinyatakan dengan pH yang rendah dari air
tercemar, sehingga dapat merusak keseimbangan ekosistem perairan terbuka.
Selain berdampak pada lingkungan, limbah tapioka juga berdampak terhadap
manusia. Konsentrasi BOD yang tinggi di dalam air menunjukkan adanya bahan
pencemar organik dalam jumlah yang banyak, sejalan dengan hal ini jumlah
mikroorganisme baik yang pathogen maupun tidak pathogen banyak di badan air.
Limbah cair tapioka mengandung zat-zat organik yang cenderung membusuk jika
dibiarkan tergenang sampai beberapa hari di tempat terbuka. Hal ini merupakan
proses yang paling merugikan, karena adanya proses dimana kadar oksigen di
dalam air buangan menjadi nol maka air buangan berubah menjadi warna hitam
dan busuk. Ini dapat mengurangi nilai estetika dan apabila berada di sekitar sumber
air (sumur), maka kemungkinan akan merembes dan sumur tercemar atau tidak
termanfaatkan lagi. Selain itu, jika limbah tapioka mencemari air sungai yang akan
dimanfaatkan masyarakat dapat menimbulkan masalah penyakit seperti gatalgatal.

4.4.

Kendala Industri
Industri pengolahan singkong di Sinar Karya Usaha ini juga memiliki berbagai
kendala. Salah satunya adalah masalah ketersediaan bahan baku. Ketersediaan
bahan baku sangat penting karena apabila terjadi kelangkaan bahan baku singkong,
maka produksi akan macet. Oleh karena itu, kemitraan dengan petani sebagai
pemasok bahan baku sangat diperlukan. Disamping untuk menjamin ketersediaan
bahan baku, kemitraan ini juga untuk menjamin kualitas bahan baku.
Masih terkait dengan bahan baku seperti yang saya ketahui di Sinar Karya
Usaha apabila cuacanya kurang baik atau terjadi hujan di sana juga akan terjadi
kesulitan bahan baku karena jalan petani untuk menuju kebun sangatlah sulit, maka
perlu diketahui lahan pertanian tersebut bertanah gambut, sangat perlu kerja sama
antara para petani dan pemilik industri tersebut seperti pembuatan jalan untuk para

petani agar pada waktu cuaca dalam keadaan apa pun petani mesih dapat
memanen hasil pertaniannya tersebut.
Selain bahan baku di Sinar Karya Usaha masih memproduksi tepung tapioka
dalam keadaan basah karena tidak memiliki mesin pengering, selain mesin mash
bisa menggunakan matahari tetapi sinar karya usaha berada tepet dipinggiran
pantai dan angin disana sangatlah kuat, maka solusi dari saya jika tidak dapat
membeli mesin pangering karena mahal, maka perlu manggunakan matahari
berhubung sinar karya usaha berada di pinggir pantai maka membuat bangunan
atau tempat pengeringan dengan seperti rumah yang tidak bisa di tembus oleh
angin tetapi bagian atas atu bagia atapnya bisa di angkat itu lebih efisien selain
tempat pengeringan tepung bisa di gunakan untuk tempat penampungan karena
atapnya bisa di tutup apbila hujan terjadi dan bisa di buka saan panas.
Salah satu kendala atau pemasaran di industri tapioka Sinar Karya Usaha
adalah terletak pada minimnya informasi mengenai harga dan jumlah permintaan
pasar yang dapat diperoleh pengusaha. Selain tidak memiliki informasi pasar yang
sempurna, belum adanya regulasi mengenai perdagangan seperti pengeringan
produk, standar produk, dan pemasaran apalagi tentang merek produk juga menjadi
kendala usaha ini.
Disamping itu, mutu bahan baku juga menentukan kualitas tapioka. Kualitas
bahan baku sering tidak selalu baik, karena masih banyak petani yang menerapkan
pola panen singkong yang tidak optimal, seperti ada besar kecilnya bentuk singkong
yang dijual para petani, di mana petani sering kali memanen singkong lebih dini
dari usia panen yang seharusnya yakni singkong belum berumur 4 bulan. Padahal
singkong yang menghasilkan mutu tapioka khususnya singkong gajah yang baik
berumur lebih dari 4 bulan. Maka kualitas tapioka tersebut menyebabkan
rendahnya, harga jual tapioka menurun, tepung tidak bertahan lama dan warna
tepung tidak terlalu putih.

Untuk mengatasi kendala tersebut diperlukan pembinaan dari peyediaan


bahan baku sampai pada pemasaran produk. Dalam peyediaan bahan baku
diperlukan kemitraan antara petani dan pengusaha agar ketersediaan dan kualitas
bahan baku tetap terjaga. Dalam hal pemasaran produk diperlukan regulasi dan
pembinaan akses pasar bagi pengusaha industri tapioka di Sinar Karya Usaha.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diambil dari hasil praktek kerja lapang ini adalah :
Proses produksi Tepung Tapioka Di Sinar Karya Usaha Kec. Paloh. Menghasilkan
tepung tapioca dalam keadaan basah dan diproses secara semi moderen
Karakteristik limbah pada proses pembuatan tepung tapioka berupa limbah padat
dan limbah cair yang selama ini tanpa pengolahan lanjutan.
1.2 Saran
1. Bahan baku yang digunakan sebaiknya singkong yang berkualitas baik. Karena
bahan baku sangat menentukan hasil akhir produk tepung tapioka.
2. Kebersihan alat, tempat kerja, dan karyawan perlu diperhatikan agar hasil dari
produk dapat terjaga mutu dan kualitasnya.
3. Agar dapat kelihatan lebih putih dan kelihatan bersih maka dalam proses
pembuatan tepung tapioka menggunakan air yang jernih dan bersih dan dapat
digunakan bahan kimia seperti tawas dan asam bisulfit yang diijinkan dan sesuai
ketentuan yang telah ditetapkan.

4. Yang lebih penting lagi pada limbah tapioka, baik limbah padat maupun limbah cair
yaitu pada saat pembuangannya karena dapat merusak ekosistem di sekitar pabrik
dan merusak lingkungan maka perlu membuat bak penampungan limbah agar
dapat memisahkan zat kimia yang terkandung di limbah dalam proses pembuatan
tapioka tidak mencemari lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA

KARI (2004). Baseline survei pada singkong, penggunaan produksi dan pemasaran di
pesisir Kenya. Dalam: Kenya lembaga riset pertanian (KARI) laporan Tahun, 2003. P
42
Anonim, (2010). Laporan Tahunan makanan dan tanaman situasi. Depertemen Pertanian,
Pantai Propinsi, Kenya
Tunje, T. dan Nzioki, S. (2002). Sebuah laporan tenteng singkong sub-sekor analisis untuk
Kenye.
Philips, TP, Taylor, DS, Sanni, L. dan Akoroda, MO (2004). Sebuah Revolusi Industri
singkong di Nigeria:Sebuah potensial untuk tanaman industri baru. FAO, Roma.
Muli, BM, Gethi, JG, Muinga, RW dan Saha HM (2008). Perkalian menghasilkan tinggi dan
penyakit singkong klon toleran dan penciptaan saluran distribusi untuk bahan
tanam. Hibah no.2008 LULUS 033 AGAR
Pemda Kebumen, 2002. Produk dan Peluang Investasi di Kabupaten Kebumen. (Publikasi
Pemda Kebumen dalam bentuk Folder).
Irmansyah,

B.

2005.

Dari

Limbah

menjadi

Pakan

Ternak.

://www.geocities.com/persampahan/kompos.doc (Akses Agustus 2005)


Rukmana, H.R. 1997. Ubi Kayu Budidaya dan Pascapanen. Kanisius, Yogyakarta.

http

Anonim.

2005.

Awas,

Tak

Semua

Tiwul

Aman

Dimakan.

http://www.indomedia.com/bernas/9807/03/UTAMA/03uta2.htm (Akses April 2005).


Sutapa, I.D.A (2000), Uji Korelasi Pengaruh Limbah Tapioka Terhadap Kualita Air Sumur,
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1, 47-65
Yilmaz A.E. et al.(2005), The investigation of parameters affecting boron removal by
electrocoagulation method Journal of Hazardous Materials B125, 160165.
Robinson,

V.,

2005, Electroflocculation

in

the

Treatment

Of

Pulluted

Water,

http://www.rotaloo.com/electrofloc, 20 Maret 2008


Haryadi, S, (2008), Penggunaan metode elektroflokulasi pada pengolahan Limbah Cair
Industri Tekstil, Jurusan Teknik Kimia FT UMS.
Jose, C., Abdullah, C., Anggraini, Y., dan Bahri, S. 2000. Peningkatan nutrisi limbah padat
tapioka

sebagai

bahan

dasar

pakan

ter-nak

dengan

penggunaan effec-tive

microorganisms (EM). Prosiding Semirata 2000 Bidang MIPA BKS-PTN Wilayah Barat
FMIPA Universitas Riau, Pekanbaru. pp 304-314

http://mokmi.blogspot.co.id/2013/06/karakteristik-limbah-hasil-olahan.html