Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TUMBUHAN
KECEPATAN PENGGUNAAN OKSIGEN DALAM RESPIRASI

Oleh
Nama

: Ivaturrohmah

NIM

: 140210103014

Program Studi : Pendidikan Biologi


Kelompok

: 4 (Empat)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

I.

JUDUL

Kecepatan Penggunaan Oksigen Dalam

Respirasi
II.

TUJUAN
II.1.

Untuk membuktikan bahwa pada proses respirasi

memerluka oksigen
II.2.

Untuk membuktikan bahwa keperluan oksigen dalam

respirasi dipengaruhi oleh berat tumbuhan


III.

DASAR TEORI
Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk

memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O, dan


energy (reaksi redoks). Laju respirasi merupakan petunjuk yang
baik untuk daya simpan buah sesudah dipanen. Respirasi
merupakan sarana penyediaan energy yang vital dibutuhkan untuk
mempertahankan struktur sel dan jalannya proses-proses biokimia.
Terjadinya susut bobot disebabkan hilangnya air dalam buah dan
karena proses respirasi yang mengubah gula menjadi CO2 dan
H2O (Ferdiansah et al, 2014).
Pernafasan (Respirasi) merupakan proses perombakan
makanan (karbohidrat) menjadi senyawa lebih sederhana dengan
membebaskan sejumlah tenaga. Pertama kali

terjadi pada

embrionik axis setelah cadangan habis baru beralih ke endosperm


atau kotiledon. Aktivasi respirasi tertinggi adalah pada saat radicle
menembus kulit. Pada biji kering seperti jagung dengan kadar air
yang sangat rendah masih terjadi proses pernapasan tetapi dengan
kecepatan yang sangat rendah. Dalam kondisi pernapasan yang

sangat rendah proses perkecambahan bisa terhambat (Wusono et


al, 2015).
Baik tumbuhan maupun hewan melakukan respirasi sebagai
sumber utama energi untuk fungsi-fungsi vital. Akan tetapi, hanya
tumbuhan yang juga mampu melakukan fotosintesis. Komponenkomponen fotosintesis terdapat di dalam kloroplas, sementara
tahapan-tahapan utama respirasi terjadi di dalam mitokondria.
Dengan demikian, kedua proses tersebut dapat terjadi secara
bersamaan di sel tumbuhan manapun, sebab pemisahan fungsifungsi tersebut dalam kompartemen-kompartemen yang berbeda
mencegah interferensi antara keduanya. Banyak urutan dalarn
jalur-jalur respirasi ditemukan sebagai bagian dari proses
fotosintesis: hal tersebut tampaknya menunjukkan bahwa ada
asosiasi evolusioner yang dekat di antara kedua proses tersebut.
Keseimbangan antara respirasi dan fotosintesis akan menentukan
apakah ada asupan netto O2 atau CO, dan bagian tertentu
tumbuhan (Fried et al, 2008: 73).
Fotosintesis menghasilkan oksigen dan molekul organic
yang dapat digunakan oleh mitokondria eukariota sebagai bahan
bakar untuk respires selular. Respirasi menguraikan bahan bakar ini
menghasilkan atp. Produk-produk buangan dari tipe respirasi ini,
yaitu karbon dioksida dan air, merupakan bahan mentah bagi
fotosintesis (campbell et al, 2008: 175).
Salah satu proses katabolic yaitu fermentasi, merupakan
penguraian gula sebagian yang terjadi tanpa penggunaan oksigen.
Akan tetapi, jalur katabolic yang paling dominan dan efisien adalah
respirasi aerobic, yaitu mengonsumsi oksigen sebagai reaktan
bersama dengan bahan-bakar organic. Sel-sel sebagian besar

organisme eukariota dan banyak organisme prokariota dapat


melakukan respirasi aerobic. Secara teknik, respirasi selular
mencangkup respirasi aerobic dan respirasi anaerobic. Walaupun
sangat berbeda dalam mekanismenya, respirasi aerobic pada
prinsipnya serupa dengan pembakaran bensin dalam mesin mobil
setelah oksigen dicampur dengan bahan bakat (hidrokarbon)
(Campbell et al, 2008: 176).
Respirasi

melibatkan

oksidasi

molekul-molekul,

penyusunan molekul molekul berenergi tinggi seperti ATP dengan


cara melepas pasangan electron (dan ion hidrogen, atau proton)
melalui suatu sistem transpor elektron, dan pemberian elektron
tersebut ke suatu akseptor elektron anorganik. Jika akseptor
elektron terminalnya berupa oksigen, maka prosesnya disebut
respirasi aerob. Respirasi anaerob terjadi jika akseptor elektron
terminalnya berupa molekul

anorganik dan bukannya oksigen

molekuler (contohnya sulfat atau nitrat). Berdasarkan kebutuhan


oksigennya, organisme dibagi menjadi beberapa

macam. Yang

pertama, anaerob sejati (strict anaerobe) adalah organisme yang


tidak dapat hidup jika terdapat oksigen. Anaerob fakultatif adalah
organisme yang dapat berespirasi secara aerob maupun anaerob,
sedangkan aerob obligat membutuhkan oksigen agar dapat hidup
(Stansfield et al, 2006: 7).
Respon pertama tanaman dalam menanggapi kondisi defisit
air yang parah ialah dengan cara menutup stomata. Penurunan
tekanan turgor yang bersamaan dengan meningkatnya asam absisat
bebas pada daun menyebabkan penyempitan stomata. Penutupan
dan/atau penyempitan stomata menghambat proses fotosintesis, hal
ini menyangkut transportasi air dalam tubuh tanaman dan

menurunnya

aliran

karbondioksida

pada

daun.

Penurunan

konsentrasi karbondioksida pada daun mempengaruhi mobilisasi


pati dan berpotensi meningkatkan respirasi. Tanaman akan
mengurangi

penggunaan

cadangan

karbohidrat

untuk

mempertahankan proses metabolismenya, dan hal ini memicu


kekurangan karbon sehingga tanaman akan mengalami penurunan
pertumbuhan dan semakin lama tanaman akan mengalami
kematian (Anggraini et al, 2015).
IV.

METODE PENGAMATAN
IV.1.

Alat dan bahan

Alat

Kecambah kedelai dan kecambah kacang


hijau

Kristal NaOH/KOH

Kapas

Vaselin

Eosin

Bahan

Respirometer

Beaker glass

Pipet

IV.2.

Timbangan

stopwatch

Prosedur kerja

Menimbang kecambah sebanyak 3, 6, dan 9 gram

masukkan kecambah ke dalam respirometer, memasukkan juga kristas KOH/NaOH yang telah dibun

Menutup tabung dengan pipa kapiler yang telah terdapat pada respirometer, melapisi dengan va

Memasukkan eosin ke dalam ujung pipa kapiler dengan menggunakan piept tetes sebanyak 1 tet

Meletakkanrespirometer
pada
posisi
Mengamati dan
mengukur gerakan cairan
tiap
satuhorizontal
menit sampai 10 kali

Menghitung kecepatan penggunaan O2 tiap menit dalam tiap gram kecambah

V.

HASIL PENGAMATAN
V.1.

Grafik Kecepatan Eosin Permenit Tiap Gram


Ke

Ma
Bahan

c.

Menit Ke-

ssa

Eo
sin

(gr)

3
Keca
mbah
Kedel

ai
9
Keca

10

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,2

04 09 15 19 23 27 31 33 36 39

36

0,

0,

0,2

05 09 15 19 24 29 34 38 42 46

61

0,

0,3

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

09 23 34 42 52 62 72
0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

74
0,2

04

12 17 22 25 28 32 36 39

25

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,4

17 26 34 41

56 63

75

42

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,

0,5

39 49 58 67 77 85 94

29

mbah
Kacan

g
Hijau

0,

0,

0,

Kecepatan Eosin

0.6
0.5
0.4
0.24
0.30.23

Kecepatan Eosin

0.2
0.1
0

0.53
0.44

0.37

0.26

Kedelai
Kacang Hijau

Massa (gram)

V.2.

Grafik Kecepatan Respirasi Per-Menit, Per-

Gram

Menit ke-

Ma
Bahan

Keca
mbah

ssa
(gr)

10

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,1

0,1

0,1

0,1

13

30

50

63

77

90

03

10

20

30

6
Kedel
ai
9

Keca
mbah
Kacan

g
Hijau

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

08

15

25

32

40

48

57

63

70

77

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

26

38

47

58

69

80

89

00

00

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,1

0,1

0,1

13

33

40

57

73

83

93

07

20

30

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,1

0,1

0,1

17

28

43

57

68

83

93

05

17

25

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,1

11

22

33

43

54

64

74

86

94

04

Kecepatan Respirasi Per-Menit Per Gram Kecambah Kedelai

0.140
0.120
0.100

3 gram

0.080
Kecepatan

6 gram

0.060

9 gram

0.040
0.020
0.000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Waktu

Kecepatan Eosin Per-Menit Per Gram Kecambah Kacang Hijau

0.140
0.120
0.100
0.080
Kecepatan

0.060
0.040
0.020
0.000
1

5
Waktu

VI.

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan mengenai

respirasi

pada

tumbuhan,

tepatnya

menghitung

kecepatan

penggunaan oksigen dalam respirasi tumbuhan tersebut. Secara


singkat pengertian respirasi adalah suatu proses pernafasan
menghirup oksigen dari udara dan melepaskan karbondioksida ke
udara. Respirasi merupakan salah satu contoh dari proses
karabolisme, yaitu suatu proses metabolism yang menguraikan
senyawa kompleks menjadi senyawa sedrhana. Respirasi atau

bernapas merupakan ciri mutlak dari makhluk hidup, makhluk


hidup melakukan respirasi selain untuk bernapas juga untuk
menghasilkan

energy.

Oleh

karena

proses

respirasi

ini

menghasilkan energy maka reaksi yang terjadi disebut sebagai


reaksi eksergenik. Adapun persamaan reaksi respirasi adalah
sebagai berikut:
C6H12O6 + H2O 6CO2 + 6H2O + Energi
Dalam praktikum terdapat beberapa alat yang digunakan
yaitu respirometer, beaker glass, pipet, timbangan, dan stopwatch.
Respirometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur laju
respirasi pada hewan dengan mengukur rata-rata pertukaran
oksigen dan karbon dioksida pada periode waktu tertentu. Pipet
tetes

digunakan

untuk

mengambil

larutan

eosin

dan

memasukkannya ke dalam pipa kapiler respirometer. Pencatat


waktu digunakan untuk menghitung selang waktu tertentu dalam
percobaan, sehingga nanti akan ditemukan interval waktu.
Timbangan
digunakan

digunakan

untuk

menimbang

tumbuhan

yang

sebelum tumbuhan tersebut diperberikan perlakuan.

Adapun bahan yang digunakan adalah kecambah kedelai dan


kecambah kcang hijau, Kristal KOH, kapas, vaselin, dan eosin.
Mengenai

masing-masing bahan tersebut akan dijelaskan pada

langkah kerja sebagai berikut.


Percobaan ini dilakukan untuk membuktikan bahwa pada
respirasi memerlukan oksigen dan untuk membuktikan bahwa
keperluan oksigen dalam proses respirasi dipengaruhi oleh berat
tumbuhan. Tumbuhan yang digunakan adalah kecambah kacang
hijau dan kecambah kedelai. Masing-masing kecambah diberi
perlakuan yang sama, yaitu dimasukkan ke dalam respirometer,
yaitu alat pengukur laju respirasi. Namun sebelum itu, msing-

masing kecambah ditimbang dengan berat 3, 6, dan 9 gram. Tujuan


dibuatnya 3 berat berbeda ini agar nantinya dapat diamati
perbedaan kecepatan penggunaan oksigen pada masing-masing
berat tersebut, sehingga dapat diketahui bagaimana pengaruh berat
tumbuhan terhadap respirasi.
Bersamaan dengan dimasukkannya kecambah ke dalam
respirometer, KOH yang telah dibungkus kapas juga dimasukkan.
Fungsi KOH adalah untuk mengikat CO2 agar tekanan dalam
respirometer menurun, sehingga eosin akan bergerak karena
penggunaan oksigen. Jika tidak diikat maka tekanan parsial gas
dalam respirometer akan tetap dan eosin tidak bisa bergerak.
Akibatnya volume oksigen yang digunakan kecambah tidak bisa
diukur. Kristal KOH/NaOH dapat mengikat CO2 karena bersifat
higroskopis.
Selanjutnya respirometer ditutup dengan vaselin, hal
bertujuan untuk menutupi celah udara pada respiro meter sehingga
tidak ada udara yang masuk pada respirometer. Setelah
respirometer ditutup, pada posisi horizontal eosin dimasukkan
melalui pipa kapiler. Eosin adalah larutan berwarna merah yang
dalam praktikum ini digunakan sebagai sebagai indikator
banyaknya oksigen yang digunakan oleh kecambah dalam
respirometer. Penempatan respirometer secara horizontal agar eosin
yang dimasukkana dapat bergerak, jika pada posisi vertical eosin
tidak dapat bergerak.
Ketika oksigen digunakan oleh kecambah maka terjadi
penurunan tekanan gas dalam respirometer sehingga eosin bergerak
masuk ke arah respirometer. Seiring dengan respirasi yang
dilakukan oleh kecambah yang dimasukkan, eosin dalam
respirometer akan bergerak. Pada respirometer terdapat skala yang

perlu dicatat pergerakannya setiap menit. Pengamtan dilakukan


selama kurang lebih 10 kali, rata-rata dari interval waktu setiap
menit pergerakan eosin merupakan kecepatan pergerakan eosin.
Berdasarkan grafik hasil pengamatan, pada kecambah
kedelai diperoleh laju respirasi tertinggi adalah kecambah dengan
berat 3 gram. Kecepatan tertinggi kedua adalah kedelai dengan
berat 6 gram, namun mengalami penurunan pada menit ke 9 dan
10. Sementara kedelai dengan berat 9 gram memiliki laju respirasi
terendah. Hal ini tentu tidak sesuai dengan teori yang sebenarnya.
Berdasarkan teori yang ada, semakin berat tumbuhan maka laju
respirasinya akan semakin tinggi.
Hal serupa juga terjadi pada pengamatan respirasi kedelai
kacang hijau. Secara berurutan, laju rspirasi tinggi ke rendah
adalah kecambah dengan berat 3 gram, 6 gram dan 9 gram.
Sehingga hasil yang diperoleh ini juga tidak sesuai dengan teori.
Seharusnya, kecepatn respirasi lebih tinggi dengan kecambah yang
beratnya lebih besar. Hubungan antara berat badan dengan laju
respirasi adalah berbanding lurus. Organisme dengan berat badan
lebih besar cenderung memerlukan energy yang lebih besar juga
untuk katifitasnya, oleh karena itu jika semakin besar berat maka
laju respirasi akan semakin tinggi.
Jika dibandingkan antara laju keseluruhan kecambah
kedelai dengan kecambah kacang hijau, dapat dilihat pada grafik
bahwa laju respirasi kacang hijau lebih tinggi dibandingkan dengan
laju respirasi kecambah kedelai. Hal ini juga tidak sesuai dengan
teori yang ada. Seharusnya, kecambah kedelai memiliki laju
respirasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan laju respirasi
kecambah kacang hijau, sebab ukuran kecambah kedelai lebih

besar dibandingkan kecambah kacang hijau. Hubungan antara


ukuran tubuh dengan laju respirasi adalah berbanding lurus.
Menurut Soesanto (2006: 126), pengarhh ukuran buah
terhadap kandungan kalsium merupakan

faktor utama pada

penyimpanan dan kerentanan terhadap pembusukan. Buah yang


berukuran besar, yang berasal dan tanaman berpeneduh ringan,
mempunyai sel berukuran Iebih besar dengan laju respirasi per
unit protein yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan buah
berukuran kecil dan tanaman berpeneduh berat. Laju

respirasi

yang cepat merupakan faktor penting bagi kehilangan

produk

pascapanen karena pembusukan di penyimpanan.


Terdapat berbagai factor yang mempengaruhi respirasi
tumbuhan, baik factor luar maupun factor dalam. Beberapa factor
luar adalah macam substrat, temperature, kadar O2 udara,
persediaan air, cahaya, luka dan adanya zat kimia yang bersifat
toksik. Sementara factor dalam diantaranya adalah umur dan jenis
tumbuhan beserta berat tumbuhan. Pada tumbuhan muda laju
respirasi lebih tinggi, karena pada tumbuhan muda jaringannya
juga masih muda dan sedang berkembang dengan baik. Laju
perkecambahan tinggi ketika pada saat perkecambahan dan tetap
tinggi pada fase pertumbuhan vegetative awal dan kemudian akan
menurun seiring dengan bertambahnya usia. Semakin berat massa
tumbuhan, semakin tinggi laju respirasinya.
Kondisi substrat dapat mempengaruhi laju respirasi
tumbuhan, ketika tumbuhan diletakkan pada substrat yang salinitas
tinggi maka laju respirasinya akan meningkat. Hal ini terjadi
karena untuk mengangkut garam memerluka energy yang besar.
Bila konsentrasi garam melebihi batas normal, respirasi yang
dilakukan oleh tumbuhan disebut sebagai respirasi garam.

Pengaruh temperature bagi laju respirasi adalah terkait


dengan kerja enzim. Enzim merupakan protein yang memiliki batas
toleran tertentu terhadap suhu. Pada suhu melebihi batas minimum,
protein bisa in aktif sehingga tidak dapat bekerja, sedang pada suhu
yang melebihi batas maksimum protein akan terdenaturasi.
Begitupula dengan enzim, enzim dapat bekerja maksimal pada
konsidi suhu optimumnya. Jika enzim bekerja secara maksimum
maka respirasi akan berjalan dengan baik.
Oksigen merupakan penerima elekteron terakhir dalam
transport electron (tahap teakhir dari proses respirasi aerob). Ketika
ketersediaan oksigen tinggi maka kecepatan respirasi juga akan
tinggi, begitupula jika sebaliknya. Ketika kondisi lingkungan
rendah oksigen, tumbuhan dapat melakukan respirasi anaerob
sementara waktu, jika terjadi pada waktu yang lama tumbuhan
akan mati.
Ketersediaan air juga berpengaruh dalam proses respirasi.
Ketika ketersediaan air melimpah, fotosintesis akan berjalan
dengan cepat sejalan dengan meningkatkan kadar karbonioksida
dan adanya cahaya yang memenuhi reaksinya. Ketika fotosintesis
meningkat, oksigen yang merupakan hasil sampingannya juga
meningkat di udara, dan meningkatnya kadar oksigen di udara akan
meningkatkan laju respirasi tumbuhan.
Cahaya secara tidak langsung dapat mempengaruhi laju
respirasi tumbuhan. Ketika cahaya tinggi maka laju fotosintesis
akan tinggi, sehingga akan dihasilkan lebih banyak O2 yang
merupakan hasil sampingan dari proses fotosintesis. Ketersediaan
oksigen yang banyak dalam udara akan meningkatkan laju respirasi
tumbuhan.
Terjadinya luka juga akan meningkatla laju respirasi
tumbuhan. Ketika terjadi luka, akan terbentuk meristem luka

sehingga membutuhkan energy lebih banyak. Selain itu juga terjadi


difusi antara oksigen diudara dengan jaringan tumbuhan yang luka.
Umumnya jika terjadi luka akan timbul inisiasi meristematik pada
daerah luka, yang akhirnya dapat berkembang menjadi kalus.
Inisiasi meristematik ini akan menyebabkan peningkatan laju
respirasi.
Beberapa

senyawa

kimia

seperti

sianida,

karbon

monoksida, kloroform, eter, aseton, formaldehid, alkaloid, dan


glukosida bila dalam jumlah sedikit dapat meningkatkan respirasi
awal tetapi bila dalam jumlah banyak dapat menurunkan laju
respirasi. Dalam jumlah yang banyak, zat-zat kimia tersebut
bersifat menghambat proses respirasi tumbuhan

VII.
VII.1.

PENUTUP
Kesimpulan
Dalam proses respirasi aerobic oksigen merupakan
bahan utama yang mutlak keberadaannya. Jika tidak ada
oksige, tumbuhan akan melakukan respirasi anaerob (tanpa
oksigen) sementara waktu saja. Jika berkelanjutan oksigen
tidak ada maka tumbuhan bisa mati.
Keperluan oksigen dalam respirasi dipengaruhi oleh
berat tumbuhan. Ketika berat tumbuhan besar maka kecepatan
penggunaan oksigen juga besar, begitupula sebaliknya.

VII.2.

Saran
Percobaan seharusnya dilakukan dengan hati-hati, teliti,
dan tidak terburu-buru agar hasil yang diperoleh bisa sesuai

dengan teori yang ada. Pemahaman materi bagi praktikan juga


perlu ditingkatkan terkait dengan lancarnya proses praktikum

DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, Novita et al. 2015. Pengaruh Cekaman Kekeringan
Terhadap Perilaku Fisiologis dan Pertumbuhan Bibit Black
Locust (Robinia pseudoacacia). Jurnal Ilmu Kehutanan. Volum
9, Nomor 1: 40-56.
Campbell, et al. 2008. Biologi Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Fendriansah, et al. 2014. Pengaruh Media Penyimpanan (Biji Plastik)
Terhadap Umur Simpan Wortel Segar (Daucus carrota L.).
Jurnal Teknik Pertanian Lampung. Vol.3, No. 2: 111- 118.
Fried, George H., et al. 2005. Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Stansfield, William et al. 2006. Biologi Molekuler dan Sel. Jakarta:
Erlangga.
Soesanto, Loekas. 2006. Penyakit Pasca Panen. Yogyakarta: Kanisus.
Wusono, Stela et al. 2015. Pengaruh Ekstrak Berbagai Bagian Dari
Tanaman Swietenia mahagoni Terhadap Perkecambahan Benih
Kacang Hijau Dan Jagung. Jurnal Agrologia. Vol. 4, No.2: 105113.

LAMPIRAN