Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS JAMU DAN STANDARISASI OBAT TRADISIONAL

IDENTIFIKASI CLORFENIRAMIN MALEAT (CTM) DALAM


OBAT TRADISIONAL

1.
2.
3.
4.
5.

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 1 A
Rosa Omega Bella Kurniana
( 19133706
Putri Faradila Aprilyani
( 19133708
Fransiska Natalia Diah F
( 19133722
Riaya Shally Retmana
( 19133728
Bagas Adi Wicaksana
( 19133730
6. Hilda Khairunnisa Sholiqin
( 20144157 A )

A
A
A
A
A

)
)
)
)
)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2016/2017
I.

TUJUAN PRAKTIKUM
mahasiswa dapat melakukan identifikasi bahan kimia obat klorfeniramin
maleat (CTM) yang ada di dalam suatu sediaan obat tradisional

II.

DASAR TEORI

Obat

tradisional

Indonesia

telah

berabad-abad

lamanya

dipergunakan secara luas oleh masyarakat Indonesia, meskipun masih


banayak bahan baku standar yang belum memiliki persyaratan resmi.
Obat tradisional pada umumnya menggunakan bahan-bahan alam
yang lebih dikenal sebagai simplisia. Simplisia ialah bahan alamiah
yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan
apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah
dikeringkan.
Semakin maraknya penggunaan obat tradisional berdasarkan
khasiat

yang

turun

temurun

semakin

memperluas

kesempatan

terjadinya pemalsuan simplisia bahkan ada beberapa jamu yang


mengandung bahan kimia obat (BKO) yang telah jelas dilarang
penambahannya baik sengaja maupun tidak disengaja kedalam
produk obat tradisional.
Definisi :
Simplisia ialah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat
yang belum mengalami pengolahan apapun juga kecuali dinyatakan
lain, berupa bahan yang telah dikeringkan.
Simplisia nabati ialah simplisia yang berupa tanaman utuh,
bagian tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman ialah isi sel
yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan
cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang
dengan

cara

tertentu

dipisahkan

dari

tanamannya

dan

belum

merupakan zat kimia murni.


Simplisia hewani ialah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian
hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum
berupa zat kimia murni.
Simplisia pelikan (mineral) ialah simplisia yang berupa bahanbahan pelikan (mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan
cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian atau galenik,

atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun-temurun telah


digunakan

untuk

pengobatan

berdasarkan

pengalaman. Bahan baku adalah simplisia, sediaan galenik, bahan


tambahan atau bahan lainnya, baik yang berkhasiat maupun yang
tidak

berkhasiat,

yang

berubah

maupun

tidak

berubah,

yang

digunakan dalam pengolahan obat tradisional, walaupun tidak semua


bahan tersebut terdapat dalam produk ruahan.
Berdasarkan undang-undang

kesehatan

bidang farmasi

dan

kesehatan, yang dimaksud dengan Obat bahan Alam Indonesia adalah


Obat bahan Alam yang diproduksi di Indonesia. Berdasarkan cara
pembuatan serta jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian
khasiat, Obat bahan Alam Indonesia dikelompokkan menjadi : jamu,
Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka.
Jamu harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan persyaratan
yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris
dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.
Berbeda dengan obat-obatan modern, standar mutu untuk jamu
didasarkan pada bahan baku dan produk akhir yang pada umumnya
belum memiliki baku standar yang sesuai dengan persyaratan.
Simplisia nabati, hewani dan pelican yang dipergunakan sebagai
bahan untuk memperoleh minyak atsiri, alkaloid, glikosida atau zat
berkhasiat lainnya, tidak perlu memenuhi persyaratan yang tertera
pada monografi yang bersangkutan. Identifikasi simplisia dapat
dilakukan berdasarkan uraian mikroskopik serta identifikasi kimia
berdasarkan kandungan senyawa yang terdapat didalamnya.
Berikut ini adalah alur pemeriksaan mutu dan identifkasi terhadap
simplisia :
Identifikasi meliputi :
1. organoleptis (warna, rasa, bau) yaitu secara fisika, kelarutan,
indeks bias, bobot jenis, titik lebur, rotasi optic, rekristalisasi,
mikrosublimasi
2. mikroskopik
3. biologi & mikrobiologi

4. instrumentasi (kromatografi : kinerja tinggi, lapis tipis, kolom,


kertas, gas)
5. mikrokimia

(reaksi

warna,

pengendapan,

pendesakan,

penggaraman, reaksi kompleks).


6. Obat tradisional tidak boleh mengandung bahan kimia obat
(BKO).
Berdasarkan hasil pengawasan obat tradisional melalui sampling
dan pengujian laboratorium tahun 2006, Badan POM menemukan
sebanyak 93 produk obat tradisional yang dicampur dengan bahan
kimia obat keras seperti Fenilbutazon, Metampiron, Deksametason,
CTM, Allopurinol, Sildenafil Sitrat, Sibutramin Hidroklorida dan
Parasetamol.
Mengkonsumsi obat tradisional mengandung Bahan Kimia Obat
Keras membahayan kesehatan bahkan mematikan. Pemakaian obat
keras, harus melalui resep dokter.
Berbagai resiko dan efek yang tidak diinginkan dari penggunaan
Bahan

Kimia

Obat

Keras

tanpa

pengawasan

dokter,

telah

dilaporkan.
Kegiatan memproduksi dan atau mengedarkan obat tradisional
yang mengandung Bahan Kimia Obat, melanggar Undang-Undang
nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan dengan pidana penjara
paling

lama

5(lima)

tahun

dan

denda

paling

banyak

Rp.

100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan Undang-Undang nomor 8


tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang dapat dikenakan
sanksi dengan pidana penjara paling lama 5(lima) tahun dan atau
denda paling banyak 2(dua) miliar rupiah.
Prinsip analisis
Analisis

kualitatif

CTM

secara

kromatografi

lapis

spektrofotometri UV setelah diekstraksi dari cuplikan.


III.

ALAT DAN BAHAN


Alat
1. Erlenmeyer
2. Gelas ukur

8. Corong pisah
9. pH meter

tipis

dan

IV.

3. Batang pengaduk
4. Cawan penguap
5. Penangas air
6. Kapas
7. pipa kapiler
Bahan
1. Sampel jamu
2. Clorfeniramin maleat (CTM)
3. kloroform
4.NaOH 0,1 N
5. Aquadest

10. Lempeng KLT


11.Cember
12.pengaris dan pensil
13. Kertas saring.

5. Etil asetat.
6. Benzen
7. Dioksan
8. Amonium pekat.
9. metanol

CARA KERJA
Preparasi sampel
Sampel jamu, dibagi
menjadi 2 bagian sama
banyak.
Sampel A ditambah
dengan CTM dan
masukan dalam erlemeyer
dan tambah aquades 50 ml

Sampel B tidak ditambah CTM


dan masukkan dalam
Erlenmeyer, dan tambah
aquades 50 ml

Kocok kuat, selama 30


menit

Saring dengan menggunakan


kapas, kemudian saring lagi
dengan kertas saring.
Diambil
filtrat

Tambah NaOH 0,1 N samapai


pH menjadi 10

Masukkan dalam corong pisah dan


ektraksi dengan menggunakan
kloroform sebanyak 3 kali @ 20 ml

Kumpulkan ekstrak fase (CHCl3 ) dan


pekatkan diatas penangas air

V.

HASIL PRAKTIKUM
-

Totolkan pada lempeng KLT dan


lakukan identifikasi.

Fase diam
= silika GF 254 nm
Penjenuh
= ketas saring
Vol penotolan
= larutan A,B, dan C masing masing 15 l.
Penampak bercak
=
Cahaya UV 254 nm
Uap iodium : bercak berwarna abu-abu.
1. KELOMPOK 1
Fase gerak = etil asetat : metanol : air ( 80:17:3 )
Sampel A ( sampel jamu )
4,2 cm
- Rf1 = 4,5 cm = 0,933 cm
Sampel B (sampel jamu + CTM)
1 cm
- Rf1 = 4,5 cm = 0,222 cm,
-

Rf2 =

4,2 cm
4,5 cm

= 0,933 cm

Sampel C (standar CTM )


0,9 cm
- Rf = 4,5 cm = 0,2 cm
Kesimpulan : sampel nomor 1 negatif mengandung CTM
2. KELOMPOK 2
Fase gerak = etil asetat : metanol : air ( 80:17:3 )
Sampel A ( sampel jamu )
4,1 cm
- Rf1 = 4,5 cm = 0,91 cm
Sampel B (sampel jamu + CTM)
0,6 cm
- Rf1 = 4,5 cm = 0,13 cm,

Rf2 =

1,6 cm
4,5 cm

= 0,35 cm

Rf3 =

3,4 cm
4,5 cm

= 0,75 cm,

Sampel C (standar CTM )


0,6 cm
- Rf1 = 4,5 cm = 0,13 cm
-

Rf2 =

1,1 cm
4,5 cm

= 0,24 cm,

Kesimpulan : sampel nomor 2 negatif mengandung CTM


3. KELOMPOK 3
Fase gerak = etil asetat : metanol : air ( 80:17:3 )
Sampel A ( sampel jamu )
1,5 cm
- Rf1 = 5 cm = 0,075 cm
-

Rf2 =

4,6 cm
5 cm

= 0,23 cm

Rf3 =

4,7 cm
5 cm

= 0,115 cm

Sampel B (sampel jamu + CTM)


2,3 cm
- Rf1 = 5 cm = 0,115 cm,
-

Rf2 =

4,2 cm
5 cm

= 0,21 cm

Rf3 =

4,3 cm
5 cm

= 0,215 cm

Sampel C (standar CTM )


1,8 cm
- Rf = 5 cm = 0,09 cm
Kesimpulan : sampel nomor 3 positif mengandung CTM
4. KELOMPOK 4
Fase gerak = metanol : ammonium ( 90: 10 )
Sampel A ( sampel jamu )
2,9 cm
- Rf1 = 5,5 cm = 0,52 cm
-

Rf2 =

4,1 cm
5,5 cm

= 0,74 cm

Sampel B (sampel jamu + CTM)

Rf1 =

2,8 cm
5 cm

Rf2 =

4,15 cm
5,5 cm

= 0,51 cm,
= 0,75 cm

Sampel C (standar CTM )


2,8 cm
- Rf1= 5,5 cm = 0,51 cm
-

Rf2=

3,375 cm
5,5 cm

Rf3=

4,5 cm
5,5 cm

= 0,68 cm
= 0,81 cm

Kesimpulan : sampel nomor 4 positif mengandung CTM


5. KELOMPOK 5
Fase gerak = metanol : ammonium ( 90: 10 )
Sampel A ( sampel jamu )
2,9 cm
- Rf1 = 4,5 cm = 0,64 cm
-

Rf2 =

4 cm
4,5 cm

= 0,89 cm

Sampel B (sampel jamu + CTM)


2,2 cm
- Rf1 = 4,5 cm = 0,49 cm,
-

Rf2 =

3,3 cm
4,5 cm

= 0,0,73 cm.

Sampel C (standar CTM )


2,8 cm
- Rf1 = 4,5 cm = 0,62 cm,
-

Rf2 =

3,2 cm
4,5 cm

= 0,71 cm,

Rf3 =

4 cm
4,5 cm

= 0,89 cm

Kesimpulan : sampel nomor 5 positif mengandung CTM


VI.

PEMBAHASAN
Penambahan bahan kimia obat ke dalam jamu merupakan salah satu cara yang
dilakukan beberapa industri untuk meningkatkan khasiat tertentu dari obat tradisional.

Oleh karena itu dilakukan identifikasi secara KLT dengan dua fase gerak yang berbeda.
Secara visual, jamu yang mengandung bahan kimia obat sulit dibedakan dengan jamu
yang tidak mengandung bahan kimia obat. Bahan kimia obat yang dicampurkan pada
jamu dosisnya tidak terukur dan karena pencampuran yang tidak homogen maka dosis
bahan kimia obat pada setiap kemasan bias berbeda. Hal ini bisa berbahaya karena
memungkinkan konsumen mengkonsusmsi bahan kimia obat secara berlebihan.
Praktikum kali ini melakukan identifikasi clorfeniramin maleat (CTM)
dalam obat tradisional secara kualitatif. Sampel yang diuji adalah 5
jamu serbuk kemasan dengan meggunakan Kromatografi lapis tipis
(KLT).

Metode

ini

mempunyai

kelebihan

dibandingkan

dengan

kromatografi lain yaitu peralatan yang diperlukan sedikit, murah dan


sederhana, waktu yang digunakan untuk analisis sedikit, jumlah
cuplikan yang sedikit dan daya pisah yang cukup baik. Pada KLT
untuk mengidentifikasi jamu dapat diamati pada kromatogram
berdasarkan pembandingan harga Rf Masing masing sempel. Dengan
harga RF sempel A yaitu jamu tanpa peambahan. Sempel B jamu dan
CTM dan sempel C sebagai baku/ standar CTM.
Pengujian pada jamu ini dilkukan dengan proses pengestrkasian.
Dimana baik sempel maupun pembanding II

diekstrkasi dengan

kloroform. Kemudian diupakan dan ditmbahkan dengan metanol.


Kemudian plat dimasukkan kedalam chember yang telah dijenuhkan
dengan larutan pengembang (fase gerak), dibiarkan sampai larutan
pengembang naik sampai garis batas. Pada praktikum kali ini larutan
pengembang dibagi menjadi dua yaitu pada kelompok 1,2 dan 3
menggunakan fase gerak etil asetat:metanol: air ( 80: 17: 3) dan
kelompok 4 dan 5 mengunakan fase gerak metanol : ammonaik
(90:10Bercak KLT terdiri dari 3 noda yaitu standar CTM, sampel jamu
dan sampel jamu yang dicampur dengtan parasetamol. Kemudian
dielusi sampai tanda batas. Lempeng diambil dan dikeringkan lalu
dideteksi dengan sinar UV 254 nm. Amati bercak dan tandai bercak,
serta hitung Rf nya. Apabila jamu positif mengandung CTM jika Rf nya
mendaki Rf baku CTM.

Pada hasil pengamatan Rf dengan sinar UV 254 nm pada setiap kelompok,


didapatkan Rf yang berbeda beda dikarenakan setiap fase gerak mempunyai kekuatan
daya elusi yang berbeda-beda. Semakin polar sutu fase gerak maka semakin jauh
bercak dari batas awal karena pada silica gel GF bersifat non polar sehingga daya ikat
pada fase gerak lemah. Dapat dilihat pada data fase gerak etil asetat:metanol:air (
80: 17: 3) bersifar semi polar condong ke non polar terlihat Rf sempel ditambah
CTM dan dengan sempel standar masih dibawah / dekat dengan totolan awal,
sedangkan pada metanol: amoniak (90:10) bercak terletak lebih naik dari totolan awal
karena fase gerak yang digunakan lebih polar.
Pada hasil kelompok 1 terlihat Rf baku atau standar CTM yaitu 0,2 cm dimana
pada Rf pada noda A yaitu terdapat satu noda yang berbeda dengan noda standar CTM
yaitu 0,933 cm sehingga hasil negatif. Begitu juga dengan kelompok 2 pada sampel A
nilai Rf berbeda dengan nilai baku CTM sehingga hasil negatif. Berbeda dengan
kelompok 3,4,dan 5 hasil analisis jamu positif mengandung CTM terlihat pada Rf baku
CTM sama dengan Rf pada sempel A. pada kelompok 3 nilai Rf baku CTM yaitu 0,09
cm mendekati 0,01 dan nilai Rf sempel salah satunya 0,075 cm yang juga mendekati
0,01.
Pembacaan

hasil

KLT

sangat

mempengaruhi

kesimpulan

pengujian adanya BKO (CTM) dalam sampel. Sampel yang digunakan


adalah jamu. Secara teori, KLT dari jamu akan menunjukkan banyak
peak karena banyaknya kandungan dalam jamu. Pada sampel 1,
dilakukan preparasi sampel, kemudian dilakukan analisis sesuai
prosedur.

Analisis

yang

dilakukan

pada

pengujian

ini

adalah

menggunakan KLT dengan standart CTM. Standart parasetamol hanya


memiliki 1 peak, sementara sampel mempunyai satu

peak yang

berbeda deng Rf baku. Hasil sampel negatif bila sampel memiliki 1


peak yang Rfnya berbeda dengan standart, Jadi, kesimpulan dari
pengujian BKO dalam sampel nomor 1 adalah negatif mengandung
BKO.

VII.

KESIMPULAN

Dari praktikum ini disimpulkan bahawa dari 4 sampel serbuk jamu


kemasan didapatkan
a. Sampel 1 dan 2 jamu dengan fase gerak etil asetat : metanol : air
( 80:17:3 ) negatif mengandung CTM.
b. Sampel 3 jamu dengan fase gerak etil asetat : metanol : air ( 80:17:3 )
posistif mengandung CTM.
c. Sampel 4 dan 5 jamu dengan fase metanol : ammonium ( 90: 10 )
positif mengandung CTM
d. Pada fase gerak yang lebih polar bercak yang didapat lebih naik
dari

pada

fase

gerak

non

polar.

Sehingga

lebih

baik

menggunakan fase gerak yang lebih polar agar mendapatkan


hasil yang spesifik.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
BPOM RI. 2008. Informatorium Obat Nasional Indonesia 2008. Jakarta:
Sagunpseto.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
BPOM RI. 1993. Identifikasi Parasetamol Dalam Obat Tradisional
Sediaan Padat, Jakarta : DEPKES RI.
Sudjadi. 1996. Metode peisahan. Kanisius.fakultas farmasi UGM.,
Yogyakarta. Indonesia
Nurfiana, Ghani dan Fitri Kurniasari. 2016. Petunjuk Praktikum Analisa
Jamu dan Standarisasi Obat Tradisional. Surakarta. Universitas
Setia Budi.