Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KEPENDUDUKAN

BAB I
PENDAHULUAN

I.

LATAR BELAKANG

Kependudukan adalah hal yang berkaitan dengan jumlah, pertumbuhan, persebaran,


mobilitas, penyebaran, kualitas, kondisi kesejahteraan, yang menyangkut politik,
ekonomi, sosial, budaya, agama serta lingkungan ( uu No. 23 Th 2006).
Ilmu Kependudukan dimaksudkan untuk memberikan pengertian yang lebih
luas dari pada demografi, karena sejumlah ahli demografi telah menggunakan istilah
demografi untuk menunjuk pada demografi formal, demografi murni, atau kadangkadang demografi teoritis.
Sedangkan arti dari demografi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani,
yang terdiri dari kata :
v demos, yang artinya rakyat/penduduk
v grafein, yang artinya menggambar atau menulis.
v Demografi: adalah tulisan atau karangan tentang rakyat atau penduduk
Demografi adalah suatu studi mengenai jumlah distribusi dan komposisi dan koposisi
penduduk

serta

komponen-komponen yang

menyebabkan

perubahan

yang

diidentifikasi sebagai natalitas, gerak penduduk teritorial dan mobilitas sosial


(perubahan status). Merupakan analisa statistik penduduk, hanya mempersoalkan
hubungan antar variable demografi (Dependen dan independen)
Pengertian administrasi kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan
penertiban dalam penertiban dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran
penduduk dan catatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan serta
pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan public dan pembangunan sector lain.

Administrasi Kependudukan diarahkan untuk memenuhi hak azasi setiap orang di


bidang administrasi kependudukan tanpa diskriminasi melalui pelayanan publik yang
profesional. Pendaftaran penduduk dilakukan dengan pencatatan biodata penduduk,
pencatatan atas pelaporan peristiwakependudukan dan pendataan penduduk serta
penerbitan dokumen kependudukan.
Administrasi Kependudukan dengan system baru tersebut bila berjalan sesuai dengan
ketentuan, dimulai dari kelengkapan biodata penduduk, pencatatan kelahiran,
kematian, pindah dan datang, akhirnya akan mempermudah berbagai urusan yang
diperlukan masyarakat berupa pelayanan publik dan pendayagunaan untuk penetapan
kebijakan pembangunan (antara lain merupakan komponen penting dalam
pembuatan indikator MDGs)
II.

Rumusan Masalah

Untuk memberikan arah, penulis bermaksud membuat suatu perumusan masalah


sesuai dengan arah yang menjadi tujuan dan sasaran penulisan dalam makalah ini.
Perumusan masalah menurut istilahnya terdiri atas dua kata yaitu rumusan yang
berarti ringkasan atau kependekan, dan masalah yang berarti pernyataan yang
menunjukkan jarak antara rencana dengan pelaksanaan, antara harapan dengan
kenyataan. Perumusan masalah dalam makalah ini berisikan antara lain :
1.

Apa pengertian dari konsep konsep administrasi kependudukan?

2.

Bagaimana sejarah kependudukan?

3.

Apa landasan hukum administrasi kependudukan?

III.

Tujuan Penulisan

1.

Memenuhi tugas mata kuliah Administrasi Kependudukan

2.

Mengetahui tentang materi yang menjadi fokus dalam makalah ini yaitu
tentang

pengertian,

sejarah

dan

landasan

hukum

administrasi

kependudukan.
3.

Guna menambah wawasan tentang pengertian, sejarah dan landasan hukum


administrasi kependudukan.
2

BAB II
PEMBAHASAN

I.

FILOSOFIS

ADMINISTRASI

KEPENDUDUKAN

(PENGERTIAN

KONSEP-KONSEP ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN)

Definisi Administrasi

Administrasi meliputi kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan oleh pejabat-pejabat


eksekutif dalam suatu organisasi, yang bertugas mengatur, memajukan dan
melengkapi usaha kerjasama sekumpulan orang yang sengaja dihimpun untuk
mencapai tujuan tertentu.
Pengertian Administrasi dalam arti sempit dan luas
1) Arti sempit: berasal dari kata Administratie (bahasa Belanda ), yang meliputi
kegiatan catat mencatat, surat menyurat, pembukuan ringan, ketik mengetik, agenda
dsb, yang bersifat teknis ketatausahaan (clerical work). Dengan demikian tata usaha
adalah bagian kecil kegiatan dari Administrasi.
2) Arti luas: berasal dari kata Administration (bahasa Inggris), yakni rangkaian
kegiatan / proses kegiatan usaha kerja sama sekelompok orang untuk mencapai
tujuan tertentu secara efesien
Pengertian administrasi menurut ahli
a.

Leonard D. White (1955):

Administrasi merupakan suatu proses yang biasanya terdapat pada semua usaha
kelompok, baik usaha Pemerintah maupun swasta, sipil maupun militer baik secara
besar-besaran maupun kecil-kecilan.
b.

Herbert A. Simon (1956):

Dalam pengertian yang luas, administrasi dapat dirumuskan sebagai kegiatan dari
kelompok orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan

Definisi Kependudukan

Kependudukan berkata dasar penduduk yang mempunyai arti yaitu orang yang
tinggal di daerah tersebut atau orang yang secara hukum berhaktinggal di daerah
tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ.
Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.
Pengertian Dasar Tentang Kependudukan
Apakah kependudukan itu? Para ahli biasanya membedakan antara ilmu
kependudukan (demografi) dengan studi-studi tentang kependudukan (population
studies). Demografi berasal dari kata Yunani demos penduduk dan Grafien
tulisan atau dapat diartikan tulisan tentang kependudukan adalah studi ilmiah tentang
jumlah, persebaran dan komposisi kependudukan serta bagaimana ketiga faktor
tersebut berubah dari waktu ke waktu. Ilmu demografi juga ada yang bersifat
kuantitatif dan yang bersifat kualitatif
Demografi yang bersifat kuantitatif (kadang-kadang disebut Formal Demography
Demography Formal) lebih banyak menggunakan hitungan-hitungan statistik dan
matematik. Tetapi Demografi yang bersifat kualitatif lebih banyak menerangkan
aspek-aspek kependudukan secara deskriptif analitik.
Sedangkan studi-studi kependudukan mempelajari secara sistematis perkembangan,
fenomena dan masalah-masalah penduduk dalam kaitannya dengan situasi sosial di
sekitarnya.
Ilmu kependudukan yang perlu mendapat perhatian kita sekarang adalah lebih
menyerupai studi antar disiplin ilmu yang dipadu dengan analisis demografi yang
lazim diberi istilah Demografi Sosial.
Dalam sosiologi,

penduduk

adalah

kumpulan

manusia

yang

menempati

wilayah geografi dan ruang tertentu.


Kependudukan adalah hal-hal / sifat-sifat sebagai penduduk; urusan mengenai
penduduk.(Kamus besar Bahasa Indonesia, 1996, hal: 245).

Kependudukan adalah hal yang berkaitan dengan jumlah, pertumbuhan, persebaran,


mobilitas, penyebaran, kualitas, kondisi kesejahteraan, yang menyangkut politik,
ekonomi, sosial, budaya, agama serta lingkungan ( uu No. 23 Th 2006).
Ilmu Kependudukan dimaksudkan untuk memberikan pengertian yang lebih luas dari
pada demografi, karena sejumlah ahli demografi telah menggunakan istilah
demografi untuk menunjuk pada demografi formal, demografi murni, atau kadangkadang demografi teoritis.

Definisi Administrasi Kependudukan

Pengertian administrasi kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan


penertiban dalam penertiban dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran
penduduk dan catatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan serta
pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan public dan pembangunan sector lain.

Hakikat administrasi kependudukan adalah pengakuan Negara terhadap hak public


( domisili, pindah dating ) dan hak sipil ( 12 sektor penting ) penduduk dibidang
administrasi kependudukan.
Administrasi Kependudukan diarahkan untuk memenuhi hak azasi setiap orang di
bidang administrasi kependudukan tanpa diskriminasi melalui pelayanan publik yang
profesional. Pendaftaran penduduk dilakukan dengan pencatatan biodata penduduk,
pencatatan atas pelaporan peristiwa kependudukan dan pendataan penduduk serta
penerbitan dokumen kependudukan.
Administrasi Kependudukan dengan system baru tersebut bila berjalan sesuai dengan
ketentuan, dimulai dari kelengkapan biodata penduduk, pencatatan kelahiran,
kematian, pindah dan datang, akhirnya akan mempermudah berbagai urusan yang
diperlukan masyarakat berupa pelayanan publik dan pendayagunaan untuk penetapan
kebijakan pembangunan (antara lain merupakan komponen penting dalam
pembuatan indikator MDGs

Output dari administrasi kependudukan:


a.

Dokumen

kependudukan

(surat

keterangan

kependudukan,

KK,

KTP,

Akta Catatan Sipil).


b. data kependudukan (agregat, individu)
Visi dari Administrasi Kependudukan adalah :
Tertib administrasi kependudukan dengan peleyanan prima menuju penduduk
berkualitas tahun 2015.
Misi dari administrasi kependudukan adalah:
Meningkatkan kualitas pengelolaan administrasi penduduk di pusat dan daerah, serta
mengembangkan

potensi

partisipasi

masyarakat

dalam

mendukung

tertib

administrasi kependudukan.
II.

SEJARAH KEPENDUDUKAN

Sejarah Administrasi kependudukan secara umum


Landasan filosofis di bentuknya administrasi kependudukan, antara lain:
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
pada hakeketnya berkewajiban memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap
penentuan status pribadi dan status hukum atas setiap peristiwa kependudukan dan
peristiwa penting yang dialami oleh penduduk Indonesia yang berada di dalam dan
diluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam rangka memberikan perlindungan, pengakuan, penentuan status
pribadi dan status hukum setiap peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang
dialami oleh penduduk Indonesia yang berada di dalam dan diluar wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia perlu dilakukan pengaturan tentang Administrasi
Kependudukan.
Pengaturan tentang administrasi kependudukan hanya dapat terlaksana
apabila didukung oleh peleyan yang professional dan peningkatan kesadaran
penduduk, termasuk warga Negara Indonesia yang berada di luar negeri.
6

Peraturan perundangan mengenai Administrasi Kependudukan yang ada tidak


sesuia lagi dengan tuntutan pelayanan admnistrasi kependudukan yang tertib dan
tidak diskriminatif sehingga di perlukan pengaturan secara menyeluruh untuk
menjadi pegangan bagi semua penyelenggara Negara yang berhubungan dengan
kependudukan.
Selain hal tersebut diatas, dibentuknya Administrasi Kependudukan di Indonesia,
berawal dari masalah pokok atau masalah mendasar antara lain:

Rendahnya proporsi penduduk yang melakukan pendaftaran yang berakibat

pada rendahnya kualitas

Beberapa permasalahan yang muncul dalam penyelenggaraan pendaftaran

penduduk, di antaranya:
Aspek hukum: belum tersedianya dasr hukum yang utuh, terpadu komprehensif
dan tidak diskriminatif dalam hal pendaftaran penduduk.
Aspek social budaya: rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pendaftaran
penduduk.
Aspek aksesibilitas, keterjangkauan geografis, sosiokultural dan mobilitas.
Apek kelembagaan: ketidakseragaman noomenklatur yang berakibat pada
mekanisme koordiansi yang tidak optimal, dan muncul institusi serupa yang
melakukan

pendaftaran

penduduk

untuk kepentingan

yang

berbeda

yang

menghasilkan data-data yang parsial dan tidak akurat.


Aspek system: belum terintegrasinya system pusat dan daerah dan belum
terbentuk jaringan antar subsistem dalam aspek penyelenggaraan pendaftaran
penduduk.
Apek pelayanan: belum adanya SOP dan standar kualitas pelayanan minimum
dalam hal pendaftaran penduduk yang berakibat pada banyaknya muncul complain
terhadap pelaksanaan pendaftaran penduduk.

Beberapa permasalahan tersebut diatas memerlukan ketegasan pemerintah dalam


penyelenggaraan pendaftaran penduduk dalam rangka reformasi penyelenggaraan
pendaftaran penduduk, yaitu di bentuknya Administrasi Kependudukan.
Penggunaan data administrasi kependudukan, antara lain:

POLRI / Polda Metro jaya, KPU, Departemen Keuangan (Ditjen Pajak),

BKKBN, BPS, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Kesehatan

Pemerintah Daerah yang melayani penduduk dengan dokumen kependudukan,

yaitu Pemprop, Pemkab, dan Pemkot yang mencakup lembaga / dinas Pendaftaran
Penduduk, Catatan Sipil, KUA, Pengadilan Agama, Pengadilan Negeri

Penduduk : Ornop dan Konsorsium Catatan Sipil

Swasta : Bank dan Asuransi

Kebijakan Umum Administrasi Kependudukan

Kebutuhan pemerintah dan pembangunan

Pemenuhan tuntutan masyarakat atas kualitas pelayanan public

Landasan kerja: untuk menopang program kerja cabinet gotong royong

Landasan program : Propenas 2000-2004, program pengembangan dan

keserasian penduduk

Landasan program : ketetapan MPR VI/MPR/2002, menciptakan system

pengenal tunggal atau nomor induk tunggal dan terpadu bagi seluruh penduduk
Indonesia

Landasan Hukum pembangunan sisitem administrasi kependudukan dalam era

otonomi

Cakupan Administrasi Kependudukan adalah :

Penyelanggaraan pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan data dan

informasi untuk penetapan identitas, legalitas status dan kebijakan kependudukan.

Perkembangan kependudukan.

Mengidentifikasi, mengkaji, menelaah dan menganalisis masalah kuantitas,

kualitas, mobalitas serta tertib administrasi untuk merumuskan kebijakan


kependudukan,

menuju

kondisi

penduduk

yang

lebih

memungkinkan

terselenggaranya pembangunan yang dapat mempercepat kesejahteraan penduduk.


Sejarah Administrasi Kependudukan dari Aspek Hak Keperdataan
Gagasan menyusun suatu sistem administrasi yang menyangkut seluruh masalah
kependudukan, yang meliputi pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan
data-informasi kependudukan, patut menjadi perhatian untuk mewujudkannya.
Karena sampai saat ini, peraturan perundang-undangan yang mendukungnya masih
terpisah-pisah, berjalan sendiri-sendiri tanpa ada kaitan satu dengan lainnya.
Perwujudan suatu sistem memang sangat didambakan oleh masyarakat. Bahkan
sebagai ciri dari penyelenggaraan negara yang modern khususnya bidang pelayanan
masyarakat.
Sejak kemerdekaan 57 tahun yang lalu, masalah administrasi kependudukan masih
dirasakan tumpah tindih, tidak ada keterkaitan dalam administrasi antara keberadaan
penduduk dengan kebutuhan lain yang sebetulanya atas dasar kependudukan itu
sendiri. Kebutuhan yang paling dekat adalah pencatatan sipil, namun demikian
belum ada yang secara otomatis dapat mengalir datanya pada pendafataran
penduduk.
Masing-masing masih mementingkan kepentingan sektoralnya dari pada lebih
memperhatikan kepentingan bersama secara koordinatif. Sebagai contoh konkrit saja,
kita dapat merasakan data pencatatan perkawinan bagi yang beragama Islam, mandeg
di KUA hanya sebagai laporan data ke Departmen Agama. Sedangkan Kantor
Catatan Sipil di wilayah yang sama tidak memiliki akses dan tidak memperoleh data
sama sekali dari KUA. Sehingga fungsi Kantor Catatan Sipil seolah-olah hanya
berlaku bagi bukan yang beragama Islam.
9

Demikian pula masalah perceraian yanng diputus baik oleh Pengadilan Agama (bagi
yang beragama Islam) maupun Pengadilan Negeri (bagi yang beragama lain). Data
dari kedua pengadilan tersebut tidak ditransfer secara otomatis kepada Kantor
Catatan Sipil. Oleh karenanya adalah wajar kalau data dari dinas kependudukan
dengan BPS tidak sama.
Pencatatan sipil merupakan hak dari setiap warga negara dalam arti hak memperoleh
akta autentik dari pejabat negara. Masih jarang penduduk menyadari betapa
pentingnya sebuah akta bagi dirinya dalam menopang perjalanannya dalam "mencari
kehidupan". Betapa tidak ! Anak lahir tanpa akta kelahiran, ia akan memperoleh
kesulitan pada saat ia memasuki pendidikan. Demikian pula dalam masalah
perkawinan, kematian, dan status anak. Banyak manfaat yang membawa akibat
hukum bagi diri seseorang. Sebuah akta perkawinan yang diterbitkan oleh pejabat
Kantor Catatan Sipil, memiliki arti yang sangat besar di kemudian hari, manakala
terjadi sesuatu. Misalnya untuk kepentingan menentukan ahli waris, menentukan dan
memastikan bahwa mereka adalah mukrimnya, atau dapat memberi arah ke
pengadilan mana ia mengajukan cerai dan lain-lain yang tanpa disadari akta-akta
tersebut sangat penting artinya bagi kehidupan seseorang.
Pengertian pendafataran penduduk dan pencatatan sipil adalah tidak dapat disangkal
bahwa sistem administrasi kependudukan merupakan sistem yang mengatur seluruh
administrasi yang menyangkut masalah kependudukan pada umumnya. Dalam hal ini
terkait tiga jenis pengadministrasian, yaitu pertama pendaftaran penduduk, kedua
pencatatan sipil, dan ketiga pengelolaan informasinya. Ketiga sub sistem tersebut
masing-masing memiliki pengertian dan definisi yang mampu memberikan
gambaran tentang seluruh kegiatannya.
Pengertian pendaftaran penduduk sebagaimana yang tertuang dalam Keputusan
Menteri Dalam Nomor 54 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Pendaftaran Penduduk, disebut bahwa pendaftaran penduduk adalah kegiatan
pendaftaran dan atau pencatatan data penduduk beserta perubahannya, perkawinan,
perceraian, kematian, dan mutasi penduduk, penerbitan nomor induk kependudukan,
nomor induk kependudukan sementara, kartu keluarga, kartu tanda penduduk dan
akta pencatatan penduduk serta pengelolaan data penduduk dan penyuluhan.
Sedangkan penduduk adalah setiap Warga Negera Indonesia yang selanjutnya
10

disingkat WNI dan Warga Negara Asing yang selanjutnya disingkat WNA pemegang
ijin tinggal tetap di wilayah negara Republik Indonesia. Jadi dari definisi tersebut,
jelas yang dimaksudkan penduduk adalah setiap WNI dan WNA pemegang ijin
tinggal tetap. Untuk itu guna administrasinya diselenggarakan pendaftaran penduduk.
Sedangkan nomenklatur tentang "pencatatan penduduk" seperti yang disebutkan
dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 1999 tersebut,
sesungguhnya tidak tepat kalau diartikan sama dengan "pencatatan sipil". Kata
"sipil" pada "pencatatan sipil" tidak sama artinya dengan penduduk.
Pencatatan penduduk artinya data-data sebagai penduduk yang dicatatkan. Tetapi
kalau "pencatatan sipil" artinya status sipilnya yang dicatatkan, karena adanya
perubahan pada diri seseorang. Misalnya pencatatan atas kelahiran, artinya atas
perubahan status sipilnya dari yang sebelumnya belum ada di dunia tetapi karena
akibat kelahirannya ia menjadi mempunyai status dan berhak atas hak sipilnya.
Demikian pula bagi pencatatan perkawinan adalah seseorang yang karena perubahan
status sipilnya dari lajan menjadi berstatus kawin yang membawa akibat hukum
karenanya. Sebaliknya pencatatan perceraian, ia merubah status kawin menjadi status
janda atau duda yang juga membawa akibat-akibat hukum. Termasuk pencatatan
kematian, akan membawa akibat dalam hubungan hukum antara yang meninggal
dunia dengan anak-anak, suami atau istri dengan orang tua maupun saudarasaudaranya, dalam hal ini sering disebut-sebut sebagai ahli warisnya yang akan
menerima

segala

warisan

baik

yang

positif

maupun

yang

negatif.

Dari urian tersebut di atas, jelas bahwa Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 54
Tahun 1999 telah menimbulkan kerancuan dan salah kaprah sampai pada Peraturanperaturan Daerah di beberapa daerah.
Pemakaian istilah "Catatan Sipil" sudah sejak ordonansi-ordonansi seperti Staatsblad
1949 No. 25, atau Staatsblad 1917 No. 130 yo 1919 No. 18, atau Staatsblad 1920 No.
751 yo 1927 No. 564, atau Staatsblad 1933 No. 75 yo 1936 No. 607. Terminologi
"Catatan Sipil" adalah terminologi baku secara hukum karena atas dasar pencatatan
tersebut seseorang menjadi jelas status hak sipilnya. Dalam Instruksi Presidium
Kabinet No. 31/U/IN/12/1966, juga tetap menggunakan istilah "Catatan Sipil". Hal
tersebut menandakan bahwa status keperdataan seseorang yang dicatatkan pada
Kantor

Catatan

Sipil,

sebagai

akibat
11

dari

adanya

status

seseorang.

Keanekaragaman peraturan perundang-undangan sebagai warisan hukum Pemerintah


Belanda dengan sistem Kolonial yang membagi penduduk di dalam 3 (tiga) golongan
besar (Eropa, Tionghoa, dan Bumi Putera) benar-benar mengancam perpecahan bagi
persatuan bangsa. Menurut penyusun kodifikasi Kitab Undang-undang Perdata (Prof.
Drs. CST Kansil, SH dan Christine SF Kansil SH, MH, 2001), bahwa dewasa ini
KUHP Perdata memerlukan penyempurnaan sehubungan dengan perkembangan
Hukum Perdata di Indonesia selama lebih 150 tahun berlaku di tanah air, yaitu
dengan Buku Kesatu tentang Orang. Oleh karenanya adalah wajar dan sudah saatnya
para penyelenggara negara digugah "masa tidurnya" selama ini, guna disadarkan
bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur seluk beluk pencatatan, baik
saat kelahiran, perkawinan, kematian dan status hukum seseorang adalah usang yang
justru rawan terhadap disintegrasi bangsa. Kalau ditelusuri sebab-sebabnya, tentunya
kembali kepada kesadaran para penyelenggara negara itu sendiri yang mungkin tidak
memiliki kepekaan dan tenggalam dalam rutinitasnya sehari-hari.
Oleh karenanya dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakatnya perlu
diupayakan segera pembaharuan hukum , khususnya dalam hal perlindungan hak
melalui penerbitan akta perkawinan dan perceraian, disamping untuk kelahiran,
pengangkatan anak dan status anak. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan berupa :
1.

Menciptakan pembaharuan hukum yang sesuai dengan jiwa UUD 1945 yang

menjamin hak-hak warga negaranya, sebagai pengganti peraturan perundangundangan yang telah usang.
2.

Melakukan kajian kritis terhadap seluruh pranata hukum produk kolonial dengan

mengeyamping ketentuan-ketentuan yang sudah tidak relevan.


3.

Melakukan penyusunan naskah akademis tentang pencatatan sipil yang

dilanjutka menyusun draf Rancangan Undang-undang baru.


4.

Mengakomodasi Yurisprudensi Mahkamah Agung yang telah memutuskan

terhadap perkawinan atas dasar beda agama dan perkawinan antar penganut Kong
Hucu, sebagai suatu ketentuan lex spesialis.
5.

Agar memperoleh dorongan masyarakat luas, perlu sosialisasi baik mengenai

permasalahannya salama ini dan bagaimana mengatasinya


12

6.

Mendesak Pemerintah agar bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat

memperhatikan masalah administrasi kependudukan guna mewujudkan peraturan


perundang-undangan yang sangat didambakan selama ini.
7.

Melakukan sosialisasi tentang pentingnya Catatan Sipil, agar setiap perkawinan

menjadi sah menurut hukum negara.


8.

Merevisi Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, khususnya

pasal 2 ayat 2 harus ditambah kalimat, "Tiap-tiap perkawinan sebagaimana dimaksud


ayat 1, wajib dicatatkan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku"
9.

Memasukkan amar putusan Mahkamah Agung ke dalam materi draf Rancangan

Undang-undang tentang Catatan Sipil yang memungkinkan dilangsungkannya


perkawinan dari pasangan yang berbeda agama atau antara pasangan yang menganut
Kong Hucu.

III.

LANDASAN HUKUM PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI

KEPENDUDUKAN

Pada hakekatnya bahwa upaya Tertib Dokumen Kependudukan atau Tertib


Administrasi Kependudukan, tidak sekedar pengawasan terhadap pengadaan
blangko-blangko yang dipersyaratkan dalam penerbitan dokumen, tapi hendaknya
harus tersistem, konkrit dan pragmatis.
Artinya mudah

difahami

oleh

penduduk dan diyakini

bermakna

secara

hukumberfungsi melindungi, mengakui/mengesahkan status kependudukan atau


peristiwa vital (vital event) yang dialami penduduk, sehingga dibutuhkan oleh
penduduk karena dapat memudahkan atau melancarkan urusannya dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan kata lain dokumen kependudukan memiliki insentif/benefit bagi
si pemegang dokumen atau penduduk
Upaya tersebut, merupakan tugas negara atau pemerintah sebagai pelayan publik,
dan menjadi urusan wajib. Untuk itu, faktor-faktor strategis yang harus ditata dan

13

disiapkan agar tugas tersebut berfungsi dan efektif, adalah melalui Aspek Landasan
Hukum
Penataan dan penyiapan dukungan peraturan perundang-undangan dalam pelayanan
dokumen kependudukan yang sarat bernilai hukum, adalah sangat fundamental,
karena terkait dengan existensi negara (NKRI) sebagaimana nilai-nilai yang
terkandung dalam konstitusi UUD 1945. Di samping juga hendaknya dapat
menjamin perlindungan serta rasa nyaman bagi penduduk untuk mendapatkan
kepastian hukum berdomisili di wilayah NKRI dalam mengakses hak-haknya baik
sebagai warga negara maupun sebagai penduduk Indonesia. Peraturan perundangundangan yang dibutuhkan, haruslah tidak diskriminatif, jelas (tidak multi
interpretatif), tidak saling bertentangan (hendaknya sinergis) dengan peraturan
perundang-undangan lain dalam pelayanan publik, sehingga dapat digunakan sebagai
instrumen pengendalian penduduk, serta dapat berfungsi mendorong terwujudnya
pelayanan

administrasi

kependudukan

yang

modern

dengan Good

Governance dan Clean Government.


Sebagai landasan hukum dalam penyelenggaraan Adminitrasi Kependdudukan
(Adminduk), telah disahkan :

UU No.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan

PP No.37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU No.23 Tahun 2006

Perpres Nomor 25 Tahun 2008 tentang persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran

Penduduk dan Catatan Sipil

Perpres Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan Kartu Tanda Penduduk

Berbasis Nomor Induk Kependudukan Nasional

Permendagri Nomor 28 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan

Pendaftaran Penduduk dan Catatan Sipil di daerah

BAB III
14

PENUTUP

I.

KESIMPULAN
Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan

penertiban dalam penertiban dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran


penduduk dan catatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan serta
pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan public dan pembangunan sector lain.

Administrasi Kependudukan diarahkan untuk memenuhi hak azasi setiap orang

di bidang administrasi kependudukan tanpa diskriminasi melalui pelayanan publik


yang profesional. Pendaftaran penduduk dilakukan dengan pencatatan biodata
penduduk, pencatatan atas pelaporan peristiwakependudukan dan pendataan
penduduk serta penerbitan dokumen kependudukan.

Landasan filosofis di bentuknya administrasi kependudukan, antara lain:

1.

perlindungan dan pengakuan terhadap penentuan status pribadi dan status

hukum atas setiap peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang dialami oleh
penduduk Indonesia yang berada di dalam dan diluar wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
2.

perlu dilakukan pengaturan tentang Administrasi Kependudukan.

3.

dukungan pelayanan yang professional dan peningkatan kesadaran penduduk,

termasuk warga Negara Indonesia yang berada di luar negeri.


4.

tuntutan pelayanan admnistrasi kependudukan yang tertib dan tidak

diskriminatif.

Landasan Hukum dalam penyelenggaraan Adminitrasi Kependdudukan

(Adminduk), telah disahkan :


1.

UU No.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan


15

2.

PP No.37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU No.23 Tahun 2006

3.

Perpres Nomor 25 Tahun 2008 tentang persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran

Penduduk dan Catatan Sipil


4.

Perpres Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan Kartu Tanda Penduduk

Berbasis Nomor Induk Kependudukan Nasional


5.

Permendagri Nomor 28 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan

Pendaftaran Penduduk dan Catatan Sipil di daerah

DAFTAR PUSTAKA

16

1.

Drs. H. Fatchur Rodji, M.SI dkk. 2010. Modul Perkuliahan Administrasi

Kependudukan. Jatinangor. IPDN


2.

UU No.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan

3.

PP No.37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU No.23 Tahun 2006

4.

Website Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta

5.

www.google.co.id

6.

www.wikipedia.com

7.

www.yahoo.com

17