Anda di halaman 1dari 15

CRITICAL REVIEW

BUKU FILSAFAT ILMU


BAB 1 8
KARYA JUJUN S. SURIASUMANTRI

Disusun Oleh :

1.

Rivaldo Noval P.S

( F1D016037 )

2.

Muhamad Alfaujiya

( F1D016044 )

3.

Elwyn Rida Dwiwanty

( F1D016051 )

4.

Della Dwi Adelita

( F1D016059 )

5.

Stifany Candra

( F1D016062 )

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


PURWOKERTO
Tahun Akademik 2016 / 2017

BAB I
KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT
I.

POKOK BAHASAN
Ilmu dan Filsafat
Pengetahuan sebenarnya sudah ada di dalam diri manusia itu sendiri
dimulai dari rasa ke ingin tahuan, pengetahuan itu bisa kita dapat kan.
Pengetahuan itu sangat bermanfaat untuk manusia dari manusia belum
mengetahui
pengetian

sesuatu
bagaimana

sampai
kita

mengetahuinya.

mengenal

dunia

Filsafat
ini

dan

memberikan
mengevaluasi

pengetahuan iu sendiri.
Apakah filsafat ?
Karakteristik berfikir filsafat ada tiga sifat yaitu :
a. Sifat menyeluruh yaitu seorang ilmuwan tidak puas mengenal ilmmu
hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Jadi ilmuwan mengenal
ilmu melihat dari sudut pandang lain, menilai dan mengembangakan
ilmu itu dari segi lain.
b. Sifat mendasar yaitu seorang yang berpikir filsafat selain tengadah
ke bintang-bintang juga membongkar tempat berpijak secara
fundamental.
c. Sifat spekulatif

yaitu

berspekulasi kepada pemikiran

yang

mendasar. Berpendapat atau berpikir dari yang paling dasar untuk


memberikan sebuah alasan.
Cabang-cabang filsafat
Pokok permasalahan yang di kaji filsafat mencakup 3 segi yakni apa yang
di sebut benar dan apa yang di sebut salah ( logika), mana yang dianggap
baik mana yang dianggap buruk (etika), serta yang termasuk indah dan apa
yang termasuk jelek (ekstetika).
Cabang-cabang filsafat di antaranya epistemologi,etika,estetika,metafisika,
politik, filsafat agama,filsafat ilmu,filsafat pendidikan,filsafat hukum,filsafat
sejarah,filsafat matematika.

Bidang telaah filsafat


Masalah-masalah yang ada itu di telaah melalui segi filsafat, ketika masalah
tersebut sudah terjawab masalah lain juga di selesaikan.
Filsafat ilmu
Filsafat ilmu menelaah ilmu pengetahuan,bagaimana kita mengetahui dan
memahami ilmu itu dengan cara apa objek yang di telaah, bagaimana cara
memahami ilmu itu, apa manfaat atau nilai dari ilmu itu sendiri.

BAB II
DASAR-DASAR PENGETAHUAN
I.

POKOK BAHASAN
Penalaran
Cara berpikir seseorang untuk menjawab sebuah masalah, penalaran juga
harus berdasarkan dengan logika dan analitik.
Logika
Pemahaman

berdasarkan

pemikiran

yang

valid

atau

fakta,

dan

menggunakan cara-cara tertentu untuk memahami pengetahuan tersebut.


Sumber pengetahuan
Pengetahuan di pahami melalui pada rasio yaitu penalaran kita untuk
memahami pengetahuan itu karena memahami ilmu tidak bisa dengan cara
instan tapi butuh pemikiran yang bernalar. Pengetahuan juga berdasarkan
pengalaman yang bisa mendukung pengetahaauan tersebut.
Kriteria kebenaran
a. Teori koherensi
Suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat
koheren dan koherensi dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya
yang di anggap benar. Maksudnya saling berkesinambungan.
b. Teori korespondensi
Materi

pengetahuan

yang

di

kandung

pernyataan

itu

berkorespondensi (berhubungan) dengam obyek yang di tuju oleh

pernyataan

tersebut.

Antara

objek

dan

pernyatan

saling

menyambung dan memberikan pemahaman untuk mudah di pahami.


c. Teori pragmatis
Kebenaran adalah suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah
pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.
Jadi teori pragmatis melihat dari kriteria atau kegunaannya untuk
kehidupan manusia.

BAB III
ONTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DIKAJI

I.

POKOK BAHASAN
Metafisika adalah bidang telaah filsafati yang merupakan dasar atau
landasan dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah.
Asumsi adalah anggapan berdasarkan pengetahuan yang ada dan
dikemukan oleh seseorang atau ahli.
Peluang merupakan suatu kemungkinan terhadap kejadian yang akan
terjadi, dan biasa disebut juga dengan ilmu probabilitas.
Batas-Batas Penjelajahan Ilmu adalah pengalaman manusia dan
pengetahuan yang secara empiris yang telah diuji kebenarannya.
Cabang-Cabang Ilmu. Terdapat dua cabang utama ilmu yaitu :
1. Filsafat alam yang kemudian menjadi ilmu alam (the natural science)
2. Filsafat moral yang kemudian menjadi ilmu sosial (the social science)

II. KRITISASI
Berdasarkan kajian yang diperoleh dari bahasan materi tersebut, terdapat
hal yang perlu dikritisi yaitu sifat asusmsi tidaklah mutlak, oleh karena itu
asusmi menjadi masalah yang penting dalam setiap bidang ilmu
pengetahuan. Ilmu memberikan pengetahuan sebagai dasar untuk
mengambil keputusan, dimana keputusan itu harus didasarkan pada
penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifat relative. Maka dari itu, asumsi

yang dibuat harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin
keilmuan. Selain itu, asumsi juga harus disimpulkan dari keadaan
sebagaimana adanya bukan bagaimana keadaan seharusnya. Seorang
ilmuwan harus benar-benar mengenal asumsi yang dipergunakan dalam
analisis keilmuannya, sebab mempergunakan asumsi yang berbeda berarti
berbeda pula konsep pemikiran yang dipergunakan.

BAB IV
EPISTEMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR

I.

POKOK BAHASAN
Pengetahuan pada dasarnya adalah segala hal yang kita ketahui tentang
suatu obyek tertentu, termasuk didalamnya adalah ilmu. Setiap jenis
pengetahuan mempunyai cirri-ciri spesifik yaitu mengenai apa (ontologi),
bagaimana (epistimologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut
disusun dan diciptakan didunia ini.
Metode Ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan
yang disebut ilmu menggunakan langkah-langkah yang disusun secara
sistematis sehingga dapat memberikan suatu kesimpulan yang jelas.
Struktur Pengetahuan Ilmiah:
1. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan
mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.
2. Hukum merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara
dua variabel atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat.
3. Prinsip dapat diartikan sebagai pernyataan yang berlaku secara
umum

bagi

sekelompok

gejala-gejala

tertentu

yang

mampu

menjelaskan kejadian yang terjadi didalam kehidupan atau di alam ini.


4. Postulat merupakan asumsi dasar yang kebenarannya dapat kita
terima tanpa perlu adanya pembuktian.

II. KRITISASI
Suatu pengetahuan bisa dikatakan pengetahuan ilmiah atau ilmu jika
pengetahuan tersebut telah diproses menggunakan metode ilmiah dan
telah

memenuhi

syarat-syarat

keilmuan.

Ilmu

adalah

sekumpulan

pengetahuan yang sistematis. Pengetahuan ilmiah memiliki beberapa


fungsi antara lain : menjelaskan, meramal, dan mengontrol. Oleh karena itu,
ilmu atau pengetahuan yang dimiliki manusia hendaknya menjadi suatu
dasar cara berpikir yang akan menghasilkan suatu standar hasil pemikiran,
pandangan hidup dan dengan secara terus menerus, belajar dari
pengalaman sesuai dengan pemikiran yang reflektif dan dinamis, demi
kesinambungan hidup, dan untuk generasi masa depan. Penggunaan ilmu
pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari harusnya memperhatikan
kaidah-kaidah moral sehingga ilmu pengetahuan yang ada tidak menjadi
ancaman bagi kehidupan manusia itu sendiri.

BAB V
SARANA BERPIKIR ILMIAH
I.

POKOK BAHASAN
Di dunia ini terdapat 2 makhluk hidup yang berbeda yaitu manusia dan
hewan. Yang membedakan manusia dengan hewan yaitu manusia
mempunyai kemampuan untuk mengambil jalan melingkar dalam mencapai
tujuannya. Kemampuan manusia ini bisa digunakan untuk melakukan
kegiatan ilmiah. Sarana ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan
ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Kemampuan berpikir
ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini
dengan baik pula. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan
baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan
statistika.

II. KRITISI
Dewasa ini manusia seringkali tidak menggunakan sarana berpikir
ilmiahnya, padahal yang membedakan manusia dengan hewan yaitu
manusia bisa berpikir ilmiah. Dan berpikir ilmiah ini sangat penting bagi
kehidupan manusia. Dan sarana berpikir ilmiah yang dapat digunakan yaitu
bahasa, matematika dan statistika.
1. Dengan adanya bahasa maka manusia hidup dalam dunia yakni dunia
pengalaman yang nyata dan dunia simbolik yang dinyatakan dengan
bahasa mempunyai peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam
hidup dan kehidupan manusia. Melalui bahasa, manusia dengan
manusia dapat saling menambah dan berbagi pengetahuan yang
dimilikinya. Manusia dapat mengkomunikasikan dan mentransformasikan
penalarannya melalui bahasa yang dimilikinya. Binatang tidak memiliki
bahasa seperti manusia, tetapi hanya insting saja. Dua faktor yang
menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuannya adalah
penalaran dan bahasa. Dalam praktiknya, penalaran dibentuk oleh tiga
pemikiran yaitu; pengertian/konsep, proposisi dan pernyataan. Tanpa
tiga bentuk pemikiran tersebut, manusia tidak mungkin memperoleh
penalaran yang benar. Contoh sederhana, mata melihat kambing dan
warna hitam pada kambing, secara bersamaan telinga mendengar suara
mengembik dari kambing tersebut. Ketika indera sedang mengamati
dan mendengar, di dalam otak langsung timbul gambaran imajinasi kata
kambing, hitam dan mengembik. Dalam otak, sedang berjalan
proses pengertian dan konsep. Setelah tahap ini tersusun dalam
imajinasi berfikir, lantas manusia menyerap dan mengucapkan sesuatu
sebagai pernyataan. Pernyataan yang terucap hasil proses pemikiran
tadi disebut penalaran.
2. Dalam hal ini kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang
berusaha untuk menghilangkan sifat mejemuk dan emosional dari
bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang

memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif


sementara dalam bahasa verbal, kita hanya bisa membandingkan objek
yang berlainan. Umpamanya gajah dan semut maka kita hanya bisa
mengatakan bahwa gajah itu lebih besar dari semut. Berbeda halnya
dengan matematika kita bisa menelusuri lebih jauh seberapa besar gajah
dengan mengadakan pengukuran. Matematika merupakan pengetahuan
dan sarana berpikir deduktif. Bahasa yang digunakan adalah bahasa
artificial yakni bahasa buatan, keistimewaan bahasa ini adalah terbebas
aspek emotif dan afektif serta jelas kelihatan bentuk hubungannya.
Matematika

lebih

mementingkan

bentuk

logisnya.

Pertanyaan-

pertanyaan mempunyai sifat yang jelas. Pola berpikir deduktif banyak


digunakan baik dalam bidang ilmiah maupun bidang lain yang
merupakan proses pengambilan kesimpulan yang di dasarkan pada
premis-premis yang kebenarnnya telah ditentukan, misalnya jika
diketahui A termasuk dalam lingkaran B sedangkan B tidak ada
hubungan dengan C maka A tidak ada hubungan dengan C.
3. Statatistika memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang
bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi
yang bersangkutan. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif
tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik. Statistika juga memberikan
kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan
kausalitas antara dua factor atau lebih bersifat kebetulan atau memang
benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris.
Statistika juga merupakan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk
menarik kesimpulan secara induktif berdasarkan peluang tersebut,
karena daasar teori statistika adalah teori peluang. Selain itu, pengujian
statistik mengharuskan kita menarik kesimpulan yang bersifat umum dari
kasus-kasus yang bersifat individual. Umpamanya jika kita ingin
mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di sebuah
tempat, maka nilai tinggi rata-rata yang dimaksud merupakan sebuah

kesimpulan umum yang ditarik dalam kasus-kasus anak umur 10 tahun


di tempat itu.
4. Perumpaan diatas bisa ditarik kesimpulannya berdasarkan logika
induktif. Penarikan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita
kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang harus
kita amati sampai kepada suatu kesimpulan yang bersifat umum. Jika
kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di
Indonesia, umpamanya, bagimana caranya kita mengumpulkan data
sampai pada kesimpulan tersebut.

BAB VI
AKSIOLOGI : NILAI KEGUNAAN ILMU
I.

POKOK BAHASAN
Mengulas aksiologi. Aksiologi berarti teori tentang nilai. Meliputi pertanyaan
pertanyaan seperti untuk apa ilmu pengetahuan itu digunakan,
bagaimana kaitannya antara cara penggunaannya dengan kaidah kaidah
moral, bagaimana menuntukan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan
pilihan moral dan profesional. Ilmu merupakan hasil karya perseorangan
yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Seorang
ilmuan memiliki tanggung jawab sosial, agar produk keilmuan yang
diciptakan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Ilmuan juga
harus menjadi contoh masyarakat dalam bersikap objektif, terbuka,
menerima kritik, kukuh dalam pendirian yang benar, serta berani mengakui
kesalahan.

II.

KRITISASI
Sebagai permulaan, saya ingin mengkritisi beberapa hal yang kaitannya
dengan aksiologi, yaitu :
1. Mengenai fungsi dari aksiologi itu sendiri, bahwa esensinya aksiologi
digunakan untuk menjaga dan memberi arah agar proses keilmuan
menemukan kebenaran yang hakiki, kemudian meningkatkan taraf

hidup yang memperhatikan kodrat dan martabat manusia. Namun,


yang perlu digaris bawahi disini bahwa pada kenyataanya sesuai
dengan apa yang disampaikan pada buku Filsafat Ilmu yang dibuat
oleh Jujun S. Suriasumantri, bahwa dengan ilmu dan teknologi yang
dikembangkan oleh manusia, malah membuat mansuia itu yang
akhirnya harus menyesuaikan diri dengan teknolgi, yang akibatnya
manusia harus membayar mahal karena kehilangan sebagian arti
dari

kemanusiannya.

Jadi,

ilmu

dan

teknolgi

bukan

saja

menimbulkan gejala dehumanisasi, bahkan kemungkinan mengubah


hakikat manusia itu sendiri, atau dengan perkataan lain ilmu dan
teknolgi

merupakan

sarana

yang

membantu

manusia

untuk

menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Dan fatalnya, ketika manusia


sudah memiliki niat untuk menggunakan ilmu dan teknolgi dalam
rangka menciptakan tujuan hidupnya, maka hal hal yang bersifat
humanisme akan dikesampingkan, dan itu akan menjauhkan fungsi
dari aksiologi itu sendiri. Sehingga ketika kita menghubungkan
antara fungsi aksiologi dengan sikap manusia saat ini, malah
berbanding terbalik dengan hakikat aksiologi.
2. Berkaitan dengan adanya sebuah penggolongan para ilmuan,
dimana golongan tersebut terbagi menjadi dua. Yaitu golongan
pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap
nilai nilai. Dalam hal ini ilmuan hanya bertugas untuk menemukan
pengetahuan

dan

mempergunakannya.

terserah

kepada

Kemudian

golongan

orang
kedua

lain

untuk

sebaliknya

berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai nilai hanyalah


terbatas

pada

metafisik

keilmuan.

Sedangkan

dalam

penggunaannya, kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas asas


moral. Berdasarkan pernyataan diatas saya lebih setuju dengan
golongan kedua, karena secara implisit golongan kedua berpendapat
bahwa ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia

tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat manusia.


Sedangkan untuk golongan pertama, saya kurang setuju, karena
pada golongan pertama dijelaskan bahwa penggunaan ilmu itu
sendiri terserah pada orang yang menggunakannya, sehingga dari
kebebasan penggunaan ilmu itu lah, yang bisa menyebabkan
ketidaksesuaian antara hakikat ilmu dengan implementasinya,
sebagai contoh pada saat perang dunia, manusia menggunakan
teknologi - teknologi keilmuan untuk menjatuhkan musuh. Berawal
dari situlah dengan kebebasan penggunaan ilmu malah disalah
gunakan oleh manusia itu sendiri.
3. Mengenai tanggungjawab moral seorang ilmuan. Saya setuju
dengan pendapat penulis bahwa seorang ilmuan harus mempunyai
tanggungjawab sosial, agar produk keilmuan yang diciptakan sampai
dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Ilmuan juga harus menjadi
contoh masyarakat dalam bersikap objektif, terbuka, menerima kritik,
kukuh dalam pendirian yang benar, serta berani mengakui
kesalahan. Asumsi saya, ketika seorang ilmuan menciptakan sebuah
teknologi yang ternyata disalah gunakan oleh masyarakat, sehingga
merusaka tatanan masyarakat, harusnya ilmuan itu berani mencabut
produknya dari masyarakat. Jadi, sehebat apapun teknologi bila tidak
mampu digunakan sebaik baiknya oleh manusia, akan percuma. Ilmu
tidak akan berjalan baik sesuai fungsi aslinya, yaitu mempermudah
hidup manusia, tetapi justru mempersulit.

BAB VII
ILMU DAN KEBUDAYAAN
I.

POKOK BAHASAN
Manusia dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan yang banyak sekali.
Adanya kebutuhan hidup inilah yang mendorong manusia untuk melakukan

berbagai tindakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut. Dan


kebudayaan disini dapat mencerminkan tanggapan manusia terhadap
kebutuhan dasar hidupnya. Dan dalam kenyataannya manusia ini
mempunyai budi atau akal yang menyebabkan manusia mengembangkan
suatu hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan
member penilaian terhadap obyek dan kejadian. Pilihan nilai inilah yang
menadi tujuan dan isi kebudayaan.
II. KRITISI
1. Kebudayaan juga diharapkan dengan pendidikan yang akan
mengembangkan dan membangkitkan budaya-budaya dulu, agar dia
tidak punah dan terjaga untuk selamanya. Oleh karena itu, dengan
adanya filsafat, kita dapat mengetahui tentang hasil karya manusia
yang akan menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan
utama dalam melindungi manusia terhadal alam lingkungannya.
Berkaitan

dengan

mengembangkan

pendidikan,
suatu

pentingnya

pendidikan

dalam

kebudayaan
budaya

untuk

nasional

mengupayakan, melestarikan dan mengembangkan nilai budayabudaya dan pranata sosial dalam menunjang proses pengembangan
dan pembangunan nasional serta melestarikan nilai-nilai luruh
budaya bangsa. Merencanakan kegairahan masyarakat untuk
menumbuhkan kreaktivitas ke arah pembaharuan dalam usaha
pendidikan yang tanpa kepribadian bangsa. Dalam pengembangan
kebudayaan nasional nilai kritis, rasional, logis, objektif, terbuka,
menjunjung kebenaran dan mengabdi secara nasional sangat
diperlukan.

Dalam

menghadapi

dunia

modern

sekarang

ini

diperlukan cara-cara yang terkandung dalam nilai-nilai ilmiah.


Pengembangan

kebuyaan

nasional

pada

hakikatnya

adalah

perubahan dari kebudayaan yang sekarang bersifat konvensional ke


arah situasi kebudayaan yang lebih mencerminkan aspirasi tujuan
nasional.

2. Dalam ilmu ini terdapat dua pola kebudayaan. Dua pola kebudayaan
dan ilmu yang begulir di Indonesia, adalah ilmu-ilmu alam dan ilmuilmu sosial. Kenapa hal ini terjadi,ini terjadi karena besarnya
perbedaan antara ilmu sosial dan ilmu alam. Contohnya, jika kita
belajar ilmu alam dengan subjek batu,kira-kira saat lain di teliti lagi
maka kemungkinan besar akan berhasil dengan nilai yang
sama,tetapi tidak demikin dalam ilmu sosial,dalam ilmu sosial,ilmu
sosial bergerak lebih fleksibel dan dapt berubah swaktu-waktu.
Namun kedua hal itu bukan merupakan masalah,kedua hal itu tidak
mengubah apa yang menjadai tujuan penelitian ilmiah. Ilmu bukan
bermaksud mengumpulkan fakta tapi untuk mencari penjelasa dari
gejala-gejala

yang

ada,yang

memungkinkan

kita

mengetahui

kebenaran hakikat objek yang kita hadapi. Ada dua faktor yang
menjadi landasan suatu analisis kuantitatif ilmu sosial yaitu: sulitnya
melakukan pengukuran,karena emosi dan aspirasi merupakan
unsure yang sulit dan yang kedua banyaknya variable yang
mempengaruhi tingkah laku manusia.

BAB VIII
ILMU DAN BAHASA
I.

POKOK BAHASAN
Tentang terminologi : Ilmu, Ilmu Pengetahuan dan Sains?
Terminologi merupakan ilmu mengenai definisi istilah dan penggunaannya.
Kajian terminologi mencakup pembentukkannya serta kaitan istilah dengan
suatu kebudayaan.
Pengolahan kata sangat dibutuhkan untuk seseorang memahami kata atau
penggalan kalimat tertentu. Betapa pentingnya mengelola kata dan frasa
istilah sebelum anda menerjemahkan guna memahami dan menjelaskan
mengenai suatu hal dengan baik. Sehingga, tidak akan terjadi masalah

konsistensi pada terjemahan kata atau frasa tertentu, serta proses


penerjemahan

menjadi

menggunakan

terminologi

lancar

sebagaimana

sebagai

acuan

diharapkan.

untuk

Dengan

menjawab

setiap

pertanyaan dengan melakukan berbagai cara. Cara memperoleh sebuah


kajian yang akan dianalisis suatu keberadaannya benar dan dapat diakui.
Membahas tentang terminologi antara knowledge dan science masalahnya
adalah apa perbedaan antara knowledge dengan science. Seperti yang kita
ketahui knowledge atau ketahuan adalah segala informasi yang diketahui
oleh seseorang mengenai suatu hal, sedangakan science atau ilmu
pengetahuan adalah sejumlah pengetahuan yang teratur yang dapat
dibuktikan melalui penyelidikan ilmiah, suatu metode studi yang dipakai
untuk

memperoleh

sejumlah

pengetahuan

yang

dapat

dibuktikan

kebenarannya.
Quo Vadis?
Apa itu quo vadis? Quo vadis merupakan sebuah kalimat dalam bahasa
latin yang berarti kemana engkau pergi. Yang dimaksudkan disini adalah
perkembangan terminologi bahasa tersebut mau dibawa kemana, dengan
kata kunci kemana membuat beberapa lembaga tertentu mengadakan
konperensi untuk membahas hal ini akan dibawa kemana terminologi
bahasa tersebut dengan dilakukan konperensi maka timbul pendapat
pendapat

yang

menghasilkan

terjadinya

perubahan

untuk

menyempurnakan terminologi bahasa tersebut.


Ilmu adalah sinonim dengan knowledge dan pengetahuan dengan science.
Dengan

demikian

seyogyanya

kita

mempergunakan

terminologi

pengetahuan dan bukan ilmu.


Politik Bahasa Nasional
Bahasa

pada

hakikatnya

mempunyai

dua

fungsi

utama

yakni

pertama,sebagai sarana komunikasi antar manusia dan kedua sebagai


sarana

budaya

yang

mempersatukan

kelompok

manusia

yang

mempergunakan bahasa tersebut. Fungsi yang pertama dapat kita

sebutkan sebagai fungsi komunikatif dan fungsi kedua sebagai kohesif atau
integratif. Pengembangan suatu bahasa haruslah memperhatikan kedua
fungsi ini agar terjadi keseimbangan yang saling menunjang dalam
pertumbuhannya.
Selaku fungsi komunikasi pada pokoknya bahasa mencakup 3 unsur yakni :
(1) bahasa selaku alat komukasi untuk menyampaikan pesan yang
berkonotasi

perasaan

(emotif),

(2)

berkonotasi

sikap

(afektif),

(3)

berkonotasi pikiran (penalaran). Selaku fungsi kohesif dari bahasa


indonesia yang merupakan milik yang sangat berharga dalam berbangsa
dan bernegara tetap harus terpelihara dan kalau mungkin dapat
ditingkatkan lagi untuk itu,maka pembentukkan kata-kata baru yang berasal
dari bahasa daerah harus diarahkan kepada pengembangan bahsa
indonesia sebagai milik nasional dalam artian yang sedalam dalamnya.

DAFTAR PUSTAKA
S. Suriasumantri, Jujun. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 2009.
Sumarna, Cecep. filsafat ilmu. bandung. CV. Mulia Press. 2008
http://www.probahasa.com/id/layanan/manajemen-terminologi.html
https://www.academia.edu/11283685/Ontologi_Hakikat_Apa_yang_Dikaji_maka
lahq
https://id.wikipedia.org/wiki/Statistika