Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH (REMOTE SENSING)

DISUSUN OLEH :

NAMA

: MELIANI ISMAYANTI SILALAHI

NIM

: DBD 114 074

MATA KULIAH

: TEKNOLOGI EKSPLORASI BATUBARA

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
TAHUN 2016

A. DEFENISI PENGINDERAAN JAUH (REMOTE SENSING)


Penginderaan jauh adalah ilmu dan teknik untuk memperoleh informasi
tentang suatu obyek , daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer,
1979 ). Sedangkan Sutanto , 1986 mengatakan penafsiran citra pemginderaan
jauh berupa penegnalan obyek dan elemen yang tergambar pada citra
penginderaan jauh serta penyajiaanya ke dalam bentuk peta tematik.
Penginderaan jauh (remote sensing) sering disingkat dengan inderaja, yaitu
ilmu untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena
melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung
dengan objek, daerah atau fenomena yang akan di kaji atau yang akan di
artikan (Lillesand dan Kiefer, 1994). Sedangkan citra (data inderaja)
merupakan gambaran objek yang ada di bumi dengan ujud dan letak objek
yang mirip dengan ujud dan letak permukaan bumi. Interperetasi citra
(menurut sutanto, 1986)adalah merupakan perbuatan mengkaji citra dengan
maksud untuk mengidentifikasi objek yang tergambar dalam citra dan menilai
arti pentingnya objek yang dimaksud. Dalam menginterpretasi citra banyak
istilah-istilah yang harus di ketahui sebelum melakukan interpretasi
diantaranya yaitu Posisi Geografis yang dapat dinyatakan dalam sistem
koordinat lintang dan bujur, Atribut yaitu dapat menjelaskan informasi seperti
Hutan, Kota, gedung, sungai dll.
Penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh, menemutunjukkan
(mengidentifikasi) dan menganalisis objek dengan sensor pada posisi
pengamatan daerah kajian (Avery, 1985).
Penginderaan jauh merupakan teknik yang dikembangkan untuk memperoleh
dan menganalisis informasi tentang bumi. Informasi itu berbentuk radiasi
elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi
(Lindgren, 1985).

B. KOMPONEN PENGINDERAAN JAUH

1. SUMBER TENAGA
Gambaran objek permukaan bumi merupakan hasil interaksi antara tenaga dan
objek yang direkam. Tenaga yang dimaksud adalah radiasi matahari, tetapi
jika perekaman tersebut dilakukan pada malam hari dibuat tenaga buatan yang
dikenal sebagai tenaga pulsa.
Penginderaan jauh yang menggunakan tenaga buatan disebut sistem aktif. Hal
ini didasarkan karena pada saat perekaman pada malam hari diperlukan
bantuan tenaga. Proses perekaman objek tersebut melalui pancaran tenaga
buatan yang disebut tenaga pulsa berkecepatan tinggi, karena pada saat
pesawat bergerak tenaga pulsa yang dipantulkan oleh objek direkam. Oleh
karena tenaga pulsa memantul, pantulan yang tegak lurus memantulkan tenaga
yang banyak, sehingga rona yang terbentuk akan berwarna gelap. Sementara
tenaga pantulan pulsa radar relatif kecil, sehingga rona yang terbentuk akan
cerah. Sensor yang tegak lurus dengan objek (membentuk objek gelap) disebut
near range, sedangkan yang membentuk sudut jauh dari pusat perekaman
disebut far range.
Sumber tenaga yang digunakan dalam penginderaan jauh yaitu matahari,
sebagai sumber utama tenaga elektromagnetik alami yang digunakan pada

teknik pengambilan data objek. Penginderaan jauh dengan memanfaatkan


tenaga alamiah disebut penginderaan jauh sistem pasif. Radiasi matahari yang
terpancar ke segala arah, terurai menjadi berbagai panjang gelombang ():
mulai dari panjang gelombang dengan unit terkecil (pikometer) sampai dengan
unit terbesar (kilometer).
Tenaga ini mengenai objek di permukaan bumi, kemudian dipantulkan ke
sensor. Ia juga dapat berupa tenaga dari objek yang dipancarkan ke sensor.
Jumlah tenaga matahari yang mencapaui bumi (radiasi) dipengaruhi oleh
waktu (jam, musim), lokasi dan kondisi cuaca. Jumlah tenaga yang diterima
pada siang hari lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah uang diterima
pada pagi atau sore hari. Kedudukan matahari terhadap tempat di bumi
berubah sesuai dengan perubahan musim
Pengumpulan data dalam penginderaan jauh dilakukan dari jarak jauh dengan
menggunakan sensor buatan. Untuk itu, diperlukan tenaga penghubung yang
membawa data tentang objek ke sensor. Data tersebut dikumpulkan dan
direkam dengan 3 (tiga) cara, dengan variasi sebagai berikut:
a. Distribusi daya (force)
Contoh, gravitometer mengumpulkan data yang berkaitan dengan gaya tarik bumi.
b. Distribusi gelombang bunyi
Contoh, sonar digunakan untuk mengumpulkan data gelombang suara dalam air.
c. Distribusi gelombang elektromagnetik
Contoh, kamera untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan pantulan sinar.

2. ATMOSFER

Atmosfer bersifat selektif terhadap panjang gelombang sehingga hanya sebagaian


kecil tenaga elektromagnetik dari radiasi sinar matahari yang dapat mencapai permukaan
bumi dan dimanfaatkan untuk penginderaan jauh. Bagian spektrum elektromagnetik yang
mampu melalui atmosfer dan dapat mencapai permukaan bumi disebut jendela atmosfer
(atmospheric window). gelombang elektromagnetik mengalami hambatan oleh atmosfer
bumi. Hambatan ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya seperti debu, gas
karbondioksida, uap air, dan ozon. Hamburan atmosfer adalah penyebaran arah radiasi
sinar matahari oleh partikel-partikel di atmosfer. Ada 3 macam hamburan yang terjadi
pada spektrum diantara nya sebagai berikut :

a. Hamburan Rayleight, terjadi apabila radiasi matahari berinteraksi dengan molekul dan
partikel kecil atmosfer, yaitu 0,1 panjang gelombang. panjang gelombang sinar biru
menyebabkan langit berwarna biru. jika tidak ada hamburan, langit akan berwarna hitam.
Hamburan tersebut akan menyebabkan adanya kabut tipis yang mengganggu pemotretan
dari tempat tinggi. Akan tetapi, kabut ini dapat dikurangi atau dihilangkan dengan
memasang filter spektrum hamburan di depan lensa kamera jika pemotretan dilakukan
pada ketinggian 15.000 kaki - 30.000 kaki.
b. Hamburan Mie, terjadi apabila kandungan atmosfer sama dengan panjang gelombang
atau memiliki diameter 0,1-25 panjang gelombang. Hambatan ini terjadi pada ketinggian
15.000 kaki. Penyebab utama terjadinya hambatan ini adalah uap air atau debu.

c. Hambatan nonselektif, terjadi apabila gatis tengah partikel di atmosfer lebih panjang
dari panjang gelombang yang diindera. misalnya air hujan dapat menyebabkan hamburan
ini.Selain ada hamburan ada juga yang disebut dengan serapan oleh atmosfer, yaitu
merupakan gangguan terhadap tenaga elektromagnetik. serapan merupakan kendala
utama bagi spektrum inframerah. penyebabnya adalah uap air, karbondioksida, dan ozon.

3. INTERAKSI TENAGA DENGAN OBJEK

Objek adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran dalam penginderaan jauh seperti
atmosfer, biosfer, hidrosfer, dan litosfer. Interaksi antara tenaga atau radiasi dengan objek
yang terdapat di permukaan bumi dapat dikelompokkan menjadi 3 bentuk, yaitu sebagai
berikut :

a. Absorption (A), yaitu proses diserapnya tenaga oleh objek


b. Transmission (T), yaitu proses diteruskannya tenaga oleh objek
c. Reflection (R), yaitu proses dipantulkannya tenaga oleh objek

Interaksi antara tenaga atau energi dengan objek-objek di permukaan bumi akan
menghasilkan pancaran sinyal dan pantulan yang bersifat sangat selektif. jika
karakteristik objek di permukaan bumi bertekstur halus, permukaan objek akan bersifat
seperti cermin sehingga hampir semua energi dipantulkan dengan arah yang sama atau
disebut specular reflection. Adapun jika permukaan objek memiliki tekstur kasar, maka
hampir semua tenaga dipantulkan ke berbagai arah atau disebut difuse reflection.

4. SENSOR DAN WAHANA

a. Sensor
sensor adalah alat yang digunakan untuk melacak, mendeteksi, dan merekam suatu objek
dalam daerah jangkauan tertentu. Tiap sensor memiliki kepekaan tersendiri terhadap
bagian spektrum elektromagnetik. Kemampuan sensor untuk merekam gambar terkecil
disebut resolusi spasial. semakin kecil objekyang dapat direkam oleh sensor, semakin
baik kualitas sensor itu.
Ada dua macam sensor dalam sistem penginderaan jauh, yaitu :
a) Sensor aktif adalah sensor yang dilengkapi dengan alat pemancar dan alat penerima
pantulan gelombang
b) Sensor pasif adalah sensor yang hanya dilengkapi dengan alat penerima pantulan
gelombang
Berdasarkan proses perekamannya, sensor dapat dibedakan atas 2 macam, yaitu :
a) Sensor fotografik
Proses perekaman ini berlangsung secara kimiawi. tenaga elektromagnetik diterima
dan direkam pada emulsi film yang apabila diproses akan menghasilkan foto. apabila
pemotretan dilakukan dari pesawat udara atau balon udara, fotonya disebut foto udara.
Apabila pemotretan dilakukan dari antariksa, fotonya disebut foto orbital atau foto
satelit.

b) Sensor elektronik
Sensor ini menggunakan tenaga elektrik dalam bentuk sinyal elektrik. alat penerima
dan perekamannya berupa pita magnetik atau detektor lainnya. sinyal elektrik yang
direkam pada pita magnetik ini kemudian di proses menjadi data visual maupun data
digital yang siap dikomputerkan. Pemrosesan agar menjadi citra dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu :

dengan memotret data yang direkam menggunakan pita megnetik yang


diwujugkan secara visual pada layar monitor.

dengan memotret data menggunakan film perekam khusus. hasilnya berupa foto
dengan film sebagai alat perekamnya, tapi film disini hanya berfungsi sebagai
alat perekam saja, sehingga hasilnya disebut citra penginderaan jauh

b. Wahana
Kendaraan yang membawa alat pemantau dinamakan wahana. Berdasarkan ketinggian
peredaran atau tempat pemantauannya, wahana di angkasa dapat dikasifikasikan menjadi
3 kelompok :

Pesawat terbang rendah sampai medium (low to medium altitude aircraft),


dengan ketinggian antara 1000 meter sampai 9000 meter dari permukaan bumi.
Citra yang dihasilkan iala citra fotografik (Foto udara)

Pesawat terbang tinggi (High altitude aircraft), dengan ketinggian sekitar 18.000
meter dari permukaan bumi. citra yang dihasilkan yaitu foto udara dan
multispectral scanners data.

Satelit, dengan ketinggian antara 400 km sampai 900 km dari permukaan bumi.
Citra yang dihasilkan ialah citra satelit.

5. PEROLEHAN DATA

Perolehan data dapat dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan interpretasi
secara visual. dapat pula dengan cara numerik atau cara digital, yaitu dengan
menggunakan komputer. Foto udara pada umumnya di interpretasi secara manual,
sedangkan data hasil penginderaan jauh secara elektronik dapat diinterpretasikan secara
manual maupun digital atau numerik.

6. PENGGUNA DATA

Pengguna data (perorangan, kelompok, badan, atau pemerintah) merupakan


komponen paling penting dalam penginderaan jauh. Para penggunalah uang dapat
menentukan diterima atau tidaknya hasil penginderaan jauh tersebut. Data penginderaan
jauh dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Data penginderaan jauh yang memiliki
kerincian dan keandalan sangat dibutuhkan oleh pengguna data. Data yang dihasilkan
antara lain mencakup wilayah dan sumber daya alam suatu negara yang merupakan data
yang sangat penting untuk kepentingan orang banyak.

C. SISTEM PENGINDERAAN JAUH


Sistem penginderaan jauh dibagi menjadi dua yaitu citra fotografikgrafik dan
non fotografik yang memeberikan keluaran atau hasil yang disebut citra, yaitu
gambaran yang tampak suatu objek yang sedang diamati sebagai hasil liputan atau
rekaman oleh suatu alat pemantau. Citra dalam bahasa inggris dikenal dengan image
atau imagery. Menurut Hornby, citra adalah gambaran yang terekam oleh kamera
atau sensor lainnya. adapun menurut simonett, citra adalah gambar rekaman suatu
objek (biasanya berupa gambaran pada foto) yang didapat dengan cara optik,
elektroopik, optik-mekanik atau elektomagnetik.
Adapun sistem penginderaan jauh dibagi menjadi dua yaitu :
1. Citra fotografikgrafik
Citra fotografik adalah gambaran suatu objek yang dibuat dari pesawat udara, dengan
menggunakan kamera udara sebagai alat pemotret. hasilnya dikenal dengan istilah
foto udara. Citra fotografik dapat dibedakan menjadi beberapa aspek diantaranya
sebagai berikut.
a. Berdasarkan spektrum elektormagnetik yang digunakan dibagi menjadi :
a) Foto ultraviolet
Foto ultraviolet yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum
ultraviolet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer. Cirinya tidak
banyak informasi yang dapat disadap, tetapi untuk beberapa objek foto ini
mudah pengenalannya karena tingkat kontrasnya yang besar. Foto ini sangat
baik untuk mendeteksi tumpahan minyak dilaut,membedakan atap logam
yang tidak dicat, jaringan jalan aspal, dan daerah batuan kapur.

b) Foto ortokromatik
Foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari saluran biru
hingga hijau (0,4 - 0,56) mikrometer. cirinya banyak objek yang tampak
jelas. Foto ini bermanfaat untuk studi pantai karena filmnya peka terhadap
objek dibawah permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter. Foto
ini juga sangat baik untuk survei vegetasi karena daun hijau tergambar
dengan kontras

c) Foto pankromatik :Foto yang menggunakan seluruh spektrum tampak mata


mulai dari merah hingga ungu. kepekaan film hampir sama dengan kepekaan
mata manusia. ada umumnya, digunakan film sebagai negatif dan kertas
sebagai positifnya. wujudnya seperti pada foto, tetapi bersifat tembus cahaya.
Foto pankromatik dibedakan menjadi dua :
Foto pankromatik hitam putih.
Ciri-cirinya : Rona pada objek serupa dengan warna pada objek aslinya,
karena kepekaan film sama dengan kepekaan mata manusia, resolusi
spasialnya halus, stabilitas dimensional tinggi, foto pankromatik hitam putih
lebih lama dikembangkan sehingga orang telah terbiasa menggunakannya.
Foto pankromatik berwarna
Sifat-sifat foto ini hampir sama dengan foto pankromatik hitam putih. tetapi
pengenalan objek pada foto ini lebih mudah karena warna serupa dengan
warna asli objek yang direkam. Proses pembetukannya warna pada foto
udara ini melalui proses aditif, yaitu warna biru, hijau, dan merah, seperti
proses pembentukan warna pada televisi warna. Berbeda dengan aditif,
Proses substraktif dilakukan dengan memadukan warna kuning, cyan, dan
magenta.

d) Foto inframerah asli (true infrared photo)


Foto inframerah asli (true infrared photo) adalah foto yang dibuat dengan
menggunakan spektrum inframerah dekat hingga panjang gelombang 0,9 - 1,2
mikrometer yang dibuat secara khusus. Cirinya, dapat mencapai bagian dalam
daun, sehingga rona pada foto inframerah tidak ditentukan oleh warna daun tetapi
sifat jaringannya. Foto ini baik untuk mendeteksi berbagai jenis tanaman
termasuk tanaman yang sehat atau yang sakit.

e) Foto inframerah modifikasi


Foto inframerah modifikasi adalah foto yang dibuat dengan inframerah dekat dan
sebagian spektrum tampak pada saluran merah dan sebagian saluran hijau. dalam
foto ini, objek tidak segelap apabila kita menggunaka film inframerah
sebenarnya, sehingga dapat dibedakan dengan air.

Foto inframerah mempunyai beberapa keunggulan antara lain,

Mempunyai sifat pantulan khusus bagi vegetasi

Daya tembusnya yang besar terhadap kabut tipis

Daya serap yang besar terhadap air

Kelemahan Foto inframerah antara lain,


Adanya efek bayangan gelap karena saluran inframerah dekat tidak peka terhadap
sinar baur dan sinar yang dipolarisasikan.
Sifat tembusnya kecil terhadap air
Kecepatan yang rendah dalam pemotretan

b. Berdasarkan Arah Sumbu Kamera ke Permukaan Bumi


Berdasarkan arah sumbu kamera ke permukaan bumi citra fotografik dapat dibedakan
menjadi dua yaitu :
a) Foto vertikal atau foto tegak (orto photograph) yaitu foto yang dibuat dengan
sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.
b) Foto condong atau miring (oblique photograph) yaitu foto dibuat dengan sumbu
kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi. sudut ini
umumnya sebesar 10 derajat atau lebih besar, tetapi bila sudut condongnya masih
berkisar antara 1-4 derajat, foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai foto
vertikal. Foto condong dibedakan menjadi dua, sebagai berikut:

Foto agak condong (low oblique photograph) yaitu apabila pada foto tidak
tampak cakrawalanya.

Foto sanga condong (high oblique photograph) yaitu apabila cakrawala


tergambar pada foto

c. Berdasarkan jenis kamera yang digunakan

a) Foto tunggal, yaitu foto yang dibuat dengan kamera tunggal. tiap daerah
liputan foto hanya tergambar satu lembar foto
b) Foto jamak, yaitu beberapa foto yang dibuat pada saat yang sama dan
menggambarkan daerah liputan yang sama.
Foto jamak dibedakan menjadi dua macam :
Foto multispektral yaitu beberapa foto untuk daerah yang sama dengan
beberapa kamera atau satu kamera dengan beberapa lensa
Foto dengan kamera ganda yaitu pemotretan di suatu daerah dengan
menggunakan beberapa kamera dengan jenis film yang berbeda, misalnya
pankromatik dan inframerah

d. Berdasarkan warna yang digunakan

a) Foto berwarna semu (false color) atau foto inframerah berwarna. pada foto
ini warna objek tidak sama dengan warna foto. misal, pada foto suatu
vegetasi berwarna merah sedangkan warna aslinya adalah hijau.
b) Foto warna asli (true color) yaitu foto pankromatik berwarna. dalam foto
berwarna lebih mudah penggunaanya karena foto yang tergambar mirip
dengan objek aslinya.

e. Berdasarkan wahana yang digunakan


a) Foto udara, yaitu foto yang dibuat dari pesawat atau balon udara
b) Foto satelit atau foto orbital, yaitu foto yang dibuat dari satelit

f. Berdasarkan sudut liputan kamera


a) Sudut kecil (narrow angle), panjang fokus 304,8. sudut liputan <60, jenis
foto sudut kecil
b) Sudut normal (normal angle), panjang fokus 209,5. sudut liputan 60-70
derajat, jenis foto sudut normal atau sudut standar

c) Sudut lebar (wide angle) panjang fokus 152,4. sudut liputan 75-100 derajat,
jenis foto sudut lebar
d) Sudut sangat lebar (super wide angle) panjang fokus 88,8 sudut liputan >100
, jenis foto sudut sangat lebar

2. Citra Non Fotografik


Citra Non Foto adalah gambaran yang dihasilkan dengan menggunakan sensor
bukan kamera. citra non fotografik juga dapat dibedakan berdasarkan spektrum
elektromagnetik, sumber sensor, dan wahana yang digunakan.
a. Berdasarkan spektrum elektromagnetik

a) Citra inframerah termal, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum inframerah
termal
b) Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan
spektrum gelombang mikro.

D. INTERPRETASI CITRA
Menurut Este dan Simonett, interpretasi citra merupakan perbuatan
mengkaji foto udara atau citra dengan maksud untuk mengidentikasi
objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut. Adapun unsur-unsur
interpretasi pada citra atau foto udara terdiri atas sembilan macam, yaitu
sebagai berikut.

1. Rona dan Warna Rona (Tone), yaitu tingkat kegelapan atau kece- rahan
suatu objek pada citra.Adapun Warna (Colour), yaitu wujud yang tampak
pada mata dengan menggunakan spektrum tampak yang lebih sempit.
Misalnya, warna biru, hijau, merah, dan warna yang lainnya.

2. Tekstur (Texture) adalah frekuensi perubahan rona pada citra yang


dinyatakan dengan kasar, sedang, dan halus. Misalnya, hutan bertekstur
kasar, semak belukar bertekstur sedang, sedangkan sawah bertekstur halus.
3. Bentuk (Shape) adalah kongurasi atau kerangka gambar dari suatu
objek yang mudah dikenali. Misalnya, persegi empat teratur dapat
diidentikasi sebagai komplek perkantoran, sedangkan bentuk persegi
tidak teratur dapat diidentikasi sebagai kompleks permukiman penduduk.
Bentuk lainnya antara lain gedung sekolah pada umumnya berbentuk huruf
I, L, dan U atau persegi panjang.

4. Ukuran (Size) adalah ciri objek berupa jarak, luas, lereng, dan volume.
Ukuran objek pada citra dikalikan dengan skala menghasilkan jarak yang
sebenarnya.

5. Pola (Pattern) adalah susunan keruangan yang dapat menandai bahwa


suatu objek merupakan bentukan oleh manusia atau bentukan alamiah.
Misalnya, pola garis teratur merupakan pola jalan, sedangkan pola garis
yang berkelok-kelok merupakan sungai.

Permukiman transmigrasi dikenali dengan pola yang teratur, yaitu ukuran


rumah dan jaraknya seragam, serta selalu menghadap ke jalan. Kebun
karet, kebun kelapa, dan kebun kopi mudah dibedakan dengan hutan atau
vegetasi lainnya dengan polanya yang teratur, yaitu dari pola serta jarak
tanamnya.
Baca Juga : Penerapan Sistem Informasi Geografi dalam Kajian Geografi

6. Situs (Site) adalah letak suatu objek terhadap objek lain di sekitarnya.
Misalnya, permukiman pada umumnya memanjang pada pinggir pantai,
tanggul alam, atau sepanjang tepi jalan. Adapun persawahan banyak
terdapat di daerah dataran rendah dan berdekatan dengan aliran sungai.
Jadi, situs sawah berdekatan dengan situs sungai.

7. Bayangan (Shadow) adalah sifat yang menyembunyikan detail atau


objek yang berada di daerah gelap.

Bayangan juga dapat merupakan kunci pengenalan yang penting dari


beberapa objek yang justru dengan adanya bayangan menjadi lebih jelas.
Misalnya, lereng terjal tampak lebih jelas dengan adanya bayangan, begitu
juga cerobong asap dan menara, tampak lebih jelas dengan adanya
bayangan. Foto-foto yang sangat condong biasanya memperlihatkan
bayangan objek yang tergambar dengan jelas.

8. Asosiasi (Association) adalah keterkaitan antara objek yang satu dengan


objek yang lainnya. Misalnya, stasiun kereta api berasosiasi dengan jalan
kereta api. Adapun permukiman penduduk berasosiasi dengan jalan.

9. Konvergensi Bukti adalah bukti-bukti yang mengarah kepada


kebenaran, artinya semakin banyak unsur interpretasi yang digunakan
dalam menginterpretasi suatu citra maka semakin besar kemungkinan
kebenaran interpretasi yang dilakukan.

Tahapan-tahapan kegiatan dalam interpretasi citra, yaitu deteksi,


identikasi, dan analisis.

1. Deteksi adalah usaha penyadapan data secara global baik yang tampak
maupun yang tidak tampak. Di dalam deteksi ditentukan ada tidaknya
suatu objek. Misalnya, objek berupa savana.
2. Identikasi adalah kegiatan untuk mengenali objek yang tergambar pada
citra yang dapat dikenali berdasarkan ciri yang terekam oleh sensor
dengan alat stereoskop.

Ada tiga ciri utama yang dapat dikenali, yaitu sebagai berikut.

a. Ciri Spektral adalah ciri yang dihasilkan oleh interaksi antara tenaga
elektromagnetik dengan objek. Ciri spektral dinyatakan dengan rona dan
warna.
Adapun faktor yang mempengaruhi rona antara lain sebagai berikut.
1) Karakteristik objek (permukaan kasar atau halus).
2) Bahan yang digunakan (jenis lm yang digunakan).
3) Pemrosesan emulsi (diproses dengan hasil redup, setengah redup, dan
gelap).
4) Keadaan cuaca (cerah atau mendung).
5) Letak objek (pada lintang rendah atau tinggi).

b. Ciri Spasial adalah ciri yang terkait dengan ruang permukaan Bumi. Ciri
spasial dapat dikenali dengan menggunakan unsur- unsur interpretasi yang
meliputi rona, bentuk, pola, ukuran, bayangan, asosiasi, dan tekstur.

c. Ciri Temporal adalah ciri yang terkait dengan benda pada waktu
perekaman. Misalnya, rekaman sungai musim hujan tampak cerah,
sedangkan pada musim kemarau tampak gelap.

3. Analisis adalah kegiatan penelaahan dan penguraian data hasil


identikasi sehingga dapat dihasilkan dalam bentuk tabel, grak, atau peta
tematik.
Urutan kegiatan yang lebih rinci dalam interpretasi citra, yaitu sebagai
berikut:
a. Menguraikan atau memisahkan objek yang rona atau warnanya berbeda.
b. Ditarik garis batas atau deliniasi bagi objek yang rona dan warnanya
sama.
c. Setiap objek dikenali berdasarkan karakteristik spasial dan unsur
temporalnya.
d. Objek yang sudah dikenali diklasikasikan sesuai dengan tujuan
interpretasinya.
e. Digambarkan ke dalam peta kerja atau peta sementara.
f. Untuk menjaga ketelitian dan kebenarannya dilakukan pengecekan
medan (lapangan).
g. Interpretasi akhir adalah pengkajian atas pola atau susunan keruangan
(objek).
h. Dipergunakan sesuai tujuannya.

E. MANFAAT PENGINDERAAAN JAUH


1. Manfaat Penginderaan Jauh Secara Umum
Tujuan utama dari penginderaan jauh adalah untuk mengumpulkan data
sumber daya alam dan lingkungan.
Penginderaan jauh makin banyak dimanfaatkan karena berbagai macam
alasan sebagai berikut :
Citra dapat dibuat secara cepat meskipun pada daerah yang sulit
ditempuh melalui daratan, contohnya hutan, rawa dan pegunungan.
Citra menggambarkan obyek dipermukaan bumi dengan wujud dan letak
objek mirip dengan sebenarnya, gambar relatif lengkap, liputan daerah
yang luas dan sifat gambar yang permanen
Citra tertentu dapat memberikan gambar tiga dimensi jika dilihat dengan
menggunakan

stereoskop.

Gambar

tiga

dimensi

itu

sangat

menguntungkan karena menyajikan model obyek yang jelas, relief lebih


jelas, memungkinkan pengukuran beda tinggi, pengukuran lereng dan
pengukuran volume.

Citra dapat menggambarkan

benda yang tidak tampak sehingga

dimungkinkan pengenalan obyeknya. Sebagai contoh adalah terjadinya


kebocoran pipa bawah tanah.

Citra sebagai satu-satunya cara untuk pemetaan daerah bencana.

2. Manfaat Penginderaan Jauh pada bidang Pertambangan


Adapun manfaat penginderaan jauh dibidang pertambangan adalah:

Melakukan pemetaan permukaan, di samping pemotretan dengan pesawat


terbang dan menggunakan aplikasi GIS.

Menentukan struktur geologi dan macam batuan.

Melakukan pemantauan daerah bencana (kebakaran), pemantauan aktivitas


gunung berapi, aktivitas tektonik dan pemantauan persebaran debu
vulkanik.

Melakukan pemantauan distribusi sumber daya alam, seperti hutan (lokasi,


macam, kepadatan, dan perusakan), bahan tambang.

DAFTAR PUSTAKA
Somantri,Lili.2016.Makalah Guru.
https://www.file.upi.edu/Direktori/FPIP/JUR_PEND_GEOGRAFI/132314541.co
m Diakses pada tanggal 14 Oktober 2016, 13:00
Talago,Inyiak.2014.Penjelasan Interpretasi Citra dan Alat Penginderaan Jauh.
https://www.cpuik.com/2014/11/interpretasi-citra-alat-penginderaan-jauh.html
pada tanggal 15 Oktober 2016 ,16.00

Diakses

http://www.academia.edu/5218084/Tentang_pemetaan_dengan_penginderaan_jau
h

DAFTAR PUSTAKA
Somantri,Lili.2016.Teknologi Penginderaan Jauh(Remote Sensing)
https://www.academia.edu/9515113/Pemboran_Eksplorasi_Batubara.
Diakses
pada tanggal 8 oktober 2016, 17:00