Anda di halaman 1dari 14

PARTUS LAMA

Disusun Oleh :
MUSFIRAH HATTA
10542030211

BAGIAN ILMU OBSTETRIK DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
2016

PARTUS LAMA

A. Definisi
Persalinan lama, disebut juga distosia, didefinisikan sebagai persalinan yang
abnormal/sulit. Sementara itu, WHO secara lebih spesifik mendefinisikan
persalinan lama (prolonged labor/partus lama) sebagai proses persalinan yang
berlangsung lebih dari 24 jam. Waktu pemanjangan proses persalinan yang
dimaksud adalah penambahan antara kala I dan kala II persalinan. Dalam
penentuan batas waktu, terdapat variasi sebuah sumber yang menyatakan bahwa
batasan waktu dalam penentuan partus lama adalah 18 jam.
B. Insidensi
Berdasarkan penelitian di Rumah Sakit Park Land, Amerika Serikat, pada
tahun 2007, didapatkan bahwa hanya sekitar 50 persen ibu dengan janin
presentasi kepala yang mengalami partus spontan fisiologi. Lima puluh persen
lainnya, perlu mendapatkan intervensi untuk pelahiran. Baik intervensi
medismaupun intervensi bedah. Tingginya tingkat partus abnormal ini juga
menunjukkan tingginya tingkat persalinan lama. Persalinan lama yang kadang
juga disebut distosia, di Amerika Serikat distosia merupakan indikasi
dilakukannya Sectio caesarea emergensi pada 68% pasien yang menjalani
operasi seksio sesar primer.
C. Etiologi dan Faktor Resiko
Penyebab distosia, secara ringkas dapat dinyatakan sebagai kelainan yang
disebabkan oleh 3 faktor yang disebut 3 P, yaitu powers, passenger dan pelvis.
Powers mewakili kondisi gangguan kontraktilitas uterus, bisa saja kontraksi yang
kurang kuat atau kontraksi yang tak terkoordinasi dengan baik sehingga tidak
mampu menyebabkan pelebaran bukaan serviks. Dalam kelompok ini, juga
termasuk lemahnya dorongan volunter ibu saat kala II. Passengger mewakili

kondisi adanya kelainan dalam presentasi, posisi atau perkembangan janin.


Passage memaksudkan kelainan pada panggul ibu atau penyempitan pelvis.
Sebab-sebabnya persalinan lama dapat dibagi dalam 3 golongan :
a. Kelainan tenaga (kelainan his)
Jenis-jenis Kelainan His
1. Inersia Uteri
1) Inersia uteri primer (hypotonic uterine contraction)
- His bersifat biasa, fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih
dahulu daripada bagian-bagian lain, peranan fundus tetap
-

menonjol.
Kelainan terletak dalam hal kontraksi uterus lebih aman, singkat
dan jarang daripada biasa. Keadaan umum penderita biasanya

baik dan rasa nyeri tidak seberapa.


2) Inersia uteri sekunder
Apabila timbul setelah berlangsung his kuat untuk waktu yang
lama.
Diagnosis inersia uteri paling sulit ditegakkan pada masa laten.
Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri, tidak cukup untuk menjadi
dasar utama diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai. Oleh karena itu
diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi
perubahan pada serviks yakni pendataran dan/atau pembukaan.
2. His terlampau kuat
- Disebut juga hypertonic uterine contraction.
- His yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan
-

selesai dalam waktu yang sangat singkat.


Partus yang sudah selesai kurang dari 3 jam dinamakan partus
presipitatus yang ditandai oleh sifat his yang normal, tonus otot di
luar his juga biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his.Bahaya
partus presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada
jalan lahir, khususnya vagina dan perineum.Bayi bisa mengalami
perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami

tekanan kuat dalam waktu yang singkat.


3. Incoordinate uterine action

Terjadi perubahan dari sifat his dan peningkatan tonus otot uterus,
serta tidak adanya sinkronisasi kontraksinya bagian atas, tengah,
dan bawah sehingga menyebabkan his tidak efisien dalam

mengadakan pembukaan.
Peningkatan tonus otot uterus juga menyebabkan rasa nyeri yang
lebih keras dan lama bagi ibu yang dapat menyebabkan hipoksia

pada janin.
Kadang-kadang pada persalinan lama dengan ketuban yang sudah
pecah, kelainan his ini menyebabkan spasme sirkuler setempat,
sehingga terjadi penyempitan kavum uteri pada tempat tersebut. Hal

ini dinamakan lingkaran kontraksi atau konstriksi.


Lingkaran konstriksi ini tidak dapat diketahui dengan pemeriksaan
dalam, kecuali kalau pembukaan sudah lengkap sehingga tangan
dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri.

Penanganan
1. Pertahankan keadaan umum dan tanda vital terlebih dahulu pada segala
macam sebab apapun :
- Tekanan darah diukur tiap empat jam, pemeriksaan ini perlu
-

dilakukan lebih sering apabila terdapat gejala preeclampsia.


Denyut jantung janin dicatat setiap setengah jam dalam kala I dan

lebih sering dalam kala II.


Pantau keadaan karena dapat terjadi kemungkinan dehidrasi dan

asidosis.
2. Pemberian analgetik berupa petidin 50 mg yang dapat diulangi.
3. Pemeriksaan dalam perlu dilakukan meskipun dapat menimbulkan
bahaya infeksi.
4. Perlunya ditetapkan apakah persalinan benar-benar sudah dimulai
(serviks sudah terbuka minimal 3 cm) atau masih dalam tingkat false
labour, apakah terdapat inersia uteri atau incoordinate uterine action;
dan apakah terdapat disproporsi sefalopelvik. Utntuk menetapkan ada
tidaknya disproporsi sefalopelvik, jika perlu dilakukan pelvimetri
roentgenologik atau Magnetic Resonance Imaging (MRI).
1. Penanganan Inersia Uteri

Lakukan pemeriksaan keadaan serviks, presentasi serta posisi janin,

turunnya kepala janin dalam panggul, dan keadaan panggul.


Apabila terdapat disproporsi sefalopelvik, sebaiknya dilakukan
seksio sesarea. Apabila tidak ada disproporsi dapat diambil sikap

lain.
Keadaan umum diperbaiki, kandung kencing serta rectum

dikosongkan.
Apabila bokong kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam
panggul, penderita diperintahkan untuk berjalan-jalan, tindakan ini
bertujuan untuk memperkuat his. Pada waktu pemeriksaan dalam,
ketuban boleh dipecahkan, hal ini dilakukan karena dapat
merangsang his sehingga mempercepat jalannya persalinan. Namun
sesudah

dilakukan

pecah

ketuban,

persalinan

tidak

boleh

berlangsung lama.
Cara penanganan lainnya dapat dilakukan dengan oksitosin. 5
satuan oksitosin dimasukkan ke dalam larutan glukosa 5% dan
diberikan secara infuse intravena dengan kecepatan kira-kira 12
tetes per menit dan perlahan-lahan dapat dinaikkan sampai 50
tetes. Tujuan pemberian oksitosin adalah untuk memperbaiki his
sehingga serviks dapat membuka. Satu cirri khas oksitosin adalah
bahwa hasil pemberiannya tampak dalam waktu singkat. Oleh
karena itu pemberian oksitosin dianjurkan untuk tidak digunakan
berlarut-larut dan sebaiknya diberikan beberapa jam saja. Apabila
tidak ada kemajuan, pemberiannya dihentikan dan kemudian dicoba
lagi untuk beberapa jam. Apabila masih tidak ada kemajuan, lebih

baik dilakukan seksio sesarea.


Pada pemberian oksitosin, kekuatan dan kecepatan his serta
keadaan denyut jantung janin harus selalu diperhatikan. Apabila
kontraksi uterus berlangsung lebih dari 60 detik atau denyut jantung
janin menjadi cepat atau lambat, infuse harus diberhentikan.
Pemberian oksitosin berbahaya pada wanita dengan panggul sempit
dan pada adanya regangan segmen bawah uterus. Oksitosin juga

tidak boleh diberikan pada grande multipara dan kepada penderita


yang pernah mengalami seksio sesarea atau miomektomi, karena
memudahkan terjadinya rupture uteri.
2. Penanganan His Terlalu Kuat
Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat dilakukan karena
biasanya bayi sudah lahir tanpa ada yang menolong. Apabila ibu pernah
mengalami partus presipitatus sebelumnya, kemungkinan kejadian ini
akan berulang pada persalinan berikutnya. Oleh karena itu, sebaiknya
dilakukan rawat inap sebelum persalinan sehingga pengawasan dapat
dilakukan dengan baik.Pada persalinan keadaan diawasi dengan cermat,
dan episiotomy dilakukan pada waktu yang tepat untuk menghindari
terjadinya rupture perinea tingkat ke-3. Apabila his kuat dan terdapat
rintangan yang menghalangi jalan lahir, dapat timbul lingkaran retraksi
patologik, yang merupakan tanda bahaya terjadinya rupture uteri. Dalam
keadaan demikian janin harus dilahirkan dengan cara yang memberikan
trauma minimal bagi ibu dan anak.
3. Penanganan Incoordinate Uterine Action
Kelainan ini hanya dapat diobati secara simptomatis karena belum
ada pengobatan yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional antara
bagian-bagian uterus, yaitu dengan mengurangi tonus otot dan
mengurangi ketakutan penderita dengan pemberian analgetika, seperti
morfin dan petidin.Akan tetapi, persalinan tidak boleh berlangsung
berlarut-larut terlebih apabila ketuban telah pecah.Pada pembukaan
yang belum lengkap, perlu dipertimbangkan seksio sesarea.
b. Kelainan Kala Satu
1. Fase Laten Memanjang
Friedman mengembangkan konsep tiga tahap fungsional pada persalinan
untuk menjelaskan tujuan-tujuan fisiologis persalinan. Walaupun pada tahap
persiapan (preaptory division) hanya terjadi sedikit pembukaan serviks, cukup

banyak perubahan yang terjadi pada komponen jaringan ikat serviks. Tahap
pembukaan/dilatasi (dilatational division) adalah saat pembukaan paling cepat
berlangsung. Tahap panggul (pelvic division) berawal dari fase deselerasi
pembukaan serviks. Mekanisme klasik persalinan yang melibatkan gerakangerakan dasar janin pada presentasi kepala seperti masuknya janin ke panggul,
fleksi, putaran paksi dalam, ekstensi dan putaran paksi luar terutama berlangsung
dalam fase panggul. Namun dalam praktik, awitan tahap panggul jarang
diketahui dengan jelas.
Awitan persalinan laten didefinisikan sebagai saat ketika ibu mulai merasakan
kontraksi yang teratur.Selama fase ini, orientsi kontraksi uterus berlangsung
bersama pendataran dan pelunakan serviks. Kriteria minimum Friedman untuk
fase laten ke dalam fase aktif adalah kecepatan pembukaan serviks 1,2 jam bagi
nulipara dan 1,5 cm untuk ibu multipara. Kecepatan pembukaan serviks ini tidak
dimulai pada pembukaan tertentu. Friedman dan Sachtleben mendefinisikan fase
laten berkepanjangan sebagai apabila lama fase ini lebih dari 20 jam pada
nulipara dan 14 jam pada multipara.
Faktor-faktor yang mempengaruhi durasi fase laten antara lain adalah
anestesia regional atau sedasi yang berlebihan, keadaan serviks yang buruk
(misal: tebal, tidak mengalami pendataran atau tidak membuka) dan persalinan
palsu. Friedman mengklaim bahwa istirahat atau stimulasi oksitosin sama efektif
ndan amannya dalam dalam memperbaiki fase laten berkepanjangan. Istirahat
lebih disarankan karena persalinan palsu sering tidak disadari. Karena adanya
kemungkinan persalinan palsu tersebut, amniotomi tidak dianjurkan.
2. Fase Aktif Memanjang
Kemajuan peralinan pada ibu nulipara memiliki makna khusus karena
kurva-kurva memperlihatkan perubahan cepat dalam kecuraman pembukaan
serviks antara 3-4 cm. Dalam hal ini, fase aktif persalinan dari segi kecepatan
pembukaan serviks tertinggi. Secara konsistensi berawal dari saat pembukaan
serviks 3-4 cm atau lebih, diserati kontraksi uterus, dapat secara meyakinkan

digunakan sebagai batas awal persalinan aktif. Demikian pula kurva-kurva ini
memungkinkan para dokter mengajukan pertanyaan, karena awal persalinan
dapat secara meyakinkan didiagnosis secara pasti, berapa lama fase aktif
harus berlangsung.
Kecepatan pembukaan yang dianggap normal untuk persalinan pada
nulipara adalah 1,2cm/jam, maka kecepatan normal minimum adalh 1,5
cm/jam. Secara spesifik, ibu nulipara yang masuk ke fase aktif dengan
pembukaan 3 4 cm dapat diharapkan mencapai pembukaan 8 sampai 10 cm
dalam 3 sampai 4 jam. Pengamatan ini mungkin bermanfaat. Sokol dan rekan
melaporkan bahwa 25% persalinan nulipara dipersulit kelainan fase aktif,
sedangkan pada multigravida angkanya adalah 15%.
Memahami analasisi Friedman mengenai fase aktif bahwa kecepatan
penurunan janin diperhitungkan selain kecepatan pembukaan serviks, dan
keduanya berlangsung bersamaan. Penurunan dimulai pada saat tahap akhir
dilatasi aktif, dimulai pada pembukaan sekitar 7-8 cm. Friedman membagi
lagi

masalah

fase

aktif

(berkepanjangan/berlarut-larut)

dan

menjadi
arest

gangguan
(macet,

tak

protraction
maju).

Ia

mendefinisikan protraksi sebagai kecepatran pembukaan atau penurunan


yang lambat, yang untuk nulipara, adalah kecepatan pembukaan kurang dari
1,2 cm/jam atau penurunan kurang dari 1 cm per jam. Untuk multipara,
protraksi didefinisikan sebagai kecepatan pembukaan kurang dari 1,5 cm per
jam atau penurunan kurang dari 2 cm per jam. Sementar itu, ia
mendefinisikan arrest sebagai berhentinya secara total pembukaan atau
penurunan. Kemacetan pembukaan didefinisikan sebagai tidak adanya
perbahan serviks dalam 2 jam, dan kemacetan penurunan sebagai tidak
adanya penurunan janin dalam 1 jam. Prognosis kelainan berkepanjangan dan
macet ini cukup berbeda, dimana disproporsi sepalopelvik terdiagnosa pada
30% dari ibu dengan kelainan protraksi. Sedangkn disproporsi sefalopelfik
terdiagnosa pada 45% ibu dengan persalinan macet.
Ketertkaitan atau faktor lain yang berperan dalam persalinan yang
berkepanjangan dan macet adalah sedasi berlebihan, anestesi regional dan

malposisi janin. Pada persalinan yang berkepanjang dan macet, Friedman


menganjurkan pemeriksaan fetopelvik untuk mendiagnosis disproporsi
sefalopelvik. Terapi yang dianjurkan untuk persalinan yang berke3panjangan
adalah penatalaksanaan menunggu, sedangkan oksitosin dianjurkan untuk
persalinan yang macet tanpa disproporsi sefalopelvik.
Untuk membantu mempermudah diagnosa kedua kelainan ini, WHO
mengajukan penggunaan partograf dalam tatalksana persalinan. Dimana
berdasarkan partograf ini, partus lama dapat didagnosa bila pembukaan
serviks kurang dari 1cm/ jam selama minimal 4 jam. Sementara itu, American
College of Obstetrician and Gynecologists memiliki kriteria diagnosa yang
berbeda,. Kriteria diagnosa tersebut ditampilkan pada tabel 2.1 dibawah ini.
c. Kelainan Kala Dua
Kala Dua Memanjang
Tahap ini berawal saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir dengan
keluarnya janin. Median durasinya adalah 50 menit unutk nulipara dan 20 menit
untuk multipara. Pada ibu dengan paritas tinggi yang vagina dan perineumnya
sudah melebar, dua atau tiga kali usaha mengejan setelah pembukaan lengkap
mungkin cukup untuk mengeluarkan janin sebaliknya pada seorang ibu, dengan
panggul sempit atau janin besar, atau dengan kelainan gaya ekspulsif akibat

anestesia regional atau sedasi yang berat, maka kala dua dapat memanjang. Kala
II pada persalinan nulipara dibatasi 2 jam dan diperpanjang sampai 3 jam apabila
menggunakan anestesi regional. Untuk multipara 1 jam diperpanjang menjadi 2
jam pada penggunaan anestesia regional.
Kilpatrick dan Laros melaporkan bahwa rata-rata lama persalinan kala I dan
kala II adalah sekitar 9 jam pada pada nulipara tanpa analgesia regional, dan
bahwa batas atas percentil 95 adalah 18,5 jam. Waktu yang serupa untuk ibu
multipara adalah sekitar 6 jam dengan percentil 95 adalah 13,5 jam. Mereka
mendefinisikan awitan persalinan sebagai waktu saat ibu mengalami kontraksi
teratur yang nyeri setiap 3 sampai 5 menit menyebabkan pembukaan serviks.

Tatalaksana
Prinsip utama dalam penatalaksanaan pada pasien dengan persalinan lama adalah
mengetahui penyebab kondisi persalinan lama itu sendiri. Persalinan lama adalah
sebuah akibat dari suatu kondisi patologis. Pada akhirnya, setelah kondisi patologis
penyebab persalinan lama telah ditemukan, dapat ditentukan metode yang tepat dalam
mengakhiri persalinan. Apakah persalinan tetap dilakukan pervaginam, atau akan
dilakukan per abdominam melalui seksio sesarea.
Pada kondisi fase laten berkepanjangan, terapi yang dianjurkan adalah
menunggu. Hal ini dikarenakan persalinan semu sering kali didiagnosa sebagai fase
laten berkepanjangan. Kesalahan diagnosa ini dapat menyebabkan induksi atau
percepatan persalinan yang tidak perlu yang mungkin gagal. Dan belakangan dapat
menyebabkan seksio sesaria yang tidak perlu. Dianjurkan dilakukan observasi selama
8 jam. Bila his berhenti maka ibu dinyatakan mengalami persalinan semu, bila his
menjadi teratur dan bukaan serviks menjadi lebih dari 4 cm maka pasien dikatakan
berada dalam fase laten. Pada akhir masa observasi 8 jam ini, bila terjadi perubahan
dalam penipisan serviks atau pembukaan serviks, maka pecahkan ketuban dan
lakukan induksi persalinan dengan oksitosin. Bila ibu tidak memasuki fase aktif
setelah delapan jam infus oksitosin, maka disarankan agar janin dilahirkan secara
seksio sesarea.

Pada kondisi fase aktif memanjang, perlu dilakukan penentuan apakah kelainan
yang dialami pasien termasuk dalam kelompok protraction disorder (partus lama)
atau arrest disorder (partus tak maju). Bila termasuk dalam kelompok partus tak
maju, maka besar kemungkinan ada disproporsi sefalopelvik. Disarankan agar
dilakukan seksion sesarea. Bila yang terjadi adalah partus lama, maka dilakukan
penilaian kontraksi uterus. Bila kontraksi efisien (lebih dari 3 kali dalam 10 menit dan
lamanya lebih dari 40 detik), curigai kemungkinan adanya obstruksi, malposisi dan
malpresentasi. Bila kontraksi tidak efisien, maka penyebabnya kemungkinan adalah
kontraksi uterus yang tidak adekuat. Tatalaksana yang dianjurkan adalah induksi
persalinan dengan oksitosin.
Pada kondisi Kala II memanjang, perlu segera dilakukan upaya janin. Hal ini
dikarenakan upaya pengeluaran janin yang dilakukan oleh ibu dapat meningkatkan
risiko berkurangnya aliran darah ke plasenta. Yang pertama kali harus diyakini pada
kondisi kala II memanjang adalah tidak terjadi malpresentasi dan obstruksi jalan lahir.
Jika kedua hal tersebut tidak ada, maka dapat dilakukan percepatan persalinan dengan
oksitosin. Bila percepatan dengan oksitosin tidak mempengaruhi penurunan
janin, maka dilakukan upaya pelahiran janin. Jenis upaya pelahiran tersebut
tergantung pada posisi kepala janin. Bila kepala janin teraba tidak lebih dari 1/5
diatas simfisis pubis atau ujung penonjolan kepala janin berada di bawah station 0,
maka janin dapat dilahirkan dengan ekstraksi vakum atau dengan forseps. Bila kepala
janin teraba diantara 1/5 dan 3/5 diatas simfisi pubis atau ujung penonjolan tulang
kepala janin berada diantara station ) dan station -2, maka janin dilahirkan dengan
ekstraksi vakum dan simfisiotomi. Namun jika kepala janin teraba lebih dari 3/5
diatas simfisi pubis atau ujung penonjolan tulang kepala janin berada diatas station -2,
maka janin dilahirkan secara seksio sesaria.
Persalinan lama dapat menimbulkan konsekuensi, baik bagi ibu maupun bagi anak
yang dilahirkan. Adapun komplikasi yang dapat terjadi akibat persalinan lama antara
lain adalah:

Dampak Persalinan Lama pada Ibu-Janin


Infeksi Intrapartum
Infeksi adalah bahaya serius yang mengancam ibu dan janinnya pada partus lama,
terutama bila disertai pecahnya ketuban. Bakteri dalam cairan amnion menembus
amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia
dan sepsis pada ibu dan janin. Pneumonia pada janin, akibat as[irasi cairan amnion
yang terinfeksi adalah konsekuensi serius lainnya. Pemeriksaan serviks dengan jari
tangan akan memasukkan bakteri vagina ke dalam uterus. Pemeriksaan ini harus
dibatasi selama persalinan, terutama apabila terjadi persalinan lama.
Ruptura Uteri
Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama partus
lama, terutama pada ibu dengan paritas tinggi dan pada mereka dengan riwayat seksio
sesarea. Apabila disproporsi antara kepala janin dan panggul semakin besar sehingga
kepala tidak engaged dan tidak terjadi penurunan, segmen bawah uterus dapat
menjadi sangat teregang kemudian dapat menyebabkan ruptura. Pada kasus ini,
mungkin terbentuk cincin retraksi patologis yang dapat diraba sebagai sebuah krista
transversal atau oblik yang berjalan melintang di uterus antara simfisi dan umbilikus.
Apabila dijumpai keadaan ini, diindikasikan persalinan perabdominam segera.
Cincin Retraksi Patologis
Walaupun sangat jarang, dapat timbul konstriksi atau cincin lokal uterus pada
persalinan yang berkepanjangan. Tipe yang paling sering adalah cincin retraksi
patologis Bandl, yaitu pembentukan cincin retraksi normal yang berlebihan. Cincin
ini sering timbul akibat persalinan yang terhambat disertai peregangan dan penipisan
berlebihan segmen bawah uterus. Pada situasi semacam ini, cincin dapat terlihat jelas
sebagai suatu identasi abdomen dan menandakan akan rupturnya seegmen bawah
uterus. Pada keadaan ini, kadang-kadang dapat dilemaskan dengan anestesia umum

yang sesuai dan janin dilahirkan secara normal, tetapi kadang-kadang seksio sesarea
yang dilakukan dengan segera menghasilkan prognosis yang lebih baik.
Pembentukan Fistula
Apabila bagian terbawah janin menekan kuat pintu atas panggul, tetapi tidak maju
untuk jangka waktu yang cukup lama, jalan lahir yang terletak diantaranya dan
dninding panggul dapat mengalami tekanan yang berlebihan. Karena gangguan
sirkulasi, dapat terjadi nekrosis yang akan jelas dalam beberapa hari setelah
melahirkan dengan timbulnya fistula vesikovaginal, vesikorektal atau rektovaginal.
Umumnya nekrosis akibat penekanan ini pada persalinan kala dua yang
berkepanjangan. Dahulu pada saat tindakan operasi ditunda selama mungkin, penyulit
ini sering dijumpai, tetapi saat ini jarang , kecuali di negara-negara yang belum
berkembang.
Cedera Otot-otot Dasar Panggul
Suatu anggapan yang telah lama dipegang adalah bahwa cedera otot-otot dasar
panggul atau persarafan atau fasi penghubungnya merupakan konsekuensi yang tidak
terelakkan pada persalinan pervaginam, terutama apabila persalinannya sulit.saat
kelahiran bayi, dasar panggul mendapatkan tekanan langsung dari kepala janin dan
tekanan ke bawah akibat upaya mengejan ibu. Gaya-gaya ini meregangkan dan
melebarkan dar panggul, sehingga terjadi perubahan anatomik dan fungsional otot,
saraf dan jaringan ikat. Terdapat semakin besar kekhawatiran bahwa efek-efek pada
otot dasar panggul selama melahirkan ini akan menyebabkan inkontinensia urin dan
alvi serta prolaps organ panggul.
Kaput Suksedaneum
Apabila panggul sempit, sewaktu persalinan sering terjadi kaput suksedaneum yang
besar di bagian terbawah kepala janin. Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan
menyebabkan kesalahan diagnosis yang serius. Kaput dapat hempir mencapai dasar

panggul sementara kepala belum engaged. Dokter yang kurang berpengalaman dapat
melakukan upaya secara prematur dan tidak bijak untuk melakukan ekstraksi forceps.
Molase Kepala Janin
Akibat tekanan his yang kuat, lempeng-lempeng tulang tengkorak saling bertumpang
tindih satu sama lain di sutura-sutura besar, suatu proses yang disebut molase
(molding, moulage). Perubahan ini biasanya tidak menimbulkan kerugian yang nyata.
Namun, apabila distorsi yang terjadi mencolok, molase dapat menyebabkan robekan
tentorium, laserasi pembuluh darah janin dan perdarahan intrakranial pada janin.