Anda di halaman 1dari 9

Nama : Dinda Amelia Kusumastuti

NIM

: 166020301111016 / Akuntansi BC
Etika Akuntansi dalam Dialektika Kapitalisme Neoliberal dengan Spiritualitas Religius

Pendahuluan
Etika profesi akuntansi yaitu suatu ilmu yang membahas perilaku perbuatan baik dan
buruk manusia yang dapat dipahami oleh pikiran manusia terhadap pekerjaan yang
membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus sebagai
akuntan. Dalam era globalisasi, dunia usaha dan masyarakat telah menjadi semakin kompleks
sehingga menuntut adanya perkembangan berbagai disiplin ilmu termasuk akuntansi. Akuntansi
memegang peranan penting dalam ekonomi dan sosial, karena setiap pengambilan keputusan
yang bersifat keuangan harus berdasarkan informasi akuntansi. Keadaan ini menjadikan
akuntan sebagai suatu profesi yang sangat dibutuhkan keberadaannnya dalam dunia bisnis.
Dalam melaksanakan profesinya harus berdasarkan kode etik profesi akuntan.
Di dalam akuntansi juga memiliki etika yang harus dipatuhi oleh setiap anggotanya. Kode
etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan aturan bagi seluruh anggota,
baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, di lingkungan usaha, pada instansi pemerintah
maupun di lingkungan dunia pendidikan dalam pemenuhan tanggung jawab profesionalnya.
Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung jawabny dengan standar profesionalisme
tertinggi, mencapai tingkat kinerja kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik.
Dengan berkembangnya ekonomi modern saat ini dimana dunia bisnis dituntut untuk
melakukan persaingan bisnis yang kompetetif dalam perdagangan bebas. Kapitalisme selalu
berinteraksi secara aktif melalui gerak dialektika yang tidak dapat dihindarkan, gerak ini
memunculkan perkembangan teori ilmu pengetahuan yang sejalan dengan kapitalisme itu
sendiri. Kapitalisme secara pasti telah membawa perkembangan yang membawa perubahan
radikal dunia modern. Indonesia sekarang ini berada di pemikiran ekonomi kapitalis dimana
ekonomi kapitalis itu sebagian besar sarana produksi dan distribusi dimiliki oleh individu.
Pemilik modal bebas untuk menggunakan cara apa saja untuk meningkatkan keuntungan
maksimal, dengan mendayagunakan sumber produksi dan karyawannya. Sehingga modal
kapitalis seringkali diinvestasikan ke dalam berbagai usaha untuk menghasilkan laba.
Dengan adanya kondisi ekonomi sekarang ini akan mengakibatkan seorang akuntan
mengalami dilema etika yaitu berada pada dua posisi pilihan yang bertentangan. Dilema etika
tersebut diantaranya adalah jika seorang akuntan memenuhi tuntutan klien maka akan
melanggar standar pemeriksaan dan kode etik profesi akuntan. Tetapi jika tidak memenuhi
tuntutan klien maka dikhawatirkan akan berakibat pemberhentian penugasan oleh klien.
1

Kurangnya kesadaran etika profesi akuntan dan maraknya manipulasi laporan keuangan
membuat kepercayaan para pemakai informasi akuntansi mempertanyakan eksistensi profesi
akuntan. Dalam kode etik profesi akuntan dijelaskan bahwa setiap anggota harus
mempertahankan integritas dan objektivitas dalam melaksanakan tugasnya tentang kualitas
mutu atas jasa yang diberikan.
Dengan demikian perlu adanya kesadaran pada diri akuntan untuk beretika yang
berpegang teguh pada prinsip ajaran agama. Hal itu akan menghindari konflik yang dapat
merugikan diri sendiri dan merugikan bagi orang lain atau masyarakat. Sehingga terciptanya
keadilan pada masyarakat. Jika manusia itu sendiri menggunakan dorongan diri kearah
bagaimana memanusiakan manusia dan memposisikan dirinya sebagai makhluk ciptaaan
Tuhan yang paling sempurna, namun jika manusia mengikuti nafsu dan tidak berjalan seiring
fitrah, maka akan dapat balasan dari Tuhan. Karena dalam agama mengajarkan bahwa
manusia menjunjung etika untuk menciptakan kedamaian, kejujuran dan keadilan.
Pembahasan
Sejalan dengan pandangan tersebut bahwa akuntansi sebagai suatu ilmu maupun
prakteknya dibentuk melalui interaksi sosial yang sangat kompleks (Morgan 1988, Hines 1989
dan Francis 1993). Jika lingkungan yang membentuk akuntansi tersebut adalah lingkungan
kapitalisme, maka perkembangan akuntansi sebagai ilmu dan prakteknya akan mengikuti
kapitalisme juga. Dengan peristiwa yang ada memperjelas bahwa praktek akuntansi saat ini
kental dengan perilaku-perilaku yang tidak etis dan merugikan pihak lain. Mathews dan Parera
(1993; 15) mengatakan : Although the conventional views is that accounting is socially
constructed as a result of social, economic and political events, there are alternative
approaches vhich suggest that accounting may be socially constructing. Artinya bahwa
akuntansi diibaratkan sebagai pedang bermata dua, di satu sisi akuntansi dibentuk oleh
lingkungannya (socially constructed) dan disisi lainnya dapat membentuk lingkungannya
(socially constructing). Hal ini sekaligus memastikan bahwa akuntansi bukanlah suatu bentuk
ilmu pengetahuan dan praktek yang bebas dari nilai (value free), tetapi sebaliknya akuntansi
adalah disiplin ilmu pengetahuan dan praktek yang sarat dan kental dengan nilai.
Definisi Budaya
Kata budaya berasal dari bahasa sansekerta buddhayah. yang merupakan bentuk
jamak dari kata buddhi, yang berarti budi atau akal. Kebudayaan itu sendiri diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal. Istilah culture, yang merupakan istilah bahasa
asing yang sama artinya dengan kebudayaan, berasal dari kata colere yang artinya adalah
mengolah atau mengerjakan, yaitu dimaksudkan kepada keahlian mengolah dan mengerjakan
2

tanah atau bertani. Kata colere yang kemudian berubah menjadi ulture diartikan sebagai
segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Soekanto,
1996:188). Seorang Antropolog yang bernama E.B. Taylor (1871), memberikan defenisi
mengenai kebudayaan yaitu kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, lain kemampuan-kemampuan dan
kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Antropolog
ini menyatakan bahwa kebudayaan mencakup semua yang didapatkan dan dipelajari dari polapola perilaku normatif, artinya mencakup segala cara atau pola berpikir, merasakan dan
bertindak (Soekanto, 1996:189).
Pengaruh Budaya terhadap Praktek Akuntansi
Hofstede (1991) mendefinisikan budaya sebagai the collective programming of the mind
which distinguishes the members of one group or category of people, who share the same
social and cultural environment, from another. Secara umum, budaya termasuk kepercayaan,
nilai-nilai dan tradisi yang berlaku di suatu masyarakat tertentu pada masa tertentu. Seperti
agama, pendidikan, norma-norma, adat istiadat dan sejarah merupakan komponen-komponen
penting dari budaya suatu masyarakat. Dari sudut pandang kultural, Hofstede (1991)
menentukan empat karakteristik budaya, yaitu : symbols, heroes, rituals dan values.
Karakteristik yang keempat (values/nilai-nilai) merupakan hal yang paling sulit diubah.
Dikaitkan dengan perkembangan ekonomi budaya kapitalisme adalah budaya ekonomi
yang mengidentikkan manusia sebagai makhluk ekonomi, memikirkan dirinya sendiri dengan
tujuan pemenuhan hasrat pribadi dan kemakmuran. Sebetulnya budaya kapitalisme bertujuan
sebagai sarana untuk beragama. Budaya kapitalisme yang religius dalam ilmu ekonomi ini
dapat ditelusuri pada pemikiran Saint Thomas Aquinas (1225-1274) Max Weber (1905). Dalam
bukunnya Summa Teologica Saint Thomas Aquinas Seorang pendeta yang secara sistematis
mempresentasikan teologi, moral, sosiologi, dan prinsip ekonomi yang dipengaruhi pendekatan
Aristotelian, membahas doktrin ekonomi tentang doktrin pemikiran ekonomi yang menyangkut
kepemilikan pribadi, the just price, tentang distributive justice, dan larangan rente (usury) atau
improper gains. Thomas Aquinas mendukung kepemilikan pribadi dengan dasar pemikiran
bahwa hal tersebut sesuai dengan hukum alam menurut alasan kemanusiaan, untuk menfaat
kehidupan manusia. Dikatakan pula bahwa private production akibat pengakuan private
property memberikan stimulus yang lebih besar untuk aktivitas ekonomi dibandingkan dengan
produksi bersama.
Max Webber dalam The protestant Ethics and the Spirit of Capitalism, mendukung
gagasan, semangat, dan mentalitas kapitalisme yang bersumber dari ajaran agama. Bahwa
tujuan hidup adalah mendapatkan kemakmuran dan kekayaan yang digunakan untuk tugas
3

melayani Tuhan. Webber menekankan sikap memperhatikan kehidupan dengan berlaku hatihati, bijaksana, rajin, dan bersungguh-sungguh dalam mengelola bisnis. Segi utama dari
kapitalisme modern adalah memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya dikombinasikan
dengan menghindari secara ketat terhadap pemakaian untuk bermewah-mewah. Prinsip ini
mengungkapakan suatu tipe perasaan yang erat hubungannya dengan pemikiran keagamaan.
Selanjutnya Weber menunjukkan suatu masyarakat yang sudah diwarnai oleh sifat mental
kapitalis akan nampak pada kehidupan yang diarahkan pada alat produksi pribadi, perusahaan,
perusahaan bebas, penghematan uang, dan mekanisme persaingan dan rasionalisasi
pengelolaan bisnis.
Selanjutnya pada Islam, Ibn Khaldun telah menguraikan dengan detail mengenai aspekaspek kapitalisme yang religius. Karyanya yang monumental, Muqaddimah, atau The
prologema

atau

The

Introduction

dikerjakan

selama

empat

tahun

(1375-1379)

menggambarkan dengan jelas mengenai pemikiran-pemikirannya. Lingkup pemikirannya


meliputi teori nilai, hukum supply dan demand, produksi, distribusi dan konsumsi kekayaan,
uang dan modal, division of labor, capital formation dan pertumbuhan ekonomi, perdagangan
internasional, public finance, dan tanggung jawab ekonomi pemerintah. Rekomendasi
kebijakannya didasari oleh analisisnya atas apa yang terjadi dengan mendasarkan pada the
dictates of reason as well as ethics, menunjukkan pertimbangan positif sekaligus normatif. Ibn
Khaldun mengakui pentingnya institusi pengaturan dalam hal pembuatan kebijakan, pembuatan
keuangan publik dan penjaminan dipenuhinya kebutuhan masyarakat. Berarti tidak untuk
intervensi pasar dalam hal penentuan harga yang ditentukan supply dan demand. Karena,
God is the controller of the price. Dalam hal dorongan atau insentif tindakan, seperti telah
disebutkan diatas, tidak diragukan lagi bahwa Ibn Khaldun menekankan baik alasan rasional
maupun moral.
Karakteristik Sistem kapitalisme
Lima karakteristik sistem kapitalis menurut Pratama Rahardja (2001), diantaranya : (1)
Hak kepemilikan adalah individu, (2) Keuntungan menjadi tujuan utama mencapai kemakmuran
(3) Konsumerisme itu identik dengan hedonisme untuk mencapai kepuasan yang sebesar
besarnya (4) Kompetisim individu dituntut untuk berkompetisi dengan yang lainnya (5) Harga
diidentikkan dengan kelangkaan. Dengan lima karakteristik tersebut menunjukkan bahwa
ekonomi kapitalis memandang individu sebagai makhluk bebas sehingga, kepemilikan individu
dianggap hal yang sangat wajar.
Dampak Sistem Kapitalisme
4

Arief Budiman (1991) mengemukakan bahwa salah satu dampak budaya kapitalisme
global adalah diciptakannya manusia-manusia yang serakah dan materialistis, sesuai dengan
yang dibutuhkan oleh sistem kapitalisme. Akibatnya, melalui iklan dan berbagai bentuk promosi
lainnya manusia dibentuk menjadi berperilaku konsumeristis. Sikap serakah, materialistis, dan
konsumeristis inilah yang mendorong orang untuk bekerja sekeras-kerasnya, demi memenuhi
keinginannya yang tak kunjung terpuaskan. Kekayaan menjadi simbol status dalam sistem
kapitalis. Ukuran tidak lagi pada kualitas manusianya, melainkan pada jumlah atau kuantitas
harta yang dimiliikinya. Kejujuran tak lagi menjadi ukuran keluhuran perilaku. Akhirnya
kapitalisme bukan lagi sekadar sistem perekonomian belaka, tetapi sudah mencampuri nilainilai kehidupan dan menentukan arah tujuan hidup. Dampak kapitalisme lainnya secara lebih
luas menurut Prathama Rahardja (2001) diantaranya bahwa kapitalisme dapat memunculkan :
1. Persaingan bebas (free competition). Hal ini menyebabkan memburuknya distribusi
pendapatan di masyarakat, sehingga orang kaya akan semakin kaya dan sebaliknya orang
miskin akan makin miskin
2. Dalam kenyataanya ada saling mengorbankan antara ujuan efisiensi dengan keadilan.
Masyarakat kapitalis sangat mengagungkan efisiensi, sehingga tidak ada larangan bagi
pengusaha untuk meningkatkan efisiensinya, termasuk terus-menerus mengurangi tenaga
kerja dan menggantinya dengan peningkatan teknologi.
3. Prinsip mekanisme pasar dengan invisible handnya dapat menciptakan imperialisme baru
dalam bentuk perluasan kekuasaan ekonomi (merger, akuisisi dll)
Akuntansi dalam prakteknya
Akuntansi modern yang berkembang saat ini banyak menyerap dan dikembangkan oleh
masyarakat yang kental dengan nilai leberalisme dan kapitalisme yang tinggi. Dalam
masyarakat yang kapitalis hak milik mutlak berada pada seorang individu, dengan konsep ini
sebuah badan usaha didirikan, dimiliki oleh, dan digunakan untuk pemilik yang memiliki modal
(kapitalis). Kedudukan yang tinggi bagi seorang kapitalis ini akhirnya membentuk akuntansi
yang memihak pada kepentinggan kapitalis. Menurut Triyuwono (2006) secara implisit
kedudukan kapitalis yang sentral ini telah mengakibatkan: (1) bentuk akuntansi menjadi egois,
(2) bias materi, (3) tidak memperhatikan eksternalitas, (4) bias maskulin dan (5) berorientasi
pada informasi berbasis angka.
Budaya Kapitalisme dalam Kepemilikan Perusahaan
Dalam ilmu akuntansi, teori kepemilikan yang sering digunakan adalah Entity Theory. Ide
utama teori ini adalah memahami perusahaan sebagai entitas yang terpisah dari pemiliknya.
Dalam prakteknya teori ini mengakibatkan manajemen mengemban tugas untuk memperoleh
dan mengakumulasi kekayaan yang tanpa batas, entitas bisnis memiliki kekuasaan untuk
5

memanfaatkan pendapatan dan kekayaannya sendiri, dengan orientasi untuk kesejahteraan


pemilik perusahaan. Entitas bisnis akan berperan sebagai agen pemilik perusahaan dengan
orientasi kerja perolehan kekayaan secara tak terbatas baik untuk kesejahteraan pemilik juga
untuk survivalitas dan perkembangannya sendiri. Selain itu dalam prakteknya Entity Theory ini
memiliki kemampuan untuk merasionalisasikan, menormalisasi dan melegitimasi berbagai
macam instrumen yang digunakan untuk mengendalikan buruh yang seolah-olah kaum buruh
memperoleh banyak manfaat dari sistem yang sebenarnya sangat eksploitaif (Triyuwono;
2006).
Budaya Kapitalisme dalam Laporan Keuangan Perusahaan
Pengaruh budaya kapitalsiem juga terlihat pada formula dari tujuan laporan keuangan
yang didefinisikan oleh accounting body di Amerika Serikat, seperti terlihat di bawah ini : The
basic objective of financial statement is to provide information useful for making economic
decision (Mathews and Parera ; 1993). Tujuan dasar dari laporan keuangan seperti yang
diungkapkan di atas secara implisit merefleksikan kepentingan investor (stockholder) atas
manfaat ekonomis dari apa yang telah diinvestasikan. Untuk itu, pihak investor akan
membutuhkan informasi akuntansi untuk pengambilan keputusan. Jadi laporan keuangan
merupakan instrumen yang digunakan untuk memberikan informasi tentang kinerja dari
manajemen. Sehingga kita akan melihat bahwa formula laporan keuangan ini sesungguhnya
tidaklah benar-benar netral, formula ini cenderung memiliki bias nilai, yaitu mementingkan
kepentingan pemilik modal. Kepentingan dari pemilik modal itu sendiri adalah mempertahankan
modal yang ditanam (capital maintenance) sekaligus mendapatkan laba yang maksimal.
Simbiosis Mutualisme Kapitalisme dan Teori Akuntansi
Tanpa disadari ternyata perilaku yang terjadi dalam realitas sosial dan praktek bisnis
yang serba kapitalis maka teori yang membentuk ilmu akuntansi dipengaruhi oleh karakteristik
kapitalisme yang kuat. Dengan kata lain telah terjadi hubungan yang saling menguntungkan
(sismbiosis mutualisme) antara para kapitalis dengan ilmu akuntansi. Berdasarkan riset yang
dilakukan oleh Bailey (1988) memberikan gambaran jelas tentang bentuk dan peraturan
akuntansi akuntansi dinegara-nagara sosialis. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa
akuntansi yang dipraktekkan di negara-negara tersebut sarat dengan nilai-nilai sosialis.
Sedangkan karya Watts dan Zimmerman (1986) dalam bukunya yang terkenal dan dijadikan
rujukan bagi teori akuntansi modern Positive Accounting Theory, dalam prakteknya kita dapat
melihat bahawa akuntansi positif merupakan anak dari sistem ekonomi kapitalis. Ciri
maksimalisasi laba dan akumulasi kapital merupakan identitas utama yang tidak dapat
dipisahkan dari akuntansi positif. Maksimalisasi laba misalnya, akan terlihat di akhir laporan
6

Rugi Laba akan terlihat akun Laba Bersih. Akun ini merupakan tujuan utama manajemen
perusahaan yang juga menjadi kepentingan bagi pemilik perusahaan (shareholders), investor
dan kreditor. Semakin tinggi angka akuntansi yang diciptakan dalam akun Laba Bersih ini, maka
semakin baik kinerja dari peruasahaan yang bersangkutan. Sedangkan ciri budaya kapitalis
lainnya dalam akumulasi kapital akan tampak pada Laporan Neraca dengan akun Laba yang
ditahan yang merupakan bagian dari Ekuitas atau dilaporkan juga secara khusus dalam
Laporan Laba yang Ditahan. Semakin besar komposisi ekuitas ini terhadap nilai hutang, maka
semakin aman investasi yang ditanamkan oleh investor. Dan sebagai penyedia informasi
akuntansi juga dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi, alat
untuk menurunkan agency cost, meningkatkan produktivitas karyawan dan sebagainya.
Perlunya Etika
Salah satu langkah dalam mengeliminir dampak negatif dari kapitalisme adalah dengan
mengembalikan kapitalisme ini kewujudnya yang semula, yaitu sebagai sarana untuk mengabdi
kepada Tuhan (Ibn Khaldun, Thomas Aquinas), sehingga perilaku kapitalisme akan dikontrol
oleh standar etis yang membatasi aktivitas gerak individu. Keterlibatan etika dalam bentuk
norma, nilai dan moral haruslah diharmoniskan dalam diri manusia ketika berinteraksi dengan
sesama dan sekitarnya. Selanjutnya Jere Francis (1990) mengemukakan nilai etika yang dapat
direalisasikan melalui praktik akuntansi yaitu : kejujuran (honesty), perhatian terhadap status
ekonomi orang lain (concern for the economic status of others), sensitivitas terhadap nilai kerja
sama dan konflik (sensitivity to the value of co-operation and conflict), karakter komunikatif
akuntansi (communicative character of accounting) dan penyebaran informasi ekonomi
(dissemination of economic information). Beberapa pendapat tersebut menandakan fenomena
yang menunjukkan semakin meningkatnya perhatian akan pentingnya penerapan etika dalam
akuntansi khususnya dan dunia bisnis pada umumnya, hal ini dikarenakan begitu gencarnya
praktek kapitalisme melanda dunia bisnis.
Agama merupakan sumber yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam etika bisnis,
karena agama memudahkan manusia untuk mengetahui atau membedakan yang baik dan
yang buruk atau yang benar dan yang salah dalam berbisnis. Mengapa agama dijadikan
sumber nilai ? karena hanya Tuhanlah yang memiliki otoritas tertinggi dalam menetapkan nilainilai yang baik dan yang benar. Menurut Chryssides dan Kaler (1993) :
jika Tuhan itu ada, lalu siapa yang lebih baik dari Tuhan itu sendiri memutuskan apa yang benar
dan apa yang salah ? Jika Tuhan itu Maha Mengetahui, maka pasti Dialah pemegang otoritas
yang terpercaya atas para ahli etika .
Oleh karena itu masyarakat yang percaya akan adanya Tuhan akan membangun nilainilai etikanya berdasarkan pada ajaran agama masing-masing, sehingga dalam praktek bisnis
7

mereka akan selalu diselimuti dengan nilai etika yang kuat, setidaknya dalam berperilaku,
seorang kapitalis akan menampilkan sosok kapitalis yang religius. Pelaksanaan etika yang
berdasar pada agama akan memberikan suatu konsep yang menyatakan bahwa pelaku
tindakan (individu/ kelompok) yang baik dan benar menurut etika agama akan mendapatkan
pahala atas yang telah diperbuatnya, dan jika melanggar mereka akan berdosa atas
perbuatannya. Esensi yang lebih tinggi yang dapat diambil dalam menyandarkan etika pada
agama adalah adanya kesadaran dalam diri individu/kelompok dalam melakukan tindakan
(kegiatan bisnis) seolah-olah telah melihat Allah, atau sebaliknya bahwa individu/ kelompok
sadar bahwa Allah selalu melihat apa yang mereka perbuat. Kesadaran seperti ini membuat
para pelaku bisnis meyakini bahwa dalam hidup ini tidak ada jalan menghindar dari Tuhan dan
pengawasan-Nya terhadap tingkah laku mereka.
Kesimpulan
Dari pandangan-pandangan yang ingin mencari keuntungan yang maksimal tersebut
telah mengubah perilaku dalam praktek akuntansi dan akan terbawa arus dalam kapitalisme.
Dengan adanya sistem ekonomi yang dipakai pada saat ini adalah sistem ekonomi kapitalis.
Profesi akuntan dihadapkan pada dilema etika dimana para akuntan memiliki pilihan-pilihan
yang nantinya akan dijadikan dalam pengambilan keputusan dari sebuah pekerjaan. Karena
pengaruh budaya kapitalisme telah mempengaruhi praktek akuntansi dan perkembangan ilmu
akuntansi itu sendiri. Pada awalnya konsep kapitalisme mengarah pada perwujudan ibadah
kepada Tuhan yang telah dikesampingkan menjadi pemuasan individu yang berlebihan.
Sehingga perilaku tindakan tersebut yang bersifat negatif menjadi hal yang diwajarkan. Maka
dari itu para akuntan harus menjunjung nilai-nilai etika untuk melandasi praktek akuntansi yang
nantinya tidak akan menimbulkan kerugian pada diri sendiri dan masyarakat. Dengan
menjalankan etika profesi akuntan yang baik maka menggambarkan perwujudan bukti
keimanan kepada Tuhan tentang ajaran yang diberikan kepada umatnya.
DAFTAR PUSTAKA

Bailey, Derek T., 1988, Accounting in Socialist Countries, London, Routledge.


Budiman, Hikmat., 1997, Pembunuhan yang Selalu Gagal: Modernisme dan Krisis Rasionalitas.
Menurut Daniel Bell, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Chryssides, George D., 1993, An Introduction to Business Ethics, London, Chapman & Hall.
8

Francis, Jere., 1990, after virtue? Accounting as a Moral and Discursive Practice. Accounting,
Auditing and Accountability Journal 3 (3); 5-17.
Hines, Ruth D., 1988, Financial Accounting in Community reality, we construct Reality.
Accounting Organization and Society 13 (3) ; 251-256.
Hofstede, G., 1991. Cultures and Organization-Software of the Mind, McGraw Hill Book
Company, U.K.
https://shuumalik.wordpress.com/2013/01/28/pengertian-etika-profesi-akuntansi/,

diakses

10

November 2016.
https://aghniyarahmani.wordpress.com/2008/01/31/praktek-akuntansi-dalam-budaya
kapitalisme/, diakses 10 November 2016.
Mathews, MR and MHB Perera., 1993, Accounting Theory and Development, Melbourne,
Thomas Nelson Australia.
Rahardja Pratama (2001), Teori Ekonomi Makro. Lembaga Penerbit FE UI.
Soekanto, Soejono., 199, Sosiologi suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Pers.
Triyuwono, Iwan., 2006, Akuntansi Syariah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Weber, Max, 1958, The Protestant Ethics and the Spirit of capitalism, Charles Scribners Sons,
New York.
Watts, Ross L. And Jerold L. Immerman, 1986, Positive Accounting Theory, englewood Cliffs,
Prentice-Hall, Inc.