Anda di halaman 1dari 5

Learning Issues

1 Ciri profesional dan peran tenaga gizi bidang gizi klinik


Jawab:
Ahli Gizi yang profesional seharusnya memiliki ciri yaitu
bertanggung jawab. Walaupun yang bertanggung jawab atas makanan
yang akan diberikan kepada pasien adalah cook dan service. Namun,
ahli gizi juga perlu melakukan tester dan pengecekan ulang kepada
makanan tersebut agar tidak terjadinya keracunan dan kekeliruan
makanan yang tertukar pada pasien. Bentuk tanggung jawab tersebut
dapat berupa koordinasi dengan petugas kesehatan lainnya untuk
melakukan monitoring terhadap klien. Sehingga hal yang tidak
diinginkan seperti overfiding tidak terjadi. Dimana hal tersebut
merupakan salah satu peran ahli gizi bidang gizi klinik. Peran ahli gizi
dalam bidang gizi klinik diantaranya adalah :
a Pengkajian gizi
Pengkajian gizi dilakukan baik untuk pasien rawat inap maupun
pasien rawat jalan. Pengkajian dimulai dengan pemeriksaan
antropometri untuk mengetahui status gizi pasien dan disesuaikan
dengan kondisi pasien melalui pengukuran tinggi badan, berat
badan, panjang lengan, tinggi lutut, lingkar lengan atas, dan skin
fold thickness. Selain itu juga diperlukan data penunjang lain yang
berasal dari hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk
membantu menegakkan diagnosa penyakit dan diagnosa gizi
pasien. Selain itu juga diperlukan data riwayat gizi untuk
menegakkan masalah gizi pasien. Riwayat gizi pasien didapatkan
secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berfungsi untuk
mendapatkan gambaran kebiasaan makan/pola makan sehari
berdasarkan frekuensi penggunaan bahan makanan. Sedangkan
untuk data kuantitatif didapatkan dengan cara recall 24 jam dan
diukur dengan menggunakan food model (Depkes, 2003).
b
Diagnosa masalah gizi
Diagnosa masalah gizi ditegakkan berdasarkan data yang
didapatkan saat pengkajian gizi. Dalam prakteknya, masalah gizi
pasien dapat dikelompokkan menjadi tiga domain yaitu domain
intake, klinik, dan behaviour (perilaku) (Susilo, 2011).
c
Intervensi gizi (rencana dan implementasi)
Ahli gizi harus mampu membuat rencana intervensi gizi sesuai
dengan
masalah
yang
ditemui
pada
pasien
dan
mengimplementasikan rencana tersebut. Intervensi gizi disusun
berdasarkan etiologi (penyebab) masalah gizi yang ada, baik dari
domain intake, klinik maupun perilaku (Susilo, 2011).
d
Monitoring dan evaluasi (monev)
Monev dilakukan oleh ahli gizi untuk mengetahui perkembangan
kondisi pasien setelah dilakukan terapi (intervensi) gizi. Apabila
dalam monev pasien tidak menunjukkan perkembangan, ahli gizi
bekerja sama dengan tenaga medis lain (dokter, perawat dan
lainnya) melakukan perencanaan ulang. Monev dilakukan
berdasarkan sign/symptom (tanda dan gejala) dari diagnosa
masalah gizi (Susilo, 2011).

Perbedaan anatara profesional dan profesionalisme


Jawab:
Profesional :

Sebagai ahli gizi sudah menjadi kewajiban untuk dapat bertanggung


jawab atas profesinya, namun pada kasus ini ahli gizi tersebut tidak
menjalani kewajiban tersebut karena Ahli Gizi yang profesional
seharusnya memiliki ciri yaitu bertanggung jawab. Walaupun yang
bertanggung jawab atas makanan yang akan diberikan kepada
pasien adalah cook dan service. Namun, ahli gizi juga perlu
melakukan tester dan pengecekan ulang kepada makanan tersebut
agar tidak terjadinya keracunan dan kekeliruan makanan yang
tertukar pada pasien. Seorang ahli gizi harus mampu melibatkan diri
secara aktif dan tidak sekedar bertahan pada peran yang telah
ditetapkan, pada kasus ini ahli gizi tersebut kurang aktif untuk
dapat berkoordinasi dengan maupun tenaga kesehatan lainnya.

Profesionalisme :
Kualitas yang dihasilkan dari ahli gizi tersebut kurang memuaskan,
hal ini disebabkan karena kurang terampilnya ahli gizi tersebut dalam
menjalankan tugasnya yang ditandai dengan ahli gizi tersebut
menyebabkan pasien mengalami keracunan karena pemberian makan
kepada pasien makanan yang sudah tidak layak dikonsumsi, tidak
melakukan monitoring gizi dan tidak berkoordinasi dengan cermat,
sehingga ahli gizi tersebut tidak memenuhi standarsebagai ahli gizi
yang kompeten.
3

Profesionalisme tenaga gizi dalam memberikan pelayanan gizi


Jawab:
Dalam kasus tersebut seorang ahli gizi tidak memberikan pelayanan
gizi kepada pasien dengan baik. Seorang yang menjalankan
pekerjaannya dengan baik dan profesional kemungkinan kecil
melakukan kesalahan yang berujung nyaris fatal sepeti pasiennya
keracunan. Memonitoring dan koordinasi atau bekerja sama dengan
pihak Dokter, perawat bahkan keluarga pasien merupakan salah satu
tindakan yang harus dilakukan oleh seorang ahli gizi yang profesional.
Pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh ahli gizi pada kasus tersebut
kurang profesional. Ahli gizi tersebut tidak melakukan pengawasan
pangan dan gizi yang akan mencegah terjadinya pasien yang
keracunan karena pemberian makanan yang sudah tidak layak
dikonsumsi

Kode etik profesi gizi


Jawab:
Jika kasus tersebut dikaitkan dengan kode etik profesi gizi, maka
banyak sekali hal-hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah pada
kasus dinyatakan bahwa pasien yang sedang ditangani oleh ahli gizi

tersebut keracunan, padahal pada kode etik gizi dinyatakan bahwa


seorang ahli gizi harus Memberikan pelayanan gizi prima, cepat, dan
akurat dan Memelihara dan meningkatkan status gizi klien baik
dalam lingkup institusi pelayanan gizi atau di masyarakat umum. Hal
ini menunjukkan bahwa ahli gizi tersebut tidak mematuhi kode etik
yang terdapat pada profesi yang dia geluti dan menyebabkan
kesalahan yang nyaris fatal yang membuat pasien yang sedang dia
tangani menyebabkan keracunan hingga mual dan muntah pun terjadi.
Untuk mengatasi hal ini, disarankan agar ahli gizi tersebut lebih
memantau perkembangan pasien dengan cara memonitoring kondisi
pasien dan menjalin komunikasi serta kerjasama dengan profesi lain
(misalnya: dokter, suster, dan penjamah makanan), agar saat ahli gizi
sedang tidak bertugas profesi lain yang berhubungan dengan pasien
dapat ikut memantau kondisi pasien dan tidak akan terjadi kesalahan
nyaris fatal agar tidak menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan.
Seorang ahli gizi memang HARUS melakukan komunikasi dan
kerjasama dengan profesi lain, sehingga miss komunikasi antar profesi
tidak akan terjadi. Di dalam kode etik profesi ahli gizi juga dikatakan
bahwa seorang ahli gizi harus Mengenal dan memahami
keterbatasannya sehingga dapat bekerjasama dengan pihak lain atau
membuat rujukan bila diperlukan. Seorang ahli gizi harus menyadari
bahwa tidak setiap waktu dia berada dekat dengan pasien yang
sedang dia tangani, ada kalanya dia memerlukan waktu untuk hal lain
yang menyebabkan dia tidak dapat memantau kondisi pasiennya. Jika
hal itu terjadi, maka ahli gizi harus melakukan pencegahan agar dia
tidak kehilangan pantauan terhadap pasiennya, hal itu dapat dilakukan
dengan cara menjalin koordinasi dengan profesi lain.
5

AD/ART PERSAGI
Jawab:
Ahli gizi pada kasus tersebut tidak sesuai dengan pasal 3 ayat 1
yang terdapat di dalam AD/ART PERSAGI mengenai Kewajiban Anggota
yang berbunyi : Anggota PERSAGI mempunyai kewajiban : Mematuhi
AD/ART dan kode etik ahli gizi serta keputusan-keputusan yang
dikeluarkan oleh PERSAGI. Sebagai ahli gizi yang terdaftar sebagai
anggota PERSAGI, maka ahli gizi seharusnya melaksanakan kewajiban
tersebut.
Namun pada kenyataannya, ahli gizi pada kasus tersebut
melanggar peran dari PERSAGI yang disebutkan pada AD PERSAGI
Pasal 10 Ayat 2 yaitu Peningkatan keadaan gizi perorangan dan
masyarakat serta melanggar Kode Etik Ahli Gizi yang secara otomatis
juga melanggar ART PERSAGI Pasal 3 Ayat 1 yang telah disebutkan
diatas. Seharusnya, ahli gizi pada kasus tersebut dapat meningkatkan
keadaan gizi kliennya di Rumah Sakit, bukan menghilangkan nyawa
kliennya tersebut.
Apabila ahli gizi pada kasus tersebut mematuhi, melaksanakan,
serta berpedoman teguh pada Kode Etik Ahli Gizi seperti contoh pada
Bab II mengenai Kewajibab Terhadap Klien ayat 1 yaitu Ahli Gizi

berkewajiban sepanjang waktu senantiasa berusaha memelihara dan


meningkatkan status gizi klien baik dalam lingkup institusi pelayanan
gizi atau di masyarakat umum serta ayat 4 yaitu Ahli Gizi
berkewajiban senantiasa memberikan pelayanan gizi prima, cepat dan
akurat dan ayat 6 yang berbunyi Ahli Gizi dalam melakukan
tugasnya, apabila mengalami keraguan dalam memberikan pelayanan
berkewajiban senantiasa berkonsultasi dan merujuk kepada ahli gizi
lain yang mempunyai keahlian, maka kecil kemungkinan untuk
terjadinya
keteledoran
sehingga
dapat
merugikan
bahkan
menghilangkan nyawa dari kliennya tersebut.
Selain itu, ahli gizi tersebut dapat diberhentikan dari keanggotaan
PERSAGI seperti yang disebutkan pada ART PERSAGI Pasal 5 mengenai
Pemberhentian Anggota yang berbunyi sebagai berikut :
Tata cara pemberhentian anggota :
1 Pemberhentian anggota atas permintaan sendiri hanya dapat
dilakukan dengan pemberitahuan secara tertulis kepada Dewan
Pimpinan Cabang.
2 Seseorang anggota dapat dikenakan pemberhentian sementara
oleh Dewan Pimpinan Cabang apabila melanggar ketentuan
organisasi.
3 Paling lama 6 bulan sesudah pemberhentian sementara Dewan
Pimpinan Cabang dapat merehabilitasi atau mengusulkan
pemberhentian kepada Dewan Pimpinan Pusat untuk dikukuhkan
melalui DPD.
4 Dalam hal-hal luar biasa, Dewan Pimpinan Pusat dapat
melakukan pemberhentian langsung, dan memberitahukannya
kepada Dewan Pimpinan Daerah.
6

Hak azazi klien


Jawab:
Berdasarkan kasus, hak azazi klien belum terpenuhi dikarenakan
pelayanan yang diberikan oleh ahli gizi belum memenuhi standart hak
azazi menurut pasal 32 UU No 44 Tahun 2009. Hal ini terjadi karena
ahli gizi tersebut tidak menjalankan profesinya secara professional.
Seharusnya klien memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai
dengan standart profesi dan standart prosedur operasional. Namun
pada kenyataannya dalam kasus ini, klien yang seharusnya mendapat
makanan NGT sebanyak 6 kali dalam sehari malah diberikan lebih dari
7 kali dalam sehari, sehingga dalam 3 hari pasien tersebut meninggal
dunia karena overfeeding. Dan saat itu ahli gizi sedang tidak bertugas
seolah-olah lepas tanggungjawab.
Terkait hal diatas keluarga klien memiliki hak untuk menggugat
dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga
memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standart baik secara
perdata atau pidana. Gugatan tersebut dikarenakan klien tidak
memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam
perawatan di Rumah Sakit.

Pelayanan gizi sesuai dengan prinsip etika profesi

Jawab:
Berdasarkan kasus, ahli gizi di RS swasta tersebut tidak mengikuti
prinsip etika, yaitu bertanggung jawab. Ahli gizi di RS swasta tidak
melakukan monitoring dan koordinasi dengan cermat sehingga
merugikan pasien yang mengakibatkan pasien meninggal karena
makanan sonde diberikan lebih dari 7 kali (seharusnya 6 kali
pemberian sehari).
Selanjutnya, berdasarkan prinsip-prinsip etika
profesi, ahli gizi di RS swasta ini harus bertanggung jawab terhadap
hasil dari pelayanan gizi yang diberikannya yang telah menyebabkan
pasien meninggal.
8

Perkembangan profesi gizi


Jawab:
Perkembangan profesi gizi di Indonesia berjalan baik seimbang
dengan kemampuan kemampuan para Ahli gizi dalam memecahkan
persoalan persoalan gizi . Disamping itu tantangan dan tuntutan
profesi gizi di era globalisasi menjadi lebih luas dan berat. Adanya
persaingan bebas yang tidak dapat terbendung menuntut
profesionalisme yang kuat, handal, dan tangguh. Bisa dikatakan bahwa
ahli gizi di RS tersebut tidak profesionalisme dalam menjalankan
tugasnya. Bisa saja dengan adanya persaingan bebas ahli gizi RS
tersebut dapat tersingkir dari dunia kerja yang selama ini dilakoninya.
Selain itu persatuan Ahli Gizi Indonesia bersama dengan universitas
terkemuka bekerjasama dalam menata pendidikan dan pengembangan
kurikulum profesi gizi dimana para sarjana gizi yang akan memulai
praktek diharapkan menempuh program pendidikan profesi gizi
terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kompetensi
tenaga gizi dan mengantisipasi era globalisasi yang sudah dipelupuk
mata serta merupakan keadaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Dalam hal ini ahli gizi RS tersebut kurang berkompetensi dalam
menjalankan tugasnya yang bisa dilihat karena tidak melakukan
monitoring dan koordinasi dengan cermat .Mungkin karena ahli gizi RS
tersebut belum bisa memahami dan mengembangkan pelajaran
pelajaran yang didapat waktu menempuh pendidikan gizi.