Anda di halaman 1dari 5

1

Perbedaan anatara profesional dan profesionalisme


Jawab:
Profesional :

Sebagai ahli gizi sudah menjadi kewajiban untuk dapat bertanggung jawab
atas profesinya,

namun pada kasus ini ahli gizi tersebut tidak menjalani

kewajiban tersebut karena Ahli Gizi yang profesional seharusnya memiliki ciri
yaitu bertanggung jawab. Walaupun yang bertanggung jawab atas makanan
yang akan diberikan kepada pasien adalah cook dan service. Namun, ahli gizi
juga perlu melakukan tester dan pengecekan ulang kepada makanan tersebut
agar tidak terjadinya keracunan dan kekeliruan makanan yang tertukar pada
pasien. Seorang ahli gizi harus mampu melibatkan diri secara aktif dan tidak
sekedar bertahan pada peran yang telah ditetapkan, pada kasus ini ahli gizi
tersebut kurang aktif untuk dapat berkoordinasi dengan maupun tenaga
kesehatan lainnya.
Profesionalisme :
Kualitas yang dihasilkan dari ahli gizi tersebut kurang memuaskan, hal ini
disebabkan karena kurang terampilnya ahli gizi tersebut dalam menjalankan
tugasnya yang ditandai dengan ahli gizi tersebut menyebabkan pasien mengalami
keracunan karena pemberian makan kepada pasien makanan yang sudah tidak
layak dikonsumsi, tidak melakukan monitoring gizi dan tidak berkoordinasi
dengan cermat, sehingga ahli gizi tersebut tidak memenuhi standarsebagai ahli
gizi yang kompeten.
2

Profesionalisme tenaga gizi dalam memberikan pelayanan gizi


Jawab:
Dalam kasus tersebut seorang ahli gizi tidak memberikan pelayanan gizi
kepada pasien dengan baik. Seorang yang menjalankan pekerjaannya dengan baik
dan profesional kemungkinan kecil melakukan kesalahan yang berujung nyaris
fatal sepeti pasiennya keracunan. Memonitoring dan koordinasi atau bekerja sama
dengan pihak Dokter, perawat bahkan keluarga pasien merupakan salah satu
tindakan yang harus dilakukan oleh seorang ahli gizi yang profesional. Pelayanan
kesehatan yang dilakukan oleh ahli gizi pada kasus tersebut kurang profesional.
Ahli gizi tersebut tidak melakukan pengawasan pangan dan gizi yang akan

mencegah terjadinya pasien yang keracunan karena pemberian makanan yang


sudah tidak layak dikonsumsi
3

Kode etik profesi gizi


Jawab:
Jika kasus tersebut dikaitkan dengan kode etik profesi gizi, maka banyak
sekali hal-hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah pada kasus dinyatakan
bahwa pasien yang sedang ditangani oleh ahli gizi tersebut keracunan, padahal
pada kode etik gizi dinyatakan bahwa seorang ahli gizi harus Memberikan
pelayanan gizi prima, cepat, dan akurat dan Memelihara dan meningkatkan
status gizi klien baik dalam lingkup institusi pelayanan gizi atau di masyarakat
umum. Hal ini menunjukkan bahwa ahli gizi tersebut tidak mematuhi kode etik
yang terdapat pada profesi yang dia geluti dan menyebabkan kesalahan yang
nyaris fatal yang membuat pasien yang sedang dia tangani menyebabkan
keracunan hingga mual dan muntah pun terjadi.

Untuk mengatasi hal ini,

disarankan agar ahli gizi tersebut lebih memantau perkembangan pasien dengan
cara memonitoring kondisi pasien dan menjalin komunikasi serta kerjasama
dengan profesi lain (misalnya: dokter, suster, dan penjamah makanan), agar saat
ahli gizi sedang tidak bertugas profesi lain yang berhubungan dengan pasien dapat
ikut memantau kondisi pasien dan tidak akan terjadi kesalahan nyaris fatal agar
tidak menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan.
Seorang ahli gizi memang HARUS melakukan komunikasi dan kerjasama
dengan profesi lain, sehingga miss komunikasi antar profesi tidak akan terjadi. Di
dalam kode etik profesi ahli gizi juga dikatakan bahwa seorang ahli gizi harus
Mengenal dan memahami keterbatasannya sehingga dapat bekerjasama dengan
pihak lain atau membuat rujukan bila diperlukan. Seorang ahli gizi harus
menyadari bahwa tidak setiap waktu dia berada dekat dengan pasien yang sedang
dia tangani, ada kalanya dia memerlukan waktu untuk hal lain yang menyebabkan
dia tidak dapat memantau kondisi pasiennya. Jika hal itu terjadi, maka ahli gizi
harus melakukan pencegahan agar dia tidak kehilangan pantauan terhadap
pasiennya, hal itu dapat dilakukan dengan cara menjalin koordinasi dengan profesi
lain.
4

AD/ART PERSAGI
Jawab:
Ahli gizi pada kasus tersebut tidak sesuai dengan pasal 3 ayat 1 yang terdapat
di dalam AD/ART PERSAGI mengenai Kewajiban Anggota yang berbunyi :

Anggota PERSAGI mempunyai kewajiban : Mematuhi AD/ART dan kode etik


ahli gizi serta keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh PERSAGI. Sebagai
ahli gizi yang terdaftar sebagai anggota PERSAGI, maka ahli gizi seharusnya
melaksanakan kewajiban tersebut.
Namun pada kenyataannya, ahli gizi pada kasus tersebut melanggar peran dari
PERSAGI yang disebutkan pada AD PERSAGI Pasal 10 Ayat 2 yaitu
Peningkatan keadaan gizi perorangan dan masyarakat serta melanggar Kode
Etik Ahli Gizi yang secara otomatis juga melanggar ART PERSAGI Pasal 3 Ayat
1 yang telah disebutkan diatas. Seharusnya, ahli gizi pada kasus tersebut dapat
meningkatkan keadaan gizi kliennya di Rumah Sakit, bukan menghilangkan
nyawa kliennya tersebut.
Apabila ahli gizi pada kasus tersebut mematuhi, melaksanakan, serta
berpedoman teguh pada Kode Etik Ahli Gizi seperti contoh pada Bab II mengenai
Kewajibab Terhadap Klien ayat 1 yaitu Ahli Gizi berkewajiban sepanjang waktu
senantiasa berusaha memelihara dan meningkatkan status gizi klien baik dalam
lingkup institusi pelayanan gizi atau di masyarakat umum serta ayat 4 yaitu Ahli
Gizi berkewajiban senantiasa memberikan pelayanan gizi prima, cepat dan akurat
dan ayat 6 yang berbunyi Ahli Gizi dalam melakukan tugasnya, apabila
mengalami keraguan dalam memberikan pelayanan berkewajiban senantiasa
berkonsultasi dan merujuk kepada ahli gizi lain yang mempunyai keahlian, maka
kecil kemungkinan untuk terjadinya keteledoran sehingga dapat merugikan
bahkan menghilangkan nyawa dari kliennya tersebut.
Selain itu, ahli gizi tersebut dapat diberhentikan dari keanggotaan PERSAGI
seperti yang disebutkan pada ART PERSAGI Pasal 5 mengenai Pemberhentian
Anggota yang berbunyi sebagai berikut :
Tata cara pemberhentian anggota :
1 Pemberhentian anggota atas permintaan sendiri hanya dapat dilakukan
2

dengan pemberitahuan secara tertulis kepada Dewan Pimpinan Cabang.


Seseorang anggota dapat dikenakan pemberhentian sementara oleh Dewan

Pimpinan Cabang apabila melanggar ketentuan organisasi.


Paling lama 6 bulan sesudah pemberhentian sementara Dewan Pimpinan
Cabang dapat merehabilitasi atau mengusulkan pemberhentian kepada

Dewan Pimpinan Pusat untuk dikukuhkan melalui DPD.


Dalam hal-hal luar biasa, Dewan Pimpinan Pusat dapat melakukan
pemberhentian

langsung,

Pimpinan Daerah.

dan

memberitahukannya

kepada

Dewan

Hak asasi klien


Jawab:
Berdasarkan kasus, hak asasi klien belum terpenuhi dikarenakan pelayanan
yang diberikan oleh ahli gizi belum memenuhi standart hak asasi menurut pasal 32
UU No 44 Tahun 2009. Hal ini terjadi karena ahli gizi tersebut tidak menjalankan
profesinya secara professional. Seharusnya klien memperoleh layanan kesehatan
yang bermutu sesuai dengan standart profesi dan standart prosedur operasional.
Namun pada kenyataannya dalam kasus ini, klien yang seharusnya mendapat
makanan yang layak dikonsumsi tapi pada kenyataannya pasien tersebut harus
menelan makanan yang tidak seharusnya dikonsumsi sehingga menyebabkan
keracunan. Terkait hal diatas keluarga klien memiliki hak untuk menggugat
dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan
pelayanan yang tidak sesuai dengan standart baik secara perdata atau pidana.
Gugatan tersebut dikarenakan klien tidak memperoleh keamanan dan keselamatan
dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.

Pelayanan gizi sesuai dengan prinsip etika profesi


Jawab:
Berdasarkan kasus, ahli gizi di RS tersebut tidak mengikuti prinsip etika,
yaitu bertanggung jawab. Ahli gizi di RS tidak melakukan monitoring dan
koordinasi dengan cermat sehingga merugikan pasien yang mengakibatkan
keracunan. Selanjutnya, berdasarkan prinsip-prinsip etika profesi, ahli gizi di RS
ini harus bertanggung jawab terhadap hasil dari pelayanan gizi yang diberikannya
yang telah menyebabkan pasien keracunan.

Perkembangan profesi gizi


Jawab:
Perkembangan profesi gizi di Indonesia berjalan baik seimbang dengan
kemampuan kemampuan para Ahli gizi dalam memecahkan persoalan
persoalan gizi . Disamping itu tantangan dan tuntutan profesi gizi di era
globalisasi menjadi lebih luas dan berat. Adanya persaingan bebas yang tidak
dapat terbendung menuntut profesionalisme yang kuat, handal, dan tangguh. Bisa
dikatakan bahwa ahli gizi di RS tersebut tidak profesionalisme dalam menjalankan
tugasnya. Bisa saja dengan adanya persaingan bebas ahli gizi RS tersebut dapat
tersingkir dari dunia kerja yang selama ini dilakoninya.
Selain itu persatuan Ahli Gizi Indonesia bersama dengan universitas
terkemuka bekerjasama dalam menata pendidikan dan pengembangan kurikulum

profesi gizi dimana para sarjana gizi yang akan memulai praktek diharapkan
menempuh program pendidikan profesi gizi terlebih dahulu. Hal ini dilakukan
untuk meningkatkan kompetensi tenaga gizi dan mengantisipasi era globalisasi
yang sudah dipelupuk mata serta merupakan keadaan yang tidak bisa ditawartawar lagi. Dalam hal ini ahli gizi RS tersebut kurang berkompetensi dalam
menjalankan tugasnya yang bisa dilihat karena tidak melakukan monitoring dan
koordinasi dengan cermat. Mungkin karena ahli gizi RS tersebut belum bisa
memahami dan mengembangkan pelajaran pelajaran yang didapat waktu
menempuh pendidikan gizi.