Anda di halaman 1dari 3

Tulisan Dari Generasi Baru Indonesia, dibuat sendiri dengan mengutip

dari berbagai sumber, pengalaman, pelatihan, pembelajaran serta kebersamaan


bersama teman-teman Generasi Baru Indonesia Provinsi Kalimantan selatan
serta Bank Indonesia
Mengembalikan Indonesia Sebagai Macan Asia dengan Kemudahan
Transaksi
Pertama kita wajib mengetahui dulu apa itu sistem pembayaran dalam
bertransaksi. Sistem pembayaran adalah sistem yang mencakup seperangkat
aturan, lembaga dan mekanisme yang digunakan untuk melaksanakan
pemindahan dana guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu
kegiatan ekonomi. Sistem Pembayaran merupakan sistem yang berkaitan
dengan pemindahan sejumlah nilai uang dari satu pihak ke pihak lain. Media
yang digunakan untuk pemindahan nilai uang tersebut sangat beragam, mulai
dari penggunaan alat pembayaran yang sederhana sampai pada penggunaan
sistem yang kompleks dan melibatkan berbagai lembaga berikut aturan
mainnya. Kewenangan mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran di
Indonesia dilaksanakan oleh Bank Indonesia yang dituangkan dalam UndangUndang Bank Indonesia.
Sistem pembayaran dibagi menjadi dua jenis, yaitu Sistem pembayaran
tunai dan Sistem pembayaran non-tunai. Perbedaan mendasar dari kedua jenis
sistem pembayaran tersebut terletak pada instrumen yang digunakan. Pada
sistem pembayaran tunai instrumen yang digunakan berupa uang kartal,
yaitu uang dalam bentuk fisik uang kertas dan uang logam, sedangkan pada
sistem pembayaran non-tunai instrumen yang digunakan berupa Alat
pembayaran menggunakan kartu (APMK), Cek, Bilyet Giro, Nota Debit,
maupun uang elektronik.
Setelah beberapa saat membaca di beberapa referensi, ternyata transaksi
non tunai bukan lagi barang baru di Indonesia, jumlah pemakai transaksi jenis
ini masih lumayan rendah di banding negara-negara anggota ASEAN seperti
Singapura dan Malaysia. Padahal transaksi non tunai memiliki banyak
keuntungan termasuk diantaranya mudah, aman dan efisien. Oleh karenanya
tanggal 14 Agustus 2014 lalu, Bank Indonesia (BI) mencanangkan Gerakan
Nasional Non-Tunai (GNNT) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
terhadap pentingnya transaksi non tunai.
Tren global saat ini mengarah ke penggunaan uang nontunai atau
pembayaran dalam bentuk elektronik. Indonesia bisa digolongkan kurang
ekspansif, kalau tak ingin dibilang terlambat, menerapkan uang elektronik
dibandingkan negara-negara maju. Bahkan, dibandingkan negara-negara di

ASEAN pun relatif masih rendah. Padahal, potensi dari jumlah populasi cukup
besar.
Semakin sedikit uang kertas dan koin yang perlu dicetak. Bank pun
diharapkan mengurangi kantor-kantor cabang yang menerima dan
mengeluarkan uang tunai. Beberapa pemahaman yang saya dapat bahwa
pembayaran nontunai mempunyai manfaat bukan saja bagi masyarakat,
melainkan juga untuk pemerintah. Masyarakat memang memperoleh manfaat
berupa proses transaksi yang mudah, aman, dan efisien. Bagi pemerintah
sendiri, transaksi pembayaran secara nontunai bermanfaat menekan beredarnya
uang palsu dan menekan biaya pengelolaan uang tunai. Selain itu, juga
memperkuat tata kelola dan transparansi transaksi keuangan. Sebab, semakin
besar transaksi tunai, tingkat transparansi dan tata kelola akan semakin rendah
akibat potensi transaksi yang tidak tercatat. Manfaat yang utama adalah bisa
mendorong perluasan akses perbankan atau lembaga keuangan bagi masyarakat.
Perpindahan dari kebiasaan menggunakan uang tunai ke nontunai
menurut saya bukan hal yang mudah apalagi di daerah pedesaan. Meski
penggunaan uang nontunai bisa meminimalkan terjadinya perampokan bank,
pembobolan bank yang memanfaatkan kecanggihan teknologi atau
kejahatan online masih bisa terjadi.
Poin yang paling penting menurut saya adalah jika kita ingin memajukan
Indonesia salah satu caranya adalah kita harus menaikan transaksi non tunai apa
lagi sekarang ini perekonomian Indonesia cukup memikat mata dunia bahkan
ada sebuah prediksi mengatakan Indonesia akan masuk di 3 besar sebagai
negara dengan perekonomian terkuat di dunia. Transaksi non tunai adalah salah
satu faktor yang harus ditingkatkan untuk membawa Indonesia mengejar ambisi
tersebut di tambah lagi jika kita masyarakat menggunakan transaksi non tunai
ada beberapa hal positif yang pemerintah dapatkan yaitu pemerintah bisa
menghemat biaya produksi dan oprasional untuk mencektak uang dan
pemerintah bisa melacak semua transaksi mencurigakan sehingga bisa
mencegah perbuatan kriminal seperti pencucian uang, korupsi, teroris, transaksi
narkoba dan lain-lain.
Mari kita perbiasakan budaya kita dalam melakukan transaksi non tunai
karna hal ini sangat membantu dalam mempersiapkan ambisi tersebut, dengan
menggunakan transaksi non sama saja kita menggunakan kemajuan teknologi
yang ada dengan adanya kemajuan teknologi semua dapat di permudah hanya
dengan menggunakan kartu kredit saja kita tanpa harus membawa uang tebal di
dompet tinggal sekali gesek saja kita bisa langsung bertransaksi. Mulailah
dengan menggunkan kartu kredit dalam pembelian di mol-mol, Sulawayan,
minimarket, yang tersedia fasilitas pembayaran kartu kredit dan belanja online
budayakan hal tersebut dan tanpa kita sadari kita telah berbuat untuk membantu
pemerintah memajukan bangsa.

Beberapa saran yang dapat saya berikan adalah menyebarkan transaksi


non tunai mulai dari tingkat rumah tangga, karena biasanya ibu-ibu bertransaksi
di pasar swalayan penyebarannya sangat besar, baik itu media promosi dari
mulut kemulut serta membiasakan transaksi tanpa menggunakan uang tunai,
mungkin nantinya Bank Indonesia bias memberikan secara cuma-cuma mesin
untuk bertransaksi non tunai kepada pedagang-pedagang di pasar-pasar
swalayan, harapannya hal tersebut menjadi kebiasaan dan mnyebar dengan
sendirinya ke tempat-tempat lain.
Muhammad Riswanto
Fakultas Teknik
Program Studi Teknik Pertambangan
Universitas Lambung Mangkurat
Genbi Banjarbaru
Genbi Kalsel