Anda di halaman 1dari 5

Portofolio

Sindroma Vena Cava Superior


Nama Peserta
Nama Wahana
Topik
Tanggal (kasus)
Nama Pasien
Tanggal Presentasi
Tempat Presentasi

dr. Heni Handayani


RS Pertamina Jaya
Sidroma Vena Cava Superior
1 Agustus 2016
Tn. A
No. RM
Pendamping dr. Muhammad Fadjri AS, Sp.JP
RS Pertamina Jaya
Mengetahui Diagnosis dan Tatalaksana Sindroma Vena Cava
Objektif Presentasi
Superior
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Seorang laki-laki usia 62 tahun datang keluhan Sesak nafas sejak 2 bulan
SMRS. Sejak 2 bulan SMRS, pasien juga mengeluh timbul benjolan di leher sebelah
kanan yang disertai deman yang naik turun, batuk sejak 1 bulan yang lalu, sesak nafas,
Deskripsi
sesak dipengaruhi aktifitas, pasien mengaku sesak nafas berkurang saat istrahat.
Terbangun tiba-tiba karna sesak, mual, muntah, nafsu makan menurun, berat badan
menurun..
Tujuan
Mengetahui Diagnosis dan Tatalaksana Sindroms Vena Cava Superior
Bahan
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Bahasan
Cara
Membahas
Diskusi
Presentasi dan Diskusi
E-mail
Pos
Data Pasien
Tn. A
No. Registrasi :
Telp : 4211-911
Nama RS : RS Pertamina Jaya
Terdaftar sejak : 1979
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Sindromam Vena Cava Superior
Keluhan Utama
: sesak nafas
Keluhan Tambahan : benjolan di leher kanan, demam, batuk, lemas, badan pegal-pegal,
sakit kepala
Riwayat Penyakit Sekarang :
Seorang laki-laki usia 62 tahun datang keluhan Sesak nafas sejak 2 bulan SMRS. Sejak
2 bulan SMRS, pasien juga mengeluh timbul benjolan di leher sebelah kanan yang disertai
deman yang naik turun, batuk sejak 1 bulan yang lalu, sesak nafas, sesak dipengaruhi aktifitas,
pasien mengaku sesak nafas berkurang saat istrahat. Terbangun tiba-tiba karna sesak, mual,
muntah, nafsu makan menurun, berat badan menurun.
Sejak 1 bulan SMRS pasien mengaku sering demam yang disertai batuk kering, badan
terasa pegal-pegal disertai rasa lemas dan mudah lelah serta kepala terasa sakit.
2 hari SMRS sesak nafas dirasakan semakin memberat dan badan terasa lemah, nafsu
makan menurun disertai tangan sebelah kanan dirasakan membengkak dan kemudian os dibawa
oleh keluarganya ke UGD RSPJ.
Pasien memiliki kebiasaan merokok paling sedikit 1 bungkus per hari sejak 20 tahun yang
1

lalu.
2. Riwayat Pengobatan : tidak ada
3. Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat HT (+)
Riwayat pengobatan tb paru (-)
4. Riwayat Keluarga
:
Riwayat keluarga dengan sakit sama (-)
Riwayat penyakit keganasan di keluarga (-)
Riwayat HT (-)
5. Riwayat Pekerjaan
: Pasien sudah tidak bekerja
6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Pasien tinggal bersama istri dan anak di lingkungan yang
bersih
7. Lain-lain : Pasien memiliki kebiasaan merokok paling sedikit 1 bungkus per hari sejak 20 tahun
yang lalu.
Daftar Pustaka :
1. Aurora R, Milite F, Vander-Els NJ. Respiratory emergencies.Semin Oncol 2000; 27(3): 256- 69.
2. Martins SJ, Pereira JR. Clinical factors and prognosis in non-small cell lung cancer. Am J Clin
Oncol 1999; 22(5): 453-7.
3. Wurschmidt F, Bunemann H, Heilmann HP. Small cell lung cancer with and without superior vena
cava syndrome: a multivariate analysis of prognostic factors in 408 cases. Int J Radiat Oncol Biol
Phys 1995; 33(1):77-82.
4. Nesbitt JC. Surgical management of superior vena cava syndrome. In: Lung cancer principles and
practices. Pass HI, Mitchell JB, Johnson DH, Turrisi AT, eds. Philadelphia, Lippincolt-Raven,
1996, p. 673-81.
5. Naidich DP, Zerhouni EA, Siegelman SS, Kohn JP. Mediastinum. In: Computed tomography and
magnestic resonance of the thorax, 2nd ed, New York, Raven-Press, 1991.p. 35-148.
6. Urban T, Lebeau B, Chastang C, Leclerc P, Botto MJ, Sauvaget J. Superior vena cava syndrome in
small-cell lung cancer. Arch Intern Med 1993; 153(3): 384-7.
Hasil Pembelajaran :
1. Mengetahui Diagnosis Sindroma Vena Cava Superior.
2. Mengetahui Etiologi dan Faktor Risiko Sindroma Vena Cava Superior.
3. Mengetahui Patofisiologi Sindroma Vena Cava Superior.
4. Mengetahui Penatalaksanaan Sindroma Vena Cava Superior.
5. Mengetahui Evaluasi Pengobatan.
6. Mengetahui Edukasi Tentang Pengobatan Sindroma Vena Cava Superior.
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio
1. Subjektif :
Seorang laki-laki usia 62 tahun datang keluhan Sesak nafas sejak 2 bulan SMRS.
Pasien juga mengeluh timbul benjolan di leher sebelah kanan yang disertai demam
yang naik turun,
Sesak dipengaruhi aktifitas, pasien mengaku sesak nafas berkurang saat istrahat.
Terbangun tiba-tiba karna sesak, mual, muntah, nafsu makan menurun, berat badan
menurun.
2

Sejak 1 bulan SMRS pasien mengaku sering demam yang disertai batuk kering,
badan terasa pegal-pegal disertai rasa lemas dan mudah lelah serta kepala terasa
sakit.
2 hari SMRS sesak nafas dirasakan semakin memberat dan badan terasa lemah,
nafsu makan menurun disertai tangan sebelah kanan dirasakan membengkak dan
kemudian os dibawa oleh keluarganya ke UGD RSPJ

2. Objektif :
a. Vital sign
KU
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Kompos mentis
Tekanan darah : 160/100 mmHg
Frekuensi nadi : 80 x/menit, teratur kuat penuh
Frekuensi nafas : 30 x /menit
Suhu
: 36,8 0C
Sianosis(-), pucat(-), ikterik(-)
b. Pemeriksaan sistemik
Kepala : Normocephali, deformitas Mata : Refleks cahaya +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
pupil Isokor 3mm/3mm, Nistagmus Telinga : Membran timpani intak +/+, sekret -/ Hidung : Deviasi septum (-), sekret -/ Mulut : Mukosa mulut lembab, hiperemis -, T2/T2
Leher : Tidak ada pembesaran KGB (-), terdapat massa di reg
supraclavicula dextra ukuran 3x5 cm
Thoraks
Paru
I : Pergerakan dada simetris statis dinamis.
P : Fremitus taktil sama kuat di kedua lapang paru.
P : Sonor diseluruh lapang paru.
A : Suara nafas vesikuler -/- ,ronki -/- , wheezing -/ Jantung
I : Iktus cordis tidak tampak
P : Iktus cordis tidak teraba
P : Kesan Kardiomegali A : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur(-), gallop(-).
Abdomen
I
: Datar, simetris, tidak tampak efloresensi yang bermakna.
A
: Bising usus (+).
P
: Timpani diseluruh kuadran abdomen.
P
: Supel, nyeri tekan (-), hepatomegali (-), splenomegali (-).
3

Punggung
I : gerakan nafas terlihat simetris, aligment vertebra baik,
P : gerakan nafas teraba simetris
P : sonor pada seluruh lapang paru, nyeri ketok CVA -/A : vesikular +/+, ronki -/-, wheezing -/ Ekstremitas
: Akral hangat pada keempat ekstremitas, CRT < 2s
kulit
: venektasi +
c. Pemeriksaan Penunjang
Darah lengkap:
HB
: 12,6 g/dL
HT
: 38,4 %
Leukosit : 8.400 /uL
Trombosit : 131.000 /uL
Hitung Jenis
Basofil
: 0.5 %
Eosinofil : 1.2 %
Stab
: 0,0 %
Segmen
: 65,2 %
Limfosit
: 12,2 %
Monosit
: 8,2 %
Elektrolit
Natrium
: 135 mEq/L
Kalium
: 3,4 mEq/L
Klorida
: 108 mEq/L
Ureum
: 29 mg/dL
Kreatinin : 1.0 mg/dL
GDS
: 99 mg/dL
RO Thorax
Kesan : Susp. Tumor Paru Dextra DD/ Tb Paru lama
EKG
Kesan : masih dalam batas normal

8. Assesment (penalaran klinis) :


Pasien laki-laki usia 62 tahun datang ke UGD dengan keluhan Sesak nafas
sejak 2 bulan SMRS. Sesak nafas bertambah bila melakukan aktivitas dan
berkurang bila istirahat, sesak juga timbul bila sedang tidur. Pasien juga mengeluh
timbul benjolan di leher sebelah kanan yang disertai demam yang naik turun.
Terbangun tiba-tiba karna sesak, mual, muntah, nafsu makan menurun, berat badan
menurun, batuk kering sejak 1 bulan SMRS, badan terasa pegal-pegal disertai rasa
lemas dan mudah lelah serta kepala terasa sakit.
2 hari SMRS tangan sebelah kanan dirasakan membengkak dan kemudian
dibawa oleh keluarganya ke UGD RSPJ.
Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan tekanan darah tinggi 160/100
mmHg, terdapat massa pada leher kanan, venektasi pada kulit.
Pada pemeriksaan penunjang darah ditemukan Trombosit 131.000 /uL, Limfosit
12,2 %, Monosit 8,2 %. Pemeriksaan radiologi ditemukan susp. Tumor paru kanan
DD/ TB Paru lama.
9. Plan :
Diagnosis klinis : Sindroma Vena Cava Superior
Tatalaksana :
Medikamentosa
:
02 3 lpm
IVFD RL 20 tpm
Furosemida 2A/12 jam iv
Lansoprazol 1-0-1
Dexametason 1A/12 jam iv
Non-medikamentosa :
Diet rendah garam
Diet rendah protein
Pendidikan :
Memberitahu pasien agar mengurangi aktivitas berat yang dapat memicu sesak nafas
Konsultasi :
dr. spesialis Jantung tatalaksana sindroma vena cava superior