Anda di halaman 1dari 6

Manajemen Perpajakan

"Pertanyaan dan Jawaban Pertemuan 1 Tentang Ketentuan


Umum dan Tata Cara Perpajakan"

Disusun Oleh Kelompok 1:


Adi Prasetyo Utomo
Randy Aliftiardy Bulonggodu

PROGRAM PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016

Pertanyaan:
1. Apa yang dimaksud pengusaha kena pajak yang dikukuhkan secara jabatan? Dan apa saja
sanksi yang dikenakan?
2. Penanggung pajak mengalihkan barang dimiliki untuk mengecilkan kegiatan usaha. Apa
yang dimaksud pernyataan tersebut?
3. Apa yang dimaksud dengan hak mendahulu dan daluarsa pajak?
4. Apakah seseorang yang memiliki usaha sedangkan penghasilan < PTKP wajib memiliki
NPWP?
5. Kapan wajib pajak mengajukan surat ketetapan pajak mengenai pengurangan atau
pembatalan ketetapan pajak dan ketetapan pajak yang seperti apa?
Jawab:
1. Berdasarkan Ketetentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 (UU KUP), Pasal 2 ayat (4)
menyebutkan bahwa Direktur Jenderal Pajak (DJP) menerbitkan NPWP dan/atau PKP
secara jabatan apabila Wajib Pajak (WP) atau Pengusaha Kena Pajak tidak melaksanakan
kewajibannya. Sedangkan Pasal 2 ayat (1) UU KUP sendiri berbunyi Setiap WP yang
telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan WP dan kepadanya diberikan
NPWP. Dan Pasal 2 ayat (1) UU KUP berbunyi Setiap WP sebagai Pengusaha yang
dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan
perubahannya (UU PPN), wajib melaporkan usahanya pada kantor DJP yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha, dan tempat kegiatan
usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi PKP.Jadi, bagi siapa saja yang telah
memenuhi syarat untuk memiliki NPWP atau dikukuhkan sebagai PKP namun tidak
melaksanakan kewajibannya maka NPWP dan PKPnya dapat ditetapkan secara jabatan
oleh DJP.
Adapun sanksi terkait hal ini yaitu setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan
diri atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP atau Pengukuhan PKP,
sehingga dapat merugikan pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun dan denda paling sedikit 2 kali jumlah pajak
terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling tinggi 4 kali jumlah pajak terutang
yang tidak atau kurang bayar.Pidana tersebut di atas ditambah 1 kali menjadi 2 kali sanksi

pidana, apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum
lewat 1 tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan.
2. Jadi pernyataan tersebut berkaitan dengan penagihan seketika dan sekaligus yang berarti
tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan oleh jurusita pajak kepada penanggung pajak
tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran yang meliputi seluruh utang pajak dari
semua jenis pajak, masa pajak, dan tahun pajak. Dalam kondisi normal, penagihan
dilaksanakan setelah jatuh tempo pembayaran, didahului dengan penerbitan surat teguran,
dilanjutkan tindakan penagihan lainnya. Pada kondisi tertentu termasuk kondisi dimana
penanggung pajak mengalihkan barang dimiliki untuk mengecilkan kegiatan usaha harus
dilakukan penagihan seketika dan sekaligus. Hal ini dikarenakan penanggung pajak akan
melakukan upaya untuk menghindari penagihan pajak dengan cara memindahkan hak,
memindahtangankan, menyewakan, meminjamkan, menyembunyikan, menghilangkan
barang yang hendak dilakukan penyitaan oleh juru sita.
3. Hak mendahulu:
Jadi hak mendahulu adalah hak yang dimiliki negara untuk utang pajak atas barang-barang
milik penanggung pajak. Ketentuan tentang hak mendahulu, meliputi pokok pajak, bunga,
dan denda administrasi, kenaikan dan biaya penagihan. Negara mempunyai kedudukan
sebagai kreditur preferen yang dinyatakan mempunyai hak mendahulu atas barang-barang
milik penanggung pajak yang akan dilelang di muka umum.Pembayaran kepada kreditur
lain diselesaikan setelah utang pajak dilunasi. Hak mendahulu lebih kuat dari segala hak
lainnya kecuali terhadap :

Biaya perkara yang semata-mata disebabkan karena suatu penghukuman untuk

melelang suatu barang bergerak maupun tidak bergerak.


Biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan suatu barang.
Biaya perkara yang semata-mata disebabkan karena pelelangan dan penyelesaian suatu

warisan, biaya ini didahulukan daripada gadai dan hipotek.


Daluarsa pajak:
Terdapat 2 konteks kondisi daluarsa pajak yaitu :
a. Dalurasa Penetapan Pajak
Adalah sebuah istilah yang merujuk kepada jangka waktu penggunaan hak yang
diberikan kepada DJP untuk melakukan pengujian kepatuhan / kebenaran materil dan
formil pemenuhan kewajiban pajak oleh WP. Dasar hukumnya adalah Pasal 13 UU No.

16 thn 2009 tentang KUP .Selama jangka waktu 5 tahun ini hal yang dapat dilakukan
DJP meliputi antara lain :
Menganalisis kebenaran materil yang disampaikan WP dengan melakukan uji

konfirmasi dengan data internal atau eksternal


Melayangkan surat himbauan / klarifikasi kepada WP jika diperoleh temuan yang

berpotensi menimbulkan penambahan jumlah pajak yang masih harus dibayar.


Menindaklanjuti surat himbauan atau klarifikasi jika sampai 2 kali dilayangkan tidak
dijawab oleh WP, dengan melakukan kunjungan , konseling, hingga sampai tahap

usul pemeriksaan atau verifikasi.


Melakukan verifikasi atau pemeriksaan pajak
Menerbitkan SKP KB untuk menagihkan pokok pajak yang masih kurang dibayar

termasuk bunga dengan dan kenaikan yang menyertainya.


Contohnya jika ada surat permintaan himbauan pembetulan SPT Tahunan PPh untuk tahun
pajak 2010 dimana contoh sekarang adalah tahun 2016 maka surat tersebut dapat ditolak.
b. Daluarsa ketetapan pajak
Yaitu sebuah istilah yang merujuk kepada jangka waktu penggunaan hak DJP untuk
melakukan pengaihan pajak termasuk bunga, denda, kenaikan dan biaya penagihan
pajak. Terhitung 5 tahun sejak STP , SKPKB, SKPKBT, SK Pembetulan, SK
Keberatan, Putusan Banding, Putusan Peninjauan Kembali. Secara sederhana, dapat
disimpulkan

bahwa

masa

daluarsa

ketetapan

pajak

sebenarnya

merupakan

perpanjangan dari masa daluarsa penetapan pajak, dengan catatan apabila dalam masa 5
tahun sejak terutangnya kewajiban pajak, DJP telah selesai melakukan pengujian
kepatuhan / kebenaran materil dan formil sesuai dengan ketentuan yagn berlaku.Dalam
kaitannya dengan daluarsa ketetapan pajak maka selama jangka waktu 5 thaun DJP
dapat melakukan :

Penagihan pajak dengan pendekatan persuasif seperti surat teguran, surat peringatan,
surat lain sejenis, sebelum masuk jatuh tempo yang mengharuskan dilakukan

penagihan pajak.
Melakukan penagihan seketika dan sekaligus
Menerbitkan Surat Paksa
Melakukan penyitaan berdasakran surat perintah melakukan penyitaan
Melakkan penjualan secara lelang
Melaksanakan pencegahan dan penyanderaan terhadap penaggung pajak
Bila dipandang perlu, melakukan kerja sama dengan kepolisian, kejaksaan,
kementerian yang membidangi hukum dan UU, pemda setempat, Badan Pertanahan
Nasional, Dirjen Perhubungan Laut, Pengadilan Negeri, Bank dll.

Tetapi ada satu kondisi yang menyebabkan tidak berlakunya masa 5 tahun tersebut
yaitu dalam hal diketahui bahwa WP terbukti melakukan tindak pidana dibidang pajak
atau lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pendapatan negara berdasarkan
keputusan pengadilan tetap.
4. Yang wajib mendaftarkan diri untuk diberikan NPWP adalah wajib pajak yang sudah
memenuhi persyaratan subjektif (orang pribadi, warisan yang belum terbagi sebagai satu
kesatuan, menggantikan yang berhak, badan, bentuk usaha tetap) dan persyaratan objektif
yaitu persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan atau
diwajibkan untuk melakukan pemotongan / pemungutan sesuai dengan ketentuan UUPPh,
maka bagi bukan pengusaha akan mendapatkan NPWP, sedangkan bagi pengusaha akan
mendapatkan NPWP dan dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak. Bagi WPOP yang
menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas wajib mendaftarkan diri untuk
diberikan NPWP paling lama 1 bulan setelah saat usaha mulai dijalankan. Apabila
penghasilan WP < PTKP tetap wajib mendaftarkan diri untuk diberikan NPWP sesuai
dengan peraturan menteri keuangan nomor 182/2015. Karena pada dasarnya NPWP
berfungsi sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda
pengenal atau identitas wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajibannya.
5. Direktorat Jenderal Pajak karena jabatannya atau atas permohonan WP dapat :
a. Mengurangkan atau membatalkan surat ketetapan pajak atau STP yang tidak benar;
dan/atau
b. Membatalkan hasil pemeriksaan atau surat ketetapan pajak hasil pemeriksaan yang
penerbitannya tanpa penyampaian surat pemberitahuan hasil pemeriksaan atau tanpa
dilakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan dengan WP. Untuk SKPKB atau
SKPKBT tersebut harus yang tidak diajukan keberatan, diajukan keberatan tetapi telah
dicabut oleh WP atau diajukan keberatan tetapi tidak dipertimbangkan karena tidak
memenuhi persyaratan.
Permohonan pengurangan atau pembatalan tersebut harus memenuhi ketentuan :
a. 1 permohonan untuk 1 (STP, atau surat ketetapan pajak termasuk surat ketetapan
pajak dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa penyampaian surat
pemberitahuan hasil pemeriksaan atau pembahasan akhir hasil pemeriksaan).
b. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia.
c. Mencantumkan jumlah pajak yang seharusnya terutang menurut penghitungan WP
disertai dengan alasan yang mendukung permohonannya.
d. Disampaikan kepada DJP melalui Kantor Pelayanan Pajak tempat WP terdaftar.

e. Surat permohonan ditandatangani oleh WP, dan dalam hal surat permohonan
ditandatangani oleh bukan WP, surat permohonan tersebut harus dilampiri dengan
surat kuasa khusus.
Permohonan WP dapat diajukan paling banyak 2 kali dan permohonan kedua
harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 bulan sejak tanggal keputusan DJP
atas permohonan yang pertama dikirim, kecuali untuk permohonan pembatalan surat
ketetapan pajak dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa penyampaian surat
pemberitahuan hasil pemeriksaan atau pembahasan akhir hasil pemeriksaan yang
hanya dapat diajukan 1 kali saja.
DJP harus memberikan keputusan atas permohonan WP dalam jangka waktu
paling lama 6 bulan sejak tanggal diterimanya permohonan WP. Apabila jangka waktu
tersebut telah lewat dan DJP tidak memberi suatu keputusan, permohonan yang
diajukan oleh WP dianggap dikabulkan dan harus menerbitkan keputusan sesuai
dengan permohonan yang diajukan.
Keputusan yang diterbitkan DJP dapat berupa mengabulkan sebagian atau
seluruhnya, atau menolak permohonan WP. WP dapat meminta secara tertulis kepada
DJP mengenai alasan yang menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagian
permohonan WP.