Anda di halaman 1dari 14

BAB 3

METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah dasar untuk melakukan sebuah penelitian dan di
dalamnya terkandung alat apa yang digunakan serta bagaimana prosedur
pelaksanaannya. Metode penelitian memiliki sejumlah langkah-langkah yang
harus ditempuh untuk memperoleh suatu kesimpulan yang merupakan jawaban
bagi permasalahan yang diteliti. Bab ini akan menjelaskan beberapa hal yang
berkaitan dengan metode penelitian yang meliputi jenis dan desain penelitian,
variabel

penelitian,

populasi

dan

sampel,

validitas,

reliabilitas,

teknik

pengumpulan data, dan teknik pengolahan data.

3.1

Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian yang berjudul

Hubungan antara Kesepian dengan Online Social Interaction pada Remaja


adalah dengan metode penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah proses
induksi enumeratif, dengan menarik kesimpulan berdasarkan angka-angka dan
melakukan abstraksi berdasar generalisasi, untuk melakukan prediksi bahwa suatu
variabel mempengaruhi variabel yang lain (Alsa, 2010:13).

3.2

Desain Penelitian
Desain

penelitian

adalah

suatu

prosedur

yang

bertujuan

untuk

mengumpulkan data, menganalisis, dan melaporkan hasil penelitian (Alsa,


2010:12). Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

42

kuantitatif korelasional. Penelitian kuantitatif korelasional adalah penelitian yang


mengukur atau menguraikan pengujian hubungan antara dua atau lebih variabel
untuk sekelompok subyek penelitian (Alsa, 2010: 20).
Penelitian yang berjudul Hubungan antara Kesepian dengan Online
Social Interaction pada Remaja menggunakan desain penelitian metode
kuantitatif korelasional.

3.3

Variabel Penelitian

3.3.1

Identifikasi Variabel Penelitian


Sutrisno Hadi dalam Arikunto (2006: 116) mendefinisikan variabel

sebagai gejala yang bervariasi. Gejala adalah objek penelitian, sehingga variabel
adalah objek penelitian yang bervariasi, dalam penelitian sosial dan psikologi,
satu variabel tidak mungkin hanya berkaitan dengan satu variabel lain saja
melainkan selalu saling dipengaruhi dengan banyak variabel lain. Peneliti dapat
memilih salah satu beberapa di antara banyak variabel bebas yang mempengaruhi
variabel terikat, yang menjadi fokus penelitiannya (Azwar 2010a: 62).
Penelitian kali ini, peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas
dan variabel terikat. Variabel bebas adalah suatu variabel yang variasinya
mempengaruhi variabel lain (Azwar, 2010a: 62).
a;

Kesepian
Kesepian merupakan kondisi emosional digambarkan dengan perasaan

yang tidak menyenangkan karena kurang adanya keakraban, perhatian dari orang
lain.

b;

Online Sosial Interaction


Berinteraksi secara online merupakan interaksi secara tidak langsung

dalam penggunaan internet melalui media sosial untuk aktivitas-aktivitas


interpersonal melakukan online agar bertemu orang lain, membangun hubungan
mencari dukungan emosional, intensitas penggunaan minimal 5 jam/hari.
3.3.2

Hubungan Antar Variabel


Variabel-variabel dalam penelitian tentunya saling berhubungan antara

variabel satu dengan variabel yang lain. Hubungan antar variabel dalam penelitian
ini bisa dilihat pada gambar berikut.

Kesepian (X)

Online Social Interaction


(Y)

Gambar 3.1 Hubungan Antar Variabel


Secara teoretis dapat dijelaskan bahwa hubungan antara variabel bersifat
korelasional, antara (X) sebagai variabel bebas yaitu kesepian dan variabel (Y)
sebagai variabel terikat yaitu Online Social Interaction (OSI). Variabel bebas (X)
yaitu kesepian memiliki hubungan dengan variabel terikat (Y) yaitu Online Social
Interaction (OSI).

3.4

Populasi dan Sampel

3.4.1

Populasi
Populasi didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai

generalisai hasil penelitian (Azwar, 2010a: 77). Sedangkan menurut Arikunto

(2006: 130) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam


penelitian yang berjudul Hubungan antara Kesepian dengan Online Social
Interaction pada Remaja adalah mahasiswa FIP Unnes, dengan kriteria pengguna
media sosial yang aktif selama 1 tahun dan menggunakan media sosial minimal 5
jam per hari.
3.4.2

Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi. Sampel dapat diartikan sebagai

bagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006: 131). Pengambilan
sampel pada penelitian kali ini, dimaksudkan peneliti untuk menggeneralisasi
hasil penelitian dengan mengangkat kesimpulan penelitian. Sampel juga dapat
diartikan sebagai bagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006:
131). Sampel pada penelitian yang berjudul Hubungan antara Kesepian dengan
Online Social Interaction pada Remaja yaitu menggunakan insidental sampling.
Data populasi mahasiswa yang menggunakan media sosial tidak didapatkan,
sehingga pengambilan sampel dilakukan sesuai kebetulan, berdasarkan kriteria
yang ada.

3.5;

Metode Pengumpulan Data

3.5.1

Pengumpulan Data
Penting bagi peneliti untuk mengumpulkan data penelitian, selain itu alat

yang digunakan hendaknya tepat untuk pengukuran. Alat pengumpulan data yang
digunakan untuk mengukur hubungan kesepian dengan OSI adalah skala

psikologi. Skala yang digunakan yaitu skala kesepian dan skala OSI. Berisi
mengenai pernyataan-pernyataan untuk mengukur atribut psikologis individu.
Menurut Azwar (2009:3) ada beberapa karakteristik skala sebagai alat ukur
psikologi, yaitu:
a;

Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang secara tidak


langsung dapat mengungkap atribut yang akan diukur dan juga melalui
indikator perilaku tersebut atribut psikologi dapat terungkap.

b;

Jawaban subyek terhadap satu aitem baru merupakan sebagian dari banyak
indikasi mengenai atribut yang diukur, sedangkan kesimpulan akhir suatu
diagnosis baru dapat dicapai bila semua aitem telah respons.

c;

Respons subyek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban benar atau


salah. Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur
dan sungguh-sungguh. Hanya saja, jawaban yang berbeda akan
diinterpretasikan berbeda pula.

3.5.2

Instrumen Penelitian
Skala yang digunakan sebagai instrumen penelitian ini adalah skala Likert.

Lalu skala dibuat dengan adanya aitem favorable dan unfavorable. Skala
Kesepian dengan jumlah favorabel: 30 dan unfavorabel: 11. Jadi jumlah skala
ada 41 aitem. Kemudian penulis membagi menjadi 5 kategori, yaitu: SS (Sangat
Sesuai), S (Sesuai), N (Netral), TS (Tidak Sesuai), dan STS (Sangat Tidak
Sesuai).

Tabel 3.1 Blueprint Kesepian


Variabel

Aspek

Indikator Perilaku Favorable

Unfavor-

Jumlah

Kesepian

Emotional
Loneliness

Social
Loneliness

Individu merasakan
ketiadaan hubungan
emosional yang
intim
Individu merasa
tidak ada yang
peduli
Individu merasa
hampa dan sendiri
Individu kurang
mampu membentuk
hubungan dekat
dengan orang lain
Kurang adanya
keterlibatan diri
dalam jaringan
sosial
Individu merasa
dikucilkan dengan
sengajadari jaringan
sosial
Individu merasa
tidak memiliki
kelompok untuk
berbagi rutinitas
keseharian dalam
lingkungannya
Kurangnya
hubungan
pertemanan

able
5*, 26*, 32* 11, 17*, 30 6

12,* 22,
31*,40*

7*, 24, 33*, 13


25*, 38*
14*, 23, 37*, 4
41*

3, 16*, 28*,
36

21*

8*, 20*, 35*, 39


29*

10*, 15*, 34* 2*, 19

1*, 9, 18*

27*

Total
Keterangan: * = aitem yang valid

41

Skala Online Social Interaction dengan jumlah favorable: 28 dan


unfavorable: 16. Jadi jumlah skala

ada 44 aitem. Kemudian penulis

membagi menjadi 5 kategori, yaitu: SS (Sangat Setuju), S (Setuju),TS


(Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju).
Tabel 3.2. Sebaran Aitem Skala Online Social Interaction
Variabel

Aspek

Online Social
Interaction

Anonimitas

Indikator
Favorable
Perilaku
Membentuk
6*, 14*, 35*
kesan ideal
Selektif dalam 21, 30*, 32

Unfavor- Jumlah
able
2, 10*, 37 6
19, 10

memilih teman
Keterbukaan Fleksibilitas
7*, 26*, 28*, 3
Diri
dalam
38*
perkenalan diri
Mengekspresika 13*, 16*,
22
n diri
20*, 25*,
11*, 36*
Membangun
41*, 27*,
15, 8, 44
hubungan akrab 29*, 34*, 4*
Sedikit
Memiliki
1, 31*, 33* 5, 39
Resiko yang tanggung jawab
Dirasakan
yang lebih
rendah secara
personal dalam
interaksi online
Penurunan
23*, 9*
17, 12
terhadap norma
sosial
Kontrol yang Dapat
43, 18
42, 24
Lebih Baik mengendalikan
hubungan
dengan orang
lain
Total
Keterangan: * = aitem yang valid

3.6

5
7
8
5

4
4

44

Uji Validitas dan Reliabilitas Penelitian


Sebelum dilakukan penelitian, penulis akan melakukan pengujian validitas

dan reliabilitas, adapun tujuan dari pengujian alat:


a;

Mengetahui lama waktu yang dibutuhkan dalam mengerjakan alat ukur.

b;

Mengetahui pemahaman responden terhadap alat ukur yang diberikan.

c;

Mengetahui validitas dari alat ukur, untuk diketahui tingkat kevalidanya

d;

Mengetahui reliabilitas dari alat ukur, untuk mengetahui tingkat


reliabelnya.

3.6.1

Uji Validitas
Menurut Azwar (2010: 99) Validitas skala didapatkan berdasarkan kawasan

alat ukur yang teridentifikasi dengan baik dan dibatasi dengan jelas.Validitas alat

ukur menunjukan pada tingkat sejauh mana suatu tes mengukur apa yang
dimaksudkan untuk diukur (Purwanto, 2013: 75). Validitas untuk mengetahui
apakah skala mampu menghasilkan data yang sesuai dengan tujuan ukurnya
diperlukan suatu pengujian suatu validitas.
Penelitian ini menggunakan pengujian dengan korelasi product moment,
(Hadi, 2000)
Y

X 2

Y 2

N}

2
Y

x
{ 2
( X)
xy

xy=
r
Kerterangan :
rxy
= Koefisien korelasi antara X dan Y
xy
= Product dari X kali Y
N
= Jumlah subyek yang diselidiki
xy = Jumlah asli perkalian X dan Y
Y
= Jumlah seluruh skor Y
X
= Jumlah seluruh skor X

3.6.2;

Uji Reliabilitas
Reliabilitas di definisikan sebagai tingkat sejauh mana skor tes konsisten

(Consistence), dapat dipercaya, dan dapat diulang (Purwanto, 2013: 81). Menurut

Azwar (2010: 83) Reliabilitas mengacu pada tingkat konsistensi dan


keterpercayaan ukur, dan mengandung bentuk keakuratan suatu alat ukur. Jika
dilakukan pengukuran terhadap objek yang sama tetapi dalam waktu yang
berbeda, alat ukur yang reliabel akan menghasilkan skor yang sama. Koefisien
reliabilitas bergerak dari 0,0 sampai 1,0, dimana 0,0 menunjukan angka
reliabilitas yang paling rendah sampai ke yang sempurna pada koefisien 1,0 dan
koefisien yang mencapai 1,0 jarang dijumpai (Azwar, 1999: 83).
Skala uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbachs (dalam
Azwar, 2005:44) sebagai berikut:
Sy 12+ Sy 22
=2[1
]
2
Sx
Keterangan:
Sy 12 dan Sy 22 : Varians skor Y1 dan Varians skor Y2
Sx
: Varians Skor X
Peneliti menggunakan bantuan aplikasi komputer, di mana semakin koefisien
mendekati 1,0 maka semakin tinggi tingkat reliabilitasnya. Sebaliknya semakin
mendekati 0,0 maka akan rendah tingkat reliabilitasnya.

3.6.3; Teknik Analisis Data

Suatu ubahan dapat diramalkan dengan ubahan lain, apabila antara ubahan
yang diramalkan disebut kriterium, dan ubahan yang digunakan untuk meramal
atau disebut prediktor, terdapat korelasi yang signifikan (Hadi, 2004). Korelasi
product moment digunakan untuk memprediksi antara variabel independen
kesepian, dengan variabel dependent yaitu Online Social Inetarction (OSI).
Metode untuk analisis data yang digunakan adalah korelasi product
moment (Multiple Regresion). Skala dari variabel kesepian dengan skala OSI
dengan analisis statistik SPSS Versi 20.0 For Windows.

10

3.7

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian


Kualitas alat ukur dapat menggambarkan baik buruknya suatu penelitian.

Validitas merupakan dua hal yang saling berkaitan dan sangat berperan dalam
menentukan kualitas alat ukur. Sebuah alat ukur yang digunakan dalam penelitian
ini harus diketahui validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu agar data yang
diperoleh benar-benar mencerminkan keadaan yang sesungguhnya dan dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Setelah melakukan serangkaian uji validitas menggunakan korelasi
product moment dan reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach terhadap 60
responden pada remaja. Instrumen penelitian menggunakan skala kesepian dengan
jumlah aitem sebanyak 41 pernyataan.
3.7.1;

Validitas
Validitas skala digunakan untuk mengetahui apakah skala psikologi

mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya. Validitas
skala didapatkan berdasarkan kawasan alat ukur yang teridentifikasi dengan baik
dan dibatasi dengan jelas (Azwar. 2010: 99). Validitas alat ukur menunjukan pada
tingkat sejauh mana suatu tes mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur
(Purwanto, 2013: 75). Validitas digunakan untuk mengetahui apakah skala mampu
menghasilkan data yang sesuai dengan tujuan ukurnya diperlukan suatu pengujian
suatu validitas.
Validitas dalam penelitian ini adalah validitas isi dan validitas konstruk.
Validitas isi, merupakan instrumen yang disusun berdasarkan pendapat baik
sendiri atau bersama dengan orang lain (Lapau. 2013: 110). Pengujian validitas isi

11

dilakukan oleh pakar (expert judgement) dalam hal ini adalah dosen pembimbing
penulis. Penulis berkonsultasi kepada dosen untuk meyakinkan bahwa instrumen
yang dibuat telah memenuhi syarat untuk digunakan dalam penelitian. Selain
validitas isi, penelitian ini menggunakan validitas konstruk.
Validitas

konstruk

mengukur,

apakah

skor-skor

pada

instrumen

mengungkap suatu konstruk tertentu. Menurut Purwanto (2013: 80), aitem-aitem


yang memiliki korelasi tinggi dengan total item menunjukan bahwa aitem tersebut
mengukur konstruk yang sama. Validitas konstruk penelitian ini diukur dengan
menghitung indeks korelasi Antara skor aitem dan skor total aitem denan
menggunakan teknik korelasi product moment dengan bantuan software olah data
statistik. Melalui langkah ini, sekaligus dapat diketahui butir-butir aitem yang
gugur dan valid. Aitem yang valid akan ditindaklanjuti sebagai dasar pengolahan
perhitungan statistik selanjutnya, yakni perhitungan reliabilitas.

3.7.1.1; Hasil Uji Validitas Skala Kesepian

Setelah peneliti melakukan uji coba, dari 41 aitem skala kesepian ada 28 aitem,
ada perubahan dalam penomoran aitem yang dikatakan valid dengan taraf
signifikansi 1% dan 5 % sebagai berikut:
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Skala Kesepian
Variabel
Kesepian

AspekAspek
Emotional
Loneliness

Indikator
Perilaku
Individu
merasakan
ketiadaan
hubungan
emosional yang
intim
Individu merasa
tidak ada yang

Favora Unfavorab Jumlah


ble
le
1, 9, 17 25
4

3, 12, 18

12

Social
Loneliness

peduli
Individu merasa 7,
10,
hampa dan
21, 26
sendiri
Individu kurang 8, 13, 19
mampu
membentuk
hubungan dekat
dengan orang
lain
Kurang adanya 2, 4,
22
keterlibatan diri
dalam jaringan
sosial
Individu merasa 4,
14,
dikucilkan
24, 27
dengan
sengajadari
jaringan sosial
Individu merasa 5, 15, 2028
tidak memiliki
kelompok untuk
berbagi rutinitas
keseharian dalam
lingkungannya
Kurangnya
6, 16
23
hubungan
pertemanan

Total

4
3

3
28

3.7.1.2 Hasil Uji Validitas Skala Online Social Interaction (OSI)


Setelah peneliti melakukan uji coba, dari 44 aitem skala OSI ada 24 aitem,
ada perubahan dalam penomoran aitem yang dikatakan valid dengan taraf
signifikansi 1% dan 5 % sebagai berikut:
Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Skala Online Sosial Interaction (OSI)
Variabel

Aspek

Online Social
Interaction

Anonimitas

Keterbukaan

Indikator
Perilaku
Membentuk
kesan ideal
Selektif dalam
memilih teman
Fleksibilitas

Favora Unfavorab Jumlah


ble
le
2, 10, 1524
4
3

5, 7, 17,

13

Diri

dalam
22
perkenalan diri
Mengekspresik 1, 11,
an diri
14, 19,
21, 23
Membangun 4, 9, 16,
hubungan akrab 18, 20
Sedikit Resiko Memiliki
6, 12
yang Dirasakan tanggung jawab
yang lebih
rendah secara
personal dalam
interaksi online
Penurunan
8,13
terhadap norma
sosial
Total

3.7.2

6
5
2

2
24

Reliabilitas
Reliabilitas didefinisikan sebagai tingkat sejauh mana skor tes konsisten,

dapat dipercaya, dan dapat diulang (Purwanto, 2013: 81). Menurut Azwar (2010:
83), reliablitas mengacu pada tingkat konsistensi dan keterpercayaan ukur, dan
mengandung bentuk keakuratan suatu alat ukur.
3.7.2.1 Hasil Uji Reliabilitas Skala Kesepian
Berdasarkan analisis menggunakan rumus Alpha Cronbach dengan
bantuan software olah data statistik. Diperoleh reliabilitas aitem pada skala
kesepian sebesar 0,888.
3.7.2.2 Hasil Uji Reliabilitas Online Social Interaction (OSI)

14

Berdasarkan analisis menggunakan rumus Alpha Cronbach dengan


bantuan software olah data statistik. Diperoleh reliabilitas aitem pada skala OSI
sebesar 0,889.