Anda di halaman 1dari 6

BELAJAR BERADAPTASI DENGAN BENCANA BANJIR,

KEKERINGAN DAN TANAH LONGSOR DI INDONESIA


Sejak reformasi bergulir tahun 1998 maka berbagai bencana di Indonesia terus
datang dan mengakibatkan korban material, jiwa dan sarana infrastruktur / jalan jembatan,
rumah dll. Akhir-akhir ini memang bencana banjir, kekeringan dan tanah longsor rutin setiap
tahun terjadi di Indonesia dan menyebar merata di beberapa tempat. Sebagai contoh banjir
bandang Bahorok di Sumatra Utara dan banjir Wasior di Irian, bencana kekeringan di
Gunung Kidul, Praci Wonogiri, dll, serta longsor yang terjadi di Banjarnegara, Purworejo,
Sukabumi, dan Garut.
Dengan adanya bencana yang datang secara tiba-tiba dan sulit untuk diprediksi maka
sering membawa korban jiwa dan material yang tidak sedikit. Menyadari akan bencana yang
datang dan harus segera ditangani maka didirikan suatu lembaga yang bernama BNPB
(Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk di Pusat dan untuk tiap-tiap daerah
didirikan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah).
Di samping itu peran dari beberapa fihak untuk menyadarkan masyarakat sekitar
bencana agar memiliki sikap untuk bersahabat dengan bencana. Yang dimaksud bersahabat
adalah mengenal betul akan setiap karakter dari faktor penyebab bencana, untuk kemudian
dijadikan dasar saling melakukan adaptasi. Bila suatu lokasi sudah dalam kategori sangat
rawan bencana maka seyogianya masyarakat yang tinggal di situ segera pindah atau minta
direlokasi oleh pemerintah daerah (BPBD).
Gambar 1 menunjukkan beberapa kejadian bencana banjir di Jakarta, Longsor di
Banjarnegara, dan Kekeringan di Merapi. Berikut ini beberapa faktor penyebab daerah rawan
bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan yang sering terjadi antara lain :

Jakarta merupakan daerah


langganan banjir tahunan,
seharusnya bisa diantisipasi

Longsor bulan Desember


2014 di Banjarnegara,
korban 95 orang meninggal

Kekeringan pada lahan


kering di Lereng Merapi
setelah erupsi tahun 2010

Gambar 1. Beberapa contoh bencana Banjir, Longsor dan Kekeringan di Jawa.

A. Daerah berpotensi Banjir yaitu pada daerah dengan topografi datar baik dataran
di pegunungan (plateau), dataran di perbukitan (summit area) dan dataran rendah
(plain) atau dataran banjir (flood plain). Beberapa contoh daerah yang masuk
pada daerah dataran banjir seperti pantai Utara Jawa (Pantura) dan beberapa
pantai dataran banjir di pulau-pulau lainnya di Indonesia. Beberapa penyebab
terjadinya banjir antara lain :
a. Resapan/ infiltrasi tanah rendah karena pori tanah tertutup;
b. Kerusakan lahan karena kerusakan hutan (penutupan lahan);
c. Curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi;
d. Volume tampung sungai/waduk menurun karena pendangkalan, dan
e. Adanya rob dari air laut karena daratan menurun.
B. Daerah berpotensi longsor pada daerah miring dengan topografi pegunungan,
perbukitan sampai bergelombang dan berombak. Penyebab terjadinya longsor
antara lain :
a. Tanah miring sampai curam di atas kemiringan > 45%;
b. Ada sesar atau tanah labil, bergerak dan adanya retakan tanah;
c. Regolit dalam atau lebih dari 2 m tidak ada batuan padu (batuan induk);
d. Tekstur tanah liat dengan warna merah/hitam (lengket dan kembang kerut)
karena ada mineral Montmorillonit tipe 2:1 dan Kaolinit tipe 1:1 dan
e. Ada lapisan kedap air sebagai bidang luncur akibat adanya batuan
metamorf yang padu dan berlapis-lapis.

C. Daerah berpotnesi terjadinya kekeringan pada daerah yang tidak ada sumber
mata air, muka air tanah dalam, dan curah hujan rendah < 1000 mm/tahun.
Beberapa penyebab terjadinya kekeringan antara lain :
a. Formasi batuan kapur yang mudah meloloskan air hujan (perkolasi);
b. Daerah miring yang mengakibatkan aliran permukaan (run-off) lebih besar
dari pada infiltrasi dan permeabilitas (drainase dakhil);
c. Kapasitas tanah menyimpan air sangat rendah (soil moisture dan soil
holding capacity rendah);
d. Lahan terbuka/bero karena kerusakan hutan dan penutup lahan lainnya;
e. Curah hujan rendah <1000 mm/tahun dan
f. Musim kemarau panjang dan bulan kering >6 bulan.

Mengakrapi bencana banjir, longsor dan kekeringan perlu dikenali beberapa tandatanda akan datangnya bencana Banjir, Longsor dan Kekeringan (BLK) sebagai berikut :
A. Tanda-tanda bencana Banjir
a. Terjadinya hujan dengan intensitas tinggi dan curah hujan yang tinggi pula
dan berlangsung lama > 3 hari, tanpa adanya penyerapan dari tanah atau
infiltrasi rendah atau mudah mengalami titik jenuh;
b. Air hujan yang jatuh dan masuk ke sungai atau waduk-waduk meluap
karena melebihi daya tampungnya, sehingga meluap dan menggenangi
daerah sekitarnya dan
c. Air yang mengalir ke saluran mengalami penyumbatan karena
menumpuknya sampah atau saluran yang rusak atau terlalu sempit,
sehingga air tersumbat dan tidak dapat mengalir dengan baik.
B. Tanda-tanda bencana Longsor
a. Runtuhnya lapisan tanah pada tebing sungai sampai pada lereng bukit dan
pegunungan diikuti dengan miring dan tumbangnya pepohonan;
b. Tanah jenuh dan tanah menjadi berat serta mudah meluncur karena beban
berat grafitasi, akibat hujan dengan intensitas tinggi ( hujan > 200 mm dan
berlangsung lama > 3 hari);
c. Pada saat hujan air yang mengalir di tanah nampak keruh karena
bercampur dengan lumpur atau material retakan tanah;

d. Terjadi suara gemuruh yang semakin lama semakin keras karena


pergerakan material dari lereng atas menurun ke lereng bawah yang
membawa material tanah dan batuan;
e. Munculnya retakan-retakan di puncak gunung dan bukit dan retakan di
lereng yang sejajar dengan arah tebing;
f. Tebing mulai rapuh dan terbebani oleh tanah yang jenuh sehingga
beberapa material mulai berjatuhan seperti kerikil sampai batuan;
g. Munculnya mata air baru pada tebing-tebing karena air mengalir lewat
retakan halus sampai rekahan besar dan
h. Sifat-sifat longsor yang biasa terjadi setelah hujan mereda dan mulai
terang atau hujan telah berhenti.
C. Tanda-tanda bencana Kekeringan
a. Menurunnnya tingkat curah hujan dalam satu musim, di bawah curah
hujan normal < 1000 mm/tahun;
b. Kurangnya pasokan air permukaan dari sumber mata air atau air hujan dan
sifat tanah yang mudah meloloskan air seperti pada batuan berkapur. Hal
tersebut ditunjukkan dari ketinggian muka air sungai, waduk , danau dan
ketinggian muka air tanah dan
c. Kadar lengas tanah yang rendah sehingga kelembaban tanah rendah dan
kapasitas tanah menahan air juga rendah.
Tindakan yang seharusnya dilakukan untuk mencegah datangnya bencana akibat
ulah manusia atau secara alamiah dengan melakukan upaya sebelum bencana, saat terjadi
bencana dan setelah bencana terjadi.
A. Menghindari bencana banjir dan kekeringan
Menghindari bencana banjir dan kekeringan diperlukan kegiatan : a) memelihara
hutan dan sumber mata air, b) membuat waduk atau penampungan air, c)
meningkatkan serapan air tanah, dll. Dalam rangka menghindari bencana banjir
dan kekeringan beberapa tindakan berikut dapat dilakukan :
a. Sebelum terjadi banjir
-

Hindari tinggal di daerah bantaran sungai atau rentan banjir.

Tinggikan tempat tinggal sehingga aman dari genangan banjir.

Membangun tanggul untuk menghambat masuknya luapan air.

Carilah sumber informasi tentang siaga banjir dari radio, TV dll.

Waspadai banjir jika tinggal pada daerah yang berpotensi banjir.

b. Saat terjadi banjir


-

Segera lakukan evakuasi jika ada air bah atau banjir meluap.

Jika meninggalkan tempat tinggal pastikan aman dari penjarahan.

Pindahkan barang ke tempat tinggi yang lebih aman.

Matikan listrik dan jangan menyentuh peralatan listrik jika basah.

Jika berjalan di daerah banjir bawalah tongkat untuk menghindari


lubang jalan atau saluran yang bisa terjebak/terperosok.

Jangan mengendarai kendaraan dan lebih baik kendaraan


ditinggalkan saja.

c. Setelah terjadi banjir


-

Cari berita untuk mendapatkan informasi siaga banjir terbaru.

Perhatikan kualitas air jika dikonsumsi, layak atau tidak layak


diminum.

Hindari sisa-sia air banjir karena bisa timbul penyakit karena


kotoran.

Hindari air yang mengalir karena biasanya membawa penyakit.

Jauhi saluran listrik di bawah yang basah atau tergenang air.

Kembali ke rumah jika sudah dinyatakan aman oleh petugas.

Jauhi bangunan yang masih dikelilingi oleh genangan air.

Perbaiki septi tank, jamban, saluran air dll.

Bersihkan semua barang dan benda yang terkena air bah.

B. Menghindari bencana tanah longsor


Bencana longsor dapat disebabkan oleh kondisi tanah dan geomorfologi tanah
yang berpotensi longsor, yang umumnya akibat ulah manusia berupa
pengelolaan lahan yang salah. Untuk menghidnari bencana longsor dan dampak
yang ditimbulkan pada saat dan setelah terjadi longsor, maka dapat dilakukan
tindakan sebagai berikut :
a. Sebelum terjadi longsor
-

Hindari membangun rumah di wilayah yang rawan longsor


seperti di daerah lereng pegunungan dan perbukitan serta pada
tebing dekat dengan saluran air (sungai, waduk dll);

Kenali dengan baik tanda tanda daerah berpotensi longsor,


anatara lain :

1. Adanya pergeseran atau miring sampai roboh pada tanaman,


rumah, pagar dll;
2. Perhatikan retakan yang semakin lama melebar atau tanah tidak
stabil dan selalu berubah atau bergeser;
3. Terjadi retakan pada tembok, pagar, dinding, tanah dll;.
4. Fasilitas rumah seperti saluran, pipa rusak atau retak/patah;
5. Muncunya tonjolan tanah atau tanah ambles ke dalam
6. Suara gemuruh dan suara aneh yang semakin kuat.
7. Selalu siap jika hujan berlangsung lama setelah kemarau
panjang
8. Jika hujan lebat segera evakuasi pada daerah rawan longsor
9. Dengarkan suara-suara aneh karena gerakan material tanah,
tumbangnya kayu, rekahan tanah dll.

b. Setelah terjadi longsor


-

Hindari jalur bekas longsor, karena ada longsor susulan.

Setelah longsor dapat diikuti banjir bandang.

Membantu warga yang terjebak longsor dengan hati-hati.

Bantulah tetangga yang memiliki kebutuhan khusus yaitu orang


jompo, cacat badan, sakit dll.

Periksa dinding rumah atau bangunan lain yang rusak, untuk


segera dilakukan perbaikan.