Anda di halaman 1dari 19

BAB I.

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Istilah spina-bifida diartikan sebagai tulang belakang yang terbagi atau robek.
(delphie, 2006). Pada seorang bayi, kondisi semacam ini terjadi disebabkan salah satu bagian
atau lebih dari tulang belakang belum terbentuk secara penuh.
Spina bifida merupakan kelainan saluran neural akibat kegagalan dalam proses
penutupan arkus vertebra. Defek ini dapat terjadi di daerah lumbosakral (terbanyak ) selain
itu Spina bifida berarti terbelahnya arcus vertebrae dan bisa melibatkan jaringan saraf di
bawahnya atau tidak (USU, 2011).
Sementara itu menurut sumaryanti, Spina bifida, yaitu kondisi bawaan yang dapat
menyebabkan hilangnya indra rasa dan lemahnya otot tubuh bagian bawah (Sumaryanti,
2005).
Spina bifida adalah kelainan neural tube ( neural tube defect / NTD) yang terjadi
akibat kegagalan neural tube untuk menutup dengan sempurna, Spina Bifida juga merupakan
suatu abnormalitas sususan saraf pusat (SSP) berat. Spina Bifida muncul pada 1-2 dari 1000
kelahiran, namun apabila satu anak telah menderita maka resiko untuk anak lain menderita
Spina Bifida juga akan meningkat 2-3% karena kelainan ini juga akan berpeluang terjadi lagi
pada kehamilan berikutnya (Syukri, 2012).
Pada journal of pediatric 2011, tahun 1992-2009 di south Carolina rata-rata kejadian
Spina Bifida yang terdapat pada NTD adalah 0,69/100.000 (Ernawati, 2011).

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Pembentukan Tulang dan Terjadinya Spina Bifida


Pada saat manusia masih berada pada kandungan ibu, tulang tubuhnya masih berupa
tulang rawan, yang secara bertahap mengalami proses perubahan menjadi tulang yang lebih
solid. Proses pertumbuhan tulang, khususnya tulang belakang berlangsung dalam waktu yang
sangat lama.
Pertumbuhan tulang belakang secara pesat terjadi pada masa pubertas, sebagai
peralihan menuju pembentukan organ tubuh yang lebih matang. Pada anak perempuan terjadi
pada kisaran umur 12-14 tahun, sedangkan pada anak laki-laki terjadi pada sekitar umur 1415 tahun, pertumbuhan fisik anak laki-laki lebih lambat daripada anak perempuan, pada usia
12-14 tahun sering didapatkan anak perempuan lebih tinggi daripada anak laki-laki, karena
masa pubertas anak perempuan lebih cepat daripada anak laki-laki, tetapi pada usia sekitar 14
atau 15 tahun, anak laki-laki mulai tumbuh dengan pesat karena sudah mencapai usia
pubertas. Pertumbuhan mulai melambat ketika memasuki usia dewasa muda ( adolescent )
atau tahap remaja akhir, pada anak perempuan pertumbuhan tulang belakang berhenti pada
usia sekitar 18 tahun, sedangkan untuk anak laki-laki pada usia sekitar 24 tahun, akan tetapi
angka itu tidak menjadi patokan dan tidak berlaku bagi setiap orang (Wibowo, 2008).
Pada saat masa pertumbuhan tulang belakang berhenti, ciri tulang belakang pada ruas
tulang ekor dan sacrum membentuk menjadi satu.
Pembentukan system saraf pusat dimulai sejak bulan pertama perkembangan janin,
dimulai dari notocord kemudian terbentuk neuroectoderm dan berkembang menjadi bentukan

seperti pita pipih yang dinamakan neural plate, kemudian masuk ke dalam ke bagian
belakang embrio yang dinamakan neural groove.
Bagian samping dari neural groove akan melengkung ke atas (neural fold) dan
menyatu membentuk suatu tabung yang dinamakan neural tube, penyatuan / fusi dari neural
fold dimulai dari bagian tengah dari embrio dan bergerak ke arah atas ( cranial ) dan bawah (
caudal ). Bagian atas dinamakan anterior ( rostral ) neuropore dan bagian bawah dinamakan
posterior (caudal) neuropore. Anterior neuropore menutup pada hari 26 atau sebelumnya
sedangkan caudal neuropore akan menutup pada akhir minggu ke empat. Jika bagian dari
tabung neural (neural tube) tidak menutup, tulang belakang juga tidak menutup akan
menyebabkan terjadinya spina bifida (Ernawati, 2011).
Berikut adalah gambaran dari Patofisiologi Spina Bifida (Muttaqin, 2008)
Perkembangan awal dari embrio

Kelainan Kongenital

Kegagalan Penutupan elemen saraf dari kanalis spinalis

Defek pada arkus pascaerior tulang belakang

Kegagalan fungsi arkus pascaerior vertebra pada daerah lumbosakral

Spina Bifida Okulta

Paralisis Spastik

Spina Bifida Aperta

Peningkatan TIK

Terlibatnya struktur saraf

Risiko tinggi cedera


Resiko herniasi

Paralisis visera

Defisit Neurologis

Paralitis Motorik Paralisis Sensorik

Paralisis anggota gerak bawah


Kehilangan
sensorik anggota gerak bawah
Gangguan inkontinensia urine dan inkontinensia
alvi

3
Hambatan mobilitas fisik
Gambar 1. Patofisiologi Spina Bifida

II.2. DEFINISI
Menurut Chairuddin Rasyat pada tahun 1998, Spina Bifida merupakan suatu kelainan
bawaan berupa defek pada arkus pascaerior tulang belakang akibat kegagalan penutupan
elemen saraf dari kanal spinalis pada perkembangan awal embrio (Muttaqin, 2008).
Sama halnya dengan publikasi yang dilakukan oleh ernawati pada tahun 20011,
dimana Spina bifida berarti terbelahnya arcus vertebra yang bisa melibatkan jaringan saraf di
bawahnya atau tidak. Penyebabnya adalah kegagalan penutupan tube neural dengan
sempurna sehingga mempengaruhi neural dan struktur kutaneus ectodermal Kelainan ini
menyebabkan pembentukan struktur yang berkembang di luar tubuh (ernawati,2011). Spina
Bifida terjadi pada hari ke 17-20 atau minggu ke3-4 kehamilan (Ernawati,2011 ; CDK,2011).
Selain itu spina bifida atau mielodisplasia merupakan penyebab tersering kandung
kemih neurogenic pada anak dan 90% diantaranya berupa mieomenigokel dimana kandung
kemih neurogenik sering ditandai dengan inkontinensia urin, Spina bifida menyebabkan
terjadinya gangguan neorogik yang mengakibatkan gangguan fungsi otot dan pertumbuhan
tulang pada tungkai bawah serta gangguan fungsi otot sfringter (Febrianto, 2012).
Spina bifida terdiri dari sebuah hiatus yang biasanya terletak dalam vertebra
lumbosakralis, dan lewat hiatus ini menonjol sakus meninges sehingga terbentuk meningokel.
Jika

sakus

tersebut

juga

berisi

medulla

spinalis,

anomali

tersebut

dinamakan

meningomielokel. Dengan adanya rakiskisis total, medulla spinalis tergambar sebagai pita
jaringan yang berwarna merah serta menyerupai spons dan terletak dalam suatu sulkus yang
dalam. Dalam keadaan ini, bayi segera meninggal saat lahir. Pada kasus-kasus lainnya, defek
yang terjadi mungkin sangat ringan seperti spina bifida okulta. Malformasi yang menyertai,
khususnya hidrosefalus, anansefalus dan clubfoot umum terdapat. Jika bagian otak
mengalami protrusion ke dalam sakus, terjadi meningoensefalokel (Ernawati, 2011).

Umumnya, masalah utama pada gerak yang dihadapi oleh anak spina bifida adalah
kelumpuhan dan kurangnya kontrol gerak, Spina bifida merupakan contoh dari
ketidakberfungsian bawaan pada tulang belakang penyebab kelumpuhan. Pada tulang
belakang yang normal, terdapat sebuah kanal/ saluran melalui pusat yang berisi syaraf
tulang belakang, sebagai rumah syaraf yang menghubungkan otak ke berbagai bagian tubuh.
Apabila terjadi robek pada tulang belakang, maka kanal pusat tidak sepenuhnya memenuhi
daerah tulang belakang jadi hanya sampai pada tempat yang robek saja. Oleh karenanya
dimungkinkan syaraf tulang belakang menutupi sebagian tulang belakang yang terbuka
tersebut, dan menunjukkan adanya gumpalan atau benjolan pada bagian belakang seorang
bayi
Adanya kerusakan dan gangguan pada syaraf di bagian tulang belakang, berarti pesanpesan antara otak dan batang tubuh dan anggota badan terjadi hambatan yang menyebabkan
terjadinya kelumpuhan. Pesan-pesan dari tubuh ke otak menunjukkan adanya rintangan pada:
perasaan sentuhan, rasa sakit, dan posisi. Robek pada tulang belakang dapat terjadi di
beberapa tempat, seringkali terjadi pada bagian bawah tubuh (Bandie, 2006).
Beberapa masalah yang paling sering muncul pada kasus Spina Bifida adalah (Syukri,
2012).:
a. Arnold-Chiari Malformasi
Masalah ini terjadi dimana sebagian massa otak menonjol ke dalam rongga spinal.
b. Hydrosefalus
Biasanya terjadi peningkatan berlebihan dari liquor cerebrospinal
c. Gangguan pencernaan dan gangguan kemih
Terjadi gangguan pada saraf yang mempersarafi organ tersebut yang menyebabkan
infeksi kronik saluran kemih yang disertai kerusakan pada ginjal.
d. Gangguan pada ekstremitas
Gangguan dapat berupa dislokasi sendi panggul.
II.3 Klasifikasi
Klasifikasi spina bifida (Ernawati, 2009, Bandie, 2006), yaitu:
5

1. Bentuk pertama, (spina bifida occulta).


Cacat ini terjadi pada posisi bagian bawah dari tulang punggung. Dimana pada cacat
tersebut tidak terjadinya tonjolan yang keluar pada sumsum tulang belakang, yang
disebabkan karena tidak menyatunya lengkung-lengkung vertebra ( defek terjadi hanya
pada kolumna vertebralis ) dan terjadi pada sekitar 10% kelahiran.
Pada spina bifida oculta menunjukan suatu cacat yang lengkung-lengkung vertebranya
dibungkus oleh kulit yang biasanya tidak mengenai jaringan saraf yang ada di bawahnya.
Cacat ini terjadi di daerah lumbosakral ( L4 S1 ) dan biasanya ditandai dengan plak
rambut yang yang menutupi daerah yang cacat.

2. Bentuk kedua meningocele


Pada bentuk ini sumsum tulang belakang menutupi bagian yang terbuka. Tonjolan
meningocele dapat berupa tonjolan terbuka dan tonjolan tertutup oleh lapisan kulit yang
menyebabkan adanya ketidakberfungsian pada fungsi buang air besar, fungsi buang air

kecil, dan anggota tubuh. Tonjolan sering terjadi diantara tulang belakang di bagian
punggung atau bagian atas punggung.

3. Bentuk ketiga yang sangat serius, adalah myolocele (myelomeningocele atau


meningomyelocele)
Terjadi pada daerah lumbar atau daerah pinggang, yaitu bagian tubuh antara rongga dada
dan panggul. Pada bentuk ini syaraf dalam tulang belakang menonjol keluar, yang
menyebabkan kelumpuhan ke dua belah kaki dan kehilangan rasa serta syaraf yang tidak
bekerja menyebabkan hambatan untuk buang air besar dan buang air kecil. Makin tinggi
posisi robek yang terjadi pada tulang punggung, semakin tinggi pula ketidakberfungsian
fungsi tubuh.

4.

Spina bifida kistika

Suatu defek neural tube berat dimana jaringan saraf dan atau meningens menonjol
melewati sebuah cacat lengkung vertebra dan kulit sehingga membentuk sebuah kantong
mirip kista. Yang mengakibatkan gangguan neurologis, tetapi biasanya tidak disertai
dengan keterbelakangan mental. Kebanyakan terletak di daerah lumbosakral dan.
5. Spina bifida dengan mielokisis atau rakiskisis
Merupakan bentuk spina bifida berat dimana lipatan-lipatan saraf gagal naik di
sepanjang daerah torakal bawah dan lumbosakral dan tetap sebagai masa jaringan saraf
yang pipih.

II.4. Etiologi
Bahan bahan teratogen yang dapat menyebabkan terjadinya defek neural tube
adalah :
-

Carbamazepine

Valproic acid

Defisiensi folic acid

Sulfonamide
Seorang wanita yang mengkonsumsi valproic acid selama kehamilan mempunyai

resiko kemungkinan melahirkan bayi dengan defek neural tube sebesar 1-2%, maka dari itu
seorang wanita hamil yang mengkonsumsi obat-obat anti epilepsi selama kehamilannya
disarankan untuk melakukan pemeriksaan AFP prenatal rutin
Faktor maternal lain yang dapat menyebabkan defek neural tube meliputi :
-

Riwayat keluarga dengan defek neural tube

Penggunaan obat-obat anti kejang

Overweight berat

Demam tinggi pada awal kehamilan

Diabetes mellitus (Ernawati, 2011).


8

II.5. Patogenesis
Proses pembentukan embrio pada manusia melalui 23 tahap perkembangan setelah
pembuahan yang rata-rata memakan waktu selama 2-3 hari. Ada 2 proses pembentukan
system saraf pusat yakni (Syukri, 2012).:
a. Neuralisasi primer : pembentukan saraf menjadi pipa dna juga terjadi pada otak serta
korda spinalis
b. Neuralisasi sekunder : pembentukan lower dari korda spinalis yang membentuk
bagian lumbal dan sacral.

Beberapa tahap tersebut adalah :


Kehamilan
hari ke
0-18
18
22-23
24-26
26-28
32
33-35
70-100

Kejadian
Pembentukan ektoderm,
mesoderm dan endoderm,
dan lempeng saraf
Pembentukan lempeng
saraf
Penampakan optik vessel
Penutupan neuropore
anterior
Penutupan neuropore
posterior
Sirkulasi vaskular
Splitting dari proensefalon
untuk membentuk
telensefalon
Pembentukan korpus
kalosum

Anomali
Kematian atau efek yang
tidak jelas
Defek midline anterior
Hidrosefalus
Anencephaly
Spina bifida sistika dan
spina bifida okulta
mikrosefali
holoproensefalon
agenesis korpus kalosum

Defek neural tube disini yang dimaksud adalah karena kegagalan pembentukan
mesoderm dan neurorectoderm. Defek embriologi primer pada semua defek neural tube
adalah kegagalan penutupan neural tube, mempengaruhi neural dan struktur kutaneus
ectodermal. Hal ini terjadi pada hari ke 17 -30 kehamilan.

Selama kehamilan , otak, tulang belakang manusia bermula dari sel yang datar, yang
kemudian membentuk silinder yang disebut neural tube. Jika bagian tersebut gagal menutup
atau terdapat daerah yang terbuka yang disebut cacat neural tube terbuka. Daerah yang
terbuka itu kemungkinan 80% terpapar atau 20% tertutup tulang atau kulit.90% dari kasus
yang terjadi bukanlah faktor genetik / keturunan tetapi sebagian besar terjadi dari kombinasi
faktor lingkungan dan gen dari kedua orang tuanya.

II.6. Keadaan umum


Pada keadaan spina bifida umumnya mengalami penurunan kesadaran (GCS <15)
terutama apabila sudah terjadi difisit neurologis luas dan terjadinya perubahan tanda-tanda
vital
B1 (breathing)
Perubahan pada system pernafasan yang berhubungan dengan inaktivitas yang berat.
Pada beberapa keadaan hasil dari pemeriksaan fisik ini didapatkan tidak ada kelainan
B2 (Blood)
Nadi bradikardi merupakan tanda dari perubahan perfusi jaringan otak. Kulit
kelihatan pucat menandakan adanya penurunan kadar haemoglobin dalam darah.
B3 (Brain)
Spina bifida menyebabkan berbagai deficit neurologis terutama disebabkan pengaruh
peningkatan tekanan intracranial. Pengkajian B3 (brain) merupakan pemeriksaan focus dan
lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada system lainnya.
Secara Umum
Spina bifida okulta sangat jarang dan biasanya ditemukan secara kebetulan pada
pemeriksaan radiologis. Pada penderita mungkin hanya ditemukan pigmentasi pada kulit

10

disertai pertumbuhan rambut yang lebar. Pada masa pertumbuhan anak-anak dapat pula
ditemukan paralisis spastik yang ringan atau gejala peninggian tekanan intracranial.
Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran klien dan respons terhadap lingkungan adalah indicator paling
sensitive untuk disfungsi system persarafan. Tingkat kesadaran spina bifida biasanya compos
mentis.
Pemeriksaan fungsi serebri
Status mental : observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara dan
observasi ekspresi wajah, aktifitas motoric pada klien spina bifida tahap lanjut biasanya
mengalami perubahan status mental.
Fungsi intelektual : pada beberapa keadaan klien spina bifida tidak didapatkan
penurunan dalam ingatan dan memori baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Pemeriksaan saraf kranial

Saraf I. Fungsi penciuman normal


Saraf II. Fungsi penglihatan baik, kecuali apabila spina bifida disertai peningkatan

TIK yang lama akan didapatkan papilledema.


Saraf III, IV, VI. Biasanya tidak ada kelainan pada saraf-saraf ini.
Saraf V. Tidak ada kelainan dalam proses mengunyah.
Saraf VII. Perpepsi pengecapan mengalami perubahan.
Saraf VIII. Biasanya tidak didapatkan adanya perubahan fungsi pendengaran
Saraf IX dan X. Mobilitas leher biasanya normal.
Saraf XII. Indra pengecapan tidak mengalami perubahan.

Sistem Motorik
Inspeksi umum, didapatkan paralisis spastik, deformitas kaki unilateral (kaki kecil), dan
kelemahan otot kaki merupakan cacat yang tersering. Paralisis motoric terutama mengenai
anggota gerak bawah.
Sistem Sensorik

11

Kehilangan sensasi sensorik anggota gerak bawah. Paralisis sensorik biasanya bersama-sama
dengan paralisis motoric dengan distribusi yang sama.
Pemeriksaan reflex
Pemeriksaan reflex dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum atau periosteum derajat
reflex pada respons normal. Pemeriksaan reflex patologis,tidak ada respons reflex patologis.
(Muttaqin, 2008).
II.7. Diagnosa
Anamnesis
Pada orang dewasa diagnosis Spina Bifida diketahui melalui analisa riwayat
kesehatan dari individu, keluarga dan detail tentang kehamilan dan kelahiran.
Gejalanya bervariasi, tergantung kerusakan yang terjadi pada korda spinalis dan akar
saraf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sementara yang
lain mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh spinalis.
Beberapa gejala atau tanda-tanda tersebut adalah (Syukri, 2012).
Spina bifida okulta :
a.
-

Sering kali asimtomatik


Tidak ada gangguan pada neural tissue
Region lumbal dan sacral
Defek terbentuk dimple, seberkas rambut, nevus
Gangguan traktus urinarius (mild)
Spina bifida aperta
Meningokel : tertutupi oleh kulit dan tidak terjadi paralisis
Mielomeningokel : tidak tertutup oleh kulit tetapi mungkin ditutupi oleh membrane
yang transparan serta terjadi paralisis.
Defek neural tube dapat dideteksi dengan pemeriksaan AFP ( alfa feto protein ) pada

cairan amnion atau AFP yang diperiksa dari darah ibu hamil. AFP adalah protein serum utama
yang terdapat pada awal kehidupan embrio dan 90% dari total globulin serum dari fetus. AFP
dapat mencegah rejeksi dari fetal imun dan pertamakali dibuat di yolk sac dan kemudian di

12

sistem gastro intestinal dan hepar fetus. Dimulai dari sirkulasi darah fetus menuju traktus
urinarius kemudian diekskresi ke dalam cairan amnion.
AFP juga dapat bocor ke dalam cairan amnion melalui defek neural tube yang terbuka
seperti pada anencephaly dan myelomeningocele, dimana sirkulasi darah fetus berhubungan
langsung dengan cairan amnion. Langkah pertama dari prenatal skrining adalah pemeriksaan
serum AFP pada ibu hamil antara minggu ke 15 dan 18 kehamilan.
Seseorang dikatakan beresiko secara spesifik berdasarkan perbandingan usia
kehamilan dan level AFP. Misalnya, pada usia kehamilan 20 minggu konsentrasi AFP serum
pada ibu hamil lebih tinggi dari 1.000 ng/mL mempunyai indikasi terjadinya defek neural
tube terbuka. Kadar AFP serum normal pada ibu hamil biasanya lebih rendah dari 500
ng/mL.
Penentuan ketepatan usia kehamilan sangatlah penting karena level AFP mempunyai
hubungan yang spesifik dengan usia kehamilan dan dapat meningkat mencapai puncak pada
fetus normal pada kehamilan 12-15 minggu. Pemeriksaan AFP melalui cairan amnion
merupakan pemeriksaan yang akurat, terutama pada usia kehamilan 15-20 minggu dan dapat
mendeteksi kurang lebih 98% pada semua defek neural tube yang terbuka. Defek neural tube
juga dapat dideteksi dengan USG.
Beberapa kelainan fetus lain yang dapat dideteksi dari peningkatan AFP meliputi :
-

Anencephaly

Spina bifida kistika

Encephalocele

Omphalocele

Turner syndrome

Gastroschisis

Oligohydrmnions

13

Sacrococcygeal teratoma

Kelainan ginjal polikistik

Kematian janin intra uteri

Obstruksi traktus urinarius (Ernawati, 2011).

II.8. Penatalaksanaan
Pencegahan
Kelainan spina bifida dikaitkan dengan defisiensi folat selama masa prenatal, dan
kejadian spina bifida mengalami penurunan sejak dikeluarkannya kebijakan suplementasi
asam folat selama masa kehamilan ( Febrianto, 2012, Meiyeriance, 2012)
Penggunaan suplemen Folic acid 400 micrograms ( 0,4 mg ) / hari sebelum hamil dan
800 micrograms / hari selama kehamilan. Penggunaan suplemen folic acid ini penting untuk
menurunkan resiko terjadinya defek neural tube seperti spina bifida. Folic acid ( folinic acid,
folacin, pteroyglutamic acid ) terdiri dari bagian-bagian pteridin, asam para aminobenzoat
dan asam glutamat (Ocviyanti, 2008. Ernawati 2011).
Folat terdapat dalam hampir setiap jenis makanan dengan kadar tertinggi dalam hati,
ragi dan daun hijau yang segar. Folat mudah rusak dengan pengolahan ( pemasakan )
makanan.
Dipandang dari sudut biologik, defisiensi folat terutama akan memperlihatkan
gangguan pertumbuhan akibat gangguan pembentukan nukleotida purin dan pirimidin.
Gangguan ini akan menyebabkan kegagalan sintesis DNA dan hambatan mitosis sel.
Deteksi Dini dan Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik

14

Pemeriksaan neurologis pada bagi cukup sulit terutama membedakan gerakan volunteer
tungkai terhadap gerakan reflektoris. Cara pemeriksaan yang dilakukan adalah sebagai
berikut : bayi ditelungkupkan dilengan pemeriksa, anggota gerak bawah bayi disisi lengan
bawah pemeriksa. Yang dinilai adalah letak scapula, ukuran leher, bentuk tulang belakang
dan gerakan (Syukri, 2012)..
Pemeriksaan Penunjang
Pendeteksian dini pada masa kehamilan dilakukan dengan cara seperti skrining alfafetoprotein (AFP) serum ibu, sonografi terarah dan amniosintesis saat usia gestasi 15-22
minggu, dan melakukan ultrasonografi. Berikut adalah Skema Skrining untuk NDT
(Meiyeriance, 2012)

15

Gambar 2. Skema Skrining untuk NDT

Skrining MSAFP (maternal serum alfa feto protein) berguna untuk mengukur tingkat
dari protein yang disebut alfa feto protein (AFP), dimana sejumlah kecil dari AFP
melintasi plasenta dan memasuki peredaran darah ibu di masa kehamilan. Namun hal
ini tidak dapat dijadikan patokan utama dalam penegakan diagnose, harus di lakuan

pengujian tambahan dengan menggunakan ultrasonografi atau amniosentesis


Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk mengetahui penyebab peningkatan AFP

antara lain kelainan pada fetus ataupun jumlah fetus yang lebih dari satu.
Pemeriksaan Amniosintesis dilakukan pemeriksaan AFP yang berasal dari cairan
amnion yang langsung diambil dari kantong amnion dengan menggunakan jarum.

Pemeriksaan setelah masa kelahiran dilakukan dengan beberapa metode berikut, yakni :
-

X-Ray tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan


CT-Scan atau MRI tulang belakang kadang dilakukan untuk menentukan luas dan
lokasi kelainan

II.9. Terapi atau penanganan


Dalam kelainan Spina Bifida berhubungan dengan kerusakan jaringan syaraf, dimana
kerusakan tersebut tidak dapat diganti atau diperbaiki. Namun hal yang dapat dilakukan
pertama ditujukan pada perbaikan keadaan umum dan mencegah pecahnya mielomeningokel
dengan tujuan menutup defek yang ada, menutup medulla spinalis dengan lapisan jaringan
untuk mencegah masuknya bakteri dari kulit (Syukri, 2012)..

16

BAB III. KESIMPULAN

Spina bifida

termasuk dalam defek neural tube yang berarti terbelahnya arcus

vertebrae dan bisa melibatkan jaringan saraf di bawahnya atau tidak.


Macam-macam spina bifida :
-

Spina bifida okulta

Spina bifida kistika

Spina bifida dengan meningokel

Spina bifida dengan mielokisis atau rakiskisis

17

Spina bifida dapat didiagnosis prenatal dengan :


-

Pemeriksaan kadar AFP di dalam serum ibu hamil dan cairan amnion

Ultrasonografi
Kelainan spina bifida dikaitkan dengan defisiensi folat selama masa prenatal, dan

kejadian spina bifida mengalami penurunan sejak dikeluarkannya kebijakan suplementasi


asam folat selama masa kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA

Daniel Wibowo, 2008. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta


Delphie Bandi. 2006. Aplikasi Gerak Irama dalam Pembelajaran Anak dengan Kebutuhan
Khusus. Jakarta.
Dwiana Ocviyanti,dr.DR. 2008. Pentingnya Asam Folat, RSUPN Cipto Mangunkusumo,
Jakarta.
Ernawati, 2011. Spina Bifida. Surabaya
Febriyanto. 2012. Kandung Kemih Neurogenik pada anak: Etiologi, Diagnosis dan Tata
laksana. Jakarta
http://repository.usu.ac.id

18

Journal of Pediatrics, online February 24, 2011: Fact of the week from website
Http://www.NPAinfo.org
Meiyeriance.2012. Pengaruh Asam Folat dan Vitamin B12 Ibu Hamil Terhadap Risiko Terjadi
Neural Tube Defects Pada Janin. Depok
Muttaqin. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta
Sumaryanti, Dra. 2005. Aktivitas Terapi. Jakarta
Syukri. 2012. Spina Bifida. Makasar.

19