Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN PRAKTIKUM WORKSHOP GEOFISIKA

IDENTIFIKASI STRUKTUR DAN LITOLOGI DAERAH


PANAS BUMI CANGAR DENGAN METODE
MAGNETOTELLURIC

Disusun Oleh:
KELOMPOK 7
1. Dian Okta Abriyani
2. Hafizh Farhan Sinaga
3. Mandala Tunggul Sinaga
4. Muhammad Luthfi Secsiono
5. Rizqi Fadlilah
6. Yossi Ardianto

Asisten:

Surya Aji E.
LABORATORIUM GEOFISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,yang telah memberikan rahmat hidayah dan
inayahnya sehingga Laporan Praktikum Workshop Geofisika untuk metode Magnetotelluric ini
dapat terselesaikan dengan baik meskipun tanpa luput dari kekurangan di dalamnya.

Ucapan

terima kasih penulis ucapkan kepada pihak-pihak terkait yang telah membantu dalam
terselesaikannya Laporan ini : kepada Bapak Sukir Maryanto, Ph.D., selaku dosen pembimbing,
Mas Surya Aji selaku asisten praktikum untuk metode Magnetotelluric, orang tua, keluarga,
serta teman-teman yang telah memberikan support dengan caranya masing-masing. Kritik dan
saran yang membangun tetap penulis nantikan agar kedepannya tulisan berupa laporan
praktikum dan semacamnya dapat dibuat dengan lebih baik lagi.

Malang,25 November 2016

Penulis

|Page
1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................. 1
DAFTAR ISI ............................................................................................................................ 2
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................... 4

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 6


1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 6
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................... 7
1.3 Batasan Masalah ....................................................................................................... 7
1.4 Tujuan Penelitian ...................................................................................................... 7
1.5 Manfaat ..................................................................................................................... 8
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................. 9
2.1 Geologi Regional Cangar ......................................................................................... 9
2.2 Metode Pengukuran Magnetotelluric ....................................................................... 10
2.3 Persamaan Maxwell .................................................................................................. 12
2.4 Impedansi Bumi Homogen ..................................................................................... 15
2.5 Impedansi Bumi Berlapisa Horizontal ................................................................... 16
BAB 3 METODE PENELITIAN ........................................................................................ 18
3.1 Waktu dan Tempat.................................................................................................. 18
3.2 Alat dan Bahan ....................................................................................................... 20
3.3 Alur Penelitian ........................................................................................................ 21
3.3.1 Langkah Akuisisi ..................................................................................... 21
3.3.2 Langkah Pengolahan Data ....................................................................... 22
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................ 35
4.1 Analisa Pengukuran ................................................................................................ 35
4.2 Analisa Pengolahan dan Permodelan ..................................................................... 35
4.3 Interpretasi Hasil Permodelan ................................................................................ 37
BAB 5 PENUTUP ................................................................................................................. 40
5.1 Kesimpulan ............................................................................................................. 40
5.2 Saran ....................................................................................................................... 40
2

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................41


LAMPIRAN .42
|Page

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peta Geologi Komplek Gunung Arjuno-Welirang (Tim Survey PSDG, 2014)
Gambar 2.2 Sketsa perambatan gelombang elektromagnetik di bawah permukaan bumi
Gambar 3.1 Lokasi Agro Technopark Cangar
Gambar 3.2 MTU (Metronix adu-07e)
Gambar 3.3 Porous Pot
Gambar 3.4 Coil
Gambar 3.5 Kabel
Gambar 3.6 Desain Survey
Gambar 3.7 Create Survey
Gambar 3.8 Destinasi Penyimpanan
Gambar 3.9 Pemberian nama project
Gambar 3.10 Create Line
Gambar 3.11 Import Data
Gambar 3.12 Mencari lokasi data
Gambar 3.13 Proses import data ATS
Gambar 3.13 Setting Site dan Run
Gambar 3.14 Start Processing
Gambar 3.15 Add Data
Gambar 3.16 Proses FFT
Gambar 3.17 Hasil FFT
Gambar 3.18 Digital Filter
Gambar 3.19 Proses Create Result
Gambar 3.20 Hasil penggabungan data pada satu result
Gambar 3.21 Hasil data setelah diseleksi
Gambar 3.22 Eksport EDI
Gambar 3.23 New Database
Gambar 3.24 Destinasi Penyimpanan
4

|Page

Gambar 3.25 Database Properties


Gambar 3.26 Penggantian koordinat dan datum
Gambar 3.27 Ceklist Elevation
Gambar 3.28 Mengaktifkan stasiun pada line yang berwarna merah beserta stasiunnya
Gambar 3.29 Ceklist Open stations from list
Gambar 3.30 Ceklist stasiun yang aktif
Gambar 3.31 Hasil smoothing dan koreksi shift
Gambar 3.32 Memilih line yang akan diinversi
Gambar 3.33 Melakukan proses Mesh
Gambar 3.34 Menu setting Mesh
Gambar 3.35 Hasil setelah dilakukan proses Mesh
Gambar 3.36 Proses inversi 2D
Gambar 3.37 Input iteration
Gambar 3.38 Proses Iterasi
Gambar 3.39 Hasil Inversi 2D
Gambar 4.1 Profil elevasi daerah pengukuran pada WinGlink
Gambar 4.2 Proses filtering data
Gambar 4.3 Pembuatan grid (mesh) untuk melakukan permodelan inversi
Gambar 4.4 Peta Tahanan jenis line 1
Gambar 4.5 Model sederhana litologi pada line 1
Gambar 4.6 Peta tahanan jenis line 2
Gambar 4.7 Model litologi sederhana line 2

|Page

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Geofisika merupakan ilmu yang mempelajari tentang bumi menggunakan kaidahkaidah atau prinsip-prinsip dari ilmu fisika. Penelitian Geofisika dilakukan untuk mengetahui
kondisi di bawah permukaan bumi melibatkan pengukuran di atas permukaan bumi dari
parameter-parameter fisik yang dimiliki oleh batuan di dalam bumi. Dari pengukuran ini dapat
ditafsirkan bagaimana sifat-sifat dan kondisi di bawah permukaan bumi baik itu secara vertikal
maupun horisontal.
Metode geofisika sebagai pendeteksi perbedaan tentang sifat fisis di dalam bumi.
Kemagnetan, kepadatan, kekenyalan, dan tahanan jenis adalah sifat fisis yang paling umum
digunakan untuk mengukur penelitian yang memungkinkan perbedaan di dalam bumi untuk
ditafsirkan kaitannya dengan struktur mengenai lapisan tanah, berat jenis batuan dan rembesan
isi air, dan mutu air.
Secara umum, metode geofisika dibagi menjadi dua kategori, yaitu metode pasif dan
aktif. Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan alami yang dipancarkan oleh bumi.
Metode aktif dilakukan dengan membuat medan gangguan kemudian mengukur respon yang
dilakukan oleh bumi. Medan alami yang dimaksud disini misalnya radiasi gelombang gempa
bumi, medan gravitasi bumi, medan magnet bumi, medan listrik dan elektromagnetik bumi serta
radiasi radiokativitas bumi. Medan buatan dapat berupa ledakan dinamit, pemberian arus listrik
ke dalam tanah, pengiriman sinyal radar dan lain sebagainya. Secara praktis, metode yang
umum digunakan di dalam geofisika diantaranya adalah metode Seismik, Gravity, Magnetik,
Geolistrik (Self Potential, Resistivity, Induced Polarization) dan Elektromagnetik (GPR, VLF,
Magnetotelluric).
Dari berbagai macam metode seperti yang disebut di atas, metode Magnetotelluric
merupakan salah satu metode yang banyak digunakan saat ini. Magnetotelluric dapat digunakan
untuk berbagai kepentinngan eksplorasi, seperti misalnya panas bumi, air tanah, minyak bumi,
dan sekedar untuk mengetahui struktur bawah permukaan dengan memanfaatkan parameter
tahanan jenis batuan namun dengan cakupan yang lebh dalam dari yang mampu dicapai oleh
metode geolistrik Resistivitas.
Cangar merupakan salah satu kawasan di kota Batu yang memiliki beragam kekayaan
bumi, diantaranya memiliki potensi panas bumi dan dianugerahi tanah yang sabur sehingga
berpotensi dari segi pertanian, wisata alam dan penelitian. Dari segi wisata alam, manifestasi
6

panas bumi yang ada di Cangar telah dimanfaatkan menjadi pemandian air panas. Sedangkan
dari segi penelitian, saat ini mulai dibangun kawasan penelitian terpadu dalam bidang pertanian,
peternakan, dan kebumian, yang disebut dengan Agrotechno Park Cangar dan area ini dimiliki
oleh Universitas Brawijaya. Untuk melakukan pengembangan daerah ini, diperlukan penelitian
lebih lanjut salah satunya dengan metode Geofisika. Manifestasi panas bumi yang ada sekedar
diketahui di permukaannya saja. Sementara untuk melakukan optimalisasi potensi panas bumi
yang ada, perlu dicari tahu lebih lanjut dari manakah asal panas bumi tersebut dibawah
permukaannya, termasuk mengetahui dimana letak reservoir panas bumi ini. Salah satu metode
yang paling mutakhir untuk memetakan sistem panas bumi adalah Magnetotelluric. Oleh karena
itu, Cangar dipilih sebagai daerah penelitian dengan menggunakan metode Magnetotelluric
sebagai sa;ah satu metode penelitiannya.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang ada, maka rumusan masalah yang diangkat oleh
penulis dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana proses akuisisi, processing, dan interpretasi dengan menggunakan metode
Magnetotelluric?
2. Bagaimana litologi dan struktur yang ada dibawah permukaan daerah penelitian?
3. Bagaimana kaitannya struktur dan litologi tersebut terhadap manifestasi panas bumi
yang ada?

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah yang diterapkan dalam laporan ini dimaksudkan agar laporan menjadi
lebih fokus dan data yang diproses lebih akurat adalah :
1. Cakupan data berada di wilayah Jawa Timur, Indonesia.
2. Objek area penelitian adalah lapangan di kawasan wisata pemandian air panas Cangar,
Kota Batu.

1.4 Tujuan Penilitian


Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah agar dapat :
1. Memahami lebih dalam mengenai proses akuisisi, pengolahan data, dan interpretasi
metode Magnetotelluric yang diterapkan di daerah Cangar sebagai daerah penelitian

2. Mengetahui struktur dan litologi yang berperan di daerah penelitian ini, dan dapat
dikorelasikan dengan peta geologi daerah setempat
3. Mengetahui peran struktur dan litologi tersebut dalam kaitannya dengan manifestasi
panas bumi yang ada didaerah penelitian.

1.5 Manfaat Penelitian


Harapan setelah dilakukannya praktikum workshop geofisika mengenai metode
Magnetotelluric ini adalah dapat menambah pengetahuan dalam menerapkan teori dari metode
Magnetotelluric secara nyata di lapangan. Sementara, hasil studi Magnetotelluric sendiri
berguna sebagai tambahan informasi dalam rangka pendukung eksplorasi di daerah penelitian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Geologi cangar
Cangar merupakan daerah yang terletak di kompleks Arjuno-Welirang. ArjunoWelirang sendiri merupakan salah satu area prospek panasbumi di Jawa Timur, yang terletak di
wilayah Kabupaten Malang, Mojokerto, Pasuruan, dan Kota Batu. Daerah prospek ini berada
di lingkungan geologi yang didominasi oleh batuan vulkanik berumur kuarter (Tim Survey
PSDG, 2010).
Komplek G. Arjuno-Welirang mempunyai beberapa kerucut di puncaknya yaitu :
Kerucut G. Arjuno (3339 mdpl., kerucut tertua), Kerucut G. Bakal (2960 mdpl), Kerucut G.
Kembar II (3126 mdpl), Kerucut G. Kembar I (3030 mdpl), dan Kerucut G. Welirang (3156
mdpl). Kerucut-kerucut tersebut terbentuk akibat perpindahan titik erupsi yang membentuk
kelurusan berarah tenggara-barat lau dan dikontrol oleh sesar normal. Selain kerucut-kerucut
tersebut terdapat pula beberapa kerucut parasit yang merupakan hasil letusan samping pada
tubuh Kompleks G. Arjuno-Welirang. Kerucut parasit tersebut adalah G. Ringgit (2477 mdpl)
di bagian timur laut, G.Pundak (1544 mdpl) dan G. Butak (1207 mdpl) di bagian utara, serta
dua buah kerucut lainnya yaitu G. Wadon dan G. Princi yang terdapat pada tubuh bagian timur
(VSI, 2014).
Hampir seluruh daerah panasbumi Gunung Arjuno-Welirang merupakan batuan
produk vulkanik Kuarter. Beberapa produk gunungapi di daerah ini terdiri dari aliran lava dan
piroklastik. Komponen stratigrafi dan struktur geologi diperlihatkan pada gambar 2.1. Struktur
yang berkembang di daerah ini cukup komplek diantaranya berupa sesar normal, sesar
mendatar, rim kaldera, dan amblasan. Sesar-sesar ini secara umum memotong komplek Gunung
ArjunoWelirang dan berarah utara-selatan, barat laut-tenggara, barat daya-timur laut, dan barattimur. Rim kaldera terletak di bagian tengah komplek Gunung ArjunoWelirang, sedangkan
sektor amblasan berada di bagian puncak Gunung ArjunoWelirang dengan bukaan ke arah
tenggara dan timur laut (Tim Survey PSDG, 2010).

Gambar 2.1 Peta Geologi Komplek Gunung Arjuno-Welirang (Tim Survey PSDG, 2014)

2.2 Metode Pengukuran Magnetotelluric


Magnetotelluric (MT) adalah metode pasif yang mengukur arus listrik alami dalam
bumi, yang dihasilkan oleh induksi magnetik dari arus listrik di ionosfer. Metode ini dapat
digunakan untuk menentukan sifat listrik bahan pada kedalaman yang relatif besar (termasuk
mantel) di dalam bumi. Dengan teknik ini, variasi waktu pada potensi listrik diukur pada stasiun
10

pangkalan dan stasiun survei. Perbedaan pada sinyal tercatat digunakan untuk memperkirakan
distribusi resistivitas listrik bawah permukaan. (Agung, 2009)
Metode pengukuran MT (magnetotelluric) dan AMT (audio magnetotelluric) secara
umum adalah sama, perbedaanya hanya pada cakupan frekuensi yang ditangkap, dimana
semakin kecil frekuensi yang dihasilkan maka semakin dalam penyelidikan yang diperoleh.
Metode MT memperoleh data dari frekuensi sekitar 400 Hz sampai 0.0000129 Hz (perioda
sekitar 21.5 jam) sedangkan metode AMT memperoleh data dari frekuensi 10 kHz sampai 0.1
Hz, dimana sumbernya berasal dari alam (arus telurik yang terjadi di sekitar ionosfer bumi).
(Agung, 2009)
Untuk memperbaiki kualitas data dari gangguan elektromagnet lokal (power line,
aktivitas industri, aktivitas manusia, jalan, pohon-pohon besar yang dapat menghasilkan
gangguan

micro-vibrations

dari

akar-akarnya,

dll)

dapat

dilakukan

dengan

cara

mengkorelasikan data dari satu alat yang disimpan statis di suatu tempat yang jauh dari
gangguan elektromagnetik lokal dengan alat lainnya yang berpindah-pindah (local, remote, far
remote station) dan dilakukan dalam rentang waktu yang sama yang disinkronisasikan terhadap
waktu UTC. (Agung, 2009)
Sumber sinyal untuk metode magnetotellurik adalah medan magnetik yang berasal dari
dalam dan luar bumi serta memiliki rentang frekuensi yang bervariasi. Medan magnet yang
berasal dari dalam dikarenakan pergerakan antara mantel bumi terhadap inti bumi. Medan
magnet yang berasal dari luar bumi adalah medan magnet yang dihasilkan di atmosfer dan
magnetosfer. Semua sumber medan magnetik tersebut memiliki nilai yang bervariasi terhadap
waktu, tetapi yang dimanfaatkan pada Metode Magnetotellurik hanya medan magnetik yang
berasal dari luar bumi yang memiliki rentang frekuensi lebih besar. (Agung, 2009)

Gambar 2.2 Sketsa perambatan gelombang elektromagnetik di bawah permukaan bumi


Sumber magnetik yang berasal dari luar bumi yaitu seperti peristiwa petir yang
menyambar dan solar wind yang terjadi. Frekuensi yang dihasilkan oleh peristiwa solar wind
11

memiliki frekuensi lebih kecil dari 1 Hz sehingga jarak tembus medan magnetic menjangkau
kedalaman yang cukup jauh. Frekuensi yang dihasilkan pada aktivitas petir atau kilat ialah di
atas 1 Hz. Peristiwa ini terjadi di ionosfer dan menjalar hingga ke permukaan bumi. Ketika
mencapai permukaan bumi secara otomatis medan magnet bumi akan mengalami perubahan.
Jika perubahan medan magnet bumi terjadi berulang kali maka akan menghasilkan fluks magnet
yang menginduksi arus listrik di bawah permukaan bumi dan menghasilkan medan magnet
sekunder yang akan direkam oleh alat MT. (Simpson dan Bahr, 2005)

2.3 Persamaan Maxwell


Persamaan Maxwell merupakan sintesa hasil-hasil eksperimen (empiris) mengenai
fenomena listrik magnet yang didapatkan oleh Faraday, Ampere, Gauss, Coulomb disamping
yang dilakukan oleh Maxwell sendiri. Penggunaan persamaan tersebut dalam metoda MT telah
banyak diuraikan dalam buku-buku pengantar geofisika khususnya yang membahas metoda
EM. Dalam bentuk diferensial, persamaan Maxwell dalam domain frekuensi dapat dituliskan
sebagai berikut (Kadir, 2011). :

dimana :
E : medan listrik (Volt/m)
B : fluks atau induksi magnetik (Weber/m2 atau Tesla) H : medan magnet (Ampere/m)
J : rapat arus (Ampere/m2)
D : perpindahan listrik (Coulomb/m2) q : rapat muatan listrik (Coulomb/m3)
Persamaan (1a) diturunkan dari hukum Faraday yang menyatakan bahwa perubahan
fluks magnetik menyebabkan medan listrik dengan gaya gerak listrik berlawanan dengan variasi
fluks magnetik yang menyebabkannya. Persamaan (1b) merupakan generalisasi teorema
Ampere dengan memperhitungkan hukum kekekalan muatan. Persamaan tersebut menyatakan
bahwa medan magnet timbul akibat fluks total arus listrik yang disebabkan oleh arus konduksi
dan arus perpindahan. Persamaan (1c) menyatakan hukum Gauss yaitu fluks elektrik pada suatu
ruang sebanding dengan muatan total yang ada dalam ruang tersebut. Sedangkan persamaan
(1d) yang identik dengan persamaan (1c) berlaku untuk medan magnet, namun dalam hal ini
12

tidak ada monopol magnetik. Hubungan antara intensitas medan dengan fluks yang terjadi pada
medium dinyatakan oleh persamaan berikut. (Kadir, 2011)

dimana :
: permeabilitas magnetik (Henry/m)
: permitivitas listrik (Farad/m)
: konduktivitas (Ohm-1/m atau Siemens/m)
: tahanan-jenis (Ohm.m)
Untuk menyederhanakan masalah, sifat fisik medium diasumsikan tidak bervariasi
terhadap waktu dan posisi (homogen isotropik). Dengan demikian akumulasi muatan seperti
dinyatakan pada persamaan (1c) tidak terjadi dan persamaan Maxwell dapat dituliskan kembali
sebagai berikut. (Kadir, 2011)

Tampak bahwa dalam persamaan Maxwell yang dinyatakan oleh persamaan (3) hanya terdapat
dua variabel yaitu medan listrik E dan medan magnet H. Dengan operasi curl terhadap
persamaan (3a) dan (3b) serta mensubstitusikan besaran-besaran yang telah diketahui pada
persamaan (3) akan kita peroleh pemisahan variabel E dan H sehingga :

13

dimana x adalah E atau H, serta hubungan yang dinyatakan oleh persamaan (3c) dan (3d), maka
kita dapatkan persamaan gelombang (persamaan Helmholtz) untuk medan listrik dan medan
magnet sebagai berikut.

Perlu diingat bahwa pada persamaan tersebut di atas variabel E dan H merupakan
fungsi posisi dan waktu. Jika variasi terhadap waktu dapat direpresentasikan oleh fungsi
periodic sinusoidal maka :

dimana E0 dan H0 masing-masing adalah amplitudo medan listrik dan medan magnet, dan
adalah frekuensi gelombang EM. Dengan demikian persamaan (5) menjadi :

Pada kondisi yang umum dijumpai dalam eksplorasi geofisika (frekuensi lebih rendah
dari 104 Hz, medium bumi) suku yang mengandung (perpindahan listrik) dapat diabaikan
terhadap suku yang mengandung (konduksi listrik) karena harga >> 2 untuk
= 4 10 H/m -7 0 = . Pendekatan tersebut adalah aproksimasi keadaan kuasi-stasioner dimana
waktu tempuh gelombang diabaikan. Eliminasi kebergantungan medan terhadap waktu seperti
dilakukan untuk memperoleh persamaan (7) selain dimaksudkan untuk menyederhanakan
persamaan juga untuk lebih mengeksplisitkan aproksimasi keadaan kuasi-stasioner tersebut.
Dengan demikian, persamaan gelombang (5a) dan (5b) menjadi persamaan difusi sebagai
berikut.

14

( Kadir, 2011)

2.4 Impedansi Bumi Homogen


Gelombang EM dapat dianggap sebagai gelombang bidang yang merambat secara
vertikal ke dalam bumi berapapun sudut jatuhnya terhadap permukaan bumi. Hal ini mengingat
besarnya kontras konduktivitas atmosfer dan bumi. Penyelesaian persamaan gelombang (8a)
dan (8b) yang merupakan persamaan diferensial orde 2 cukup kompleks mengingat semua
variabel dapat bervariasi terhadap waktu dan posisi dalam sistem koordinat kartesian (x, y, z).
Oleh karena itu akan kita tinjau permasalahan yang sederhana terlebih dahulu, yaitu untuk kasus
medium homogen. Model bumi yang paling sederhana adalah suatu half-space homogen
isotropik dimana diskontinyuitas tahanan-jenis hanya terdapat pada batas udara dengan bumi.
Dalam hal ini setiap komponen horisontal medan listrik dan medan magnet hanya bervariasi
terhadap kedalaman sehingga dekomposisi persamaan (8a) menghasilkan persamaan berikut
(Saptaji, 2001) :

Secara umum eksponensial yang mengandung komponen bilangan imajiner dari k (e


i z ) menyatakan variasi sinusoidal gelombang EM terhadap kedalaman, sedangkan
eksponensial yang mengandung komponen bilangan riil dari k (e z ) menyatakan faktor
atenuasi menurut sumbu z positif atau negatif. Konstanta A dan B ditentukan berdasarkan syarat
batas (Saptaji, 2001).

Berdasarkan persamaan tersebut di atas, impedansi bumi homogen adalah suatu


bilangan skalar kompleks yang merupakan fungsi tahanan-jenis medium dan frekuensi
gelombang EM. Dalam hal ini impedansi yang diperoleh dari dua pasangan komponen medan
15

listrik dan medan magnet yang berbeda (E x / H y dan E y / H x ) secara numerik berharga sama
mengingat simetri radial medium homogen atau medium 1-dimensi yang akan dibahas
kemudian. Untuk selanjutnya impedansi bumi homogen disebut impedansi intrinsik (ZI = Zxy
= - Zyx) (Saptaji, 2001).

2.5 Impedansi Bumi Berlapis Horizontal


Dari solusi medan listrik dan medan magnet yang berlaku untuk bumi homogen
tampak bahwa amplitudo gelombang EM mengalami atenuasi secara eksponensial terhadap
kedalaman. Dengan menggunakan solusi tersebut kita dapat pula menghitung besarnya
amplitudo gelombang EM pada suatu kedalaman tertentu. Skin depth didefinisikan sebagai
kedalaman pada suatu medium homogen dimana amplitudo gelombang EM telah terreduksi
menjadi 1/e dari amplitudonya di permukaan bumi (ln e = 1 atau e = 2.718 ...). Besaran tersebut
dirumuskan sebagai berikut (Satrio, 2012):

dimana adalah tahanan-jenis medium homogen atau ekivalensinya, = 2 f .


Besaran skin depth digunakan untuk memperkirakan kedalaman penetrasi atau
kedalaman investigasi gelombang EM. Untuk keperluan praktis digunakan definisi kedalaman
efektif yang lebih kecil dari skin depth yaitu /2. Gambar 1 memperlihatkan kurva-kurva skin
depth dan kedalaman efektif sebagai fungsi dari tahanan-jenis medium dan frekuensi
gelombang EM. Dari persamaan (15) dan gambar 1 tampak bahwa makin besar tahanan-jenis
medium dan perioda (T = f -1) gelombang EM maka kedalaman investigasinya makin besar
(Satrio, 2012).
Telah di bahas di atas bahwa impedansi yang dinyatakan sebagai perbandingan antara
medan listrik (E) dan medan magnet (H) bergantung pada tahanan-jenis medium atau batuan.
Dengan demikian, impedansi sebagai fungsi dari perioda memberikan informasi mengenai
tahanan-jenis medium sebagai fungsi dari kedalaman. Berdasarkan hal tersebut metoda
sounding MT dilakukan dengan merekam data berupa variasi medan listrik dan medan magnet
pada beberapa perioda tertentu. Jika tahanan-jenis hanya bervariasi terhadap kedalaman, maka
model yang digunakan untuk merepresentasikan kondisi ini adalah model 1-dimensi (1-D)
(Satrio, 2012).
Pada umumnya digunakan model yang terdiri dari beberapa lapisan horisontal dengan
masing-masing lapisan bertahanan-jenis konstan atau homogen dan isotropis (model bumi
16

berlapis horisontal). Dalam hal ini parameter model adalah tahanan-jenis dan ketebalan tiap
lapisan dengan lapisan terakhir berupa medium homogen (Satrio, 2012).

17

BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktikum lapang workshop geofisika angkatan 2013 dengan menggunakan metode
Magnetotelluric (MT) dilaksanakan pada tanggal 4 November 2016 hingga 10 November 2016
yang dilaksanakan di Agro Technopark Cangar, Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur.

Gambar 3.1 Lokasi Agro Technopark Cangar

3.2 Peralatan
Peralatan yang digunakan pada waktu akuisisi data metode Magnetotelluric (MT) adalah
sebagai berikut :
1. MTU ( Metronix adu-07e)

Gambar 3.2 MTU (Metronix adu-07e)


2. Porous Pot

18

Gambar 3.3 Porous Pot


3. Coil

Gambar 3.4 Coil


4. Kabel

Gambar 3.5 Kabel

19

3.3 Metode Penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis data primer yang didapatkan langsung
dari proses akuisisi yang dilakukan praktikan di kawasan wisata pemandian air panas Cangar,
Kota Batu. Data yang digunakan merupakan hasil pembacaan alat yang dilakukan selama batas
3 jam . Dari data tersebut dilakukan pengolahan data (processing data) sehingga dapat dilakukan
analisis data untuk kemudian dapat diketahui perkiraan penampang bawah permukaan daerah
survey.
3.3.1 Akuisisi

Gambar 3.6 Desain Survey


Desain survey akuisisi metode Magnetotelluric (MT) dengan menggunakan dua line, jarak antar
titik sebesar 200 meter, kecuali pada titik day 6 memiliki jarak sebesar 400 meter dan
bentangan antara coil disetiap titik sebesar 30 meter.
Mulai

Menggali Lubang untuk


Porous Pot dan Coil

Menanam Porous Pot dan


Coil
Menghubungkan GPS
dengan MTU

Melakukan Self Test


20

OK

Selesai

Not
OK

Memulai Pengambilan
Data

Menghubungkan Porous
Pot dan Coil dengan MTU

Langkah awal yang dilakukan setelah mempersiapkan alat yaitu menggali lubag untuk
menempatkan porous pot dan coil. Langkah selanjutnya adalah menghubungkan porouspot dan
coil dengan kabel namun tidak dihubungkan dengan MTU. Selanjutnya, menghubungkan GPS
dengan MTU. Setelah menghubungkan dengan kabel, dilakukan Self Test untuk mengetahui
alat MTU dapat berfungsi dengan baik. Jika hasil Not OK, maka dilakukan Self test ulang
hinggal mendapatkan hasil OK. Jika hasil OK, maka langkah selanjutnya yaitu menghubungkan
porous pot dan coil dengan MTU. Selanjutnya melakukan pengambilan data dengan 3 variasi
frekuensi, yaitu High frequency (HF), Medium frequency (MF), serta Low frequency (LF)
dengan nilai masing-masing 64 KHz, 4 KHz, dan 128 Hz. Setelah didapatkan data maka
pengukuran selesai.

3.3.2 Pengolahan Data


Mulai

Input Data ke Mappros

FFT
Digital Filtering

Seleksi Data
Konversi Data dengan
format .EDI

Input Koordinat dan Elevasi


di WinGlink
21

Aktivasi Line dan Stasiun


yang akan diolah

Penampang
Resistivitas
2D

Smoothing dan Koreksi


Shift
Edit Mesh

Inversi 2D

Langkah pertama adalah membuka perangkat lunak Mappros dan membuat survey baru
pada menu File > Create Survey, seperti pada gambar 3.6. Selanjutnya membuat folder destinasi
penyimpanan seperti gambar 3.7 dan megisi kolom dengan nama project yang diinginkan
seperti gambar 3.8.

Gambar 3.7 Create Survey

Gambar 3.8 Destinasi Penyimpanan

22

Gambar 3.9 Pemberian nama project


Langkah selanjutnya setelah membuat project baru yaitu membuat Line baru pada menu Edit >
Create Line, seperti pada gambar 3.9. Langkah berikutnya yaitu import data pada menu File >
Easy ATS Import seperti pada gambar 3.10.

Gambar 3.10 Create Line

Gambar 3.11 Import Data

23

Gambar 3.12 Mencari lokasi data

Gambar 3.13 Setting Site dan Run


Pada gambar 3.12 untuk setting kolom site, jika pengambilan data pada stasiun pertama maka
pada kolom diisi angka 1 dan jika pada stasiun kedua kolom diisi angka 2 dan dilakukan langkah
yang sama pada stasiun selanjutnya. Sedangkan kolom run, jika data tersebut dilakukan pada
running alat pertama maka kolom diisi angka 1 dan jika dilakukan pada running kedua maka
diisi angka 2 dan dilakukan langkah yang sama pada running alat selanjutnya.

Gambar 3.13 Proses import data ATS


Langkah selanjutnya jika data ATS sudah terimport, maka dilakukan proses FFT pada menu
Klik Kanan Run 1 > Start Processing seperti gambar 3.13. Selanjutnya memilih data dengan
menu Add All seperti gambar 3.14

24

Gambar 3.14 Start Processing

Gambar 3.15 Add Data

Gambar 3.16 Proses FFT

Gambar 3.17 Hasil FFT


Langkah selanjutnya melakukan digital filter, untuk memperbaiki data dan data digital filter
dibandingkan dengan data sebelum dilakukan digital filter. Jika data setelah dilakukan digital
filter menjadi lebih buruk, maka tidak perlu di lakukan digital filter. Untuk melakukan digital
filter dengan cara Klik Kanan Run 1 > Digital Filter /32 atau /4. Seperti pada gambar 3.17.

25

Gambar 3.18 Digital Filter


Langkah berikutnya membuat folder result, untuk menggabungkan data LF, MF, dan
HF menjadi satu result dengan cara Klik Kanan Site 1 > Create Result. Pada tampilan Create
Result pada kolom setup diganti dengan STD seperti pada gambar 3.18.

Gambar 3.19 Proses Create Result

26

Gambar 3.20 Hasil penggabungan data pada satu result


Langkah selanjutnya seleksi data, untuk menghasilkan data yang lebih baik dengan cara
menghapus data yang tertumpuk dan memilih data yang terbaik, seperti gambar 3.20.

Gambar 3.21 Hasil data setelah diseleksi

Setelah data terlihat lebih baik, langkah selanjutnya mengeksport data menjadi format
.Edi dengan

cara Klik Kanan Result > Eksport EDI > OK seperti

gambar 3.21.

27

Gambar 3.22 Eksport EDI


Pengolahan data selanjutnya menggunakan perangkat lunak WinGLink untuk mendapatkan
penampang resistivitas dengan cara klik pada menu File > New Database seperti gambar 3.22,
selanjutnya membuat destinasi penyimpanan seperti gambar 3.23. Langkah berikutnya akan
muncul menu Database Properties seperti gambar 3.24 dan mengganti kordinat dan datumnya
seperti gambar 3.25.

Gambar 3.23 New Database

28

Gambar 3.24 Destinasi Penyimpanan

Gambar 3.25 Database Properties

Gambar 3.26 Penggantian koordinat dan datum

Gambar 3.27 Ceklist Elevation

29

Selanjutnya mengaktifkan line dan stasiun yang akan dilakkukan sounding dan inversi 2D agar
mendapatkan penampang resistivitas pada menu maps pada perangkat lunak WinGLink seperti
gambar 3.27.

Gambar 3.28 Mengaktifkan stasiun pada line yang berwarna merah beserta stasiunnya
Langkah berikutnya yaitu dilakukan sounding pada menu sounding dengan cara ceklist pada
Open Stations from List seperti gambar 3.28. Selanjutnya ceklist stasiun yang aktif pada satu
line seperti gambar 3.29.

Gambar 3.29 Ceklist Open stations from list

30

Gambar 3.30 Ceklist stasiun yang aktif


Langkah Selanjutnya dilakukan smoothing dan koreksi shift pada setiap stasiun yang aktif
untuk mendapatkan penampang yang lebih baik seperti gambar 3.30.

Gambar 3.31 Hasil smoothing dan koreksi shift


Setelah dilakukan sounding, langkah selanjutnya adalah inversi 2D dengan cara pilih line yang
akan diinversi (ceklist use topography) > Ok seperti gambar 3.31.

Gambar 3.32 Memilih line yang akan diinversi


Langkah berikutnya dilakukan proses Mesh untuk membuat grid agar menghasilkan
penampang resistivitas yang baik dengan cara klik pada menu Edit > Reset Mesh to Default >
User Defined seperti pada gambar 3.32. Selanjutnya akan muncul menu setting mesh seperti
gambar 3.33.

31

Gambar 3.33 Melakukan proses Mesh

Gambar 3.34 Menu setting Mesh

32

Gambar 3.35 Hasil setelah dilakukan proses Mesh


Langkah selanjutnya melakukan inversi 2D dengan cara klik pada menu Inversion > Run
Smooth Inversion seperti gambar 3.35. Dan akan muncul menu untuk input iteration > Ok
seperti gambar 3.36. Selanjutnya tunggu sampai proses iterasi selesai seperti gambar 3.37.

Gambar 3.36 Proses inversi 2D

Gambar 3.37 Input iteration

33

Gambar 3.38 Proses Iterasi

Gambar 3.39 Hasil Inversi 2D

34

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Analisa Pengukuran
Pada desain survei Metode Magnetotelurik ini terdapat 5 titik pengambilan dengan
membuat 2 line dengan masing-masing disetiap linenya terdapat 3 data dan 2 data kemudian
kedua line tersebut di cross-kan. Hal itu dilakukan agar saat permodelan mendapatkan hasil
yang maksimal baik secara mapping dan sounding. Pada hasil mapping dengan memproses data
koordinat dan elevasinya sedangkan pada hasil sounding dilakukan pada 2 dimensi dengan
memasukkan data edi pada setiap line. Dimana kedua hasil mapping dan sounding dilakukan
dengan menggunakan Software WinGlink.

Gambar 4.1 Profil elevasi daerah pengukuran pada WinGlink


Dari peta diatas, sesuai skala warna dapat diketahui bahwa daerah dengan warna
cenderung biru memiliki elevasi yang rendah dibandingkan dengan daerah dengan warna hijau
sampai kuning.

4.2 Analisa Pengolahan dan Permodelan


Pada pengolahan pertama dengan Software Mappros, didapatkan persebaran data yang
cukup baik, terkecuali pada day 4. Ini diakibatkan karena pada saat proses akuisisi berjalan
terjadi hujan yang cukup lebat diiringi munculnya petir yang tentu akan mengganggu kualitas
data yang terukur. Namun demikian, data pada day 4 tersebut masih dapat digunakan dan
dipertanggung jawabkan hasilnya. Pengolahan yang dilakukan pada Software ini meliputi FFT
untuk mengubah domain waktu ke domain frequency. Karena data yang didapatkan dari
pengukuran berupa variasi medan EM dalam seri waktu. Tujuan pengubahan domain ini adalah
35

agar data dapat difilter, karena dalam proses filtering yang difilter adalah frequency bukan
dalam domain waktu.
Filtering yang digunakan adalah digital filtering untuk memfilter frequency yang
dianggap sebagai noise dan meloloskan frequency yang dianggap sebagai data. Filtering yang
digunakan adalah 1/32 dari frequency awal. Sehingga frequency yang diambil sebagai data
adalah yang dibawah 1/32 dari frequency awal tersebut untuk tiap-tiap pita frequency nya (low,
medium, dan high frequency). Digital filter ini diterapkan dengan trial and error. Karena ada
kalanya digital filter justru membuat data yang didapatkan semakin buruk yang menunjukkan
bahwa data tersebut dipenuhi oleh noise. Oleh karena itu, tidak semua data pada day 2 sampai
6 ini diambil yang sudah di filtering untuk maju ke tahapan selanjutnya (permodelan). Setelah
proses filtering, maka data di seleksi untuk membuang data yang sekiranya mengganggu data
asli, yakni data yang saling bertumpukan (cukup dipilih salah satunya) dengan antar dua titik
yang terdekat.

Gambar 4.2 Proses filtering data

Permodelan dilakukan dengan menggunakan software WinGlink tanpa melewati proses


editing pada MT Editor. Koreksi shift static dilakukan pada software ini, dan kurva resistivity
& fase di-smoothing agar sedemikian mirip dengan kurva pada model sebenarnya baru
kemudian dilakukan permodelan inversi.

36

Gambar 4.3 Pembuatan grid (mesh) untuk melakukan permodelan inversi

4.3 Analisa Hasil Permodelan


4.3.1 Line 1
Berdasarkan hasil permodelan pada line 1 dengan data pada day 2, day 4 dan day 5
dengan eror 5.8 % dapat dianalisa bahwa pada arah timur laut antara data day 4 dengan day 2
terdapat anomali tinggi dengan didapatkannya nilai resistivitas semu tinggi dengan warna hijau
kekuningan yang dimungkinkan akibat dari sumber air panas di daerah cangar tersebut
sedangkan pada arah barat laut data day 5 terdapatnya clay dengan nilai resistivitas semu yang
rendah dengan ditandai warna merah hingga orange namun pada kedalaman kira-kira -500 mdpl
terdapatnya anomaly yang sangat tinggi kemenerusan dari hasil data day 4 dan day 2.

Gambar 4.4 Peta Tahanan jenis line 1

37

Anomaly tinggi pada daerah ini mencapai nilai 400 ohm.m yang ditunjukkan oleh warna ungu,
yang dapat dinterpretasikan sebagai intrusi batuan beku. Warna hijau kekuningan yang tersebar
di bagian selatan diinterpretasikan sebagai batuan vulkanik, yang mungkin juga berfungsi
sebagai reservoir panas bumi. Pada daerah ini penulis berasumsi bahwa manifestasi panas bumi
yang muncul ke permukaan adalah sebagai akibat adanya patahan yang menembus permukaan,
dan ini sesuai setelah dioverlay secara manual dengan lembar Geologi setempat dimana sesar
yang dimaksud adalah sesar Cangar yang memang terpotong oleh line 1 ini.
Model geologi sederhana untuk menggambarkan litologi batuan sesuai dengan peta tahanan
jenis tersebut adalah sebagai berikut.

Intrusi
Clay
Sesar Cangar

Batuan vulkanik :
reservoir?

Gambar 4.5 Model sederhana litologi pada line 1

4.3.2 Line 2
Sedangkan pada hasil permodelan pada line 2 dengan data pada day 2, day 3, dan day 6
dengan eror 5.5 % dapat dianalisa bahwa pada arah timur data day2 dan day 3 terdapatnya clay
dengan nilai resistivitas semu yang rendah ditandai dengan warna merah ke orange namun pada
kedalaman kira-kira -500 mdpl terdapat anomali tinggi. Sedangkan pada arah barat data day 6
terdapat anomali tinggi dengan didapatkannya nilai resistivitas semu sangat tinggi ditandai
dengan warna biru muda ke ungu di sekitar elevasi 1000 mdpl hingga kedalaman 500 dibawah
permukaan laut yang dimungkinkan akibat sebagai adanya intrusi batuan beku yang tersingkap
hampir di permukaan. Sementara itu, anomaly tinggi berwarna biru muda hingga ungu yang
tersebar di bagian selatan diinterpretasikan sebagai intrusi yang mampu menjadi batuan sumber
panas (heat source). Warna hijau dengan nilai resistivitas berkisar pada 100 hingga 200 ohm.m
diinterpretasikan sebagai batuan vulkanik yang mampu menjadi reservoir panas bumi.

38

Gambar 4.6 Peta tahanan jenis line 2


Area yang dicakupi oleh line 2 ini dapat digambarkan model geologi sederhana nya
sepert berikut ini.
Clay
Batuan beku intrusi
Batuan Vulkanik :
Reservoir?

Batuan beku intrusi

Gambar 4.7 Model litologi sederhana line 2

39

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Metode Magnetotelluric merupakan metode yang digunakan untuk mencari nilai
tahanan jenis atau resistivitas batuan bawah permukaan bumi dengan memanfaatkan variasi
nilai medan electromagnet dalam seri waktu. Metode MT sering digunakan dalam eksplorasi
panas bumi. Pada penelitian kali ini didapatkan data yang hampir kesemuanya baik meskipun
ada 1 titik yang sedikit mengalami gangguan saat pengukuran sehingga menurunkan kualitas
data. Dari hasil pengolahan awal dengan Mappros, didapatkan kenyataan bahwa tidak semua
data yang difilter menjadi lebih baik kualitasnya, dalam banyak kasus justru filtering tidak perlu
diterapkan. Setelah dilakukan permodelan dengan WinGlink, diketahui bahwa litologi yang
mendukung adanya sistem panas bumi dibawah permukaan daerah penelitian adalah clay
sebagai batuan penudung, batuan vulkanik yang dapat menjadi batuan reservoir, dan intrusi
batuan beku yang dapat menjadi sumber panas untuk sistem panas bumi didaerah ini. Selain itu,
manifestasi panas bumi dipermukaan berupa mata air panas (hotspring) yang ditemukan di area
penelitian dikontrol oleh keberadaan sesar Cangar. Melihat harga eror permodelan yang cukup
rendah (sekitar 5%), maka dapat dikatakan bahwa permodelan yang dilakukan cukup dapat
dipertanggung jawabkan.

5.2 Saran
Untuk menghasilkan data yang lebih baik dan semakin dapat dipertanggung jawabkan,
hendaknya pengolahan tidak hanya dilakukan pada Mapros, namun juga dengan menggunakan
MT Editor. Selain itu, untuk pengambilan data dalam skala yang lebih besar (lebih
professional), maka lebih baik dilakukan pada musim non hujan agar data yang didapatkan tidak
banyak terpengaruh oleh noise, dan kondisi tanah pun menunjukkan keadaan sebenarnya tanpa
pengaruh dari air hujan.

40

DAFTAR PUSTAKA
Agung, L., 2009, Pemodelan Sistem Geothermal dengan Menggunakan Metode Magnetotelurik
di Daerah Tawau, Sabah, Malaysia, Universitas Indonesia, Program Studi Fisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Depok.
Kadir, T.V.S., 2011, Metode Magnetotellurik (MT) Untuk Eksplorasi Panas Bumi Daerah Lili,
Sulawesi Barat dengan Data Pendukung Metode Gravitasi, Universitas Indonesia,
Kekhususan Geofisika Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Depok.
Saptaji, Ir. N.M. Ph.D, 2001, Tehnik Panas Bumi, Institud Teknologi Bandung, Departemen
Teknik Perminyakan, Fakultas Ilmu Kebumian dan teknologi Mineral, Bandung.
Satrio, A., Koesuma, S., 2012, Identifikasi Panasbumi di Daerah Ngijo dan Pablengan
Karanganyar Menggunakan Metode Audio Magnetotelurik, ISSN: 2089-0133,
Indonesia Journal of Applied Physics Vol. 2. No.2: 198.
Simpson, F. dan Bahr, K., 2005, Practical Magnetotellurics, Cambridge University Press.
Tim Survey Terpadu Geologi dan Geokimia PSDG. 2010. Laporan Akhir Survey Geologi dan
Geokimia Daerah Panasbumi Arjuno-Welirang Kabupaten Mojokerto dan Malang
Provinsi Jawa Timur. Laporan Akhir Pusat Sumber Daya Geologi. Bandung
VSI. 2014. Gunung Arjuno-Welirang. Retrieved from VSI ESDM Web Site:
http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasargunungapi/544-garjuno-welirang?start=2

41

LAMPIRAN

42