Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS ICHNOFOSIL DAN PENGKLASIFIKASIANNYA PADA

SINGKAPAN SUNGAI BANYUMENENG, KECAMATAN MRANGGEN,


KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH
Charisma Siallagan
21100114140073
charismasiallagan22@gmail.com
Program Studi Teknik Geologi
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
SARI
Paper ini bertujuan menganalisa bentukan ichnofosil yang merupakan suatu penciri tingkah
laku organisme terkhusus hewan di masa lampau dan pengklasifikasiannya berdasarkan beberapa
ketentuan. Pembuatan paper ini didukung oleh data lapangan yang diambil dari data lapangan yang
berada pada Sungai Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Lokasi
mapping ini masih termasuk kedalam zona Kendeng dengan litologi batulempung sisipan batupasir
dan sungai Banyumeneng ini tersusun atas formasi kerek. Metode yang dilakukan dalam penyusunan
paper ini ialah dengan melakukan observasi lapangan. Lalu data yang telah dipeoleh diolah dengan
melakukan studi pustaka yang diperoleh dari blog, e-book, dan hasil penelitian mengenai ichnofosil
diambil dari internet. Ichnofosil atau disebut juga Trace fossil yang ditemukan memiliki bentuk
seperti tabung yang terdapat pada batupasir yang memiliki ukuran butir pasir sedang dan bersifat
karbonatan. Trace fossil yang ditemukan berupa Resting dan Fodichnia. Jika dilihat dari lingkungan
hidup atau faciesnya diinterpretasikan bahwa fosil jejak ini termasuk dalam skolithos ichnofacies
yang terbentuk pada daerah intertidal dengan substrat batupasir yang memiliki fluktuasi air yang
tinggi. Lingkungan khas dari skolithos adalah pada garis pantai berpasir, tapi juga dimungkinkan
kearah laut dangkal bahkan sampai ke laut dalam.
Kata Kunci: Jawa Tengah, Zona Kendeng, Formasi Kerek, Sungai Banyumeneng, Ichnofosil
ABSTRACT
This paper aims to analyze the formation of ichnofosil which is an identifier behavior animal
organisms especially those in the past and classification based on several provisions. Manufacture of
paper is supported by field data taken from the results of field mapping that is at Banyumeneng River,
District Mranggen, Demak, Central Java. The location of this mapping is included into the zone
Kendeng with inserts sandstone and claystone lithology Banyumeneng river is composed of
formations hoist. The method used in the preparation of this paper is to conduct field observations.
Then the records that have been obtained are treated in a literature study derived from blogs, e-books,
and the results of research on ichnofosil taken from the Internet. Ichnofosil also called Trace fossils
were found to have a shape like a tube contained in sandstones which have a size of grains of sand
were and are karbonatan. Trace fossils are found in the form of Agrichnia, Fodichnia. If viewed from
the environment or faciesnya interpreted that these trace fossils included in skolithos ichnofacies
formed on the substrate sandstone intertidal areas that have high water fluctuation. Skolithos
environment is typical of the sandy shoreline, but it is also possible towards the sea is shallow even to
the deep sea.
Keywords:, Central Java, Kendeng Zone, Kerek Formation, Banyumeneng Fluvial, Ichnofosil

PENDAHULUAN
Pembuatan paper ini bermaksud untuk
memberikan informasi kepada seluruh
pembaca
mengenai
ichnofosil
dan
klasifikasinya. Berdasarkan ichnosil dapat
diketahui tingkah laku organisme atau hewan
pada masa lampau dilihat dari fosil jejak yang
dihasilkannya pada substrat. Paper ini
bertujuan menganalisa bentukan fosil jejak
yang merupakan suatu penciri bagaimana
tingkah laku organisme terkhusus hewan di
masa lampau dan pengklasifikasiannya.
Pembuatan paper ini didukung oleh data
lapangan yang diambil dari data lapangan
mapping
yang
berada
pada
sungai
Banyumeneng,
kecamatan
Mranggen,
kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kegiatan
mapping tersebut dilaksanakan pada Minggu,
22 November 2015. Ilmu yang mempelajari
ichnofosil disebut ichnofolofy. Ichnofology
ini sudah berkembang karena menjadi faktor
penting dalam memahami ilmu geologi. Satu
dekade terakhir ichnofacies begitu populer
sebagai salahsatu perangkat yang begitu
berguna
dalam
analisis
lingkungan
pengendapan dan stratigrafi. Banyaksekali
kasus
dalam
identifikasi
lingkungan
pengendapan tidak dapat dilakukan hanya
darikarakteristik
sedimentologi.
Kondisi
lingkungan
pengendapan
yang
begitu
kompleks
ternyata tidakmampu
hanya
dijabarkan dengan karakter sedimentologi saja
tapi harus diintegrasikan dengankarakteristik
dari ichnofacies. Ichnofacies telah digunakan
sejak dulu hingga sekarang olehgeologist
sesuai kebutuhan masing-masing. Menurut
Seilacher
(1964),
ichnofacies adalah
terminology yang mencakupi
perulangan
asosiasi dari fosil jejak sejak zaman Eon
Fanerozoikum
hingga
sekarang
pada
skala global. Asosiasinya dihubungkan dengan
fasies
pengendapan
dan lingkungan pengendapan.
Seilacher
menyatakan bahha hubungan tersebut dapat
dipelajari pada level yang berbeda dari skala
global, umur tersendiri, hingga analisa
regional dari formasi-formasi khusus dan

variasi vertikal maupun lateral pada satu


lapisan. Melalui hubungan fosil jejak yang ada
dan persebarannya pada lingkungan yang
berbeda-beda, kita dapat mengetahui batimetri,
salinitas atau kondisi lingkungan, dan
hubungan tersebut dapat berubah selama
sejarah bumi ini berlangsung.
GEOLOGI REGIONAL
Zona
Kendeng
meliputi
deretan
pegunungan dengan arah memanjang barattimur yang terletak langsung di sebelah utara
sub zona Ngawi. Pegunungan ini tersusun oleh
batuan sedimen laut dalam yang telah
mengalami
deformasi
secara
intensif
membentuk suatu antiklinorium. Pegunungan
ini mempunyai panjang 250 km dan lebar
maksimum 40 km (de Genevraye & Samuel,
1972) membentang dari gunungapi Ungaran di
bagian barat ke timur melalui Ngawi hingga
daerah Mojokerto. Di bawah permukaan,
kelanjutan zona ini masih dapat diikuti hingga
di bawah selatan Madura.
Ciri morfologi Zona Kendeng berupa
jajaran perbukitan rendah dengan morfologi
bergelombang, dengan ketinggian berkisar
antara 50 hingga 200 meter. Proses eksogenik
yang berupa pelapukan dan erosi pada daerah
ini berjalan sangat intensif, selain karena iklim
tropis juga karena sebagian besar litologi
penyusun
Mandala
Kendeng
adalah
batulempung-napal-batupasir yang mempunyai
kompaksitas rendah, misalnya pada formasi
Pelang, Formasi Kerek dan Napal Kalibeng
yang total ketebalan ketiganya mencapai lebih
dari 2000 meter.
Stratigrafi
penyusun
Zona
Kendeng
merupakan endapan laut dalam di bagian
bawah yang semakin ke atas berubah menjadi
endapan laut dangkal dan akhirnya menjadi
endapan non laut. Endapan di Zona Kendeng
merupakan endapan turbidit klastik, karbonat
dan vulkaniklastik. Stratigrafi Zona Kendeng
terdiri atas 7 formasi batuan, urut dari tua ke
muda sebagai berikut (Harsono, 1983 dalam
Rahardjo 2004) :
Formasi Pelang
Merupakan formasi tertua di Mandala
Kendeng tersingkap di Desa Pelang, Selatan
Juwangi. Tidak jelas keberadaan bagian atas
maupun bawah dari formasi ini karena
singkapannya pada daerah upthrust, berbatasan
langsung dengan formasi Kerek yang lebih
2

muda. Dari bagian yang tersingkap tebal


terukurnya berkisar antara 85 meter hingga
125 meter (de Genevraye & Samuel, 1972
dalam Rahardjo, 2004). Litologi utama
penyusunnya adalah napal, napal lempungan
dengan lensa kalkarenit bioklastik yang
banyak mengandung fosil foraminifera besar.
Formasi Kerek
Formasi Kerek memiliki kekhasan berupa
perulangan perselang-selingan antara lempung,
napal, batupasir tuf gampingan dan batupasir
tufaan yang menunjukkan struktur sedimen
yang khas yaitu perlapisan bersusun (graded
bedding). Lokasinya berada di Desa Kerek,
tepi sungai Bengawan Solo, 8 km ke utara
Ngawi. Di daerah sekitar lokasi tipe formasi
ini terbagi menjadi tiga anggota (de Genevraye
& Samuel, 1972 dalam Rahardjo, 2004), dari
tua ke muda masing-masing :
a. Anggota Banyuurip
Anggota Banyuurip tersusun oleh perselingan
antara napal lempungan, lempung dengan
batupasir tuf gampingan dan batupasir tufaan
dengan total ketebalan 270 meter. Di bagian
tengahnya
dijumpai
sisipan
batupasir
gampingan dan tufaan setebal 5 meter,
sedangkan bagian atasnya ditandai dengan
adanya perlapisan kalkarenit pasiran setebal 5
meter dengan sisipan tuf halus. Anggota ini
berumur Miosen tengah bagian tengah atas.
b. Anggota Sentul
Anggota Sentul tersusun atas perulangan yang
hampir sama dengan anggota Banyuurip, tetapi
lapisan yang bertuf menjadi lebih tebal.
Ketebalan anggota Sentul mencapai 500 meter.
Anggota Sentul berumur Miosen atas bagian
bawa.
c. Anggota Batugamping Kerek
Merupakan anggota teratas dari formasi Kerek,
tersusun oleh perselingan antara batugamping
tufaan dengan perlapisan lempung dan tuf.
Ketebalan anggota ini mencapai 150 meter.
Umur batugamping kerek ini adalah N17
(Miosen atas bagian tengah).
Formasi Kalibeng
Formasi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu
bagian bawah dan bagian atas. Bagian bawah
formasi Kalibeng tersusun oleh napal tak
berlapis setebal 600 meter, berwarna putih
kekuning-kuningan sampai abu-abu kebirubiruan, kaya akan kanndungan foraminifera
plantonik.
a. Formasi Kalibeng bagian bawah
Formasi Kalibeng bagian bawah ini terdapat
beberapa perlapisan tipis batupasir yang ke

arah Kendeng bagian barat berkembang


menjadi suatu endapan aliran rombakan, yang
disebut sebagai Formasi Banyak (Harsono,
1983 dalam Rahardjo, 2004) atau anggota
Banyak dari formasi Kalibeng (Nahrowi dan
Suratman, 1990 dalam Rahardjo, 2004), ke
arah Jawa Timur, yaitu di sekitar Gunung
Pandan, Gunung Antasangin dan Gunung
Soko, bagian atas formasi ini berkembang
sebagai endapan vulkanik laut yang
menunjukkan struktur turbidit. Fasies tersebut
disebut sebagai anggota Antasangin (Harsono,
1983 dalam Rahardjo, 2004).
b. Formasi Kalibeng bagian atas
Bagian atas dari formasi ini oleh Harsono
(1983) disebut sebagai Formasi Sonde, yang
tersusun mula-mula oleh anggota Klitik yaitu
kalkarenit putih kekuning-kuningan, lunak,
mengandung foraminifera plangtonik maupun
besar, moluska, koral, algae dan bersifat
napalan atau pasiran dengan berlapis baik.
Bagian paling atas tersusun atas breksi dengan
fragmen gamping berukuran kerikil dan semen
karbonat. Kemudian disusul endapan napal
pasiran, semakin keatas napalnya bersifat
semakin bersifat lempungan. Bagian teratas
ditempati oleh lempung berwarna hijau kebirubiruan. Formasi Sonde ini ditemukan
sepanjang sayap lipatan bagian selatan
antiklinorium Kendeng dengan ketebalan
berkisar 27 589 meter dan berumur Pliosen
(N19 N21). Formasi Pucangan
Di Kendeng bagian barat satuan ini tersingkap
luas antara Trinil dan Ngawi. Di Mandala
Kendeng yaitu daerah Sangiran, Formasi
Pucangan berkembang sebagai fasies vulkanik
dan fasies lempung hitam. Fasies vulkaniknya
berkembang sebagai endapan lahar yang
menumpang diatas formasi Kalibeng. Fasies
lempung hitamnya berkembang dari fasies
laut, air payau hingga air tawar. Di bagian
bawah dari lempung hitam ini sering dijumpai
adanya fosil diatomae dengan sisipan lapisan
tipis yang mengandung foraminifera bentonik
penciri laut dangkal. Semakin ke atas akan
menunjukkan kondisi pengendapan air tawar
yang dicirikan dengan adanya fosil moluska
penciri air tawar.
Formasi Kabuh
Formasi ini mempunyai lokasi tipe di desa
Kabuh, Kec. Kabuh, Jombang. Formasi ini
tersusun oleh batupasir dengan material non
vulkanik antara lain kuarsa, berstruktur silang
siur dengan sisipan konglomerat, mengandung
moluska air tawar dan fosil-fosil vertebrata.
3

Formasi ini mempunyai penyebaran geografis


yang luas. Di daerah Kendeng barat formasi
ini tersingkap di kubah Sangiran sebagai
batupasir silang siur dengan sisipan
konglomerat dan tuf setebal 100 meter. Batuan
ini diendapkan fluvial dimana terdapat struktur
silang siur, maupun merupakan endapan danau
karena terdpaat moluska air tawar seperti yang
dijumpai di Trinil.
Formasi Notopuro
Formasi ini mempunyai lokasi tipe di desa
Notopuro, Timur Laut Saradan, Madiun yang
saat ini telah dijadikan waduk. Formasi ini
terdiri atas batuan tuf berselingan dengan
batupasir tufaan, breksi lahar dan konglomerat
vulkanik. Makin keatas sisipan batupasir
tufaan semakin banyak. Sisipan atau lensalensa breksi volkanik dengan fragmen kerakal
terdiri dari andesit dan batuapung juga
ditemukan yang merupakan cirri formasi
Notopuro. Formasi ini terendapkan secara
selaras diatas formasi Kabuh, tersebar
sepanjang Pegunungan Kendeng dengan
ketebalan lebih dari 240 meter. Umur dari
formasi ini adalah Plistosen akhir dan
merupakan endapan lahar di daratan. Endapan
undak Bengawan Solo ini terdiri dari
konglomerat polimik dengan fragmen napal
dan andesit disamping endapan batupasir yang
mengandung fosil-fosil vertebrata. di daerah
Brangkal dan Sangiran, endapan undak
tersingkap baik sebagai konglomerat dan
batupasir andesit yang agak terkonsolidasi dan
menumpang di atas bidang erosi pada Formasi
Kabuh maupun Notopuro.

Gambar 1. Susunan Formasi Pada Zona


Kendeng

Secara umum struktur struktur yang ada


di Zona Kendeng berupa : 1. Lipatan Lipatan
yang ada pada daerah Kendeng sebagian besar
berupa lipatan asimetri bahkan beberapa ada
yang berupa lipatan overturned. Lipatan
lipatan di daerah ini ada yang memiliki pola en
echelon fold dan ada yang berupa lipatan
lipatan menunjam. Secara umum lipatan di
daerah Kendeng berarah barat timur. 2. Sesar
Naik Sesar naik ini biasa terjadi pada lipatan
yang banyak dijumpai di Zona Kendeng, dan
biasanya merupakan kontak antar formasi atau
anggota formasi. 3. Sesar Geser Sesar geser
pada Zona Kendeng biasanya berarah timur
laut- barat daya dan tenggara -barat laut. 4.
Struktur Kubah Struktur Kubah yang ada di
Zona Kendeng biasanya terdapat di daerah
Sangiran pada satuan batuan berumur Kuarter.
Bukti tersebut menunjukkan bahwa struktur
kubah pada daerah ini dihasilkan oleh
deformasi yang kedua, yaitu pada Kala
Plistosen.
METODE PENELITIAN
Metode yang dilakukan dalam penyusunan
paper ini ialah dengan melakukan observasi
lapangan
yang
berada
di
Sungai
Banyumeneng,
kecamatan
Mranggen,
kabupaten Demak, Jawa Tengah. Pada
singkapan dilakukan deskripsi litologi dan
juga deskripsi terhadap fosil jejak yang
4

ditemukan. Lalu kemudian data diolah dengan


melakukan studi pustaka yang diperoleh dari
blog, e-book, dan hasl penelitian mengenai
trace fossil yang diambil dari internet. Setip
jenis fosil jejak yang ditemui dilakukan
pendeskripsian sehingga dapat ditentukan
klasifikasi tiap fosil jejaknya.
HASIL PENELITIAN
Trace fossil yang ditemukan terletak pada
sedimen (on sediment) dengan litologi
batupasir yang memiliki warna kecoklatan,
struktur masif. tekstur dengan ukuran butir 1/8
- 1/4 mm
(skala wentworth) berbentuk
rounded, sortasi baik dan kemas tertutup.
Komposisi dari litologi ini terdiri atas fragmen
pasir sedang dan matriks yang lebih kecil dari
pasir sedang serta memiliki semen bersifat
karbonatan. Trace fossil yang ditemukan
memiliki ukuran 25 cm x 1 cm, berbentuk
tube, dan vertical menerobos tubuh batuan.
Fosil berada ditengah tubh batuan. Jenis fosil
adalah resting.
Fosil tersebut adalah
sklolithos. Terdapat juga pada batupasir yang
memiliki warna kecoklatan, struktur masif.
tekstur dengan ukuran butir 1/2 - 1 mm (skala
wentworth) berbentuk rounded, sortasi baik
dan kemas tertutup. Komposisi dari litologi ini
terdiri atas fragmen pasir kasar dan matriks
yang lebih kecil pasir kasar serta memiliki
semen bersifat karbonatan. Trace fossil yang
ditemukan memiliki ukuran 31 cm x 1 cm,
berbentuk tube shape horizontal, dan diisi oleh
fragmeb batuan sehingga tampak timbul pada
lapisan tubuh batuan. Fosil ditemukan pada
bagian atas tubuh batuan Jenis fosil tersebut
adalah resting. Fosil tersebut adalah Conicnus.
Selain
itu
terdapat
juga
pada
batupasirgampingan yang memiliki warna abuabu, struktur masif. tekstur dengan ukuran
butir 1 2 mm (skala wentworth) berbentuk
rounded, sortasi baik dan kemas tertutup.
Komposisi dari litologi ini terdiri atas fragmen
pasir sedang dan matriks yang lebih kecil dari
pasir sedang serta memiliki semen bersifat
karbonatan. Trace fossil yang ditemukan
memiliki ukuran 15 cm x 1 cm, berbentuk J
shape, dan vertical menerobos tubuh batuan.
Fosil tersebut berapa ditengah tubuh batuan.
Jenis fosil adalah fodichnia. Fosil tersebut
adalah sklolithos.

PEMBAHASAN
Trace fossil merupakan fosil berupa jejak
organisme yang terbentuk akibat aktivitas dari
organisme dalam mempertahankan hidupnya
baik dari cara hidup, beradaptasi, mencari
makanan dan lainnya. Pembahasan kali ini
lebih tertuju kepada faktor pendukung dalam
pembentukan trace fosil yang ditemukan pada
sungai Banyumeneng, Kecamatan Meranggen,
Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Trace fossil
yang ditemukan memiliki bentuk seperti
tabung yang terdapat pada batupasir yang
memiliki ukuran butir pasir sedang dan
bersifat karbonatan. Trace foisl yang
ditemuakan antara lain skolithos dan conicnus.
Ketiga jenis fosil tersebut termasuk kedalam
satu klasifikasi yaitu Skolithos Ichnofasies.
Dilihat dari klasifikasi trace fossil berdasarkan
pola hidup dan melalui bentukan yang ada kita
dapat mengetahui perilaku dari organisme
yang sudah mati tersebut. Diperkirakan
bentukan trace fossil ini terbentuk dari
aktivitas suatu organisme atau jejak yang
terbentuk pada infaunal deposit feeders yang
merupakan
kombinasi
tempat
tinggal
sementara dengan mencari makanan yang
disebut Fodichnia. Pada daerah lain,
diperkirakan bentukan trace fossil ini
terbentuk dari aktivitas suatu organisme atau
jejak yang terbentuk pada infaunal deposit
feeders yang merupakan kombinasi tempat
tinggal sementara untuk beristirahat disebut
Resting. Selain itu, dilihat dari lingkungan
hidup atau faciesnya yang pembentukannya
tidak hanya dikontrol oleh batrimetri dan
salinitas saja, tetapi juga dikontrol oleh
permukaan dan jenis lapisannya maka dari
bentukan yang didapat maka diinterpretasikan
bahwa fosil jejak ini termasuk dalam skolithos
ichnofacies yang terbentuk pada daerah
intertidal dengan substrat batupasir yang
memiliki fluktuasi air yang tinggi. Lingkungan
khas dari skolithos adalah pada garis pantai
berpasir, tapi juga dimungkinkan kearah laut
dangkal bahkan sampai laut dalam. Skolithos
didominasi dengan bentukan jejak yang
vertical/liang vertical, dan bentuk U dengan
sedikit bentuk horizontal. Bentukan ini terjadi
karena organisme yang melindungi diri
terhadap pengeringan atau suhu yang tidak
menguntungkan dan perubahan salinitas pada
saat air surut. Selain itu juga sebagai tempat
untuk melarikan diri sehingga digunakan
sebagai sebagai tempat tinggal sementara.
5

N
PENUTUP
Fosil jejak yang terdapat pada sungai
Banyumeneng,
Kecamatan
Meranggen,
Kabupaten Demak, Jawa Tengah, memiliki
fosil skolithos dengan morfologi tube shape,
terdapat pada bagian tengah tubuh batuasir dan
fosil conicnus dengan morfologi tube shape
terdapat pada bagian atas tubuh batupasir
merupakan jenis fosil yang sedang beristirahat
pada tubuh batuan. Terdapat juga fosil
skolithos dengan morfologi J shape yang
berada pada bagian tengah tubuh batupasir
gampingan yang merupakan jejak yang
terbentuk pada infaunal deposit feeders yang
merupakan
kombinasi
tempat
tinggal
sementara dengan mencari makanan yang
disebut Fodichnia. Dilihat dari lingkungan
hidup atau faciesnya diinterpretasikan bahwa
fosil jejak ini termasuk dalam skolithos
ichnofacies yang terbentuk pada daerah
intertidal dengan substrat batupasir yang
memiliki fluktuasi air yang tinggi. Lingkungan
khas dari skolithos adalah pada garis pantai
berpasir, tapi juga dimungkinkan kearah laut
dangkal bahkan sampai laut dalam.

Gambar 1. Kenampakan Skolithos pada


Batupasirgampingan, Sungai Banyumeneng

REFERENSI

Gamabar 2. Kenampakan Conicnus pada


Batupasir, Sungai Banyumeneng

TRACE

TRACE

Tim
Asisten
Praktikum
Makropaleontologi.2015Buku
Panduan
Praktikum Makropaleontologi. Teknik Geologi
UNDIP, Semarang (Dikutip pada Senin, 30
November 2011 pukul 09.00 WIB)

www.blogspot.com/regional/kabupaten/de
mak/jawa/tengah-1.html (Dikutip pada
Senin, 30 November 2011 pukul 09.20 WIB)

LAMPIRAN

TRACE
Gamabar 3. Kenampakan Skolithos pada
Batupasir, Sungai Banyumeneng