Anda di halaman 1dari 2

Teknologi Tepat Guna : Reflektor Konis,

Berhemat Energi Ala LIPI


BAGI sebagian penduduk, setetes minyak tanah sangatlah berarti bagi kelangsungan hidup
mereka. Setiap hari, mereka memasak air atau menanak nasi menggunakan kompor minyak
tanah sumbu (KMTS). Oleh karena itu, setiap kali ada isu minyak tanah langka, banyak
penduduk yang gundah karena mereka sadar kelangkaan bahan bakar fosil tersebut berarti
bencana bagi kehidupan mereka. Tak peduli antre, tak peduli harganya dinaikkan, dengan
berbagai cara, penduduk akan berusaha mendapatkan minyak tanah, bahkan meski cuma
setetes.
Sayangnya, penggunaan KMTS oleh masyarakat umumnya tidak efisien sehingga boros
energi dan biaya. Pada umumnya nyala api pada kompor minyak tanah sumbu tidak
terlindungi dan terlihat mata dari luar sehingga menyebabkan panas hilang lebih banyak,
konsumsi bahan bakar pun tidak hemat, kata Supriyatno, salah seorang peneliti dari Pusat
Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Dengan asumsi bahwa konsumsi dan harga BBM rumah tangga cenderung meningkat dari
waktu ke waktu, menurut Supriyatno, akan terjadi pemborosan energi dan biaya yang luar
biasa besar. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara atau teknologi yang bisa meningkatkan
efisiensi termal yang dihasilkan oleh proses pembakaran minyak pada KMTS.
Apabila efisiensi termal KMTS dapat ditingkatkan melalui optimasi energi dari radiasi nyala
api, berarti ada potensi penghematan bahan bakar minyak yang dapat direalisasikan guna
menunjang konservasi energi, kata Supriyatno menambahkan.
Efisiensi 6 persen
Supriyatno bersama timnya di Pusat Penelitian Fisika LIPI melakukan serangkaian uji coba
dengan menempatkan reflektor logam berbentuk silinder konis sebagai pelindung radiasi
panas nyala api kompor. Kedua penampang reflektor tersebut sejajar dan diameter bagian
atasnya lebih besar daripada bagian bawah.
Dimensi reflektor disesuaikan dengan diameter tutup sarangan luar atau dudukan panci agar
tidak terkena api langsung. Dinding silinder konis mempunyai kemiringan 40 derajat-45
derajat dan berfungsi memantulkan kembali radiasi panas dari nyala api. Kalau pada kompor
biasa, tanpa reflektor, radiasi panasnya menyebar ke luar. Nah, pada kompor dengan reflektor,
radiasi panas terlindungi dan dipantulkan kembali oleh reflektor sehingga proses pemanasan
lebih terfokus pada nyala api, kata Supriyatno.
Oleh karena pemanasan lebih terpusat, penurunan suhu pengapian bisa dipertahankan dan
proses pembakaran berlangsung lebih sempurna. Pada akhirnya, konsumsi bahan bakar
kompor menjadi lebih kecil, sementara lingkungan di sekitar kompor relatif lebih nyaman
dan tidak terlalu panas, serta relatif lebih bersih dari polusi.
Suhu reflektor dan nyala api kemudian diamati untuk menghitung energi radiasi yang
tergantung dari emisivitas permukaan pelat reflektor dan faktor geometrinya. Pengukuran
juga dilakukan terhadap suhu air hingga mendidih, jumlah penguapan air, dan bahan bakar

yang terpakai. Dari hasil perhitungan tersebut ternyata penambahan reflektor konis berbahan
pelat aluminium pada KMTS mampu meningkatkan efisiensi termal hingga 6 persen. Waktu
yang dibutuhkan untuk memasak air juga jadi lebih cepat, tutur Supriyatno.
Supriyatno dan timnya juga melakukan uji coba dengan membuat variasi bahan pelat
reflektor. Mulai dari reflektor konis berbahan aluminium biasa berdimensi kecil, reflektor
dengan isolator, dan reflektor pelat aluminium berdimensi besar. Hasilnya, tingkat efisiensi
tertinggi dicapai pada reflektor dengan isolator. Reflektor pelat Al berdimensi besar
mempunyai tingkat radiasi relatif besar karena faktor luas bidang dan tingkat beda suhu yang
lebih besar daripada reflektor Al berdimensi kecil.
Menurut Supriyatno, tingkat radiasi dari Al dengan isolatif relatif kecil karena isolator
menurunkan beda tingkat suhu sehingga tingkat radiasi menurun. Pada pengukuran terhadap
konsumsi bahan bakar terlihat, penggunaan reflektor konis pelat Al meningkatkan efisiensi
antara 3,3 hingga 6,7 persen, sedangkan penambahan isolator fiber ceramic pada dinding
bagian luar reflektor menurunkan tingkat radiasi sekitar 8 watt (15 persen).
Sebenarnya, hasil penelitian tim LIPI tersebut sudah dipatenkan pada tahun 2005 dan siap
diproduksi massal. Tetapi, karena isunya sudah berubah, yakni dengan kebijakan konversi
minyak tanah ke gas, kita tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Saya tidak tahu apakah
produk kami ini dipakai atau tidak oleh masyarakat, kata Supriyatno.
Yang pasti, dengan program konversi minyak tanah ke kompor gas, pihaknya juga kini
sedang bersiap-siap melakukan penelitian serupa, memasang reflektor di kompor gas. Tentu
saja, karena suhu nyala api yang dihasilkan oleh kompor gas lebih tinggi, bahan pelat
reflektor juga harus beda, kita akan pakai pelat baja tahan karat, katanya. Ada yang berminat
mendanai penelitian mereka? (Muhtar Ibnu Thalab/PR)***
Sumber : Pikiran Rakyat
http://www.fisika.lipi.go.id/webfisika/content/teknologi-tepat-guna-reflektor-konisberhemat-energi-ala-lipi