Anda di halaman 1dari 5

Berhentilah Menggunakan Istilah Bahan

Bakar Air
Artikel ini dilihat sebanyak 13,530 kali
Kalau kita iseng googling kata bahan bakar air maka kita akan menemukan seabrek berita
atau gambar tentang penggunaan air sebagai bahan bakar. Mulai dari siswa SMA/K, Guru,
Mahasiswa, Dosen, Ilmuwan bahkan masyarakat umum mengklaim menemukan cara
mengubah air menjadi bahan bakar. Lebih parah lagi, media-media online dengan penuh
kelebayannya memberitakan hingga beberapa halaman google isi nya penemuan bahan bakar
air. Sebenarnya hal ini juga gak terjadi cuma di Indonesia, di luar negeri pun berita semacam
ini gak kalah banyaknya.

too good to be true bisa jadi istilah yang terlalu halus untuk menggambarkan hal ini. Kalau
mau lebih jujur maka hoaks atau berita sampah barangkali lebih sesuai. Mengapa bisa
begitu? Saya akan coba bahas dari sudut padang keilmuawan saya di bidang kimia
Sebuah mimpi
Coba kita bayangkan punya motor atau mobil yang tangki bahan bakarnya bukan lagi
Pertamax, tapi air, suatu benda yang dengan mudah kita peroleh. Tentu sangat menyenangkan
dan memudahkan. Dari bandung ke jakarta yang jaraknya sekitar 120 km biasanya butuh 100
ribu bensin (perkiraan saya sih..) jika menggunakan bahan bakar air maka tidak sampai 10
ribu rupiah. Apalagi saat ini kita berada di suatu zaman dimana ketergantungan terhadap
bahan bakar fosil sangat besar, padahal minyak bumi, gas alam, dan batubara merupakan
sumber daya tak terbaharukan. Oleh karena itu, jika ada invention tentang bahan bakar air
maka media massa akan sangat menyukainya terlepas itu benar atau tidak.

Batasan tulisan ini


Saya membatasi bahan bakar air hanya untuk energi yang berasal dari zat air itu. Jadi PLTA
yang menggunakan energi potensial gravitasi air, saya tidak masukkan dalam pembahasan
ini.
Inilah kenyataannya
Sunatullah telah menunjukkan bahwa sebagian besar permukaan bumi ditutupi air. Hal ini
tidak berlangsung seabad-dua abad, tapi jutaan tahun sejak bumi tercipta. Hal ini
menunjukkan bahwa air merupakan suatu zat yang sangat stabil atau dalam bahasa ilmu
kimia, sudah berada di tingkat energi yang sangat rendah. Kalau kita iseng menyiram api
dengan air maka api bukan malah membesar, namun justru malah padam (Apakah api itu dan
mengapa air memadamkannya?). Padahal untuk bisa menjadi bahan bakar, suatu zat apapun
harus berada di tingkat energi yang tinggi atau bahasa awamnya bisa bereaksi dengan udara
(oksigen). Air harus diubah atau diuraikan menjadi gas hidrogen agar bisa menjadi bahan
bakar (sebenarnya yang jadi bahan bakar nanti adalah hidrogen ..
).

Proses penguraian air menjadi gas hidrogen ini membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Setiap perngurain 1 liter air menjadi gas hidrogen dan oksigen membutuhkan energi
setidaknya 15.800 kJ atau setara dengan energi yang dilepaskan oleh pembakaran setengah
liter bensin. Ini tentu saja dengan asumsi efesiensi penguraian air berlangsung 100% padahal
kenyataanya hal ini tidak mungkin. Oleh sebab itu, jika ada informasi apapun tentang bahan
bakar air baik dari media massa, artikel, dll maka hal ada dua yang perlu kita cermati, yaitu:
1. Energi apakah yang digunakan untuk menguraikan air menjadi hidrogen? Apakah
lebih murah dan sustainable dibandingkan bahan bakar fosil atau setidaknya
dibandingkan bahan bakar nabati seperti biofuel dan biodiesel?
2. Bagaimana metode proses penguraiannya?
Metode penguraian air menjadi hidrogen
Setidaknya ada tiga metode umum yang saat ini digunakan untuk menguraikan air menjadi
hidrogen, yaitu:
1. Elektrolisis

Pada proses elektrolisis, kita mengalirkan arus listrik (baca : memberikan energi listrik) ke air
sehingga air terurai menjadi gas hidrogen di katoda (kutub negatif) dan gas oksigen di anoda
(kutub positif). Gas hidrogen yang dihasilkan bisa disalurkan ke dalam sistem pembakaran
kendaraan. Karena air bukan penghantar listrik yang baik maka biasanya kita tambahkan
garam atau asam atau basa agar bisa menjadi elektrolitik. Beberapa penelitian menunjukkan
air bisa menghantar listrik dalam gelombang radio freksuensi tertentu. Kita bisa dengan
mudah melakukan hal ini di rumah menggunakan adaptor hp atau aki yang mana kedua
kabelnya dicelupkan di air garam. Di antara semua metode penguraian air, elekstrolisis
merupakan metode yang paling mudah dilakukan dan paling memungkinkan dibuat portabel.

Namun, kembali yang menjadi pertanyaan adalah apakah sumber energi yang digunakan
untuk menyediakan arus listrik agar bisa menguraikan air tersebut? Jika kita menggunakan
aki mobil atau motor (seperti yang sempat dibicarakan orang beberapa waktu lalu) maka itu
tidak lebih dari omong kosong. Untuk menguraiakan hanya 1 liter air dengan arus listrik 1
Ampere setidaknya kita membutuhkan waktu 2900 jam lebih (gak tahu berapa hari tu). Apa
tidak jebol dengan segera aki tersebut?
Jadi, metode elektrolisis hanya memiliki prospek jika dan hanya jika kita menggunakan
sumber energi listrik yang lebih murah, misal dengan tenaga angin, panas bumi, atau energi
matahari. Namun, jika kita menggunakan ketiga sumber energi ini maka bahan bakar air tidak
bisa dibuat portabel dan include di sistem kendaraan dan harus memikirkan penyimpanan
gas hidrogen yang tidak mudah dan rawan meledak. Selain itu, apakah tidak lebih efisien jika
energi listik yang dihasilkan dari ketiga sumber energi tersebut langsung disalurkan ke end
user atau jika untuk kendaraan dalam bentuk mobil listrik dibandingkan untuk elektrolisis air.
Ada satu kaidah umum yang merupakan aplikasi hukum pertama dan kedua termodinamika,
semakin panjang rantai konversi suatu energi maka semakin kecil efesiensinya.
2. Dekomposisi Termal
Jika pada proses elektrolisis kita menggunakan listrik sebagai sumber energi, maka pada
dekomposisi termal kita menggunakan panas untuk menguraikan air. Karena air merupakan
salah satu zat yang sangat stabil maka dibutuhkan suhu tinggi (sekitar 1200 1500
) dan
katalis (biasanya Pt dan Ir).

Teknologi ini tidak terlalu berkembang karena membutuhkan suhu yang sangat tinggi dan
hasil yang diperoleh tidak memuaskan sehingga tidak memungkinkan dijadikan portabel di
kendaraan. Selain itu, sumber energi untuk pemanasan juga menjadi persoalan. Jika sumber
energi tersebut lebih mahal maka akan lebih efisien kalau langsung digunakan tanpa harus
mengubah air menjadi hidrogen terlebih dahulu. Gas alam misalnya akan lebih efisien
langsung digunakan sebagai bahan bakar dibandingkan digunakan sebagai sumber energi
dekomposisi termal air.
Jika memang membutuhkan hidrogen maka gas alam bisa diubah langsung menjadi hidrogen
lewat proses steam-methane reforming yang memberikan hasil lebih baik dan membutuhkan
suhu lebih rendah (sekitar 700 1000
).

3. Fotokatalisis air
Ide ini sebenarnya meniru konsep fotosintesis pada tumbuhan, yaitu menyerap gas
karbondioksida dan air lalu mengubahnya menjadi oksigen dan senyawa organik kompleks
(sumber energi) menggunakan energi cahaya dengan bantuan katalis. Bedanya, pada
fotokatalisis air hanya menggunakan air sebagai raw material dan mengubahnya menjadi gas
hidrogen dan oksigen. Ada banyak katalis yang bisa digunakan untuk fotokatalis seperti TiO2
(titanium oksida), dll. Dalam beberapa kasus metode fotokatalisis digabungkan dengan
elektrolisis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Metode ini sebenarnya cukup memiliki prospek besar di masa depan karena sinar matahari
merupakan sumber energi yang sangat murah dan sustainable. Hidrogen yang dihasilkan bisa
digunakan fuel cell dan sebagainya. Hanya saja perdebatan baru akan muncul, manakah yang
lebih menjanjikan dan efisien: menggunakan energi matahari untuk fotokatalisis air atau
solar cell (listrik)? Selain itu, teknologi ini juga tdak bisa digunakan secara langsung di
kendaraan.
Info lebih lengkap tentang ini bisa dilihat di : water-splitting
Kesimpulan
Di antara ketiga metode tersebut, hanya metode elektrolisis yang memungkinkan dibuat
portabel dan digunakan di kendaraan. Namun, ini tidak membuat bahan bakar air layak
digunakan. Bahkan, semua kendaraan yang diklaim berbahan bakar air tidak lebih dari

omong kosong belaka. Energi listrik yang disediakan oleh aki dan alternator jauh dari kata
cukup untuk mensupplay hidrogen yang mengimbangi laju bahan bakar.
Ilustrasi nya gini: Ambil contoh sepeda motor bergerak dengan kecepatan 50 km/jam dan
menghabiskan 1 liter bensin tiap 50 km. Berarti energi yang disupply bensin untuk motor
tersebut adalah 38ribu kJ/jam (kalor pembakaran bensin 47kJ/gram). Sekarang kita
bandingkan elektrolisis air dengan aki atau alternator selama 1 jam dengan arus 1 A hanya
akan menghasilkan 0,037 gram gas hidrogen atau setara dengan 5 kJ/jam (0.013% dari
bensin). Bahkan kalau kita sangat kreatif hingga kita bisa mensupplay arus listrik 100 A buat
elektrolisis pun energi yang dihasilkan hanya 500kJ/jam (hitung sendiri berapa persen
dibandingkan bensin
). Itu pun dengan catatan sumber energi asal yang digunakan
sangat ekonomis dan konversi energinya bisa dibuat 100% (ini yang mustahil). Mungkin
juga gak sampai beberapa menit aki atau batere atau apalah namanya akan rusak karena
dipaksa supply arus sebesar itu.
Makanya kalau ada yang bilang bahan bakar air dia sangat awet, 1 liter air untuk 700 km ya
masuk akal. wong yang mengerakkan motornya 99.986% dari bensin. :D. Ini belum ketidak
efisien proses elektrolisis yang tinggi dan harga sumber bahan energi asal (aki dan bensin)
yang lebih mahal.
Kalau mau riset lebih serius dan bukan asal tenar di media indonesia (yang begitu abal-abal)
maka metode fotokatalisis air yang kita kejar. Sumber daya matahari sangat melimpah. Gas
hidrogen dan oksigen bisa dimanfaatkan untuk hal yang jauh lebih manfaat seperti produksi
pupuk urea, industri kimia, pembuat sin gas dari batu bara dll sehingga ketergantungan
terhadap bahan bakar fosil berkurang. Kalau mau buat energi bisa diarahkan ke fuel cell.
Memang sih istilahnya tidak lagi bahan bakar air karena kita tidak memasukkan air ke tangki
bahan bakar kita :D.
Adakah cara lebih ekstrim gitu agar bisa bahan bakar air?
Semua kita yang bahas di atas dalam batasan konsep termodinamika kimia. Kalau mau keluar
dari batasan itu tentu saja kita bisa membuat bahan bakar air yang fenomenal. Misal kita
kumpulkan itu semua isotop detrium di air (D2O) lalu kita buat reaktor nuklir jenis fusi di
mobil kita, tentu energi yang dihasilkan sangat besar. Apakah itu mungkin? Mungkin jika kita
mampu menyediakan tempat bersuhu mendekati suhu matahari (ya sekitar 10.000
) di
mobil kita .. hihihii
Emang gak bisa ya air langsung dijadikan bahan bakar tanpa harus diubah jadi hidrogen, ya
semacam blue energy gitu? Tentu bisa, jika kita bisa mengganti semua oksigen di udara
dengan gas fluor (suatu gas yang sangat beracun dan reaktif). Air bisa terbakar oleh gas fluor
menghasilkan cairan hidrogen fluorida (HF) yang bisa melelehkan kaca. serem kali kalau
ada yang bisa membuat air terbakar oleh oksigen maka dia layak mendapat nobel karena dia
telah membuat hukum kimia yang baru.

http://khabibkhumaini.com/2015/09/27/bahan-bakar-air-mimpi-hoax-dan-realita/
Khabib Khumaini