Anda di halaman 1dari 41

TUGAS AKHIR

MANAJEMEN PRODUKSI AKUAKULTUR


USAHA PEMBESARAN KERAPU BEBEK Cromileptes altivelis
DI KERAMBA JARING APUNG (KJA)

Oleh:
Mega Dissa Afpriyaningrum

C151140321

Dony Prasetyo

C151140391

Stefano M.A Rijoly

C151140401

ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

I.

PENDAHULUAN

Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi perikanan salah satunya


dapat dilakukan melalui kegiatan budidaya. Budidaya merupakan kegiatan
pemeliharaan untuk memperbanyak, menumbuhkan, serta meningkatkan
mutu biota akuatik, sehingga diperoleh keuntungan (Effendi 2004).
Mengingat potensi yang besar, salah satu kegiatan ekonomi yang dapat
dikembangkan adalah perikanan budidaya. Perairan laut kawasan ini
terdiri dari laut dangkal berupa reef flat, laguna, dan teluk, serta laut lepas
berupa selat yang berpotensi untuk pengembangan budidaya. Luas
kawasan potensial untuk budidaya laut tersebut diperkirakan mencapai
4.376 hektar (Soebagio 2004).
Pemenuhan kebutuhan di masa akan datang salah satunya adalah
melalui kegiatan budidaya. Saat ini pemerintah telah menerapkan
kebijakan dalam pengembangan perikanan budidaya melalui
pengembangan kawasan komoditas unggulan. Tujuan kebijakan tersebut
adalah untuk memacu pengusahaan bagi sepuluh komoditas unggulan
termasuk di dalamnya ikan Kerapu. Kerapu Bebek adalah jenis ikan dari
keluarga Serranidae yang hidup di daerah karang. Ikan Kerapu adalah
salah satu jenis komoditas unggulan yang harus diusahakan untuk
mendukung hasil produksi dari sektor penangkapan. Berdasarkan data dari
Kelautan dan Perikanan Dalam Angka (KKP 2013) produksi kerapu tahun
2008-2012 meningkat dari 5.005 ton menjadi 11.950 ton atau sebesar
30,26%. Peningkatan produksi dapat mengindikasikan adanya peningkatan
permintaan produk kerapu.
Ikan Kerapu adalah komoditas perikanan Indonesia yang
diunggulkan dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, mempunyai harga
yang mahal serta merupakan komoditas ekspor (Ismi et al 2013). Ikan
Kerapu merupakan ikan berukuran besar, yang dapat mencapai 2 kg atau
lebih per ekor (Ghufran 2001). Salah satu jenis ikan Kerapu yang
dibudidayakan adalah ikan Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis). Di
tingkat petani harga ikan Kerapu Bebek mencapai Rp. 300.000,-/kg
sampai dengan Rp. 350.000,-/kg. Pasar ekspor ikan Kerapu Bebek
Indonesia adalah Jepang, Taiwan, Malaysia, Amerika Serikat dan beberapa
negara di Eropa (Giri 2001; Noor 2009). Disamping memiliki nilai
ekonomis tinggi dan rasanya enak, ikan ini juga diminati karena
mengandung EPA (Eicosapentaenoic Acid) dan DHA (Decosahexaenoic
Acid) yang cukup tinggi (Mayunar 1996).
Metode pembudidayaan ikan Kerapu Bebek yang banyak diterapkan
dan paling efisien adalah dengan menggunakan keramba jaring apung.
Metode ini masih memberikan harapan yang optimis melalui pemanfaatan
kolom air permukaan suatu kawasan budidaya (Noor 2009). Keramba
jaring apung adalah suatu sarana pemeliharaan ikan atau biota air yang
kerangkanya terbuat dari bambu, kayu, pipa pralon atau besi berbentuk
persegi yang diberi jaring dan diberi pelampung seperti drum plastik atau

styrofom agar wadah tersebut tetap terapung di dalam air. Kerangka dan
pelampung berfungsi untuk menahan jaring agar tetap terbuka di
permukaan air, sedang jaring yang tertutup di bagian bawahnya digunakan
untuk memelihara ikan selama beberapa bulan.
Budidaya dalam keramba, seperti halnya sistem budidaya lainnya
memerlukan kualitas perairan yang baik dan sangat mempengaruhi
pemilihan suatu lokasi budidaya. Pemilihan lokasi yang benar dan sesuai
daya dukung adalah suatu hal yang sangat penting karena hal ini
mempengaruhi keberlanjutan kegiatan secara ekonomis (Lawson 1995).
Meskipun demikian, ketersediaan wilayah yang sesuai untuk kegiatan
budidaya pada saat ini mulai berkurang dikarenakan menurunnya kualitas
lingkungan. Persyaratan pertama untuk keberlanjutan kegiatan budidaya
adalah tersedian sistem alokasi sumberdaya untuk budidaya. Sistem yang
demikian harus diterapkan dalam konteks pendekatan perencanaan terpadu
dibandingkan hanya menciptakan serangkaian peraturan untuk
menghindari kerusakan lingkungan (Perez et al 2003)
Hasil tangkapan dari nelayan jarang sekali bisa bertahan hidup. Ini
lantaran alat tangkap yang digunakan kurang mendukung. Penggunaan
bubu, bagan, atau pancing sebagai alat tangkap sering membuat ikan
terluka sehingga melemahkan kondisi tubuhnya, mengingat hal tersebut
potensi budidaya di KJA sangat menjanjikan. Metode KJA merupakan
metode akuakultur yang paling produktif. Beberapa keuntungan yang
dimiliki metode KJA, yaitu tingginya padat penebaran, jumlah dan mutu
air yang selalu memadai, tidak diperlukannya pengelolaan tanah,
mudahnya pengendalian gangguan pemangsa, dan mudahnya pemanenan.
Agar budidaya ikan di KJA berhasil maka pemasangan KJA tidak
dilakukan disembarang tempat, harus dipilih lokasi yang memenuhi aspek
teknis dan sosial ekonomis (Meade 1989).
Suatu wilayah perairan pesisir dapat dikatakan sesuai untuk kegiatan
budidaya ikan Kerapu sistem keramba jaring apung apabila kondisi
lingkungan perairannya layak dan memenuhi kriteria-kriteria teknis
ekologis yang baku. Kondisi lingkungan perairan yang dimaksud antara
lain secara fisika (kontur kedalaman, arus, pasang surut, gelombang) dan
kimia (oksigen terlarut, derajat keasaman/pH, salinitas, BOD 5, nutrien)
(Beveridge 1996).

II.
II.1

KEBIJAKAN STRATEGIS

Visi dan Misi


Visi dari perusahaan adalah menjadi perusahaan penghasil ikan
Kerapu Bebek konsumsi terbaik dan terbesar di indonesia. Misi
perusahaan yaitu menghasilkan ikan Kerapu Bebek konsumsi berstandar

dan diterima pasar internasional, proses produksi yang bersertifikat BAP


(Best Aquaculture Practices).
II.2

Tujuan Kegiatan
Tujuan dari kegiatan budidaya Kerapu Bebek di KJA adalah
memproduksi ikan Kerapu Bebek ukuran konsumsi melalui sistem
keramba jaring apung, yang dilakukan pada skala intensif dengan
berorientasi keuntungan, berkelanjutan serta berwawasan lingkungan.

II.3

Denah Lokasi KJA


Lokasi budidaya pembesaran Kerapu Bebek berada di Kepulauan
Seribu lebih tepatnya berada di selat antara perairan pulau Panggang
dengan pulau Karya. Peta lokasi dapat dilihat digambar 1. Lokasi ini
dipilih karena jarak dari tempat produksi dan pasar relatif dekat. Target
pasar adalah supermarket, mall dan beberapa restauran di Jakarta. Jalur
transportasi menuju lokasi budidaya sangat mudah, baik menggunakan
transportasi umum/sewa maupun dengan perahu pribadi.Selain kemudahan
akses menuju lokasi, faktor kondisi lingkungan juga menjadi
pertimbangan utama penentuan lokasi. Secara umum kondisi klimatologi
dan oceanografi kepulauan seribu sebagai berikut.

Tabel 1 kondisi secara umum udara dan air di Kepulauan Seribu (Anonim, 2015)
Parameter udara
Suhu udara
Kelembapan
Curah hujan
Kecepatan angin
Tekanan udara

Nilai/kisaran
21,6-32C
80%
1.700 mm/thn
7-20 knot
1009-1011 mb

Parameter air
Salinitas
Kedalaman
DO (0-3 meter)
pH
Kecerahan
Tinggi gelombang
Arus

Nilai/kisaran
30-34 ppt
0-40 meter
7-14 mg/l
6,5-8
8
30-150 cm
20 cm/detik

Berdasarkan asumsi kondisi lingkungan secara makro yang terdapat


di Kepulauan Seribu, kondisi klimatologi dan oceanografi tersebut sesuai
jika digunakan untuk budidaya pembesaran Kerapu Bebek menggunakan
KJA. Langkah selanjutnya adalah menentukan secara spesifik lokasi KJA
yang akan dibangun.
Luas daratan wilayah administrasi Kepulauan Seribu mencapai
897,71 Ha dan luas perairan mencapai 6.997,5 Km2 dengan jumlah pulau
mencapai 110 buah (Jakarta.go.id 2015). Berdasarkan hasil analisa
kelayakan lokasi dan perijinan, maka ditetapkan lokasi yang akan
dibangun KJA yaitu selat yang berada antara pulau Panggang dan Karya.
Berikut adalah peta lokasi budidaya pembesaran Kerapu Bebek dengan
KJA.

PETA LOKASI
BUDIDAYA

Lokasi Keramba

Gambar 1 peta lokasi KJA pembesaran Kerapu Bebek (Fendjalang 2014)


Komplek keramba dibangun di area bertanda lingkaran pada Gambar
1. Lokasi tersebut dipilih karena letaknya terlindung oleh Pulau Panggang
dan Karya serta pulau-pulau kecil disekitarnya yang dapat menahan
gelombang besar/pasang (Tabel 1) yang sewaktu-waktu dapat berpotensi
merusak fasilitas KJA dan mengancam komoditas budidaya. Perairan di
sekitar KJA juga aman dari bahan pencemar karena letaknya jauh dari
pelabuhan pemukiman dan industri. Letak KJA berada di teluk dan selat
pulau kecil sehingga tidak menganggu aktivitas pelayaran umum.
Arus air secara umum berasal dari timur laut menuju barat daya atau
sebaliknya. Oleh karena letak KJA berada di selat maka sirkulasi air masih
dapat terjadi. Kedalaman air juga sesuai dengan konstruksi KJA yaitu 1215 meter. Kedalaman air tersebut berpengaruh terhadap turbulensi air, kuat
arus, kecerahan, sebaran nutrien/pakan alami. Selain pengaruhnya
terhadap faktor fisik dan kimia air, kedalaman juga menjadi aspek yang
diperhitungkan dalam mengestimasi kestabilan kontruksi KJA terkait
dengan penempatan ancor/jangkar dan pemberat pada jaring.

III.
III.1

KEBIJAKAN PRODUKSI

Produksi Sebagai Suatu Sistem

III.1.1 Input
Modal yang digunakan sebagai sumber keuangan utama berasal dari
dana individu. Pemberi modal berperan pula sebagai direktur perusahaan.
Jumlah dana yang dibutuhkan untuk memulai kegiatan budidaya ini
sebesar 5,2 milyar rupiah sesuai jumlah yang dibutuhkan untuk
pembelajaan infrastruktur.

Satu petak KJA berukuran 3x3 meter dibangun dengan kontruksi


terbuat dari papan plastik yang diikat di bagian atas silinder plastik
pelampung. Kontruksi yang digunakan menggunakan produk set KJA
Aquatec yang terdiri dari silinder pelampung, papan pijakan, tiang
pengikat jaring, jaring tanpa simpul, tandon air tawar dan rumah apung.
Spesifikasi peralatan KJA dapat dilihat di Lampiran 1.

Gambar 2 skema kontruksi KJA tanpa jaring(SNI 2014)


Penyusunan kontruksi KJA berdasarkan prosedur penyusunan
produk Aquatec dan disesuaikan dengan SNI 6487.4 2014. Jumlah petak
yang dirangkai disesuaikan dengan kondisi lokasi seperti panjang dan
lebar area selat, skala produksi dan kemudahan teknis selama proses
budidaya. Selain skema yang tergambar tersebut terdapat pula fasilitas
seperti rumah apung untuk pekerja dan gudang dan tandon air tawar
beserta dek untuk bongkar-muat.

Gambar 3 kontruksi seri KJA


KJA dibangun dengan petak sebanyak 25 buah. Terdapat 4 macam
petak yang dibedakan berdasarkan ukuran mata jaring (meshsize). Petak 1
dengan mesh size 5 mm sebanyak 6 petak diperuntukkan Kerapu ukuran
tebar 50 gram. Petak 2 dengan mesh size inchi sebanyak 8 petak
diperuntukkan Kerapu ukuran 200 gram. Petak 3 dengan meshsize 2 inchi

sebanyak 9 petak diperuntukkan Kerapu ukuran 500 gram sampai panen.


Petak 4 adalah petak karantina sejumlah 2 petak dengan meshsize 2,5 cm.
Benih ikan Kerapu Bebek yang ditebar adalah benih yang berukuran
5-7 cm (5-6 gr). Benih yang digunakan berasal dari pembenihan Balai
Budidaya Laut (BBL) Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, karena
memiliki keunggulan ukuran yang seragam serta kualitas dan kuantitas
yang baik. Jarak dari sumber benih ke lokasi produksi dekat sehingga
resiko benih stress dapat diminimalisir. Adapun kriteria benih yang
berkualitas untuk ditebar adalah bentuk tubuh proporsional antara kepala
dan badan, tidak cacat atau tubuh anggota tubuh lengkap, sehat dan tidak
terserang penyakit, gerakan atau perilaku aktif, lincah dan bergerombol
serta mempunyai respon yang baik terhadap pakan.
Pakan yang digunakan adalah ikan rucah. Ikan rucah dibeli dari TPI
yang berjarak 2 km dari lokasi KJA. Ikan rucah tiap minggunya diantar
ke KJA dalam keadaan beku melalui jalur laut, namun permintaan ikan
rucah bisa ditambah secara kondisional jika pakan di KJA sudah mulai
habis. Adapun jumlah ikan rucah yang diantar ke KJA tidak memiliki
patokan tertentu.

Pakan rucah merupakan pakan alami Ikan Kerapu Bebek. Namun


kandungan nutrisi dari pakan rucah tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi
untuk pertumbuhan ikan, berbeda dengan pakan pellet yang telah memiliki
takaran nutrisi yang pas dengan kebutuhan ikan. Pakan pellet jarang
diberikan karena seringkali tidak dimakan oleh Ikan Kerapu Bebek, hal ini
terkait dengan kebiasaan makan Ikan Kerapu Bebek yang bersifat
karnivor (pemakan daging). Agar kebutuhan nutrisi ikan dapat terpenuhi,
diperlukan makanan tambahan (suplemen) yaitu pakan moise yang
diberikan 2 kali dalam seminggu. Pakan moise merupakan pakan yang
terbuat dari campuran ikan rucah, pellet dan biovit. Adapun kegunaan
pencampuran biovit adalah: meningkatkan pertumbuhan ikan;
menyediakan nutrisi tambahan dari pakan alami/buatan, mempertahankan
daya hidup ikan (survival rate).
Dalam kegiatan produksi ikan Kerapu Bebek diperlukan sarana dan
prasarana yang mendukung kegiatan produksi. Adapun sarana yang dibutuhkan
terdiri dari sarana pokok dan sarana penunjang/perlengkapan. Sarana pokok
meliputi set KJA, rumah apung, waring dan jaring. Sarana pokok ini merupakan
fasilitas yang berhubungan langsung kontroksi petak KJA dan jangka waktu
penggunaan lebih dari 5 tahun. Peralatan pokok dapat dilihat pada Lampiran 1.
Perlengkapan didapat dari belanja rutin yang dilakukan tiap 3 bulan
sekali di beberapa pasar di Jakarta. Namun untuk kebutuhan mendesak
pembelajaan dapat dilakukan sewaktu-waktu selama proses budidaya.
Jumlah perlengkapan yang digunakan sesuai jumlah petak KJA dan skala
produksi. Tiap perlengkapan yang tidak sedang digunakan sebagian
disimpan di gudang apung sebagian lagi di gudang darat (Pulau

Panggang). Perlengkapan yang biasa digunakan selama proses produksi


dapat dilihat di Lampiran 2.
III.1.2 Proses
Kapasitas produksi mencakup jumlah total output produk yang
mampu dihasil oleh fasilitas yang ada dalam satu siklus budidadaya.
Kapasitas produksi terkait erat dengan carriying capasity dan teknologi
yang diterapkan dalam proses budidaya. Teknologi yang diterapkan dalam
proses budidaya ini dapat menghasilkan 2 ton ikan Kerapu dalam satu
siklus budidaya yang membutuhkan waktu pemeliharaan selama 6 bulan.
Jarak satu siklus ke siklus berikutnya yaitu satu minggu, sehingga dalam 6
bulan terdapat 16 siklus. Sistem penjaranan menggunakan sistem klaster
atau ikan yang sudah mencapai ukuran tertentu dipindahkan ke petak
keramba lainnya. Teknik ini dipilih karena memaksimalkan kapasitas
petak KJA sesuai ukuran dan tidak ada petak yang tidak terpakai atau
nganggur. Berikut gambar 4 adalah skema penjarangan bertingkat.

Ukuran grading: 200 g


Jumlah ikan: 1050
Kepadatan: 76e/m2
Ukuran benih: 50 g
Jumlah benih: 2200
Kepadatan: 156e/m2
Ukuran grading: 200 g
Jumlahikan: 1050
Kepadatan: 76e/m2

Ukuran grading: 500 g


Jumlahikan: 500
Kepadatan: 37 e/m2
Ukuran grading: 500 g
Jumlahikan:500
Kepadatan: 37 e/m2
Ukuran grading: 300 g
Jumlahikan: 500
Kepadatan: 37 e/m2
Ukuran grading: 500 g
Jumlahikan: 500
Kepadatan: 37 e/m2

Gambar 4 skema penjaranan pada tiap petak sesuai ukuran


Pakan yang diberikan berupa pakan rucah, yaitu pakan dari ikan non
ekonomis (trash fish) yang berasal dari sisa-sisa ikan yang tidak laku
terjual di TPI. Sebelum pakan rucah diberikan di keramba, ikan rucah
harus dipotong-potong sesuai dengan besar bukaan mulut ikan. Alat yang
digunakan dalam pemotongan ikan rucah adalah gunting, pisau, ember,
baskom dan keranjang. Pemotongan rucah dilakukan setiap pagi pada

pukul 07.30. Berikut feeding rate dan frekuensi pakan berdasarkan ukuran
ikan.
Tabel 2 manajemen pemberian pakan Kerapu di keramba(Yang Sim et
al2005)
Feeding trash fish
Uku
ran
ikan
(g)
510
1050
50150
150300
300600
600-1000

Dry pellets

Feedin
g rate
(% rerata bobot)

Frekuensi
perhari

Ukuran ikan
(g)

Feedi
ng rate
(% rerata bobot)

Frekuensi
perhari

1520
1015
810
68
46
3-4

3-4
2-3
2
1-2
1
1

15
520
20100
100200
200300
>300

4.010.0
2.04.0
1.52.0
1.21.5
1.01.2
0.81.0

3-5
2-3
2
1-2
1
1

Jika ikan yang diberi makan dua kali setiap hari, makan harus
dilakukan pada saat fajar dan senja. Untuk ikan Kerapu yang diberi makan
sekali sehari, waktu yang terbaik untuk memberi makan ikan adalah
sebelum matahari terbenam. Siang dan sore merupakan waktu yang kurang
baik dalam memberi makan ikan Kerapu, karena sinar matahari kuat. Pada
saat ini, Kerapu cenderung beristirahat dibagian bawah dan umumnya
makan kurang aktif. Berikut adalah jadwal pemberian pakan selama sehari.
Tabel 3 jadwal pemberian pakan
Frekuensi

Jadwal pemberian pakan


10.00
12.15
2.30

7.30
1
2
3
4
5

17.00

Sampling dilakukan sebelum penjarangan untuk mengetahui tingkat


pertumbuhan ikan agar bisa menentukan dosis pakan dan kelulushidupan
ikan dan kapan waktu pelaksanaan penjarangan. Sampling ikan dilakukan
sebulan sekali dengan mengambil ikan secara acak sebanyak 5% dari
jumlah ikan yang ada pada setiap petak keramba. Sampling juga dilakukan
ketika akan dilaksanakan pemanenan untuk mengetahui apakah ukuran
ikan sudah mencapai ukuran panen. Dengan mengetahui pertumbuhan
rata-rata ikan, dapat diperhitungkan pula berapa lamanya waktu yang
dibutuhkan ikan untuk dapat mencapai ukuran panen. Selain itu sampling
juga dilakukan untuk mengetahui rentang perbedaan ukuran ikan yang
berada dalam keramba. Dari selisih ukuran ikan yang disampling, dapat
diketahui tingkat keragaman ukuran ikan dalam suatu keramba. Jika
keragaman ukuran ikan cukup tinggi, maka perlu dilakukan grading.
Grading atau penjarangan adalah kegiatan pemilahan ikan berdasarkan
ukuran. Variasi ukuran ikan Kerapu Bebek dalam suatu keramba dapat

merangsang sifat kanibal bagi Ikan Kerapu Bebek terutama ikan yang berukuran
lebih besar. Hal ini dapat menyebabkan ikan yang lebih kecil takut untuk
mengejar makanan sehingga dapat mengganggu pertumbuhannya. Munculnya
sifat kanibalisme juga dapat menyebabkan ikan yang lebih kecil menjadi stress
sehingga ikan menjadi lebih rentan terserang penyakit.
Sebelum grading dilaksanakan, perlu dilakukan persiapan wadah
yaitu 1 petak keramba yang kosong dengan jaring yang sudah bersih dan
layak pakai. Setelah itu ikan dipuasakan selama 6 jam. Alat dan bahan
yang digunakan dalam kegiatan penjarangan adalah scope-net, cold box,
keranjang plastik, pena dan kertas untuk mencatat jumlah ikan.
Cara melakukan grading adalah dengan mengangkat jaring dan menggiring
ikan, biasanya dengan alat bantu sebatang bambu. Sedikit demi sedikit ikan
dijaring dengan scope net. Ikan yang berukuran besar dikumpulkan di coolbox
atau langsung diletakkan di petak keramba kosong. Sedangkan ikan yang
berukuran kecil dipindahkan disisi lain jaring yang terangkat. Ikan yang masuk
kedalam masing-masing keramba dicatat kemudian dijumlahkan sebagai arsip.
Pemeliharaan kesehatan ikan perlu dilakukan untuk menjaga
performa pertumbuhan ikan tetap baik dan mengurangi tingkat kematian
ikan yang dapat menurunkan hasil produksi ikan Kerapu Bebek. Untuk itu
perlu dilakukan pengawasan rutin terhadap kondisi kesehatan ikan. Ikan
yang terserang penyakit biasanya menunjukkan tanda-tanda yang dapat
diamati dari permukaan tubuhnya. Adapun tanda-tanda penyakit pada ikan
yang umum terjadi yaitu hilangnya nafsu makan, perubahan warna tubuh
(ikan stress biasanya lebih gelap), berenang lambat, anatomi abnormal
seperti: mata menonjol sirip bengkok dan luka, serta pertumbuhan lambat.
Salah satu kegiatan untuk menjaga kesehatan ikan Kerapu adalah
dengan melakukan perendaman ikan (deeping). Perendaman ikan
dilakukan untuk mematikan jamur dan parasit yang menempel pada tubuh
ikan seperti kutu dan cacing insang. Alat dan bahan yang digunakan dalam
perendaman ikan adalah scope-net, cold box, aerator, batu aerasi dan air
tawar. Aerator berfungsi untuh menambah suplai oksigen selama
perendaman dan batu aerasi berfungsi memecah oksigen untuk
mempermudah respirasi pada ikan.
Prosedur perendaman ikan adalah, mengisi air tawar ke dalam cold
box, memasang aerator untuk mengalirkan oksigen selama perendaman,
memasang batu aerasi untuk memecah oksigen, mengisi ikan ke dalam
cold box lalu ikan direndam selama 10-20 menit.
Ikan Kerapu Bebek rentan serangan bakteri Vibrio sp. yang
menyebabkan penyakit. Untuk vibriosis yang ditandai sirip dan kulit
memborok dan daging pecah-pecah dapat diobati dengan
antibiotik/antiseptik. Aplikasinya melalui perendaman dalam larutan
prefuran atau nitrofurazone 15 ppm selama minimal 4 jam. Bisa juga
secara oral dengan oxytetracyclin sebanyak 0,5 gram per kg pakan selama
7 hari.

Perawatan dan pengontrolan jaring perlu diperhatikan. Jaring yang


kotor dapat menghambat sirkulasi air dan oksigen. Bila dibiarkan hal ini
akan menghambat pertumbuhan ikan. Tak hanya itu, adanya tritip dan
lumut juga dapat menjadi sarang penyakit. Kasus sirip sobek atau cacat
juga tak lepas dari masalah ini. Karena itu jaring harus diganti minimal
setiap 2 minggu sekali.
Pencucian jaring dilakukan di tempat yang terpisah dengan KJA.
Sebelum dicuci, jaring dijemur terlebih dahulu selama 1-2 hari untuk
mematikan biota yang menempel pada jaring. Setelah kering, jaring dicuci
dengan cara disemprot dengan pompa penyemprot air. Setelah itu jaring
dijemur kembali. Jika terdapat banyak kerang atau tritip yang menempel
pada jaring, maka jaring harus dibersihkan dengan cara memukul-mukul
mata jaring dengan palu agar kerangnya hancur dan lepas dari jaring.
Tahap akhir pembersihan jaring adalah dengan menjemur jaring di bawah
terik matahari selama 2 hari.
Sebelum jaring dipasang, dilakukan pengecekan terhadap kondisi
jaring jika jaring masih kotor atau terdapat kerusakan pada jaring. Jika
terdapat jaring yang robek atau rusak, dilakukan perbaikan dengan
menyulam kembali jaring yang robek.
Dalam pemasangan jaring, dibutuhkan pemberat. Pemberat yang
digunakan adalah pemberat dengan beban 5 kg sebanyak 4 buah. Pemberat
berfungsi untuk mempertahankan jaring dalam ukuran maksimal sehingga
memberi ruang gerak yang luas bagi ikan. Selain itu fungsi pemberat
adalah memberi tekanan pada jaring untuk menahan arus di sekitar
keramba. Pemberat yang digunakan dapat berupa beton atau batu dan
dipasang dengan mengikatkannya pada tali yang sudah disulam
disepanjang bujur sudut jaring. Cara ini dapat mempermudah pemasangan
dan pelepasan pemberat baik ketika jaring diangkat maupun diturunkan.
Lama pembesaran ikan Kerapu Bebek10 bulan dengan sintasan
masing-masing 91 %, dipanen dalam keadaan hidup di lokasi panen
(pemeliharaan) dengan harga rata-rata sebesar Rp. 250.000,-/kg kondisi
hidup. Ikan Kerapu Bebek dipanen dengan berat sudah mencapai 1000
gram/ekor. Dibutuhkan waktu pemeliharaan selama 6 bulan untuk
mencapai berat komersial 500 gram (dari bobot awal 100 gram) (Kaltim,
2009). Rata-rata hasil panen untuk 1 unit karamba yang terdiri atas 4 buah
petak pembesaran berukuran 3x3x3m adalah 2-2,5 ton dengan perkiraan
kematian alami 5-10%. Panen dilakukan seminggu sekali.
Untuk mendukung Tugas dan Fungsinya, sehingga tercapai visi dan
misi perusahaan maka diperlukan adanya sumberdaya manusia yang
berkualitas. Tingkat pendidikan dan pengalaman merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi maju dan berkembangnya suatu usaha
serta menjadi indikator kualitas sumberdaya manusia yang ada di
pembesaran Kerapu Bebek. Berikut adalah struktur kepegawaian KJA.

Kepala Produksi
Bagian Umum
Supervisor
Pekerja

Gambar 5 struktur kepegawaian KJA


Masing-masing posisi dalam struktur kepegawaian tersebut memiliki
tugas tersendiri sebagai berikut. Direktur berperan sebagai pemilik modal
tunggal sekaligus sebagai penanggung jawab utama proses dan manajemen
perusahaan.Kepala produksi bertanggungjawab atas seluruh kegiatan
produksi. Bagian umum bertanggung jawab mengatur ketersediaan barang
yang digunakan selama proses produksi termasuk pakan, benih, dan
melakukan perbaikan terhadap fasilitas budidaya seperti genset, perahu,
rumah apung dan lainnya.Superivisor keramba terkait langsung dengan
proses produksi. Bertanggung-jawab kepada kepala produksi dan
membawahi 4 pekerja. Pekerja melakukan tugas rutin harian selama proses
produksi.
Tabel 4 jumlah dan kompetensi SDM
Jabatan
Kepala produksi
Bagian umum
Supervisor
Pekerja

Kompetensi Minimum
S2/S1 budidaya/berpengalaman
SMK berpengalaman
D3/STIP budidaya/ berpengalaman
SMP sederajat
Total SDM

Jumlah
1
2
2
8
13

Upah tenaga kerja di berikan di awal bulan. Daftar lengkap upah


para pekerja dapat dilihat Lampiran. Upah ini belum termasuk bonus
setiap tahunnya. Bonus diberikan sesuai hasil panen atau target yang
dicapai. Untuk menunjang jaminan kesehatan para pegawai Pembesaran
Kerapu Bebek maka diberikan tunjangan berupa biaya tunjangan
kesehatan (BPJS).
III.1.3 Output
Pada hari pemanenan, pemberian pakan dihentikan. Selanjutnya tali
pemberat pada karamba dilepas dan jaring diangkat perlahan-lahan.
Setelah itu ikan dipindahkan ke atas kapal yang dilengkapi palka khusus
untuk menampung ikan. Dalam palka air laut diberi balok es dan aerasi
untuk menjaga suhu 19-20C. Setiap wadah palka mampu menampung
400 kg ikan dengan total tampung kapal 3 ton ikan.

Peningkatan mutu produk dilakukan dengan cara saat dipasarkan


produk telah dilengkapi dengan sertifikat bebas penyakit dan residu bahan
kimia. Dokumen tersebut bisa didapat di laboratorium uji swasta ataupun
balai karantina ikan. Sertifikat fasilitas akuakultur (AFC) yang diterbitkan
oleh The Alliance, juga dapat meningkatkan nilai mutu produk.
Pemasaran dilakuakan oleh divisi pemasaran. Target utama pasar
adalah pasar ekspor di Singapura dan pasar lokal di Jakarta. Untuk
memperluas pengenalan produk, setiap 2 bulan divisi pemasaran
mengikuti event atau ekspo terkait produk perikanan. Pemasaran juga
dilakukan melalui media online dalam web resmi perusahaan.
III.2

Produksi Sebagai Fungsi Organisasi

III.2.1 Produktivitas
Produktivitasmerupakan istilah dalam kegiatan produksi sebagai
perbandingan antara output dengan masukan input. Menurut Herjanto
(2007), produktivitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan
bagaimana baiknya sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai
hasil yang optimal. Produktivitas dapat digunakan sebagai tolak ukur
keberhasilan suatu industri atau UKM dalam menghasilkan barang atau
jasa. Sehingga semakin tinggi perbandingannya, berarti semakin tinggi
produk yang dihasilkan.
Dalam budidaya KJA dengan objek produksi merupakan organisme
hidup maka input yang dimaksud meliputi benih, SDM, alat yang
digunakan, prosedur dan teknologi yang diterapkan. Terdapat pula faktor
diluar input yang sangat mempengaruhi produktivitas yaitu kondisi
perairan sekitar KJA, meski faktor lingkungan tersebut tidak bisa
dikendalikan.
III.2.2 Efisiensi
Efisiensi input dapat diraih dengan menjalankan prosedur proses
produksi sesuai standar yang diterapkan. Namun pedoman tersebut
sifatnya tidak betul-betul mengikat, dalam arti supervisor dan kepala
produksi dalam menjalankan proses dapat melakukan tindakan sedikit
berbeda dengan prosedur didasarkan pada pengalamannya masing-masing.
Setiap kebijakan prosedur yang dijalankan, dicatat sehingga dapat
diketahui prosedur mana yang paling efisien atau minimal menggunakan
input dan menghasilkan output yang maksimal.
IV.
IV.1

KEBIJAKAN PENGENDALIAN

Pengendalian Preventif

Pengendalian preventif merupakan pengendalian yang dilakukan


sebelum proses produksi. Pengendalian mencakup kesiapan sarana dan
prasarana sebelum digunakan dalam produksi, pengendalian penggunaan
sarana dan prasarana, pengendalian mutu pakan dan benih. Berikut Tabel 5
adalah standar yang digunakan sebagai pedoman pengendalian preventif.
Tabel 5 pengendalian preventif pembesaran ikan Kerapu Bebek
Koreksi Kinerja
(sesuai standar/tidak)
Tidak
Ya
(tindakan
(lanjutkan
perbaikan)
Proses)
jika benih cacat
Lanjut ke
fisik segera
proses
dikembalikan
pemeliharaan

Bidang

Input

Tolak ukur

Standar

Monitoring

Benih

Benih

Kondisi fisik,
warna tubuh,
pola renang

sehat, tidak
cacat,
berenang
aktif dan
warna tubuh
cerah,
SNI 016487.5-2000

Observasi
langsung di
tempat
pembenihan
Scoring dengan
skala 1-10
Benih layak
skala > 8

Kebersihan
dan kualitas
kolektor dan
Pocket

Bersih dan
tidak rusak

Pengecekan
langsung pada
wadah
Mengangkat
jaring ke
permukaan

Dilakukan
pembersihan.
Jika rusak maka
harus segera
diganti, atau di
jahit (misalnya
jaring).

Lanjut ke
proses
pemeliharaan

Komposisi
daging dan
Kandungan
nutrien

SNI 017472:
2009

Uji proksimat
pakan
dicocokkan
dengan produk

Mengganti
dengan pakan
yang lebih baik
kualitasnya

Lanjut ke
proses
pemeliharaan

Kelengkapan
dan kondisi
alat

Alat tersedia
lengkat dan
dapat
digunakan
dengan baik

Pengecekan
jumah alat dan
fungsi alat
tersebut

Melakukan
pelatihanpelatihan untuk
meningkatkan
skill dibidang
masing-masing
yang berkaitan
dengan
pendederan
tiram mutiara

Proses
budidaya
berkesinambu
ngan dan
berlanjut

Wadah
Pemeliharaan

Pakan

Input

Alat dan
Bahan

Jumlah
minimum
barang dalam
gundang

Jumlah
memenuhi
kebutuhan

Pencatatan pada
lembar
inventaris alat
dan bahan

IV.2

Pengendalian Pemantauan
Pengendalian pemantauan merupakan pengendalian yang dilakukan
selama proses produksi. Pengendalian meliputi pemakaian pakan,
penggunaan alat, pembersihan dan perbaikan jaring, pengendalian
penyakit ikan. Berikut Tabel 6 adalah standar yang digunakan sebagai
pedoman pengendalian pemantauan.
Tabel 6pengendalian pemantauan pembesaran ikan Kerapu Bebek

Bidang

Objek

Tolak ukur

Pemberian
Pakan

Pakan

Kualitas
pakan

Jumlah dan
Frekuensi
Wadah
pemeliharaa
n

Kesehatan
Ikan

Jaring

Ikan

Standar

Monitoring

SNI 6487.4:
2014

Pengecekan merk
pakan dan
palatabilitas pasca
penyimpanan

Tabel
kegiatan

Banyaknya
epifit yang
melekat dan
kerusakan
jarang

kebersihan
dan kualitas
jaring

Kondisi
kesehatan
ikan dan
obat-obatan
yang
digunakan

SNI
6487.4:2014

Koreksi Kinerja
(sesuai standar/tidak)
Tidak
Ya
(tindakan
(lanjutkan
perbaikan)
Proses)
Mengganti pakan
Lanjut ke
pemeliharaan
Peningkatan
kedisiplinan
prosedur

Menyelam dengan
set snorkling untuk
melihat banyaknya
epifit dan lubang
rusak

Pembersihan
jaring dari epifit
yang menempel

Pemeriksaan
parasit pada bagian
tubuh luar ikan

Jika ada ikan yang


sakit diberi
antibiotik atau
direndam dengan
air tawar,
tergantung dari
penyakitnya.

Perendaman secara
masal pada bak air
tawar dan airasi

Lanjut ke
pemeliharaan

Bila jaring rusak,


dapat di jahit atau
mengganti dengan
jaring yang baru
Lanjut ke
pemeliharaan

Antibiotik
diberikan melalui
pakan maksimal
pada bulan ke-7

IV.3

Pengendalian Revresif
Pengendalian revresif merupakan pengendalian yang dilakukan
setelah proses produksi. Pengendalian meliputi pengawasan selama panen,
pengendalian distributor. Pengendalian paska panen terkait dengan
penentuan pihak distributor yang baik, kompeten dan berpengalaman. Hal
ini penting dilakukan agar produk yang baik yang telah dihasilkan tidak

rusak atau bahkan mati saat dilakukan proses pengiriman hingga ke


konsumen. Selain terkait dengan penanganan produk, pengendalian pasca
panen juga terkait dengan penyiapan input baru yang akan digunakan
untuk siklus produksi berikutnya. Penyiapan input seperti pencucian
jaring, pemberat dan pelampung. Desinfeksi jaring, perbaikan jaring jika
terdapat bagian yang robek.Berikut Tabel 7 adalah standar yang digunakan
sebagai pedoman pengendalian revresif.
Tabel 7pengendalian represif pembesaran ikan Kerapu Bebek

Bidang

Objek

Tolak
ukur

Standar

Hasil panen

Ikan
Hasil
Panen

Ukuran
panen

Standar Ikan
Kerapu untuk
konsumsi
950-1000 gr
SNI 6587.4 ;
2014 bab 6.1

Pengukuran
dengan
timbangan
digital secara
individu
ataupun

Ditribusi
dan
Transportasi

Ikan
Hasil
Panen

Kondisi
ikan

Ikan tidak
mengalami
stress (warna
pucat, tidak
aktif
bergerak)
atau mati

Observasi
kondisi ikan
saat proses
distribusi dan
setelah sampai
tujuan

V.

Monitoring

Koreksi Kinerja
(sesuai standar/tidak)
Tidak
Ya
(tindakan
(lanjutkan
perbaikan)
Proses)
Dilakukan
Lanjut ke
pemeliharaan
proses
kembali hingga
pemasaran
mencapai ukuran
1 kg atau
pemeliharaan
maksimal selama
sebulan
Penambahan es,
aerasi, pergantian
air

Lanjut ke
proses
pemasaran

KEBIJAKAN FINANSIAL

Usaha perikanan yang dilakukan oleh seorang pengusaha atau


pembudidaya harus menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan. Oleh
karena itu, perlu dilakukan analisis usaha. Analisis usaha merupakan
suatu cara untuk mengetahui tingkat kelayakan dari suatu jenis usaha.
Tujuannya adalah untuk mengetahui pengembalian investasi, tingkat
keuntungan, maupun titik impas suatu usaha.
V.1 Pembiayaan
Dalam kegiatan produksi terdapat beberapa jenis biaya yang dikeluarkan,
seperti biaya investasi, biaya tetap, dan biaya variabel. Biaya investasi dikeluarkan
diawal usaha, umumnya memiliki umur pakai lebih dari satu tahun. Biaya tetap
merupakan biaya yang pasti dikeluarkan selama satu tahun tanpa memperhatikan

masa produksi. Sedangkan biaya variabel merupakan biaya yang dikeluarkan


setiap kali melakukan produksi.
V.1.1 Biaya Investasi
Investasi merupakan penanaman modal dalam suatu kegiatan yang
memiliki jangka waktu relatif panjang dalam berbagai bidang usaha menurut
Soekartawi (2003), investasi merupakan konversi uang pada saat sekarang
mempunyai hitungan untuk memperoleh arus dana atau penghematan arus dana di
masa yang akan dating. Dapat juga berarti sebagai suatu tindakan melepas
dana yang akan datang, investasi dapat juga diartikan sebagai pembentukan
modal. Biaya investasi untuk usaha pembesaran kerapu bebek adalah Rp
4.717.675.000,Komponen
Kja Aquatec
Rumah Jaga di KJA
Kantor
Tempat Genset
Tandon air tawar
Genset 20 pk
Perahu dan Mesin 24 K
Pompa air laut
Timb. digital
Ember
Serok/seser
Alat Dapur
Styrofoam
Freezer
pH Meter
DO Meter
Refakto-meter
Kulkas
Drum air
Selang

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Jumlah Unit
52
1
1
1
1
1
2
1
10
30
50
1
1
1
1
10
10
1
20
10
Total

Harga Satuan
85.000.000
10.000.000
70.000.000
7.500.000
3.500.000
9.000.000
20.000.000
3.500.000
1.000.000
50.000
20.000
5.000.000
75.000
7.500.000
3.000.000
3.500.000
6500000
6.000.000
1.000.000
10.000

Harga Total
4.420.000.000
10.000.000
70.000.000
7.500.000
3.500.000
9.000.000
40.000.000
3.500.000
10.000.000
1.500.000
1.000.000
5.000.000
75.000
7.500.000
3.000.000
35.000.000
65.000.000
6.000.000
20.000.000
100.000
4.717.675.000

V.1.2 Biaya Penyusutan


Biaya penyusutan adalah biaya yang dikeluarkan dari alokasi biaya
investasi untuk memelihara komponen-komponen investasi. Penyusutan
alat dapat terjadi karena pengaruh umur pemakaian. Pada biaya
penyusutan ini dapat dihitung dengan cara membagi harga alat
sebagai investasi dengan umur ekonomis/umur produktif alat tersebut.
Biaya penyusutan untuk usaha pembesaran kerapu bebek adalah Rp
61.716.048,N
o

Komponen

Jumlah Unit

Harga Satuan

Harga Tot

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Kja Aquatec
Rumah Jaga di KJA
Kantor
Tempat Genset
Tandon air tawar
Genset 20 pk
Perahu dan Mesin 24 K
Pompa air laut
Timb. digital
Ember
Serok/seser
Alat Dapur
Styrofoam
Freezer
pH Meter
DO Meter
Refakto-meter
Kulkas
Drum air
Selang

52
1
1
1
1
1
2
1
10
30
50
1
1
1
1
10
10
1
20
10
Total

85.000.000
10.000.000
70.000.000
7.500.000
3.500.000
9.000.000
20.000.000
3.500.000
1.000.000
50.000
20.000
5.000.000
75.000
7.500.000
3.000.000
3.500.000
6500000
6.000.000
1.000.000
10.000

4.420.000
10.000
70.000
7.500
3.500
9.000
40.000
3.500
10.000
1.500
1.000
5.000
75
7.500
3.000
35.000
65.000
6.000
20.000
100
4.717.575

V.1.3 Biaya Produksi


V.1.4 Biaya produksi adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk
menghasilkan produksi, yang terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya tetap adalah biaya yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh jumlah
output yang dihasilkan, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang
besarnya dipengaruhi oleh jumlah output yang dihasilkan (Sugiarto 2000).
Biaya produksi untuk usaha pembesaran kerapu bebek adalah
Rp10.812.036.000,-.
V.1.5 Biaya Variabel
V.1.6

Biaya variabel atau biaya tidak tetap adalah biaya yang


harus dikeluarkan seiring lajunya proses operasional
produksi.Biaya variabel untuk usaha pembesaran kerapu bebek
adalah Rp3.448.824.000,-.

V.1.7 V.1.8
No n

Uraia

V.1.13V.1.14
1
V.1.19V.1.20
2 h
V.1.25V.1.26
3 -obatan
V.1.31V.1.32
4 n pelet
V.1.33
n rucah
V.1.42V.1.43
5 min
V.1.48V.1.49
6 k
V.1.54V.1.55

Solar
Beni
Obat
Paka
Paka
Vita
Plasti

V.1.9
Ju
mlah
V.1.15 1.8
00
V.1.21 114
.400
V.1.27 12
V.1.34 67.
184
V.1.35 433
.524
V.1.44 50
V.1.50

V.1.56

V.1.10
uan

Sat

V.1.11 Harg
a Satuan

V.1.12

V.1.16
er
V.1.22
or
V.1.28
ket
V.1.36
V.1.37

Lit

V.1.17

V.1.18

Ek

V.1.23

Pa

V.1.29

Kg
Kg

V.1.38
V.1.39

V.1.45

Kg

V.1.46

V.1.51

Bal

V.1.52

V.1.57

7.00
0
14.0
00
1.00
0.000
14.0
00
2.00
0
250.
000
500.
000

V.1.58

Total

12.6
00.000
V.1.24 1.60
1.600.000
V.1.30 12.0
00.000
V.1.40 940.
576.000
V.1.41 867.
048.000
V.1.47 12.5
00.000
V.1.53 2.50
0.000
V.1.59 3.44
8.824.000

V.1.60
V.1.61 Biaya Tetap
V.1.62

V.1.63

Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan selama satu


tahun dengan ada atau tidaknya laju produksi pembesaran.
Biaya tetap tidak berubah dengan adanya pertambahan volume
produksi.Biaya tetap untuk usaha pembesaran kerapu bebek
adalah Rp7.363.212.000,-.
Jabatan

V.1.67 Kepala
produksi
V.1.71 Bagian
umum
V.1.75 Superviso

V.1.64
V.1.68

Gaji

5.00
0.000
V.1.72 4.00
0.000
V.1.76 4.00

V.1.65 Jumla
h orang
V.1.69 1

V.1.66

Total

V.1.70

5.000.000

V.1.73

V.1.74

8.000.000

V.1.77

V.1.78

8.000.000

r
V.1.79

Pekerja

V.1.80

V.1.83
V.1.85
V.1.86 Uraian
No
V.1.90 V.1.91 Gaji
1
V.1.95 V.1.96 THR
2
V.1.100V.1.101 Konsumsi
3
V.1.105V.1.106 BPJS
4
V.1.110V.1.111 Lampu neon
5
50W
V.1.115V.1.116 Biaya
6
Penyusutan
V.1.120V.1.121 Perawatan
7
Genset
V.1.125

0.000
3.00
0.000

V.1.81

V.1.87 Juml
ah Unit
V.1.92 13
V.1.97

13

V.1.102 12
V.1.107 12
V.1.112 100
V.1.117
V.1.122

V.1.82

24.000.000

V.1.84 45.000.000
V.1.88 Harga
V.1.89 Total
Satuan
V.1.93
V.1.94 7.02
0.000.000
V.1.98 3.000.00 V.1.99 39.0
0
00.000
V.1.103 18.000.0 V.1.104 216.
00
000.000
V.1.108 720.000 V.1.109
8.640.000
V.1.113 200.000 V.1.114 20.0
00.000
V.1.118
V.1.119 39.5
72.000
V.1.123
V.1.124 20.0
00.000
V.1.126 7.36
3.212.000

V.1.127
V.2 Penerimaan
V.2.1 Penerimaan merupakan nilai penjualan dari hasil produksi
yaitu hasil kali antara jumlah produksi dengan harga jual. Total
penerimaan yang diperoleh berasal dari usaha pembesaran selama satu
siklus. Penerimaan yang diperoleh dalam pembesaran kerapu bebek adalah
Rp. 26.000.000.000,V.2.2
V.2.3 Penerimaan
= Total Produksi setahun (kg) x harga jual
(Rp/kg)

V.3

V.4

V.2.4
V.2.5
Pengeluaran
V.3.1
V.3.2 Pengeluaran
V.3.3
3.448.824.000
V.3.4
V.3.5
Analisis Usaha

= 104.000 kg x 250.000,= 26 M
= biaya investasi + biaya tetap + biaya variabel
= 4.717.675.000 + 7.363.212.000 +
= 15.529.711.000,-

V.4.1 Asumsi :
Ukuran benih ikan yang digunakan 50 gr.
Ukuran panen 950-1000 g.
Lama pemeliharaan ukuran 50-200 g selama 3 bulan, ukuran 200-500 g
selama 3 bulan dan ukuran 500-100 selama 4 bulan.

Padat tebar ukuran 50 g sebanyak 156 e/m 2, ukuran 200 g sebanyak 76 e/m 2
dan ukuran 500 g sebanyak 37 e/m2.
KJA berukuran 3x3 meter, dengan jumlah KJA 52 buah.
Tebar dan panen ikan kerapu bebek dilakukan setiap minggu. Pada tahun
pertama dilakukan penanaman sebanyak 52 dan panen 9 kali.
SR pada akhir pemeliharaan adalah 91%, dengan hasil produksi 2 ton/siklus.
Ukuran panen berkisar antara 950-1000 g dengan harga jual Rp. 250.000,-/kg.
V.4.2 Keuntungan
V.4.3

Jumlah keuntungan adalah keuntungan bersih yang


didapatkan oleh budidaya ikan kerapu bebek setelah
penerimaan dikurangi biaya produksi.

V.4.4

Keuntungan

= Penerimaan Total Biaya


= 26.000.000.000 (15.529.711.000

V.4.5

+ 61.716.048)
= 10.408.572.000,-

V.4.6

V.4.7 Keuntungan yang diperoleh dari usaha budidaya kerapu adalah


Rp.10.408.572.000,V.4.8 R/C Ratio
V.4.9 Analisis R/C Ratio merupakan parameter analisis yang
digunakan untuk melihat pendapatan relatif suatu usaha dalam 1 tahun
terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Suatu usaha
dikatakan layak jika R/C ratio lebih dari 1 (R/C > 1). Semakin tinggi nilai
R/C ratio, tingkat keuntungan suatu usaha akan semakin tinggi. Nilai R/C
ratio usaha pembesaran dapat dilihat pada perhitungan sebagai berikut:
V.4.12

V.4.10
V.4.11
R
=

V.4.16

V.4.15

To
tal
pe
ne
ri
m
aa
n
(T
R)
Bi
ay
a
op
er
ati
on
al
(T
C)

V.4.17

26.000 .000 .000


15.529 .711.000

= 1,67

V.4.18 R/C ratio dalam usaha pembesaran ikan kerapu adalah 1,67.
V.4.19
V.4.20 Payback Periode (PP)
V.4.21 Payback Periode (PP) adalah periode pengembalian modal
untuk investasi yang ditanamkan.
V.4.24
Biaya
investasi
V.4.22
V.4.23
PP
= V.4.28
Keuntung
an

V.4.25
x

V.4.30 Nilai Payback period dalam usaha budidaya kerapu ini adalah
4,05 bulan.
V.4.31
V.4.32 Break Event Point (BEP)
V.4.33 Break Event Point merupakan parameter analisis yang
digunakan untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi
suatu usaha mencapai titik impas yaitu tidak untung atau rugi. Usaha
dinyatakan layak apabila nilai BEP produksi lebih besar dari pada jumlah
unit yang sedang diproduksi saat ini.Sementara itu, nilai BEP harga lebih
rendah dari pada harga yang berlaku saat ini. Nilai BEP (ekor) dan BEP
(Rp) dihitung menggunakan rumus berikut :

V.4.34

V.4.36

V.4.35
7.363 .212.000
= 250.000 3.448.824 .000
104.000

= 33957.167

V.4.37
V.4.38
7.363.212 .000
V.4.39 = 1 3.448 .824 .000
26.000 .000 .000

= 1.666.463.514

V.4.40 Nilai BEP (unit) dalam usaha budidaya ikan kerapu adalah
sebesar 33957.167 dan nilai BEP (rupiah) dalam usaha
budidaya kerapu adalah Rp. 1.666.463.514,-.
V.4.41 Harga Pokok Produksi (HPP)

V.4.42 HPP merupakan jumlah harga penjualan produksi berada


pada titik minimum dan tidak akan mengalami kerugian. Nilai HPP untuk
usaha pembesaran dapat dilihat pada perhitungan berikut ini:
V.4.43
V.4.44
V.4.45
I.1.3 Tot
10.812 .036 .000
al
V.4.46
=
104.000

I.1.1
I.1.2
=

I.1.6

Bia
ya
Pro
du
ksi
Tot
al
ju
ml
ah
pro
du
ksi

= 103.961,885,Nilai HPP dalam usaha


budidaya ikan kerapu ini
adalah sebesar Rp.
103.961,885,V.5

Analisis Finansial

V.5.1
Analisis
finansial
pada
hakikatnya
adalah
untuk
mendapatkan layak atau tidak layaknya
suatu gagasan usaha, dengan kata lain studi kelayakan harus dapat
memutuskan apakah suatu gagasan perlu diteruskan atau tidak. Kemudian
untuk menilai investasi layak atau tidak dijalankan dilihat dari aspek
keuangan, maka dapat digunakan aliran kas (cash flow) usaha selama
periode tertentuyang dapat dihitung berdasarkan penerimaan dan biaya
suatu usaha.
V.5.2
V.5.3 Asumsi
Usaha pembesaran kerapu tikus menggunakan 52 unit keramba
Umur proyek 20 tahun, berdasarkan umur teknis KJA.
SR pada budidaya ini sebesar 91%.
Ukuran panen berkisar antara 950-1000 g dengan harga jual Rp.
250.000,- /kg.
Selama satu tahun dilakukan panen setiap minggu.
Nilai sisa pada akhir proyek diperoleh dari barang investtasi yang masih
tersisa saat umurnya telah habis (tidak terpakai).
Discount rate sebesar 10%/tahun dari tingkat suku bunga Bank Indonesia
pada tahun 2015.

V.5.4
Berdasarkan hasil analisis diperolah nilai NPV >1, Net
B/C >1 dan IRR > discount rate. Dengan demikian usaha pembesaran
Kerapu Bebeklayak untuk diusahakan dan dijalankan.Untuk mengetahui
tingkat keuntungan dan kelayakan usaha yang dijalankan, maka
dilakukan pendekatan analisis sebagai berikut:
V.5.5
V.5.6 Net Present Value (NPV)

V.5.7
Net Present Value (NPV) adalah dihitung berdasarkan
selisih antara nilaisekarang penerimaan yang akan diterima dari hasil
penjualan produksi dikurangidengan nilai sekarang atas biaya yang
akan dikeluarkan selama umur proyek (Pasaribu et al 2005). Secara
matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
V.5.8
V.5.9
V.5.10
V.5.11
V.5.12
V.5.13
V.5.14

Keterangan :
Bt : Benefit dari usaha pada tahun ke-t
Ct : Biaya dari usaha pada tahun ke-t
i : Tingkat suku bunga (10% per tahun)
t : Umur proyek (5 tahun)
Besarnya nilai NPV dalam usaha budidaya ikan kerapu ini
adalah Rp.30.781.810.695,-.

V.5.15
V.5.16 Net benefit-cost ratio (Net B/C)
V.5.17 Net B/C merupakan perbandingan antara NPV dari total
benefit bersih terhadap total biaya bersih (Gray, 1993). Net B/C
digunakan untuk ukuran efisiensi dalam penggunaan modal. Secara
matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

V.5.18
V.5.19
V.5.20
V.5.21
V.5.22
V.5.23
V.5.24

Keterangan :
Bt : Manfaat dari usaha pada tahun ke-t
Ct : Biaya dari usaha pada tahun ke-t
i : Tingkat suku bunga (10% per tahun)
t : Umur proyek (5 tahun)
Besarnya nilai Net B/C dalam usaha budidaya ikan kerapu ini
adalah 8.

V.5.25
V.5.26 Internal rate of return (IRR)
V.5.27 IRR merupakan tingkat suku bunga yang menunjukan
jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan seluruh ongkos
proyek atau NPV sama dengan nol (Gray, 1993). Secara matematis
dapat dirumuskan sebagai berikut:

V.5.28
V.5.29 Dimana :
V.5.30 i : Tingkat bunga yang menghasilkan NPV positif

V.5.31
V.5.32
V.5.33
V.5.34

i : Tingkat bunga yang menghasilkan NPV negatif


NPV : NPV pada tingkat suku bunga i
NPV : NPV pada tingkat suku bunga i
Besarnya nilai IRR dalam usaha budidaya ikan kerapu ini
adalah 27%.

V.5.35
V.5.36 Payback Periode (PP)
V.5.37 Payback Periode (PP) adalah periode pengembalian modal
untuk investasi yang ditanamkan.
V.5.40
Biaya
investasi
V.5.38
V.5.39
PP
= V.5.44
Keuntung
an

V.5.41
x

V.5.46 Nilai Payback period dalam usaha budidaya kerapu ini adalah
4,05 bulan.
V.5.47

V.5.48 Analisis Finansial


V.5.49 Tabel analisis finansial usaha pembesaran Kerapu Bebek

V.5.50

V.5.51

V.6 Analisis sensitifitas


V.7
Di dalam analisis sensitifitas ini menggunakan
asumsi kenaikan biaya variabel, yaitu kenaikan harga pakan sebesar 20%.
Oleh karena itu dilakukan suatu analisis kepekaan untuk melihat
sensitivitas dari usaha pembesaran Kerapu Bebek terhadap harga pakan.
dengan menggunakan metode switching value. Berdasarkan perhitungan
cash flow analisis finansial usaha pembesaran Kerapu Bebek dengan
sensitivitas menghasilkan nilai NPV, Net B/C dan IRR yang terdapat pada
tabel di bawah ini. Nilai sensitivitas pada pembesaran Kerapu Bebek dapat
dilihat pada tabel .
V.8

Tabel 8 Analisis Sensitivitas


V.10

V.9
V.11

NPV
Net B/C

V.13

IRR

V.12
V.14
V.16

V.15

V.17
V.18

3
0
.
7
8
1
.
8
1
0
.
6
9
5
8
2
7
%
4
,
0
5
b
u
l
a
n

Payback
Period

Berdasarkan hasil analisis diperolah nilai NPV >1, Net


B/C >1 dan IRR> discount rate. Dengan demikian usaha
pembesaran Kerapu Bebeklayak untuk diusahakan dan dijalankan
walaupun dengan peningkatan harga pakan sebanyak 20%.

V.18.1 Produksi
V.19
V.20 Biomassa
V.21
V.26

Periode
Biomassa

V.22
SR
(%)
V.27
100

V.23

JumlahI
ndividu
V.28
2.200

V.24

Bobo
t (g)
V.29
50

V.25
Biom
assa (Kg)
V.30
110

tebar
V.31
Biomassa
Grading I
V.36
Biomassa
Grading II
V.41
Panen

V.32

95,5

V.33

2.100

V.34

200

V.35

V.37

97,6

V.38

2.050

V.39

500

V.40

1.025

V.42

97,5

V.43

2.000

V.44

1.00

V.45

2.000

V.46
V.47 Pakan
V.48
FCR rucah
: 6 (Sim et al 2005)
V.49
FCR pelet
: 1,67 (Sim et al 2005)
V.50
FR Rucah
: 6% biomassa/hr (SNI 017472:2009)
V.51
FR Pelet
: 4% biomassa/hr (SNI 017472:2009)
V.52
Jumlah Pakan UkuranTebar Grading I :
V.53 Pelet = (% proporsi x selisih bobot x FCR) x jumlah ikan
V.54
= (0,3 x 150 x 1,67) x 2.200= 165.330 g =
165 kg
V.55 Rucah = (% proporsi x selisih bobot x FCR) x jumlah ikan
V.56
= (0,7 x 150 x 6) x 2.200= 1.386.000g =
1.386 kg
V.57
Jumlah Pakan Grading I Grading II :
V.58 Pelet = (% proporsi x selisih bobot x FCR) x jumlah ikan
V.59
= (0,3 x 300 x 1,67) x 2.100= 315.630 g =
316 kg
V.60 Rucah = (% proporsi x selisih bobot x FCR) x jumlah ikan
V.61
= (0,7 x 300 x 6) x 2.100= 2.646.000 g =
2.646 kg
V.62
Jumlah Pakan Grading II Panen :
V.63 Pelet = (% proporsi x selisih bobot x FCR) x jumlah ikan
V.64
= (0,3 x 500 x 1,67) x 2.050= 513.525 g =
514 kg
V.65 Rucah = (% proporsi x selisih bobot x FCR) x jumlah ikan
V.66
= (0,7 x 500 x 6) x 2.050= 4.305.000 g =
4.305 kg
V.67
V.68
Total Kebutuhan Pakan Pelet Setahun
= (165+316+514) kg x 52 siklus
V.69
= 67.184 kg
V.70
Total Kebutuhan Pakan Rucah Setahun
= (1.386+2.646+4.305) kg x 52 siklus
V.71
= 433.524 kg
V.71.1 Asumsi Sensitifitas
V.71.1.1
Asumsi Peningkatan Harga Pakan
V.72
V.73
Harga rucah/kg
= 2.500,V.74
Harga pelet/kg
= 18.000,-

420

V.75
Kebutuhan rucah/thn = 433.524
V.76
Kebutuhan pelet/thn = 67.184
V.77
Total pengeluaran rucah
=1.083.810.000,V.78
Total pengeluaran pelet
=1.209.312.000,V.79
Total pengeluaran pakan
= 2.293.122.000,V.80
V.81
Biaya variabel
=3.934.322.000,V.82
Biaya pengeluaran
=15.529.711.000,V.83
Keuntungan
= 9.923.074.952,V.84
V.85
V.85.1.1
Asumsi Penurunan Harga Jual
V.86
V.87
Harga perkilo
= 200.000,V.88
Bobot perekor
= 1 kg
V.89
Botot panen
= produksi x bobot perekor
V.90
= 104.000 ekor x 1 = 104.000
kg
V.91
Total pendapatan
= harga perkilo x bobot panen
V.92
= 200.000 x 104.000 =
20.800.000.000,V.93
Keuntungan
= 20.800.000.000 - 8.011.482.000
V.94
= 5.208.572.95
V.95

Sensitifitas

V.96
sensitifitas.
V.97

V.101

V.102

Aspek

Harga
pakan
rucah
Harga
pakan
pelet

Asumsi yang digunakan dan perhitungannya sesuai sub-bab


V.98

V.103

V.104

A
s
u
m
s
i
N
o
m
a
l
2
0
0
0
,
1
4
0

V.99

V.105

V.106

A
su
m
si
S
e
ns
iti
fit
as

V.100

Keuntu
ngan
Sensitif
itas

2
5
0
0,
1
8
0
0

V.107

17.503.
020.00
0,-

V.108

Harga
jual
kerapu

V.109

0
0
,
2
5
0
.
0
0
0
,
-

0,
-

V.110

2
0
0.
0
0
0,
-

V.111

12.788.
518.00
0,-

V.115
V.116
V.117
V.118

V.119
V.120
V.121
V.122

V.123
V.124
V.125
V.126
V.127

V.128

V.129
V.130

V.112 DAFTAR PUSTAKA


V.113
V.114
Anonim. 2015. www.Gambaranumum Kabupaten Administrasi Kepulauan
Seribu. www.Kepulauanseribu.net.htm. (6 Mei 2015)
Beveridge MCM. 1996. Cage Aquaculture. Second Edition. Fishing
News Books. London. 346p.
Effendi I. 2004. Pengantar Akuakultur. Jakarta: PT Penebar Swadaya.
Fendjalang S. 2014. Kinerja Produksi dan Respons Fisiologi Udang
VanameLitopenaeus vannamei Pada Budidaya Pembesaran Sistem Kja
Dengan Padat Tebar Berbeda Pada Perairan Selat [Presentasi Kolokium].
Sekolah Pascasrajana IPB
Ghufran M. 2001. Pembesaran Kerapu Bebek di Keramba Jaring Apung.
Yogyakarta: Kanisius. 132 hlm.
Giri NA. 2001. Pembenihan ikan kerapu batik (Epinephelus microdon)
sebagai upaya penyediaan benih untuk pengembangan budidaya laut.
Warta penelitian perikanan Indonesia, 7(1):3.
Herjanto E. 2007. Manajemen Operasi. Jakarta (ID): Grasindo
Ismi S, Asih YN, Kusumawati D. 2013. Peningkatan Produksi Dan
Kualitas Benih Ikan Kerapu Melalui Program Hibridisasi. Jurnal Ilmu
dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 5, No. 2, Hlm. 333-342, Desember
2013
Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2013. Kelautan Dan Perikanan
Dalam Angka 2013. Pusat Data, Statistik dan InformasiKementrian
Kelautan dan Perikanan Repunlik Indonesia.
Lawson TB. 1995. Fundamentals of Aquacultural Engineering. Chapman
& Hall, New York. 355 pp.
Mayunar. 1996. Teknologi dan Prospek Usaha Pembenihan Ikan Kerapu.
Oseana Volume XXI Nomor 4: 13-24.
Meade JW. 1989. Aquaculture Management. AnAvi Book, Van Nostrand
Reinhold, New York. 175p.
Noor A. 2009. Model Pengelolaan Kualitas LingkunganBerbasis Daya
Dukung (Carrying Capacity)Perairan Teluk Bagi Pengembangan
BudidayaKeramba Jaring Apung Ikan Kerapu [Disertasi]. Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
Perez OM, Ross LG, Telfer TC and del Campo Barquin LM. 2003. Water
QualityRequirements for Marine Fish Cage Site Selection in Tenerife
(Canary Islands):predictive modelling and analysis using GIS.
Aquaculture 224: 5168.
SNI 6487.4:2014. Produksi pembesaran ikan kerapu bebek(Cromileptes
altivelis, Valenciennes 1828) dikaramba jaring apung (KJA). Badan
Standarisasi Nasional. Jakarta
Soebagio. 2004. Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang dan Pesisir dan
Laut Kepulauan Seribu dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat
Melalui Pendapatan Kegiatan Budidaya Perikanan dan Pariwisata [Tesis].
IPB.

V.131

Sulaiman M S. 2010. Kelayakan Pengusahaan Ikan Kerapu Macan Di


Kepulauan Seribu Provinsi DKI JAKARTA [Skripsi]. Institut Pertanian
Bogor.
V.132 Yang Sim S, Rimmer MA, Wiliams K, Toledo JD, Sugama K, Rumengan I
dan Philips M. 2005. A practical guide to feeds and feed manajemen for
cultured groupers. The Asia-Pacific Marine Finfish Aquaculture Network.
NACA. Australian Goverment
V.133 Zarain-Herzberg M, Fraga I, Hernandez-Llamas A. 2010. Advances in
Intensifying the Cultivation of the Shrimp Litopenaeus vannamei in
Floating Cages. Aquaculture 300 (14): 8792.

V.134 Lampiran 1. Peralatan kontruksi KJA


V.135

Gambar
Barang
V.138

V.136

Nama/Jenis

V.137

Spesifikasi

V.139

Pelampung
silinder
plastik
(Aquatec)

V.140

V.141

V.142

Papan
plastik
(Aquatec)

V.143

Pelampung
sekaligus
bantalan
pijakan
KJA.
Terbuat dari
bahan baku
minimum
90%
polyethylen
e prime
grade
ditambah
anti UV dan
tidak
beracun
untuk
pijakan dan
pematang
KJA

V.144

V.145

Tali
tambang
plastik

V.146

Berbagai
ukuran

V.147

V.148

Pasak/jangk
ar

V.149

Terbuat dari
beton
dengan
bobot 300
kg

V.150

V.151

Jaring
(Aquatec)

V.152

net yang
tanpa
simpul
(knotless)te
rbuat dari
bahan
Prime

V.153
V.154
V.155

V.156

Tandon air
tawar
(Aquatec)

V.157

V.158

V.159

Rumah
apung
(Aquatec)

V.160

V.161

V.162

Perahu
besar untuk
mengangkut
hasil panen.
Perahu kecil
untuk
mengangkut
perlengkapa
n dari
gudang
darat
P.Panggang
ke KJA

V.164

V.163

V.165

Grade
Polyethylen
e (PE)
Mesh size
3mm
Mesh size 2
inchi
aquatec

terbuat dari
WPC
(Wood
Polyethylen
e
Compound)
dilengkapi
dengan
sistem
penerangan
dari Solar
Cell
Perahu
besar
dengan 2
mesin
kapasitas
masingmasing 3
GT
Perahu
kecil 1
mesin
kapasitas
0,5 GT

V.166 Lampiran 2 Perlengkapan Budidaya


V.167 G
a
m
ba
r

V.168
Na

V.169
J

V.170 Ga
mb
ar

V.171
Na

V.172
J

V.173

V.176
V.174
Sc

V.175

V.179

V.178

V.183
se

V.184

V.189
Pis

V.190

V.195
Ma

V.196

V.201
Ke

V.202

V.207
St

V.208

V.182
V.180
Ti

V.181

V.185

V.188
V.186
Ga

V.187

V.194

V.191
V.192
Ak

V.193

V.197

V.200
V.198
Ba

V.199

V.203

V.206
V.204
Ti

V.209

V.177
sy

V.205

V.210 Lampiran 3 Jadwal Kegiatan Dalam 1 Siklus Produksi


V.211

V.212
V.213 Jadwal persiapan produksi
V.214

V.215
V.216 Jadwal manajemen pakan
V.217

V.218

V.219 Lampiran 4 Polasiklusproduksi / tebar benihtahun pertama


V.220

V.221 Pola siklusproduksi / tebar benih tahun ke-2 sampai ke-20

V.222