Anda di halaman 1dari 24

PROSEDUR PELAKSANAAN PERBAIKAN

TANAH MENGGUNAKAN PENYALIR VERTIKAL


(PVD) DENGAN VACUUM (VACUUM
CONSOLIDATION SYSTEM VCM)

PEKERJAAN PEMBANGUNAN JALAN TOL KAYU


AGUNG PALEMBANG BETUNG PAKET II
SEKSI 1 Sta. 13+400 s/d 33+500
SEKSI 2 Sta. 33+500 s/d 52+200
SEKSI 3 Sta. 96+000 s/d 111+690

PROSEDUR PELAKSANAAN PERBAIKAN


TANAH MENGGUNAKAN PENYALIR VERTIKAL
(PVD) DENGAN VACUUM (VACUUM
CONSOLIDATION SYSTEM VCM)
I. UMUM
1. Uraian
a) Pekerjaan Percepatan Konsolidasi Tanah dengan Metode Penyalir
Vertikal (PVD) dan Vakum terdiri dari pengadaan material, tenaga
kerja, dan peralatan kerja untuk pelaksanaan pekerjaan Penanganan
Tanah Lunak dengan menggunakan PVD dan vakum. Penyedia Jasa
bertanggung jawab terhadap pengadaan bahan material dan alat
serta pembuangan bahan material hasil pembersihan dan
pemompaan (vakum) dan mengatasi masalah-masalah yang
mungkin muncul selama masa pelaksanaan pekerjaan pemasangan
PVD dan vakum.
Metode PVD dan vakum dimaksudkan untuk mempercepat
penurunan dan meningkatkan daya dukung tanah asli yang lunak
dengan melakukan pemompaan vakum pada tanah dengan maksud
untuk mengurangi kadar air maupun kadar udara pada butiran tanah
sehingga dapat mempercepat penurunan jangka panjang dan
perbedaan penurunan (differential settlement).
Pekerjaan Percepatan Konsolidasi Tanah dengan metode Penyalir
Vertikal (PVD) dan Vakum juga dapat dimaksudkan untuk
mensubtitusi sebagian material timbunan yang harus didatangkan
dari luar dengan material setempat (yang ditempatkan didalam
sistem vakum), mengurangi material timbunan yang digunakan
untuk pra pembebanan, mengurangi material timbunan untuk
counterweight
(pemberat),
mempercepat
waktu
konsolidasi
dibanding dengan Pra pembebanan dengan Sistem Penyalir Vertikal
(PVD) dan Timbunan Tanah, dan menaikan stabilitas timbunan.
b) Pekerjaan Percepatan Konsolidasi Tanah dengan Sistem Penyalir
Vertikal (PVD) dan vakum, secara umum dimaksudkan untuk
memenuhi kriteria perencanaan yang terdiri dari :
(1) Faktor keamanan stabilitas badan jalan sebagaimana dalam tabel
di bawah (Faktor Keamanan untuk Analisis Stabilitas).
Tabel : Faktor Keamanan Untuk Analisis Stabilitas.
Kelas Jalan
Faktor Keamanan
minimal
I
1.4
II
1.4
III
1.3

(2) Batas batas penurunan timbunan (konsolidasi) sebagaimana


1

dalam tabel dibawah.

Tabel : Batas batas Penurunan Untuk Timbunan Pada


Umumnya (dari Panduan Gambut Pusat Litbang Prasarana
Transportasi).

Kelas Jalan
I
II
III
IV

Penurunan yang
Kecepatan Penurunan
Disyaratkan
Selama Masa Konstruksi
Setelah Konsolidasi
S/S
total
mm/tahun
> 90%
<20
> 85%
<25
> 80%
<30
> 75%
<30

(3) Total beban yang diaplikasikan selama improvement ke tanah asli


1,2 kali beban yang bekerja ke tanah asli pada kondisi layan.
(4) Pada saat urugan mencapai elevasi top subgrade final pada Pra
pembebanan Dengan Sistem Penyalir Vertikal (PVD) dengan
Vakum atau sebelum beban dengan timbunan tanah dikurangi,
derajat konsolidasi akibat beban selama masa proses
pembebanan (improvement) mencapai minimum 90% dari
estimasi total penurunan akibat beban final (100 % derajat
konsolidasi pada beban layan). Observasi derajat konsolidasi
berdasarkan data instrumentasi dan estimasi total penurunan
konsolidasi dari data penurunan tanah lapangan diperkirakan
dengan menggunakan metode Asaoka.
(5) Daya dukung ijin pada elevasi geomembrane minimum 80 kPa.
Pengujian menggunakan Plate Load Test dengan ukuran pelat 100
x 100 cm atau sesuai dengan standar Bina Marga.
2. Pengajuan kesiapan Kerja
a) Untuk setiap pekerjaan Percepatan Konsolidasi Tanah dengan
Metode Penyalir Vertikal (PVD) dan vakum, Penyedia Jasa harus
menyerahkan pengajuan kesiapan di bawah ini sebelum memulai
pekerjaan:
(1) Hasil sondir yang menunjukkan kedalaman tanah lunak untuk
pekerjaan Perbaikan Tanah Dengan Metode dengan Penyalir
Vertikal (PVD) dan vakum.
(2) Gambar detil penampang melintang jalan yang menunjukkan
permukaan elevasi pembentuk jalan yang telah dipersiapkan
sebelum proses settlement terjadi disertai dengan pola
pemasangan Sistem Penyalir Vertikal (PVD) beserta panjangnya.
b) Penyedia Jasa harus menyerahkan hal-hal berikut ini kepada Direksi
Pekerjaan paling lambat 14 hari sebelum tanggal yang diusulkan
untuk penggunaan pertama kalinya sebagai bahan pekerjaan
Percepatan Konsolidasi Tanah dengan Metode Penyalir Vertikal (PVD)
dan Vakum:
(1) Dua contoh secukupnya untuk setiap jenis bahan yang akan
digunakan dalam pekerjaan Percepatan Konsolidasi Tanah dengan
3

Metode Penyalir Vertikal (PVD) Vakum, satu contoh harus


disimpan oleh Direksi Pekerjaan untuk rujukan selama Periode
Kontrak;

(2) Pernyataan tentang asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan untuk bahan
pekerjaan Percepatan Konsolidasi Tanah dengan Metode Penyalir Vertikal (PVD)
dan Vakum.
c) Penyedia Jasa harus menyerahkan laporan bentuk tertulis kepada Direksi Pekerjaan
segera setelah selesainya setiap tahapan pekerjaan, dan sebelum mendapat
persetujuan dari Direksi Pekerjaan tidak diperkenankan menghampar bahan lain di
atas pekerjaan Pekerjaan Percepatan Konsolidasi Tanah dengan Metode Penyalir
Vertikal (PVD) dan
AI. PERSYARATAN
1. Area pekerjaan Percepatan Konsolidasi Tanah dengan Metode PVD Vakum harus lebih
luas minimum 1 m pada arah panjang dan lebar dibandingkan area konstruksi yang
dibutuhkan.

2. Jarak antara batas lahan yang diperbaiki dengan eksisting bangunan sekitar atau pipa
bawah tanah harus ditentukan berdasarkan data tanah dengan jarak tidak boleh kurang
dari 20 m. Apabila jaraknya relatif dekat maka tindakan proteksi /pengamanan terhadap
eksisting bangunan terhadap dari pengaruh terjadinya konsolidasi area yang dilakukan
Percepatan Konsolidasi Tanah dengan metode PVD Vakum harus diambil.

3. Untuk mencegah tercampurnya pasir lapisan drainase horizontal dengan tanah asli
yang nilai CBR sama atau kurang dari 3% (CBR< 3%) serta dalam kondisi jenuh,
perlu dipasang geotekstil sebagai lapis separator yang berfungsi untuk mencegah
terjadinya pencampuran antara tanah dasar dengan lapisan drainase (intermixing).
4. Dalam hal tinggi timbunan di atas geomembrane selama proses perbaikan tanah
dengan sistem Percepatan Konsolidasi Tanah dengan metode PVD dan Vakum
melebihi tinggi kritis, pembebanan harus dilakukan secara bertahap atau dibuat
bahu timbunan sebagai pemberat longsoran.
5. Area yang akan diperbaiki menggunakan Percepatan Konsolidasi Tanah dengan
metode PVD dan Vakum, harus dibagi dalam beberapa partisi dengan ukuran setiap
partisi maksimum 40.000 m2 atau sesuai perencanaan yang telah disetujui.
6. Partisi yang akan di perbaiki dengan metode PVD dan Vakum dapat dilakukan secara
berurutan antara partisi yang satu dengan berikutnya ataupun tidak berurutan
dengan pengaturan yang sudah disetujui.
7. Pemasangan penyalir vertikal (PVD) harus dengan jarak dan pola segi empat atau
segitiga sesuai gambar. Pemotongan ujung penyalir vertikal (PVD) harus dilakukan
minimum 50 cm diatas elevasi lapis pasir.
8. Penyalir vertikal (PVD) yang digunakan harus menembus lapisan tanah lunak hingga
lapisan tanah kompresible dengan N-SPT maksimum 8 (delapan), tapi tidak
menembus lapisan tidak kedap air dibawahnya (apabila ada) dimana lapisan tidak
kedap tersebut merupakan lapisan keras.
9. Dalam Percepatan Konsolidasi Tanah dengan metode PVD dan Vakum bila terdapat
lensa tanah berupa kandungan lanau, pasir atau material tidak kedap lainnya

disekeliling area yang akan diperbaiki, dinding kedap (sealing wall)


harus di buat di sekeliling area tersebut untuk menjamin tekanan
vakum dapat mencapai spesifikasi yang telah ditetapkan.
10. Apabila kondisi tanah lunak sangat dalam dan kontrol terhadap
stabilitas lereng lebih diutamakan maka penyalir vertical (PVD) harus
mencapai 3 (tiga) meter lebih dalam dibandingkan garis longsor kritis
yang ditentukan oleh Konsultan Perencana. Untuk pekerjaan yang
mengutamakan kontrol terhadap penurunan maka penyalir vertikal
(PVD) harus ditentukan berdasarkan sisa penurunan pasca konstruksi
yang ditentukan.

11.Untuk area lahan yang terdapat struktur, percepatan konsolidasi


tanah dengan metode PVD dan Vakum, penanganannya harus
direncanakan secara lebih rinci dan teliti sehingga tidak
mengganggu kestabilan bangunan struktur dimaksud.
12.Dalam Percepatan Konsolidasi Tanah dengan Metode PVD dan
Vakum, tanah asli yang akan divakum dapat ditimbun dengan tanah
lumpur, tanah lempung lunak, tanah lempung biasa ataupun kondisi
tanah yang kompleks yang merupakan tanah asli atau pun tanah
urugan yang akan diperbaiki sekaligus bersama dengan tanah asli
harus memiliki isolasi yang baik terhadap udara dan air, serta
tekanan vakum yang direncanakan tidak boleh kurang dari 80 kPa.
13.Dalam Percepatan Konsolidasi Tanah metode PVD dan Vakum
diharuskan untuk menggunakan perlengkapan sistem pompa khusus
vakum. Ketika asupan udara ditutup, tekanan vakum yang dihasilkan
oleh pompa vakum harus mencapai tidak kurang dari (-) 80 kPa,
secara merata.
14.Saat tekanan vakum sudah stabil di atas 80 kPa, maka sebagian
pompa vakum dapat di non-aktifkan sepanjang tidak menyebabkan
terjadinya penurunan tekanan vakum
15.Uji pemompaan vakum dianjurkan selama minimal 10 hari. Apabila
ditemukan masalah maka tindakan perbaikan harus segera
dilakukan.
16.Apabila beban dari metode Sistem PVD dan Vakum waktu
konsolidasinya kurang dari yang ditentukan, dianjurkan untuk
mengkombinasikan metode pra-pembebanan dengan vakum dengan
tambahan beban dengan memperhitungkan stabilitas lereng.
17.Apabila pra-pembebanan dengan tanah dikombinasikan dengan prapembebanan dengan vakum, ujung bawah dari lereng urugan harus
tetap berada di dalam area vakum.
18.Penempatan tambahan pra-pembebanan dengan tanah sistem PVD
dan Vakum dapat dilakukan sesudah tekanan vakum mencapai 80
kPa dan tekanan vakum stabil selama 3 hari berturut-turut.
19.Pekerjaan pengurugan di atas geomembran saat proses vakum
6

masih berjalan harus mengikuti ketentuan berikut:


a) Geotekstil Stabilisator sebagai Lapisan proteksi harus dipasang
pada sisi bawah dari geomembrane. Jika ada pekerjaan
penimbunan di atas geomembran, maka geotekstil stabilisator
sebagai lapis proteksi juga harus dipasang di atas geomembran
sebelum pekerjaan penimbunan;

b) Geotekstil Stabilisator sebagai Lapisan proteksi tersebut harus


dipasang sebelum pekerjaan urugan dimulai;
c) Periode urugan, ketebalan dan pemadatan harus mengikuti
syarat yang telah ditetapkan dalam perencanaan.
20.Pada saat mengaplikasikan pra-pembebanan dengan vakum yang
dikombinasikan dengan pra-pembebanan dengan tanah, pekerjaan
urugan harus dilakukan secara bertahap dengan kontrol sebagai
berikut :
a) Pergerakan lateral tanah ke arah luar di perbatasan area yang
di perbaiki tidak lebih dari 5 mm/hari;
b) Kecepatan penurunan tanah tidak lebih dari 30 mm/hari;
21.Penurunan yang terjadi pada pekerjaan Percepatan Konsolidasi
Tanah dengan PVD dan Vakum, harus mencapai minimum 90%
derajat konsolidasi. Besaran derajat konsolidasi yang terjadi di
lapangan dan prediksi total penurunan konsolidasi berdasarkan
data penurunan di lapangan yang diobservasi dan dihitung
menggunakan antara lain dengan metode Asaoka.
22.Untuk kontrol terhadap penurunan, penentuan selesainya proses
konsolidasi harus didasarkan pada batas penurunan pasca
konstruksi yang diijinkan, derajat konsolidasi rata-rata dan
kecepatan penurunan.
III. BAHAN
1.
Geotekstil Separator
a)
Geotekstil separator sebagai lapis separasi harus
dapat berfungsi sebagai pencegah terjadinya pencampuran
antara tanah dasar dengan agregat penutupnya (lapis pondasi
bawah, lapis pondasi, timbunan pilihan dan sebagainya). Juga
dapat digunakan untuk kondisi selain di bawah perkerasan jalan
dimana diperlukan pemisahan antara dua bahan yang berbeda
tetapi dengan ketentuan bahwa penanganan rembesan air
(seepage) melalui geotekstil bukan merupakan fungsi yang
utama.
b)
Fungsi geotekstil separator sebagai lapis pemisah
(separator) sesuai untuk struktur perkerasan yang dibangun di
atas tanah dengan nilai CBR sama atau kurang dari 3 (CBR 3)
dan dalam kondisi jenuh.
2.
a)

b)
c)

d)

Geotekstil Separator untuk Lapis Proteksi


Geotekstil separator untuk Lapis proteksi berupa
geotekstil dari jenis yang tidak dianyam (nonwoven), terdiri dari
serabut dengan bahan polimer yang telah distabilkan terhadap UV
dan dibuat dengan proses needle punched.
Geotekstil yang terbuat dari material daur ulang
tidak bisa diterima.
Geotekstil harus memiliki daya tahan terhadap
pengaruh kontak langsung dengan zat kimia yang umumnya ada
di dalam tanah dan air limbah serta memiliki daya tahan terhadap
pengaruh mikro biologis lainnya.
Geotekstil harus mempunyai jaringan serabut yang
8

stabil sehingga memiliki ketahanan terhadap kerusakan saat


pelaksanaan.
e)
Geotekstil yang dikirim ke lapangan harus dengan
pembungkus untuk melindungi material tersebut terutama dari
sinar matahari. Penyimpanan dan pemasangan gulungan
geotekstil tersebut tidak boleh mengakibatkan kerusakan fisik.
f)
Geotekstil dipasang sesuai dengan rekomendasi/petunjuk
yang dikeluarkan pabrik, dan harus dipasang pada lokasi seperti
yang dicantumkan pada gambar rencana.
g)
Penyambungan geotekstil harus dengan cara dijahit
menggunakan mesin jahit portable.
3.
a)
b)

c)

d)

4.

Drainase Pasir Horizontal


Pemasangan Drainase pasir Horizontal minimum setebal 40
cm dan harus digelar rata.
Drainase
pasir
Horizontal
harus
bersih
dari
gumpalan/endapan kotoran, bahan organik, material keras dan
tajam atau pun bahan lain yang dapat mengganggu fungsi
drainase.
Drainase pasir Horizontal tersebut direkomendasikan
memiliki kadar halus kurang dari 5% dengan permeabilitas tidak
boleh kurang dari 5 10 -3cm / detik serta berat jenis kering tidak
kurang dari 15kN/m3.
Sesudah pengujian, penyelidikan dan penyesuaian metode,
jenis tanah atau sistem drainase lain dapat digunakan sebagai
lapisan drainase horisontal apabila material pasir sulit diperoleh.
Metode lain tersebut harus dapat dibuktikan berfungsi sebagai
lapisan drainase horisontal secara baik

Drainase vertikal prefabrikasi (Prefabricated Vertical


Drain, PVD).
a)
PVD harus merupakan material komposit yang terintegrasi
dengan baik yaitu terdiri dari lapisan inti berbentuk sirip menerus
yang dilingkupi dengan saringan pembungkus.
b)
Lapisan inti harus merupakan bahan polimer. Saringan
pembungkus harus dari bahan non-woven.
c)
PVD yang terbuat dari potongan-potongan bahan fiber,
limbah fiber atau hasil daur ulang tidak dapat diterima.
d)
PVD dipasang dengan menggunakan suatu mandrel atau
semacam lengan baja yang akan menembus tanah sampai pada
kedalaman yang ditentukan. Mandrel ini akan melindungi material
agar tidak sobek, terputus, dan rusak selama pemasangan dan
kemudian ditarik kembali setelah material terpasang. Mandrel
harus dapat dimasukkan tanpa menimbulkan efek getaran dan
lainnya yang dapat berdampak pada lingkungan sekitarnya.
e)
PVD yang dikirim ke lapangan harus dengan pembungkus
untuk melindungi material tersebut terutama dari sinar matahari.
Penyimpanan dan pemasangan tidak boleh mengakibatkan
kerusakan fisik.
f)
PVD dipasang sesuai dengan rekomendasi/ petunjuk yang
dikeluarkan pabrik, dan harus dipasang dengan menggunakan
peralatan yang sudah disetujui, pada jarak dan kedalaman yang
sudah ditentukan dan pada lokasi seperti yang dicantumkan ada
gambar rencana.
g)
Jarak antar PVD adalah 0.7 m - 1.3 m atau sesuai dengan
9

h)

5.

perencanaan yang disetujui.


PVD ini harus mampu menyalurkan tekanan vakum dari
drainase horizontal ke seluruh masa tanah lunak. PVD harus juga
mampu berfungsi untuk menyalurkan air dan udara yang keluar
dari masa tanah lunak ke drainase horizontal.

Pipa drainase horisontal (Perforated Horizontal Drain/PHD)


Sistem Pipa Drainasi horizontal harus direncanakan dengan jarak
dan diameter pipa tertentu sehingga mampu menyebarkan tekanan
vakum dari luasan tertentu secara merata sebesar minimum ( minus
) 80 kPa. Sistem ini harus dijamin tidak mengalami kebocoran
selama proses vakum.

6. Geomembran
a) Geomembran sebagai Lapis kedap harus terbuat dari bahan
polyethylene atau polyvinyl chloride atau bahan lainnya yang
menjamin kekedapan lapis tersebut.
b) Geomembran sebagai lapis kedap yang digunakan harus
direncanakan dengan mempertimbangkan resiko kegagalan
sistem vakum apabila geomembran tersebut mengalami
kerusakan saat proses vakum.
c) Geomembran yang digunakan harus memiliki daya tahan
terhadap pengaruh bahan- bahan kimia dan mikro biologis lainnya
yang ada di lingkungan kerja.
d) Geomembran harus mempunyai kualitas karakteristik dan sifatsifat kekedapan yang tinggi.
e) Geomembran yang dikirim ke lapangan harus disimpan dan
dilindungi dari hal-hal yang dapat merusak lapis kedap dan dari
pengaruh sinar matahari langsung (untuk jangka waktu yang
lama).
f) Geomembran harus dipasang pada lokasi seperti yang
dicantumkan pada gambar rencana.
g) Ukuran panjang atau lebar dari Geomembran sebagai lapis kedap
minimal harus 4 m lebih panjang dibandingkan panjang dan lebar
dari area yang akan di perbaiki. Apabila kondisi geologi cukup
kompleks maka lapis kedap harus lebih panjang dan lebih lebar
sehingga dapat diletakkan secara longgar.
h) Permukaan tanah tempat Geomembran akan digelar, harus bersih
dari benda-benda pengrusak seperti akar pohon dan lain-lain
yang menimbulkan kerusakan pada Geomembran. Tanah di
bawah
tempat
Geomembran
akan
digelar
diusahakan
kepadatannya seragam.
i) Penyambungan antar Geomembran dianjurkan untuk dilakukan di
pabrik
guna
mengantisipasi
potensi
kebocoran
akibat
ketidaksempurnaan sambungan bila penyambungan dilakukan di
lapangan. Apabila penyambungan dilakukan dilokasi kerja, maka
harus
dipastikan
tidak
terjadi
kebocoran
akibat
ketidaksempurnaan sambungan di lapangan
7. Material Pengisi
Untuk elevasi finish grade jauh di atas elevasi tanah existing, maka
diperlukan penimbunan tanah pada area yang akan divakum.
Peninggian elevasi muka tanah yang akan divakum dapat dilakukan
dengan cara penimbunan tanah dengan material pengisi diatas
10

geotekstil separator.
Cara penimbunan material pengisi tersebut dapat dilakukan dengan
2 cara, yaitu:
Tanpa Struktur Pengaman
Dengan Struktur Pengaman
Struktur pengaman dapat berupa tanggul dari timbunan, sheet pile,
atau konstruksi pengaman lainnya.
Material pengisi yang digunakan dapat berupa tanah lempung lunak,
tanah lempung biasa ataupun kondisi tanah yang kompleks dan
memiliki isolasi yang baik terhadap udara dan air.
a) Material pengisi dapat menggunakan dari bahan galian tanah
yang tidak boleh mengandung material organic seperti jenis
tanah OL, OH dan Pt dalam sistem USCS serta tanah yang
mengandung daun daunan, rumput-rumputan, akar, sampah ,
buatan (organic and artificial materials).
b) Material boleh menggunakan tanah berplastisitas tinggi, yang
diklasifikasikan sebagai A-7-6 menurut SNI-03-6797-2002
(AASHTO M145) atau sebagai CH menurut "Unified atau
Casagrande Soil Classification System".
Bila penggunaan tanah yang berplastisitas tinggi tidak dapat
dihindarkan, bahan tersebut harus digunakan hanya pada
bagian dasar dari timbunan atau pada penimbunan kembali
yang tidak memerlukan daya dukung atau kekuatan geser yang
tinggi.
c) Material pengisi tidak boleh menggunakan jenis tanah dengan
sifat sebagai berikut:
Tanah sangat expansive yang memiliki nilai aktif lebih besar
dari 1,25, atau derajat pengembangan yang diklasifikasikan
oleh AASHTO T258 sebagai "very high" atau "extra high"
tidak boleh digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai aktif
adalah perbandingan antara Indeks Plastisitas / PI - (SNI 031966-1989) dan persentase kadar lempung (SNI 03-34221994).
Tanah yang mempunyai sifat kembang susut tinggi dan
sangat tinggi dalam klasifikasi Van Der Merwe dengan ciri
ciri adanya retak memanjang sejajar tepi perkerasan jalan.
Tanah yang berbutir kasar (Coarse Grained Soils) sesuai
tabel skh-1.4.13 (1).3.9.4 karena dikhawatirkan akan
merusak geotekstil separator sehingga akan mengganggu
proses vakum.
IV. PELAKSANAAN
1.
Pengajuan Kesiapan Kerja
Pekerjaan persiapan merupakan pekerjaan tahap awal sebelum
pekerjaan dimulai, agar seluruh pekerjaan yang akan dilaksanakan
dapat terlaksana sesuai desain dan mencegah terjadinya resiko
kegagalan sistem akibat benda-benda tajam yang dapat merusak
material pada saat proses vakum.
a)
Pemeriksaan Bersama
Pada tahap awal sebelum dilaksanakannya pekerjaan, Penyedia
Jasa melakukan pemeriksaan dan pengukuran lokasi pekerjaan
serta pemeriksaan detail kondisi lokasi pekerjaan terhadap
11

gambar rencana. Juga dilakukan Tes Sondir (Cone Penetration


Test - CPT) setiap jarak 50 m pada area yang akan diperbaiki
dengan metode vakum untuk mengetahui kedalaman tanah
lunak serta memperkirakan kedalaman pemancangan PVD yang
lebih terinci dan merencanakan partisi (Zona) pelaksanaan
vakum.
b)

Gambar Kerja (Shop Drawing)


Pembuatan gambar kerja (shop drawing) oleh Penyedia Jasa
dibuat sesuai gambar desain dan menyesuaikan kondisi awal
lapangan hasil pemeriksaan. Disamping itu dibuat Shop Drawing
untuk rencana kedalaman pemancangan PVD dan juga rencana
pembagian partisi (Zona) pelaksanaan vakum.

c)

Mobilisasi alat kerja, pekerja dan material


Mobilisasi adalah mendatangkan alat berat, pekerja serta
material yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan pada
lokasi proyek, dimana jadwal pengiriman alat berat dan material
tersebut harus sesuai dengan jadwal pelaksanaan pekerjaan
menyeluruh sehingga pelaksanaan pekerjaan tidak terganggu
dan sesuai rencana.

d)

Pembuatan Titik Acuan (Benchmark)


Pembuatan titik acuan (benchmark) harus dengan menggunakan
patok kayu yang kuat dan diwarnai dengan warna yang cukup
terang serta diberi nama agar mudah dipahami oleh semua
pihak.

e)

Pembersihan Lahan Lahan yang akan diperbaiki harus


bersih dari batu, kayu, bahan organik atau benda-benda lain
yang menonjol ke permukaan tanah, khususnya jika benda itu
tajam dan akar pohon serta material organik lainnya harus
dikeluarkan dari lahan. Hal ini dikerjakan agar material yang
akan digelar di atas lahan tidak mengakibatkan robek geotekstil
separator dan geomembran yang akan mengakibatkan
kebocoran sewaktu proses vakum berlangsung serta tidak ada
lapisan
yang
akan
mengalami
pelapukan
sehingga
mempengaruhi proses settlement.
12

2.

f)

Gudang dan Bedeng


Bedeng dan gudang material yang dibangun harus memenuhi
beberapa kriteria yaitu sebagai berikut:

Bebas dari genangan air

Dapat melindungi dari panas dan hujan

kuat, kokoh dan mempunyai luasan yang


mencukupi

Tersedia penerangan (lampu)

Ventilasi yang cukup sehingga tidak lembab.

g)

Pemasangan Geotekstil Separator


Pada area kerja yang mempunyai CBR 3 (tiga) dan dalam
kondisi jenuh maka sebelum dilakukan penimbunan area kerja
tersebut perlu dipasang geotekstil separator terlebih dahulu.
Pemasangan Geoteksti Separator ini harus dapat berfungsi
sebagai pencegah terjadinya pencampuran antara tanah dasar
dengan material di atasnya serta diharapkan area tersebut dapat
dibebani serta stabil oleh pelaksanaan pekerjaan berikutnya
yaitu penimbunan tanah dan pemasangan drainase vertikal
prefabrikasi (prefabricated vertical drain, PVD).

Timbunan Material Pengisi


Untuk elevasi finish grade jauh diatas elevasi tanah existing, maka
diperlukan penimbunan tanah pada area yang akan divakum.
Peninggian elevasi muka tanah yang akan divakum dapat dilakukan
dengan cara penimbunan tanah dengan material pengisi diatas
geotekstil separator.
Cara penimbunan material pengisi tersebut dapat dilakukan dengan
2 cara yaitu dengan struktur pengaman atau tanpa struktur
pengaman. Struktur pengaman dapat berupa tanggul dari timbunan,
sheet pile, atau konstruksi pengaman lainnya, adapun kriterianya
sebagai berikut :

Tanpa Struktur Pengaman digunakan apabila tanah


eksisting keras dengan CBR > 3 dan tidak tergenang air yaitu
dengan menimbun material pengisi diatas geotekstil separator
sesuai dengan tinggi rencana yang telah ditentukan dan
disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Untuk mengantisipasi
kelongsoran pada timbunan material pengisi yang tinggi maka
digunakan geotekstil stabilisator untuk perkuatan lereng.

Dengan Struktur Pengaman digunakan apabila tanah


eksisting memiliki CBR 3 dan atau tergenang air yaitu dengan
menimbun material pengisi setelah pekerjaan struktur
pengaman selesai dan dihampar di antara struktur pengaman
dan diatas geotekstil separator. Struktur pengaman harus
didesain agar dapat menahan tekanan ke arah samping yang
diakibatkan oleh ketebalan material pengisi.

13

3.

Penghamparan Geotekstil Separator


Penghamparan Geotekstil Separator dapat dilaksanakan setelah
dilakukan timbunan material pengisi dan telah mencapai elevasi
yang direncanakan serta sebelum dilaksanakan pekerjaan
penghamparan Drainase Pasir Horizontal.

4. Penghamparan Drainase Pasir Horizontal


Setelah Geotekstil Separator terhampar dengan baik maka dapat
dilakukan penghamparan Drainase pasir Horizontal minimum setebal 40
cm dan harus dihampar hingga rata. Lapisan Drainase pasir Horizontal
harus dapat berfungsi sebagai drainase dan dapat mengalirkan air dan
udara yang keluar dari PVD masuk ke PHD.

5. Pemasangan drainase vertikal prefabrikasi (prefabricated


vertical drain, PVD)
Pemancangan PVD dapat dilaksanakan setelah penghamparan
14

Drainase
Pasir
Horizontal
selesai
dilaksanakan.
Prosedur
pemancangan PVD sebagai berikut :
a) Bagi lahan kerja dalam partisi yang secara praktis dapat ditangani
oleh sejumlah alat tertentu sesuai dengan periode waktu kerja
yang ada.
b) Buat titik referensi untuk setiap partisi.
c) Berdasarkan pada titik-titik referensi ini, dibuat titik-titik
pemasangan sesuai dengan pola dan jarak pemasangan yang
telah ditetapkan.
d) Setelah gulungan PVD dipasang pada peralatan dan ujung PVD
dipasang pada mandrel, pemancangan dilakukan secara berulang
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
(1) Pasang angkur pada ujung PVD di bagian bawah mandrel agar
PVD dapat terpasang sesuai kedalaman yang direncanakan.
(2) Posisi alat pemancangan diatur sehingga ujung bawah
mandrel tepat pada titik pemasangan.
(3) Pancang PVD ke dalam tanah sampai dengan kedalaman yang
telah ditentukan.
(4) Setelah mencapai kedalaman yang ditentukan, tarik mandrel
ke atas. Selama proses ini, PVD tetap berada di dalam tanah
tertahan oleh angkur.
(5) Potong PVD yang berada di atas tanah sepanjang minimum 50
cm.
(6) Dengan mengulang langkah-langkah diatas, maka PVD akan
terpasang dari satu partisi ke partisi berikutnya sehingga
semua area selesai dipasang.
(7) Penyambungan antar PVD dilaksanakan dengan meng-overlap
bagian inti PVD sebesar 20 cm kemudian ditutup kembali.
(8) Bila kedalaman yang dituju tidak tercapai akibat adanya
hambatan dalam menekan mandrel kedalam tanah, maka
digantikan dengan melakukan penetrasi ulang pada titik yang
berdekatan dengan titik sebelumnya.

15

6. Pemasangan pipa drainase horisontal (Perforated Horizontal


Drain)
a) Pemasangan pipa drainase horisontal dapat dilaksanakan setelah
PVD terpasang pada area tertentu.
b) Pipa Drainase horisontal harus ditanam kedalam Drainase Pasir
Horizontal.
c) Apabila dibutuhkan penyambungan maka panjang koneksi tidak
kurang dari 100 mm.
d) Fungsi pipa drainase horizontal ini adalah untuk menyalurkan
tekanan vakum dari pompa ke seluruh Drainase Pasir Horizontal yang
kemudian disebarkan ke seluruh masa tanah melalui PVD.
Selanjutnya pipa drainase horisontal ini juga berfungsi untuk
menyalurkan air dan udara yang keluar dari PVD ke pompa
vakum.

7. Pemasangan Geotekstil Separator dan Geomembran


a) Setelah seluruh sistem PVD dan PHD terpasang maka berikutnya
dipasang Geotekstil Separator untuk lapisan proteksi yang
bertujuan untuk memproteksi geomembran dari benda-benda
tajam yang dapat mengakibatkan kebocoran pada lapisan kedap
tersebut.

16

b) Setelah Geotekstil Separator untuk lapisan proteksi dipasang


maka berikutnya dipasang geomembran yang bertujuan membuat
lahan menjadi kedap dari udara dan air sehingga dapat dilakukan
proses vakum.

c) Kondisi angin harus tenang saat penggelaran geomembran dan


pemasangan geomembran tersebut harus dilakukan mulai dari
sisi arah angin.
d) Kondisi geomembran harus selalu diperiksa selama periode
konsolidasi berlangsung. Apabila terjadi kebocoran atau
kerusakan maka tindakan perbaikan harus dilakukan segera.
8. Penggalian angkur
a) Penggalian angkur dapat dilakukan bila geomembran telah selesai
dipasang pada partisi yang akan dikerjakan.
b) Sisi dalam dan luar galian angkur tersebut harus rata dan tidak
boleh ada pasir atau benda tajam lainnya.
c) Penggalian angkur untuk mengunci geomembran harus mencapai
minimum 0.5 m ke dalam lapisan tanah kedap di bawahnya.
d) Setelah angkur selesai digali maka tahap berikutnya adalah
menggelarkan Geotekstil separator dan Geomembran hingga
dasar galian angkur, lalu ditimbun kembali hingga elevasi awal.
e) Tanah lempung yang digunakan untuk menimbun galian angkur
17

tersebut harus bebas dari sampah atau material lainnya.


f) Apabila galian angkur tersebut terletak antara dua partisi maka
Geotekstil separator dan Geomembran dari kedua partisi tersebut
harus tertanam pada galian angkur yang sama.

9. Dinding kedap (sealing wall) (bila dibutuhkan)


a) Apabila terdapat lensa tanah berupa kandungan lanau, pasir atau
material tidak kedap lainnya di sekeliling area yang akan
diperbaiki, dinding kedap (sealing wall) harus di buat di sekeliling
area tersebut untuk menjamin tekanan vakum dapat mencapai
spesifikasi yang telah ditetapkan.
b) Dinding kedap (sealing wall) harus dibangun dan menembus tidak
kurang dari 1 m ke dalam lapisan tanah tidak kedap di bawahnya,
atau hingga kedalaman dimana kondisi kedap dapat dicapai.
c) Dinding kedap tersebut harus memiliki ketebalan tidak kurang
dari 1 m dengan permeabilitas tidak lebih dari 1 10 -5cm / detik.
10. Pemasangan Pompa Vakum dan Generator
a) Jumlah dan lokasi penempatan pompa vakum harus mengikuti
rencana yang telah ditetapkan.
b) Pemasangan pompa vakum dilakukan setelah geomembran
selesai dilaksanakan serta setelah seluruh sistem dalam lahan
telah terpasang.
c) Pompa vakum dan generator harus diletakan pada posisi yang
lebih tinggi dari lahan sehingga tidak tergenang air.

18

11.
Urugan di atas lapisan drainase pada percepatan
konsolidasi Tanah dengan Metode Penyalir Vertikal (PVD)
dan beban dengan Timbunan Tanah, dan atau tambahan
beban pada Metode Pra pembebanan Dengan Sistem
Penyalir Vertikal (Prefabricated Vertical Drain) dengan
beban Vakum.
a) Penambahan tinggi urugan di atas lapis drainase pada
perbaikan Tanah dengan Metode Penyalir Vertikal (PVD) dan
Vakum, sangat tergantung dari daya dukung tanah asli. Tinggi
urugan maksimum dapat dihitung dengan persamaan
H x FK = (70 + c x Nc) / timb
Dimana :
H = tinggi urugan
maksimum (m) FK =
Faktor Keamanan
c = kohesi tanah
asli (kPa) Nc =
faktor daya dukung
timb = berat tanah timbunan (kN/m3)
b) Dalam hal tinggi timbunan masih dibawah tinggi urugan
maksimum, penimbunan dilakukan secara bertahap sehingga
tidak terjadi longsoran.
V. PENGENDALIAN MUTU
Untuk pemantauan stabilitas, penurunan dan tekanan air pori dari
timbunan akibat pelaksanaan vakum, Penyedia Jasa harus memasang
peralatan/instrumen pemantauan. Instrumen pemantauan umumnya
terdiri dari dan tidak terbatas pada:
1. Penurunan Vertikal
a) Pelat Penurunan (Total Settlement Plate) dipasang pada setiap
jarak 100 meter di atas permukaan geomembran pada posisi
as jalan sehingga dapat menggambarkan penurunan tanah
pada arah memanjang;
19

b) Penanda/Indikator Penurunan Permukaan diatas permukaan


tanah dilakukan terhadap Patok Tetap (Benchmark) yang tidak
dipengaruhi oleh penurunan tanah dasar;
c) Hasil pembacaan penurunan vertikal digunakan untuk
mengobservasi derajat konsolidasi dan memprediksi penurunan
yang terjadi terhadap total penurunan konsolidasi yang
dihitung menggunakan metode Asaoka;
d) Pemantauan Pelat Penurunan (Total Settlement Plate) dilakukan
1 (satu) hari sekali pada waktu yang sama selama 1 (satu)
bulan vakum dan setiap 3 (tiga) hari sekali pada waktu yang
sama sampai selesainya proses vakum;
e) Proses vakum dianggap selesai apabila derajat konsolidasi
mencapai minimal 90% yang dianalisa menggunakan metode
Asaoka (Asaoka, 1978).
2. Pengukuran Tekanan Vakum
a) Tekanan vakum diukur dengan menggunakan pengukur
tekanan vakum (vacuum gauge).
b) Pengukur tekanan vakum tersebut harus memiliki skala sampai
dengan -100 kPa.
c) Pengukur tekanan vakum di pasang pada pompa vakum dan
titik-titik tertentu dalam area vakum dengan distribusi 1 buah
setiap 2.500 - 4.500 m2.
d) Pemantauan Pengukuran Tekanan Vakum dilakukan 1 (satu)
hari sekali pada waktu yang sama sampai selesainya proses
vakum.
3. Tekanan Air Pori
a)
Tekanan air pori diukur menggunakan piezometer.
b)
Piezometer yang dipasang harus dapat mengukur tekanan
air pori negatif akibat tekanan vakum.
c)
Piezometer yang digunakan adalah tipe vibrating wire yang
dipasang pada lokasi dan kedalaman sesuai rencana di dalam
area vakum.
d)
Indikator nilai tekanan air pori diperoleh dari pembacaan
alat pengukur tekanan air pori pada alat baca piezometer.
e)
Piezometer dipasang pada setiap titik pengamatan di setiap
kedalaman 5 meter dan penambahannya dengan jumlah
minimal satu titik pengamatan setiap partisi.
f)
Pemantauan tekanan air pori menggunakan piezometer
dilakukan 1 (satu) hari sekali pada waktu yang sama selama 1
(satu) bulan sejak mulai pelaksanaan vakum dan setiap 3 (tiga)
hari sekali pada waktu yang sama sampai selesainya proses
vakum.
4. Pergerakan tanah lateral
a)
Pergerakan
tanah
lateral
diukur
menggunakan
inclinometer.
b)
Inclinometer harus dipasang 1 (satu) sampai 2 (dua) unit
per partisi pada bagian lereng yang paling rawan atau pada
lokasi dengan kedalaman sesuai rencana yang disetujui.
c)
Inclinometer dipasang di luar area yang divakum yang
terpengaruh oleh pergerakan tanah.
d)
Indikator pergerakan tanah diperoleh dari pembacaan alat
20

pengukur melalui alat baca inclinometer.


Inclinometer tersebut harus dilindungi sedemikian rupa
sehingga dapat digunakan untuk pengamatan pada saat
kondisi layan.
f)
Pemantauan tanah lateral menggunakan Inclinometer
dilakukan setiap 1 (satu) hari sekali pada waktu yang sama
selama 1 (satu) bulan sejak mulai pelaksanaan vakum dan
setiap 4 (empat) hari sekali sampai selesainya proses vakum.
e)

5. Pengukuran kompresi tanah


a) Pengukuran kompresi tanah menggunakan extensometer.
b) Extensometer yang digunakan adalah tipe spider dengan ring
magnet.
c) Extensometer dipasang pada setiap titik pengamatan di setiap
kedalaman 5 meter dan penambahannya dengan jumlah minimal
satu titik pengamatan setiap partisi.
d) Pembacaan kompresi tanah pada ring magnet menggunakan
probe elektronik.
e) Pemantauan kompresi tanah menggunakan extensometer dilakukan
setiap 1 (satu) hari sekali pada waktu yang sama selama 1 (satu)
bulan sejak mulai pelaksanaan vakum dan setiap 4 (empat) hari
sekali sampai selesainya proses vakum.
6. Pengukuran peningkatan kuat geser dan properties tanah
(apabila dibutuhkan).
a) Pengukuran
peningkatan
kuat
geser
dilakukan
dengan
menggunakan Uji Geser Baling (Vane Shear Test - VST), Sondir
(Cone Penetration Test CPT) dan/atau
b) Pemboran Teknik yang dilengkapi dengan pengujian laboratorium
yang sesuai.
c) Pengukuran dilakukan sebelum dan setelah dilakukan perbaikan
dengan metode vakum (dengan PVD) pada lokasi yang
berdekatan.
Berdasarkan jenisnya, alat pemantauan dipasang sesudah PVD selesai
dipasang dan sebelum atau sesudah lapis kedap digelar, atau sebelum
timbunan sebagai pembebanan
dilakukan. Pemantauan harus dilakukan lebih sering apabila ditemukan
hasil pemantauan yang ekstrem
Setiap titik instrumetasi dan pengujian harus diberi nama dan diukur
posisi titiknya. Setiap titik instrumetasi dan pengujian diberikan
pengamanan hingga tidak mengalami kerusakan, setiap kerusakan
harus dilaporkan dan segera diganti.
Setiap hasil instrumentasi didata, dicatat dan dilaporkan dalam bentuk
laporan yang minimum mencakup dan tidak terbatas pada :
Jenis/tipe instrument/pemgujian,
Kode/ID/nama,
Koordinat posisi titik,
Tanggal pemasangan,
Data awal,
Hasil pengamatan (dalam bentuk tabulasi dan grafik),
Petugas yang bertanggung jawab,
21

Komentar yang relevan/catatan.

VI. KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


Dalam
melakukan
pelaksanaan
pekerjaan
perbaikan
tanah
menggunakan Penyalir Vertikal (PVD) diperlukan adanya Pengawasan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Adapun Hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Safety Patrol
Suatu tim K3 yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang melaksanakan
petroli selama kira-kira 1 atau 2 jam (tergantung lingkup proyek )
masing msing safty patrol mencatat hal-hal yang memiliki resiko
kecelakaan di lapangan,ketentuan patrol bsa 1 kali dalam 1
minggu
b. Safety supervisor
Petugas yang ditunuk oleh manager peroyek yang secara terus
menerus mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan
pekeraan di lihat dari segi K3. Safety supervisor berwenang
menegur dan memberikan instruksi langsung kepada kepala
pelaksana yang mengandung bahaya terhadap keselamatan kerja.
c. Safety Meting
Rapat dalam peroyek yang membahas tentang hasillaporan
dari Safety Patrol maupun laporan dari Safety supervisor .
.
Perlengkapan dan Peralatan penunjang Program K3
a. Pemasangan bendera K3, Bendera RI, Bendera Perusahaan.
b. Pemasangan sign Board K3 yang berisikan selogan-selogan yang
mengingatkan akan perlunya bekera dengan selamat, selogan
dapat di pasang di kantor peryek atau lokasi pekerjaan di
lapangan.
Perlengkapan yang melekat pada tenaga kerja yaitu:
a. Topi helm.
b. Sepatu lapangan
c. Sarung tangan untuk Pekerja tertentu
d. Sabuk pengaman Untk Pekerja yang tinggi
e. Masker Untuk Pekerjaan tertentu.
f. Obat-Obat Utuk P3K
Environmental
a. Sisa material pekerjaan Geotekstil diangkut kembali.
b. Sisa sampah makan pekerja diangkut kembali, jangan dibuang
sembarangan.
c. Lokasi pekerjaan menggunakan metode 5R.
d. Jangan tinggalkan lokasi pekerjaan jika selesai, rapikan dan
diidentifikasi.
e. Good House Keeping.

Palembang, 5 Agustus 2016


Disetujui oleh,
Dibuat Oleh,
22

Ir. Arief Hardianto


Prayoga
Kepala Proyek
Kepala Teknik

Imam

23